close

Jalan-jalan

Jalan-jalanSosial Budaya

VLOC chapter Pekalongan rayakan milad

batang vios

Batang, Wartadesa. – Vios Limo Owner Community (VLOC) Chapter Pekalongan merayakan ulang tahunnya yang ke-3, bertempat di Wisata Alam Pagilaran Batang ini dilaksanakan 8-9 Desember 2018. Milad ketiga dihadiri langsung oleh Ketua VLOC Nusantara Pusat, dari Jakarta.

Komunitas Mobil yang sudah terbentuk 3 tahun lalu ini terdiri dari beberapa wilayah. Untuk VLOC chapter Pekalongan sendiri terdiri dari 4 Kabupaten, yaitu Kota Pekalongan, Kabupaten Pekalongan, Kabupaten Batang, dan Kabupaten Pemalang.

Ketua VLOC chapter Pekalongan Ujang menuturkan bahwa komunitas ini merupakan para pemilik mobil Toyota Vios Limo, sampai saat ini di chapter Pekalongan sendiri kurang lebih ada 50 anggota.

Lebih lanjut Ujang menyampaikan bahwa dalam aniversarry yang ke-3 ini, dihadiri oleh chapter dari berbagai wilayah, ada dari Surabaya, Madura, Semarang, Slawi, Purwokerto, Cilengsi, dan Bogor. Dan yang paling lebih membahagiakan dan membanggakan dihadiri langsung oleh Ketua VLOC Nusantara dari Jakarta.

Sementara itu Ketua VLOC Nusantara Fajar menyampaikan ucapan terima kasih yang sebesar-besarnya atas sambutannya, dan acara aniversarry nya sukses luar biasa.

Harapannya VLOC chapter Pekalongan semakin solid dan kompak serta untuk VLOC wilayah lainnya juga bisa tetap kompak tutup fajar. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanLayanan Publik

Menengok surga pecinta burung di Pemalang

pasar burung pemalang

Pemalang, Wartadesa. – Bagi pecinta kicau mania di Kabupaten Pemalang, Pasar Burung Pemalang yang berada di depan pasar pagi, tentu sudah tidak asing lagi. Tempat ini menjadi surga bagi pecinta burung di wilayah Pemalang, Pekalongan, Tegal dan sekitarnya.

Pasar yang buka tiap hari, mulai pukul 07.00 WIB hingga pukul 17.00 WIB ini juga menjadi rujukan utama pecinta burung dari berbagai wilayah di kecamatan Pemalang.

Sebagai surganya para pecinta burung. Penikmat, pecinta kicau mania dapat menemukan beragam jenis burung, seperti Kacer, Kenari, Murai Batu, Anis Bata, Cucak Ijo, Perkutut. Bahkan para pedagang menyediakan berbagai jenis sangkar burung dan siap melayani konsultasi perawatan burung.

Salah seorang pecinta kicau mania, Tarno, warga Comal yang ditemui Warta Desa mengungkapkan dia tiap dua hari sekali datang ke pasar tersebut. “Ya mas … Saya hampir tiap dua hari sekali ke sini untuk beli pakan dan konsultasi ke para pedagang burung di sini.” Ujar tarno, Sabtu (08/12).

Sayang, ramainya pasar burung dengan banyaknya pecinta kicau mania yang datang untuk melakukan transaksi jual beli maupun konsultasi tersebut, belum diimbangi dengan sarana dan prasarana yang nyaman. Jalan pada area pasar becek saat hujan. Selain itu penataan pedagang belum tertata rapi karena lokasi yang sempit dan fasilitas pasar yang tidak memadai.

Keluhan tersebut diungkapkan oleh Tarno, dia berharap agar Pemerintah Kabupaten Pemalang, memperhatikan kondisi Pasar Burung Pemalang. “Seharusnya, pemerintah setempat segera menata para pedangang mas … Selain itu juga pasar sangat sempit dan kalau hujan … becek, jadi pengunjung pasar burung kurang nyaman.” Lanjutnya.

Pedagang Pasar Burung Pemalang pun mengiyakan, “Keinginan pedagang supaya direnovasi dan menjadi nyaman untuk berdagang … kita nyaman berjualan … pembelipun nyaman saat melihat-lihat burung kesayangan mereka,” tutur Suharyono, salah seorang pedagang.

