close

Jalan-jalan

Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Tak kunjung diperbaiki, warga Petungkriyono cor jalan rusak

jalan petung

Petungkriyono, Wartadesa. – Lebih lima tahun jalan rusak di depan kantor Kecamtan Petungkriyono tak kunjung diperbaiki oleh Pemerintah Kabupaten Pekalongan, membuat warga bersama anggota kepolisian setempat bergotong-royong melakukan pengecoran jalan. Sabtu-Ahad (15-16/06).

Inisiatif warga tersebut dilakukan mengingat ruas jalan tersebut merupakan akses utama pemerintahan Petungkriyono dan jalan utama warga dari berbagai desa di Kecamatan Petungkriyono. Kondisi jalan yang menanjak dan aspalnya hampir seluruhnya mengelupas, hanya menyisakan pecahan batu (warga menyebutnya kali asat) membuat pengguna jalan kesulitan bahkan banyak yang terjatuh ketika melintas jalan tersebut. Hal tersebut menyulitkan aktifitas warga maupun petani setempat.

Seperti dalam liputan video Warta Desa sebelumnya, Wahid, warga Garung, Petungkriyono mengatakan bahwa kerusakan jalan dari depan kantor kecamatan hingga lokasi obyek wisata Curug Bajing maupun Curug Muncar, berjarak sekitar tiga kilometer tersebut sudah lima tahun lebih belum juga ada perbaikan dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan. Padahal ruas jalan tersebut masuk jalan kabupaten.

Hal senada diungkapkan salah satu wisatawan asal Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Santo. Ia yang baru kali pertama mengunjungi obyek wisata Curug Bajing mengungkapkan bahwa jalan ke obyek wisata tersebut ekstrim. Menurut Santo, ia tak akan kembali berkunjung ke destinasi wisata unggulan Kabupaten Pekalongan jika kondisi jalan yang rusak tak diperbaiki.

Anggota Polsek Petungkriyono Aiptu Bono Rahardjo ikut kerja bakti bersama warga yang sudah berkumpul dari pukul 06.00 WIB dan tanpa sungkan langusung memulai memperbaiki jalan rusak. Rencananya jalan yang rusak akan di cor agar kuat dan tahan lama.

Dengan alat sederhana yang dipinjami Aiptu Sugeng dan Bripka Tarmanto langsung membantu masyarakat Petungkriyono untuk membawakan bahan cor menambal jalan yang rusak dengan semangat yang tinggi.

Kapolsek Petungkriyono Polres Pekalongan Iptu Agus Supriyono menegaskan kepada semua Anggota Polsek Petungkriyono untuk membantu semua kegiatan masyarakat Petungkriyono bila diperlukan bantuan jangan sungkan-sungkan memberikan bantuan. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Pengunjung Pantai Widuri keluhkan sampah

sampah pantai widuri

Pemalang, Wartadesa. – Minimnya tempat pembuangan sampah di obyek wisata Pantai Widuri, Kabupaten Pemalang dikeluhkan oleh pengunjungnya. Pantai dipenuhi dengan sampah yang dibuang sembarangan oleh para wisatawan.

Felani Herman (35), salah seorang wisatawan di Pantai Widuri mengungkapkan bahwa pengelola wisata maupun Pemkab Pemalang kurang memfasilitasi obyek wisata tersebut dengan tempat sampah yang cukup.

Selain itu, masih menurut Herman, kurang sadarnya wisatawan terhadap kebersihan pantai, menjadi pemicu obyek wisata kebanggaan Wong Pemalang tersebut kotor penuh sampah.

“Selain kurangnya kesadaran wisatawan akan buang sampah di tempatnya, minimnya tempat  sampah juga menjadi salah satu faktor banyaknya sampah yang berceceran di pantai dan area Widuri ini mas.” Ujar Herman, Selasa (11/06).

Herman berharap agar dinas pariwisata setempat tanggap terhadap masalah sampah di Pantai Widuri. “Diharapkan pihak-pihak terkait khususnya Dinas Pariwisata Kabupaten Pemalang dan juga pengelola obyek wisata Widuri segera tanggap tentang permasalahan ini,  jangan sampai Widuri yang sejak dulu menjadi primadona wisata sedikit demi sedikit akan ditinggalkan oleh wisatawan.” Lanjutnya.

