close

Kesehatan

KesehatanOpini

Menjaga Kesehatan Mental Generasi Muda: Peran Mahasiswa dalam Mewujudkan Kehidupan Sehat Menuju Indonesia Emas 2045

WhatsApp Image 2026-09-06 at 08.41.17

Oleh: Ratriana Kamilatul Rifa

Kesehatan merupakan salah satu bagian penting bagi kehidupan manusia.Saat berbicara tentang kesehatan, perhatian sering kali lebih banyak ditujukan kepada kesehatan fisik. Padahal, kesehatan mental juga memiliki peranan yang tidak kalah penting. Seseorang dapat terlihat sehat secara fisik, tetapi belum tentu memiliki kondisi mental yang baik. Tekanan kehidupan, tuntutan pendidikan, permasalahan keluarga, lingkungan pertemanan, hingga pengaruh media sosial dapat menjadi tantangan yang memengaruhi kondisi mental seseorang, khususnya generasi muda. Berdasarkan survei yang dilakukan oleh Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS) pada tahun 2022, menunjukkan bahwa sebanyak 15,5 juta atau sekitar 34,9% remaja mengalami masalah kesehatan mental, di mana seluruh sampel penelitian tersebut berfokus pada kelompok anak usia 10–17 tahun.

Isu kesehatan mental juga berhubungan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) poin ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). Tujuan tersebut menjadi salah satu bagian dari 17 tujuan pembangunan berkelanjutan yang perlu didukung oleh berbagai pihak, termasuk mahasiswa.

Menurut saya, untuk membangun Indonesia yang sehat tidak cukup hanya dengan meningkatkan fasilitas kesehatan atau mencegah penyakit fisik. Namun perhatian terhadap kesehatan mental juga perlu ditingkatkan. Generasi muda yang sehat secara fisik dan mental akan lebih mampu belajar, berkarya, beradaptasi, serta berkontribusi untuk masyarakat. Oleh karena itu, mahasiswa memiliki kesempatan ikut mengambil peran dalam meningkatkan kesadaran mengenai pentingnya kesehatan mental.

Masa remaja hingga awal masa dewasa merupakan periode ketika seseorang mengalami berbagai perubahan dan mulai menghadapi tanggung jawab yang lebih besar. Mahasiswa, misalnya, tidak hanya dituntut untuk mengikuti kegiatan perkuliahan, tetapi juga harus mampu beradaptasi dengan lingkungan baru, mengatur waktu, menyelesaikan tugas, membangun relasi, dan mulai memikirkan masa depan.

Berbagai tuntutan tersebut terkadang dapat menimbulkan tekanan. Sayangnya, sekarang masalah kesehatan mental masih sering dianggap sepele. Seseorang yang sedang mengalami tekanan mungkin justru diminta untuk “bersabar” atau “jangan terlalu memikirkan masalah”. Padahal, setiap orang memiliki kemampuan yang berbeda-beda dalam menghadapi suatu permasalahan.

Kurangnya pemahaman mengenai kesehatan mental juga dapat membuat seseorang merasa takut untuk bercerita. Padahal, memiliki seseorang yang dapat dipercaya untuk menjadi tempat berbagi dapat membantu seseorang merasa tidak sendirian dalam menghadapi masalahnya.

Oleh karena itu, menciptakan lingkungan yang lebih terbuka terhadap pembicaraan mengenai kesehatan mental menjadi hal yang penting. Membicarakan tentang kesehatan mental bukan berarti seseorang lemah. Sebaliknya, kesadaran untuk mengenali kondisi diri dan mencari bantuan ketika diperlukan adalah bagian dari upaya menjaga kesehatan.

Mahasiswa merupakan bagian dari generasi intelektual yang diharapkan memiliki kepedulian terhadap persoalan masyarakat. Dalam isu kesehatan mental, mahasiswa dapat mulai perubahan dari lingkungan terdekat. Salah satunya seperti meningkatkan literasi kesehatan mental. Mahasiswa dapat membuat kegiatan edukasi sederhana melalui organisasi kampus, media sosial, diskusi, maupun kegiatan pengabdian kepada masyarakat.

Mahasiswa juga dapat menjadi teman yang lebih peduli. Ketika ada teman yang sedang menghadapi masalah, kita dapat belajar untuk mendengarkan tanpa langsung menghakimi atau meremehkan perasaannya. Namun, mahasiswa juga perlu memahami batasannya. Menjadi teman yang mendukung itu bukan berarti dapat menggantikan peran tenaga profesional, jika ada seseorang membutuhkan bantuan lebih lanjut, kita dapat mendorongnya untuk mencari bantuan dari pihak yang tepat.

Selain itu, media sosial dapat dimanfaatkan sebagai sarana menyebarkan informasi yang benar mengenai kesehatan mental. Konten sederhana seperti cara mengelola stres, pentingnya beristirahat, membangun kebiasaan hidup sehat, dan mengenali kapan seseorang membutuhkan bantuan dapat menjadi langkah kecil untuk meningkatkan kesadaran masyarakat.

Salah satu langkah yang dapat dilakukan mahasiswa adalah memanfaatkan keberadaan UKM PIKMA Sahabat yang berfokus pada konseling mahasiswa dan kesehatan mental. UKM ini dapat menjadi wadah bagi mahasiswa untuk mendapatkan informasi, dukungan, dan ruang untuk berbagi mengenai berbagai masalah yang dihadapi selama perkuliahan. Mahasiswa juga dapat ikut mengenalkan PIKMA Sahabat kepada mahasiswa lain melalui media sosial maupun kegiatan kampus. Dengan begitu, kepedulian terhadap kesehatan mental dapat dimulai dari lingkungan kampus sendiri.

Kesehatan mental merupakan bagian penting dari kehidupan sehat dan sejahtera. Maka itu, perhatian terhadap kesehatan mental perlu menjadi bagian dari upaya mencapai SDGs poin ke-3 sekaligus mempersiapkan generasi yang mampu berkontribusi dalam mewujudkan Indonesia Emas 2045.

