close

Bencana

Bencana

Dua Hari Diguyur Hujan Terus-Terusan, Dua Wilayah Alami Tanah Bergerak

tanah bergerak bodas

Kandangserang, Wartadesa. – Hujan yang mengguyur wilayah  Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan pada Selasa hingga Rabu kemarin, mengakibatkan tanah bergerak di petak 82 Perhutani jalan Desa Trajumas dan Desa Bodas.

Meski ada tanah bergerak di dua tempat tersebut, Kapolsek Kandangserang Iptu Turkhan menyebut tidak ada korban jiwa dalam kejadian itu. Ia menghimbau agar warga terus waspada  terjadinya longsor dan tanah bergerak menyusul peningkatan curah hujan di wilayah setempat.

“Warga agar terus waspadai kejadian longsor dan tanah bergerak, khususnya mereka yang tinggal di perbukitan dan di wilayah yang rawan bencana longsor,” kata Kapolsek kandaserang Iptu Turkhan,   kamis (11/11 ).

Turkhan menambahkan bahwa ia bersama pihak terkait segera melakukan pengecekan pada wilayah tanah bergerak. “Saya bersama mantri kehutanan didampingi kades setempat Saudara Kosim langsung cek daerah tersebut,” tambahnya.

Dia mengatakan pihaknya juga terus melakukan sosialisasi dan edukasi kepada masyarakat di wilayah setempat agar lebih waspada jika terjadi hujan lebat dan berdurasi lama. (Buono)

Terkait
Tanah retak di Bodas pernah terjadi sebelumnya

Kandangserang, WartaDesa. - Tanah bergerak di Dukuh Bodas, Desa Bodas, Kandangserang, Kabupaten Pekalongan pada Januari 2018 pernah terjadi. Saat itu, Read more

Tanah bergerak di Desa Binangun Paninggaran

Paninggaran, Wartadesa. - Bencana tanah bergerak terjadi di Dukuh Binangun Atas RT 003 RW 003 Desa Werdi Kecamatan Paninggaran Kabupaten Read more

Anak di Kandangserang minggat, ngambek usai dimarahi Ibu

Kandangserang, Wartadesa. - R (11) seorang anak di Dukuh Harjosari, Desa Bojongkoneng, Kandangserang, Pekalongan sempat membuat repot orang tuanya dan Read more

Mayat di Kalipaingan dievakuasi

Kandangserang, Wartadesa. - Warga Desa Tajur, Kandangserang, Pekalongan digegerkan dengan penemuan sosok mayat berjenis kelamin laki-laki, mengambang di Kalipaingan, Kamis Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

Desa Samborejo Dapat Kiriman Air Rob

rob sambo

Tirto, Wartadesa. – Hingga pagi ini, Kamis (11/11) pukul 09.00 WIB air rob kiriman dari Pantai Utara Jawa, menggenangi wilayah Desa Samborejo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan. Desa berjarak lebih-kurang delapan kilometer dari bibir pantai Pekalongan.

Warga setempat, Mukhamad Bahrizal dalam video yang diunggah dalam laman media sosialnya menyebutkan bahwa air rob yang menggenangi wilayah Samborejo lebih besar ketimbang waktu-waktu sebelumnya.

Dari halaman MI Samborejo hingga Utara Balaidesa ke Jalan Gotong-Royong terendam air. “Sampai saat ini, air masih mengalir dari Utara ke Selatan, artinya air rob masih naik, dan potensi banjir rob masih besar, pagi ini,” tutur Bahrizal dalam videonya.

Bahrizal melanjutkan bahwa air juga menggenangi bagian Timur jembatan Samborejo hingga setinggi lutut orang dewasa. “Aliran air masih cukup besar, dibandingkan dengan banjir rob kemarin,” tuturnya.

Pompa air di sisi jembatan Samborejo, Tirto tidak berfungsi, dimungkinkan lantaran bahan bakar habis. Foto: tangkapan layar video pribadi Mukhamad Bahrizal.

Pompa air yang berada pada sisi jembatan Samborejo tidak berfungsi, dimungkinkan bahan bakar yang habis. Lanjut Bahrizal.

Hingga saat ini, rob masih menggenang permukiman warga, terlihat, dalam video kedua yang diunggah oleh Bahrizal, motor milik warga mengalami mogok dan harus dituntun lantaran mesin kemasukan air rob.