Fahmi, pedagang lainnya mengungkapkan hal senada, “semoga pihak Pemkab Pemalang bisa segera merenovasi dan memperluas pasar burung kebanggaan masyarakat Pemalang ini,” pungkasnya. (Eky Diantara)

selengkapnya
Jalan-jalanLingkunganSosial Budaya

Lomba mancing Barramundi dan peluncuran Baper digelar di PPNP Pekalongan

lomba mancing baramundi

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Komunitas Batik Angler Perjuangan (BAPER) bersama pengelola Obyek Wisata Bahari PPNP Kota Pekalongan menggelar lomba mancing Strike Barramundi sekaligus peluncuran Baper. Perhelatan tersebut dilaksanakan pada Ahad  (25/11) di  Wisata Bahari PPNP kota Pekalongan.

Ubaidillah, panitia yang dihubungi oleh Warta Desa mengungkapkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh puluhan pecinta mancing mania dari Pekalongan dan luar kota.

“Kegiatan yang diikuti oleh pemancing atau angler se Pekalongan, komunitas mancing mania Pemalang, Batang, Semarang, Brebes, Demak, Kendal, Jepara, Indramayu, Cilacap, Jakarta, Tuban, Tegal dan Bekasi.” Ujar pria yang sering disapa Kang Obek.

Menurut Ubaidillah, kegiatan tersebut  memperebutkan hadiah utama  dua unit sepeda motor Beat dan hadiah lain, memperebutkan trophy, medali dan piagam.

“Selain pemenang lomba dengan kategori terberat ikan Barramundi, peserta yang lain tetap mempunyai kesempatan mendapatkan hadiah doorprize utama sepeda motor dan hadiah menarik lainnya.” Lanjut Obek.

Selain kegiatan mancing, acara juga dimeriahkan dengan  makan olahan ikan bersama sebagai wujud program kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menciptakan budaya gemar makan ikan bagi warga untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Dion, Ketua Pelaksana mengungkapkan ucapan terimakasihnya kepada seluruh panitia dan pihak yang mendukung acara tersebut. “Harapan kedepan kegiatan ini bisa berkelanjutan sebagai silaturahmi dan komunikasi dari berbagai komunitas mancing mania.” Pungkasnya. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanLingkunganTekno

Monitoring kehidupan satwa liar hutan Sokokembang, gunakan kamera trap

kamera trap

Pekalongan, Wartadesa. – Kehidupan satwa liar di hutan Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan tidak gampang dipantau secara kasat mata. Untuk monitoring keanekaragaman hayati di ‘negeri di atas awan’ tersebut Komunitas Swara Owa Pekalongan memasang kamera trap.

Meski pemasangan kamera trap di hutan Sokokembang masih bersifat ujicoba, namun beberapa aktivitas kehidupan satwa liar disana sudah terpantau.

Menurut Arief Setiawan, pria yang sehari-hari dipanggil Wawan, penggiat Swara Owa, pemasangan kamera trap ini merupakan bagian dari program pengenalan kehidupan liar dan hutan pada umumnya, dan sebagai bagian dari kampanye penyadar-tahuan untuk mengajak (warga) mengenal hutan dan melestarikan habitat asli (satwa liar) yang tersisa di Jawa Tengah.

Kamera trap merupakan alat yang dipasang untuk  gambar foto atau video dari hidupan liar, alat ini berfungsi secara otomatis dengan sensor gerak atau inframerah. Kamera trap digunakan untuk mengumpulkan foto dan video di belahan hutan Sokokembang yang susah untuk dijangkau tangan manusia.

Kamera secara otomatis akan menangkap perilaku maupun aktivitas satwa liar  yang sangat sensitif dengan kehadiran manusia. Dengan pemasangan kamera trap, populasi, mangsa, predator dan juga ancaman kehidupan liar seperti perburuan manusia akan diketahui.

Wawan menambahkan, uji coba pemasangan kamera trap ini sudah berjalan sekira dua bulan. Selama dua bulan tersebut, mereka sudah mendapatkan   foto jenis-jenis primata pemakan daun yang ada di Sokokembang. Primata ini didapati sedang mencari makan di atas tanah.

