close

Jalan-jalan

Jalan-jalanSosial Budaya

Parit tanggul rob Pekalongan akan dikembangkan jadi obyek wisata air

wisata parit

Wonokerto, Wartadesa. – Parit sepanjang 10 kilometer dengan lebar 30 meter sedalam dua meter pada tanggul penahan rob Kabupaten Pekalongan, akan dikembangkan sebagai obyek wisata air. Demikian disampaikan oleh Asip Kholbihi di Wonokerto, Selasa (12/03).

Menurut Asip, tanggul raksasa tersebut membentang dari Kota Pekalongan hingga Kabupaten Pekalongan dengan panjang sekitar 10 kilometer, dan biaya pembangunan Rp 500 miliar lebih. Di tengah tanggul raksasa tersebut nantinya akan terdapat parit selebaran 30 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter lebih. Parit tersebut diwacanakan oleh Pemkab Pekalongan untuk dijadikan tempat wisata air baru setelah tanggul selesai dikerjakan.

Menurut Asip, saat ini progres pembangunan tanggul raksasa sudah mencapai empat kilometer dari 10 kilometer.
“Total sekitar 10 kilometer dari wilayah Kota Pekalongan dan 4 kilometer yang ada di wilayah Kota Santri, tanggul yang ada di wilayah Kota Santri nantinya akan kami bangun lokasi wisata baru lengkap dengan fasilitas kolam ikan dan perahu wisata,” katanya.

Bupati menuturkan sengaja membuat tanggul penahan banjir rob menjadi multifungsi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. “Karena lokasi wisata nantinya akan dikelola oleh pihak desa setempat, dan kami akan menunjang fasilitasi serta infrastrukturnya,” tuturnya.

Dijelaskan Bupati, Kecamatan Wonokerto sudah terdampak banjir rob sedari tahun 2008 lalu, dan kini saatnya mengubah pandangan dari bencana menjadi barokah. “Penyelesaian pembangunan dijadwalkan akhir tahun ini, setelah itu kami akan kebut pembangunan untuk lokasi wisata baru,” tambahnya.  (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Kondisi GCC memprihatinkan, begini keluhan warga

ggc

Pemalang, Wartadesa. – Kondisi Gandulan Culinary Centre (GCC) di Pemalang kondisinya memprihatinkan. Hal tersebut dikeluhkan oleh warga. Menurut Imam (45), warga Petarukan, Kabupaten Pemalang, GCC setelah wacana akan dikelola pihak swasta kondisina kini memprihatinkan.

Menurut Imam, kini GCC wayahnya (bagian depan) makin tidak dikenal, pasalnya bagian depan GCC sering digunakan untuk ngetem (mangkal) angkutan kota. “Wajahnya kini makin tidak di kenal. Dikarenakan banyaknya Angkutan Kota (angkot) yang mangkal dan menjadikan lokasi depan GCC sebagai terminal bayangan untuk menunggu penumpang.” Ujarnya ketika diwawancarai Kabar Pemalang (kontributor Wartadesa), Kamis (28/02).

Imam menambahkan, GCC dulu digadang-gadang sebagai pusat kuliner di Kabupaten Pemalang. Sekarang tak ayalnya seperti terminal yang tak berpenghuni.

Imam berharap agar pihak-pihak terkait bisa mengembalikan fungsi GCC sebagaimana yang telah diprogramkan. “Ya.. itulah GCC sekarang ini… di saat dulu waktu peresmian digadang -gadang sebagai pusat kuliner di Kabupaten Pemalang …. Sekarang tak ayalnya seperti terminal yang tak berpenghuni.  Saya berharap  pihak-pihak terkait bisa mengatur dan mengembalikan fungsi sebagaimana yg telah di programkan sejak awal,” lanjutnya.

Keluhan warga tersebut diunggah di laman Kabar Pemalang hari ini pun mendapat beragam tanggapan dari warganet.

