close

Jalan-jalan

Jalan-jalanSosial Budaya

Viral Harga Es Teh Wolungewu di Obyek Wisata Batang, Sempat Dibuat Video Tiktok

es teh wolungewu

Batang, Wartadesa. – Sejak Senin (28/03/2022) siang kemarin, grup media sosial Pigura Warga Batang dibanjiri dengan status “es teh wolungewu”. Puluhan postingan dengan tagline Es Teh 8000, sejak siang hingga malam hari, memenuhi grup media sosial wong Batang tersebut.

Berawal dari posting Anik IndriAty di Pigura Warga Batang, Kemarin pukul 12.27 Lurr.. ak wingi neng pantai cemero gondrong wetan e payung 1000… ak tuku es teh 3 pop mie 2 Duwet 50 susuk 2000.. ak kaget raa.. Takon kro pelayan e.. es 8000n.. pop mie 12ribu.. ak karang wong kampung kaget raa lurr… Pdhl neng Transmart wae es teh 5000 kui kd merek tongji.. la pernah e kui Anggo teh opo. Ko Rego e jare ngukuli harga esteh kafe.. kui loo warung e.. tp warung sebelah e 4000.. 🥰🥰🥰 Sich Gopret Azi Zen

Hingga Selasa (29/03/2022) siang, postingan tersebut mendapat 2000 komentar dan enam kali dibagikan. Rata-rata komentar menyayangkan harga es teh di obyek wisata kebanggaan warga Batang tersebut. Namun beberapa komentar menyebutkan bahwa harga Rp 8000 untuk segelas es teh di tempat wisata, adalah wajar, karena biaya sewa yang harus ditanggung pedagang.

Viralnya postingan “es teh wolungewu” ini kemudian diikuti dengan postingan serupa oleh anggota Pigura Warga Batang, bahkan akun Eka Chintya 

Assalamu’alaikum dulur” PWB.
salam 2 rokaat.
Ngapurone lhur..Gara” kepikiran es teh 8000 ngan raiso ubuk lhur.
Iseng bae tk gawe vidio.
Maaf yo sing akun’e ke up.
Go hiburan bae lhur ojo do baper.
🙏🙏🙏
#lagi belajaran tiktokan lhur ojo d buly😊🙏
https://www.facebook.com/eka.chintya.750/videos/649009492836867/
Video Tik Tok tersebut diunggah di grup yang sama dan mendapat tanggapan 421 netizen dengan 225 komentar.

Bakul “nuthuk” (menggetok dengan harga tinggi) di tempat wisata atau di tempat keramaian di Kabupaten Batang, bukan kali ini saja terjadi. Sebelumnya sempat viral bakul nuthuk di Alun-Alun Batang. Hingga pengelola pedagang Alun-Alun Batang membuat kebijakan seluruh pedagang untuk menyediakan daftar harga untuk menu yang disajikan, bahkan ada tempelan pengumuman bagi “pedagang nakal” agar dilaporkan kepada pengelola.

Bagi wisatawan, ada baiknya memperhatikan beberapa tips agar tidak menyesal saat membeli makanan di tempat wisata atau obyek-obyek keramaian. Diantaranya, pastikan bahwa warung atau tempat makan tersebut menyediakan daftar menu dan harga (pricelist), jika pedagang tidak menyediakan pricelist tanyakan berapa harga menu yang dipesannya.

Tips berikutnya adalah membawa bekal dari rumah, sehingga di tempat wisata, tinggal menikmati saja. Meski ini kurang paraktis, namun kita tidak perlu menyiapkan semuanya dari rumah, cukup beli makanan dan minuman sebelum tempat wisata yang dituju, yang kita tahu harganya sesuai dengan isi kantong kita.

Jika kita sudah terlanjur di tempat wisata, usahakan untuk mencari makanan dan minuman di luar obyek wisata. Keluar dari obyek wisata dan berbelanja keperluan, kemudian dibawa masuk ke obyek wisata. Ini dengan catatan, pihak pengelola wisata memperbolehkan pengunjung keluar-masuk membawa makanan dan minuman dari luar obyek wisata.

Jika sudah terlanjur “digetok” berfikirlah positif. Ikhlaskan saja. Pedagang di tempat wisata tentunya harus mengeluarkan biaya ekstra untuk sewa tempat dan lain sebagainya.  (Buono)

Terkait
Wong Kali Comal, angkat wisata dan seni budaya

Comal, Wartadesa. - Mengambil lokasi di area sebelah Utara jembatan Kali Comal, Desa Jatirejo, Kecamatan Ampelgading Kabupaten Pemalang, Wong Kali Read more

Pokdarwis latihan jadi pemandu wisata

Petungkriyono, Wartadesa. - 40 anggota dari Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) di Kabupaten Pekalongan mengikuti praktik langsung menjadi guide atau pemandu Read more

Ngopi di curug Bajing yang ngangeni

Curug Bajing memang selalu nganeni. Curug yang eksotis dengan beragam keindahan alamnya ini menjadi primadona di Pekalongan. Curug yang berada Read more

Karang Srity, satu tempat dengan banyak pilihan wisata

Karang Srity, sebuah lokasi wisata negeri diatas awan, Petungkriyono all in one, campingpark, rivertubing, tracking, hiking dan pemandangan segar alam Read more

selengkapnya
Jalan-jalan

Laris Manis, Dua Jam Dagangan Di Kampung Kali Papringan Ludes

kampung kali papringan

Kedungwuni, Wartadesa. – Dalam waktu dua jam sejak dibuka, Ahad (27/02/2022) pukul 08.00 WIB, aneka jajanan jaman dulu yang dijual oleh warga Desa Tangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni, Pekalongan di Kampung Kali Papringan, ludes. Antusiasme pengunjung Kampung Kali Papringan membuat para pedagang laris manis.