Selain foto, relawan mendapatkan video yang jarang ditemui saat pengamatan langsung. Yakni perilaku rekrekan yang sedang memakan nangka.  (WD, Foto: Swara Owa)

selengkapnya
Jalan-jalanLingkungan

PekaOwa gelar pameran fotografi Owa Jawa

pameran foto owa jawa

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Memperingati International Gibbon Day, komunitas PekaOwa menggelar pameran foto Owa Jawa. Pamaran ini dihelat oleh IUCN Gibbon Specialist Group (swaraowa) Kota Pekalongan bekerjasama dengan komunitas PekaOwa, Sabtu (27/10) di Taman Hortikultura Yosorejo Pekalongan. Selain pameran foto, juga digelar pentas Budaya dan Parade Juang, 90 tahun Sumpah Pemuda.

Menurut Ubaidillah, pria yang lebih dikenal dengan panggilan Obed, dari komunitas PekaOwa, acara muncul spontan saja. “Acaranya muncul spontan usai ngobrol-ngobrol dalam diskusi singkat dengan Anjar Prasojo peserta MSP (Metode Survey Primata) 2018. Diskusi singkat akhirnya kita merencanakan pameran foto untuk tujuan mengenalkan kepada publik tentang spesies dan perlindungan habitat (Owa Jawa) aslinya.” Ujarnya.

Obed dan Anjar yang mempunyai hobi sama yakni fotografi alam liar, mereka mempunyai foto-foto keanekaragaman hayati yang di dapat di hutan Petungkriyono pun menggelar pameran bertajuk “Mereka adalah Milik Kita”.

Obed menambahkan, pameran dihelat untuk mengenalkan kepada masyarakat luas, bahwa Pekalongan mempunyai primata yang unik. Mereka kini berada di Pekalongan sisi Selantan-Timur, hutan alam dari ketinggian 250 – 1900 mdpl. Primata berupa Owa, Lutung, Rekrekan dan Monyet Ekorpanjang, mewakili taxa yang hidup dan berkembang di antara tingginya aktivitas manusia di wilayah tersebut. Mereka bertahan dan bertahan,juga mengalami ancaman.

Spesies-spesies istimewa ini juga punya peran penting, membantu regenerasi hutan alam, penyebar biji, sumber ilmu pengetahuan, sebagai identitas daerah diantara pergaulan global. Foto-foto ini adalah sebagian yang ada di hutan Pekalongan, hutan sebagai habitat, mutlak harus ada untuk mereka, para primata-bukan manusia. mereka butuh kanopi pohon untuk berayun, mereka butuh tempat bernaung dan ruang.Hutan tempat mereka hidup adalah sumber segala sumber kehidupan, air, udara, pemandangan indah, sudah setiap hari kita nikmati, mereka para primata adalah milik kita, menjaga mereka tetap hidup di belantara adalah kewajiban kita. Lanjut Obed.

Pameran foto yang ditujukan untuk  mendorong pegiat-pegiat fotografi, khususnya generasi muda dari wilayah sekitar habitat Owa agar tampil didepan menyuarakan Owa Jawa yang hidup liar dalam habitat aslinya. Foto-foto yang digelar merupakan hasil dari fotografi penggiat Owa dari Pekalongan.  “Acara pameran foto ini  juga merupakan bagian dari kegiatan Kopi dan Konservasi 2018.” Pungkas Obed. (WD. Foto: swaraowa)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan Publik

Diterjang ombak, anjungan Pantai Widuri hampir roboh

anjungan widuri

Pemalang, Wartadesa. – Anjungan (bangunan yang menjorok) Pantai Widuri kondisinya hampir roboh akibat diterjang ombak. Anjungan kondisinya memprihatinkan dan rusak, kondisi tersebut membahayakan bagi pengunjung obyek wisata kebanggaan wong Pemalang yang meniti anjungan.

Kerusakan terjadi pada lantai anjungan yang ambles, bahkan beberapa bagian lantai ikut terbawa ombak. Pagar anjungan sepanjang 500 meter juga mengalami kerusakan. Sementara ujung angungan yang direncanakan untuk rumah makan apun, lenyap ditelan ombak.