Keluhan sampah di Pantai Widuri ini berulang setiap tahun. Diberitakan Warta Desa sebelumnya, kondisi Pantai Widuri di Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah yang penuh dengan sampah dan kotoran manusia dikeluhkan oleh wisatawan yang datang berlibur ke pantai tersebut.

Yanto (24), warga Landungsari Kota Pekalongan mengungkapkan bahwa tumpukan sampah berserakan di mana-mana, termasuk sampah rumah tangga yang dibuang warga sekitar. Apalagi tidak jauh dari pantai terdapat kawasan pemukiman. Meski sejumlah tempat pembuangan sampah disediakan, namun warga sekitar lebih memilih membuang sampah di tepian pantai. Selain itu kotoran manusia bercampur sampah banyak dijumpai di sepanjang pantai.

“Di sepanjang pantai sampah berserakan, bahkan banyak ditemui kotoran manusia. Padahal sudah ada tempat pembungan sampah disitu, namun sepertinya tidak digunakan oleh warga sekitar,” tutur Yanto, Sabtu.

Yanto menambahkan, “Kalau dibiarkan seperti itu terus, wisatawan yang datang tidak akan kembali lagi, karena kondisinya yang sangat jorok dan kotor,” lanjutnya.

Dari penelusuran Wartadesa, didapatkan informasi bahwa kondisi Pantai widuri yang dikotori oleh sampah dan kotoran manusia diakibatkan oleh kebiasaan buruk warga Desa Tanjung Sari yang suka membuang sampah dan buang air besar di pasir pesisir pantai widuri. Kondisi tersebut sudah bertahun-tahun.

Hal ini membuat geram para wisatawan lokal maupun dari luar Pemalang yang berkunjung ke objek wisata Pantai Widuri. Mereka terganggu oleh bau tidak sedap akibat sampah yang berserakan di pasir pantai dan kotoran manusia yang terendap di dalam pasir.

Pemerintah Daerah Kabupaten Pemalang sebenarnya sudah bekerjasama bersama masyarakat Tanjung Sari untuk membangun WC umum. Fasilitas tersebut diberikan untuk memberikan tempat bagi masyarakat setempat untuk keperluan MCK. Tetapi persoalan yang muncul, ternyata WC tersebut belum cukup memenuhi kebutuhan MCK warga setempat, hingga sekarang kebiasaan buruk buang air besar di pinggir pantai masih saja dilakukan.

Ridha, salah seorang warga setempat membenarkan bahwa Pemkab Pemalang pernah membangun MCK di wilayah tersebut, namun fasilitas sosial/umum tersebut kerap tidak dimanfaatkan warga, “iya pernah dibangun MCK emang, cuma terlantar. Entah karena malas ngangkut air atau faktor lain. saya yang asli sini pun cuma bisa berdoa supaya mereka dapat hidayah (untuk tidak buang air besar dan sampah sembarangan).  Kalau bangun rumah aja pada bagus, tapi gak mikir MCK.” Tuturnya.

Menurut Ridha, dibutuhkan pendampingan bagi warga untuk merubah kebiasaan buruk warga setempat, “sudah jadi semacam ‘tradisi’ turun menurun kalau laut itu tempat sampah buat mereka. Mau pup (buang air besar) tinggal ke laut, punya barang rusak ya lempar aja ke laut. Dari saya belum lahir juga gitu sih pak. Saya berharap kelak ada yang bisa mengubah kehidupan warga Tanjung Sari menjadi lebih baik, untuk kebaikan wisata alam Pantai Widuri dan warga Pemalang.” Pungkasnya. (Eky Diantara, Eva Abdullah)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Menengok empat tradisi kuliner Syawalan di Pekalongan

lopis raksasa

Pekalongan, Wartadesa. – Tradisi Syawalan (sepekan selepas Idulfitri) di Pekalongan diwujudkan dengan berbagi makanan dan minuman. Tradisi turun-temurun tersebut merupakan wujud syukur warga sekaligus momen berbagi kebahagiaan.

Bahkan Syawalan yang jatuh pada 8 Syawwal (kalender hijriyah) merupakan hari yang sangat istimewa dan selalu ditunggu-tunggu oleh warga. Pasalnya, hari itu merupakan hari berkumpulnya ribuan warga untuk bisa silaturrahim dan saling berkunjung untuk menikmati segala hidangan yang disediakan secara gratis.