Kawasan kuliner jaman dulu ini baru dibuka akhir Januari 2022 lalu oleh Mas’udah, Wakil Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan. Saat membuka Kampung Kali Papringan, ia menyambut baik program yang dijalankan oleh Badan Kewadayaan Masyarakat (BKM) Tunas Karya Mandiri Desa Tangkil Kulon untuk memajukan ekonomi warga desa setempat.

Menurut Mas’udah, hadirnya Kampung Kali Papringan bisa menjadi obyek wisata baru yang menyediakan aneka jajanan masa lalu ala kampung. “Disamping suasananya yang adem khas kampung, dengan aliran sungai yang membelah, disertai rindangnya pepohonan bambu, tempat ini sangat cocok untuk dijadikan wisata keluarga,” ujarnya.

Dan Kampung Kali Papringan ini, lanjut Mas’udah, akan menjadi pendongkrak ekonomi warga sekitar.

Ditemui di lokasi, pengelola Kampung Kali Papringan, Didik Utomo mengatakan bahwa antusiasme pengunjung sejak dibuka pada akhir Januari dan hari ini cukup bagus. “Alhamdulillah pengunjung yang datang sangat antusias, selain dari warga Desa Tangkil Kulon, banyak warga dari desa tetangga yang sengaja datang untuk menikmati sejuknya Kampung Kali Papringan,” ujarnya Ahad (27/02).

Menurut Didik, acara jajanan jaman dulu di Kampung Kali Papringan akan digelar dua pekan sekali. “Setiap dua minggu sekali Kampung Kali Papringan ini dibuka. Selain beragam jajanan kampung, kami siapkan aneka hiburan untuk menemani pengunjung yang datang,” lanjutnya.

Sementara itu, Jepri, salah seorang pengunjung dari Comal mengatakan bahwa ia mendapat informasi tentang aneka makanan jaman dulu di Kampung Kali Papringan dari media sosial, “yo dari Facebook-lah informasinya, saya sengaja datang untuk menikmati berbagai makanan jaman dulu. Belinya pakai koin batok. Ada cenil, krau dan lain-lain. Semuanya enak-enak, khas jajanan masa kecil,” pungkasnya. (Buono)

Terkait
50 Nasabah UPK Artha Mandiri Raih Penghargaan

Kedungwuni, Wartadesa. - Puluhan nasabah Unit Pengelola Keuangan (UPK) Artha Mandiri, Badan Pemberdayaan Masyarakat (BKM) Tunas Karya Mandiri, Desa Tangkil Read more

Masuk zona merah, kegiatan keramaian di Tangkilkulon dihentikan hingga akhir bulan

Kedungwuni, WartaDesa. - Paska terpaparnya tiga orang warga Desa Tangkil Kulon, Kedungwuni, Pekalongan, Jawa Tengah, positif Covid-19, pemerintah desa setempat Read more

Petakan Pemerataan Daging Qurban, Lazismu Pekalongan Salurkan Sapi di Podosari Kesesi

Pekalongan, Wartadesa. – Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Pekalongan, menyalurkan program bantuan hewan qurban di Masjid Read more

Mantabkan Peran Pemuda untuk Pembangun Bangsa PDPM Kabupaten Pekalongan Gelar Seminar Kebangsaan

Pekalongan, Wartadesa. – Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Pekalongan pada hari Sabtu sampai dengan Ahad, 25-26 Juni 2022, menyelenggarakan Read more

selengkapnya
Anti HoaxJalan-jalanLingkungan

Tidak Benar! Jalur Pendakian Gunung Prau Via Kenjuran Dibuka

kkn-mit-dr-13-kelompok-53-uin-walisongo-foto-dokumentasi-pri-rfr2

Kendal, Wartadesa. –  Berita di laman JPPN dengan tajuk Lama Mati, Jalur Pendakian Gunung Prau via Kenjuran Dihidupkan Lagi, Inisiasi KKN UIN Walisongo Nih, ditolak oleh berbagai kalangan. Kepala Desa Purwosari, Miadi ketika dihubungi oleh Pewarta Wartadesa, menyampaikan pesan via Whats App bahwa tidak benar jalur tersebut dihidupkan.

“… Juga hasil dialog kami dengan tim KKN UIN setelah hampir satu bulan dari berbagai kajian penelitian, survey bahwa didalamnya Prau, ternyata mempunyai banyak dan menyimpan ribuan endemik yang memang sangat layak untuk dilindungi, begitu juga dengan jalur pendakian, di branding dengan cara apapun jalur Kenjuran tidak lebih dari lima orang perminggu yang naik lewat jalur itu, itupun kalau ada. Artinya juga tidak mungkin untuk dijadikan jalur pendakian lagi …” tulis Miadi, Sabtu (19/02/2022).

Dalam pesan yang diterima oleh pewarta kami, Miadi menambahkan bahwa, “Alhasil dari keseluruhan, setelah didiskusikan tidak ada pembukaan jalur Kenjuran, Matursembah nuwun kagem sedoyo rencang relawan yang masih begitu besar dukungan supportnya kepada kami di Desa Purwosari,”  pungkasnya.

Penolakan klaim mahasiswa Kuliah Kerja Nyata (KKN) Univesitas Islam Negeri (UIN) Walisongo  juga dilakukan oleh Mbah Basri. Dalam tulisan  Bernard T. Wahyu Wiryanta bertajuk Blunder KKN UIN Walisongo Membuka Jalur Pendakian Gunung Prau via Kenjuran, dan Gunomerto Siswosoediro dengan tajuk yang sama di Facebook, Mbah Basri mengatakan bahwa para mahasiswa KKN tersebut hanya mengunjungi Curug Wayang di atas Kenjuran dan meminta tolong dia untuk membuatkan plang penujuk arah. Dokumen video penyataan Mbah Basri saat ini masih disimpan oleh pewarta kami.

