close

Berita Desa

BencanaBerita Desa

Akses Terancam Putus: Ruas Jalan Watu Lawang Garungwiyoro Amblas, Warga Desak Perbaikan Segera

template berita foto warta desa

KANDANGSERANG, WARTA DESA. – Kondisi infrastruktur di wilayah selatan Kabupaten Pekalongan kembali menjadi sorotan. Ruas jalan Watu Lawang yang terletak di Desa Garungwiyoro, Kecamatan Kandangserang, dilaporkan mengalami kerusakan parah akibat amblas dan longsor. Kejadian ini mengancam mobilitas warga dan stabilitas ekonomi di wilayah tersebut.

Berdasarkan pantauan di lapangan pada Selasa (10/2/2026), titik longsoran tampak memakan sebagian badan jalan. Kondisi ini membuat jalur yang menjadi urat nadi warga tersebut menyempit dan sangat berisiko bagi keselamatan pengguna jalan, terutama saat malam hari atau ketika hujan turun.

Pemicu: Cuaca Ekstrem dan Beban Kendaraan Berat

Kerusakan jalan ini diduga kuat dipicu oleh tingginya intensitas hujan yang mengguyur wilayah Kandangserang dalam beberapa pekan terakhir. Kontur tanah di kawasan Watu Lawang yang tergolong labil tidak mampu menahan resapan air yang berlebih, sehingga mengakibatkan pergeseran tanah (amblas).

Namun, faktor alam bukan satu-satunya terdakwa dalam masalah ini. Berdasarkan penuturan warga setempat, kerusakan jalan diperparah oleh aktivitas kendaraan bermuatan berat (dump truck) yang melintas setiap hari. Kendaraan-kendaraan tersebut mengangkut material bangunan, baik untuk keperluan renovasi pribadi maupun suplai proyek pembangunan pemerintah, seperti program KMPD (Karya Masyarakat Pembangunan Desa) dan proyek infrastruktur lainnya.

“Hujannya memang tidak berhenti-berhenti, tapi beban truk material yang lewat setiap hari juga bikin jalan cepat retak dan akhirnya amblas begini,” ujar salah satu warga yang melintas di lokasi.

Lumpuhnya Jalur Utama Masyarakat

Dampak dari amblasnya ruas Watu Lawang ini sangat dirasakan oleh masyarakat luas. Perlu diketahui, jalur ini merupakan akses utama bagi warga Desa Garungwiyoro untuk menuju pusat pemerintahan kecamatan, fasilitas kesehatan (Puskesmas), dan pasar.

Bagi pelajar dan pekerja, kondisi jalan yang rusak memaksa mereka untuk ekstra waspada. Bagi pengendara roda dua, titik longsoran menjadi jebakan yang mematikan jika tidak berhati-hati, mengingat sisi jalan berbatasan langsung dengan tebing/jurang.

“Ini akses satu-satunya yang paling cepat. Kalau jalan ini putus, kami harus memutar sangat jauh, dan itu tentu memakan waktu serta biaya bensin yang lebih banyak. Kami khawatir kalau dibiarkan, jalannya benar-benar hilang terbawa longsor,” ungkap seorang warga dengan nada cemas.

Harapan Warga: Perbaikan dan Pengawasan Ketat

Masyarakat Desa Garungwiyoro melalui perangkat desa dan tokoh masyarakat melayangkan harapan besar kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan, khususnya Dinas Pekerjaan Umum (DPU), untuk segera melakukan tindakan darurat.

Ada dua poin utama yang menjadi tuntutan warga:

  1. Penanganan Cepat: Melakukan perbaikan permanen atau minimal penguatan tebing (talud) agar longsor tidak semakin meluas dan memutus akses total.

  2. Pengawasan Muatan: Warga meminta adanya regulasi atau pengawasan ketat terhadap kendaraan berat yang melintas. Mereka berharap ada batasan tonase agar jalan yang sudah diperbaiki nantinya tidak kembali rusak dalam waktu singkat.

Hingga berita ini diturunkan, warga secara swadaya telah memasang tanda peringatan seadanya di sekitar lokasi amblas untuk mencegah terjadinya kecelakaan. Masyarakat sangat berharap pemerintah daerah tidak menunggu adanya korban jiwa untuk mulai bergerak melakukan perbaikan.

Keberlanjutan hidup warga Garungwiyoro sangat bergantung pada kondisi infrastruktur yang layak. Watu Lawang kini menunggu tangan dingin pemerintah untuk kembali kokoh berdiri. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Editor: Buono

Terkait
Menikmati golden sunrise di bukit Pawuluhan Kandangserang

Wartadesa. - Satu lagi tempat wisata di Kabupaten Pekalongan yang menarik untuk dikunjungi yaitu bukit Pawuluhan Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan Read more

Hujan guyur Pekalongan, Sawangan longsor, Kandangserang tunggu relokasi

Doro, Wartadesa. - Hujan deras yang mengguyur wilayah Doro Kabupaten Pekalongan menyebabkan longsor di Desa Sawangan Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan. Read more

Tanah amblas, 29 KK kesulitan beraktivitas

Pemalang, Wartadesa. - Sedikitnya 29 kepala keluarga kesulitan beraktivitas akibat tanah longsor di Desa Gapura Kecamatan Watukumpul Kabupaten Pemalang, Sabtu Read more