Di Pekalongan ada empat tradisi berbagi kuliner khas yang dihelat dalam rangka memperingati Syawalan. Empat tradisi kuliner tersebut yakni lopis raksasa di Krapyak, Kota Pekalongan, gunungan Gebral di Pekajangan, Kedungwuni, gethuk lindri terpanjang di Ambokembang, Kedungwuni, serta gunungan Megono di Linggo Asri, Kajen, Kabupaten Pekalongan.

Gunungan Gebral Pekajangan

Perhelatan Gunungan Gebral Pekajangan digelar di Pekajangan Gang 20, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalogan, Ahad (09/06). Gunungan Gebral (makanan terbuat dari singkong yang diserut) setinggi 1,5 meter menjadi pusat perhatian warga.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi dalam gelaran Gunungan Gebral Pekajangan, Ahad (09/06)

Ratusan warga yang datang untuk menikmati gunungan secara gratis telah memenuhi gang sejak pagi.  Muhammad Yuniarsi soleh, panitia Gunungan Gebrak mengungkapkan bahwa acara tersebut telah memasuki usia 21 tahun.

“Ini sudah berjalan 21 tahun,kita persiapkan untuk kelapa satu minggu sebelum lebaran sedangkan untuk singkong datang pada H+5,tinggi gunungan 1,5 meter,” ujar Soleh.

Menurut Soleh, perhelatan tersebut merupakan acara tahunan untuk mempererat silaturahmi warga Pekajangan sekaligus berhalal-bihalal.

Sementara, Asip Kholbihi, Bupati Pekalongan yang hadir membuka acara menyarankan agar gelaran Gunungan Gebral tidak hanya berhenti pada tradisi Syawalan semata, melainkan dikembangkan (potensinya) membentuk jiwa kewirausahaan.

“Ini yang dinamakan mendidik jiwa entrepreneurship masyarakat,jadi tidak berhenti di gebyar syawalan saja tapi harus dipasarkan melalui cafe-cafe yang kita kemas secara modern dan dikelola oleh anak-anak muda,” ujar Asip.

Gethuk Lindri Terpanjang Ambokembang

Tradisi Gethuk Lindri terpanjang di Desa Ambokembang gang 9 dihelat Selasa (11/06). Tradisi tersebut digelar dalam rangka menghidupkan Syawalan warga Desa Ambokembang dengan menyajikan makanan tradisional berbahan baku singkong dengan taburan parutan kelapa dan kinco (saus gula merah) sepanjang 350 meter yang dibagikan kepada para pengunjung.

Warga Ambokembang sedang menyiapakan gethuk lindri sepanjang 350 meter dalam traedisi Syawalan desa setempat

Camat Kedungwuni, Bambang Dwi Yuswanto mengungkapkan bahwa Pemkab Pekalongan mendorong upaya pelestarian tradisi Syawalan tersebut. “Kita dorong untuk terus lestari dan meningkat setiap tahunnya, dan mudah-mudahan kedepan bisa masuk MURI (Museum Rekor Indonesia),” tuturnya, Selasa (11/06).

Menurut Bambang, tradisi Syawalan dengan berbagi gethuk lindri terpanjang merupakan momen yang tepat untuk menjalin silaturahmi antar warga yang sempat terkoyak oleh adanya Pilkades, Pileg maupun Pilpres.

Zainal Mutaqin, panitia gethuk lindri terpanjang menyebut bahwa gethuk sepanjang 350 meter tersebut menghabiskan 1,5 ton singkong, 220 butir kelapa, dan 80 kilogram gula jawa. Pembuatan gethuk dikerjakan warga secara gotong-royong selama dua hari.

“Tradisi ini sudah kali ke delapan dilakukan warga dengan tujuan mempererat tali silaturahmi antar sesama,” ujar Zainal.

Lopis Raksasa Krapyak

Bagi warga Krapyak, Kecamatan Pekalongan Utara, Kota Pekalongan gelaran lopis raksasa merupakan tradisi tahunan. Meski saat ini air rob merendam wilayah Krapyak, hal tersebut tidak menyurutkan warga untuk menyiapkan dua lopis raksasa yang akan dihelat pada Rabu (12/06) besok.

