close

Kesehatan

KesehatanPendidikanSosial BudayaUncategorized

Tim KKN Undip gelar Cumi dan mewarnai indah di Paduraksa

cumi

Pemalang, Wartadesa. – Tim II KKN Undip Semarang menggelar acara Cumi (cuci tangan usia dini) dan mewarnai indah bagi anak-anak PAUD usia 4-6 tahun di Kelurahan Paduraksa, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, beberapa waktu lalu.

Mencuci tangan menggunakan sabun dengan teknik enam langkah merupakan salah satu kiat penting hidup sehat. Bertempat di Balai Kelurahan Paduraksa, mahasiswa KKN TIM II Universitas Diponegoro, Devina Afraditya Paveta Program Studi Kedokteran Universitas Diponegoro mengenalkan dan mengajak anak – anak usia dini di Kelurahan Paduraksa untuk melakukan cuci tangan menggunakan sabun yang baik dan benar.

Dengan teknik enam langkah melalui program “CUMI” pada hari Sabtu pukul 08.00 WIB. Acara dimulai dengan penyampaian materi melalui media gambar, video edukasi, dan senam cuci tangan enam langkah.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan mewarnai gambar langkah – langkah cuci tangan bersama dalam kelompok kecil dan bermain mengurutkan gambar tersebut dengan baik dan benar.

Tidak hanya penyampaian materi dan mewarnai bersama, namun juga melakukan praktik langsung mencuci tangan menggunakan sabun dengan teknik enam langkah bersama – sama sebelum dan sesudah makan siang.

Selain itu, juga terdapat penampilan drama oleh teman – teman KKN TIM II Universitas Diponegoro untuk memberikan visualisasi yang lebih nyata mengenai pentingnya cuci tangan pakai sabun dalam kehidupan sehari – hari. Anak – anak pun sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. (Jazimatul Husna)

selengkapnya
KesehatanLingkunganSosial Budaya

Limbah plastik dan kaos kaki diubah jadi ecobrick

ecobrick

Pemalang, Wartadesa. – Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggelar pelatihan pengolahan limbah plastik dan limbah kaos kaki menjadi Ecobrick (bata ramah lingkungan) kepada warga Kelurahan Paduraksa, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, beberapa waktu lalu.

Menurut Gunawan Silalahi, mahasiswa KKN Undip Semarang,  program ini (pelatihan ecobrick) menjelaskan dampak dari limbah plastik dan pemanfaatan limbah kaos kaki yang ada di Kelurahan Paduraksa. Karena Paduraksa Merukakan sentra Kaos Kaki, sehingga memiliki banyak limbah.

Pelatihan diawali dari pengenalan sampah dan bahaya sampah bagi tubuh manusia dan lingkungan, pemahaman dari konsep 3R (reduce, reuse, recycle).

Ecobrick sendiri merupakan pengolahan limbah yang dapat digunakan sebagai barang serbaguna, seperti bangku, meja, bahkan gapura dan panggung pertunjukan pun dapat dibuat melalui metode Ecobrick.

Dengan pelatihan ini diharapkan dapat membuat masyarakat Paduraksa dapat sadar terhadap bahaya sampah plastik bagi lingkungan. Sehingga masyarakat harusnya dapat peduli dan dituntut dapat mengelola sampah dengan bijaksana mengingat keadaan lingkungan yang semakin memburuk.

Pengelolahan diawali dengan membedakan sampah organik dan non organik, mengurangi sampah plastik dan memanfaatkan sampah plastik menjadi barang yang memiliki nilai guna seperti Ecobrick maupun metode lainnya yang efisien. (Tim II KKN Undip Kelurahan Paduraksa)

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Tidak boleh ada pemasungan lagi pada penyandang disabilitas mental

pasung

Pemalang, Wartadesa. – Tidak boleh ada anggota keluarga yang melakukan pemasungan kepada penyandang disabilitas mental. Demikian disampaikan oleh Tri Lukanah, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) saat melakukan pendampingan dan pemantauan perkembangan penyandang disabilitas mental di Dukuh Pulo, Desa Kebagusan, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, Selasa (30/07).