Hujan semalaman, Lebakbarang dan Petungkriyono longsor

Kajen, Wartadesa. - Hujan deras yang terjadi sejak Rabu siang hingga Kamis pagi ini, (01/02) menyebabkan longsor terjadi di dua tempat. Read more

selengkapnya
Berita DesaLayanan Publik

Dua Tiang Listrik Roboh di Garungwiyoro, Tiga Dukuh di Kandangserang Gelap Gulita

template berita foto warta desa

WARTA DESA, KANDANGSERANG, PEKALONGAN – Warga di wilayah pegunungan Kabupaten Pekalongan, tepatnya di Desa Garungwiyoro, Kecamatan Kandangserang, harus menghadapi kondisi gelap gulita. Dua tiang listrik dilaporkan roboh di wilayah Celiling pada Minggu (8/2/2026), yang mengakibatkan pemutusan aliran listrik secara total di tiga wilayah dukuh.

Wilayah yang terdampak pemadaman total tersebut meliputi:

  1. Dukuh Garunglor

  2. Dukuh Karyamukti

  3. Dukuh Garungkidul

Aktivitas Warga Lumpuh

Robohnya fasilitas kelistrikan ini berdampak signifikan pada aktivitas harian masyarakat. Selain hilangnya penerangan di malam hari, warga mengeluhkan sulitnya menjalankan pekerjaan rumah tangga dan ekonomi yang bergantung sepenuhnya pada energi listrik.

“Listrik mati total, kami kesulitan untuk memasak dan bekerja. Harapannya PLN bisa segera datang dan memperbaiki,” ujar salah satu warga setempat yang mulai merasa terbebani dengan durasi pemadaman yang lama.

Warga menyebutkan bahwa penggunaan alat masak elektronik serta peralatan kerja pertukangan dan industri rumahan di wilayah tersebut kini terhenti total.

Menanti Respon Cepat PLN

Hingga berita ini diturunkan pada Minggu sore, warga melaporkan bahwa belum terlihat adanya petugas dari pihak PLN di lokasi kejadian untuk memulai proses perbaikan. Kondisi ini menimbulkan kekhawatiran ganda di tengah masyarakat:

  • Faktor Keselamatan: Kabel-kabel yang menjuntai akibat tiang roboh dikhawatirkan dapat membahayakan warga yang melintas jika tidak segera dievakuasi.

  • Kebutuhan Vital: Mengingat wilayah Kandangserang yang rawan cuaca ekstrem, keberadaan listrik sangat dibutuhkan untuk komunikasi dan penerangan darurat.

Penyebab Masih Misterius

Hingga saat ini, penyebab pasti robohnya dua tiang listrik tersebut masih belum diketahui. Namun, diduga kuat kondisi tanah yang labil akibat curah hujan atau faktor usia tiang menjadi pemicu insiden tersebut.

Masyarakat Desa Garungwiyoro mendesak pihak PLN Unit Layanan Pelanggan (ULP) terkait untuk segera menerjunkan tim teknis ke lokasi guna melakukan evakuasi kabel dan penggantian tiang agar aktivitas masyarakat dapat kembali normal. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Editor: Buono

Terkait
Lagi, listrik padam saat mau nonton final AFF

Pekalongan, Wartadesa. - Mati listrik, PLN jak gelut bae njoh. (listrik padam, PLN diajak berkelahi aja yuk) Demikian ungkap kekecewaan  Gus Santo, penggemar Read more

Selama UNBK sekolah harus sediakan genset

Pekalongan, Wartadesa. - PT PLN Area Rayon Kota Pekalongan menghimbau sekolah pelaksana UNBK untuk menyediakan genset terkait dengan backup data Read more

Besok buruh konveksi di wilayah ini libur

Kedungwuni, Wartadesa. - Selasa (21/11) besok, buruh konveksi di wilayah Pandanarum, Wuled, Ngalian Tirto, Karangjati Wiradesa, Tangkiltengah, Tangkilkulon Kedungwuni libur, Read more

Warga: Kalau bikin SIM Jangan dipersulit

Kajen, Wartadesa. - Surat Ijin Mengemudi (SIM) bagi warga Kota Santri sudah menjadi barang penting. Mereka menganggap bahwa surat-surat kendaraan, Read more

selengkapnya
BencanaBerita Desa

Waspada! Longsor Batu Terjang Pemukiman Desa Bubak Pekalongan, Polisi Siaga di Lokasi

template berita foto warta desa

PEKALONGAN, Warta Desa.  – Kepanikan melanda warga Desa Bubak, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan pada malam hari setelah material batu besar dan tanah longsor menerjang kawasan pemukiman. Peristiwa yang terjadi secara tiba-tiba ini mengakibatkan akses jalan setapak di sekitar rumah penduduk tertutup total oleh material longsoran.

Longsoran tersebut diduga kuat terjadi akibat kondisi tanah yang labil setelah wilayah tersebut diguyur hujan dengan intensitas tinggi. Dalam suasana gelap dan medan yang licin, material berupa batu berukuran besar tampak berserakan sangat dekat dengan dinding rumah warga, sehingga meningkatkan risiko bagi keselamatan penduduk setempat.

Merespons kejadian tersebut, petugas kepolisian bersama warga segera melakukan peninjauan di lokasi untuk memastikan situasi tetap terkendali. Dalam koordinasi di lapangan, anggota kepolisian memberikan instruksi kepada warga untuk tetap waspada terhadap potensi longsor susulan, mengingat cuaca yang masih belum menentu. Petugas juga memeriksa titik-titik rawan guna memetakan potensi bahaya yang lebih luas.