Adhe Candra Ini bukan krn ada angkot ngetem disitu kemudian situasinya jd memprihatinkan…PR terbesarnya adl bagaimana GCC bs ramai kembali… Buka McD, pizza HUT, atau jd kan gedung bioskop, tinggal bagaimana pemerintah daerah mampu menarik investor dimariiii.
Daffa Hanifisyafiq GCC menurut saya lokasinya kurang strategis, jauh dari pusat kota jadi orang kalau mau mampir nanggung bgt klo lagi ke kota. Sebelum ada gcc juga angkot2 berhenti nya disitu kali min nunggu & anter penumpang ke RS.
Mohamad Solekan Mohon maaf sblumnya min, ketika saya main ke sana skrng sudah kelihatan sepi, alangkah baiknya pujasera tersebut di lengkapi dengan berbagai acara” festival atau band lokal agar dapat memeriahkan lokasi tersebut. Apalagi di jaman anak muda sekrng tempat nongkrongnya harus kelihatan unik dan berbeda. Contohnya seperti di Semarang yg dulu di sebut taman KB yg selalu sepi skrng semenjak di ubah dengan nama “Indonesia kaya” dan konsepnya pembangunannya bagus dilengkapi dengan hiasan” dan lampu” skrng Alhamdulillah rame apalagi kalo malem. Suwun lur.
Agus Sugianto Pemda kurang kreatif…ajak lsm dan kaum milenial berikan ruang buat mereka berkreasi dan berusaha kuliner yg kekinian serta permudah transportasi ke lokasi.
Dharmabhacty Regency PoppiesloveBulakan Hebatnya pemalang disitu, pembangunan tanpa ada plan jangka panjang, lihat saja terminal rdkk dll, semoga kedepan para pejabat dpr bisa main ke purbalingga dan liat perkembangan disana.
Wahyu Pus Pito Satlantas Pemalang LaluLintas Pemalang Mohon di tindak lanjuti pemandangan indah ini Pak. 🙏🙏🙏
Kasih sanksi sedikit yg membuat mereka Jera. 😊😊😊

Sebelumnya, pada Januari 2019, Pemkab Pemalang berencana menyerahkan pengelolaan pusat kuliner gandulan atau Gandulan Culinary Center (GCC) kepada swasta atau pihak ketiga, setelah banyak pedagang meninggalkan kios-kios di GCC itu.

GCC yang semula dikonsepkan menjadi pusat keramaian baru dengan menjual berbagai makanan khas tradisional Pemalang, ternyata hanya ramai pada awal pembukaan. Belakangan pusat kuliner itu sepi, sehingga banyak pedagang meninggalkan GCC.

“Kebetulan ada pihak swasta yang bergerak di bidang pengelolaan rumah makan berminat untuk menyewa 12 kios GCC untuk mereka jadikan rumah makan,”kata Sekretaris Daerah Budhi Rahardjo.

Menurut Rahardjo, pihak ketiga sudah menawarkan konsep menjaring rombongan wisata yang keluar dari tol untuk masuk ke GCC. Rahardjo pun sudah meminta pihak ketiga tersebut untuk membuat permohonan tertulis sebagai bentuk keseriusan. (WD/Eky Diantara)

selengkapnya
Jalan-jalanLingkungan

Dibuka April mendatang, baru seperempat lahan dibersihkan

telaga mangunan

Petungkriyono, Wartadesa. – Destinasi wisata baru Telaga Mangunan yang terletak di Dusun Mangunan Tlogo, Desa Tlogohendro, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan seluas tujuh hektar yang akan dibuka pada April 2019, kondisinya saat ini baru seperempat luasan telaga yang sudah dibersihkan.

Meski demikian, ramainya pemberitaan melalui media sosial, Telaga Mangunan mengundang warga Pekalongan dan sekitarnya untuk datang ke lokasi tersebut. Ratusan warga Pekalongan dan sekitarnya tiap hari mendatangi Telaga Mangunan untuk menikmati sejuknya alam “Negeri Diatas Awan”.

Kasi Pengembangan Wisata Dinporapar Kabupaten Pekalongan, Purwo Susilo mengungkapkan pihaknya terus melakukan persiapan pembukaan Telaga Mangunan. Pihaknya mengklaim, hingga saat ini sudah tiga bulan melakukan pembersihan sedimentasi telaga.

“Untuk itu kami terus melakukan persiapan pembukaan dan fasilitas yang sudah dibangun baru sebatas kamar mandi umum serta penambahan perahu wisata,” ujar Purwo Susilo.

Menurut Purwo Susilo, tiket untuk masuk ke Telaga Mangunan ditetapkan Rp. 5 ribu perorang, termasuk biaya parkir kendaraan.

Saat ini, Pemkab Pekalongan beserta warga setempat tengah melakukan pembersihan telaga sejak Januari lalu. “Masyarakat Desa Tlogohendro, setiap Hari Minggu, gotong royong melakukan pembersihan untuk membuka telaga tersebut,” kata Purwo Susilo.