Perempuan yang akrab disapa Lina tersebut mengungkapkan bahwa anggota keluarga yang dipasung harus dibebaskan. “Keluarga yang dipasung harus dibebaskan, sekarang sudah tidak boleh ada lagi (pemasungan),” ujarnya disela-sela kegiatan.

Menurut Lina, PSM saat ini melakukan pendampingan dan memantau perkembangan kondisi warga penyandang disabilitas mental secara rutin. “Kami mendampingi dan memantau perkembangan pasien dari rujukan Puskesmas serta Rumah Sakit Jiwa, higga mereka pulang ke keluarganya,” lanjut Lina.

Lina menyebut, hingga saat ini ada 17 warga penyandang disabilitas mental di Kabupaten Pemalang yang tinggal bersama keluarganya. “Total di Kabupaten Pemalang ada 17 orang. Mereka tinggal bersama keluarganya, kadang diantara mereka suka mengamuk, suka merusak rumah tetangganya. Hal tersebut membuat keluarga kadang bertindak protektif dengan memasung mereka,” ujarnya.

Terkait dengan pemasungan tersebut, PSM bersama Dinas Sosial Kabupaten Pemalang dan Privinsi Jawa Tengah, hari ini melakukan pendampingan dan pemantauan di beberapa titik di Kabupaten Pemalang. “Tujuannya agar anggota keluarga tidak ada yang melakukan pemasungan, jika anggota keluarga kewalahan dalam menangani anggota keluarga yang mengalami disabilitas gangguan mental, sebaiknya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa terdekat.” Ujar Lina.

Hadir dalam pendampingan tersebut, Surono dan Wahyu dari Dinsos Provinsi Jateng, Maghfuroh, Erma Kristiani, Paduwati, Siti Khotijah dari Dinsos Kabupaten Pemalang, Aris, Wiwit, Yulis, Warman dan Misbahudin dari Dinas Kesehatan dan Sosial, serta Tri Lukanah, Suciati dan Muhamad hidayat dari PSM Kabupaten Pemalang.

Data dihimpun, Kementerian Sosial mencatat dari 26 provinsi di Indonesia, jumlah penyandang disabilitas mental (orang dengan gangguan jiwa) sebanyak 4.786 orang. Dari angka tersebut sebanyak 3.441 orang telah bebas pasung, sementara 1.345 (28,1%) masih terpasung dan dalam penanganan.

Dari penyandang disabilitas mental yang masih dipasung, terbanyak di Jawa Timur sebanyak 453 orang, disusul Sumatera Selatan 174 orang dan Riau 154 orang.

Pemasungan terjadi karena masih rendahnya pengetahuan keluarga dan warga tentang penyakit gangguan jiwa yang dialami oleh penyandang disabilitas mental.

Tujuan dari Gerakan Stop Pemasungan adalah untuk mencegah penyandang disabilitas mental mengalami pemasungan dan pemasungan kembali, serta mendapatkan rehabilitasi medis dan sosial, sehingga fungsi sosialnya bisa pulih kembali. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Kesehatan

Enam bulan 31 kasus HIV/AIDS di 12 kecamatan Kabupaten Pekalongan

ilustrasi aids

Kajen, Wartadesa. – Hingga Juni 2019 sedikitnya ada 31 kasus HIV/AIDS yang tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Pekalongan. HIV 21 kasus dan AIDS 10 Kasus, tersebar di Kecamatan Bojong, Buaran, Kajen, Karanganyar, Kesesi, Kedungwuni, Paninggaran, Sragi, Talun, Wonokerto, Wonopringgo dan Lebakbarang.

Demikian data yang disampaikan oleh Pengelola Program dan Monev Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Pekalongan, M. Iqbal Masruri, Senin (29/07).