Menurut petugas pantai, kerusakan terjadi tidak serta-merta. Kerusakan bertahap lantaran sering disapu ombak besar. ”Bangunan dermaga wisata cukup menarik pengunjung untuk berselfi maupun berswafoto. Bahkan kini walaupun sudah rusak masih didatangi pengunjung terutama para pemancing,” kata Yudi, petugas pantai.

Kabid Sarpras Dinas Pariwisata, Pemuda dan Olahraga Pemalang, Imam Bandi mengungkapkan bahwa pihaknya akan memperbaiki anjungan yang rusak. Pemda juga akan membangun anjungan tambahan, nantinya akan berbentuk huruf T.  ”Kami sudah mengusulkan kepada Kementerian Pariwisata,” ucapnya. Namun belum diketahui kapan perbaikannya digarap dan berapa nilai anggarannya untuk perbaikan anjungan. (SM/WD)

selengkapnya
Jalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Festival Wong Gunung, ratusan kilo sampah dibersihkan dari Gunung Slamet

festival wong gunung

Pemalang, Wartadesa. – Ratusan kilo sampah dibersihkan dari area Gunung Slamet. 225 kilogram sampah yang ada di gunung tersebut dibawa turun oleh para pendaki dalam kegiatan Resik Gunung dalam gelaran Festival Wong Gunung. Festival tersebut digelar pada 25 Agustus hingga 2 September 2018.

Para pendaki sebelumnya dilepas oleh Camat Pulosari, Ahmady.  Mereka mendaki bersama warga Pulosari melalui jalur Dipajaya Desa Clekatakan. Total peserta resik gunung sebanyak 118 pendaki yang berasal dari Pemalang, Tegal dan Pekalongan.

Peserta resik gunung membersihkan Bukit Melodi Cinta di Desa Cekatan dan area sekitar. Selain pendaki dewasa, peserta resik gunung juga diikuti oleh 500 siswa SD, SMP dan MTs di Kabupaten Pemalang.

Festival Wong Gunung merupakan agenda tahunan, pada 2018 merupakan kali ketiga event tersebut digelar. Selain kegiatan resik gunung, beragam acara disajikan dalam festival tersebut.

Festival Wong Gunung digelar sebagai ungkapan rasa syukur warga Pulosari atas anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada desa tersebut. Agenta tahunan ini menjadi agenda wisata di Kabupaten Pemalang yang cukup dinantikan. Termasuk acara Ruwat Ageng Banyu Panguripan.

Ruwat Ageng Banyu Panguripan (air kehidupan) merupakan  kirab dan rayahan gunungan, hingga penyerahan banyu panguripan air Gunung Slamet kepada 12 kepala desa yang ada di Pulosari.

Kepala Desa Pulosari, Teguh Setyo Widodo, mengatakan festival diadakan untuk mengangkat potensi wisata yang ada di Pulosari. “Pulosari merupakan desa budaya dan wisata. Dengan meningkatnya wisata, kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat,” ujarnya, Jum’at (31/08) (WD)

 

selengkapnya
Jalan-jalan

Ditemukan 60 spesies kupu-kupu langka di Petungkriyono

ilustrasi kupu-kupu matamu

Petungkriyono, Wartadesa. – Tim LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia) menemukan 60 jenis spesies kupu-kupu langka di hutan wisata Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan.

Menurut Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi, temuan itu berdasarkan hasil tim LIPI yang melakukan penelitian di hutan wisata Petungkriyono beberapa waktu lalu.

Meski tim belum merilis hasil temuan, karena masih bersifat untuk pemeliharaan, namun disampaikan wana wisata Petungkriyono memiliki 60 jenis spesies kupu-kupu langka.

“Tim dari LIPI melakukan penelitian selama tiga hari di hutan wisata Petungkriyono, dan hasilnya ditemukan 60 spesies kupu-kupu langka di Indonesia. Dan sekarang masih belum bisa dirilis ke publik, karena ada kepentingan lain untuk menjaga dan pemeliharaan,” kata bupati saat membuka kegiatan Sarasehan dan ulang janji menyambut Hari Pramuka Ke- 57 tahun 2018, di SMKN Karangdadap beberapa waktu lalu.