Telaga yang terletak dari hiruk pikuk perkotaan, dan area telaga tersebut masih terjaga keasriannya dengan air yang jernih dan dikelilingi pepohonan tersebut nantinya akan dilengkapi dengan wahana perahu kayak. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanSosial Budaya

Hutan Kota Kajen akan dijadikan Pasar Rakyat

hutan kota_novi nurwati

Kajen, Wartadesa. – Terinspirasi dari keberhasilan Hutan Kota Rajawali dengan Pasar Minggon Jatinan di Batang, Pemkab Pekalongan akan menjadikan Hutan Kota Kajen menjadi destinasi wisata baru berupa Pasar Rakyat.

Konsep Pasar Rakyat di Hutan Kota Kajen hampir sama dengan konsep Minggon Jatinan di Batang, yakni menyediakan jajanan pasar, maupun makanan tradisional khas Pekalongan. Demikian disampaikan oleh Kasi Pengembangan Pariwisata Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pekalongan, Purwo Susilo, Jum’at (22/02) kemarin.

Namun, Purwo Susilo menjanjikan konsep yang diusung di Pasar Rakyat pada Hutan Kota seluas 980 meter persegi di komplek Kantor Pemerintahan Kabupaten Pekalongan lebih menarik.

Purwo Susilo mengaku saat ini pihaknya sedang mempersiapkan lokasi yang akan dibuka untuk umum pada April 2019 mendatang. Petugas, ujarnya, saat ini sedang melakukan penataan dan pembersihan untuk lokasi Pasar Rakyat.

“Rencananya pasar rakyat akan dibuka April 2019 mendatang,” ujar Purwo Susilo.

Purwo Susilo menyebut nantinya pasar akan diisi oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Pekalongan yang sebelumnya sudah belajar pengelolaan Pasar Minggon Jatinan di Batang. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSeni BudayaSosial Budaya

Belasan Cagar Budaya di Pekalongan jadi tempat usaha

museum-batik_1

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Belasan bangunan yang menjadi Cagar Budaya di Kota Pekalongan beralih fungsi menjadi tempat usaha. Hal tersebut membuat pegiat sejarah Pekalongan Heritage Community Mohammad Dirhamsyah prihatin.

Mohammad Dirhamsyah mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari seratusan bangunan cagar budaya berada di Kota Pekalongan, namun sebagian sudah beralih fungsi. “Oleh karena itu, kami berharap pada Pemerintah Kota Pekalongan melakukan langkah antisipasi penyelamatan terhadap bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah itu,” katanya dilansir dari Antara Jateng, Rabu (20/02).

Dirhamsyah menambahkan bahwa alih fungsi bagunan cagar budaya milik pemerintah dan swasta diantaranya menjadi perkantoran. “Saat ini sebagian besar bangunan cagar budaya milik pemerintah tersebut dimanfaatkan untuk aktivitas perkantoran dan lembaga pendidikan. Adapun bagi bangunan cagar budaya yang dimiliki swasta yang sudah beralih fungsi seperti bekas gedung bioskop Rahayu dan rumah Bupati Pekalongan yang berada di Jalan Nusantara Kota Pekalongan,” katanya.

Menurut Dirhamsyah ratusan bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan tersebut terdiri atas bangunan rumah kuno milik warga, 23 bangunan cagar milik Pemkot Pekalongan dan Pemprov Jateng, dua bangunan milik PT Kereta Api Indonesia, dan PT Pertani yang berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu.

Adapun sebanyak 23 bangunan cagar budaya milik pemkot, kata dia, sebagian besar berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu, antara lain Museum Batik Nasional, eks-Bakorwil Pekalongan, kantor pos, pengadilan negeri, rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas), serta kantor Perum Perikanan Indonesia Pekalongan.

Dirhamsyah berharap agar pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya untuk menyelamatkan warisan budaya tersebut. Saat ini bangunan cagar budaya yang dimiliki oleh swasta beralih fungsi menjadi toko moderen dan sektor perdagangan.

“Oleh karena itu, kami berharap pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya dan tim ahli bangunan cagar budaya sebagai upaya melestarikan dan menetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan cagar budaya tidak boleh sembarangan diubah bentuknya dengan menghilangkan keasliannya,” ujar Dirhamsyah.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kota Pekalongan Ninik Murniasih mengatakan pemkot sudah mengirimkan registrasi usulan pelestarian bangunan cagar budaya ke pemerintah pusat yang akan ditindaklanjuti dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Tim Ahli Bangunan Cagar Budaya (BCB) Provinsi Jateng.