“Data yang kami peroleh sebelumnya mencatat sampai bulan April 2019 ada 19 kasus, HIV 14 kasus dan AIDS 5 kasus. Untuk data update lagi sampai bulan Juni mencatat ada 31 kasus, HIV 21 kasus dan AIDS 10 Kasus,” ungkap Iqbal, dikutip dari Fajar.co.

Menurut Iqbal,  dari data tahun 2018, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Pekalongan sebanyak 72 kasus. Untuk HIV ada 36 kasus dan AIDS 36 kasus.

Secara kumulatif data dari 2005 hingga 2019 ini mencatat ada 376 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pekalongan, dengan rincian HIV 202 kasus dan AIDS 174 kasus. Dari data 367 kasus tersebut 177 kasus penderita HIV/AIDS sudah dinyatakan meninggal dunia atau sekitar 49% nya. Sedang untuk kasus enam bulan terakhir ini belum ada yang meninggal dunia. Ungkap Iqbal.

Iqbal menyebut bahwa kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pekalongan ini merupakan fenomena gunung es. Menurutnya informasi dari pusat, di Kabupaten Pekalongan  ada 1737 kasus HIV/AIDS, tetapi yang diketahui cuma 376 kasus. Ini seperti fenomena gunung es yang tampak itu masih sangat sedikit, sedangkan yang tidak tampak masih banyak.

Pihaknya menghimbau masyarakat bila mengetahui ada penderita HIV/AIDS bisa memberikan pengertian dengan benar, sehingga bagi yang terindikasi mau melakukan pemeriksaan kesehatan tentang tes HIV/AIDS yang sudah bisa dilakukan di seluruh rumah sakit dan puskesmas yang ada di Kabupaten Pekalongan. (Sumber: Fajar.co)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikLingkunganSosial Budaya

Lagi, Pulosari alami krisis air bersih

droping air bersih

Pemalang, Wartadesa. – Musim kemarau, lagi-lagi,  membuat warga di Kecamatan Pulosari kembali mengalami krisis air bersih. Warga Desa Siremeng, Kecamatan Pulosari, Kabupten Pemalang turut mengalami krisis air tersebut. Warga yang mengandalkan air bersih dari sumber air Pesamoan, kini harus antri seharian di penampungan air, lantaran debit air menyusut.

Warga mengaku sudah satu bulan ini mereka kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk keperluan mandi,  mencuci, masak dan minum, warga harus antri selama sehari untuk mendapatkan dua pikulan air. “Saya ambil dari mata air Pesamoan, tapi harus antri seharian untuk mendapatkan dua pikulan air,” ujar Murtini, warga Dukuh Siremeng Kidul. Kamis (27/06)

‎Lamanya mengantri untuk mendapatkan air bersih membuat warga terpaksa harus membeli pedagang air bersih keliling dengan harga Rp. 4 ribu per pikul air (2 jerigen).  “Kalau pas antrean banyak sedangkan persedian air di rumah habis ya harus beli. Harga satu pikul air Rp 4.000. Dalam sehari membutuhkan lima pikul,” ungkap Sodiah, warga Siremeng lainnya.

Sodiah berharap ada bantuan air bersih yang rutin didistribusikan ke desanya sehingga dia tidak perlu membeli air selama musim kemarau. “Butuh sekali bantuan air bersih karena sumber air yang ada sudah berkurang airnya, bahkan mengering,” ungkapnya.

Diberitakan Wartadesa sebelumnya, kemarau di Pemalang membuat sebagian warga Desa Pulosari kekurangan air bersih. Kondisi tersebut terjadi setiap musim kemarau datang. Untuk membantu warga yang membutuhkan air bersih, Polsek Pulosari memberikan bantuan air bersih di Dukuh Karangpoh, Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sabtu (22/06).

Menurut Kapolsek Pulosari, AKP Trisno, pengiriman bantuan air tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang mengalami kesulitan saat kemarau datang sekaligus dalam rangka Hari Bhayangkara ke 73 yang jatuh pada tanggal 1 Juli mendatang.