Seperti ditulis dalam laman JPPN, disebutkan belasan mahasiswa UIN Walisongo Semarang yang sedang melaksanakan Kuliah Kerja Nyata (KKN) MIT DR ke 13 melakukan revitalisasi jalur pendakian Gunung Prau via Kenjuran. Jalur pendakian yeng terletak di Desa Purwosari, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal itu sudah tak terkelola sejak 2020. “Jalur pendakian Gunung Prau via Kenjuran, sebelumnya memang sudah mati. Dari 2020 hanya satu dua pendaki yang ke sini,” kata Koordinator Desa (Kordes) Tim KKN MIT DR 13 Kelompok 53 UIN Walisongo Ahmad Syaiful Aziz, dikonfirmasi, Rabu (16/2).  Oleh sebab itu, Aziz dan keempat belas temannya yang sedang melaksanakan KKN di sana berinisitaif untuk menghidupkan jalur pendakian tersebut.

Pada akhir Januari 2022, tim ekspedisi yang terdiri dari mahasiswa KKN UIN Walisongo kelompok 53, SAR Gunung Prau, juru kunci, karang taruna, dan kepala Desa Purwosari, melakukan revitalisasi jalur pendakian. Tim yang terdiri dari 25 orang tersebut melakukan renovasi Basecamp Gintung Makmur dan perbaikan papan penunjuk arah di jalur pendakian Gunung Prau via Kenjuran.

Saat dikonfirmasi oleh pewarta Wartadesa, hingga Sabtu (19/02/2022), pihak mahasiswa KKN UIN Walisongo tidak ada satupun yang bersedia mengklarifikasi klaim mereka terkait pembukaan jalur pendakian Gunung Prau via Kenjuran. (*.*)

Pewarta : Andi Gunawan

Editor : Buono

Terkait
Bupati Cup Trabas Aturan

Kendal, Wartadesa. - Hutan Gunung Prau yang masuk wilayah Desa Genting Gunung kabupaten Kendal menjadi ajang uji kemampuan para crosser Read more

Pulang Berobat dari Lereng Gunung Prau, Warga Kebumen Meninggal di Jalan

Kendal, Wartadesa. - Kabar meninggalnya salah seorang warga Desa Kebumen, Kecamatan Sukorejo, Kabupaten Kendal di grup Whats App membuat geger. Read more

BPSDA Libatkan Komunitas Jaga Kelestarian DAS

Kendal, Wartadesa. - Pelestarian fungsi dan manfaat sungai bagi kehidupan menjadi sangat penting, apabila warga terlibat dalam pengelolaan konservasi Daerah Read more

Mbah Suto Sang Multi Talenta di Tengah Hutan

Oleh : Damar Senja Kelana Kemelut Hujan lebat mengguyur seluruh kampung. Angin berhembus cukup kencang mengibaskan daun-daun yang kuyub. Tak Read more

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Bioskop Djanoko Nasibmu Kini, Dijualpun Tak Laku

SAM_3798

TEPAT di pusat kota Randudongkal Pemalang, Bioskop Djanoko masih gagah berdiri. Meski kondisi bangunannya terlihat tua tanpa perawatan. Pada bagian depan gedung terlihat tempelan kertas dengan tulisan, Tanah Dijual, Hubungi Joko.

Melihat bioskop yang pada era 70-an mengalami puncak kejayaan, dan kini menjadi sebuah gedung tua, saya menyempatkan turun dari bis pariwisata. Tidak banyak waktu memang, sambil menunggu lampu merah berubah warna, saya bertanya pada bapak-bapak yang berada di sisi depan bioskop. Pak Walidin (64) namanya, saya hanya sempat menanyakan nama dan asalnya. Ia warga sekitar.

Karena tidak punya banyak waktu, saya hanya menanyakan poster yang tertempel pada gedung. Menurut Walidin, sudah lama tanah dan gedung Bioskop Djanoko hendak dijual pemiliknya, namun hingga kini belum juga ada pembeli yang cocok harga.

Walidin sempat bercerita, saat ia masih kanak-kanak hingga remaja, setiap ada film baru yang diputar di Bioskop Djanoko, ia selalu menonton. Film yang diputar, film-film terbaru lokal dan film box office–sebutan film Barat yang sedang trend saat itu. Tuturnya, Kamis (23/12).

Walidin masih meneruskan, “Film favorit saya saat itu, film India, pokoknya kalau Bioskop Djanoko ada film India baru, saya pasti nonton,” cerocosnya penuh semangat.

Saya sempat menanyakan sejarah singkat bioskop yang berada di “jantung kota Moga” tersebut, namun tak sempat, bis yang saya tumpangi keburu mau meneruskan perjalanan, setelah beberapa lama menunggu, karena lampu merah sudah berganti hijau sejak tadi.

Tergelitik akan kisah “bioskop pudjaan rame” di Randudongkal, tanganku mengetik pada mesin pencarian website dengan kata kunci “bioskop djanoko randudongkal”, ketemu tulisan mejagongnews, sebuah blog yang saat ini (seperti) tidak diurus oleh pemiliknya. Tulisan tahun 2012 bertitel Hilangnya Keemasan Djanoko Si Gedung Bioskop.

Ceritanya seragam dengan kisah kelam bioskop-bioskop di Indonesia, yang tenggelam tertelan zaman. Berawal dari hadirnya teknologi cakram Video Compac Disk (VCD), Digital Vestatile Disc (DVD), Laser Disk, bahkan kini bisa dinikmati via jaringan internet.

Saat itulah perlahan namun pasti, nonton film di bioskop mulai ditinggalkan. Meski saat ini bioskop jaringan pengusaha kakap masih tetep eksis di tiap kota, namun jumlah penonton tidak akan kembali seperti tahun-tahun 70 hingga 90-an.