“Setelah dikirim ke TACB dan BCB kami menunggu rekomendasi atau kajian apakah disahkan atau tidak. Saat ini, kami masih menunggu karena masih diproses,” kata Ninik.

Sementara itu, Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah menilai potensi cagar budaya di Kota Pekalongan akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Koordinator Publikasi dan Pemanfaatan Balai Cagar Budaya Jawa Tengah, Wahyu Kristanto di Pekalongan, Selasa(19/02), mengatakan Kota Pekalongan telah menjadi jalur strategis perdagangan dan perkebunan pada masa kolonial Hindia Belanda.

Selain itu, kata dia, banyak pula orang Indo-Eropa yang berdomisili di Kota Pekalongan dan meninggalkan tempat yang menjadi cagar budaya seperi Kampung Arab Pecinan dan kawasan kolonial lainnya.

“Oleh karena, dengan banyaknya potensi cagar budaya yang dimiliki Kota Pekalongan maka akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat di daerah ini sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” katanya saat mengikuti kegiatan “Pameran Cinta Cagar Budaya”.

Ia mengatakan benda atau bangunan dapat disebut sebagai cagar budaya harus memiliki empat kriteria antara lain memiliki usia minimal dan gaya berumur 50 tahun, mempunyai nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan, serta bisa menguatkan kepribadian bangsa.

“Oleh karena, kami mengajak para pelajar dan masyarakat dapat melestarikan cagar budaya yang ada di daerah ini. Cagar budaya di Kota Pekalongan cukup banyak, salah satunya adalah batik dan bangunan kuno,” katanya.

Wahyu Kristanto mengatakan dengan berkunjung dan mengikuti sejumlah kegiatan dalam Pameran Cinta Cagar Budaya, pelajar dan masyarakat dapat melihat keterangan gambar atau replika untuk mengenal cagar budaya.?

“Kami berharap para pelajar dan masyarakat dapat memanfaatkan kegiatan pameran ini agar dapat mengetahui cagar budaya,” katanya. (Antara)

selengkapnya
Jalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Batik Pekalongan digemari dalam ajang @Yala Thailand

Pengunjung Paviliun Indonesia di Melayu Day @Yala © Sumber: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Jakarta, Wartadesa. – Pavilium Indonesia dalam gelaran Hari Melayu Tahunan keenam @Yala 2019 Thailand yang dibuka sejak Jum’at hingga Ahad (08-10/02) ramai dikunjungi pengunjung. Bahkan Farida, penggila batik Thailand tiap hari datang ke Pavilium Indonesia untuk membeli batik.

Farida kepada The Jakarta Post mengungkapkan dia menyukai batik Indonesia. “Saya suka batik dan saya punya koleksi, termasuk beberapa [tekstil] dari Indonesia. Saya suka motif dan desain batik Indonesia, “kata Farida.

Paviliun Indonesia di @Yala dikelola oleh vendor Estu Batik Pekalongan, Roemah Srikandi dan Kasturi Fashion telah menjadi stan yang paling banyak dikunjungi.

“Alhamdulillah, batik masih punya banyak penggemar di sini,” kata Azka, pemilik Estu Batik Pekalongan.

Bagi warga Pekalongan Estu Batik yang beralamatkan di Jalan Keputran Ledok I, Kauman, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan tentu banyak yang mengenal.

Selain menampilkan beragam kerajinan batik dan tekstil, Paviliun Indonesia di @Yala 2019 juga menyuguhkan beragam produk lokal dan menawarkan paket wisata. Pengunjung juga dapat membeli produk kreatif dari UKM dan pengrajin Indonesia yang dikuratori khusus untuk festival, serta mencicipi berbagai hidangan dari seluruh nusantara.

“Selama tiga hari [festival], kami memperkenalkan kelezatan kuliner seperti soto Padang [sup daging sapi], rendang [daging sapi direbus dengan santan dan rempah-rempah], bakso, nasi tumpeng [nasi kuning berbentuk kerucut dengan lauk pauk, bakwan , dan lauk lainnya yang bisa dinikmati pengunjung secara gratis, “kata Konsul Jendral Indonesia di Songkhla Fachry Sulaiman.

