close

Jalan-jalan

Jalan-jalanLayanan Publik

kerap terjadi kecelakaan, jalan rabat beton Bawang-Dieng dipasang rambu

jalan bawang-dieng

Batang, Wartadesa. –  Sembilan kecelakaan terjadi di ruas jalan baru rabat beton Bawan-Dieng terjadi semenjak ruas jalan tersebut dibuka. Dinas Perhubungan Kabupaten Batang mencatat tiga mobil dan tujuh motor mengalami kecelakaan saat melintas ruas jalan yang menanjak terjal tersebut.

“Dua orang meninggal dalam sembilan kecelakaan itu,” tutur Murdiono, Kepala Dishub Batang, Senin (22/06).

Ruas jalan Bawang-Dieng viral di media sosial lantaran keindahan panorama alam di sisi kiri-kanan jalan tersebut. Jalan yang sedianya diperuntukkan untuk akses perekonomian warga menjadi ramai dilewati para wisatawan.

“Kondisi jalan saat ini memang tidak dimungkinan untuk jalan wisata, karena kelaikan jalan belum diperhitungkan dari segi keamananya,” jelas Murdiono.

Murdiono menambahkan, jika selama satu tahun terjadi 15 korban meninggal akibat kecelakaan, ruas jalan akan ditutup oleh Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT).

Untuk meminimalisir angka kecelakaan Dishub dan Satlantas Polres Batang memasan rambu-rambu peringatan. “Oleh karena itu, Dishub dengan Satlantas Polres Batang sebagai langkah antisipasi memasang peringatan untuk berhati – hati dan kalau kendaraan bermotor tidak laik jalan agar tidak melawatinya,” lanjut Murdiono.

Sementara itu, Kanit Dikyasa Satlantas Pokres Batang, Ipda Sukorinto mengatakan bahwa pemasangan rambu dan PJU (penerangan jalan umum), guard rail, dan kaca cekung akan dilakukan segera.

“Jalan yang sangat curam, dan naiknya sangat tinggi maka akan ada rekayasa jalan untuk arah dari atas atau Dieng bisa melewati Dukuh Sigemplong-Mranten -Rejosari -Deles agar kendaraan tidak berpapsan dijalur Deles – Sigemplong,” tutur Sukorinto.

Sukorinto meminta warga yang melewati ruas jalan tersebut untuk berhati-hati. “Saya himbau kalau mau melewati jalan Bawang -Dieng jangan gunakan metik, kalau terpaksa harus dalam keadaan laik jalan, dan kendaraan apapun harus laik ajalan baik sepeda motor maupun mobil,” tutupnya. (Eva Abdullah)

Terkait
Tak ada titik temu, usulan UMK Kota dan Kabupaten Pekalongan dua versi

Pekalongan, WartaDesa. - Sidang dewan pengupahan di Kota dan Kabupaten Pekalongan mengalami kebuntuan alias deadlock. Masing-masing pihak bersikeras terkait kenaikan Read more

Pangkas jarak pasar tradisional dan swalayan jadi 500 meter, ini alasan Bupati Batang

Batang, WartaDesa. - Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang perubahan atas Peraturan Daerah (Perda) Kabupaten Batang No. 5 Tahun 2014 tentang Read more

Raperda tentang perlindungan pasar dan penataan swalayan dikritisi

Batang, Wartadesa. - Lakpesdam NU, LBH GP Ansor dan IKA PMII Kabupaten Batang mengkritisi Raperda tentang perubahan atas Peraturan Daerah Read more

Duh! Tiga alat pendeteksi dini bencana di Pekalongan rusak

Kajen, WartaDesa. - Tiga dari tujuh alat deteksi peringatan dini bencana atau Early Warning System (EWS) yang dipasang di wilayah Read more

selengkapnya
Jalan-jalanKesehatan

Meski obyek wisata mulai dibuka, waspada jangan sampai jadi klaster baru

kalipaingan

Kajen, Wartadesa. – Pembukaan kembali obyek wisata secara bertahap di Kota Santri, menjadi angin segar bagi pelaku wisata. Namun juga perlu diwaspadai, jangan sampai muncul klaster baru Covid-19 dari pembukaan tempat wisata tersebut. Demikian disampaikan oleh Imam Nurhuda, pelaku pariwisata di Kabupaten Pekalongan yang juga aktivis lingkungan, Sabtu (13/06).

Menurut Imam, pembukaan obyek wisata, khususnya di Pekalongan sebaiknya harus dipertimbangkan lagi, boleh saja dibuka tapi harus mengikuti protokol kesehatan dan aturan yang sudah ditetapkan oleh pemerintah. “Seandainya protokol kesehatan tidak diterapkan secara ketat, ketika wisata dibuka bisa jadi akan menjadi tempat penyebaran virus.” Ujarnya.

Meski demikian, Imam mengaku telah menyiapkan protokol kesehatan pada obyek wisata yang dikelolanya.

Pemuda yang mengaku secara informal menjadi marketing (memasarkan) obyek wisata Kalipaingan Linggoasri dan Lolong Adventure ini menambahkan bahwa tutupnya seluruh obyek wisata saat pandemi, berdampak besar bagi para pengelola obyek wisata.

Obyek wisata di Pekalongan yang kebanyakan dikelola oleh masyarakat memang sudah hampir tiga bulan tutup total. Pastilah ini menjadi sebuah kerugian karena berhentinya pemasukan. Bahkan bisa dikatakan sebagian karyawannya kemungkinan besar dirumahkan. Tapi saya melihat teman-teman pengelola sangat bersabar dan tetap mengikuti aturan yang dikeluarkan Pemda masing-masing,” papar Imam.

Menurut Imam, diluar masa pandemi Covid-19, momen (saat) liburan seperti lebaran atau libur hari besar, pengunjun obyek wisata membludak, namun saat ini turun drastis. Meski demikian pemerintah daerah kuran responsif terhadap pelaku wisata.

“Pada moment lebaran Idulfitri atau liburan hari besar, obyek wisata tetap tutup dengan harus menanggung kerugian tidak adanya pemasukan. Padahal biasanya pemasukan bisa mencapai 10 kali lipat dari pendapatan bulan- biasa.” Ujar pria yang akrab dipanggil Kang Hoed ini.