Hingga saat ini, belum ada laporan resmi mengenai korban jiwa maupun total kerugian materiil akibat bencana tersebut. Penanganan awal difokuskan pada pengamanan area dan pemantauan pergerakan tanah, sementara pembersihan material menggunakan alat berat masih dikoordinasikan lebih lanjut dengan pihak terkait.

“Warga yang tinggal di daerah rawan longsor, terutama yang berdekatan dengan tebing, diimbau untuk meningkatkan kewaspadaan ekstra saat hujan turun dengan intensitas tinggi,” ujar petugas di lapangan.

Warga yang bermukim di daerah perbukitan dan tebing diimbau untuk selalu waspada, terutama saat hujan lebat turun dalam durasi yang lama. Pihak berwenang diharapkan segera melakukan langkah mitigasi dan pembersihan material agar akses transportasi warga Desa Bubak dapat kembali normal. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Editor: Buono

Terkait
Menikmati golden sunrise di bukit Pawuluhan Kandangserang

Wartadesa. - Satu lagi tempat wisata di Kabupaten Pekalongan yang menarik untuk dikunjungi yaitu bukit Pawuluhan Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan Read more

Hujan guyur Pekalongan, Sawangan longsor, Kandangserang tunggu relokasi

Doro, Wartadesa. - Hujan deras yang mengguyur wilayah Doro Kabupaten Pekalongan menyebabkan longsor di Desa Sawangan Kecamatan Doro Kabupaten Pekalongan. Read more

Tanah amblas, 29 KK kesulitan beraktivitas

Pemalang, Wartadesa. - Sedikitnya 29 kepala keluarga kesulitan beraktivitas akibat tanah longsor di Desa Gapura Kecamatan Watukumpul Kabupaten Pemalang, Sabtu Read more

Hujan semalaman, Lebakbarang dan Petungkriyono longsor

Kajen, Wartadesa. - Hujan deras yang terjadi sejak Rabu siang hingga Kamis pagi ini, (01/02) menyebabkan longsor terjadi di dua tempat. Read more

selengkapnya
Berita DesaHukum & Kriminal

Warga Desa Bubak Keluhkan Keberadaan Tower Provider: Diduga Rusak Elektronik dan Minim Kompensasi

IMG-20260205-WA0008

BUBAK, KANDANGSERANG – Puluhan warga Desa Bubak, Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, mulai menyuarakan keresahan terkait keberadaan tower provider telekomunikasi di wilayah mereka. Fasilitas yang seharusnya menunjang komunikasi tersebut justru dituding menjadi biang keladi kerusakan berbagai peralatan elektronik warga sekitar.

Dampak Kerusakan Elektronik Massal

​Warga yang bermukim di sekitar tower mengaku sering mengalami kerugian materiil, terutama saat cuaca buruk. Diduga kuat, tower tersebut menarik sambaran petir yang kemudian arusnya merambat melalui jaringan kabel listrik ke rumah penduduk.

  • Jenis Kerusakan: Lampu, lemari pendingin (freezer), televisi, hingga kerusakan fatal pada panel listrik (box sekring).
  • Insiden Terparah: Salah satu warga melaporkan box listrik milik kerabatnya sempat terbakar meski rumah tidak tersambar petir secara langsung.
  • Faktor Cuaca: Keluhan meningkat tajam setiap memasuki musim penghujan.

​”Lampu dan barang elektronik di rumah sering sekali rusak. Ini jelas sangat merugikan kami, apalagi kawasan ini pemukiman padat,” ujar salah satu warga terdampak kepada awak media, Kamis (5/2/2026).

Tudingan Minimnya Tanggung Jawab dan Transparansi

​Selain masalah teknis, warga juga menyoroti sikap pihak provider yang dinilai tidak akomodatif. Permintaan bantuan sosial sederhana seperti Penerangan Jalan Umum (PJU) pun kabarnya tidak pernah dipenuhi.

​Keresahan warga kian memuncak dengan munculnya dugaan penyimpangan dana kompensasi. Seorang warga yang meminta identitasnya dirahasiakan menduga adanya praktik monopoli oleh oknum tertentu.

​”Kami menduga ada permainan oknum. Bahkan tidak menutup kemungkinan ada keterlibatan pihak pemerintah desa atau kepala desa setempat terkait aliran dana kompensasi yang tidak sampai ke warga terdampak,” ungkapnya.

 

Tuntutan Warga kepada Pemerintah

​Warga Desa Bubak kini mendesak pihak pemerintah desa, kecamatan, serta instansi terkait di Kabupaten Pekalongan untuk segera bertindak. Ada tiga poin utama yang menjadi tuntutan warga:

  1. Tanggung Jawab Provider: Adanya ganti rugi yang jelas atas kerusakan barang elektronik warga.
  2. Transparansi Perizinan: Penjelasan terbuka mengenai izin pendirian tower dan hak kompensasi lingkungan.
  3. Perlindungan Keamanan: Evaluasi sistem penangkal petir pada tower agar tidak membahayakan jaringan listrik warga.

​Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu itikad baik dari pengelola tower dan mediasi dari pemerintah setempat untuk menyelesaikan konflik yang telah merugikan ekonomi rumah tangga mereka. (Andi Purwandi) 

Terkait

[caption id="attachment_1300" align="aligncenter" width="768"] Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

Warga terdampak tol mulai pindah

[caption id="attachment_1331" align="aligncenter" width="768"] Warga terdampak tol di desa Bulakpelem, Sragi ini mulai membongkar rumahnya secara swadaya. (15/10) Foto : Read more

Angaran Pilkades Rembang telan 1.5 miliar

[caption id="attachment_1372" align="alignnone" width="717"] Ilustrasi: Rembang akan melaksanakan pilkades bagi 43 desa secara serentak pada 30 Nopember 2016 mendatang. Rembang, Read more

selengkapnya
BencanaBerita Desa

Suara Gemuruh Tebing Wadas Kebo Longsor Gegerkan Warga Kandangserang

template berita foto warta desa(3)

KANDANGSERANG, WARTA DESA – Warga Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, sempat dilanda kepanikan hebat pada Rabu malam (4/2/2026). Suara gemuruh misterius yang menggelegar sekitar pukul 20.30 WIB membuat masyarakat berhamburan keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Kerasnya suara tersebut dilaporkan terdengar hingga ke wilayah pinggiran Kecamatan Paninggaran, tepatnya di Desa Binangun dan sekitarnya. Kejadian ini menambah ketegangan warga, mengingat hanya berselang dua hari sebelumnya, wilayah tersebut sempat digegerkan oleh peristiwa penemuan warga hanyut dalam kondisi meninggal dunia di Dukuh Harjosari.

Sumber Suara Terungkap

Setelah sempat menjadi tanda tanya besar semalaman, kepastian penyebab suara tersebut akhirnya terungkap pada Kamis (5/2/2026) pagi. Berdasarkan hasil penelusuran di lapangan, sumber suara berasal dari Tebing Wadas Kebo yang mengalami longsor.

Material berupa bongkahan batu besar dan tanah yang runtuh dari ketinggian menimbulkan dentuman keras yang merambat hingga ke desa-desa tetangga.

“Suaranya sangat keras, warga takut terjadi apa-apa jadi langsung keluar rumah. Apalagi sebelumnya baru ada kejadian orang hanyut,” ujar salah satu warga setempat.

Kondisi Terkini dan Imbauan

Pihak berwenang mengonfirmasi bahwa dalam peristiwa longsornya Tebing Wadas Kebo ini:

  • Korban Jiwa: Nihil (Tidak ada).

  • Kerusakan Rumah: Tidak ada laporan kerusakan bangunan warga.

  • Lokasi: Material longsor jatuh jauh dari pemukiman penduduk.

Meskipun tidak ada kerusakan materiel, masyarakat diimbau untuk tetap meningkatkan kewaspadaan. Mengingat cuaca yang tidak menentu, potensi longsor susulan di area tebing masih mungkin terjadi, terutama saat hujan turun dengan intensitas tinggi dalam durasi lama. ***

Pewarta: Andi Purwandi

Terkait
Menikmati golden sunrise di bukit Pawuluhan Kandangserang

Wartadesa. - Satu lagi tempat wisata di Kabupaten Pekalongan yang menarik untuk dikunjungi yaitu bukit Pawuluhan Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan Read more

Longsor, Desa Wangkelang Kandangserang terisolasi

Kandangserang, Wartadesa. - Longsor yang terjadi di Desa Wangkelang Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan akibat dari hujan deras kemarin menjadikan Desa Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Kekurangan air bersih, droping air ke Pulosari dan Belik akan ditambah

Pemalang, Wartadesa. - Kekurangan air bersih di wilayah Kecamatan Polosari akibat debit air Gunung Slamet yang terus mengecil ditanggapi oleh Read more

selengkapnya
Berita Desa

PPDI Pekalongan Dorong Pencairan Dana Endapan Kredit, Bank Jateng Tunggu Keputusan Pimpinan

template berita foto warta desa_20260204_173951_0000

KAJEN, WARTA DESA – Pengurus Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Pekalongan menggelar Rapat Dengar Pendapat (RDP) bersama manajemen Bank Jateng Cabang Kajen pada Rabu (4/2/2026). Pertemuan yang berlangsung di kantor Bank Jateng tersebut fokus membahas tuntutan pencairan dana endapan angsuran kredit milik perangkat desa.

Menunggu Keputusan Pimpinan Cabang

​Pihak Bank Jateng menyambut baik pengajuan yang disampaikan oleh PPDI. Namun, manajemen belum bisa memutuskan besaran jumlah dana yang dapat dicairkan. Hal ini dikarenakan kebijakan tersebut harus melalui rapat internal bersama Kepala Pimpinan Cabang yang saat ini sedang berada di luar negeri guna memastikan keamanan dari sisi regulasi perbankan.

​Bank Jateng menjadwalkan pertemuan lanjutan pada Selasa, 10 Februari 2026, untuk menyampaikan hasil keputusan rapat internal kepada perwakilan PPDI.

Tuntutan Perubahan Skema Angsuran

​Dalam forum tersebut, PPDI Kabupaten Pekalongan membawa aspirasi kuat dari para perangkat desa, di antaranya:

  • Pengurangan Masa Pendingan: Mendorong perubahan skema pendingan (endapan) angsuran kredit dari semula enam bulan menjadi hanya satu bulan.
  • Pencairan Segera: Mengajukan pencairan dana pendingan selama lima bulan agar dapat direalisasikan pada bulan Februari 2026 ini.

