close
Kesehatan

Budaya Ngapi’i jadi pemicu stunting di Kota Santri

stunting1
ilustrasi

Kajen, Wartadesa. – Budaya selepas melahirkan ‘Ngapi’i’ yakni ibu yang melahirkan hanya makan-makanan tertentu sebelum 40 hari kelahiran, tidak boleh makan yang amis-amis seperti ikan, daging dan telur, menjadi pemicu tingginya stunting di Kota Santri. Demikian disampaikan oleh Munafah Asip Kholbihi, Ketua TP PKK Kabupaten Pekalongan.

“Kasus di Sabarwangi, anak-anak stunting ternyata orang tuanya melakukan ngapii. Mereka diawasi simbah-simbahnya untuk ngapii. Sebelum 40 hari, tidak boleh makan amis-amis,” ujar Munafah dalam acara Rembug Stunting Tingkat Kabupaten Pekalongan tahun 2021 yang diselenggarakan di Aula Setda Kabupaten Pekalongan, Senin (20/4/2021).

Diketahui, Empat wilayah penyumbang angka stunting (kondisi tinggi badan anak lebih pendek dibanding tinggi badan anak seusianya) di Kota Santri yakni Kecamatan Buaran, Karangdadap, Kajen dan Wonopringgo.

Menurut Munafah, kader PKK di tingkat desa terus berupaya memberikan sosialisasi ke ibu hamil dan melahirkan untuk memperhatikan asupan gizinya. Kultur ngapii ini tidak boleh dibiarkan terus berlangsung karena bisa memicu stunting.

Pjs Sekda Kabupaten Pekalongan, Bambang Irianto menyebut angka stunting saat ini sebanyak 1.631 balita dari jumlah balita yang ditimbang sebanyak 10.316 anak atau 15,81 persen.

Bambang menyebut dari hasil identifikasi, penyebab stunting tersebut banyak macamnya. Sehingga tidak bisa ditangani secara parsial. “Misal dari segi kesehatannya, harus ada penanganan dari mulai ibu hamil, melahirkan sampai usia balita,” ujar Bambang.

“Adapun pemicunya bisa gizi buruk, dan juga faktor yang menyangkut sanitasi, termasuk air bersih. Sehingga perlu diidentifikasi secara keseluruhan sehingga bisa ditangani,” lanjutnya.

Sementara itu Budi Darmoyo dari Dinas Kesehatan Kabupaten Pekalongan mengungapkan bahwa intervensi yang dilakukan dalam pencegahan stunting tidak semata dari segi kesehatan semata.

“Jangan terjebak stunting di masalah kesehatan saja. Intervensi lebih banyak di luar kesehatan. Itu yang harus kita cari dan keroyok. Banyak faktor pemicunya seperti akses air bersih kurang, ODF kurang, dan lainnya,” terang Budi Darmoyo. (Eva Abdullah)

Terkait
Pandemi Covid-19, jumlah warga miskin Kota Santri naik, angka stunting 21%

Raih Peringkat 2 Penanganan Stunting Kajen, WartaDesa. - Pagebluk (pandemi) Covid-19 menjadi pemicu naiknya jumlah warga miskin di Kota Santri.Jika Read more

Mengenal Inpari IR Nutri Zinc, padi pencegah stunting

Batang, Wartadesa. - Hingga Pebruari 2020, sedikitnya 156.549 balita di Jawa Tengah mengalami stunting (kekurangan gizi kronis yang terjadi selama Read more

Pemalang masuk dalam 100 desa prioritas penanganan gizi buruk stunting

Pemalang, Wartadesa. - Kabupaten Pemalang masuk dalam 100 desa dari 10 kabupaten prioritas penanganan stunting (gizi buruk yang menyebabkan balita Read more

Fasilitas umum gencar disemprot disinfektan
Wartadesa foto

Fasilitas umum gencar disemprot disinfektan Kabupaten Pekalongan - Sebagai bentuk pencegahan penyebaran Covid-19, petugas gabungan yang Read more

Tags : ngapi'iPekalonganstunting