Saya juga melihat tutupnya tempat wisata, kurang mendapat perhatian, baik pemda setempat maupun pemrov. Harapan kami sebagai pelaku wisata, mohon perhatian kepada pemda/pemrov baik Bupati Pekalonan, Asip Kolbihi maupun Gubernur Ganjar Pranowo selama masa pandemi seluruh wisata tutup total, khususnya wisata yang dikelola oleh kelompok masyarakat bisa dapat pengganti sembako atau uang kebijaksanaan. Karena sudah tidak bekerja selama masa itu.” Pungkas Imam.  (Buono)

Berita terkait:

Obyek wisata di Pemalang, Pekalongan, Batang kembali dibuka

Terkait
Obyek wisata di Pemalang, Pekalongan, Batang kembali dibuka

Pemalang, Wartadesa. - Kepala pemerintahan di wilayah Pemalang, Pekalongan dan Batan kembali membuka obyek wisata yang beberapa bulan ini tutup Read more

Kabupaten Batang tambah empat orang positif Korona

Batang, Wartadesa. -  Ada empat kasus tambahan, positif Korona di Kabupaten Batang. Empat orang positif Covid-19 tersebut merupakan OTG (Orang Read more

Bupati Batang terapkan new normal di Pasar Batang

Batang, Wartadesa. - Meski data pada Sabtu (06/06) dari corona.batangkab.go.id menyisakan 21 orang positif korona yang dirawat, 18 orang sembuh, Read more

Seluruh desa di Pemalang deklarasikan kelaziman baru

Pemalang, Wartadesa. - Seluruh desa di Kabupaten Pemalang, Kamis (04/06) mendeklarasikan pelaksanaan new normal (kelaziman baru). Deklarasi tersebut merupakan kebijakan Read more

selengkapnya
Jalan-jalan

Obyek wisata di Pemalang, Pekalongan, Batang kembali dibuka

black canyon

Pemalang, Wartadesa. – Kepala pemerintahan di wilayah Pemalang, Pekalongan dan Batan kembali membuka obyek wisata yang beberapa bulan ini tutup akibat pandemi virus Korona. Pembukaan kembali obyek wisata kala masa pandemi menjadi dilema, satu pihak, tren positif Korona di Indonesia selalu naik, dilain pihak, warga sudah mulai bosan dan ingin refreshing menikmati indahnya alam raya. Pun bagi pelaku usaha pariwisata, pembukaan kembali obyek wisata menjadi angin segar, agar mereka tidak semakin terpuruk.

Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan pada Rabu (10/06) mengatakan akan pelan-pelan membuka obyek wisata di seluruh Kota Santri, dimulai dari Petungkriyono, yang merupakan zona hijau.

Dinas Pariwisata Pemuda dan Olah Raga (Disparpora) Kabupaten Pemalang akan mulai membuka obyek wisata Pantai Widuri secara secara simulasi dan bertahap mulai Sabtu (13/06).

Sementara Kepala Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga Kabupaten Batang, Wahyu Budi Santoso menjadikan Forest Kopi sebagai pilot project (percontohan) obyek wisata yang dibuka dengan menerapkan protokol kesehatan Covid-19.

Lampu hijau dibukanya kembali obyek wisata di beberapa wilayah tersebut membawa angin segar bagi pelaku wisata di Kabupaten Pekalongan. Cahyono, salah seorang pengelola obyek wisata Black Canyon Petungkriyono mengunkapkan bahwa kondisi di negeri di atas awan saat ini aman, lantaran setiap wisatawan maupun warga yang naik ke Petungkriyono diwajibkan menengenakan masker. “Aman inshaAllah…. Seng munggah petung diwajibkan pake masker pak….” Ujarnya, Sabtu (13/06).

Cahyono menambahkan bahwa Black Canyon di Desa Kayupuring, Petunkriyono sudah menerapkan protokol kesehatan bagi pengunjun maupun pengelola. “Terutama di setiap sudut warung disiapkan pancuran buat cuci tangan plus sabun cair.” Jelasnya

“Yang boleh masuk (ke obyek wisata) yang pake masker…. Dan (para wisatawan) diberi edukasi jaga jarak,” lanjut Cahyono.

Saat ini obyek wisata Black Canyon sudah dibuka sejak beberapa hari lalu, sedang obyek wisata lainnya, seperti obyek wisata Welo Asri baru akan dibuka Senin lusa.

Sebagai pelaku dunia pariwisata, Cahyono mengaku selama pandemi Korona ini pengunjung wisatawan ke Petungkriyono turun drastis, “90 % turun derastis… setelah adanya lampu hijau oleh pemerintah, membuka kembali obyek wisata, kami berharap agar pengunjung Petungkriyono kembali seperti tahun-tahun sebelumnya. (Buono)

Terkait
Hilang dua hari, pemancing asal Kayupuring ditemukan meninggal

Petungkriyono, WartaDesa. - Warga Dukuh Tinalum, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan berinisial (S) 50) yang hilang dua hari saat berpamitan memancing Read more

Kedutaan Ceko dan Ostrava Zoo dukung kegiatan ekonomi di habitan Owa Jawa

Petungkriyono, Wartadesa. - Konservasi Owa Jawa melalui kegiatan ekonomi berkelanjutan di daerah Hutan Petungkriyono, Pekalongan didukungoleh Kedutan Republik Ceko dan Read more

Panen raya bawang putih di Petungkriyono, hasilkan 14 ton/HA

Petungkriyono, Wartadesa. - Panen raya petani bawang putih di Dukuh/Desa Tlogohendro, Kecamatan Petungkriyono, Pekalongan dibuka Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, Sabtu Read more

Tebing longsor di Songgodadi, akses jalan sempat lumpuh

Petungkriyono, Wartadesa. - Akses jalan penghubung antara Kecamatan Lebakbarang-Petungkriyono sempat terputus akibat tebing setinggi 25 meter, selebar 10 meter di Read more

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Lomba dayung Dragon Boat ke-4 digelar, perebutkan motor

lomban

Batang, Wartadesa. – 84 peserta mengikuti gelaran Festival Dragon Boat Racing (lomban –lomba dayung) di sungai Sambong, Desa Klidang Wedan, Kecamatan Batang, Kabupaten Batang dengan hadiah utama sepeda motor. Pun, Bupati Batang, Wihaji menambah hadiah uang tunai Rp 1,5 juta untuk menambah kemeriahan acara. Gelaran acara dihelat pada Selasa 31 Desember 2019 hingga 1 Januari 2020.