Komitmen Tertib Administrasi

​Sebagai bentuk timbal balik, PPDI berkomitmen untuk memastikan seluruh Pemerintah Desa di Kabupaten Pekalongan tertib secara administrasi. Hal ini meliputi:

  • ​Melakukan pemindahbukuan sesuai dengan bulan berjalan.
  • ​Menyesuaikan dengan sistem penyaluran Penghasilan Tetap (Siltap) dari BPKD yang kini rutin dilakukan setiap bulan.

​Langkah ini diharapkan menjadi jaminan bagi pihak bank untuk menghapuskan sistem pendingan yang selama ini dianggap memberatkan. PPDI berharap hasil pertemuan pada pekan depan akan membuahkan keputusan yang berpihak pada kesejahteraan perangkat desa di Kabupaten Pekalongan. (Redaksi)

Terkait
PPDI tuntut tunjangan cair tiap bulan, ini jawaban Bupati

Kajen, Wartadesa. - Perangkat Desa yang tergabung dalam Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Pekalongan melakukan audiensi dengan Bupati Pekalongan, Rabu, Read more

Reorganisasi, PPDI gelar Munas di Boyolali

Boyolali, Wartadesa. – Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) menggelar Musyawarah Nasional (MUNAS) di Embarkasi Haji Donohudan, Boyolali. Munas yang  dihadiri oleh Read more

Puluhan anggota PPDI Pemalang tuntut tunjangan penghasilan di gedung Dewan

Pemalang, Wartadesa. - Puluhan anggota Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Pemalang pagi ini, Rabu (5/4) menggelar audiensi di gedung DPRD Read more

Zaenul Mufti dan Dwi Efriyanti Raih Poin Tertinggi Tes Perangkat Desa Pekiringan Alit dan Tambakroto
Zaenul Mufti dan Dwi Efriyanti Raih Poin Tertinggi Tes Perangkat Desa Pekiringan Alit dan Tambakroto

Kejen, Wartadesa. - Zaenul Mufti meraih nilai tertinggi penjaringan calon Kadus Kambangan Desa Pekiringan Alit Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan. Selain Read more

selengkapnya
Berita DesaEkonomi

Tuntut Kelonggaran Pemblokiran Angsuran, PPDI Pekalongan Siapkan RDP dengan Bank Jateng Hari Ini

template berita foto warta desa(2)

KAJEN, WARTA DESA. – Persatuan Perangkat Desa Indonesia (PPDI) Kabupaten Pekalongan menggelar rapat koordinasi intensif guna mematangkan persiapan Rapat Dengar Pendapat (RDP) dengan pihak Bank BPD Jawa Tengah. Pertemuan persiapan ini dilangsungkan di Balai Desa Tanjungsari, Kecamatan Kajen, pada Rabu (4/2/2026) pagi.

Rapat tersebut dihadiri oleh delegasi perangkat desa dari seluruh kecamatan di Kabupaten Pekalongan, di mana setiap kecamatan mengirimkan lima orang perwakilan untuk menyusun strategi dan poin-poin keberatan yang akan disampaikan kepada pihak perbankan.

Persoalan Pemblokiran Siltap Jadi Sorotan

Fokus utama yang memicu desakan RDP ini adalah kebijakan Bank Jateng terkait pemblokiran dana angsuran pinjaman perangkat desa. Selama ini, pihak bank memberlakukan kebijakan pemblokiran saldo angsuran hingga enam bulan ke depan.

Ketua dan pengurus PPDI Kabupaten Pekalongan menilai kebijakan tersebut sudah tidak relevan dan sangat memberatkan. Pasalnya, kondisi pencairan Penghasilan Tetap (Siltap) bagi perangkat desa saat ini sudah berjalan stabil dan cair secara rutin setiap bulan.

Ajukan Keringanan Masa Blokir

Dalam audiensi yang dijadwalkan berlangsung siang ini pukul 14.00 WIB, PPDI membawa tuntutan spesifik, yakni:

  • Pengurangan Durasi Blokir: Meminta Bank Jateng mengubah masa pemblokiran angsuran dari enam bulan menjadi dua bulan saja.

  • Kesejahteraan Perangkat: Kebijakan blokir enam bulan dinilai memangkas likuiditas atau ketersediaan uang tunai yang sangat dibutuhkan perangkat desa untuk kebutuhan sehari-hari.

“Kami berharap melalui RDP ini tercipta solusi yang adil. Kami ingin kesejahteraan perangkat desa terjaga, namun tetap menghormati ketentuan perbankan yang berlaku,” ujar salah satu perwakilan dalam rapat persiapan tersebut.

