close
Lingkungan

Beredar Spanduk Warga Gentinggunung Tolak Eksploitasi Hutan Gunung Prau

tolak

KENDAL, WARTADESA. – Beredar spanduk penolakan warga terhadap eksploitasi hutan Gunung Prau di Desa Gentinggunung, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, di bebeapa titik wilayah. Rabu (02/08/2023).

Reaksi penolakan warga akibat eksploitasi sumber mata air, alih fungsi lahan hutan menjadi lahan pertanian, penebangan pohon (ilegal logging), perburuan satwa yang dilindungi, dan tindakan yang merusak kelestarian hutan lainnya.

Narasumber Warta Desa mengungkapkan bahwa   rusaknya hutan Gunung Prau menyebabkan beberapa sumber mata air hilang di Gentinggunung. Bukan tanpa sebab, sejak diberlakukanya kerjasama antara Perhutani dan LMDH, perambahan hutan marak terjadi. Salah satunya alih fungsi tanaman hutan menjadi tanaman perkebunan yaitu kopi.

Pembukaan lahan guna ditanami kopi kerap menimbulkan masalah baru, sebab penggarap biasanya melakukan pembersihan dengan membakar lahan yang berakibat kebakaran meluas masuk ke hutan.

Pada tahun 2014 sempat terjadi kebakaran di hutan wilayah Gentinggunung, di kawasan Hutan Produksi Terbatas. Tahun dimana dimulainya kerjasama antara Perhutani dan LMDH. Tidak cukup di situ, hampir setiap tahun di musim kemarau ada saja ulah oknum yang membersihkan lahan dengan membakar, tidak sedikit pohon keras mati karenanya. Produktifitas yang tinggi dari penanaman kopi tentu menjadi target dari penggarap. Mayoritas pemahaman masyarakat akan kecukupan sinar matahari untuk tanaman memperburuk proses pembukaan lahan, akhirnya pohon-pohon yang menaungi tanaman mereka perlahan dimatikan.

Bercermin dari kejadian tersebut, warga akhirnya bersepakat untuk mengembalikan fungsi hutan sebagaimana mestinya. Masyarakat Gentinggunung sangat bergantung terhadap kelestarian hutan di wilayah Gunung Prau. Masukan dari berbagai tokoh masyarakat dan pemuda, membuahkan keputusan yang cukup sensitif yang diambil pemerintah desa. Salah satunya penerbitan Perdes (Peraturan Desa) tentang perlindungan lingkungan hidup dan kawasan hutan.

Perdes tentang lingkungan, berisi larangan mencemari sungai, larangan berburu, dan larangan perusakan kawasan hutan.  Gebrakan terus dilakukan guna menguatkan Perdes tersebut, apalagi akhir-akhir ini kekawatiran tentang menurunya debit air Kali Terong menghantui masyarakat desa.

Kali Terong merupakan ikon yang lama melekat di desa tersebut. Ada curug di bagian hulu, namun semakin tahun debitnya mengecil. Ketergantungan terhadap Kali Terong mendorong warga melakukan berbagai upaya untuk menjaga kelestarianya. (Buono/AG)

Terkait
Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Ribuan warga Pekalongan tumpah ruah, meriahkan pawai Adipura

Kajen, Wartadesa. - Ribuan warga Kota Santri tumpah ruah memenuhi sepanjang jalan sekitar Kajen. Mereka tampak antusias melihat arak-arakan (pawai) Read more

Dua Kelurahan kekeringan, Kota Pekalongan darurat bencana kekeringan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pemerintah Kota Pekalongan menetapkan darurat bencana kekeringan mulai 1 Juli hingga 31 Oktober 2017. Penetapan tersebut Read more

Kondisi kali di Pekalongan dikeluhkan warga

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pekalongan itu kalau kalinya keruh, berwarna, bau, dan kotor, itu menandakan geliat ekonominya sedang naik. Sebaliknya Read more

Tags : eksploitasi hutangunung praugununggenting