Warga Sembawan, Krapyak Kidul menyiapkan lopis raksasa seberat 1,6 kwintal

Lopis raksasa seberat 1,6 kwintal tengah disiapkan oleh warga Krapyak Kidul Gang 8 atau gang Sembawan dan Krapyak Lor gang 1. Acara yang akan dihadiri oleh Walikota Pekalongan tersebut menjadi daya tarik wisatawan sejak puluhan tahun lalu.

Lopis saat ini telah diangkat dan diletakkan di dua tempat pemotongan, yakni Krapyak Kidul gang 8 dan Krapyak Lor gang 1. Lopis raksasa diangkat warga secara gotong-royong dari tempat memasak ke lokasi acara pada Ahad (09/06) kemarin.

Ketua panitia Syawalan Krapyak Lor Gang 1, Ahmad Timbul mengungkapkan lokasi untuk pemotongan lopis saat ini dikelilingi oleh air rob dan akan disedot dengan pompa agar kering saat hari H.

Sedangkan menurut panitia syawalan di Krapyak Kidul Gg 8, Akhir Budiyanto menjelaskan meskipun dapur pemasakan terendam rob, namun dilakukan pengurugan sehingga tidak ada kendala dalam pembuayan lopis raksasa.

Mengono Gunungan Linggo Asri

Megono Gunungan di Obyek Wista Linggo Asri, Kajen

Berbeda dengan ragam tradisi Syawalan lainnya yang diinisiasi oleh warga, tradisi Syawalan Megono Gunungan diinisiasi oleh Pemkab Pekalongan, dalam hal ini Dinporapar, dengan rangkaian kirab Gunungan Megono dan 19 gunungan kecamatan yang akan dibagikan gratis kepada warga.

Perhelatan yang akan digelar pada Rabu (12/06) besok tersebut akan dimeriahkan dengan pagelaran seni tradisional kuda lumping, musik rampak dan campursari, serta dangdut. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Mudik lewat Pantura? Hati-hati jalanan bergelombang

mudik

Pemalang, Wartadesa. – Mudik menggunakan motor memang membutuhkan kesabaran dan keuletan tersendiri. Fisik yang kuat diperlukan, dan paling penting konsentrasi saat melewati ruas jalan Pantura. Memasuki H-5 lebaran, arus mudik di ruas Pantura masih didominasi oleh pemotor.

Iring-iringan pemudik yang menggunakan motor dari arah Jakarta terus mengalir ke Kabupaten Pemalang. Namun kondisi ruas jalan yang bergelombang, membuat kawanan pemudik ini musti lebih berhati-hati saat melintas.

Salah seorang pemudik, Widodo, pria asal Boyolali yang melintas ruas Pemalang mengungkapkan bahwa saat ini lalu-lintas Pantura masih ramai lancar.

“Arus lalulintas masih lancar belum menemukan kemacetan yang berarti, cuma setelah memasuki kota Brebes hingga Pemalang, jalannya bergelombang,” ujarnya, Jum’at (31/05).

Widodo menambahkan, selain banyaknya gelombang di ruas jalur Pantura, rambu-rambu jalan yang minim membuat mereka kesulitan.

Menurut Widodo, pada malam hari, penerangan yang minim di sepanjang ruas jalur Pantura juga membutuhkan pemotor lebih ekstra hati-hati.

Widodo membagikan tips bagi pemudik yang menggunakan motor agar selamat sampai tujuan, yakni pemotor  tidak terpancing memacu kendaraannya dengan kecepatan tinggi saat melintas pada malam hari, hal tersebut untuk menghindari potensi kecelakaan. Lanjutnya. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Mudik, Pantura dipadati motor

pasar wiradesa

Pekalongan, Wartadesa. –  Pemudik yang menggunakan motor mendominasi arus mudik di Pekalongan Kota. Hingga Kamis (30/02) malam, tercatat 13.409 pemotor yang melintas ruas Pantura Kota Pekalongan.

Kabid Lalu Lintas, Dinas Perhubungan Kota Pekalongan, Restu Hidayat mengungkapkan bahwa kepadatan di ruas Pantura Kota Pekalongan mulai terjadi pada Kamis pukul 14.00 WIB.