Mengutip tulisan dari mejagongnews, Bioskop Djanoko menjadi tujuan para remaja saat itu. Sejak berdiri di Tahun 1970-an, gedung pemutar film tersebut selalu ramai dibanjiri penonton. Film-film Hindustani menjadi magnet utama warga Randudongkal dan sekitarnya. Romantisme film India ini seperti menggambarkan pasangan muda-mudi yang sedang menikmati gelaran tayangan pita film pada mesin proyektor.

Saat marak VCD pada era 90 hingga 2000-an, Bioskop Djanoko mulai “oleng”, para pecinta film yang awalnya memenuhi gedung, pindah ke rumah. Menikmati tayangan film pada cakram penyimpan video. Bioskop Djanoko beralih fungsi menjadi penyewaan playstation–mesin gim yang lagi ramai saat itu.

“Aku ora terlalu ngerti kenengapa gedunge mari muteri filem. Sengertine aku gedung kie mulai bangkrut tahun 99-2000-an lah. Ndean Wong-wong wis pada pindah maring VCD.” (saya kurang begitu tahu kenapa gedung ini bisa berhenti beroperasi.Setahu saya gedung ini mulai mengalami masa bangkrutnya di tahun 99-2000-an lah, mungkin pada saat itu orang-orang pada pindah ke VCD). Ungkap Abdul, penjual makanan yang mangkal di depan gedung Bioskop Djanoko dengan sedikit mengenang masa lalu, mengutip tulisan mejagongnews.

Abdul melanjutkan, saat mulai mengalami kebangkrutan, pemilik bioskop memfungsikannya untuk penyewaan gim playstation. “Wong pas kae gedung kie ruangane dienggo rentalan PS.” (Pada saat itu Gedung tersebut sudah muti fungsi, salah satu ruangannya ada yang digunakan untuk membuka rentalan Playstation-PS)”. Tuturnya.

Gedung Bioskop Djanoko menjadi salah satu “Theater” tua yang masih kokoh berdiri. Romantisme generasi “masa lalu” akan bisa dibangkitkan lagi, jika ada investor yang bersedia mengelola kembali. Alih fungsi menjadi kafe, dengan menjual kenangan saat itu akan menjadi daya tarik tersendiri bagi generasi muda saat ini. Pertanyaannya, adakah invistor yang tertarik dan bersedia menjaga utuh “warisan budaya” tersebut? (Buono)

Terkait
Korban keracunan ikan tongkol di Randudongkal terus bertambah

Pemalang, Wartadesa. - Data warga Kecamatan Randudongkal, Pemalang yang diduga keracunan makanan setelah mengkonsumsi ikan tongkol dari bantuan Program Keluarga Read more

Mayat tanpa identitas ditemukan di Rumdin Puskesmas Randudongkal

Pemalang, Wartadesa. - Pedagang warung makan samping rumah dinas (rumdin) Puskesmas Randudongkal sontak kaget melihat sosok tubuh lelaki renta yang Read more

Video Tutorial Pakai Sarung Bupati Pemalang Banjir Komentar Warganet, Tutorial Memperbaiki Jalan Rusak

Pemalang, Wartadesa. - Video tutorial cara mengenakan sarung khas Pemalang oleh Bupati Mukti Agung Wibowo di laman media sosial Headline Read more

10 Desa di Pemalang Masuk Penanganan Stunting

Pemalang, Wartadesa. - Sepuluh desa di Kota Ikhlas bakal menjadi lokasi penanganan (lokus) stunting tahun 2023. Stunting adalah kondisi gagal Read more

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Bukit Mendelem longsor, OW Taman Rancah alami kerusakan

2

Pemalang, Wartadesa. – Bencana longsor Bukit Gunung Jimat, Desa Mendelem, Kecamatan Belik, Pemalang pada sisi Barat mengakibatkan material longsoran merusakkan Obyek Wisata Taman Rancah. Selain itu, tulisan Pemalang pada bukit terlepas terkena lontaran batu, akibat hujan dan angin kencang pada Ahad malam sekitar pukul 19.30 WIB.

Dalam video yang diunggah laman media sosial Facebook Kabar Pemalang, kerusakan cukup parah terjadi pada obyek wisata tersebut, sehingga pengelola memutuskan untuk menutup sementara.

  • Taman Rancah Bukit Mendelem Rusak

Sairin, Kepala Desa Mendelem menyebut bahwa tidak ada korban jiwa dalam kejadian tersebut, namun material longsoran menimpa tulisan PEMALANG hingga huruf M dan A lepas. Material longsor juga menimpa beberapa obyek wisata Taman Rancah yang ada di bawahnya.

Sairin menghimbau warga untuk tidak mendekati Bukit Mendelem untuk menghindari longsor susulan. “Kami telah berkoordinasi dengan Forkompimcam dan pengelola wisata Gunung Mendelem untuk sementara ditutup, sambil menunggu penelitian lebih lanjut dari ahli geologi,” ujarnya, Senin (27/09).