Dikatakan, Petungkriyono yang menjadi salah satu lokasi wisata unggulan Kabupaten Pekalongan, dan telah mendapatkan apresiasi wisatawan nasional dan mancanegara, tak hanya memiliki keindahan alam saja, melainkan juga memiliki kekayaan 60 spesies kupu-kupu langka di Indonesia. (WD)

 

selengkapnya
EkonomiJalan-jalan

Menikmati beras hitam dari negeri diatas awan

nasi beras hitam

Minggu lalu kami sempat menikmati sajian beras hitam yang dikenal juga dengan  “Forbidden Rice“. Beras hitam, di daratan Cina selama berabad-abad lalu hanya dikonsumsi oleh kaum bangsawan. Sayang kami tak dapat mengabadikan momen-momen “Satu jam jadi bangsawan” lantaran tidak membawa kamera.

Beberapa kali main ke rumah temen di bilangan Petungkriyono, tepatnya depan kecamatan, kami selalu menyempatkan diri untuk menikmati keindahan alamnya. Suasana dingin yang segar udaranya membuat kami selalu merasa “kelaparan”, maklumlah masih dalam masa pertumbuhan …

Kami sempat bertanya pada rekan yang asli Jogja tapi mempunyai istri asal Petungkriyono –dimana saat ini kami  main, adakah makanan khas dari beras hitam? Sempat menunggu lama, karena ternyata beras hitam bukan  makanan pokok warga setempat. Mereka masih mengkonsumsi beras biasa untuk kebutuhan sehari-hari, sedang beras hitam hasil panen warga, lebih banyak dijual.

Petungkriyono yang berada pada lereng Gunung Rogojembangan dengan ketinggian 1.000–1.900 m dpl (diatas permukaan laut) memiliki potensi plasma nuftah beras hitam dan beras merah yang melimpah. Beras hitam merupakan varietas lokal yang mengandung pigmen paling baik, berbeda dengan beras putih atau beras warna lain. Beras hitam memiliki rasa dan aroma yang baik dengan penampilan yang spesifik dan unik. Bila dimasak, nasi beras hitam warnanya menjadi pekat dengan rasa dan aroma yang menggugah selera makan.

Sambil menyantap sepiring beras hitam, kami sempat menanyakan keberadaan kelompok tani beras hitam. Di Desa Tlogopakis ada kelompok tani khusus bertani beras hitam. Kelompok tani ini dibentuk dengan difasilitasi oleh perguruan tinggi dari Pekalongan dan Semarang.

Menurut rekan kami, beras hitam berwarna pekat ini bisa menjadi makanan super untuk kesehatan. Karena kandungan gula yang rendah, kaya akan serat sehat dan  senyawa yang memerangi penyakit jantung dan kanker. Beras hitam juga mengandung antioksidan dan antosianin.

Antosianin ini berfungsi untuk menghentikan molekul-molekul berbahaya yang dapatmembantu melindungi arteri dan mencegah kerusakanDNA yang mengarah pada penyakit kanker. Warna beras diatur secara genetik, dan dapat berbeda akibat perbedaan gen yang mengatur warna aleuron, endospermia, dan komposisi pati pada endospermia.

Dari penelitian para ahli, beras hitam mempunyai khasiat meningkatkan ketahanan tubuh terhadap penyakit, memperbaiki kerusakan sel hati (hepatitis dan chirrosis), mencegah gangguan fungsi ginjal, mencegah kanker/tumor, memperlambat penuaan (Antiaging), dan sebagai antioksidan serta membersihkan kolesterol dalam darah.

Satu jam sudah kami ngobrol-ngobrol sambil menikmati lezatnya sajian nasi beras hitam. Jika anda berkunjung ke Petungkriyono, jangan lewatkan untuk membeli oleh-oleh beras hitam yang kaya akan manfaat. (Eva Abdullah)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalan

Berburu kesegaran di surga kolang-kaling Lebakbarang

kolang kaling

Siapa yang tidak kenal Lebakbarang. Sebuah kecamatan di Selatan Kabupaten Pekalongan yang dikenal juga sebagai sentra penghasil kolang-kaling. Bagi sebagian warga, Lebakbarang merupakan surganya pohon aren, penghasil buah kolang-kaling. Pohon aren akan banyak dijumpai di sepanjang Lebakbarang, baik yang ditanam oleh warga maupun di hutan, yang tumbuh subur, meski tidak ada yang menanam maupun merawatnya.