Restu Hidayat menyebut jumlah kendaraan dari arah Jakarta yang melintas ruas Pantura Pekalongan sebanyak 20.192 kendaraan dengan rincian 13.409 motor, 4.858 mobil pribadi, 447 bus, 1010 truk dan lainnya 429.

Sementara itu, lanjut Restu Hidayat, dari arah Timur ke Jakarta tercatat sebanyak 13.181 kendaraan yang melintas dengan rincian 7.966 sepeda motor, 3.427 mobil, 70 angkutan umum, 540 bus, 796 truk dan lainnya 382 armada.

Secara umum, kondisi arus lalu-lintas di Pantura Pekalongan masih lenggang. Pemudik yang menggunakan sepeda motor masih mendominasi ruas jalanan tersebut.

Bagi pemudik yang melewati ruas Pantura Pekalongan, daerah rawan macet yang perlu diwaspadai adalah ketika mendekati Pasar Wiradesa di Kabupaten Pekalongan dan Jalan KHM Mansur (Ponolawen) di Kota Pekalongan. Ruas jalan mulai dari Pasar Wiradesa hingga Ponolawen sejak siang hingga malam, mulai tersendat.

Untuk mengurai kemacetan di wilayah Kota Pekalongan, Polres Pekalongan Kota akan menghentikan truk yang melintas di Jalan Pantura saat puncak arus mudik. Laju kendaraan berat dihentikan bukan untuk ditilang, namun diarahkan ke kantung parkir. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Parit tanggul rob Pekalongan akan dikembangkan jadi obyek wisata air

wisata parit

Wonokerto, Wartadesa. – Parit sepanjang 10 kilometer dengan lebar 30 meter sedalam dua meter pada tanggul penahan rob Kabupaten Pekalongan, akan dikembangkan sebagai obyek wisata air. Demikian disampaikan oleh Asip Kholbihi di Wonokerto, Selasa (12/03).

Menurut Asip, tanggul raksasa tersebut membentang dari Kota Pekalongan hingga Kabupaten Pekalongan dengan panjang sekitar 10 kilometer, dan biaya pembangunan Rp 500 miliar lebih. Di tengah tanggul raksasa tersebut nantinya akan terdapat parit selebaran 30 meter dengan kedalaman sekitar 2 meter lebih. Parit tersebut diwacanakan oleh Pemkab Pekalongan untuk dijadikan tempat wisata air baru setelah tanggul selesai dikerjakan.

Menurut Asip, saat ini progres pembangunan tanggul raksasa sudah mencapai empat kilometer dari 10 kilometer.
“Total sekitar 10 kilometer dari wilayah Kota Pekalongan dan 4 kilometer yang ada di wilayah Kota Santri, tanggul yang ada di wilayah Kota Santri nantinya akan kami bangun lokasi wisata baru lengkap dengan fasilitas kolam ikan dan perahu wisata,” katanya.

Bupati menuturkan sengaja membuat tanggul penahan banjir rob menjadi multifungsi untuk meningkatkan pendapatan masyarakat. “Karena lokasi wisata nantinya akan dikelola oleh pihak desa setempat, dan kami akan menunjang fasilitasi serta infrastrukturnya,” tuturnya.

Dijelaskan Bupati, Kecamatan Wonokerto sudah terdampak banjir rob sedari tahun 2008 lalu, dan kini saatnya mengubah pandangan dari bencana menjadi barokah. “Penyelesaian pembangunan dijadwalkan akhir tahun ini, setelah itu kami akan kebut pembangunan untuk lokasi wisata baru,” tambahnya.  (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanLayanan PublikSosial Budaya

Kondisi GCC memprihatinkan, begini keluhan warga

ggc

Pemalang, Wartadesa. – Kondisi Gandulan Culinary Centre (GCC) di Pemalang kondisinya memprihatinkan. Hal tersebut dikeluhkan oleh warga. Menurut Imam (45), warga Petarukan, Kabupaten Pemalang, GCC setelah wacana akan dikelola pihak swasta kondisina kini memprihatinkan.

Menurut Imam, kini GCC wayahnya (bagian depan) makin tidak dikenal, pasalnya bagian depan GCC sering digunakan untuk ngetem (mangkal) angkutan kota. “Wajahnya kini makin tidak di kenal. Dikarenakan banyaknya Angkutan Kota (angkot) yang mangkal dan menjadikan lokasi depan GCC sebagai terminal bayangan untuk menunggu penumpang.” Ujarnya ketika diwawancarai Kabar Pemalang (kontributor Wartadesa), Kamis (28/02).