Sementara itu, Eka Waluyo, pengelola obyek wisata Taman Rancah menyebut kerugian yang dideritanya mencapai ratusan juta rupiah. (Bono dengan tambahan sumber dari Kabar Pemalang)

Terkait
Waspada! Penyakit Mulut dan Kuku Masuk Pemalang

Pemalang, Wartadesa. - Munculnya kasus Penyakit Mulut dan Kuku (PMK) di Kota Ikhlas membuat Kepala Bidang Peternakan Dinas Pertanian Kabupaten Read more

[Video] Wujudkan Desa Digital, Dispermasdes Pemalang Gelar Pelatihan Sidekem

Pemalang, Wartadesa. - Dinas Pemberdayaan Masyarakat dan Desa (Dispermasdes) Kabupaten Pemalang menggelar pelatihan Sistem Informasi Desa dan Kawasan Pemalang (Sidekem) Read more

Video Tutorial Pakai Sarung Bupati Pemalang Banjir Komentar Warganet, Tutorial Memperbaiki Jalan Rusak

Pemalang, Wartadesa. - Video tutorial cara mengenakan sarung khas Pemalang oleh Bupati Mukti Agung Wibowo di laman media sosial Headline Read more

10 Desa di Pemalang Masuk Penanganan Stunting

Pemalang, Wartadesa. - Sepuluh desa di Kota Ikhlas bakal menjadi lokasi penanganan (lokus) stunting tahun 2023. Stunting adalah kondisi gagal Read more

selengkapnya
Jalan-jalan

Restoran di Thailand ini sediakan menu serba ganja

Inside Ban Lao Reung, the first restaurant in Thailand to cook with marijuana.

Ban Lau Reung, salah satu restoran di Prachinburi, Thailand menyediakan aneka menu makanan serba ganja. Restoran ini merupakan tempat makan pertama di negeri gajah, setelah pada tahun 2018 pemerintah setempat melegalisasi penggunaan ganja untuk medis.

Pada akhir 2020 Thailand menjadi negara pertama di Asia yang memperbolehkan ganja dikonsumsi secara bebas. Dengan ketentuan kandungan THC (tetrahydrocannabinol–senyawa prikoatif dalam ganja) kurang dari 0,2 persen. Legalisasi ganja di Thailand ini membuat akar,cabang atau batang ganja kering yang sebelumnya dianggap sampah, menjadi mahal harganya.

Warga setempat boleh menikmati dan mengolah ganja secara legal baik akar, batang, daunnya untuk makanan dan kosmetik. Begitu juga dengan restoran Ban Lau Reung, mereka menyediakan telur dadar yang dihiasi dengan daun marijuana, sup dengan bumbu daun ganja kering dan sebagainya.

Penggunaan ganja dalam makanan di Thailand sebetulnya telah lama dilakukan, yakni sejak 1934.Hanya saja karena tekanan internasional, pencampuran ganja dalam makanan dilarang.

Menurut penuturan Sombat Kowtraul, direktur program Ban Lao Reung, daun ganja sudah digunakan untuk resep kari belut, seperti tertulis dalam buku resep masakan “Mae Khrua Hua Pa” yang cetak pertama tahun 1908. Dimungkinkan bahwa penggunaan ganja untuk pengobatan dan makanan di Thailand telah terjadi jauh sebelum tahun tersebut.

Ganja telah digunakan sebagai pengobatan sejak Kerajaan Sukhothai (1239-1438) ujar Dr. Waleerat Kraikosol, Wakil Direktur Medis Rumah Sakit Chao Phraya Abhaibhubejhr, melansir tulisan atlasobcura.com.

Sejak restoran Ban Lau Reung meluncurkan aneka makanan dan minuman seperti, sup, mie, pizza, buble tea, dll berbahan ganja, langkah yang sama dilakukan beberapa restoran di Thailand, menyajikan menu sejenis. (Sumber: atlasobcura)

Terkait
Bawa Ganja, Warga Negara Mesir Terjaring Razia Penyekatan Mudik

SIMALUNGUN (WARTADESA). - TIM Gabungan Ops Ketupat Toba 2021 Polres Simalungun, mengamankan satu Warga Negara Asing (WNA) berkebangsaan Mesir, MEEKI Read more

Tanam Ganja, Petani di Dolok Silau diringkus Polisi

DOLOK SILAU (WARTADESA). - DILAPORKAN warga menanam ganja diladangnya, MBRD alias Sani alias Raya (35) warga Dusun Huta Saing Desa Mariah Read more

Bawa Ganja, Remaja ini Diringkus Polres Pematangsiantar dari Tepi Jalan

PEMATANGSIANTAR (WARTADESA). - LAGI lagi anak remaja terlibat Narkoba. I alias Ihk (18) warga Kelurahan Bantan Kecamatan Siantar Barat di Read more

Ambil paket ganja dari ekspedisi, Kamal dibekuk Polisi

Kajen, WartaDesa. - Kamaludin alias Arab (25) warga asal Buaran, Pekalongan, dibekuk anggota Sat Narkoba Polres Pekalongan, Senin (07/09) saat Read more

selengkapnya
Jalan-jalan

Menikmati jetski di Pantai Batang musti rogoh kocek Rp 500 ribu

jetski

Batang, Wartadesa. – Pantai Sigandu Batang bakal menambah wahana olahraga pantai, jetski. Kemungkinan hadirnya wahana bagi kalangan menengah keatas di pantai tersebut masih menunggu proses perijinan, setelah sebelumnya di tempat yang sama sudah hadir banana boat.

“Banana boat sudah ada izinnya, dan jetski saya kira oke tinggal diurus  izinnya agar safety sehingga pengunjung nyaman,” ujar Bupati Batang, Wihaji. Usai menerima kunjungan dari komunitas pencinta  olahraga jetski dari Batang dan Kota Semarang Sabtu (3/4/2021).

Untuk menikmati wahana jetski, nantinya penyewa bakal merogoh kocek sedikitnya setengah juta rupiah untuk satu jamnya. Berbeda dengan wahana banana boat yang harga sewanya Rp 25 ribu.

Usai mencoba jetski, Wihaji menyatakan siap berkordinasi dan konsultasikan dengan Taman Safari Dholpin Center Batang untuk menambah wahana jetski di pantai Sigandu Batang, meski harga satu unit jet ski termasuk mahal.

