close
Layanan PublikSosial Budaya

Anak punk dikeluhkan, padahal mereka bisa diselamatkan

perlindungan anak

Kedungwuni, Wartadesa. – Keberadaan anak-anak punk di Desa Karanganyar, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, dikeluhkan warga. Mereka mempertanyakan peran pemerintah dan penegak hukum dalam penanganan anak-anak tersebut. Meski sulit, keberadaan mereka bisa diselamatkan. Seperti yang dilakukan oleh Legiman Muaz (56) pria yang pernah mendidik anak punk di kediamannya Kampung Sukarasa, Desa Arjasari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung.

Keluhan warga Desa Karanganyar, Kecamatan Tirto disampaikan dalam sosialisasi Peraturan Perlindungan Anak yang digelar Anggota DPR RI, Bisri Romly,   dan Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, di Gedung PCNU Kabupaten Pekalongan di Kedungwuni, Sabtu (06/07) kemarin.

“Apakah ada peran pemerintah dan aparat penegak hukum dalam penanganan anak punk. Sebab ketika saya tanya kenapa aparat penegak hukum belum bertindak kepada mereka, disampaikan alasan lantaran anak punk masih tergolong anak-anak. Nanti kena HAM,” kata Mansyur, tokoh warga Desa Karanganyar, Tirto.

Menurut Mansyur, dia telah melakukan penanganan dialogis untuk mengatasi persoalan anak punk di desanya. Ia mengatakan bahwa dirinya malah mendapatkan ancaman dari anak-anak punk tersebut. “Kapan anakmu kena nantinya,” ucap dia menirukan nada ancaman yang didapatkannya.

Perwakilan dari Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Kabid Perlindungan Anak Kelompok Minoritas Ditjen Perlindungan Anak, Asisten Deputi Khusus di Kementerian Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak, Nanang A Rahman mengatakan bahwa apa yang dilakukan oleh Mansyur sudah benar.

Menurut Nanang, intervensi yang dilakukan oleh berbagai pihak yang berwenang masih kurang dalam menangani persoalan anak punk.

Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan yang hadir dalam sosialisasi mengungkapkan bahwa Pemkab Pekalongan sudah mempunyai peta jalan (roadmap) dalam membangun kota layak anak. Menurut Asip, sejumlah penghargaan kota layak anak telah didapatkan Kota Santri, baik tingkat pratama hingga madya.

Menurut Asip, pihaknya sudah memerintahan dinas terkait untuk menyelesaikan masalah anak punk. Asip mengungkapkan bahwa salah satu penanganan yang dilakukan dengan membangun akidah anak sejak dini, yaitu dengan memasukkan program meningkatkan akidah dengan membaca (kitab) risalah awal (Risalah Awal merupakan karya KH Said bin Armia, pendiri dan pengasuh Pondok Pesantren Attauhidiyyah Giren, Talang dan Cikura, Bojong, Kabupaten Tegal–red.), sebelum mulai belajar.

Sulit namun bisa diselamatkan

Kehidupan anak punk atau anak jalanan, seperti rambut mohawk, jarang mandi, badan penuh tato, telinga bolong dan nggembel(hidup di jalanan) menjadikan mereka dijauhi, bahkan oleh keluarganya sendiri.

Kehidupan anak-anak punk, meski menganut kehidupan bebas, sejatinya dapat disalamatkan, agar hidup tertib dan punya masadepan baik. Seperti yang dilakukan oleh Legiman Muaz (56) pria yang pernah mendidik anak punk di Kampung Sukarasa, Desa Arjasari Kecamatan Arjasari Kabupaten Bandung.

Berdasarakan pengalaman Legiman, dikutip dari Ayo Bandung, kebanyakan anak punk merupakan korban perpecahan rumah tangga (broken home) yang pernah dikecewakan orang tuanya. Sehingga mereka memilih jalanan sebagai hidupnya.

Legiman yang mendidik 20 anak punk sampai bisa diterima warga dan orang tuanya, mengungkapkan bahwa kasih sayang merupakan kunci utama keberhasilan penanganan anak-anak punk.

Kebanyakan orang malah menjauhi mereka, karena sudah dianggap sampah. Bahkan, orang tua atau keluarganya malah mengusirnya, tutur Legiman, dikutip dari Ayo Bandung.

Legiman mengatakan bahwa jalanan menjadi pilihan anak punk, lantaran mereka tidak mendapatkan kasih sayang, atau kecewa dengan keluarganya sendiri. Mereka (anak-anak punk) merasa lebih nyaman di jalanan meski hidup mereka terlunta-lunta.

Untuk mengembalikan semangat hidup anak-anak punk kembali kemasyarakat dan keluarganya, Legiman memposisikan dirinya sebagai ayah, sedang istrinya, Fatimah (34) memposisikan sebagai ibu bagi mereka.

Meski awalnya sulit, menurut Legiman, merubah perilaku anak punk yang terbiasa hidup dijalanan butuh proses panjang.  “Yang saya rasakan, empat bulan pertama cukup berat, tapi setelah berjalan waktu mereka bisa berubah. Awalnya mereka buang air kecil saja di sembarang tempat, tapi lama-kelamaan bisa tertib, ” ujarnya.

Selain itu, menurut Legiman, mengarahkan anak punk kepada kegiatan positif, musti terus dilakukan. Supaya mereka bisa melupakan kegiatan di jalanan dengan kegiatan yang bermanfaat. “Mereka kan di jalanan biasa hidup dari minta-minta atau ngamen. Yang saya lakukan, mereka diberi kegiatan usaha mengurus lele dan kegiatan usaha lainnya,s ehingga kehidupan jalananperlahan terlupakan,” katanya.

Legiman mengatakan, seluruh anak didiknya kini sudah kembali diterima oleh orang tuanya, bekerja, dan hidup dimasyarakat seperti biasa.  (Eva Abdullah, dengan tambahan bahan dari Ayo Bandung)

Tags : anak punk