Mahasiswa tidak harus menunggu menjadi seorang ahli untuk berkontribusi. Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana dengan meningkatkan pengetahuan, mengurangi stigma, menjadi pendengar yang baik, menyebarkan informasi yang benar, dan mengajak lingkungan sekitar untuk lebih peduli terhadap kesehatan mental.

Pada akhirnya, Indonesia Emas 2045 tidak hanya tentang generasi yang memiliki kemampuan akademik dan teknologi, tetapi juga generasi yang sehat, peduli, dan mampu menjaga kesejahteraan dirinya serta orang-orang di sekitarnya. ***

 

Referensi: Indonesia National Adolescent Mental Health Survey. (2022). Laporan Indonesia National Adolescent Mental Health Survey (I-NAMHS): Kesehatan Mental Remaja di Indonesia. Universitas Gadjah Mada.

Penulis adalah mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Prodi S1 Keperawatan dengan NIM 202602030002  Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

 

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Farmasi UMPP Gelar PPSW 2026, Tingkatkan Kompetensi IV Admixture dan TPN

berita web(2)

PEKALONGAN, WARTADESA. — Program Studi Sarjana Farmasi, Fakultas Ilmu Kesehatan (FIKES), Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) menyelenggarakan Professional Pharmacy Skills Workshop (PPSW) 2026 pada 27–28 Agustus 2026. Agenda ini digelar sebagai upaya meningkatkan kompetensi lulusan Sarjana Farmasi dan calon apoteker dalam menghadapi kebutuhan praktik kefarmasian di dunia kerja.

Workshop bertema “Peningkatan Kompetensi IV Admixture dan Total Parenteral Nutrition (TPN) bagi Lulusan Sarjana Farmasi dan Calon Apoteker” ini dilaksanakan di tiga lokasi, yaitu Ruang Teater Lantai 7 Rektorat UMPP, Ruang Demonstrasi Kampus 2 FIKES UMPP, serta Laboratorium Farmasi FIKES UMPP.

Penyelenggaraan PPSW 2026 dilatarbelakangi oleh pesatnya perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang kefarmasian. Kondisi tersebut menuntut tenaga kefarmasian tidak hanya menguasai teori, tetapi juga memiliki keterampilan praktik, kemampuan beradaptasi, serta komitmen terhadap keselamatan pasien.

Melalui kegiatan ini, peserta mendapatkan pembelajaran yang memadukan teori, demonstrasi, simulasi, dan praktik langsung. Dalam pelaksanaannya, UMPP menggandeng RS Telogorejo Semarang dengan menghadirkan instruktur praktisi, yaitu Rendy Priya Utama dan Eko Hadi P.

Materi workshop meliputi:

  • Prinsip penyiapan sediaan steril.

  • Penggunaan Laminar Air Flow (LAF) dan Biological Safety Cabinet (BSC).

  • Penentuan ketepatan dosis dalam pelayanan obat intravena.

  • Perhitungan Total Parenteral Nutrition (TPN) untuk pasien pediatri, geriatri, dan kondisi khusus.

  • Praktik pencampuran obat intravena, termasuk untuk kemoterapi.

Kegiatan ini diikuti oleh 61 peserta yang terdiri atas mahasiswa tingkat akhir Program Studi Sarjana Farmasi (yang diyudisium pada 28 Agustus 2026), mahasiswa Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker, serta dosen Program Studi Sarjana Farmasi.

Siapkan Lulusan Unggul dan Berdaya Saing

PPSW 2026 diharapkan dapat meningkatkan pengetahuan dan keterampilan peserta dalam pelayanan IV admixture, TPN, compounding, serta dispensing obat. Pembelajaran langsung bersama praktisi rumah sakit ini menjadi sarana untuk meningkatkan kesiapan lulusan sebelum memasuki dunia kerja maupun melanjutkan ke jenjang profesi.

Kegiatan ini sekaligus menjadi langkah nyata UMPP dalam mewujudkan lulusan yang unggul, adaptif, berdaya saing, dan berlandaskan nilai-nilai Islam. Selain itu, penyelenggaraan PPSW 2026 memperkuat sinergi antara institusi pendidikan dan rumah sakit sebagai wahana pembelajaran praktik yang berkelanjutan. ***

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Dosen UMPP Dampingi Ibu Hamil Berisiko dari Tingkat Desa

berita web(1)

Oleh: Bdn. Suparni, SST., M.Kes., Bdn. Nina Zuhana, SST., M.Kes., dan Laily Lolita Sari, M.Psi., Psikolog

Pendampingan ibu hamil tidak cukup berhenti di ruang pemeriksaan. Ketika kader diperkuat, keluarga dilibatkan, dan tenaga kesehatan menjadi tempat berkoordinasi, dukungan terhadap ibu hamil dapat dibangun lebih dekat dari lingkungan tempat mereka tinggal.

Tidak semua kehamilan berjalan dengan tenang. Bagi ibu hamil dengan faktor risiko, setiap pemeriksaan dapat membawa harapan sekaligus kekhawatiran. Ada pertanyaan tentang kondisi ibu dan bayi, kekhawatiran menghadapi persalinan, hingga kebutuhan akan dukungan dari orang-orang terdekat.

Dalam situasi seperti ini, ibu tidak cukup hanya mendapatkan pemeriksaan medis. Mereka juga membutuhkan pendampingan yang membuat merasa didengar, dipahami, dan tidak menghadapi kehamilan seorang diri.

Dari kebutuhan tersebut, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) BERSERI (Bersalin Sehat dan Percaya Diri melalui Paket Psikososial Care Terintegrasi) hadir di Desa Rengas, wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni II, Kabupaten Pekalongan. Program ini merupakan bentuk pendampingan bagi ibu hamil dengan faktor risiko yang dilaksanakan secara langsung di masyarakat.

Program berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026 dengan melibatkan 10 kader kesehatan, 10 ibu hamil dengan faktor risiko, serta 10 suami. Kegiatan ini memperoleh pendanaan melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.