“Bantuan air bersih yang diberikan terhadap masyarakat akan terus dilakukan dan tidak berbatas waktu,” tutur Trisno.

Trisno menambahkan bahwa pihaknya akan terus intens membagikan air bersih bagi wialayah yang membutuhkan.  “Kami terus intens dalam membagikan air bersih ini, ke wilayah yang betul-betul membutuhkan. Giat ini juga bentuk silaturahmi. Kami juga bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat agar kami dapat mendengarkan langsung apa yang menjadi kebutuhan mereka. Intinya, Polri selalu ada bersama masyarakat,” Pungkasnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikSosial Budaya

Kemarau, warga Pulosari kekurangan air bersih

droping air bersih

Pemalang, Wartadesa. – Musim kemarau di Pemalang membuat sebagian warga Desa Pulosari kekurangan air bersih. Kondisi tersebut terjadi setiap musim kemarau datang. Untuk membantu warga yang membutuhkan air bersih, Polsek Pulosari memberikan bantuan air bersih di Dukuh Karangpoh, Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sabtu (22/06).

Menurut Kapolsek Pulosari, AKP Trisno, pengiriman bantuan air tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang mengalami kesulitan saat kemarau datang sekaligus dalam rangka Hari Bhayangkara ke 73 yang jatuh pada tanggal 1 Juli mendatang.

“Bantuan air bersih yang diberikan terhadap masyarakat akan terus dilakukan dan tidak berbatas waktu,” tutur Trisno.

Trisno menambahkan bahwa pihaknya akan terus intens membagikan air bersih bagi wialayah yang membutuhkan.  “Kami terus intens dalam membagikan air bersih ini, ke wilayah yang betul-betul membutuhkan. Giat ini juga bentuk silaturahmi. Kami juga bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat agar kami dapat mendengarkan langsung apa yang menjadi kebutuhan mereka. Intinya, Polri selalu ada bersama masyarakat,” Pungkasnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikSosial Budaya

AMM Pencongan luncurkan Posko Mudikmu

posko mudikmu

Wiradesa, Wartadesa. – Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Pencongan Kecamatan Wiradesa, Kabupaten Pekalongan bersama Lazismu dan Kokam Kabupaten Pekalongan kembali meluncurkan Posko MudikMu. Posko tersebut merupakan kali kesepuluh dihelat AMM Pencongan. Jum’at (31/05).

Posko MudikMu di Pencongan tersebut merupakan posko transit bagi para pemudik yang melintas ruas jalur Pantura Pekalongan.

Pelunrucan Posko MudikMu diapresiasi oleh Slamet, Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Pencongan. Menurut Slamet, langkah AMM tersebut merupakan kegiatan yang istimewa, karena biasanya anak-anak muda pada penghujung akhir Ramadan sibuk dengan persiapan lebaran. Tetapi anak-anak muda Muhammadiyah Pencongan tetap eksis mengadakan kegiatan yang melayani masyarakat.

“Pendirian Posko MudikMu tahun ke-10 ini merupakan hal yang istimewa. Dipenghujung bulan Ramadhan ini di saat orang-orang sibuk dengan persiapan lebaran namun anak-anak muda Muhamamdiyah Pencongan justru tetep eksis mengadakan kegiatan yang melayani masyarakat.” Ujar Slamet, disela-sela peluncuran kegiatan, Jum’at (31/05).

Imam Budi Santoso, Ketua Posko MudikMu tahun 2-10 mengungkapkan bahwa seluruh fasilitas pada Posko MudikMu disediakan secara gratis. “Ada lahan parkir luas, Musholla, MCK bersih dan wangi, coffe break (aneka jajan dan minuman –teh/kopi) gratis, dan sahur dan menu buka puasa gratis,” tuturnya.

Imam menambahkan peluncuran Posko MudikMu tersebut dalam rangka sebesar-besarnya menebar manfaat bagi sesama.  “Kami menyadari sebagaimana ajaran Nabi kita, khoirunnas anfauhum linnas, sebaik-baiknya manusia itu adalah (yang) berguna bagi manusia lainnya.” Lanjutnya.

