close

Jalan-jalan

Jalan-jalan

Susur jalur perdagangan sesepuh Lebakbarang-Kalibening

1

Lebakbarang, Wartadesa. – Sejak lama jalur Lebakbarang-Kalibening melalui Dukuh Totogan, Desa Kutorembet dijadikan jalur perdagangan para sesepuh warga Lebakbarang untuk melakukan niaga di pasar Kalibening, Kabupaten Pekalongan. Jalur tersebut sudah lama hilang, lantaran kondisi medan yang sangat sulit.

Lima orang Trabasser, Feri, Sugiono keduanya warga Kutorembet, Slamet Haryadi, warga Sidomulyo, Akbar Fauzan dan Bambang Sukma Hendra, keduanya warga Tembelanggunung melakukan penyusuran jalur perdagangan sesepuh Lebakbarang. Dimulai dari Dukuh Totogan, Desa Kutorembet Selatan. Jum’at (11/10) Pukul 13.00 WIB.

Penyusuran jalur lawas tersebut dilakukan lantaran kelima Trabasser sangat penasaran untuk membuka kembali jalur tersebut. Menggunakan tiga sepeda motor, mereka berboncengan.  Perjalanan yang dilakukan kali ini, harus masuk kedalam hutan blantara melalui jalan yang lumayan ekstrim yang sebagian  menanjak dengan tanah licin dan bebatuan.

Perjalanan dimulai dari Selatan Desa Kutorembet

Tim yang baru saja masuk ke dalam hutan, langsung  dihadapkan dengan kesulitan, yang memaksa mereka untuk mendorong satu-persatu sepeda motor yang dinaiki, teruuuuus menuju keatas sampai menemukan jalan yang mudah dilewati. Tak cukup satu dua kali, lagi-lagi mereka harus mendorong motor saat harus berhadapan dengan jalanan yang licin dan menanjak.

Baca: Petungkriyono berpotensi jadi tempat wisata pegamatan burung

Setelah itu, perjalananpun dilanjutkan lebih dalam lagi masuk menuju hutan dengan suasana yang agak berkabut. Di sepanjang jalan, sara kicauan burung, ranting yang saling beradu saat diterpa angin, serta suara tupai dan hewan aneh lainnya, menambah sensasi tersendiri yang tak bisa di jelaskan dengan kata-kata.

Setengah jam lebih berlalu, daaaan, yak!, mereka berhenti di jalan yang agak rata–posisi jalan tersebut berada hampir dipuncak gunung–. Sembari melihat beberapa pemukiman yang berada agak jauh dibawah posisi mereka, pemukiman tersebut masih di daerah Lebakbarang, yaitu Desa Tembelanggunung yakni Dukuh Jrakah, Pomahan, Kedawung, dan Petungkon.

Pemandangan desa-desa di Lebakbarang dari puncak ketinggian

Selepas istirahat sejenak, perjalanan dilanjutkan kembali dengan rasa penasaran. Alhamdulillah, jalanya rata dan sedikit menurun, hinga membuat otot santuy (baca: santai) tanpa harus mendorong-dorong motor.

Namun, baru beberapa menit, ternyata medan jalan sudah mentok.  Ya, mentok alias pol, dan jalan yang sekarang ada di hadapan mereka, hanyalah jalan setapak yang dipenuhi rumput liar yang lumayan tinggi, yang membiat mereka sempat hampir putus asa.

Jalan setapak jalur Lebakbarang-Kalibening

Dengan berjalan kaki, mereka menulusuri jalan setapak, sembari mengamati. Dan akhirnya, mereka kembali dan memutuskan bahwa jalan tersebut masih bisa dilewati motor. Merekapun melanjutkanya dengan menelusuri jalan setapak itu menggunakan motor. Tiba-tiba, mereka merasaakan kaki dan tangan terasa perih tergesrek duri-duri dan terserempet akar-akar rumput liar.

Setelah bersusah payah agak lama, akhirnya mereka menjumpai tanah lapang (sekitar 10 m²) dengan sebuah tugu, di perempatan jalan setapak, disana ada dua orang sedang mengumpulkan gelagah (bahan untuk membuat sapu lantai) yang sedang dijemur.

Tugu perbatasan

Merekapun berhenti dan kemudian bertanya kepada mereka berdua. Dan ternyata, perempatan jalan tersebut adalah jalan menuju Kutorembet, Gunung Surat, Bulu pitu dan Sijaha. Dengan perasaan senang mereka melanjutkan perjalanan kembali melewati jalan setapak tapi dengan kondisi yang lebih gampang.