Agenda acara yang keempat kalinya ini menurut Wihaji menjadi daya tarik wisata. “Tentu ini bisa menjadi daya tarik wisata dari luar daerah, jadi semoga setiap tahunnya bisa digelar lebih meriah lagi,” ujarnya.

Untuk menarik wisata berkunjung dalam acara tersebut, Wihaji meminta agar warga selalu menjaga kebersihan sungai. Ia pun mengangkarkan Rp 100 juta untuk mendukung pembangunan sungai Sambong. “Pemkab juga sudah mengusulkan Pembangunan Pelabuhan Ikan higeinis dan direspon pemerintah pusat sehingga 2021 mendapatkan anggatan Rp 50 juta,” jelasnya.

Wihaji berharap agar warga setempat tidak buang air besar di sepanjang kali, untuk menjaga kali tetap bersih. “Saya masih lihat Sungai Sambong menjadi tempat BAB, itu yang harus dihilangkan,” pungkasnya.

Ketua Panitia,   Dana khodolik  mengungkapkan bahwa acara ditahun keempat ini memperebutkan motor untuk juara pertama dan uang pembinaan. (Eva Abdullah)

Terkait
146 tim meriahkan lomban Klidanglor Batang

Batang, Wartadesa. - Tak kurang dari 146 tim dengan peserta sebanyak 391 memeriahkan gelaran lomba dayung tradisional (lomban) di Klidanglor Read more

Cemburu! Istri dianiaya hingga meninggal, suami gunakan alibi kecelakaan

BATANG, WARTADESA. -  Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, bau busuk akan tercium juga. Seperti pepatah, ulah DK alias Congli (25) warga Desa Read more

Zona Orange, Pemkab Batang belum putuskan pembelajaran tatap muka

Batang, WartaDesa. - Bupati Batang, Wihaji, belum berani memutuskan pembelajaran tatap muka (KBM) lantaran wilayahnya masih masuk zona orange (oranye) Read more

Bayi usia seminggu ditemukan mengambang di sungai Kitiran

Batang, WartaDesa. - Warga sekitar Desa Kambangan, Blado, Batang digegerkan dengan penemuan jasad bayi berjenis kelamin laki-laki yang mengambang di Read more

selengkapnya
Jalan-jalan

Tips menghindari tenggelam ketika liburan di pantai

tenggelam

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Kabar duka disampaikan oleh PMI Kota Pekalongan, Mohammad Fahmi (6) siswa SD asal Boyongsari, Pekalongan Utara, Kota Pekalongan meninggal tenggelam di Pantaisari, Boom saat berenang di pantai. Sementara rekannya, Miftahul Ababil (10) warga Boyongsari, selamat dan kini dirawat di RS Budi Rahayu.

Keterangan dari petugas PMI Kota Pekalongan keduanya berenang di Pantai Boom bersama rekan-rekan mereka, total ada 10 anak. Dua dari mereka yakni Fahmi dan Miftah tenggelam, keduanya diselamatkan penjaga gudang ikan asin, Jum’at (20/12) sore.

Berwisata ke pantai dan berenang menikmati deburan ombak memang mengasyikkan. Untuk menjaga diri agar tidak terseret arus ombak maupun tenggelam, berikut tipsnya,

1. Mengecek Keadaan Ombak sebelum Berenang

Keadaan ombak di laut diketahui menunjang kenyamanan wisatawan selama berenang. Untuk itu, jangan ragu bertanya kepada penjaga pantai terlebih dahulu mengenai kondisi terkini ombak. Bila sudah mendapat konfirmasi aman dari mereka, anda tentu bisa menjalankan aktivitas berenang dengan perasaan tenang.

Perlu anda ketahui, ombak dengan karakteristik ‘liar’ dapat menyulitkan seseorang untuk mengatur gerakan tubuh selama berenang. Tidak hanya itu, ombak yang besar juga ditakutkan membuat wisatawan terseret jauh dari garis pantai. Jadi, pastikan kondisi ombak terlebih dahulu sebelum menjajal berenang ya bro!

2. Tidak Berenang ketika Badai Datang

Sebelum berenang di perairan laut tertentu, ada baiknya wisatawan memerhatikan situasi atau keadaan agar terhindar dari risiko buruk. Salah satu waktu paling tidak tepat untuk berenang di laut adalah saat badai tiba. Bila nekat berenang ketika badai datang, anda dikhawatirkan terkena sambaran petir yang mengancam nyawa. Seram sekali, bukan?

Oleh sebab itu, hindari aktivitas berenang di laut saat badai atau cuaca buruk karena dapat membahayakan keselamatan diri. Himbauan ini juga berlaku bagi wisatawan yang gemar menghabiskan waktu di area panta dengan berjemur atau bermain. Intinya, tetap utamakan keselamatan diri selama berwisata ya bro!

3. Memandang tanpa Menyentuh

Selain berenang, aktivitas lain yang banyak dilakukan wisatawan di laut adalah diving dan snorkeling. Banyak orang tertarik melakukan kegiatan ini untuk menikmati keindahan alam bawah laut di suatu perairan. Melihat terumbu karang dan kawanan ikan kecil tentunya bakal mengurangi beban dalam pikiran.

Keelokan flora dan fauna laut sebaiknya tidak membuat anda terlena untuk menyentuhnya secara langsung. Hal ini dimaksudkan agar penyelam tidak menyakiti makhluk laut. Selain itu, menjauhkan kontak langsung dengan hewan dan tumbuhan laut juga ditujukan agar anda tidak mengalami hal buruk tak terduga.

Jadi, penyelam baiknya memandangi fauna dan flora laut saja selama snorkeling atau diving. Urungkan niat untuk menyentuh mereka secara langsung demi keamanan diri serta kelestarian lingkungan laut. anda yang mengaku sebagai pencinta alam sejati tentu mampu memahami hal ini dengan baik. Setuju ‘kan bro?

4. Tidak Berkunjung ke Perairan yang Dihuni Ubur-ubur Menyengat

Ubur-ubur menyengat merupakan salah satu hewan laut yang mesti diwaspadai wisatawan selama berenang. Meski kebanyakan ubur-ubur menyengat, makhluk laut ini rata-rata tidak memiliki racun mematikan. Agar terhindar dari sengatan ubur-ubur, wisatawan baiknya menanyakan lokasi berenang yang aman dari hewan tersebut.