Fachry menambahkan beberapa universitas di Indonesia mempromosikan kesempatan belajar berkelanjutan bagi siswa Thailand dalam ajang festival tahunan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kami karena diundang oleh pemerintah kota Yala dari tahun ke tahun untuk berpartisipasi dan menjadi mitra dalam salah satu festival budaya Melayu terbesar di Thailand. Selama tiga hari dari Hari Melayu 2019 @Yala, Konsulat Indonesia di Songkhla berpartisipasi dalam menampilkan seni dan budaya Indonesia melalui menyoroti budaya Melayu dengan karakteristik Indonesia, dengan dukungan dari pemerintah kota Binjai dan Medan.” kata Fachry. (The Jakarta Post)

selengkapnya
Jalan-jalanPendidikanSeni BudayaTekno

Komunitas Lubang Jarum Indonesia dari tiga provinsi bakal hunting bareng di Pekalongan

buku jejak langkah telinga panjang_istagram

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Anggota Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) dari tiga provinsi akan meggelar aksi hunting (memotret) bareng dengan kamera lubang jarum dan membedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang karya Ati Bachtiar, Ahad (17/02) di Museum Batik Pekalongan.

Buku bertajuk Jejak Langkah Telinga Panjang ini merupakan proyek dokumentasi fotografi di pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara.

Ati Bachtiar dibantu oleh beberapa kontributor, Chris Djoka, Ganecha Yudistira, Novi Balan dan Ray Bachtiar, menyusur pesisir Kaltim hingga Kaltara, menembus perkebunan sawit, area pertambangan, berpapasan dengan keajaiban alam, dan menjadi bagian dari upacara tradisi suku Dayak . Mendokumetasikan 38 wanita Dayak dari suku Bahau, Kenyah, Kayan, Wehea, Gaay dan Punan.

“Tiga Wadyabalad (panggilan anggota komunitas KLJI) dari Provinsi Jawa Barat yakni KLJI Cirebon, KLJI Semarang Jawa Tengah dan KLJI Yogyakarta akan berkumpul membedah buku karya Ati Bachtiar dan hunting bareng,” tutur Muhammad Benbella, penggiat KLJI Pekalongan, Ahad (10/02).

Pria yang akrab disapa Beng Beng ini mengungkapkan bahwa helatan acara tersebut merupakan upaya mengenalkan fotografi lubang jarum di Pekalongan, “Komunitas Lubang Jarum Indonesia sebagai wadah kreasi penggiat fotografi lubang jarum seluruh nusantara terus mengupayakan agar seni proses ini semakin dikenal oleh masyarakat. Sebagai sebuah kegiatan yang positif tentu bukan hanya diketahui, tapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum, bukan melulu untuk yang suka fotografi, tapi juga untuk semua kalangan.” Tambahnya.

Menurut Benbella, fotografi lubang jarum ini banyak yang bisa dipelajari, melatih kesabaran dan mengasah naluri merupakan salah satunya. “Karena banyak hal yang bisa dipelajari dari genre fotografi ini. Melatih kesabaran dan mengasah naluri adalah salah satu dari sekian banyak manfaat yang bisa diperoleh.” Tutur penggila beragam bahan bacaan ini.

KLJI Pekalongan juga berharap perhelatan yang akan digelar menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru pengiat KLJI. “Dengan beragam hal positif di atas, kami juga ingin menunjukkan bahwa keberadaan komunitas ini sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia. Bersama para penggiat dari luar daerah ini setidaknya bisa menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru penggiat KLJ, agar seni proses ini bisa terus berkelanjutan prosesnya mewarnai pembangunan karakter anak bangsa.” Harapnya penuh semangat.

Terkait acara bedah buku yang akan digelar, Benbella mengungkapkan bahwa bedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang yang akan disampaikan oleh penulisnya sendiri yaitu ambu Ati Bachtiar, bertujuan memantik kesadaran masyarakat untuk melestarikan kebudayaan yang ada di daerah masing-masing melalui media fotografi. “Agar suatu saat ketika budaya tersebut hilang dari sebuah masyarakat, anak cucu kita masih bisa mengenal dan melihatnya walaupun dalam bentuk cetakan foto.” Paparnya. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanPendidikanSosial Budaya

Tanamkan rasa menghargai apa yang dipunya, PAUD-TK Islam Futuhiyah kunjungi Desa Wisata Edukasi Gerabah

gambar guru tk

Wonopringgo, Wartadesa. – Menanamkan rasa memiliki dan menghargai apa yang dipunyai, sudah seharusnya dilakukan sejak dini. Seperti dilakukan oleh PAUD dan TK Islam Futuhiyah, Desa/Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan dalam kegiatan outingclass (belajar di luar kelas), Sabtu (02/02) dengan mengunjungi Desa Wisata Edukasi Gerabah Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan.