Diperkirakan jalan tersebut dulunya sudah di lebarkan, hanya saja saat ini sudah tertutup rumput lagi. Namun, selang beberapa menit, hujan gerimis turun dan kabut mulai menutupi jalan. Jalan mulai kembali licin, penglihatan kurang jelas karena kabut, yang kemudian membuat mereka agak khawatir.

Hujan semakin lebat dan pendokumentasian perjalanan yang mereka lakukan dengan perekam video dihentikan. Cuaca semakin dingin, baju dan tubuh basah kuyup. Namun setelah itu, hujan sedikit reda walaupun kabut masih menghalangi jalan.

Jalur Trabas Lebakbarang-Kalibening

Dan akhirnya pukul 14.46 WIB, tim sampai di pertigaan, dan kemudian berteduh di sebuah gubuk, disitu ada sekelompok orang yang sedang melakukan pengaspalan jalan Petungkon. Di pertigaan tersebut, arah kiri adalah jalan menuju Petungkon, dan arah kananya menuju Gunung surat. (±200-300 meter lagi)

Trabas pun dihentikan, namun mereka akan melakukan perjalanan lagi karena mereka yakin bahwa jalur tersebut dapat digunakan warga Lebakbarang menuju Kalibening dengan lebih cepat, khususnya jika melalui jalur Kutorembet.

Bila jalur tersebut difungsikan kembali, jalur perdagangan jaman dulu tersebut akan dapat meningkatkan ekonomi warga Lebakbarang untuk melakukan perniagaan ke Kalibening dengan rute yag sangat dekat. (Sumber: laman media sosial Kutorembet)

Editor: Buono

Kredit Foto: Desa Kutorembet

selengkapnya
Jalan-jalan

Petungkriyono berpotensi jadi tempat wisata pengamatan burung

swaraowa

Petungkriyono, Wartadesa. – Kawasan hutan Petungkriyono, di puncak Kabupaten Pekalongan berpotensi menjadi obyek wisata birdwaching.  Dalam sebuah diskusi yang digelar di Sokokembang, Petungkriyono, 6 Juli lalu terungkap bahwa kawasan tersebut memilik potensi untuk diterapkannya wisata minat khusus, pengamatan burung.

Birdwatching merupakan kegiatan pengamatan terhadap spesies burung liar yang dilakukan dalam hutan dengan mata telanjang ataupun dengan bantuan teropong binokular pun monokular. Jenis kegiatan ini termasuk dalam kegiatan wisata minat khusus yang dapat memberikan manfaat pro lingkungan dan Edukasi.

Namun ancaman wisata ini adalah telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Perhelatan yang merupakan seri diskusi konservasi ke-3 yang digelar oleh Swara Owa tersebut menghadirkan dua narasumber pelaku industri wisata minat khusus pengamatan burung di Indonesia. Diskusi ini menarik minat peserta dari beragam kalangan, mahasiswa, warga, perhutani, LMDH, perangkat desa Mesoyi, Kayupuring dan Tlogohendro.

Imam Taufiqurrahman, ornithologist (ahli ilmu burung), narasumber asal Jogja yang merupakan pelaku usaha wisata minat pengamatan burung mengatakan bahwa wisata minat mengamati burung mempunyai karakter tersendiri, seperti ketertarikan yang tinggi terhadap burung di habitat asli, dari kalangan terpelajar, melakukan perjalanan dalam kelompok kecil dan mampu secara finansial.

Menurut Imam, potensi keanekaragaman yang tinggi, jenis-jenis endemik dan keragaman lansekap (pemandangan, bentang alam, lanskap),  dan budaya memilik potensi untuk di terapkannya wisata minat khusus pengamatan burung. Namun ancaman wisata ini telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Imam menambahkan, paket wisata tersebut, membutuhkan keseriusan dalam menangani wisatawan. Amerika dan Eropa merupakan pasar potensial bagi paket wisata pengamatan burung.

Kukuh Wibowo, pembicara kedua, mengatakan bahwa tantangan dari pengembangan wisata minat khusus pegamatan burung adalah  laju kehancuran dan kepunahan burung-burung di alam, ketrampilan bahasa inggris, karena target pasarnya adalah orang luar negeri, hospitality (keramahan) dan standar operasional prosedur (SOP) dari mitra tour operator lokal, persaingan dengan tour operator dari luar negeri, penetrasi pasar, dan peralatan yang kurang memadai.