Posko yang diinisiasi AMM bersama Lazismu dan Kokam Kabupaten Pekalongan ini akan berjalan selama enam hari kedepan. Pungkas Imam. (WD)

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Hati-hati! Beredar makanan dengan bahan pengawet

bahan pengawet

Batang, Wartadesa. – Makanan berbahan pengawet masih saja ditemukan beredar di masyarakat. Rhodamin (pewarna tekstil) dan borak digunakan para pedagang untuk mengawetkan dagangannya. Sidak yang dilakukan oleh Dinas Kesehatan Batang bersama Satpol PP dan pihak kepolisian mendapati  pewarna kimia dan borak yang dicampur dalam bahan makanan di Pasar Batang, Selasa (14/05).

Keterangan dari Riza Zakia, Kepala Seksi Kefarmasian dan Alat Kesehatan Dinkes Batang menyebut bahwa pihaknya melakukan uji sampel pada empat agar-agar warna merah, hijau, teri nasi dan cumi kering. Hasilnya empat sampel agar-agar warna merah mengandung rhodamin level 1 dan 2 gritnya.

Sedang pada sampel agar-agar warna hijau negatif rhodamin dan metanil yelow.  “Dari empat sempel ager – ager warna merah menggunkan pewarna rhodamin sekitar level 1 dan 2 gritnya. Yang warna hijau negatif rhodhamin dan metanil yelow. Walaupun ditemukan sedikit namun sangat sangat berpengaruh pada kesehatan,” tutur Riza Zakia.

Pada sampel teri nasi, positif mengandung formalin dengan grit 2, sementara untuk cumi-cumi kering negatif mengandung formalin.

Riza Zakia menambahkan, bahan kimia rhodamin dan metanil yelow jika dikonsumsi secara terus-menerus akan meracuni tubuh. “Rhodamin dan metanil yelow bukan pewarna makanan, apabila dikonsumsi oleh manusia secara terus menerus akan meracuni tubuh kita, dan menyebabkan penyakit kanker,” lanjutnya.

Menurut Riza, temuan tersebut nantinya akan dibawa ke rapat satgas makanan dan obat-obatan ilegal.  “Nanti akan ada tindakan dari satgas makanan dan obat – obatan berupa pembinaan dan penegakan hukum, dan ini bisa kita limpahkan ke penegak hukum,” tuturnya.

Mengenali makanan yang mengandung zat berbahaya

Ciri makanan berformalin

  • Mi basah berformalin: Tidak lengket, lebih mengilap, tidak rusak sampai dua hari pada suhu kamar, dan bertahan lebih dari 15 hari pada suhu lemari es (10 derajat celsius).
  • Tahu berformalin: Teksturnya terlampau keras, kenyal tetapi tidak padat. Tidak rusak sampai 3 hari dalam suhu kamar dan bisa tahan 15 hari dalam kulkas.
  • Ikan berformalin: Warna insang merah tua tidak cemerlang, bukan merah segar, dan warna daging ikan putih bersih. Tidak rusak sampai 3 hari pada suhu kamar.
  • Ikan asin berformalin: Bersih cerah dan tidak berbau khas ikan asin. Tidak dihinggapi lalat di area berlalat, tidak rusak sampai lebih dari 1 bulan pada suhu 25 derajat celsius.
  • Bakso berformalin: Teksturnya sangat kenyal, tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar.
  • Ayam berformalin: Teksturnya kencang, tidak disukai lalat, tidak rusak sampai 2 hari pada suhu kamar.

Ciri makanan mengandung boraks:

  • Mi basah: Teksturnya kental, lebih mengilat, tidak lengket, dan tidak cepat putus.
  • Bakso: Teksturnya sangat kental, warna tidak kecoklatan seperti penggunaan daging, tetapi lebih cenderung keputihan.
  • Snack: Misalnya lontong, teksturnya sangat kenyal, berasa tajam, sangat gurih, dan memberikan rasa getir.
  • Kerupuk: Teksturnya renyah dan bisa menimbulkan rasa getir.