Hanifatussoliha, guru TK Futuhiyah mengungkapkan bahwa kegiatan outingclass di lembaganya merupakan helatan tahunan untuk mengajak anak didik belajar di luar kelas, sekaligus membekali dengan ilmu yang bisa diterapkan dalam kehidupan sehari-hari.

Menurut perempuan yang biasa disapa Hani tersebut, karya wisata yang dilakukan kali ini merupakan ajang anak-anak didiknya mengerti bagaimana membuat gerabah berupa celengan, lemper (tempat makan), kendi (tempat minum), dan lain sebagainya langsung dari pengrajin.

Selama ini anak-anak biasa pergi ke pasar, membeli kebutuhan maupun mainan mereka tanpa mengetahui proses pembuatannya, “Anak-anak biasanya pergi ke pasar beli mainan maupun kebutuhan mereka tanpa tahu proses membuantnya. Dengan karya wisata ini, anak-anak akan lebih bisa menghargai apa yang mereka punya, dan beli … tidak lagsung dibuang.” Lanjut Hani.

Selain itu, lanjut Hani, anak-anak akan lebih menghargai apa yang ia punya dan ia beli, manakala ia mengetahui bahkan turut langsung melakukan proses pembuatan barang-barang kesukaanya, seperti gerabah yang saat ini mereka buat dan pelajari. Lanjutnya.

“Kami mendidik anak-anak di PAUD dan TK Islam Futuhiyah dengan menanamkan tanggung jawab terhadap barang-barang yang mereka punya. Harapannya dengan belajar di Kampung Gerabah Wonorejo, anak-anak mendapatkan ilmu yang bemanfaat di kehidupan sehari-hari,” Pungkas Hani. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanPendidikanSosial Budaya

Butuh dukungan Pemkab Pekalongan untuk wujudkan regenerasi pengrajin gerabah di Wonorejo

gambar ketua karangtaruna

Wonopringgo, Wartadesa. – Minimnya minat kaum milenial untuk menekuni usaha kerajinan gerabah di Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan membutuhkan dorongan dan pendampingan dari pihak terkait, khususnya pengambil kebijakan di Pemkab Pekalongan. Demikian disampaikan oleh Sigit Rohmatullah, Ketua Karangtaruna desa setempat disela-sela kunjungan wisata edukasi Kampung Gerabah, Sabtu (02/02).

Sigit menyebut, kerajinan gerabah di desanya mulai bergeliat sejak pertengahan tahun 2018 lalu. “Geliat kerajinan gerabah di Desa Wonorejo mulai bergairah sejak pertengahan tahun 2018 lalu. Dari pelatihan kerajinan gerabah yang kami selenggarakan kemudian dibentuk desa wisata edukasi kerajinan gerabah, respon dari warga sangat memuaskan,” tuturnya.

Saat ini banyak warga dari desa lain dan lembaga pendidikan setingkat PAUD, TK, SD, SMP bahkan SMA datang untuk belajar bersama proses pembuatan gerabah. Menurut Sigit, dengan makin dikenalnya Desa Wonorejo sebagai Kampung Gerabah di Kabupaten Pekalongan akan meningkatkan animo para pemuda desa setempat menekuni kerajinan yang hampir punah tersebut.

“Agar kerajinan gerabah tidak punah … kami mencoba berbagai cara agar para pemuda desa setempat mulai tertarik dengan usaha gerabah. Karena kondisi saat ini semakin menurun minat pemuda untuk menekuni kerajinan gerabah.” Ujar Sigit.

Menurut Sigit, saat ini pihaknya sedang menginisiasi regenerasi dari kalangan kaum muda untuk menekuni kerajinan gerabah. “Regenerasi dari pemuda terus kita lakukan agar tergugah untuk melanjutkan pembuatan gerabah di Wonorejo, dengan melakukan inovasi bentuk-bentuk baru.” Lanjutnya.

Upaya untuk menumbuhkembangkan kecintaan kaum milenial desa setempat sempat dilakukan Karangtaruna dengan menggelar pelatihan pembuatan gerabah dengan mendatangkan instruktur dari Kasongan, Bantul Jogja beberapa waktu lalu.