Imam menambahkan, GCC dulu digadang-gadang sebagai pusat kuliner di Kabupaten Pemalang. Sekarang tak ayalnya seperti terminal yang tak berpenghuni.

Imam berharap agar pihak-pihak terkait bisa mengembalikan fungsi GCC sebagaimana yang telah diprogramkan. “Ya.. itulah GCC sekarang ini… di saat dulu waktu peresmian digadang -gadang sebagai pusat kuliner di Kabupaten Pemalang …. Sekarang tak ayalnya seperti terminal yang tak berpenghuni.  Saya berharap  pihak-pihak terkait bisa mengatur dan mengembalikan fungsi sebagaimana yg telah di programkan sejak awal,” lanjutnya.

Keluhan warga tersebut diunggah di laman Kabar Pemalang hari ini pun mendapat beragam tanggapan dari warganet.

Adhe Candra Ini bukan krn ada angkot ngetem disitu kemudian situasinya jd memprihatinkan…PR terbesarnya adl bagaimana GCC bs ramai kembali… Buka McD, pizza HUT, atau jd kan gedung bioskop, tinggal bagaimana pemerintah daerah mampu menarik investor dimariiii.
Daffa Hanifisyafiq GCC menurut saya lokasinya kurang strategis, jauh dari pusat kota jadi orang kalau mau mampir nanggung bgt klo lagi ke kota. Sebelum ada gcc juga angkot2 berhenti nya disitu kali min nunggu & anter penumpang ke RS.
Mohamad Solekan Mohon maaf sblumnya min, ketika saya main ke sana skrng sudah kelihatan sepi, alangkah baiknya pujasera tersebut di lengkapi dengan berbagai acara” festival atau band lokal agar dapat memeriahkan lokasi tersebut. Apalagi di jaman anak muda sekrng tempat nongkrongnya harus kelihatan unik dan berbeda. Contohnya seperti di Semarang yg dulu di sebut taman KB yg selalu sepi skrng semenjak di ubah dengan nama “Indonesia kaya” dan konsepnya pembangunannya bagus dilengkapi dengan hiasan” dan lampu” skrng Alhamdulillah rame apalagi kalo malem. Suwun lur.
Agus Sugianto Pemda kurang kreatif…ajak lsm dan kaum milenial berikan ruang buat mereka berkreasi dan berusaha kuliner yg kekinian serta permudah transportasi ke lokasi.
Dharmabhacty Regency PoppiesloveBulakan Hebatnya pemalang disitu, pembangunan tanpa ada plan jangka panjang, lihat saja terminal rdkk dll, semoga kedepan para pejabat dpr bisa main ke purbalingga dan liat perkembangan disana.
Wahyu Pus Pito Satlantas Pemalang LaluLintas Pemalang Mohon di tindak lanjuti pemandangan indah ini Pak. 🙏🙏🙏
Kasih sanksi sedikit yg membuat mereka Jera. 😊😊😊

Sebelumnya, pada Januari 2019, Pemkab Pemalang berencana menyerahkan pengelolaan pusat kuliner gandulan atau Gandulan Culinary Center (GCC) kepada swasta atau pihak ketiga, setelah banyak pedagang meninggalkan kios-kios di GCC itu.

GCC yang semula dikonsepkan menjadi pusat keramaian baru dengan menjual berbagai makanan khas tradisional Pemalang, ternyata hanya ramai pada awal pembukaan. Belakangan pusat kuliner itu sepi, sehingga banyak pedagang meninggalkan GCC.

“Kebetulan ada pihak swasta yang bergerak di bidang pengelolaan rumah makan berminat untuk menyewa 12 kios GCC untuk mereka jadikan rumah makan,”kata Sekretaris Daerah Budhi Rahardjo.