Memperkuat Kader sebagai Pendamping

Sebanyak 10 kader kesehatan dilibatkan untuk mendapatkan penguatan kapasitas sebagai pendamping ibu hamil. Pembekalan diberikan melalui materi mengenai kehamilan dengan faktor risiko, tanda bahaya dan persiapan persalinan, pendampingan psikologis, relaksasi dan afirmasi positif, serta peran suami dan dukungan keluarga.

Kader juga dibekali panduan untuk menjalankan perannya sebagai fasilitator dalam mendampingi ibu hamil dengan faktor risiko.

Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi. Pengetahuan kader dievaluasi sebelum dan sesudah pembekalan. Hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata 80, kemudian meningkat menjadi 96 pada post-test. Artinya, terdapat peningkatan sebesar 16 poin setelah kader mendapatkan pembekalan.

Peningkatan pengetahuan tersebut menjadi modal awal bagi kader untuk menerapkan keterampilan yang telah dipelajari dalam pendampingan. Kader tidak ditempatkan sebagai pengganti tenaga kesehatan, melainkan sebagai pihak yang berada lebih dekat dengan ibu dan dapat membantu memberikan edukasi, melakukan pemantauan sederhana, mengenali kondisi yang perlu diperhatikan, serta menghubungkan ibu dengan bidan ketika diperlukan.

 Sepuluh Ibu Hamil Mendapatkan Pendampingan

Sasaran utama Program BERSERI adalah 10 ibu hamil dengan faktor risiko. Mereka mendapatkan pendampingan melalui edukasi, kunjungan, pemantauan, serta dukungan psikososial.

Pendampingan diarahkan agar ibu tidak hanya mengetahui kondisi kehamilannya, tetapi juga memahami apa yang perlu dilakukan dan kapan harus mencari bantuan tenaga kesehatan.

Pelatihan kader tidak berhenti di ruang pertemuan. Setelah mendapatkan pembekalan, 10 kader mempraktikkan keterampilan pendampingan dengan masing-masing melakukan pendampingan dan monitoring kepada dua ibu hamil. Dari proses tersebut diperoleh 20 data monitoring yang menggambarkan penerapan keterampilan kader di lapangan.

Kader menggunakan modul dan formulir monitoring sebagai alat bantu dalam proses pendampingan. Melalui instrumen tersebut, berbagai aspek dipantau, seperti pemeriksaan kehamilan, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), keluhan ibu, faktor risiko, kebutuhan edukasi, serta tindak lanjut yang diperlukan.

Ketika Kader Mengenali, Bidan Menindaklanjuti

Pendampingan di tingkat masyarakat juga memiliki arti penting dalam menemukan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Hasil monitoring menunjukkan bahwa 100% ibu hamil telah melakukan ANC sesuai jadwal dan mengetahui jadwal pemeriksaan berikutnya. Sebanyak 90% mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran, dan 80% tidak mengalami keluhan setelah mengonsumsinya. Namun, baru 40% ibu hamil yang mendapatkan edukasi terkait faktor risiko kehamilan, sementara 65% masih memerlukan koordinasi lebih lanjut dengan bidan dan 35% ditemukan memiliki keluhan atau tanda bahaya yang memerlukan pemantauan lebih lanjut. Hasil ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi, pendampingan, dan koordinasi dengan tenaga kesehatan secara berkelanjutan.

Namun, batas peran tetap menjadi hal penting. Kader tidak melakukan diagnosis atau menggantikan bidan. Kader berperan dalam pengamatan awal, memberikan edukasi sesuai kemampuan, dan menyampaikan informasi kepada bidan.

Dengan pola seperti ini, ibu hamil memiliki dukungan yang lebih dekat di lingkungan tempat tinggalnya, sementara bidan tetap menjadi tenaga kesehatan yang melakukan tindak lanjut sesuai kondisi ibu.

Dalam proses pendampingan, materi edukasi juga diberikan sesuai kebutuhan. Hasil monitoring mencatat edukasi mengenai faktor risiko kehamilan sebagai materi yang paling banyak diberikan, disusul nutrisi ibu hamil, tanda bahaya, pemeriksaan kehamilan, TTD, dukungan suami dan keluarga, serta persiapan persalinan.

Kehamilan Juga Membutuhkan Ketenangan

BERSERI tidak hanya memandang kehamilan dari sisi fisik. Program ini memasukkan pendekatan psikososial melalui relaksasi dan afirmasi positif.

Ibu hamil diajak melakukan latihan sederhana untuk membantu menciptakan suasana yang lebih tenang serta membangun keyakinan positif dalam menjalani kehamilan dan mempersiapkan persalinan.

Paket pendampingan juga dilengkapi dengan musik relaksasi dan aromaterapi. Keduanya digunakan sebagai bagian dari suasana relaksasi dan bukan sebagai pengganti pemeriksaan maupun penanganan medis.

Ibu diperkenalkan dengan pengalaman relaksasi yang dapat dilakukan kembali di rumah sesuai kondisi dan kenyamanannya.

Pendekatan ini menjadi salah satu kekhasan BERSERI. Ibu tidak hanya diajak memahami faktor risiko yang dimiliki, tetapi juga mendapatkan ruang untuk beristirahat sejenak, mengatur napas, membangun afirmasi positif, dan memperoleh dukungan emosional selama menjalani kehamilan.

Suami Tidak Hanya Menemani

Dalam Program BERSERI, 10 suami atau keluarga pendamping juga dilibatkan. Keterlibatan ini penting karena sebagian besar waktu ibu hamil berada di rumah, bukan di fasilitas kesehatan. Dukungan keluarga dapat menjadi bagian dari keseharian ibu dalam menjalani kehamilan.

Suami dapat membantu mengingatkan jadwal pemeriksaan, mendukung ibu mengikuti anjuran tenaga kesehatan, memperhatikan keluhan yang muncul, membantu persiapan persalinan, dan memberikan dukungan emosional.

Dengan memahami kondisi ibu, suami diharapkan tidak hanya hadir ketika terjadi masalah, tetapi menjadi bagian dari proses menjaga kesehatan ibu sejak masa kehamilan.