“Ada 50 orang yang mengikuti pelatihan, sejak pelatihan tersebut, didapatkan ilmu baru, tidak hanya menggunakan alat manual untuk pembuatan geraah, tetapi sudah bisa menggunakan mesin cetak dengan bentuk bentuk baru seperti hello kitty dll,” lanjut Sigit.

Agar para pemuda di desanya tertarik dengan kegiatan wisata edukasi pembuatan gerabah, Sigit mengungkapkan, pihaknya membuka kesempatan seluas-luasnya kepada para pemuda desa untuk belajar pembuatan gerabah.

Sigit juga berharap bahwa pihak Pemkab Pekalongan, khususnya Bupati Asip Kholbihi berkenan memfasilitasi pengrajin gerabah agar lebih berkembang demi pengembangan Desa Wonorejo menjadi Desa Wisata Edukasi Gerabah.

“Sebelumnya Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi merespon dengan memberikan los di UMKM Centre yang sedang dibangun, tempat tersebut akan digunakan untuk mempermudah pemasaran hasil pengrajin di Wonorejo, pusat pelatihan, dan sekretariat pengrajin gerabah.” Pungkas Sigit. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanPendidikanSeni BudayaSosial Budaya

KKN Undip di Wonorejo dongkrak pemasaran gerabah lewat online

gambar mahasiswi

Wonopringgo, Wartadesa. – Kerajinan gerabah di Desa Wonorejo Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan saat ini masih dilakukan secara langsung. Pembeli dari berbagai wilayah di Tegal, Pemalang, Comal, Batang, Limpung dan daerah lain, biasanya datang langsung ke pengrajin gerabah untuk dijual lagi di wilayah mereka. Ragam dan jenis gerabah yang masih tradisional turut menurunkan minat remaja dan pemuda desa setempat untuk menggeluti usaha turun-temurun di desanya.

Untuk mendongkrak sekaligus mengenalkan gerabah asli Wonorejo, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggandeng Karangtaruna dan pemuda desa setempat untuk mencintai dan memasarkan gerabah melalui media online.

“Pendampingan yang kami lakukan di Desa Wonorejo yakni dengan membantu warga dan generasimuda melalui pemasaran online, melalui platform e-comercee pada marketplace yang ada seperti Lazada, Bukalapak dan marketplace lainnya maupun media sosial,” ujar Titi Marfiyah, salah seorang anggota Tim KKN Undip, Sabtu (02/02) disela-sela mendampingi Karangtaruna desa setempat saat kunjungan wisata edukasi Kampung Gerabah dari TK dan PAUD Islam Futuhiyah Doro.

Menurut Titi, pihaknya juga melakukan pendampingan warga pengrajin gerabah, pembekalan kepada para remaja dan pemuda tentang pemasaran, potensi usaha secara online. “Karena dengan pemasaran secara online, akan lebih efektif, cepat dan mudah dilakukan,” lanjutnya.

Selama ini, menurut Titi, kerajinan gerabah hanya dilakukan oleh para orang tua, “kedepan … melalui Karangtaruna kami turut berkontribusi membina remaja untuk menjadi pengrajin gerabah, agar kerajinan tersebut menjadi ikon Desa Wonorejo,” tutur gadis cantik berkerudung tersebut.

Singkatnya waktu KKN di Desa Wonorejo menjadikan timnya, masih menurut Titi, tidak mendampingi warga membuat aneka gerabah modern. Bentuk gerabah tradisional berupa lemper (tempat makan), celengan, teko dan lain sebagainya masih tetap dipertahankan, timnya hanya memberikan inovasi berupa pengecatan dengan cat tembok maupun cat lainnya sesuai dengan keinginan pasar.

“Kami tidak melakukan pendampingan pruduk baru, karena mereka harus belajar dari nol lagi untuk belajar yang baru, inovasinya dilakukan dengan pengecatan sesuai dengan keinginan seperti cat tembok, atau cat lainnya,” ujar Titi.

Titi dan tim KKNnya juga turut mendorong warga di Pekalongan dan sekitarnya untuk datang ke Desa Wonorejo dengan belajar sambil berwisata di wisata edukasi Kampung Gerabah, “silakan datang ke Desa Wonorejo, sambil wisata edukasi gerabah,” pungkasnya. (WD)

selengkapnya