Kukuh menambahkan bahwa  Birdwatching tours merupakan salah satu alternatif untuk menekan dampak eksploitasi burung di alam, dan menjadi solusi kompromi antara ekonomi dan ekologi yang sering kali berseteru satu sama lain. (Redaksi, diambil dari sumber Swara Owa)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Tak kunjung diperbaiki, warga Petungkriyono cor jalan rusak

jalan petung

Petungkriyono, Wartadesa. – Lebih lima tahun jalan rusak di depan kantor Kecamtan Petungkriyono tak kunjung diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan, membuat warga bersama anggota kepolisian setempat bergotong-royong melakukan pengecoran jalan. Sabtu-Ahad (15-16/06).

Inisiatif warga tersebut dilakukan mengingat ruas jalan tersebut merupakan akses utama pemerintahan Petungkriyono dan jalan utama warga dari berbagai desa di Kecamatan Petungkriyono. Kondisi jalan yang menanjak dan aspalnya hampir seluruhnya mengelupas, hanya menyisakan pecahan batu (warga menyebutnya kali asat) membuat pengguna jalan kesulitan bahkan banyak yang terjatuh ketika melintas jalan tersebut. Hal tersebut menyulitkan aktifitas warga maupun petani setempat.

Seperti dalam liputan video Warta Desa sebelumnya, Wahid, warga Garung, Petungkriyono mengatakan bahwa kerusakan jalan dari depan kantor kecamatan hingga lokasi obyek wisata Curug Bajing maupun Curug Muncar, berjarak sekitar tiga kilometer tersebut sudah lima tahun lebih belum juga ada perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Padahal ruas jalan tersebut masuk jalan kabupaten.

Hal senada diungkapkan salah satu wisatawan asal Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Santo. Ia yang baru kali pertama mengunjungi obyek wisata Curug Bajing mengungkapkan bahwa jalan ke obyek wisata tersebut ekstrim. Menurut Santo, ia tak akan kembali berkunjung ke destinasi wisata unggulan Kabupaten Pekalongan jika kondisi jalan yang rusak tak diperbaiki.

Anggota Polsek Petungkriyono Aiptu Bono Rahardjo ikut kerja bakti bersama warga yang sudah berkumpul dari pukul 06.00 WIB dan tanpa sungkan langusung memulai memperbaiki jalan rusak. Rencananya jalan yang rusak akan di cor agar kuat dan tahan lama.

Dengan alat sederhana yang dipinjami Aiptu Sugeng dan Bripka Tarmanto langsung membantu masyarakat Petungkriyono untuk membawakan bahan cor menambal jalan yang rusak dengan semangat yang tinggi.

Kapolsek Petungkriyono Polres Pekalongan Iptu Agus Supriyono menegaskan kepada semua Anggota Polsek Petungkriyono untuk membantu semua kegiatan masyarakat Petungkriyono bila diperlukan bantuan jangan sungkan-sungkan memberikan bantuan. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Pengunjung Pantai Widuri keluhkan sampah

sampah pantai widuri

Pemalang, Wartadesa. – Minimnya tempat pembuangan sampah di obyek wisata Pantai Widuri, Kabupaten Pemalang dikeluhkan oleh pengunjungnya. Pantai dipenuhi dengan sampah yang dibuang sembarangan oleh para wisatawan.

Felani Herman (35), salah seorang wisatawan di Pantai Widuri mengungkapkan bahwa pengelola wisata maupun Pemkab Pemalang kurang memfasilitasi obyek wisata tersebut dengan tempat sampah yang cukup.

Selain itu, masih menurut Herman, kurang sadarnya wisatawan terhadap kebersihan pantai, menjadi pemicu obyek wisata kebanggaan Wong Pemalang tersebut kotor penuh sampah.

“Selain kurangnya kesadaran wisatawan akan buang sampah di tempatnya, minimnya tempat  sampah juga menjadi salah satu faktor banyaknya sampah yang berceceran di pantai dan area Widuri ini mas.” Ujar Herman, Selasa (11/06).

Herman berharap agar dinas pariwisata setempat tanggap terhadap masalah sampah di Pantai Widuri. “Diharapkan pihak-pihak terkait khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Pemalang dan juga pengelola obyek wisata Widuri segera tanggap tentang permasalahan ini,  jangan sampai Widuri yang sejak dulu menjadi primadona wisata sedikit demi sedikit akan ditinggalkan oleh wisatawan.” Lanjutnya.

Keluhan sampah di Pantai Widuri ini berulang setiap tahun. Diberitakan Warta Desa sebelumnya, kondisi Pantai Widuri di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah yang penuh dengan sampah dan kotoran manusia dikeluhkan oleh wisatawan yang datang berlibur ke pantai tersebut.