Untuk menikmati segarnya kolang-kaling dengan melihat proses pemetikan, pembersihan hingga pengolahan. Anda cukup datang ke desa-desa di Lebakbarang yang dikenal sebagai penghasil camilan  kenyal berbentuk lonjong dan berwarna putih transparan dan mempunyai rasa yang menyegarkan. Ada tiga desa yang dikenal dengan kebun pohon aren, yakni Desa  Sidomulyo, Timbangsari dan Pamutuh.

Kolang-kaling yang dalam bahasa Belanda biasa disebut glibbertjes atau “benda-benda licin kecil” ini diolah dari biji pohon aren (Arenga pinnata) yang berbentuk pipih dan bergetah.  Untuk membuat kolang-kaling, para perempuan Lebakbarang biasanya membakar buah aren sampai hangus, kemudian diambil bijinya untuk direbus selama beberapa jam. Biji yang sudah direbus tersebut kemudian direndam dengan larutan air kapur selama beberapa hari sehingga terfermentasikan. Setelah itu baru bisa kita nikmati dengan beragam resep yang enak dan segar.

Kolang-kaling memiliki kadar air sangat tinggi, hingga mencapai 93,8% dalam setiap 100 gram-nya. Selain itu juga mengandung 0,69 gram protein, 4 gram karbohidrat, serta kadar abu sekitar satu gram dan serat kasar 0,95 gram. Selain memiliki rasa yang menyegarkan, mengonsumsi kolang kaling juga membantu memperlancar kerja saluran cerna tubuh manusia.

Kandungan karbohidrat yang dimiliki kolang kaling bisa memberikan rasa kenyang bagi orang yang mengonsumsinya, selain itu juga menghentikan nafsu makan dan mengakibatkan konsumsi makanan jadi menurun, sehingga cocok dikonsumsi sebagai makanan diet. Kolang-kaling juga bermanfaat untuk mengobati nyeri sendi dan mengandung kalsium sama dengan tulang sapi. Kandungan mineral seperti protasium, iron, kalsium mampu menyegarkan tubuh dan memperlancar proses metabolisme tubuh.

Salah satu produsen buah yang menjadi camilan favorit disaat bulan puasa, yang ditemui Wartadesa adalah Waris (55), warga Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang Kabupaten Pekalongan. Ditemui di rumahnya, dia mengatakan, kolang kaling akan mengalami puncak permintaan pasar pada bulan ramadhan. “Pada bulan ramadhan kolang-kaling laris sekali. Saya bisa jual perkilonya bisa sampai Rp 8000, kalau hari-hari biasa, kurang dari segitu (harganya).” Katanya, Ahad (22/07).

Waris mengaku buah kolang-kaling yang diproduksinya dijual ke pengepul. “Kolang-kaling yang saya produksi, saya jual ke pengepul, tapi kadang ada beberapa warga seperti tetangga atau kawan beli langsung kerumah saya,” lanjutnya.

Menurutnya, pohon kolang-kaling tumbuh banyak di hutan didesanya,   tanpa harus di tanam.

Harnani, salahsatu warga setempat mengamini pernyataan Waris, kalau didesanya, kolang-kaling sangat potensial untuk dikembangkan. “Di desa saya kolang-kaling memang tumbuh subur, dan bisa menjadi tambahan pendapatan warga. Mbah Waris contohnya, beliau menggeluti produksi kolang-kaling sejak anaknya masih kecil masih SD, sampai sekarang sudah memiliki cucu  yang sudah duduk dibangku SMA.” Kata perempuan yang biasa disapa Nani ini.

Nani mengungkapkan bahwa kolang-kaling produksi Desa Sidomulyo memiliki rasa yang khas, yang tidak dimiliki oleh produksi kolang-kaling desa lainnya. “Bagi warga yang kebetulan melewati desa saya, silahkan kalau mau beli oleh-oleh jajanan lokal, bisa mencoba kolang-kaling dari desa saya yang memiliki rasa khas,” pungkas Nani, (Eva Abdullah) 

 

selengkapnya