Warga berharap agar banjir rob tersebut segera tertangani. (Buono)

Terkait
Pakai dan edarkan sabu, warga Samborejo ditangkap

Tirto, Wartadesa. - Petugas Satuan Narkoba, Polres Pekalongan Kota, Polda Jateng, menangkap seorang pelaku pemakai dan pengedar Sabu sabu dan Read more

Bencana ekologis di Pekalongan perlu penanganan serius dan terintegrasi

Air masih saja merendam wilayah Jeruksari, karangjompo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, meski pemerintah daerah telah mengoperasikan 11 pompa  untuk menyedot Read more

Swadaya, warga Simonet bikin tanggul antisipasi genangan rob

Wonokerto, Wartadesa. - Warga Dusun Simonet, Desa Semut, Wonokerto, Pekalongan secara swadaya membangun tanggul darurat. Mereka bergotong-royong dengan material dan Read more

Waspada! Banjir dan rob saat musim penghujan

Pekalongan, WartaDesa. - Perkiraan musim penghujan yang jatuh pada pertengahan bulan ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan Read more

selengkapnya
BencanaLingkungan

Ini penyebab Pekalongan lebih dulu tenggelam ketimbang Jakarta

simonet

BURUKNYA pengelolaan tata guna lahan menyebabkan 22 persen Daerah Aliran Sungai (DAS) Kali Kupang mengalami sedimentasi (baca: degradasi ekosistem dan limpasan permukaan), menjadi penyebab mengapa 10 tahun terakhir ini Kota dan Kabupaten Pekalongan tak henti dilanda banjir dan rob.

Penelitian yang dilakukan oleh Syam, Denia Aulia, Wengi, Khair Ranggi Laksita, Gandapurnama, Arifi dari Aliansi Ketahanan Banjir Zurich beberapa waktu lalu menyebut demikian. Kawanan dari Mercy Corps Indonesia, Universitas Diponegoro, dan Institut Pertanian Bogor, melakukan penilaian risiko dan dampak iklim di DAS Sungai Kupang dan wilayah pesisir Kota Pekalongan dan Kabupaten Pekalongan.

Selain buruknya kondisi DAS di Pekalongan, pengambilan air dalam secara berlebihan menyebabkan laju penurunan tanah makin mengkhawatirkan, yakni berkisar antara 0 – 34,5 sentimeter (median 16,5) per tahun. Wilayah pesisir dan hilir sungai mengalami laju penurunan muka tanah paling tinggi. Hingga menyebabkan genangan permanen desa-desa di pesisir Pekalongan.

Sementara lantaran kondisi sosial ekonomi kebanyakan warga di sekitar pesisir Pekalongan yang rendah (baca: miskin) mereka terpaksa mendiami rumah-rumah mereka yang terendam secara permanen. Selain itu, susahnya mengubah mata pencaharian warga, membuat mereka sulit untuk berpindah lokasi/relokasi.

Para peneliti melakukan kajian pada 41 desa/kelurahan di Kota dan Kabupaten Pekalongan yang memiliki resiko tertinggi dampak banjir dan rob. Akibat banjir dan rob pada 41 desa/kelurahan tersebut, kerugian yang harus ditanggung warga mencapai USD 474,4 juta dan akan naik lima kali lipat pada tahun 2035 atau sekitar USD 2,15 miliar.

Analisis ini senada dengan pendapat Dr. Heri Andreas dari ITB Bandung yang menyebut bahwa Pekalongan  akan lebih dulu tenggelam ketimbang Jakarta. Menurutnya kondisi penurunan tanah di kawasan pesisir Pekalongan, Semarang, dan Demak lebih mengkhawatirkan karena setiap tahun muka tanah turun 15-20 cm. Jika tidak segera diintervensi, dalam 10 tahun ke depan ketiga kota itu akan tenggelam.

Rekomendasi yang diberikan oleh Aliansi Ketahanan Banjir Zurich kepada pengampu kebijakan di Kota dan Pekalongan yakni melakukan  zonasi dan adaptasi regional, pembangunan infrastruktur pengelolaan banjir, pengelolaan sumber daya air melalui infrastruktur dan konservasi dan pengembangan kapasitas sumber daya manusia dan kelembagaan dalam pengurangan risiko bencana. (Bono)

Sumber tulisanCLIMATE RISK AND IMPACT ASSESSEMENT PEKALONGAN

Terkait
Desa Samborejo Dapat Kiriman Air Rob

Tirto, Wartadesa. - Hingga pagi ini, Kamis (11/11) pukul 09.00 WIB air rob kiriman dari Pantai Utara Jawa, menggenangi wilayah Read more

Bencana ekologis di Pekalongan perlu penanganan serius dan terintegrasi

Air masih saja merendam wilayah Jeruksari, karangjompo, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan, meski pemerintah daerah telah mengoperasikan 11 pompa  untuk menyedot Read more