Jadwal Audiensi

Pelaksanaan RDP antara PPDI dan manajemen Bank BPD Jateng direncanakan berlangsung di kantor terkait pada Rabu siang. Hasil dari pertemuan ini sangat dinantikan oleh ribuan perangkat desa di Kabupaten Pekalongan yang memiliki kewajiban pinjaman di bank milik daerah tersebut. (Redaksi)

Terkait

[caption id="attachment_1441" align="aligncenter" width="803"] Calon penerima PKH di Kecamatan Kedungwuni divalidasi, Rabu (19/10). Foto: Eva Abdullah Ajis/wartadesa Kedungwuni, Wartadesa - Read more

Video: Jembatan Pantianom Sragi rusak parah

https://youtu.be/5a-RUxZT9IQ Rusak parah. Jembatan Pantianom yang menghubungkan kecamatan Sragi dan kecamatan Bojong kondisinya memprihatinkan, rusak parah dan belum ada perbaikan. Read more

Warga Keluhkan Harga Cabai Meroket

Meroket. Harga cabai melonjak naik, demikian dituturkan Anik, pedagang cabai di Pasar Induk Kajen (27/11). Foto: Read more

selengkapnya
BencanaBerita DesaLingkungan

Kemandirian dan Gotong Royong Desa Gentinggunung dalam Menghadapi Ancaman Banjir Bandang Pasca Longsor Lereng Gunung Prau

template berita foto warta desa

Sukorejo, Warta Desa, – Kawasan perbukitan yang hijau di lereng Gunung Prau, tepatnya di wilayah administrasi Desa Gentinggunung, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal, kini sedang berada dalam kewaspadaan tinggi pasca terjangan cuaca ekstrem yang memicu bencana alam pada akhir Januari 2026 ini. Hujan deras dengan intensitas yang sangat tinggi disertai hembusan angin kencang dilaporkan telah mengguyur seluruh wilayah Kecamatan Sukorejo tanpa henti sejak siang hari, mulai pukul 13.00 WIB, hingga memasuki waktu malam. Puncak dari tekanan cuaca ekstrem tersebut terjadi pada hari Jumat, tanggal 23 Januari 2026, sekitar pukul 18.15 WIB, di mana tebing-tebing curam yang berada di sepanjang Daerah Aliran Sungai (DAS) Terong tidak lagi mampu menahan beban air dan akhirnya luruh dalam bentuk tanah longsor. Berdasarkan hasil tinjauan lapangan dan laporan resmi dari warga setempat, teridentifikasi sedikitnya ada empat titik longsoran besar yang terjadi secara bersamaan di lereng gunung tersebut.

Peristiwa alam ini membawa dampak kerugian material yang signifikan bagi keberlangsungan hidup masyarakat di dua desa sekaligus, yakni Desa Gentinggunung dan Desa Tamanrejo. Dalam dokumen laporan kejadian bencana dengan nomor resmi 360/070/1/2026 yang diterbitkan oleh Pemerintah Desa Gentinggunung, dirincikan bahwa infrastruktur vital berupa jalur distribusi air bersih mengalami kerusakan parah. Sebanyak tiga rol pipa air bersih utama milik Desa Gentinggunung hancur tertimbun material, sementara instalasi air bersih yang melayani warga Desa Tamanrejo juga dilaporkan putus total. Estimasi total kerugian yang harus ditanggung akibat kerusakan aset-aset fisik ini diprediksi mencapai angka Rp150.000.000,- (seratus lima puluh juta rupiah). Meskipun kerugian harta benda tergolong besar, pihak pemerintah desa menyatakan rasa syukur karena dalam musibah ini dilaporkan nihil korban jiwa maupun luka-luka.

Namun, ancaman yang jauh lebih besar kini justru sedang mengintai di masa depan apabila penanganan pasca bencana tidak dilakukan secara cepat dan tepat. Tanah longsor tersebut membawa ribuan meter kubik material berupa batu-batu besar dan pepohonan kayu yang tumbang, yang saat ini menumpuk dan menyumbat total aliran air di sungai Terong. Penumpukan material ini menciptakan sebuah bendungan alami yang sangat rapuh dan berbahaya. Jika dibiarkan, tumpukan kayu dan batu tersebut dikhawatirkan akan memicu terjadinya bencana banjir bandang yang jauh lebih destruktif apabila volume air sungai kembali meningkat secara mendadak. Kesadaran akan risiko sistemik ini menjadi landasan kuat bagi Pemerintah Desa Gentinggunung untuk segera mengambil langkah-langkah darurat yang bersifat preventif dan mobilisasi massa.

Menanggapi situasi kritis tersebut, Kepala Desa Gentinggunung, Rudi Darmawan, bergerak cepat dengan menyelenggarakan rapat koordinasi penting pada hari Senin, 2 Februari 2026. Pertemuan strategis yang diadakan di Balai Desa Gentinggunung ini dihadiri oleh berbagai elemen pemangku kepentingan, mulai dari Camat Sukorejo, perwakilan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Kendal, hingga personel Babinkamtibmas. Selain unsur pemerintahan, keterlibatan aktif dari organisasi kepemudaan Karangtaruna, Badan Permusyawaratan Desa (BPD), serta para Relawan Siaga Bencana Desa Gentinggunung menunjukkan adanya sinergi yang kuat dalam menghadapi krisis ini. Forum tersebut secara khusus membahas penyusunan rencana tindak lanjut yang fokus pada pembersihan material longsor dari aliran sungai secepat mungkin.