Yanto (24), warga Landungsari Kota Pekalongan mengungkapkan bahwa tumpukan sampah berserakan di mana-mana, termasuk sampah rumah tangga yang dibuang warga sekitar. Apalagi tidak jauh dari pantai terdapat kawasan pemukiman. Meski sejumlah tempat pembuangan sampah disediakan, namun warga sekitar lebih memilih membuang sampah di tepian pantai. Selain itu kotoran manusia bercampur sampah banyak dijumpai di sepanjang pantai.

“Di sepanjang pantai sampah berserakan, bahkan banyak ditemui kotoran manusia. Padahal sudah ada tempat pembungan sampah disitu, namun sepertinya tidak digunakan oleh warga sekitar,” tutur Yanto, Sabtu.

Yanto menambahkan, “Kalau dibiarkan seperti itu terus, wisatawan yang datang tidak akan kembali lagi, karena kondisinya yang sangat jorok dan kotor,” lanjutnya.

Dari penelusuran Wartadesa, didapatkan informasi bahwa kondisi Pantai widuri yang dikotori oleh sampah dan kotoran manusia diakibatkan oleh kebiasaan buruk warga Desa Tanjung Sari yang suka membuang sampah dan buang air besar di pasir pesisir pantai widuri. Kondisi tersebut sudah bertahun-tahun.

Hal ini membuat geram para wisatawan lokal maupun dari luar Pemalang yang berkunjung ke objek wisata Pantai Widuri. Mereka terganggu oleh bau tidak sedap akibat sampah yang berserakan di pasir pantai dan kotoran manusia yang terendap di dalam pasir.

Pemerintah Daerah Kabupaten Pemalang sebenarnya sudah bekerjasama bersama masyarakat Tanjung Sari untuk membangun WC umum. Fasilitas tersebut diberikan untuk memberikan tempat bagi masyarakat setempat untuk keperluan MCK. Tetapi persoalan yang muncul, ternyata WC tersebut belum cukup memenuhi kebutuhan MCK warga setempat, hingga sekarang kebiasaan buruk buang air besar di pinggir pantai masih saja dilakukan.

Ridha, salah seorang warga setempat membenarkan bahwa Pemkab Pemalang pernah membangun MCK di wilayah tersebut, namun fasilitas sosial/umum tersebut kerap tidak dimanfaatkan warga, “iya pernah dibangun MCK emang, cuma terlantar. Entah karena malas ngangkut air atau faktor lain. saya yang asli sini pun cuma bisa berdoa supaya mereka dapat hidayah (untuk tidak buang air besar dan sampah sembarangan).  Kalau bangun rumah aja pada bagus, tapi gak mikir MCK.” Tuturnya.

Menurut Ridha, dibutuhkan pendampingan bagi warga untuk merubah kebiasaan buruk warga setempat, “sudah jadi semacam ‘tradisi’ turun menurun kalau laut itu tempat sampah buat mereka. Mau pup (buang air besar) tinggal ke laut, punya barang rusak ya lempar aja ke laut. Dari saya belum lahir juga gitu sih pak. Saya berharap kelak ada yang bisa mengubah kehidupan warga Tanjung Sari menjadi lebih baik, untuk kebaikan wisata alam Pantai Widuri dan warga Pemalang.” Pungkasnya. (Eky Diantara, Eva Abdullah)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Menengok empat tradisi kuliner Syawalan di Pekalongan

lopis raksasa

Pekalongan, Wartadesa. – Tradisi Syawalan (sepekan selepas Idulfitri) di Pekalongan diwujudkan dengan berbagi makanan dan minuman. Tradisi turun-temurun tersebut merupakan wujud syukur warga sekaligus momen berbagi kebahagiaan.

Bahkan Syawalan yang jatuh pada 8 Syawwal (kalender hijriyah) merupakan hari yang sangat istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh warga. Pasalnya, hari itu merupakan hari berkumpulnya ribuan warga untuk bisa silaturrahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan secara gratis.