“Kalau saya penambahan waham jetski di Pantai Sigandu sangat merekomendasikan untuk fun karena ombaknya sedang. Saya minta juga Disparpora bisa bersinergi dengan komunitas jet ski untuk bisa menjadi salah satu fasilitas wisata di Batang ,” lanjut Wihaji.

Selain Pantai Sigandu, menurut Wihaji, pantai lain yang direkomendasikan untuk olahraga jetski yakni, Pantai Ujungnegoro, Pantai Kuripan Subah dan pantai Jodo Gringsing, “karena pangsa pasarnya ada deket dengan PLTU dan Kawasan Industri Terpadu Batang (KITB),” pungkas Wihaji.

Sementara itu, Dinas Pariwisata Pemuda dan Olahraga (Disparpora) Kabupaten Batang, Wahyu Budisantoso mengungkapkan siap menambah wahana jetski untuk promosi dalam meningkatkan pengunjung objek wisata Pantai di Kabupaten Batang.

“Jetski untuk kalangan menengah ke atas atau premium kalau banana boat untuk kalangan menengah ke bawah karena murah dan dapat dinikmati,” ujar Wahyu.

Menurut Wahyu untuk waktu 1 jam berkisaran Rp 500 ribu ke atas. Sedangkan banana boat nya satu orang hanya dikenakan harga Rp 25 ribu. “Uang sewa jetski sebenarnya tidak rugi bagi orang yang menikmati. Makanya wahana baru ini kita rintis dulu dengan komunitas,” katanya. (Eva Abdullah)

Terkait
ESENSI KE PANTAI,YANG TAK LAGI RASA ‘PANTAI’

Kalau dengar kata Pantai Sigandu, pasti yang terbesit dipikiran kita hamparan pasir yang luas, dan desiran ombak laut yang damai. Read more

Hidup sebatangkara, kakek ini makan seadanya

Batang, Wartadesa. - Tinggal sebatangkara, di rawa-rawa sebelah timur Mencawak, Sigandu Kabupaten Batang dengan gubuk berdinding terpal, itulah kondisi kakek Ra'adi Read more

Tim Gabungan Evakuasi Anak Tenggelam di Sungai Kupang

Batang, Wartadesa. - Tim Pencari dari Basarnas Jateng, TNI, Polri, BPBD Batang bersama relawan dan dibantu warga, akhirnya anak yang Read more

Harga Kebutuhan Pokok di Batang Masih Tinggi

Batang, Wartadesa. - Harga kebutuhan pokok di Kabupaten Batang saat ini mengalami kenaikan, seperti minyak goreng, cabai, bawang merah, dan Read more

selengkapnya
Jalan-jalan

Durian Gendis menangkan Kontes Durian Unggul III Kecamatan Karanganyar

lolong

Karanganyar, Wartadesa. – Durian Gendis Desa Pedawang, Kecamatan Karanganyar, Pekalongan memenangkan Kontes Durian Unggul ke-3 Kecamatan Karanganyar. Gelaran kontes durian lokal tersebut memakan delapan pekan proses penjurian dan diumumkan Sabtu (06/03).

Panitia Kontes Durian Unggul Tingkat Kecamatan Karanganyar Tuby Hartoyo mengatakan, ada 35 petani durian lokal yang mengikuti kontes tersebut. Juara pertama diraih oleh Sutrisno asal Desa Pedawang dengan Durian Gendis, juara kedua diraih oleh Taryali dari Desa Lolong dengan Durian Vino dan juara ketiga disabet ole Abdul Basir dari Desa Lolong dengan varian Durian Krikil.

Pada festival sebelumnya, Taryali meraih juara pertama dengan varian durian lokal Durian Putu Kembang.

Sedang, juara harapan 1 diraih jenis Durian Waris atas nama Restu, harapan 2 Durian Nanas atas nama Anas dan juara harapan 3 diraih Durian Pinggir atas nama Kusyanto.

Setiap even kontes durian lokal ditemukan varian durian unggul, termasuk pada gelaran kemarin, ada durian yang ketebalan dagingnya sampai dua cm dengan warna yang bagus. Plt Kadis Ketahanan Pangan dan Pertanian Kabupaten Pekalongan, Tauhid Margono berharap varietas unggul durian lokal dapat terus ditingkatkan.

“kita harapkan ada varietas durian unggul yang bisa menjadi ikon durian Kabupaten Pekalongan, dan dapat dikembangkan di kecamatan-kecamatan yang potensial ditanami durian,” ujar Tauhid.

Panitia Kontes Durian Unggul Tingkat Kecamatan Karanganyar Tuby Hartoyo mengatakan, ada 35 petani durian lokal yang mengikuti kegiatan ini. “kegiatan seperti ini sudah kali ketiga dilaksanakan. Khusus tahun ini karena pandemi, kita laksanakan secara sederhana, mematuhi protokol kesehatan,” paparnya.

Menurut Hartoyo, kontes yang dihelat bisa menaikkan harga jual durian.  “sebelumnya durian dari petani biasa dijual murah, dengan adanya kontes durian bisa dijual lebih tinggi. Tentu ini menguntungkan petani dari sisi ekonomi. Dan semoga durian dengan jenis terbaik bisa terus dikembangkan dan menjadi andalan Kabupaten Pekalongan. Karena durian kita tidak kalah dari segi rasa, cuma kalah dari segi nama,” katanya.

Wilayah Penghasil Durian Lokal Pekalongan

Berdasarkan data angka Kabupaten Pekalongan, jumlah tanaman durian pada tahun 2017 sebanyak 149.008 pohon, dan pada tahun 2018 triwulan II sebanyak 4.268 pohon. Tanaman yang berproduksi pada triwulan II tersebut berada di kecamatan Paninggaran, Lebakbarang, Wonopringgo dan Kedungwuni. Jarak tanam yang digunakan adalah 10×10 dengan populasi 100 pohon/ha. Panen terjadi pada bulan Januari – Maret.