Keterlibatan keluarga juga membuat pesan kesehatan yang diberikan dalam program lebih mungkin diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dipelajari ibu dan suami dapat diteruskan di rumah melalui dukungan yang sederhana tetapi konsisten.

 Dari Desa untuk Keberlanjutan

Program BERSERI menunjukkan bahwa penguatan kesehatan ibu hamil dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan mereka. Kader yang mendapatkan pembekalan dapat membantu memberikan edukasi dan melakukan pemantauan. Ibu hamil mendapatkan pendampingan dan dukungan psikososial. Suami dan keluarga ikut terlibat, sementara bidan menjadi tempat koordinasi dan tindak lanjut ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan perhatian.

Tantangan setelah program selesai adalah bagaimana pengalaman tersebut tetap digunakan. Karena itu, modul edukasi, panduan kader, formulir monitoring, serta pengalaman yang diperoleh selama pendampingan diharapkan dapat menjadi bekal bagi kader dan mitra untuk melanjutkan kegiatan sesuai kebutuhan di Desa Rengas.

BERSERI pada akhirnya bukan sekadar rangkaian pelatihan, kunjungan, atau kegiatan relaksasi. Program ini mencoba membangun jejaring pendampingan ibu hamil yang melibatkan masyarakat, keluarga, dan tenaga kesehatan.

Sebab, menjaga ibu hamil dengan faktor risiko bukan hanya tugas ibu itu sendiri. Ketika kader hadir di lingkungan masyarakat, suami memberikan dukungan di rumah, dan bidan siap menjadi tempat koordinasi, ibu memiliki lebih banyak orang yang dapat membantu menjalani kehamilan dengan lebih siap.

Dari desa, pendampingan dimulai. Dari kader, dukungan diperkuat. Bersama keluarga dan tenaga kesehatan, ibu hamil didampingi untuk menjalani kehamilan dan mempersiapkan persalinan dengan lebih sehat dan percaya diri. ***

 

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
Kesehatan

Gandeng Muhammadiyah dan Berbagai Elemen, Polres Pekalongan Luncurkan Program Peduli Kaki Bermasalah

berita web

KAJEN, PEKALONGAN, WARTADESA. – Polres Pekalongan resmi meluncurkan program Polda Jateng Peduli CTEV (Congenital Talipes Equinovarus) atau penanganan kaki bermasalah (kaki pengkor), Selasa (18/8/2026). Acara yang berlangsung di Aula Setia Polres Pekalongan, Jalan Rinjani Nomor 1, Kajen ini menjadi wadah sinergi lintas sektoral untuk menangani isu kemanusiaan.

Dalam meluncurkan program tersebut, Polres Pekalongan menggandeng berbagai instansi dan organisasi masyarakat, mulai dari Dinas Kesehatan, Dinas Sosial, BPJS, Bidang Kesehatan Masyarakat, IDI, IBI, Baznas, hingga organisasi keagamaan seperti Muhammadiyah, NU, ‘Aisyiyah, dan Muslimat NU Kabupaten Pekalongan.

Investasi Masa Depan Generasi Muda

Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Drs. H. Mulyono (yang akrab sapa Pak Mul), hadir dan memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada Polres Pekalongan atas inisiatif kolaboratif ini.

“Kami menyampaikan terima kasih kepada Polres Pekalongan atas kepercayaan dan ruang sinergi yang diberikan kepada Muhammadiyah. Semoga Allah SWT selalu memberikan kemudahan dan keberkahan atas ikhtiar baik kita bersama,” ujar Pak Mul.

Menurut Pak Mul, penanganan kaki pengkor bukan sekadar penanganan medis biasa, melainkan langkah krusial yang berdampak langsung pada masa depan anak, rasa percaya diri, akses pendidikan, hingga kehidupan sosial dan ekonomi mereka kelak.

Ia menegaskan bahwa anak yang terlahir dengan keterbatasan fisik tidak boleh kehilangan kesempatan untuk tumbuh, belajar, bermain, dan meraih cita-citanya.

Memaksimalkan Jaringan hingga Akar Rumput

Sinergi di tingkat daerah ini merupakan tindak lanjut dari kerja sama (MoU) yang telah terjalin di tingkat pusat dan provinsi antara Pimpinan Pusat/Wilayah Muhammadiyah dengan Polri/Polda Jateng.

Pak Mul menekankan pentingnya peran jaringan Muhammadiyah yang luas—mulai dari rumah sakit, klinik, lembaga pendidikan, organisasi otonom, jaringan ranting, hingga Lazismu—sebagai perpanjangan tangan di lapangan.

  • Mata: Untuk menemukan dan mendata anak-anak yang membutuhkan pertolongan.

  • Tangan: Untuk mendampingi mereka mendapatkan pelayanan medis yang semestinya.

  • Hati: Untuk memastikan anak-anak dan keluarganya tidak merasa sendirian menghadapi kondisi tersebut.

Kolaborasi Nyata untuk Masyarakat

Menutup sambutannya, Pak Mul mengajak seluruh elemen yang hadir untuk mewujudkan kolaborasi nyata yang dampaknya langsung dirasakan oleh masyarakat, bukan sekadar kesepakatan di atas kertas.

“Negara dan masyarakat tidak boleh membiarkan seorang anak berjalan sendirian menghadapi keterbatasannya. Kita berharap ikhtiar ini menjadi jalan bagi lahirnya anak-anak yang lebih sehat, percaya diri, dan optimis menatap masa depan,” pungkasnya. (Nanang)

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya
KesehatanSosial Budaya

Angka Pernikahan Anak di Batang Melonjak: Pentingnya Remaja Pahami Risiko dan Jaga Batas Pergaulan

template berita foto warta desa(15)

WARTADESA, BATANG — Angka permohonan dispensasi kawin di Kabupaten Batang kembali menunjukkan tren peningkatan. Data Pengadilan Agama (PA) Batang mencatat, sepanjang Januari hingga Juli 2026 terdapat 206 permohonan dispensasi kawin, di mana 61 pasangan di antaranya merupakan anak di bawah umur—mayoritas remaja perempuan berusia 15 hingga 18 tahun. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencatat 156 permohonan.