Swadaya, warga Simonet bikin tanggul antisipasi genangan rob

Wonokerto, Wartadesa. - Warga Dusun Simonet, Desa Semut, Wonokerto, Pekalongan secara swadaya membangun tanggul darurat. Mereka bergotong-royong dengan material dan Read more

Waspada! Banjir dan rob saat musim penghujan

Pekalongan, WartaDesa. - Perkiraan musim penghujan yang jatuh pada pertengahan bulan ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan Read more

selengkapnya
Bencana

Pranggok batik dan gudang terbakar di dua tempat berbeda

kebakaran

Pekalongan, Wartadesa. – Dua kebakaran terjadi di dua lokasi berbeda di Kabupaten dan Kota Pekalongan, Sabtu (08/05) saat warga sedang berbuka bersama. Kejadian pertama, pranggok atau rumah produksi batik milik Lukman (40) di Jalan Sabrawi Pringrejo, Kota Pekalongan mengalami kebakaran sekitar pukul 18.00 WIB.

Saat itu, istri pemilik pranggok, Sairoti Aniya (33) menyalakan lampu saat sore hari. Ia tidak melihat api pada tungku pranggok. Namun saat kedua suami-istri tersebut sedang berbuka puasa, mereka mendengar suara kebakaran dari dalam pranggok.

Mereka kemudian mengecek, ternyata api sudah membesar dan merembet ke atap rumah. Warga yang melihat kejadian tersebut kemudian berteriak ada kebakaran dan bersama-sama memadamkan api.

Pemadam kebakaran yang datang dibantu warga, berhasil memadamkan api setelah berjibaku selama hampir dua jam. Tidak ada dalam kejadian tersebut, namun kerugian material ditaksir Rp 200 juta.

Sementara rumah milik Ibnu Athoillah yang turut tersambar api dari pranggok batik Lukman, menderita kerugian Rp. 20 juta.

Kejadian kedua menimpa gudang rumah yang berisi barang-barang bekas ( kursi, dipan, kasur, dan perabotan bekas lain nya ) di Dukuh Paesan Utara Rt 03 Rw 06 Kelurahan Kedungwuni Barat Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan ludes terbakar.

Kapolres Pekalongan AKBP Darno,  melalui Kasubbag Humas AKP Akrom mengatakan, peristiwa kebakaran tersebut terjadi pada Sabtu (18/5/2021) sekira pukul 18.30 WIB.

Api diduga berasal dari korsleting listrik yang terdapat di gudang rumah yang berisi barang-barang bekas itu. Percikan api menyambar barang-barang bekas seperti kursi, dipan, kasur, dan perabotan bekas lain nya. Api begitu cepat membesar dan membakar seluruh isi gudang serta menghanguskan.

“Api cepat membesar lantaran menyambar barang-barang bekas yang ada digudang,” kata Kasubbag Humas, Minggu (9/5/2021).

Warga sekitar yang membantu memadamkan api dengan peralatan seadanya tak bisa berbuat banyak. Dan tak lama kemudian beberapa mobil pemadam kebakaran turun ke lapangan, dengan dibantu warga dan petugas kepolisian berusaha menjinakkan api. Dan tak selang beberapa waktu kemudian api bisa dipadamkan.

“Dalam kejadian kebakaran tersebut tidak ada korban jiwa, namun kerugian materi ditaksir sekitar Rp 250 juta. Hingga saat ini pihak kepolisian masih menyelidiki penyebab pasti peristiwa kebakaran yang meludeskan gudang rumah warga tersebut,” pungkasnya. (Eva Abdullah)

Terkait
Candra Saputra Mundur dari Persekap

Sragi, Wartadesa. -  Ketua Persekap Candra Saputra mengundurkan diri dari grup kebanggaan warga Kota Santri, demikian tertuang dalam surat yang Read more

Lurah Bligo Apresiasi Program Benah Rumah Lazismu Pekalongan

PEKALONGAN, WARTADESA.  – Lurah Bligo Kecamatan Buaran Kabupaten Pekalongan, Faturrahman, mengapresiasi program benah rumah yang dilakukan Lembaga Zakat Infaq dan Read more

Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan Kembali Gelar Vaksinasi

Capai 2574 orang di Tahap 1 EKALONGAN, WARTADESA. – Keberhasilan mencapai 2574 orang yang divaksin dosis 1 bulan lalu, Muhammadiyah Read more

Ini Tim yang Bakal Lolos 10 Besar Liga 3 Jateng

Kedungwuni, Wartadesa. - Persekap Kabupaten Pekalongan dipastikan lolos ke babak 10 Besar Kompetisi Liga 3 Jawa Tengah. Demikian disampaikan oleh Read more

selengkapnya
BencanaLingkungan

Kawah Sileri Dieng alami erupsi semalam

kawah sileri_foto kompas

/Bajarnegara, Wartadesa. – Kawah Sileri Dieng mengalami erupsi freatik dan memuntahkan material berupa batuan dan lumpur sejauh 400 meter. Tepatnya material batuan 200 meter dan lumpur 400 meter ke arah Selatan, material batuan 200 meter dan lumpur 300 meter ke arah Timur dan 200 meter berupa lumpur ke arah Barat. Kamis (29/04) sekitar pukul 18.25 WIB.