Di Pekalongan ada empat tradisi berbagi kuliner khas yang dihelat dalam rangka memperingati Syawalan. Empat tradisi kuliner tersebut yakni lopis raksasa di Krapyak, Kota Pekalongan, gunungan Gebral di Pekajangan, Kedungwuni, gethuk lindri terpanjang di Ambokembang, Kedungwuni, serta gunungan Megono di Linggo Asri, Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Gunungan Gebral Pekajangan

Perhelatan Gunungan Gebral Pekajangan digelar di Pekajangan Gang 20, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalogan, Ahad (09/06). Gunungan Gebral (makanan terbuat dari singkong yang diserut) setinggi 1,5 meter menjadi pusat perhatian warga.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi dalam gelaran Gunungan Gebral Pekajangan, Ahad (09/06)

Ratusan warga yang datang untuk menikmati gunungan secara gratis telah memenuhi gang sejak pagi.  Muhammad Yuniarsi soleh, panitia Gunungan Gebrak mengungkapkan bahwa acara tersebut telah memasuki usia 21 tahun.

“Ini sudah berjalan 21 tahun,kita persiapkan untuk kelapa satu minggu sebelum lebaran sedangkan untuk singkong datang pada H+5,tinggi gunungan 1,5 meter,” ujar Soleh.

Menurut Soleh, perhelatan tersebut merupakan acara tahunan untuk mempererat silaturahmi warga Pekajangan sekaligus berhalal-bihalal.

Sementara, Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan yang hadir membuka acara menyarankan agar gelaran Gunungan Gebral tidak hanya berhenti pada tradisi Syawalan semata, melainkan dikembangkan (potensinya) membentuk jiwa kewirausahaan.

“Ini yang dinamakan mendidik jiwa entrepreneurship masyarakat,jadi tidak berhenti di gebyar syawalan saja tapi harus dipasarkan melalui cafe-cafe yang kita kemas secara modern dan dikelola oleh anak-anak muda,” ujar Asip.

Gethuk Lindri Terpanjang Ambokembang

Tradisi Gethuk Lindri terpanjang di Desa Ambokembang gang 9 dihelat Selasa (11/06). Tradisi tersebut digelar dalam rangka menghidupkan Syawalan warga Desa Ambokembang dengan menyajikan makanan tradisional berbahan baku singkong dengan taburan parutan kelapa dan kinco (saus gula merah) sepanjang 350 meter yang dibagikan kepada para pengunjung.

Warga Ambokembang sedang menyiapakan gethuk lindri sepanjang 350 meter dalam traedisi Syawalan desa setempat

Camat Kedungwuni, Bambang Dwi Yuswanto mengungkapkan bahwa Pemkab Pekalongan mendorong upaya pelestarian tradisi Syawalan tersebut. “Kita dorong untuk terus lestari dan meningkat setiap tahunnya, dan mudah-mudahan kedepan bisa masuk MURI (Museum Rekor Indonesia),” tuturnya, Selasa (11/06).

Menurut Bambang, tradisi Syawalan dengan berbagi gethuk lindri terpanjang merupakan momen yang tepat untuk menjalin silaturahmi antar warga yang sempat terkoyak oleh adanya Pilkades, Pileg maupun Pilpres.

Zainal Mutaqin, panitia gethuk lindri terpanjang menyebut bahwa gethuk sepanjang 350 meter tersebut menghabiskan 1,5 ton singkong, 220 butir kelapa, dan 80 kilogram gula jawa. Pembuatan gethuk dikerjakan warga secara gotong-royong selama dua hari.

“Tradisi ini sudah kali ke delapan dilakukan warga dengan tujuan mempererat tali silaturahmi antar sesama,” ujar Zainal.

Lopis Raksasa Krapyak

Bagi warga Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan gelaran lopis raksasa merupakan tradisi tahunan. Meski saat ini air rob merendam wilayah Krapyak, hal tersebut tidak menyurutkan warga untuk menyiapkan dua lopis raksasa yang akan dihelat pada Rabu (12/06) besok.

Warga Sembawan, Krapyak Kidul menyiapkan lopis raksasa seberat 1,6 kwintal

Lopis raksasa seberat 1,6 kwintal tengah disiapkan oleh warga Krapyak Kidul Gang 8 atau gang Sembawan dan Krapyak Lor gang 1. Acara yang akan dihadiri oleh Walikota Pekalongan tersebut menjadi daya tarik wisatawan sejak puluhan tahun lalu.

Lopis saat ini telah diangkat dan diletakkan di dua tempat pemotongan, yakni Krapyak Kidul gang 8 dan Krapyak Lor gang 1. Lopis raksasa diangkat warga secara gotong-royong dari tempat memasak ke lokasi acara pada Ahad (09/06) kemarin.

Ketua panitia Syawalan Krapyak Lor Gang 1, Ahmad Timbul mengungkapkan lokasi untuk pemotongan lopis saat ini dikelilingi oleh air rob dan akan disedot dengan pompa agar kering saat hari H.