Durian lokal pekalongan setiap satu  pohonnya bisa menghasilkan 250-300 butir, bahkan ada yang mampu menghasilkan 500 butir per pohonnya.

Zakaria, pemilik pohon durian Lolong menyampaikan bahwa durian Lolong adalah durian lokal yang belum disertifikasi sehingga dirinya mengharapkan bantuan pemerintah untuk mensertifikasi varietas durian lolong agar diakui secara nasional sehingga durian tersebut dapat terus dikembangkan untuk mendapatkan mutu dan jumlah hasil panen yang lebih baik dan bisa menjadi oleh-oleh khas Kabupaten Pekalongan.

Sedikitnya terdapat 13 jenis durian unggul di Indonesia antara lain Bido, Bawor, Matahari, Namlung, Pelangi, Serombut, Super Tembaga, Petruk, Pelangi, Madu Racun, Malika, Merah Banyuwangi, Lai Mahakam dan jenis lainnya.

Durian yang sering dicari adalah jenis Petruk, Sitokong, dan Matahari, dan Pelangi Manokwari.

Durian lokal Pekalongan yang sering dicari adalah Durian Ketan dan Matahari. Durian ini dibudidayakan oleh petani di wilayah Rogoselo dan Talun.

Durian matahari merupakan durian langka dan hanya Wasro yang berhasil membudidayakan. Sehingga ketika pembeli menanyakan varian durian tersebut, langsung diajaknya untuk memilih sendiri durian sudah matang lalu langsung makan di kebunnya. Daging tebal dan manis Durian matahari ini asalnya dari Jawa Barat. Dinamakan matahari karena dagingnya kuning seperti pancaran sinar matahari dan berbiji kecil.

Harga untuk satu kilo durian matahari dibendrol Rp 75.000. Durian matahari rata-rata berbobot 2 kg sampai 3 kg. Pohon durian matahari tumbuh dengan tinggi maksimal 3 meter dan 4-5 tahun baru bisa berbuah. Spesialnya lagi, durian matahari baunya tidak menyengat. Jadi kalau dibawa di dalam mobil tidak terlalu bau durian.

Durian Ketan  merupakan durian asli dari Desa Lemahabang. Durian lokal asli desa ini jika dibuka dagingnya berwarna putih kekuningan, berdaging tebal serta baunya yang menyengat begitu menggugah selera.

Varian durian lokal Pekalongan lainnya adalah Durian Boyo yang dikembangkan di Doromantek, Doro, Pekalongan.  Keunggulan durian boyo antara lain postur besar bisa mencapai 5-6 kg per butir, warna kuning, daging tebal, rasa manis, legit, dan enak, harum, kulit tidak mudah merekah dan bisa untuk pengiriman luar kota bahkan bisa tahan hingga 3 hari setelah jatuh.

Dalam setiap gelaran festival durian di Kabupaten Pekalongan selalu didapati varian baru. Pemkab melalui dinas terkait seyogyanya melakukan pendataan seluruh varian durian lokal dan membantu para petani durian  untuk melakukan sertifikasi.

Sertifikasi itu perlu dilakukan tidak hanya untuk menegaskan ciri durian khas Pekalongan, tapi juga untuk meningkatkan nilai dari seluruh jenis durian lokal yang ada di Pekalongan. (Bono)

Terkait
Jalan Kurinci Ditertibkan, Lapak Kakilima Hanya Di Sisi Barat

Kota Pekalongan, Wartadesa. - Pedagang kakilima yang berada di sisi Timur ruas Jalan Kurinci Kota Pekalongan ditertibkan oleh petugas Polisi Read more

Beredar Leaflet “Protes” di SWMK Kedungwuni

Kedungwuni, Wartadesa. - Puluhan leaflet berisi kekecewaan dari pecinta sepak bola Kota Santri tertempel di pintu masuk stadion widya manggala Read more

Sekda Pekalongan: Kita Serius Siapkan SDM dan Sarpras Olahraga

Kajen, Wartadesa. - Pemerintah Kota Santri, Pekalongan berjanji akan lebih serius dalam membangun bidang keolahragaan, termasuk penyiapan sumber daya manusia Read more

Petakan Pemerataan Daging Qurban, Lazismu Pekalongan Salurkan Sapi di Podosari Kesesi

Pekalongan, Wartadesa. – Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Pekalongan, menyalurkan program bantuan hewan qurban di Masjid Read more

selengkapnya
Jalan-jalan

Santai sambil menikmati Lutung Jawa bersantai

lutung jawa (swara owa)

Rapatnya pepohonan Sokokembang Petungkriyono menjadikan hutan ini menjadi habitat alami Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Hewan yang terancam punah dan dilindungi berdasarkan UU no 5 Tahun 1990, tentang konservasi sumberdaya alam hayati dan Permenhut no P.106 /MENLHK/SETJEN/KUM.1/12/2018.

Primata endemik yang biasa hidup berkelompok ini masih dapat kita jumpai di perjalanan menjelajah ruas Petungkriyono. Sesekali Lutung Jawa turun ke tanah atau jalanan untuk memangsa serangga, meski makanan utamanya adalah dedaunan.

Kelompok primata Lutung Jawa biasanya terdiri dari dua sampai dengan 15 individu. Saat ini masih ada enam kelompok yang mudah dijumpai di rerimbunan pohon Petungkriyono.  Dalam tiap kelompok, terdiri dari satu jantan dewasa dan beberapa betina (polyginous).

Mereka mudah diamati di pinggir jalan, tanpa merasa terganggu. Namun demikian, kita harus menjaga jarak dan tidak membuang sampah sembarangan untuk tetap menjadikan hutan Sokokembang tetap natural.