Sebagian besar pengajuan ini dipicu oleh hubungan remaja yang melampaui batas hingga berujung pada kehamilan di luar nikah. Pemerintah Kabupaten Batang melalui DP3AP2KB bersama PA Batang, Puspaga, dan Kementerian Agama terus memperketat prosedur konseling serta edukasi guna menekan angka pernikahan anak demi masa depan generasi muda yang lebih baik.

Memahami Risiko Dini: Mengapa Pernikahan Anak Perlu Dicegah?

Pernikahan di usia remaja bukan sekadar pergantian status sosial, melainkan langkah besar yang membawa dampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan:

  • Kesehatan Reproduksi: Tubuh remaja, khususnya organ reproduksi perempuan, secara biologis belum siap sepenuhnya untuk mengandung dan melahirkan. Hal ini meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, stunting pada bayi, hingga kematian ibu dan anak.

  • Kesiapan Mental & Psikologis: Emosi remaja yang masih labil berisiko memicu ketidakharmonisan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga perceraian di usia muda.

  • Putus Sekolah & Ekonomi: Pernikahan dini kerap memaksa remaja berhenti mengejar pendidikan, yang berdampak langsung pada keterbatasan peluang kerja dan kesejahteraan ekonomi keluarga di masa depan.

Langkah Nyata Remaja: Bagaimana Cara Mencegahnya?

Mencegah pernikahan dini dimulai dari kesadaran diri sendiri. Berikut adalah langkah penting yang bisa diterapkan oleh para remaja:

1. Pahami Batas dalam Berpacaran

Menjaga pergaulan sehat adalah kunci utama. Tetapkan batasan yang jelas dan tegas (personal boundaries) dalam hubungan asmara agar tidak terjebak dalam perilaku berisiko yang memicu kehamilan di luar nikah.

2. Fokus Pada Pendidikan dan Cita-Cita

Gunakan masa muda untuk mengeksplorasi potensi diri, mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, dan merancang karier. Masa depan yang matang akan menjadi fondasi kuat saat kelak membina rumah tangga.

3. Asah Pemahaman Edukasi Seksual yang Benar

Cari informasi mengenai kesehatan reproduksi dan hak-hak anak dari sumber resmi dan terpercaya. Memahami konsekuensi biologis dan hukum dari setiap tindakan membantu remaja mengambil keputusan secara bijak.

4. Buka Komunikasi dengan Orang Tua dan Konselor

Jangan ragu untuk berdiskusi dengan orang tua, guru Bimbingan Konseling (BK), atau memanfaatkan layanan masyarakat seperti Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) jika menghadapi masalah pergaulan atau tekanan sebaya.

Ingat: Pernikahan membutuhkan kesiapan fisik, mental, finansial, dan spiritual. Menunda pernikahan hingga usia matang bukan berarti menolak kebahagiaan, melainkan mempersiapkan masa depan yang jauh lebih cerah dan berkualitas. ***

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Longsor, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar tertutup batu

Lebakbarang, Wartadesa. - Akibat hujan yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar, terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Inspiratif! SD Muhammadiyah Bligo 01 Launching Layanan Kesehatan Mandiri untuk Motivasi Siswa Jadi Dokter

template berita foto warta desa

PEKALONGAN, WARTADESA. – Dalam upaya nyata mewujudkan ekosistem sekolah yang sehat sekaligus inspiratif, SD Muhammadiyah Bligo 01 resmi meluncurkan (launching) program layanan kesehatan mandiri baru pada Sabtu (11/7/2026). Langkah inovatif ini dirancang tidak hanya untuk menjaga kebugaran fisik warga sekolah, tetapi juga untuk memantik mimpi besar para siswa.

Layanan kesehatan mandiri ini terasa sangat istimewa karena menghadirkan langsung dua tenaga medis profesional yang merupakan alumni berprestasi dari sekolah tersebut, yaitu dr. Nabil Azra Mahendra dan dr. Masyitha Rakhmawati.

Sinergi Alumni untuk Kesejahteraan Sekolah

Program ini dipersiapkan secara matang untuk melayani kebutuhan kesehatan seluruh ekosistem sekolah, mulai dari guru, karyawan, hingga fokus utamanya: para siswa dan wali murid di lingkungan SD Muhammadiyah Bligo 01.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Bligo 01, M. Aufa Siddiq, S.Pd, menyampaikan bahwa kehadiran dr. Nabil dan dr. Masyitha di sekolah bukan sekadar untuk memberikan pelayanan medis rutin. Keduanya dijadwalkan akan membuka praktik langsung di sekolah setiap hari Selasa dan Sabtu sepanjang tahun ajaran ini.

“Kami ingin para siswa memiliki sosok teladan yang bisa ditemui secara langsung. Melalui kehadiran kakak alumni yang menjadi dokter ini, kami berharap siswa terinspirasi untuk menapaki jenjang pendidikan tinggi dan menggapai cita-cita setinggi mungkin,” jelas Aufa Siddiq.

Menghadirkan Role Model Nyata bagi Siswa

Selain memberikan akses kesehatan yang lebih dekat, mudah, dan cepat, program ini mengemban misi strategis dalam hal motivasi belajar. Melihat langsung keberhasilan kakak tingkat mereka yang kini memakai jas putih dokter diharapkan mampu memberikan dorongan psikologis yang kuat bagi siswa untuk belajar dengan tekun.

Melalui program bertajuk “Sekolah Sehat” ini, SD Muhammadiyah Bligo 01 membuktikan komitmennya dalam memperhatikan kesejahteraan fisik dan mental warga sekolah secara holistik.