Bila terkena sengatan ubur-ubur, wisatawan perlu meminta bantuan penjaga pantai agar segera mendapat penanganan medis secara cepat. Dengan begitu, luka yang anda alami dapat segera terobati. anda pun menghindari berbagai macam kemungkinan buruk. Jadi, perhatikan lokasi berenang yang anda pilih ya bro!

5. Beristirahat Sejenak di Sela-sela Kegiatan Berenang

Di sela-sela aktivitas liburan, anda juga perlu mengambil waktu istirahat demi menjaga kondisi daya tahan tubuh. Ada banyak hal tidak baik yang didapat wisatawan jika terlalu lama terkena sinar matahari, misalnya seperti hipotermia, heat stroke atau kenaikan suhu tubuh hingga 40 derajat celcius, kelelahan, serta kulit terbakar. Tidak enak sekali, bukan?

Jika ingin terhindar hal-hal tersebut, sempatkanlah waktu untuk istirahat selama beberapa menit. Jangan lupa juga untuk mengonsumsi air mineral segar serta makanan ringan. Selain itu, anda juga perlu menggunakan tabir surya untuk melindungi kulit dari panas sinar matahari. Oke, bro?

6. Tidak Menyelam di Perairan dengan Tingkat Kedalaman yang Tak Diketahui

anda dihimbau tidak menyelam di perairan yang tingkat kedalamannya tidak diketahui. Jangan sampai keinginan untuk menjajal diving membuat anda terseret dalam situasi berbahaya. Selain itu, hindari menyelam dengan posisi kepala masuk ke dalam air terlebih dahulu. Hal ini dimaksudkan untuk mencegah risiko benturan terhadap bongkahan batu besar yang berbahaya. Oke, bro? anda disarankan bertanyalah lebih dahulu kepada penjaga pantai mengenai lokasi aman untuk menyelam demi keselamatan diri.

Dengan mengamati enam hal di atas, anda dapat meminimalisir risiko tenggelam dan bahaya-bahaya lainnya yang mungkin terjadi saat berenang. Tetap berhati-hati ya bro! (Eva Abdullah, dirangkum dari berbagai sumber)

 

Terkait
Bedak Tabur Baby Multifungsi dari Rambut hingga Kaki

Semarang - Feminesia. Aroma bedak tabur untuk bayi yang kental dengan hint cotton yang lembut dan mild seringkali membuat kita Read more

Tips hemat menggunakan shampo

Wartadesa一Feminesia Bagi pemilik rambut panjang dan tebal, borosnya shampo menjadi masalah yang memusingkan. Tidak cukup satu atau dua, kadang empat sampai Read more

Kabupaten Pekalongan masuk zona merah dengan resiko tinggi

Kajen, WartaDesa. - Bertambahnya kasus Covid-19 di beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Pekalongan dengan total positif 248 orang, terdiri dari Read more

Waspada! Banjir dan rob saat musim penghujan

Pekalongan, WartaDesa. - Perkiraan musim penghujan yang jatuh pada pertengahan bulan ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan Read more

selengkapnya
Jalan-jalan

Susur jalur perdagangan sesepuh Lebakbarang-Kalibening

1

Lebakbarang, Wartadesa. – Sejak lama jalur Lebakbarang-Kalibening melalui Dukuh Totogan, Desa Kutorembet dijadikan jalur perdagangan para sesepuh warga Lebakbarang untuk melakukan niaga di pasar Kalibening, Kabupaten Pekalongan. Jalur tersebut sudah lama hilang, lantaran kondisi medan yang sangat sulit.

Lima orang Trabasser, Feri, Sugiono keduanya warga Kutorembet, Slamet Haryadi, warga Sidomulyo, Akbar Fauzan dan Bambang Sukma Hendra, keduanya warga Tembelanggunung melakukan penyusuran jalur perdagangan sesepuh Lebakbarang. Dimulai dari Dukuh Totogan, Desa Kutorembet Selatan. Jum’at (11/10) Pukul 13.00 WIB.

Penyusuran jalur lawas tersebut dilakukan lantaran kelima Trabasser sangat penasaran untuk membuka kembali jalur tersebut. Menggunakan tiga sepeda motor, mereka berboncengan.  Perjalanan yang dilakukan kali ini, harus masuk kedalam hutan blantara melalui jalan yang lumayan ekstrim yang sebagian  menanjak dengan tanah licin dan bebatuan.

Perjalanan dimulai dari Selatan Desa Kutorembet

Tim yang baru saja masuk ke dalam hutan, langsung  dihadapkan dengan kesulitan, yang memaksa mereka untuk mendorong satu-persatu sepeda motor yang dinaiki, teruuuuus menuju keatas sampai menemukan jalan yang mudah dilewati. Tak cukup satu dua kali, lagi-lagi mereka harus mendorong motor saat harus berhadapan dengan jalanan yang licin dan menanjak.

Baca: Petungkriyono berpotensi jadi tempat wisata pegamatan burung

Setelah itu, perjalananpun dilanjutkan lebih dalam lagi masuk menuju hutan dengan suasana yang agak berkabut. Di sepanjang jalan, sara kicauan burung, ranting yang saling beradu saat diterpa angin, serta suara tupai dan hewan aneh lainnya, menambah sensasi tersendiri yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.

Setengah jam lebih berlalu, daaaan, yak!, mereka berhenti di jalan yang agak rata–posisi jalan tersebut berada hampir dipuncak gunung–. Sembari melihat beberapa pemukiman yang berada agak jauh dibawah posisi mereka, pemukiman tersebut masih di daerah Lebakbarang, yaitu Desa Tembelanggunung yakni Dukuh Jrakah, Pomahan, Kedawung, dan Petungkon.

Pemandangan desa-desa di Lebakbarang dari puncak ketinggian

Selepas istirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan kembali dengan rasa penasaran. Alhamdulillah, jalanya rata dan sedikit menurun, hinga membuat otot santuy (baca: santai) tanpa harus mendorong-dorong motor.

Namun, baru beberapa menit, ternyata medan jalan sudah mentok.  Ya, mentok alias pol, dan jalan yang sekarang ada di hadapan mereka, hanyalah jalan setapak yang dipenuhi rumput liar yang lumayan tinggi, yang membiat mereka sempat hampir putus asa.