Terekam satu kali gempa letusan dengan amplitudo 42,7 mm dan lama gempa 108,15 detik. Namun tidak ada gempa susulan. Demikian disampaikan oleh Kepala Pos Pengamatan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) Gunung Api Dieng Surip, melansir laporan Kompas.

Sampai saat ini kondisi kawah Sileri masih dalam pemantauan dan berstatus normal atau level 1.“Masih dalam pemantauan terus, belum ada peningkatan yang signifikan, belum ada perkembangan lebih lanjut lagi,” ujarnya.

Warga diminta untuk tidak memasuki area kawah dengan radius 500 meter dari bibir kawah.

Letusan Sileri semalam merupakan letusan besar dibanding pada kejadian tahun 2017 maupun 2018. Sebagai informasi, erupsi freatik Kawah Sileri terakhir terjadi pada 1 April 2018.

“Letusan ini sangat besar dibandingkan dengan letusan tahun 2017 karena luasan lontaran material ke selatan mencapai 400 meter, ke barat 200 meter, ke timur 300 dan ke utara mencapai 500 meter paling jauh,” lanjut Surip.

Salah satu warga Simbangan , Batur, Banjarnegara,Jawa Tengah mengungkapkan, ledakan terdengar sangat keras dari dusun Simbangan dan warga panik. “Suaranya seperti helikopter, keras tapi tidak ada gempa atau gejala apapun, “katanya.

Semua warga kaget, panik dan berhamburan keluar rumah. “Semua keluar rumah dan mengamankan diri, terus ada yang keluar memastikan sumber sumber suara, ternyata bener Sileri, ” pungkasnya. (Sumber: Kompas)

Terkait
Wisatawan asal Pekalongan jadi korban ledakan kawah Sileri, ini daftarnya

Banjarnegara, Wartadesa. - Belasan orang menjadi korban ledakan kawah Sileri Dieng, di Desa Kepakisan, Kecamatan Batur, Kabupaten Banjarnegara pada Ahad (2/7) Read more

Banjir bercampur lumpur kembali landa Pantai Celong

Batang, Wartadesa. - Setiap hujan turun, kini kawasan Pantai Celong, Desa Kedawung, Kecamatan Banyuputih, Batang mengalami banjir. Seperti sebelumnya, hujan Read more

Batang darurat sampah, TPA Randukuning kelebihan kapasitas

Batang, Wartadesa. - Kabupaten Batang memasuki darurat sampah. Pasalnya, Tempat Pembuangan Akhir (TPA) Randukuning yang selama ini menampung sampah warga Read more

Marak Galian C Ilegal di Batang

Batang, Wartadesa. - Aktivitas penambangan Galian C ilegal di wilayah Batang, Jawa Tengah masih marak terjadi. Misalnya di Kecamatan Bandar, Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

Rumah di Garungwiyoro tertimpa longsor

longsor kandangserang

Kandangserang, Wartadesa. – Sebuah rumah milik Kodori, warga Rt 08/04 Desa Garungwiyoro, Kandangserang, Pekalongan tertimpa longsor akibat hujan lebat yang mengguyur wilayah tersebut, Senin (19/04) malam.

Peristiwa terjadi sekira pukul 21.00 WIB, bagian belakang rumah Kodori tertimpa reruntuhan material tanah tebing setinggi 5 meter yang berada di belakang rumah korban.

Meski demikian, tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut. Bhabinsa dan warga setempat saat ini sudah membersihkan material longsor.

“Kita sudah terjunkan Babinsa untuk membantu pembersihan material longsoran, dan puing bangunan yang ambrol tersebut”, ujar Danramil 14/Kandangserang, Lettu Inf. Jumarno.