Sinergi apik antara alumni hebat dan institusi pendidikan ini diharapkan mampu melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara akademis, namun juga memiliki kesadaran kesehatan yang tinggi serta visi masa depan yang jelas. (Red)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Potensi Food Loss dan Food Waste di Kota Pekalongan

foto background putih.JPG

oleh: Milatun Khanifah*

Isu food loss dan food waste telah menjadi  perhatian serius di hampir seluruh wilayah di belahan dunia. Masalah food loss dan food waste terjadi dari mulai produksi bahan makanan dan pengolahan makanan dalam skala besar, usaha kecil menengah bahkan sampai tataran rumah tangga. Food and Agriculture Organization/FAO (2019) mendefinisikan food loss sebagai produk pangan yang dimaksudkan untuk konsumsi manusia namun pada akhirnya tidak dimakan akibat penurunan kualitas yang tercermin dalam nilai gizi, nilai ekonomi, atau aspek keamanan pangan. Sehingga dalam terminologi food loss tersirat adanya unsur ketidaksengajaan dalam pemborosan makanan. Food waste adalah produk pangan yang disediakan untuk konsumsi manusia tetapi dibuang atau digunakan untuk kebutuhan selain pangan setelah produk pangan  tersebut  dibiarkan rusak atau kedaluwarsa akibat kelalaian.

Kota Pekalongan tidak banyak memiliki lahan yang digunakan sebagai lahan produksi bahan pangan. Sumber bahan makan pokok, sayur , buah, dan hewan ternak, banyak didapatkan dari daerah lain seperti Kabuaten Pekalongan dan Kabupaten Batang. Kondisi ini menggambarkan potensi food loss di tahap produksi di Kota Pekalongan relative kecil. Namun demikian terjadinya food loss dari tahap lain dalam rantai makanan terutama dalam pemrosesan dan penyiapan bahan makanan masih perlu mendapatkan perhatian. Potensi food loss yang besar di Kota Pekalongan dapat terjadi karena suhu Kota Pekalongan yang relative tinggi dan penggunaan teknologi pemrosesan dan pengolahan bahan makanan yang belum optimal.

Suhu kota Pekalongan yang relative tinggi menyebabkan bahan makanan terutama sayur dan buah banyak yang rusak sebelum mencapai dapur. Kondisi ini dapat terlihat dengan banyaknya sayur dan buah yang rusak dan tidak layak dikonsumsi menumpuk dan akhirnya dibuang sebagai sampah di pasar-pasar tradisional Kota Pekalongan. Tumpukan sayur dan buah yang rusak ini tidak banyak dimanfaatkan ulang oleh masyarakat setempat, misalnya  digunakan sebagai bahan makan ternak atau pupuk organik.  Artinya proses re-use dari bahan sayur dan buah agar tidak berujung menjadi sampah masih belum menjadi budaya untuk mengurangi food loss.

Penggunaan teknologi yang belum optimal sehingga meningkatkan potensi food loss dalam pengolahan bahan makanan salah satunya dapat kita lihat dalam proses pembuatan Megono sebagai menu khas Kota Pekalongan. Megono adalah lauk dengan bahan dasar buah nangka muda yang dicacah halus kemudian dicampur dengan kelapa parut dan bumbu dapur. Proses pencacahan nangka muda ini dilakukan dengan cara tradisional menggunakan pisau dengan ukuran cukup besar. Dengan teknik seperti ini banyak bagian dari buah nangka muda yang akhirnya tidak dapat dimanfaatkan dan banyak yang tumpah pada saat proses pencacahan. Buah nangka juga banyak yang dibuang jika bentuknya tidak rata karena kesulitan pada proses mengupas, sehingga banyak bagian inti yang terbuang. Masyarakat kota Pekalongan belum menggunakan teknologi lebih maju, seperti penggunaan mesin pencacah untuk mengurangi food loss saat memroses nangka muda ini untuk menjadi bahan yang siap dimasak menjadi megono.

Potensi food loss sebenarnya bisa terkurangi dengan keberadaaan pasar-pasar tradisional di Kota Pekalongan sebagai salah satu tempat distribusi terbesar bahan makan yang  beroperasi setiap hari dan mulai sejak dini hari. Sebelum subuh, pasar utama yaitu pasar Banjarsari dan Grogolan sudah mulai ramai dengan aktivitasnya. Kondisi ini memungkinkan masyarakat, baik di kalangan rumah tangga maupun pelaku usaha makanan bisa mendapatkan bahan dasar untuk diolah setiap hari. Mereka tidak perlu menyetok dalam jumlah banyak yang berpeluang menyebabkan bahan makanan rusak sebelum diolah menjadi makanan. Selain itu, keberadaan beberapa institusi pendidikan tinggi yang memiliki jurusan teknik mesin juga memberikan harapan dalam upaya pengurangan food loss. Mereka dapat digandeng dalam pengembangan alat atau teknologi yang membantu para pedagang nangka muda cacah sebagai bahan dasar megono untuk meminimalkan food loss.

Sebagai kota sentra batik, penduduk kota Pekalongan sebagian besar berkutat dalam produksi batik. Sektor ini masih menjadi tulang punggung ekonomi Kota Pekalongan dan menjadi ciri khas yang sangat dikenal. Tidak hanya kepala rumah tangga, ibu rumah tangga di Kota Pekalongan banyak yang memilih untuk bekerja di rumah mulai dari memotong kain, menjahit, melipat atau memasukkan produk batik ke dalam kemasan. Dalam urusan makanan, mereka lebih memilih membeli makanan dari pada memasak sendiri. Ini menyebabkan warung makan di Kota Pekalongan dapat ditemukan bahkan di gang-gang kecil. Warung-warung makan ini juga bisa kita dapatkan menjajakan masakannya kapan pun, bahkan banyak mereka yang menjajakan makanannya pada dini hari. Potensi food waste yang cepat menumpuk tidak hanya dari rumah tangga tapi juga dari warung-warung makan.  Kondisi ini menyebabkan tingginya volume sampah makanan di Kota Pekalongan.

Kota Pekalongan pernah dinyatakan status darurat sampah pada tahun 2025, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Pekalongan Nomor 600.4.15/0556 Tahun 2025. Data dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan menunjukkan bahwa 60 persen dari 160 ton sampah perhari yang dihasikan kota Pekalongan adalah sampah dari bahan makanan maupun sisa makanan. Sampah ini  berasal dari sektor besar maupun dari sampah rumah tangga.