Jalan setapak jalur Lebakbarang-Kalibening

Dengan berjalan kaki, mereka menulusuri jalan setapak, sembari mengamati. Dan akhirnya, mereka kembali dan memutuskan bahwa jalan tersebut masih bisa dilewati motor. Merekapun melanjutkanya dengan menelusuri jalan setapak itu menggunakan motor. Tiba-tiba, mereka merasaakan kaki dan tangan terasa perih tergesrek duri-duri dan terserempet akar-akar rumput liar.

Setelah bersusah payah agak lama, akhirnya mereka menjumpai tanah lapang (sekitar 10 m²) dengan sebuah tugu, di perempatan jalan setapak, disana ada dua orang sedang mengumpulkan gelagah (bahan untuk membuat sapu lantai) yang sedang dijemur.

Tugu perbatasan

Merekapun berhenti dan kemudian bertanya kepada mereka berdua. Dan ternyata, perempatan jalan tersebut adalah jalan menuju Kutorembet, Gunung Surat, Bulu pitu dan Sijaha. Dengan perasaan senang mereka melanjutkan perjalanan kembali melewati jalan setapak tapi dengan kondisi yang lebih gampang.

Diperkirakan jalan tersebut dulunya sudah di lebarkan, hanya saja saat ini sudah tertutup rumput lagi. Namun, selang beberapa menit, hujan gerimis turun dan kabut mulai menutupi jalan. Jalan mulai kembali licin, penglihatan kurang jelas karena kabut, yang kemudian membuat mereka agak khawatir.

Hujan semakin lebat dan pendokumentasian perjalanan yang mereka lakukan dengan perekam video dihentikan. Cuaca semakin dingin, baju dan tubuh basah kuyup. Namun setelah itu, hujan sedikit reda walaupun kabut masih menghalangi jalan.

Jalur Trabas Lebakbarang-Kalibening

Dan akhirnya pukul 14.46 WIB, tim sampai di pertigaan, dan kemudian berteduh di sebuah gubuk, disitu ada sekelompok orang yang sedang melakukan pengaspalan jalan Petungkon. Di pertigaan tersebut, arah kiri adalah jalan menuju Petungkon, dan arah kananya menuju Gunung surat. (±200-300 meter lagi)

Trabas pun dihentikan, namun mereka akan melakukan perjalanan lagi karena mereka yakin bahwa jalur tersebut dapat digunakan warga Lebakbarang menuju Kalibening dengan lebih cepat, khususnya jika melalui jalur Kutorembet.

Bila jalur tersebut difungsikan kembali, jalur perdagangan jaman dulu tersebut akan dapat meningkatkan ekonomi warga Lebakbarang untuk melakukan perniagaan ke Kalibening dengan rute yag sangat dekat. (Sumber: laman media sosial Kutorembet)

Editor: Buono

Kredit Foto: Desa Kutorembet

Terkait
Tak ada titik temu, usulan UMK Kota dan Kabupaten Pekalongan dua versi

Pekalongan, WartaDesa. - Sidang dewan pengupahan di Kota dan Kabupaten Pekalongan mengalami kebuntuan alias deadlock. Masing-masing pihak bersikeras terkait kenaikan Read more

4 Tahun Wartadesa, Serangkaian Kegiatan Sosial Digelar

Kabupaten Pekalongan, WartaDesa. - Memasuki tahun ke-4 usia media komunitas Wartadesa, para penggiat media dengan tagline "Saatnya Warga Bersuara" ini Read more

Kabupaten Pekalongan masuk zona merah dengan resiko tinggi

Kajen, WartaDesa. - Bertambahnya kasus Covid-19 di beberapa kecamatan di wilayah Kabupaten Pekalongan dengan total positif 248 orang, terdiri dari Read more

Waspada! Banjir dan rob saat musim penghujan

Pekalongan, WartaDesa. - Perkiraan musim penghujan yang jatuh pada pertengahan bulan ini membuat Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kota Pekalongan Read more

selengkapnya
Jalan-jalan

Petungkriyono berpotensi jadi tempat wisata pengamatan burung

swaraowa

Petungkriyono, Wartadesa. – Kawasan hutan Petungkriyono, di puncak Kabupaten Pekalongan berpotensi menjadi obyek wisata birdwaching.  Dalam sebuah diskusi yang digelar di Sokokembang, Petungkriyono, 6 Juli lalu terungkap bahwa kawasan tersebut memilik potensi untuk diterapkannya wisata minat khusus, pengamatan burung.

Birdwatching merupakan kegiatan pengamatan terhadap spesies burung liar yang dilakukan dalam hutan dengan mata telanjang ataupun dengan bantuan teropong binokular pun monokular. Jenis kegiatan ini termasuk dalam kegiatan wisata minat khusus yang dapat memberikan manfaat pro lingkungan dan Edukasi.

Namun ancaman wisata ini adalah telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Perhelatan yang merupakan seri diskusi konservasi ke-3 yang digelar oleh Swara Owa tersebut menghadirkan dua narasumber pelaku industri wisata minat khusus pengamatan burung di Indonesia. Diskusi ini menarik minat peserta dari beragam kalangan, mahasiswa, warga, perhutani, LMDH, perangkat desa Mesoyi, Kayupuring dan Tlogohendro.

Imam Taufiqurrahman, ornithologist (ahli ilmu burung), narasumber asal Jogja yang merupakan pelaku usaha wisata minat pengamatan burung mengatakan bahwa wisata minat mengamati burung mempunyai karakter tersendiri, seperti ketertarikan yang tinggi terhadap burung di habitat asli, dari kalangan terpelajar, melakukan perjalanan dalam kelompok kecil dan mampu secara finansial.

Menurut Imam, potensi keanekaragaman yang tinggi, jenis-jenis endemik dan keragaman lansekap (pemandangan, bentang alam, lanskap),  dan budaya memilik potensi untuk di terapkannya wisata minat khusus pengamatan burung. Namun ancaman wisata ini telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Imam menambahkan, paket wisata tersebut, membutuhkan keseriusan dalam menangani wisatawan. Amerika dan Eropa merupakan pasar potensial bagi paket wisata pengamatan burung.

Kukuh Wibowo, pembicara kedua, mengatakan bahwa tantangan dari pengembangan wisata minat khusus pegamatan burung adalah  laju kehancuran dan kepunahan burung-burung di alam, ketrampilan bahasa inggris, karena target pasarnya adalah orang luar negeri, hospitality (keramahan) dan standar operasional prosedur (SOP) dari mitra tour operator lokal, persaingan dengan tour operator dari luar negeri, penetrasi pasar, dan peralatan yang kurang memadai.