Kerugian material  ditaksir mencapai Rp 5 juta.  Danramil Lettu Inf Jumarno menghimbau kepada masyarakat agar tetap waspada dan berhati-hati dengan kondisi cuaca dan alam yang berpotensi menimbulkan adanya bencana alam untuk menghindari timbulnya korban jiwa. (Eva Abdullah)

Terkait
Ruas Cikadu-Bogas tertutup longsor

Pemalang, Wartadesa. - Material longsor mentutup akses jalan Desa Cikadu - Desa Bongas, Kecamatan Watukumpul, Pemalang. Akibatnya akses warga menuju-ke Read more

Dua rumah warga Keteleng tergerus longsor, dapur rumah rusak

Batang, Wartadesa. - Dua rumah di Desa Keteleng, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang tergerus longsor akibat hujan deras yang mengguyur wilayah Read more

Tebing di Sangubanyu longsor, tidak ada korban jiwa

Batang, Wartadesa. - Hujan deras mengguyur diwilayah kecamatan Bawang sejak kemarin siang mengakibatkan sebuah tebing di Dukuh/Desa Sangubanyu kecamatan Bawang Read more

Longsor di Kandangserang, material hempas rumah warga

Kandangserang, WartaDesa. - Hujan di wilayah Lebakbarang, Pekalongan, Ahad (13/12) kemarin menyebabkan dua wilayah mengalami longsor. Turap di Dukuh Wiyoro Read more

selengkapnya
Bencana

Disapu angin lisus, lima rumah di OW Guci rusak

Ilustrasi_angin_puting_bel

Tegal, Wartadesa. –  Lima rumah di kawasan Guci, Desa Tuwel Rt 03/01, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal mengalami rusak ringan hingga berat akibat disapu angin lisus.

Angin puting beliung menyapu wilayah tersebut pada Jum’at (26/03) sekira pukul 11.30 WIB.

Warga yang melihat itu ketakutan dan berupaya menyelamatkan diri. Mereka berteriak meminta tolong ketika atap rumahnya disapu angin kencang.

“Ada lima rumah yang rusak ringan dan berat. Saat ini tim relawan gabungan sedang melakukan evakuasi dan membantu korban,” tutur Sekretaris Abdimas dan Humas Kwarcab Tegal, Teguh Herdi Nurcahyo.

Teguh menambahkan, dalam kejadian tersebut tidak ada korban jiwa. Hanya saja, pemilik rumah mengalami kerugian yang cukup banyak. Bahkan, ada satu kepala keluarga yang mengungsi.

Informasi didapatkan, lima korban rumah rusak tersebut, yakni  Sholehudin (45), Faizin (61), Muhammad (58), Kholidin (62) dan Rais (70). Dari jumlah itu, hanya 1 rumah yang mengalami rusak berat, yakni milik Sholehudin. Ia mengalami kerugian sekitar Rp5 juta.

Sedangkan lainnya hanya rusak ringan, namun kerugian mereka beragam. Mulai dari Rp400 ribu hingga Rp2 juta. “Mayoritas atapnya yang rusak. Karena atapnya menggunakan seng,” tambah Teguh.

Satu keluarga mengungsi, lantaran rumahnya mengalami rusak berat dan mengalami trauma, akbat peristiwa angin lisus tersebut.

Saat ini petugas gabungan TNI Polri, BPBD, Pramuka Peduli, Rapi dan masyarakat masih melakukan evakuasi material, membersihkan puing-puing bangunan yang rusak.  (Bono)

Terkait
Pingpong drum bekas bahan kimia, warga Batang dan Tegal terimbas

Batang, Wartadesa. - Warga Batang, utamanya wilayah Kandeman, Depok hingga Klidanglor dihebohkan dengan bau menyengat sejenis bocoran tabung gas sejak Read more

Lewat jalur tikus, pemudik lebih manfaatkan motor

Tegal, Wartadesa. - Penggunaan moda transportasi motor lebih dipilih oleh pemudik saat ini. Alasan utama penggunaan moda ini lantaran kebebasan Read more

Waridin, kelucuan saat pesan menjadi ranah publik

BAGI warga ngapak Tegal, sosok akun Facebook Waridin menjadi fenomenal. Lantaran setiap postingannya menjadi hiburan tersendiri, dan selalu dinanti. Pria Read more

Warga Batang, pelaku penculikan di Tegal sudah dikenal nenek korban

Tegal, WartaDesa. - Nailul Munafila (26), warga Batang yang merupakan pelaku penculikan dua bocah kakak beradik M (8) dan A Read more

selengkapnya
Bencana

25 rumah rusak akibat terjangan angin di Bumiharjo

puting beliung pemalang1

Pemalang, Wartadesa. –  24 rumah mengalami rusak ringan sementara satu rumah rusak parah akibat angin puting beliung menerjang Dusun Bumiharjo, Desa Kebongede, Bantarbolang, Pemalang, Jum’at (27/02).

Angin menyapu permukiman warga sekitar pukul 01.00 WIB usai hujan lebat mengguyur dusun Bumiharjo. Warga yang sebagian besar ada di dalam rumah ketakutan dan berhamburan keluar.

Tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, kerugian material sejumlah Rp 30 juta.

Kapolsek Bantarbolang, AKP Abdul Cholik, mengatakan bahwa pihaknya langsung bergerak setelah mendapat laporan kejadian tersebut. “Yang kami lakukan selain mendatangi lokasi juga mendata kerusakan rumah warga yang terdampak. Lalu berkoordinasi dengan kelurahan dan kecamatan,” katanya.

Sementara itu, Kabid Kedaruratan dan Logistik BPBD Pemalang, Suyanto mengungkapkan bahwa pihaknya telah membantu logistik untuk kerja bakti warga. (Bono)

Terkait
Aaf prioritaskan penanganan banjir dan rob, Agung benahi infrastruktur

Program 100 hari Pekalongan, Wartadesa. - Afzan Arslan Djunaid (Aaf)-Salahudin, Walikota dan Wakil Walikota Pekalongan memasukkan penanganan banjir dan rob Read more

Berenang di Pantai Kaliprau, dua anak meninggal

Pemalang, Wartadesa. - Dua dari empat anak yang tenggelam terseret ombak di Pantai Kaliprau, Pemalang, Jum'at (26/02) sore ditemukan dalam Read more

Warga Pelutan geger! Perempuan gantung diri di kontrakan

Pemalang, Wartadesa. - Perempuan bernama Ika Yunisti (34) warga Desa Denasari, Kecamatan Pemalang yang ditemukan dalam keadaan menggantung di kontrakannya, Read more

Diduga salah paham, gadis ini dianiaya gerombolan anak jalanan

Pemalang, Wartadesa. - Tamara Sulistyani (17), gadis asal Purbalingga, Banyumas dilarikan ke Rumah Sakit Prima Medika Pemalang oleh seorang tukang Read more

selengkapnya
Bencana

3.700 warga Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di pengungsian

api-api

Pekalongan, Wartadesa. – Sedikitnya 3.700 warga terdampak banjir di Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di beberapa titik pengungsian, akibat banjir yang merendam hampir tiga pekan.

“Saat ini total pengungsi sudah berkurang, namun jumlahnya masih 3.700 lebih. Kondisi mereka baik dan logistik terpenuhi. Pemkab Pekalongan sudah menyiapkan periode kedua tanggap darurat karena melihat kondisi masih belum memungkinkan,” ujar Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan saat meninjau rumah pompa di Pecakaran dan tanggul Wonokerto, Selasa (23/02).

Meski pintu  dan tanggul Sungai Mrican telah dibuka pada Senin lalu, kondisi air hingga Selasa setinggi 50 centimeter. Masih tingginya air yang menggenang disebabkan oleh kekurangan pompa air yang beroperasi akibat rusak.

“kita juga mengecek pompa yang ada di Desa Pecakaran dan hasilnya dari tiga pompa, namun yang berfungsi cuma satu sedangkan dua lainya rusak. Tapi kita sudah menghubungi BBWS agar segera ada perbaikan,” lanjut Asip.

Menurut Asip, jika air yang ada di longstorage (bangunan penahan air yang berfungsi menyimpan air di dalam sungai, kanal dan atau parit pada lahan yang relatif datar dengan cara menahan aliran untuk menaikkan permukaan air sehingga cadangan air irigasi meningkat_red.) dipompa ke Sungai Sengkarang, kemudian ketinggian dibawah air yang di Selatan tanggul, yakni pemukinan maka juga akan berpengaruh dengan situasi digenangan.

Kedepan, lanjut Asip, Pemkab sudah melakukan kajian matang, untuk bagaimana mengantisipasi supaya tidak terjadi banjir terutama dalam menghadapi musim hujan yang ekstrim. “pengerjaan tanggul darurat belum selesai 100 %, tinggal menunggu pembangunaa pintu di Sungai Mrican, jadi masih ada beberapa kendala teknis,” jelasnya

Sementara itu, jumlah pengungsi di Kota Pekalongan yang masih bertahan sebanyak 2.351 jiwa yang tersebar di 21 lokasi pengungsian di wilayah Kecamatan Pekalongan Barat dan 18 lokasi pengungsian di wilayah Kecamatan Pekalongan Utara.

Untuk wilayah Pekalongan Barat,  berada di aula Kecamatan Pekalongan Barat. Jumlahnya masih 260 jiwa.  Masjid Al Karomah (200 jiwa), aula SMK 2 (264 jiwa), dan aula SMK 3 (220 jiwa).