Perlu peningkatan kesadaran bagi warga kota Pekalongan untuk mengupayakan bijak dalam mengkonsumsi pangan. Upaya ini dapat dilakukan dengan beberapa tips antara lain belanja bahan makanan yang benar-benar diperlukan, menyimpan bahan makanan dengan benar untuk menghindari pembusukan, mengolah bahan makanan secara efisien, termasuk memanfaatkan bagian makanan yang sering terbuang seperti kulit buah atau tulang ikan, memanfaatkan sisa makanan dengan mengolahnya menjadi hidangan baru atau dijadikan kompos untuk mengurangi limbah dan membagikan makanan berlebih yang masih layak konsumsi kepada masyarakat yang membutuhkan. Tips-tips tersebut tidak hanya dalam rangka mengurangi sampah organic yang masih menjadi masalah lingkungan dan menjadi tantangan besar kota Pekalongan tapi juga sebagai upaya memperbaiki perekonomian karena praktik ini dapat menghemat pengeluaran belanja rumah tangga.

Keberadaam lembaga yang bergerak untuk mengurangi potensi food loss dan food waste dengan konsep Reduce, Re-Use dan Re-Cycle di Kota Pekalongan perlu diperkuat. Semua  ini harus dilakukan dengan sinergi yang baik agar dampak food loss dan food waste di kota Pekalongan tidak semakin meluas. Kampanye  konsumsi ramah lingkungan dan bijak pangan untuk menekan jumlah sampah sisa makanan sejak dari sumbernya harus digalakkan. Pemerintah daerah, kecamatan hingga kelurahan bersama dengan tokoh masyarakat dan penggiat sosial media memiliki peran penting untuk keberhasilan kampanye dalam rangka menekan food loss dan food waste di Kota Pekalongan. ***

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Asah Kompetensi di Puskesmas, Mahasiswa Profesi Apoteker UMPP Mulai PKL di Kabupaten Pemalang

template berita foto warta desa(3)

PEMALANG, WARTA DESA – Sebanyak mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) resmi terjun ke lapangan untuk menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kegiatan yang bertujuan mengaplikasikan ilmu kefarmasian ini dilaksanakan di Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Puskesmas di wilayah Kabupaten Pemalang.

Dimulainya rangkaian praktik kerja ini ditandai dengan penyambutan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang pada Senin (04/05/2026). Kehadiran mahasiswa ini disambut baik sebagai upaya kolaborasi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi warga Pemalang.

Langkah Nyata di Dunia Kerja Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) UMPP secara simbolis menyerahkan para mahasiswa kepada pihak Dinkes Pemalang. Penyerahan ini menandai awal perjalanan para calon apoteker untuk merasakan pengalaman nyata di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari tata kelola obat hingga pelayanan klinis.

“Melalui PKL ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mahir secara teori, tetapi juga mampu mengasah etika kerja dan interaksi langsung dengan masyarakat maupun tenaga kesehatan lainnya,” ungkap Kaprodi PSPPA UMPP.

Dampak bagi Pelayanan Publik Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang berharap kehadiran mahasiswa apoteker ini dapat memberikan dampak positif, terutama dalam efisiensi pengelolaan obat di tingkat puskesmas. Mahasiswa akan ditempatkan di berbagai unit untuk mendalami peran strategis apoteker dalam sistem kesehatan masyarakat.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Dengan terjun langsung ke berbagai unit pelayanan kesehatan di pelosok Pemalang, para mahasiswa diharapkan lulus menjadi apoteker profesional yang adaptif dan siap menghadapi tantangan di dunia kesehatan yang kian dinamis.

Melalui sinergi antara UMPP dan Pemerintah Kabupaten Pemalang ini, diharapkan lahir tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap kondisi kesehatan di akar rumput. (.*.)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalKesehatanLayanan Publik

Diserbu Ribuan Lalat, Warga Jambangan Desak Pemilik Kandang Ayam Jaga Kebersihan Lingkungan

template berita foto warta desa(2)

PEKALONGAN, WARTADESA. – Warga Dukuh Jambangan, Desa Batursari, Kecamatan Talun, akhirnya bernapas lega setelah keluhan mereka terkait serbuan lalat yang meresahkan mendapat respons. Ribuan lalat yang diduga berasal dari kandang ayam petelur di lingkungan mereka kini menjadi sorotan tajam setelah warga melaporkan gangguan tersebut pada Jumat (17/4/2026).

Keresahan warga dipicu oleh populasi sekitar 9.000 ekor ayam milik Harjo yang kotorannya jarang dibersihkan. Akibatnya, pemukiman warga dikepung lalat hingga mengganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan.

Merespons kondisi tersebut, Kapolsek Talun, Heru Santoso, bersama jajaran kepolisian dan Kepala Desa Batursari, Titik Sumarlin, turun langsung ke lokasi untuk memfasilitasi mediasi antara warga dan pemilik kandang.

Dalam pertemuan yang digelar di rumah salah satu warga bernama Subiyanto alias Kasbek, terungkap bahwa sumber utama masalah adalah keterlambatan pembersihan kotoran ayam yang memicu ledakan populasi lalat.

Warga Beri Peringatan Keras

Meski mediasi berakhir dengan kesepakatan musyawarah, warga Jambangan memberikan catatan tegas. Pasalnya, persoalan serupa ternyata pernah terjadi pada Desember 2025 lalu.

Warga menegaskan tidak berniat menghalangi orang mencari rezeki melalui usaha peternakan. Namun, mereka menuntut hak atas lingkungan yang bersih dan sehat dipenuhi. Jika gangguan lalat kembali terulang di masa mendatang, warga tidak segan-segan meminta agar usaha kandang ayam tersebut ditutup permanen.