Kukuh menambahkan bahwa  Birdwatching tours merupakan salah satu alternatif untuk menekan dampak eksploitasi burung di alam, dan menjadi solusi kompromi antara ekonomi dan ekologi yang sering kali berseteru satu sama lain. (Redaksi, diambil dari sumber Swara Owa)

Terkait
Obyek wisata di Pemalang, Pekalongan, Batang kembali dibuka

Pemalang, Wartadesa. - Kepala pemerintahan di wilayah Pemalang, Pekalongan dan Batan kembali membuka obyek wisata yang beberapa bulan ini tutup Read more

Kedutaan Ceko dan Ostrava Zoo dukung kegiatan ekonomi di habitan Owa Jawa

Petungkriyono, Wartadesa. - Konservasi Owa Jawa melalui kegiatan ekonomi berkelanjutan di daerah Hutan Petungkriyono, Pekalongan didukungoleh Kedutan Republik Ceko dan Read more

Panen raya bawang putih di Petungkriyono, hasilkan 14 ton/HA

Petungkriyono, Wartadesa. - Panen raya petani bawang putih di Dukuh/Desa Tlogohendro, Kecamatan Petungkriyono, Pekalongan dibuka Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, Sabtu Read more

Tebing longsor di Songgodadi, akses jalan sempat lumpuh

Petungkriyono, Wartadesa. - Akses jalan penghubung antara Kecamatan Lebakbarang-Petungkriyono sempat terputus akibat tebing setinggi 25 meter, selebar 10 meter di Read more

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Tak kunjung diperbaiki, warga Petungkriyono cor jalan rusak

jalan petung

Petungkriyono, Wartadesa. – Lebih lima tahun jalan rusak di depan kantor Kecamtan Petungkriyono tak kunjung diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan, membuat warga bersama anggota kepolisian setempat bergotong-royong melakukan pengecoran jalan. Sabtu-Ahad (15-16/06).

Inisiatif warga tersebut dilakukan mengingat ruas jalan tersebut merupakan akses utama pemerintahan Petungkriyono dan jalan utama warga dari berbagai desa di Kecamatan Petungkriyono. Kondisi jalan yang menanjak dan aspalnya hampir seluruhnya mengelupas, hanya menyisakan pecahan batu (warga menyebutnya kali asat) membuat pengguna jalan kesulitan bahkan banyak yang terjatuh ketika melintas jalan tersebut. Hal tersebut menyulitkan aktifitas warga maupun petani setempat.

Seperti dalam liputan video Warta Desa sebelumnya, Wahid, warga Garung, Petungkriyono mengatakan bahwa kerusakan jalan dari depan kantor kecamatan hingga lokasi obyek wisata Curug Bajing maupun Curug Muncar, berjarak sekitar tiga kilometer tersebut sudah lima tahun lebih belum juga ada perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Padahal ruas jalan tersebut masuk jalan kabupaten.

Hal senada diungkapkan salah satu wisatawan asal Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Santo. Ia yang baru kali pertama mengunjungi obyek wisata Curug Bajing mengungkapkan bahwa jalan ke obyek wisata tersebut ekstrim. Menurut Santo, ia tak akan kembali berkunjung ke destinasi wisata unggulan Kabupaten Pekalongan jika kondisi jalan yang rusak tak diperbaiki.

Anggota Polsek Petungkriyono Aiptu Bono Rahardjo ikut kerja bakti bersama warga yang sudah berkumpul dari pukul 06.00 WIB dan tanpa sungkan langusung memulai memperbaiki jalan rusak. Rencananya jalan yang rusak akan di cor agar kuat dan tahan lama.

Dengan alat sederhana yang dipinjami Aiptu Sugeng dan Bripka Tarmanto langsung membantu masyarakat Petungkriyono untuk membawakan bahan cor menambal jalan yang rusak dengan semangat yang tinggi.

Kapolsek Petungkriyono Polres Pekalongan Iptu Agus Supriyono menegaskan kepada semua Anggota Polsek Petungkriyono untuk membantu semua kegiatan masyarakat Petungkriyono bila diperlukan bantuan jangan sungkan-sungkan memberikan bantuan. (Eva Abdullah)

Terkait
Hilang dua hari, pemancing asal Kayupuring ditemukan meninggal

Petungkriyono, WartaDesa. - Warga Dukuh Tinalum, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan berinisial (S) 50) yang hilang dua hari saat berpamitan memancing Read more

Obyek wisata di Pemalang, Pekalongan, Batang kembali dibuka

Pemalang, Wartadesa. - Kepala pemerintahan di wilayah Pemalang, Pekalongan dan Batan kembali membuka obyek wisata yang beberapa bulan ini tutup Read more

Kedutaan Ceko dan Ostrava Zoo dukung kegiatan ekonomi di habitan Owa Jawa

Petungkriyono, Wartadesa. - Konservasi Owa Jawa melalui kegiatan ekonomi berkelanjutan di daerah Hutan Petungkriyono, Pekalongan didukungoleh Kedutan Republik Ceko dan Read more

Panen raya bawang putih di Petungkriyono, hasilkan 14 ton/HA

Petungkriyono, Wartadesa. - Panen raya petani bawang putih di Dukuh/Desa Tlogohendro, Kecamatan Petungkriyono, Pekalongan dibuka Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, Sabtu Read more

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Pengunjung Pantai Widuri keluhkan sampah

sampah pantai widuri

Pemalang, Wartadesa. – Minimnya tempat pembuangan sampah di obyek wisata Pantai Widuri, Kabupaten Pemalang dikeluhkan oleh pengunjungnya. Pantai dipenuhi dengan sampah yang dibuang sembarangan oleh para wisatawan.

Felani Herman (35), salah seorang wisatawan di Pantai Widuri mengungkapkan bahwa pengelola wisata maupun Pemkab Pemalang kurang memfasilitasi obyek wisata tersebut dengan tempat sampah yang cukup.

Selain itu, masih menurut Herman, kurang sadarnya wisatawan terhadap kebersihan pantai, menjadi pemicu obyek wisata kebanggaan Wong Pemalang tersebut kotor penuh sampah.

“Selain kurangnya kesadaran wisatawan akan buang sampah di tempatnya, minimnya tempat  sampah juga menjadi salah satu faktor banyaknya sampah yang berceceran di pantai dan area Widuri ini mas.” Ujar Herman, Selasa (11/06).