Sedangkan menurut panitia syawalan di Krapyak Kidul Gg 8, Akhir Budiyanto menjelaskan meskipun dapur pemasakan terendam rob, namun dilakukan pengurugan sehingga tidak ada kendala dalam pembuayan lopis raksasa.

Mengono Gunungan Linggo Asri

Megono Gunungan di Obyek Wista Linggo Asri, Kajen

Berbeda dengan ragam tradisi Syawalan lainnya yang diinisiasi oleh warga, tradisi Syawalan Megono Gunungan diinisiasi oleh Pemkab Pekalongan, dalam hal ini Dinporapar, dengan rangkaian kirab Gunungan Megono dan 19 gunungan kecamatan yang akan dibagikan gratis kepada warga.

Perhelatan yang akan digelar pada Rabu (12/06) besok tersebut akan dimeriahkan dengan pagelaran seni tradisional kuda lumping, musik rampak dan campursari, serta dangdut. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Mudik lewat Pantura? Hati-hati jalanan bergelombang

mudik

Pemalang, Wartadesa. – Mudik menggunakan motor memang membutuhkan kesabaran dan keuletan tersendiri. Fisik yang kuat diperlukan, dan paling penting konsentrasi saat melewati ruas jalan Pantura. Memasuki H-5 lebaran, arus mudik di ruas Pantura masih didominasi oleh pemotor.

Iring-iringan pemudik yang menggunakan motor dari arah Jakarta terus mengalir ke Kabupaten Pemalang. Namun kondisi ruas jalan yang bergelombang, membuat kawanan pemudik ini musti lebih berhati-hati saat melintas.

Salah seorang pemudik, Widodo, pria asal Boyolali yang melintas ruas Pemalang mengungkapkan bahwa saat ini lalu-lintas Pantura masih ramai lancar.

“Arus lalulintas masih lancar belum menemukan kemacetan yang berarti, cuma setelah memasuki kota Brebes hingga Pemalang, jalannya bergelombang,” ujarnya, Jum’at (31/05).

Widodo menambahkan, selain banyaknya gelombang di ruas jalur Pantura, rambu-rambu jalan yang minim membuat mereka kesulitan.

Menurut Widodo, pada malam hari, penerangan yang minim di sepanjang ruas jalur Pantura juga membutuhkan pemotor lebih ekstra hati-hati.

Widodo membagikan tips bagi pemudik yang menggunakan motor agar selamat sampai tujuan, yakni pemotor  tidak terpancing memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi saat melintas pada malam hari, hal tersebut untuk menghindari potensi kecelakaan. Lanjutnya. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Mudik, Pantura dipadati motor

pasar wiradesa

Pekalongan, Wartadesa. –  Pemudik yang menggunakan motor mendominasi arus mudik di Pekalongan Kota. Hingga Kamis (30/02) malam, tercatat 13.409 pemotor yang melintas ruas Pantura Kota Pekalongan.

Kabid Lalu Lintas, Dinas Perhubungan Kota Pekalongan, Restu Hidayat mengungkapkan bahwa kepadatan di ruas Pantura Kota Pekalongan mulai terjadi pada Kamis pukul 14.00 WIB.

Restu Hidayat menyebut jumlah kendaraan dari arah Jakarta yang melintas ruas Pantura Pekalongan sebanyak 20.192 kendaraan dengan rincian 13.409 motor, 4.858 mobil pribadi, 447 bus, 1010 truk dan lainnya 429.

Sementara itu, lanjut Restu Hidayat, dari arah Timur ke Jakarta tercatat sebanyak 13.181 kendaraan yang melintas dengan rincian 7.966 sepeda motor, 3.427 mobil, 70 angkutan umum, 540 bus, 796 truk dan lainnya 382 armada.

Secara umum, kondisi arus lalu-lintas di Pantura Pekalongan masih lenggang. Pemudik yang menggunakan sepeda motor masih mendominasi ruas jalanan tersebut.

Bagi pemudik yang melewati ruas Pantura Pekalongan, daerah rawan macet yang perlu diwaspadai adalah ketika mendekati Pasar Wiradesa di Kabupaten Pekalongan dan Jalan KHM Mansur (Ponolawen) di Kota Pekalongan. Ruas jalan mulai dari Pasar Wiradesa hingga Ponolawen sejak siang hingga malam, mulai tersendat.