Pemilik Kandang Janji Benahi Kebersihan

Menanggapi tuntutan warga, pemilik kandang menyatakan kesanggupannya untuk melakukan pembenahan total, di antaranya:

  • Pembersihan Rutin: Menjamin pembersihan kotoran ayam setiap empat hari hingga maksimal satu minggu sekali.

  • Tambah Personel: Menambah dua karyawan khusus yang fokus menangani kebersihan kandang.

  • Penyemprotan: Melakukan penyemprotan obat pembasmi lalat secara berkala di area peternakan.

Kapolsek Talun, Heru Santoso, menegaskan bahwa kehadiran petugas bertujuan untuk memastikan aspirasi masyarakat didengar dan dicarikan jalan keluar secara dialogis guna menjaga kondusifitas wilayah.

Warga kini berharap komitmen yang tertuang dalam kesepakatan tersebut benar-benar dijalankan, sehingga kenyamanan di Dukuh Jambangan tidak lagi terusik oleh bau dan serbuan lalat. (,*.)

Terkait
Ditinggal mancing, motor digasak pencuri

Pemalang, Wartadesa. - Naas bagi M. Saefudin Zuhri bin Muharil (28), seorang buruh konveksi warga Desa Kendaldoyong Kecamatan Petarukan Kabupaten Read more

Modus rampas HP korban dengan pura-pura minta nomor kontak

Pemalang, Wartadesa. - Hati-hatilah dengan orang yang meminta nomor HP atau ponsel Anda, bisa jadi itu hanya modus untuk melakukan Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalKesehatan

Darurat Tramadol di Tegal: Dari Pemicu Tawuran Remaja Hingga Desakan Tameng Regulasi P4GN

template berita foto warta desa(3)

TEGAL, WARTADESA. – Peredaran obat keras jenis tramadol di kalangan remaja Kabupaten Tegal telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bukan sekadar masalah penyalahgunaan obat, fenomena ini kini bertransformasi menjadi pemicu utama aksi kriminalitas jalanan dan tawuran, yang mendorong DPRD Kabupaten Tegal untuk mempercepat pembentukan payung hukum khusus.

Tramadol: “Modal” Berani di Balik Aksi Tawuran

Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal, Bagus Sakti Maulana, menyoroti kaitan erat antara konsumsi tramadol dengan meningkatnya agresivitas remaja. Dalam banyak kasus, obat keras ini dikonsumsi sebagai “penghilang rasa takut” sebelum mereka turun ke jalan untuk terlibat tawuran.

“Biasanya sebelum tawuran mereka mengonsumsi tramadol. Ini yang membuat perilaku mereka jadi di luar kendali. Kondisi ini sangat memprihatinkan,” ungkap Bagus, Selasa (14/4/2026). Ia menekankan bahwa para remaja ini sering kali merupakan korban dari ketidaktahuan, keretakan keluarga, serta lingkungan sosial yang tidak sehat.

Mengenal Tramadol dan Risiko Fatal bagi Tubuh

Secara medis, tramadol adalah analgesik opioid yang diperuntukkan bagi pereda nyeri tingkat sedang hingga berat. Sebagai obat kategori Daftar G (Obat Keras), penggunaannya wajib melalui resep dokter. Namun, penggunaan secara ilegal dan berlebihan membawa dampak destruktif bagi kesehatan:

  • Kerusakan Saraf dan Mental: Memicu euforia berlebihan, kecemasan ekstrem, halusinasi, hingga kejang-kejang.

  • Kegagalan Organ Vital: Penggunaan jangka panjang merusak fungsi jantung, ginjal, dan hati secara permanen.

  • Depresi Pernapasan: Dalam dosis tinggi, tramadol memperlambat fungsi paru-paru yang dapat berujung pada koma atau kematian.

  • Kerusakan Otak: Merusak kognisi dan emosi, yang pada akhirnya menghancurkan potensi masa depan generasi muda.

Langkah Legislatif: Menyiapkan Perda P4GN

Menyikapi kekosongan regulasi, DPRD Kabupaten Tegal tengah menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Regulasi ini dimaksudkan sebagai tameng hukum untuk menahan laju peredaran obat terlarang yang kian masif.

Meskipun usulan ini sempat tertunda pada 2024, DPRD kini memastikan P4GN masuk dalam prioritas Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda). Penanganan ini nantinya akan melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan, DP3AP2KB, hingga Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memperkuat aspek rehabilitasi selain penegakan hukum.

Pengawasan Ketat di Wilayah Perbatasan

Senada dengan langkah di Kabupaten, Ketua DPRD Kota Tegal, Kusnendro, juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Mengingat pola peredaran yang kian tersembunyi, pengawasan berbasis data dan laporan masyarakat menjadi kunci utama.

Kepala Satpol PP Kota Tegal, Budio Pradibto, menambahkan bahwa meskipun warung-warung yang diduga menjual obat ilegal mulai menghilang dari pandangan publik, pihaknya justru mengintensifkan pengawasan lapangan. Operasi rutin dan insidental terus dilakukan guna memastikan ruang gerak pengedar obat keras semakin sempit.

Penyelamatan generasi muda dari jeratan tramadol dan narkotika dinilai sebagai investasi krusial menuju visi Indonesia Emas 2045. Pemerintah daerah didesak untuk bersikap tegas dan tidak terjebak dalam kaku birokrasi demi melindungi masa depan anak bangsa dari kerusakan permanen akibat obat keras. (Redaksi)

Terkait
Ditinggal mancing, motor digasak pencuri

Pemalang, Wartadesa. - Naas bagi M. Saefudin Zuhri bin Muharil (28), seorang buruh konveksi warga Desa Kendaldoyong Kecamatan Petarukan Kabupaten Read more

Modus rampas HP korban dengan pura-pura minta nomor kontak

Pemalang, Wartadesa. - Hati-hatilah dengan orang yang meminta nomor HP atau ponsel Anda, bisa jadi itu hanya modus untuk melakukan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Gunakan gas bersubsidi, Hotel ini kena sidak

Pemalang, Wartadesa. - Hotel Panorama Randudongkal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah kedapatan menggunakan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram, alias Read more

selengkapnya