Dalam rapat koordinasi tersebut, tercapai sebuah kesepakatan besar untuk melaksanakan aksi nyata berupa kerja bakti massal yang akan digelar pada hari Kamis, tanggal 5 Februari 2026. Kegiatan pembersihan sungai secara besar-besaran ini dijadwalkan dimulai sejak pukul 07.00 WIB dengan melibatkan ratusan orang yang terdiri dari perangkat desa, tim relawan, petugas BPBD, aparat keamanan, hingga warga masyarakat luas yang secara sukarela ingin membantu. Tantangan utama dalam aksi ini adalah banyaknya batang pohon kayu yang berukuran sangat besar dan saling mengunci di dasar sungai, sehingga pembersihan secara manual dengan tangan kosong dianggap tidak mungkin dilakukan dalam waktu singkat. Oleh karena itu, Pemerintah Desa Gentinggunung telah menginventarisir kebutuhan peralatan teknis dan menyimpulkan bahwa diperlukan dukungan sedikitnya 30 unit mesin pemotong kayu atau senso beserta tenaga operator ahli untuk turun ke lapangan.

Langkah birokrasi juga terus ditempuh oleh Rudi Darmawan demi memastikan aksi penyelamatan sungai ini mendapatkan dukungan logistik dan keamanan yang memadai. Sebuah surat laporan resmi telah dilayangkan langsung kepada Bupati Kendal, dengan tembusan yang mencakup berbagai instansi terkait seperti Satpol Damkar Kabupaten Kendal, Kantor Kesbangpol, hingga Ketua Cabang PMI Kabupaten Kendal. Melalui koordinasi lintas sektoral ini, diharapkan kebutuhan akan akomodasi bagi para tenaga sukarelawan dan kelengkapan alat berat tambahan dapat segera terpenuhi. Pemerintah desa menegaskan bahwa transparansi laporan dan akurasi data kerugian sangat penting agar bantuan yang turun nantinya tepat sasaran dan sesuai dengan kebutuhan riil di titik-titik longsor lereng Gunung Prau tersebut.

Semangat gotong royong yang menjadi ciri khas masyarakat Desa Gentinggunung kini sedang diuji melalui rencana pembersihan sungai Terong ini. Melalui pemberitahuan resmi dan seruan partisipasi publik, warga diharapkan dapat bahu-membahu menyukseskan agenda hari Kamis mendatang demi mengamankan jalur air dan mencegah terjadinya bencana yang lebih buruk. Keberhasilan dalam membersihkan sumbatan sungai ini bukan hanya soal memulihkan kondisi alam, tetapi juga tentang menjaga harga diri dan keselamatan bersama sebagai masyarakat yang tinggal di wilayah rawan bencana. Dengan sinergi antara pemerintah, relawan, dan warga, Desa Gentinggunung bertekad untuk membuktikan bahwa kesiapsiagaan dan ketegasan dalam bertindak adalah kunci utama dalam menghadapi tantangan alam yang kian tak menentu.***

Pewarta: Andi Gunawan

Editor: Buono

Terkait
Pasien miskin yang dipulangkan RSUD Soewondo akhirnya meninggal

Kendal, Wartadesa. - Toha (60),  pasien miskin, pemegang Kartu Indonesia Sehat, warga Rt. 05 Rw. 03 Dusun Wonokerto, Desa Sendangdawung Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Kekurangan air bersih, droping air ke Pulosari dan Belik akan ditambah

Pemalang, Wartadesa. - Kekurangan air bersih di wilayah Kecamatan Polosari akibat debit air Gunung Slamet yang terus mengecil ditanggapi oleh Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

selengkapnya
BencanaBerita DesaHukum & KriminalLingkungan

Emak Bergerak Kembali Turun ke Jalan: Perjalanan Moral dari Brebes ke Tegal Demi Menyelamatkan Gunung Slamet

Selection_018

BUMIAYU, WARTA DESA, 2 Februari 2026 – Semangat membara kembali ditunjukkan oleh sekelompok ibu rumah tangga yang menamakan diri mereka “Emak Bergerak”. Hari ini, Senin (2/2), sebanyak 17 emak tangguh dari Desa Adisana, Kabupaten Brebes, kembali melancarkan aksi nyata demi membela kehidupan dan masa depan anak cucu mereka dari ancaman bencana ekologis.

Sekitar pukul 10.00 WIB, massa berkumpul di Gang Badrun, Desa Adisana, Kecamatan Bumiayu. Dengan niat tulus dan modal swadaya (urunan) untuk menyewa sebuah mobil bak terbuka, mereka memulai perjalanan menuju Desa Bojong, Kecamatan Bojong, Kabupaten Tegal.

Misi Penyelamatan Alam yang Terluka

Aksi ini bukan sekadar seremoni biasa, melainkan kelanjutan dari keprihatinan mendalam atas kerusakan alam di Gunung Slamet. Kerusakan hutan di hulu dinilai menjadi penyebab utama banjir bandang yang kerap menghantam Desa Adisana, Dukuhturi, Kalierang, dan wilayah sekitarnya.

Sambil membentangkan spanduk berisi pesan penyelamatan lingkungan yang akan dipasang di Desa Bojong, para ibu ini membawa pesan moral yang kuat: hutan yang digunduli dan eksploitasi berlebihan adalah ancaman nyata bagi nyawa warga.

“Kami melangkah dengan keyakinan dan harapan. Insyaallah Semestakung—Semesta pasti mendukung niat baik kami,” ujar Ibu Dewi Namara, Koordinator Lapangan Emak Bergerak, dengan penuh optimisme.

Dua Tuntutan Tegas

Dalam aksinya kali ini, Emak Bergerak menyuarakan dua poin krusial yang ditujukan kepada pemerintah dan aparat:

  1. Pembangunan Tanggul Mendesak: Mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS/BBWSDA) untuk segera merealisasikan pembangunan tanggul di Kali Keruh dan Kali Erang Pagenjahan. Kondisi aliran Sungai Keruh yang berbelok saat ini menjadi pemicu utama banjir bandang yang telah menelan korban jiwa di Desa Kalierang.