Untuk mengurai kemacetan di wilayah Kota Pekalongan, Polres Pekalongan Kota akan menghentikan truk yang melintas di Jalan Pantura saat puncak arus mudik. Laju kendaraan berat dihentikan bukan untuk ditilang, namun diarahkan ke kantung parkir. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Parit tanggul rob Pekalongan akan dikembangkan jadi obyek wisata air

wisata parit

Wonokerto, Wartadesa. – Parit sepanjang 10 kilometer dengan lebar 30 meter sedalam dua meter pada tanggul penahan rob Kabupaten Pekalongan, akan dikembangkan sebagai obyek wisata air. Demikian disampaikan oleh Asip Kholbihi di Wonokerto, Selasa (12/03).

Menurut Asip, tanggul raksasa tersebut membentang dari Kota Pekalongan hingga Kabupaten Pekalongan dengan panjang sekitar 10 kilometer, dan biaya pembangunan Rp 500 miliar lebih. Di tengah tanggul raksasa tersebut nantinya akan terdapat parit selebaran 30 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter lebih. Parit tersebut diwacanakan oleh Pemkab Pekalongan untuk dijadikan tempat wisata air baru setelah tanggul selesai dikerjakan.

Menurut Asip, saat ini progres pembangunan tanggul raksasa sudah mencapai empat kilometer dari 10 kilometer.
“Total sekitar 10 kilometer dari wilayah Kota Pekalongan dan 4 kilometer yang ada di wilayah Kota Santri, tanggul yang ada di wilayah Kota Santri nantinya akan kami bangun lokasi wisata baru lengkap dengan fasilitas kolam ikan dan perahu wisata,” katanya.

Bupati menuturkan sengaja membuat tanggul penahan banjir rob menjadi multifungsi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. “Karena lokasi wisata nantinya akan dikelola oleh pihak desa setempat, dan kami akan menunjang fasilitasi serta infrastrukturnya,” tuturnya.

Dijelaskan Bupati, Kecamatan Wonokerto sudah terdampak banjir rob sedari tahun 2008 lalu, dan kini saatnya mengubah pandangan dari bencana menjadi barokah. “Penyelesaian pembangunan dijadwalkan akhir tahun ini, setelah itu kami akan kebut pembangunan untuk lokasi wisata baru,” tambahnya.  (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Kondisi GCC memprihatinkan, begini keluhan warga

ggc

Pemalang, Wartadesa. – Kondisi Gandulan Culinary Centre (GCC) di Pemalang kondisinya memprihatinkan. Hal tersebut dikeluhkan oleh warga. Menurut Imam (45), warga Petarukan, Kabupaten Pemalang, GCC setelah wacana akan dikelola pihak swasta kondisina kini memprihatinkan.

Menurut Imam, kini GCC wayahnya (bagian depan) makin tidak dikenal, pasalnya bagian depan GCC sering digunakan untuk ngetem (mangkal) angkutan kota. “Wajahnya kini makin tidak di kenal. Dikarenakan banyaknya Angkutan Kota (angkot) yang mangkal dan menjadikan lokasi depan GCC sebagai terminal bayangan untuk menunggu penumpang.” Ujarnya ketika diwawancarai Kabar Pemalang (kontributor Wartadesa), Kamis (28/02).

Imam menambahkan, GCC dulu digadang-gadang sebagai pusat kuliner di Kabupaten Pemalang. Sekarang tak ayalnya seperti terminal yang tak berpenghuni.

Imam berharap agar pihak-pihak terkait bisa mengembalikan fungsi GCC sebagaimana yang telah diprogramkan. “Ya.. itulah GCC sekarang ini… di saat dulu waktu peresmian digadang -gadang sebagai pusat kuliner di Kabupaten Pemalang …. Sekarang tak ayalnya seperti terminal yang tak berpenghuni.  Saya berharap  pihak-pihak terkait bisa mengatur dan mengembalikan fungsi sebagaimana yg telah di programkan sejak awal,” lanjutnya.

Keluhan warga tersebut diunggah di laman Kabar Pemalang hari ini pun mendapat beragam tanggapan dari warganet.