Sedangkan di Kecamatan Pekalongan Utara, para pengungsi masih bertahan di GOR Jetayu (166 jiwa), aula Melati Kelurahan Kandang Panjang (116 jiwa) dan Mushola Al Karim Bandengan (137 jiwa).

Kasi Pencegahan dan Kesiapsiagaan pada BPBD Kota Pekalongan Dimas Arga Yudha menuturkan, wilayah terdampak banjir berkurang. “Untuk wilayah terdampak sudah berkurang, kini jadi sembilan kelurahan di dua kecamatan, Kecamatan Pekalongan Barat dan Pekalongan Utara,”  tuturnya.

Dimas menambahkan, ketinggian air di Kelurahan  Pasirkratonkramat dan Tirto 40-60 cm. Sementara di Kecamatan Pekalongan Utara masih ada tujuh kelurahan terdampak, meliputi Kelurahan Panjang Wetan, Panjang Baru, Kandang Panjang, Padukuhan Kraton, Krapyak, dan Degayu. Banjir masih menggenangi wilayah-wilayah tersebut setinggi 20-40 cm.

Pemerintah Kota Pekalongan telah memutuskan untuk memperpanjang status tanggap darurat banjir, dari yang semula berakhir pada 20 Februari 2021, diperpanjang 14 hari sampai 6 Maret 2021. (Bono)

Terkait
Wuled Peduli bagikan 1500 nasi bungkus

Tirto, Wartadesa. - Semangat kepedulian sosial warga Desa Wuled Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan sungguh luar biasa, bagaimana tidak, mendengar dan Read more

Ratusan pengungsi masih bertahan, masa tanggap darurat diperpanjang

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Ratusan pengungsi banjir di Kota Batik masih bertahan di beberapa titik pengungsian. Diketahui empat kecamatan   Read more

Ribuan pengungsi masih bertahan, sekolah masih diliburkan, bantuan berdatangan

Wonokerto, Wartadesa. - Hingga Rabu (26/02) ribuan pengungsi banjir Kabupaten Pekalongan masih bertahan di beberapa posko pengungsian. Mereka bertahan lantaran Read more

Banjir Pekalongan, pengungsi bertambah dan mulai terserang penyakit

Pekalongan, Wartadesa. - Banjir parah kembali dialami warga Pekalongan, hujan sejak Ahad hingga Senin (23-24/02) ini mengakibatkan jumlah pengungsi makin Read more

selengkapnya
BencanaSosial Budaya

Alih fungsi lahan dan banjir Pekalongan

banjir pekalongan 2020

Kota Pekalongan dikategorikan sebagai kota yang tidak rentan terhadap banjir pada tahun 2011, namun pada tahun 2017, seluruh desa/kelurahan di Pekalongan Utara tergenang banjir seluas 1.249.420 Ha.

Alih fungsi lahan dan curah hujan sangat berpengaruh terhadap luasan banjir di Pekalongan. Penelitian yang dilakukan oleh Gardena Smoro Lasksmi, lulusan Magister Ilmu Lingkungan, Sekolah Pascasarjana Universitas Diponegoro, Semarang yang dipublikasikan dalam Prosiding Seminar Nasional Lahan Suboptimal ke-8 Tahun 2020, di Palembang 20 Oktober 2020,  membuktikan hal tersebut.

Penelitian berjudul Dampak Alih Fungsi Lahan dan Curah Hujan terhadap Banjir di Kota Pekalongan, Jawa Tengah menunjukkan data bahwa terjadi alih fungsi lahan yang sangat masif. Laksmi mengambil rentang data 10 tahun, yakni 2010-2020.

Tabel 1. Perubahan penggunaan lahan kota pekalongan tahun 1999 – 2010 oleh Gardena Smoro Laksmi
Tabel 2. Perubahan penggunaan lahan kota pekalongan tahun 2011 – 2018 oleh Gardena Smoro Laksmi

Masifnya alih fungsi lahan di Pekalongan terjadi lantaran letak geografis yang berada di jalur utama Pulau Jawa, menjadikan Kota Pekalongan memiliki potensi strategis pada sektor industri. Kondisi tersebut menyebabkan Kota Pekalongan menjadi daerah dengan nilai urbanisasi demografi paling tinggi pada tahun 2006 di Jawa Tengah dan mendorong terjadinya perubahan tutupan lahan.

Perubahan penggunaan lahan memberikan dampak negatif jika tidak terkendali yaitu berkurangnya area resapan, terlebih jika curah hujan tinggi.  Semakin berkurangnya daerah resapan air menyebabkan indeks banjir semakin meningkat. Kota Pekalongan dikategorikan sebagai kota yang tidak rentan terhadap banjir pada tahun 2011, namun pada tahun 2017, seluruh desa/kelurahan di Pekalongan Utara tergenang banjir seluas 1.249.420 Ha.