  2. Penegakan Hukum Tanpa Kompromi: Meminta tindakan tegas dari aparat penegak hukum terhadap para pelaku perusakan hutan di Gunung Slamet yang menjadi akar masalah bencana.

Inspirasi dari Lereng Gunung

Aksi ini membuktikan bahwa keberanian melindungi alam tidak mengenal batas usia. Dari Adisana hingga Bojong, suara para ibu ini adalah suara perlindungan bagi keluarga dan generasi mendatang.

Gerakan ini diharapkan menjadi pemantik bagi para ibu di seluruh lereng Gunung Slamet—mulai dari Brebes, Tegal, Purbalingga, Pemalang, hingga Banyumas—untuk bersatu melawan keserakahan manusia yang merusak hutan dan menyebabkan kesengsaraan bagi rakyat kecil.

Langkah kecil dari Desa Adisana hari ini adalah pengingat keras bagi para pemangku kebijakan bahwa gunung yang terluka tidak akan pernah diam, dan para ibu tidak akan berhenti bergerak hingga kelestarian alam kembali pulih. ***

Laporan: Hendri Yetus (HY)

Editor: Buono

Terkait
Gunung Slamet Terluka, “Emak Bergerak” Adisana Kembali Turun ke Jalan Menuju Tegal

BUMIAYU, WARTA DESA – Semangat pantang menyerah kembali ditunjukkan oleh kelompok "Emak Bergerak" dari Desa Adisana, Kabupaten Brebes. Hari ini, Read more

selengkapnya
BencanaBerita DesaLingkungan

Gunung Slamet Terluka, “Emak Bergerak” Adisana Kembali Turun ke Jalan Menuju Tegal

template berita foto warta desa

BUMIAYU, WARTA DESA – Semangat pantang menyerah kembali ditunjukkan oleh kelompok “Emak Bergerak” dari Desa Adisana, Kabupaten Brebes. Hari ini, Senin (2/2/2026), sebanyak 17 ibu rumah tangga berangkat melakukan perjalanan moral menuju Desa Bojong, Kabupaten Tegal, sebagai bentuk protes atas kerusakan alam di Gunung Slamet yang kian parah.

Dengan modal swadaya (urunan) untuk menyewa mobil bak terbuka, para emak ini berangkat dari Gang Badrun, Desa Adisana, sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka membawa misi penting: memasang spanduk peringatan di wilayah Bojong demi mengingatkan publik akan ancaman nyata banjir bandang yang terus mengintai pemukiman mereka.

Perjalanan Moral demi Anak Cucu

Aksi ini merupakan kelanjutan dari aksi jalan kaki yang sebelumnya digelar pada Jumat (30/1/2026) lalu. Kerusakan hutan di lereng Gunung Slamet akibat eksploitasi dan penebangan liar dinilai menjadi biang keladi banjir yang kerap merendam Desa Adisana, Dukuhturi, hingga Kalierang.

“Kami melangkah dengan keyakinan dan harapan. Insyaallah Semestakung, semesta pasti mendukung niat baik kami,” ujar Ibu Dewi Namara, Koordinator Lapangan Emak Bergerak, dengan nada optimis.

Dua Tuntutan Utama

Dalam aksi kali ini, kelompok Emak Bergerak membawa dua tuntutan konkret yang ditujukan kepada pemangku kebijakan:

  1. Pembangunan Tanggul Darurat: Mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS/BBWSDA) untuk segera merealisasikan pembangunan tanggul di Kali Keruh dan Kali Erang Pagenjahan. Beloknya aliran Sungai Keruh akibat ketiadaan tanggul permanen dituding sebagai penyebab utama banjir bandang yang telah memakan korban jiwa.

  2. Tindak Tegas Perusak Hutan: Meminta aparat penegak hukum untuk menindak tanpa pandang bulu para pelaku perusakan hutan di Gunung Slamet yang memicu bencana ekologis.

Suara dari Lereng Gunung

Perjalanan dari Brebes menuju Tegal ini bukan sekadar seremoni pemasangan spanduk, melainkan sebuah seruan bagi seluruh ibu di wilayah lereng Gunung Slamet—termasuk Purbalingga, Pemalang, dan Banyumas—untuk bersatu menjaga alam.

Para emak ini menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat hutan digunduli oleh tangan-tangan serakah yang hanya mementingkan keuntungan pribadi namun menyengsarakan rakyat kecil. Suara mereka adalah suara perlindungan bagi masa depan generasi mendatang agar tidak lagi dihantui ketakutan setiap kali hujan lebat turun. ***

Laporan: Hendi Yetus / Redaksi

Terkait
Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Kekurangan air bersih, droping air ke Pulosari dan Belik akan ditambah

Pemalang, Wartadesa. - Kekurangan air bersih di wilayah Kecamatan Polosari akibat debit air Gunung Slamet yang terus mengecil ditanggapi oleh Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Anggaran pembangunan tanggul rob dialihkan untuk exit tol Pekalongan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Penanganan rob itu bukan hanya membangun tanggul saja, namun juga pembangunan lainnya. Kasihan, masyarakat sudah menderita Read more

selengkapnya