Herman berharap agar dinas pariwisata setempat tanggap terhadap masalah sampah di Pantai Widuri. “Diharapkan pihak-pihak terkait khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Pemalang dan juga pengelola obyek wisata Widuri segera tanggap tentang permasalahan ini,  jangan sampai Widuri yang sejak dulu menjadi primadona wisata sedikit demi sedikit akan ditinggalkan oleh wisatawan.” Lanjutnya.

Keluhan sampah di Pantai Widuri ini berulang setiap tahun. Diberitakan Warta Desa sebelumnya, kondisi Pantai Widuri di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah yang penuh dengan sampah dan kotoran manusia dikeluhkan oleh wisatawan yang datang berlibur ke pantai tersebut.

Yanto (24), warga Landungsari Kota Pekalongan mengungkapkan bahwa tumpukan sampah berserakan di mana-mana, termasuk sampah rumah tangga yang dibuang warga sekitar. Apalagi tidak jauh dari pantai terdapat kawasan pemukiman. Meski sejumlah tempat pembuangan sampah disediakan, namun warga sekitar lebih memilih membuang sampah di tepian pantai. Selain itu kotoran manusia bercampur sampah banyak dijumpai di sepanjang pantai.

“Di sepanjang pantai sampah berserakan, bahkan banyak ditemui kotoran manusia. Padahal sudah ada tempat pembungan sampah disitu, namun sepertinya tidak digunakan oleh warga sekitar,” tutur Yanto, Sabtu.

Yanto menambahkan, “Kalau dibiarkan seperti itu terus, wisatawan yang datang tidak akan kembali lagi, karena kondisinya yang sangat jorok dan kotor,” lanjutnya.

Dari penelusuran Wartadesa, didapatkan informasi bahwa kondisi Pantai widuri yang dikotori oleh sampah dan kotoran manusia diakibatkan oleh kebiasaan buruk warga Desa Tanjung Sari yang suka membuang sampah dan buang air besar di pasir pesisir pantai widuri. Kondisi tersebut sudah bertahun-tahun.

Hal ini membuat geram para wisatawan lokal maupun dari luar Pemalang yang berkunjung ke objek wisata Pantai Widuri. Mereka terganggu oleh bau tidak sedap akibat sampah yang berserakan di pasir pantai dan kotoran manusia yang terendap di dalam pasir.

Pemerintah Daerah Kabupaten Pemalang sebenarnya sudah bekerjasama bersama masyarakat Tanjung Sari untuk membangun WC umum. Fasilitas tersebut diberikan untuk memberikan tempat bagi masyarakat setempat untuk keperluan MCK. Tetapi persoalan yang muncul, ternyata WC tersebut belum cukup memenuhi kebutuhan MCK warga setempat, hingga sekarang kebiasaan buruk buang air besar di pinggir pantai masih saja dilakukan.

Ridha, salah seorang warga setempat membenarkan bahwa Pemkab Pemalang pernah membangun MCK di wilayah tersebut, namun fasilitas sosial/umum tersebut kerap tidak dimanfaatkan warga, “iya pernah dibangun MCK emang, cuma terlantar. Entah karena malas ngangkut air atau faktor lain. saya yang asli sini pun cuma bisa berdoa supaya mereka dapat hidayah (untuk tidak buang air besar dan sampah sembarangan).  Kalau bangun rumah aja pada bagus, tapi gak mikir MCK.” Tuturnya.

Menurut Ridha, dibutuhkan pendampingan bagi warga untuk merubah kebiasaan buruk warga setempat, “sudah jadi semacam ‘tradisi’ turun menurun kalau laut itu tempat sampah buat mereka. Mau pup (buang air besar) tinggal ke laut, punya barang rusak ya lempar aja ke laut. Dari saya belum lahir juga gitu sih pak. Saya berharap kelak ada yang bisa mengubah kehidupan warga Tanjung Sari menjadi lebih baik, untuk kebaikan wisata alam Pantai Widuri dan warga Pemalang.” Pungkasnya. (Eky Diantara, Eva Abdullah)

Terkait
Akan dibangun taman, sampah di Bojongbata dibersihkan

Pemalang, Wartadesa. - Sampah yang menumpuk, lama, di tepi jalanan Bojongbata, Kabupaten Pemalang dibersihkan kemarin, Jum'at (13/03). Rencananya tempat tersebut Read more

Spanduk yang dipasang warga ini bikin ngeri!

Pemalang, Wartadesa. - “Ya Allah mohon cabutlah segera nyawa mereka yang buang sampah di sini,” begitu tulisan spanduk yang dipasang Read more

Pengusaha di deadline 3 bulan untuk bangun IPAL

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Pengusaha yang menghasilkan limbah di Kota Pekalongan ditenggat selama tiga bulan untuk membangun Instalasi Pengolah Air Read more

Jurang jadi tempat pembuangan sampah warga

Paninggaran, Wartadesa. - Membuang sampah seenaknya masih sering kita jumpai di berbagai belahan kampung di Kota Santri. Seperti didapati oleh Read more

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Menengok empat tradisi kuliner Syawalan di Pekalongan

lopis raksasa

Pekalongan, Wartadesa. – Tradisi Syawalan (sepekan selepas Idulfitri) di Pekalongan diwujudkan dengan berbagi makanan dan minuman. Tradisi turun-temurun tersebut merupakan wujud syukur warga sekaligus momen berbagi kebahagiaan.

Bahkan Syawalan yang jatuh pada 8 Syawwal (kalender hijriyah) merupakan hari yang sangat istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh warga. Pasalnya, hari itu merupakan hari berkumpulnya ribuan warga untuk bisa silaturrahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan secara gratis.

Di Pekalongan ada empat tradisi berbagi kuliner khas yang dihelat dalam rangka memperingati Syawalan. Empat tradisi kuliner tersebut yakni lopis raksasa di Krapyak, Kota Pekalongan, gunungan Gebral di Pekajangan, Kedungwuni, gethuk lindri terpanjang di Ambokembang, Kedungwuni, serta gunungan Megono di Linggo Asri, Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Gunungan Gebral Pekajangan

Perhelatan Gunungan Gebral Pekajangan digelar di Pekajangan Gang 20, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalogan, Ahad (09/06). Gunungan Gebral (makanan terbuat dari singkong yang diserut) setinggi 1,5 meter menjadi pusat perhatian warga.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi dalam gelaran Gunungan Gebral Pekajangan, Ahad (09/06)

Ratusan warga yang datang untuk menikmati gunungan secara gratis telah memenuhi gang sejak pagi.  Muhammad Yuniarsi soleh, panitia Gunungan Gebrak mengungkapkan bahwa acara tersebut telah memasuki usia 21 tahun.