Adhe Candra Ini bukan krn ada angkot ngetem disitu kemudian situasinya jd memprihatinkan…PR terbesarnya adl bagaimana GCC bs ramai kembali… Buka McD, pizza HUT, atau jd kan gedung bioskop, tinggal bagaimana pemerintah daerah mampu menarik investor dimariiii.
Daffa Hanifisyafiq GCC menurut saya lokasinya kurang strategis, jauh dari pusat kota jadi orang kalau mau mampir nanggung bgt klo lagi ke kota. Sebelum ada gcc juga angkot2 berhenti nya disitu kali min nunggu & anter penumpang ke RS.
Mohamad Solekan Mohon maaf sblumnya min, ketika saya main ke sana skrng sudah kelihatan sepi, alangkah baiknya pujasera tersebut di lengkapi dengan berbagai acara” festival atau band lokal agar dapat memeriahkan lokasi tersebut. Apalagi di jaman anak muda sekrng tempat nongkrongnya harus kelihatan unik dan berbeda. Contohnya seperti di Semarang yg dulu di sebut taman KB yg selalu sepi skrng semenjak di ubah dengan nama “Indonesia kaya” dan konsepnya pembangunannya bagus dilengkapi dengan hiasan” dan lampu” skrng Alhamdulillah rame apalagi kalo malem. Suwun lur.
Agus Sugianto Pemda kurang kreatif…ajak lsm dan kaum milenial berikan ruang buat mereka berkreasi dan berusaha kuliner yg kekinian serta permudah transportasi ke lokasi.
Dharmabhacty Regency PoppiesloveBulakan Hebatnya pemalang disitu, pembangunan tanpa ada plan jangka panjang, lihat saja terminal rdkk dll, semoga kedepan para pejabat dpr bisa main ke purbalingga dan liat perkembangan disana.
Wahyu Pus Pito Satlantas Pemalang LaluLintas Pemalang Mohon di tindak lanjuti pemandangan indah ini Pak. 🙏🙏🙏
Kasih sanksi sedikit yg membuat mereka Jera. 😊😊😊

Sebelumnya, pada Januari 2019, Pemkab Pemalang berencana menyerahkan pengelolaan pusat kuliner gandulan atau Gandulan Culinary Center (GCC) kepada swasta atau pihak ketiga, setelah banyak pedagang meninggalkan kios-kios di GCC itu.

GCC yang semula dikonsepkan menjadi pusat keramaian baru dengan menjual berbagai makanan khas tradisional Pemalang, ternyata hanya ramai pada awal pembukaan. Belakangan pusat kuliner itu sepi, sehingga banyak pedagang meninggalkan GCC.

“Kebetulan ada pihak swasta yang bergerak di bidang pengelolaan rumah makan berminat untuk menyewa 12 kios GCC untuk mereka jadikan rumah makan,”kata Sekretaris Daerah Budhi Rahardjo.

Menurut Rahardjo, pihak ketiga sudah menawarkan konsep menjaring rombongan wisata yang keluar dari tol untuk masuk ke GCC. Rahardjo pun sudah meminta pihak ketiga tersebut untuk membuat permohonan tertulis sebagai bentuk keseriusan. (WD/Eky Diantara)

selengkapnya
Jalan-jalanLingkungan

Dibuka April mendatang, baru seperempat lahan dibersihkan

telaga mangunan

Petungkriyono, Wartadesa. – Destinasi wisata baru Telaga Mangunan yang terletak di Dusun Mangunan Tlogo, Desa Tlogohendro, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan seluas tujuh hektar yang akan dibuka pada April 2019, kondisinya saat ini baru seperempat luasan telaga yang sudah dibersihkan.

Meski demikian, ramainya pemberitaan melalui media sosial, Telaga Mangunan mengundang warga Pekalongan dan sekitarnya untuk datang ke lokasi tersebut. Ratusan warga Pekalongan dan sekitarnya tiap hari mendatangi Telaga Mangunan untuk menikmati sejuknya alam “Negeri Diatas Awan”.

Kasi Pengembangan Wisata Dinporapar Kabupaten Pekalongan, Purwo Susilo mengungkapkan pihaknya terus melakukan persiapan pembukaan Telaga Mangunan. Pihaknya mengklaim, hingga saat ini sudah tiga bulan melakukan pembersihan sedimentasi telaga.

“Untuk itu kami terus melakukan persiapan pembukaan dan fasilitas yang sudah dibangun baru sebatas kamar mandi umum serta penambahan perahu wisata,” ujar Purwo Susilo.

Menurut Purwo Susilo, tiket untuk masuk ke Telaga Mangunan ditetapkan Rp. 5 ribu perorang, termasuk biaya parkir kendaraan.

Saat ini, Pemkab Pekalongan beserta warga setempat tengah melakukan pembersihan telaga sejak Januari lalu. “Masyarakat Desa Tlogohendro, setiap Hari Minggu, gotong royong melakukan pembersihan untuk membuka telaga tersebut,” kata Purwo Susilo.

Telaga yang terletak dari hiruk pikuk perkotaan, dan area telaga tersebut masih terjaga keasriannya dengan air yang jernih dan dikelilingi pepohonan tersebut nantinya akan dilengkapi dengan wahana perahu kayak. (WD)

selengkapnya