Menurut Rahardjo, pihak ketiga sudah menawarkan konsep menjaring rombongan wisata yang keluar dari tol untuk masuk ke GCC. Rahardjo pun sudah meminta pihak ketiga tersebut untuk membuat permohonan tertulis sebagai bentuk keseriusan. (WD/Eky Diantara)

selengkapnya
Jalan-jalanLingkungan

Dibuka April mendatang, baru seperempat lahan dibersihkan

telaga mangunan

Petungkriyono, Wartadesa. – Destinasi wisata baru Telaga Mangunan yang terletak di Dusun Mangunan Tlogo, Desa Tlogohendro, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan seluas tujuh hektar yang akan dibuka pada April 2019, kondisinya saat ini baru seperempat luasan telaga yang sudah dibersihkan.

Meski demikian, ramainya pemberitaan melalui media sosial, Telaga Mangunan mengundang warga Pekalongan dan sekitarnya untuk datang ke lokasi tersebut. Ratusan warga Pekalongan dan sekitarnya tiap hari mendatangi Telaga Mangunan untuk menikmati sejuknya alam “Negeri Diatas Awan”.

Kasi Pengembangan Wisata Dinporapar Kabupaten Pekalongan, Purwo Susilo mengungkapkan pihaknya terus melakukan persiapan pembukaan Telaga Mangunan. Pihaknya mengklaim, hingga saat ini sudah tiga bulan melakukan pembersihan sedimentasi telaga.

“Untuk itu kami terus melakukan persiapan pembukaan dan fasilitas yang sudah dibangun baru sebatas kamar mandi umum serta penambahan perahu wisata,” ujar Purwo Susilo.

Menurut Purwo Susilo, tiket untuk masuk ke Telaga Mangunan ditetapkan Rp. 5 ribu perorang, termasuk biaya parkir kendaraan.

Saat ini, Pemkab Pekalongan beserta warga setempat tengah melakukan pembersihan telaga sejak Januari lalu. “Masyarakat Desa Tlogohendro, setiap Hari Minggu, gotong royong melakukan pembersihan untuk membuka telaga tersebut,” kata Purwo Susilo.

Telaga yang terletak dari hiruk pikuk perkotaan, dan area telaga tersebut masih terjaga keasriannya dengan air yang jernih dan dikelilingi pepohonan tersebut nantinya akan dilengkapi dengan wahana perahu kayak. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanSosial Budaya

Hutan Kota Kajen akan dijadikan Pasar Rakyat

hutan kota_novi nurwati

Kajen, Wartadesa. – Terinspirasi dari keberhasilan Hutan Kota Rajawali dengan Pasar Minggon Jatinan di Batang, Pemkab Pekalongan akan menjadikan Hutan Kota Kajen menjadi destinasi wisata baru berupa Pasar Rakyat.

Konsep Pasar Rakyat di Hutan Kota Kajen hampir sama dengan konsep Minggon Jatinan di Batang, yakni menyediakan jajanan pasar, maupun makanan tradisional khas Pekalongan. Demikian disampaikan oleh Kasi Pengembangan Pariwisata Dinas Pemuda Olah Raga dan Pariwisata (Dinporapar) Kabupaten Pekalongan, Purwo Susilo, Jum’at (22/02) kemarin.

Namun, Purwo Susilo menjanjikan konsep yang diusung di Pasar Rakyat pada Hutan Kota seluas 980 meter persegi di komplek Kantor Pemerintahan Kabupaten Pekalongan lebih menarik.

Purwo Susilo mengaku saat ini pihaknya sedang mempersiapkan lokasi yang akan dibuka untuk umum pada April 2019 mendatang. Petugas, ujarnya, saat ini sedang melakukan penataan dan pembersihan untuk lokasi Pasar Rakyat.

“Rencananya pasar rakyat akan dibuka April 2019 mendatang,” ujar Purwo Susilo.

Purwo Susilo menyebut nantinya pasar akan diisi oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Pekalongan yang sebelumnya sudah belajar pengelolaan Pasar Minggon Jatinan di Batang. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSeni BudayaSosial Budaya

Belasan Cagar Budaya di Pekalongan jadi tempat usaha

museum-batik_1

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Belasan bangunan yang menjadi Cagar Budaya di Kota Pekalongan beralih fungsi menjadi tempat usaha. Hal tersebut membuat pegiat sejarah Pekalongan Heritage Community Mohammad Dirhamsyah prihatin.