“Ini sudah berjalan 21 tahun,kita persiapkan untuk kelapa satu minggu sebelum lebaran sedangkan untuk singkong datang pada H+5,tinggi gunungan 1,5 meter,” ujar Soleh.

Menurut Soleh, perhelatan tersebut merupakan acara tahunan untuk mempererat silaturahmi warga Pekajangan sekaligus berhalal-bihalal.

Sementara, Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan yang hadir membuka acara menyarankan agar gelaran Gunungan Gebral tidak hanya berhenti pada tradisi Syawalan semata, melainkan dikembangkan (potensinya) membentuk jiwa kewirausahaan.

“Ini yang dinamakan mendidik jiwa entrepreneurship masyarakat,jadi tidak berhenti di gebyar syawalan saja tapi harus dipasarkan melalui cafe-cafe yang kita kemas secara modern dan dikelola oleh anak-anak muda,” ujar Asip.

Gethuk Lindri Terpanjang Ambokembang

Tradisi Gethuk Lindri terpanjang di Desa Ambokembang gang 9 dihelat Selasa (11/06). Tradisi tersebut digelar dalam rangka menghidupkan Syawalan warga Desa Ambokembang dengan menyajikan makanan tradisional berbahan baku singkong dengan taburan parutan kelapa dan kinco (saus gula merah) sepanjang 350 meter yang dibagikan kepada para pengunjung.

Warga Ambokembang sedang menyiapakan gethuk lindri sepanjang 350 meter dalam traedisi Syawalan desa setempat

Camat Kedungwuni, Bambang Dwi Yuswanto mengungkapkan bahwa Pemkab Pekalongan mendorong upaya pelestarian tradisi Syawalan tersebut. “Kita dorong untuk terus lestari dan meningkat setiap tahunnya, dan mudah-mudahan kedepan bisa masuk MURI (Museum Rekor Indonesia),” tuturnya, Selasa (11/06).

Menurut Bambang, tradisi Syawalan dengan berbagi gethuk lindri terpanjang merupakan momen yang tepat untuk menjalin silaturahmi antar warga yang sempat terkoyak oleh adanya Pilkades, Pileg maupun Pilpres.

Zainal Mutaqin, panitia gethuk lindri terpanjang menyebut bahwa gethuk sepanjang 350 meter tersebut menghabiskan 1,5 ton singkong, 220 butir kelapa, dan 80 kilogram gula jawa. Pembuatan gethuk dikerjakan warga secara gotong-royong selama dua hari.

“Tradisi ini sudah kali ke delapan dilakukan warga dengan tujuan mempererat tali silaturahmi antar sesama,” ujar Zainal.

Lopis Raksasa Krapyak

Bagi warga Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan gelaran lopis raksasa merupakan tradisi tahunan. Meski saat ini air rob merendam wilayah Krapyak, hal tersebut tidak menyurutkan warga untuk menyiapkan dua lopis raksasa yang akan dihelat pada Rabu (12/06) besok.

Warga Sembawan, Krapyak Kidul menyiapkan lopis raksasa seberat 1,6 kwintal

Lopis raksasa seberat 1,6 kwintal tengah disiapkan oleh warga Krapyak Kidul Gang 8 atau gang Sembawan dan Krapyak Lor gang 1. Acara yang akan dihadiri oleh Walikota Pekalongan tersebut menjadi daya tarik wisatawan sejak puluhan tahun lalu.

Lopis saat ini telah diangkat dan diletakkan di dua tempat pemotongan, yakni Krapyak Kidul gang 8 dan Krapyak Lor gang 1. Lopis raksasa diangkat warga secara gotong-royong dari tempat memasak ke lokasi acara pada Ahad (09/06) kemarin.

Ketua panitia Syawalan Krapyak Lor Gang 1, Ahmad Timbul mengungkapkan lokasi untuk pemotongan lopis saat ini dikelilingi oleh air rob dan akan disedot dengan pompa agar kering saat hari H.

Sedangkan menurut panitia syawalan di Krapyak Kidul Gg 8, Akhir Budiyanto menjelaskan meskipun dapur pemasakan terendam rob, namun dilakukan pengurugan sehingga tidak ada kendala dalam pembuayan lopis raksasa.

Mengono Gunungan Linggo Asri

Megono Gunungan di Obyek Wista Linggo Asri, Kajen

Berbeda dengan ragam tradisi Syawalan lainnya yang diinisiasi oleh warga, tradisi Syawalan Megono Gunungan diinisiasi oleh Pemkab Pekalongan, dalam hal ini Dinporapar, dengan rangkaian kirab Gunungan Megono dan 19 gunungan kecamatan yang akan dibagikan gratis kepada warga.

Perhelatan yang akan digelar pada Rabu (12/06) besok tersebut akan dimeriahkan dengan pagelaran seni tradisional kuda lumping, musik rampak dan campursari, serta dangdut. (WD)

Terkait
17 balon udara tradisional diamankan sebelum sempat diterbangkan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Petugas Satpol PP Kota Pekalongan mengamankan 17 balon tradisional di wilayah Kota Batik. Sebanyak empat balon Read more

Ratusan balon udara masih penuhi langit Pekalongan

Karangdadap, Wartadesa. - Ratusan balon udara tradisional yang dilepaskan warga Pekalongan dan sekitarnya masih menghiasi langit Pekalongan. Rabu (12/06). Pantauan Read more

Warga Wonobodro berharap tradisi balon udara tidak dihapus

Batang, Wartadesa. - Warga Batang berharap agar tradisi menerbangkan (ngeculke_Jawa) balon tidak dihilangkan dari khasanah tradisi budaya setempat. Hal tersebut Read more

Tradisi Syawalan di Kota Santri meriah

Kajen, Wartadesa. - Pelaksanaan tradisi Syawalan (satu pekan selepas Idulfitri) di Kota Santri Berlangsung meriah. Gunungan Gebral setinggi 275 cm, Read more

selengkapnya