Aktivitas Lutung Jawa lebih banyak beristirahat yang digunakan untuk mencerna makanan yang dikonsumsinya. Pencernaannya hampir menyerupai ruminant, lambung bersekat-sekat dengan bantuan bakteri pencernaan untuk mencerna daun-daun. Meskipun terlihat tidur rebahan di cabang pohon, Lutung -lutung ini sebenarnya sedang mencerna makanannya.

Aktivitas lainnya yakni petan (mencari kutu_jawa), merupakan aktivitas sosial kawanan Lutung Jawa untuk membersihkan badan, memperkuat ikatan kelompok dan juga melepas ketegangan atau stress.

Pengamatan yang dilakukan oleh aktivis lingkungan swaraowa, selama Februari 2021 ditemukan enam betina yang sedang menggendong bayi. Bayi Lutung Jawa berwarna orange, kemudian berubah menjadi hitam dalam waktu 2,9 bulan. Perubahan warna ini merupakan bentuk adaptasi dan evolusi dimana semua anggota Lutung Jawa dalam kelompok akan mudah mengawasi dan melindungi bayi Lutung Jawa dari ancaman predator atau gangguan lainnya.

Beberpa kali perjalanan ke Petungkriyono, Lutung Jawa sering muncul di lapangan dekat SMA Negeri 1 Petungkriyono pada sore hari. Jika kalian ingin bersantai sambil menikmati sejuknya udara dan kawanan primata ini bersantai, tidak ada salahnya untuk datang. (Bono)

 

Terkait
Kapolsek Petungkriyono Ingatkan Penyalahgunaan Dana Desa Akan Berhadapan Hukum

Petungkriyono, Wartadesa. - Kapolsek Petungkriyono, Iptu Felix Prasetyawan mengingatkan para kepala desa untuk tidak menyalahgunakan anggaran Dana Desa (ADD) karena Read more

Petani Petungkriyono ramai-ramai babat pohon kopi, ganti dengan kapulaga

MENJAMURNYA cafe yang menyediakan aneka minuman kopi 'mahal' di Pekalongan saat ini, tidak berkorelasi dengan petani kopi, khususnya petani kopi Read more

Selamatkan hulu Kali Kupang, Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono gelar aksi konservasi

Petungkriyono, Wartadesa. - Perhutani KPH Pekalongan Timur, Cabang Dinas Kehutanan 4 Jawa Tengah dan SwaraOwa, menginisiasi aksi konservasi hutan dengan Read more

Hilang dua hari, pemancing asal Kayupuring ditemukan meninggal

Petungkriyono, WartaDesa. - Warga Dukuh Tinalum, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan berinisial (S) 50) yang hilang dua hari saat berpamitan memancing Read more

selengkapnya
Jalan-jalanSosial Budaya

Pusat Kuliner Gemek Plaza kotor dan kumuh

gemek

Kedungwuni, Wartadesa. – Minimnya kebersihan di Pusat Kuliner Gemek Plaza (lapangan Gemek) Kedungwuni membuat area dengan ratusan pedagang UMKM tersebut terlihat kotor dan kumuh. Para pedagang membuang sampah tidak pada tempatnya disinyalir menjadi penyebab kekumuhan di obyek wisata kuliner kebanggaan warga Kota Santri.

Hal tersebut terungkap dalam rapat penataan Pasar Gemek sebagai tindak-lanjut kunjungan kerja Wakil Bupati Pekalongan, Jum’at (15/01). Rapat dihadiri oleh Sekcam Kedungwuni, Kakel.Kedungwuni Barat, Pengelola Pasar Gemek, Pengurus PPKG, Babinsa dan Bhabinkamtibmas Kel. Kedungwuni Barat yang sekaligus mewakili Kapolsek yang berhalangan hadir.

Terjadi over kapasitas pedagang yang berjualan pada hari Jum’at dan Ahad, sehingga rawan penularan Covid-19. Hal tersebut perlu dilakukan pendisipinan protokol kesehatan Covid-19.

Selain penerapan prokes, minimnya kebersihan lingkungan Pusat Kuliner Gemek, pengelola dan pengurus PPKG diharapkan mengupayakan kualitas, kebersihan dan ketertiban pasar Gemek mulai Senin (18/01) mendatang.

Setelah kegiatan berjualan, gerobak atau tempat berdagang segera dibongkar atau dibawa pulang dan tempat tersebut dibersihkan, tidak meninggalkan sampah di lokasi.

Rapat juga memutuskan, para pengelola akan mengambil tindakan tegas dengan mengedepankan pendekatan humanis agar para pedagang segera mentaati aturan agar tercipta lingkungan yang sehat dan terbebas dari Cobid-19. (Bono)

Terkait
Yayasan Setia Pejuang Pantura Salurkan Bantuan Kepada Warga Terdampak Covid-19

Kab Pekalongan, Wartadesa. - Masih adanya Virus Covid – 19 dan disertai cuaca ekstrim beberapa hari yang lalu di wilayah Read more

Aaf prioritaskan penanganan banjir dan rob, Agung benahi infrastruktur

Program 100 hari Pekalongan, Wartadesa. - Afzan Arslan Djunaid (Aaf)-Salahudin, Walikota dan Wakil Walikota Pekalongan memasukkan penanganan banjir dan rob Read more

WarungMu gratis hari ini dibuka

Kajen, Wartadesa. - Pimpinan Daerah Muhammadiyah dan Aisyiyah Kabupaten Pekalongan hari ini, Jum'at (26/02) akan membuka warung gratis untuk dhuafa, Read more

3.700 warga Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di pengungsian

Pekalongan, Wartadesa. - Sedikitnya 3.700 warga terdampak banjir di Kabupaten Pekalongan dan 2.351 warga Kota Pekalongan masih bertahan di beberapa Read more

selengkapnya