Mohammad Dirhamsyah mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari seratusan bangunan cagar budaya berada di Kota Pekalongan, namun sebagian sudah beralih fungsi. “Oleh karena itu, kami berharap pada Pemerintah Kota Pekalongan melakukan langkah antisipasi penyelamatan terhadap bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah itu,” katanya dilansir dari Antara Jateng, Rabu (20/02).

Dirhamsyah menambahkan bahwa alih fungsi bagunan cagar budaya milik pemerintah dan swasta diantaranya menjadi perkantoran. “Saat ini sebagian besar bangunan cagar budaya milik pemerintah tersebut dimanfaatkan untuk aktivitas perkantoran dan lembaga pendidikan. Adapun bagi bangunan cagar budaya yang dimiliki swasta yang sudah beralih fungsi seperti bekas gedung bioskop Rahayu dan rumah Bupati Pekalongan yang berada di Jalan Nusantara Kota Pekalongan,” katanya.

Menurut Dirhamsyah ratusan bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan tersebut terdiri atas bangunan rumah kuno milik warga, 23 bangunan cagar milik Pemkot Pekalongan dan Pemprov Jateng, dua bangunan milik PT Kereta Api Indonesia, dan PT Pertani yang berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu.

Adapun sebanyak 23 bangunan cagar budaya milik pemkot, kata dia, sebagian besar berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu, antara lain Museum Batik Nasional, eks-Bakorwil Pekalongan, kantor pos, pengadilan negeri, rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas), serta kantor Perum Perikanan Indonesia Pekalongan.

Dirhamsyah berharap agar pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya untuk menyelamatkan warisan budaya tersebut. Saat ini bangunan cagar budaya yang dimiliki oleh swasta beralih fungsi menjadi toko moderen dan sektor perdagangan.

“Oleh karena itu, kami berharap pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya dan tim ahli bangunan cagar budaya sebagai upaya melestarikan dan menetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan cagar budaya tidak boleh sembarangan diubah bentuknya dengan menghilangkan keasliannya,” ujar Dirhamsyah.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kota Pekalongan Ninik Murniasih mengatakan pemkot sudah mengirimkan registrasi usulan pelestarian bangunan cagar budaya ke pemerintah pusat yang akan ditindaklanjuti dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Tim Ahli Bangunan Cagar Budaya (BCB) Provinsi Jateng.

“Setelah dikirim ke TACB dan BCB kami menunggu rekomendasi atau kajian apakah disahkan atau tidak. Saat ini, kami masih menunggu karena masih diproses,” kata Ninik.

Sementara itu, Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah menilai potensi cagar budaya di Kota Pekalongan akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Koordinator Publikasi dan Pemanfaatan Balai Cagar Budaya Jawa Tengah, Wahyu Kristanto di Pekalongan, Selasa(19/02), mengatakan Kota Pekalongan telah menjadi jalur strategis perdagangan dan perkebunan pada masa kolonial Hindia Belanda.

Selain itu, kata dia, banyak pula orang Indo-Eropa yang berdomisili di Kota Pekalongan dan meninggalkan tempat yang menjadi cagar budaya seperi Kampung Arab Pecinan dan kawasan kolonial lainnya.

“Oleh karena, dengan banyaknya potensi cagar budaya yang dimiliki Kota Pekalongan maka akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat di daerah ini sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” katanya saat mengikuti kegiatan “Pameran Cinta Cagar Budaya”.

Ia mengatakan benda atau bangunan dapat disebut sebagai cagar budaya harus memiliki empat kriteria antara lain memiliki usia minimal dan gaya berumur 50 tahun, mempunyai nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan, serta bisa menguatkan kepribadian bangsa.

“Oleh karena, kami mengajak para pelajar dan masyarakat dapat melestarikan cagar budaya yang ada di daerah ini. Cagar budaya di Kota Pekalongan cukup banyak, salah satunya adalah batik dan bangunan kuno,” katanya.

Wahyu Kristanto mengatakan dengan berkunjung dan mengikuti sejumlah kegiatan dalam Pameran Cinta Cagar Budaya, pelajar dan masyarakat dapat melihat keterangan gambar atau replika untuk mengenal cagar budaya.?

“Kami berharap para pelajar dan masyarakat dapat memanfaatkan kegiatan pameran ini agar dapat mengetahui cagar budaya,” katanya. (Antara)

selengkapnya