Data penelitian Laksmi menunjukkan bahwa analisis per-kecamatan maupun per-DAS, kondisi daerah resapan air di Kota Pekalongan pada tahun 2011 tergolong mulai kritis. Pada tahun 2012, Kota Pekalongan digolongkan menjadi daerah yang rawan terhadap kejadian bencana banjir.

Pada 6 Mei 2012, banjir merendam delapan kelurahan di Kota Pekalongan yang mengakibatkan kelumpuhan pelabuhan, kerusakan permukiman dan kerusakan areal permukiman. Rata-rata ketinggian banjir yaitu 10-50 cm dan ketinggian maksimal 70 cm. Banjir di Pekalongan hampir terjadi setiap hari ketika air laut pasang (rob).

Fenomena banjir ini terjadi sejak 10 tahun terakhir. Kejadian banjir ini terutama melanda
kelurahan yang berbatasan dengan laut. Berdasarkan data Dinas Kelautan dan Perikanan,
pasang tertinggi di Pekalongan adalah 1,1 meter. Luas area yang tergenang mencapai 51 %
dari total luas Kota Pekalongan.

Genangan banjir terluas terjadi pada tahun 2014 di Kelurahan Bandengan, Kecamatan
Pekalongan Utara dengan luas 1.209.753 m2 atau sebesar 60,12% dari total luas administrasi Kelurahan Bandengan. Sedangkan, genangan banjir paling sedikit terjadi di Kelurahan Panjang Wetan dengan luas 58.236 m2 atau sebesar 3,33% dari total luas administrasi Kelurahan Panjang Wetan.

Tabel 4. Luas genangan banjir tahun 2014

Genangan banjir terluas tahun 2018 di Kecamatan Pekalongan Utara terjadi di Kelurahan Bandengan dengan luas 1.522.443 m2 atau sebesar 75,67% dari total luas administrasi Kelurahan Bandengan. Sedangkan, genangan banjir paling sedikit terjadi di Kelurahan Panjang Wetan dengan luas 84.145 m2 atau sebesar 4,81% dari total luas administrasi Kelurahan Panjang Wetan.

Genangan banjir di Kecamatan Pekalongan Utara bertambah seluas 1.181.052 m2. Perubahan luasan genangan banjir terbesar terjadi di Kelurahan Kandang Panjang dengan luas perubahan genangan sebesar 428.486 m2 atau sebesar 149,48% dari total luas genangan banjir di Kelurahan Kandang Panjang Tahun 2014. Sedangkan, perubahan luasan genangan banjir paling sedikit terjadi di Kelurahan Bandengan dengan luas perubahan 312.690 m2 atau sebesar 25,85% dari total luas genangan banjir di Kelurahan Bandengan tahun 2014.

Tabel 5. Luas genangan banjir tahun 2018

Pada tahun 2017, seluruh desa di Kabupaten Pekalongan Utara tergenang banjir seluas 1.249.420 hektar. Banjir di Kabupaten Pekalongan sejak Januari 2020 terjadi di delapan belas desa. Sungai tidak dapat menampung curah hujan dengan intensitas tinggi dan menyebabkan genangan air sepanjang 20-30 cm.

Kondisi banjir di Pekalongan Tahun 2020

Berdasarkan peta potensi bencana yang dikeluarkan oleh BPBD Kabupaten Pekalongan tahun 2020, Bojong, Buaran, Kedungwuni, Siwalan, Sragi, Tirto, Wiradesa, Wonokerto, dan Wonopringgo termasuk dalam kategori rawan banjir, padahal tahun 2010 wilayah tersebut masih ditetapkan sebagai kawasan industri atau permukiman. (Buono)

 

Terkait
AAf inginkan penanganan banjir Pekalongan secara menyeluruh

Kota Pekalongan, Wartadesa. - Hingga Kamis (04/03) air yang merendam wilayah Kramatsari, Kota Pekalongan belum juga surut. Satu pompa yang Read more

3.700 warga Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di pengungsian

Pekalongan, Wartadesa. - Sedikitnya 3.700 warga terdampak banjir di Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di beberapa Read more

Dua pekan banjir Pekalongan, 3500 jiwa mengungsi

Wonokerto, Wartadesa. - Hingga Sabtu (20/02), dua pekan banjir yang merendam Kabupaten Pekalongan, sedikitnya 3.500 jiwa mengungsi dan tersebar di Read more

Banjir Pekalongan, Kokam instruksikan seluruh anggota membantu korban

Kajen, Wartadesa. - Komandan Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Pekalongan menginstruksikan seluruh anggotanya Read more

selengkapnya