Ciri makanan menggunakan pewarna rhodamin B dan methanyl yellow:

  • Warnanya mencolok
  • Cerah mengilap
  • Warnanya tidak homogen (ada yang menggumpal)
  • Ada sedikit rasa pahit
  • Muncul rasa gatal di tenggorokan setelah mengonsumsinya

( WD  dengan berbagai sumber)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikLingkunganSosial Budaya

Warga perlu menginisiasi gerakan politik

SAM_3168
  • Diskusi Nobar Film Sexy Killers

Kajen, Wartadesa. – Dibutuhkan gerakan politik yang diinisiasi, diusung oleh warga guna memperjuangkan dan menyuarakan suara warga. Menurut Ribut Achwandi, budayawan dari Kota Pekalongan, warga perlu menginisiasi gerakan politik tersebut dengan cara mengusung tokoh warga sekitar yang dikenal untuk “nyemplung” dalam “comberan” politik.

“Setelah menonton film Sexy Killers, yang kita butuhkan sekarang atau beberapa tahun mendatang, adalah bagaimana generasi Y maupun generazi Z (milenial) menggerakkan warga untuk mengusung tokoh yang merepresentasikan warga. Mereka berkumpul untuk kemudian memilih tokoh yang akan diusung, setelah bersepakat, galang saweran … misal Rp. 10 ribu, tidak boleh lebih dari nominal tersebut. Warga yang bersepakat seluruhnya berdonasi secara sukarela. Hasilnya digunakan untuk mendaftarkan tokoh yang diusung pada salah satu partai politik, untuk merepresentasikan suara warga.”

Ribut yang juga merupakan akademisi perguruan tinggi di Pekalongan tersebut mengungkapkan dalam diskusi gelaran nonton bareng film Sexy Killers di PhomRak Cafe seberang SMA Negeri 1 Kajen, Senin (22/04) malam. Menurutnya, oligarki politik sejak berpuluh-puluh tahun, hingga saat ini, perlu menumbuhkan kesadaran warga untuk turut terjun kegelanggang politik praktis, memperjuangkan kepentingan warga akar rumput.

Ribut Achwandi memantik acara diskusi pada acara nonton bareng film Sexy Killers di Kajen, Senin (22/04) malam. Foto: Wartadesa

“Hiruk-pikuk pemilu serentak tidak mendidik warga untuk tahu visi, misi calon wakil rakyat. Bahkan hampir tidak ada caleg (calon legislatif) yang mensosialisasikan visi-misi mereka ketika mereka berkampanye. Kita hanya dijejali dengan gambar-gambar caleg di sepanjang jalan, tanpa tahu apa yang mereka perjuangkan,” lanjut Ribut.

Budayawan yang tinggal di Landungsari, Kota Pekalongan tersebut mengungkapkan bahwa gelaran pemilu legislatif terkooptasi (tertutup) oleh perdebatan panas calon presiden dan calon wakil presiden yang berimbas pada warga.

Imam, peserta diskusi asal Desa Sinangoh Prendeng, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan membenarkan bahwa film Sexy Killers yang mengungkap bisnis korporasi tambang batubara, perkebunan kelapa sawit, PLTU maupun turunannya, tidak memperhatikan konservasi alam.

Pemuda yang sempat bekerja di salah satu perusahaan tambang batubara di Kalimantan tersebut menceritakan bagaimana perusahaan batubara beroperasi sejak awal hingga mengolah fosil bumi Indonesia.

“Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan tambang batubara di Kalimantan. Jadi, untuk mendapatkan batubara, awalnya bukit atau hutan digunduli dengan cara dibakar. Pembakaran hutan ini, tentu saja mematikan kehidupan ekosistem yang ada. Binatang dan makhluk hidup lainnya tentu terdampak, termasuk manusia.” Ujarnya.

Setelah hutan gundul, lanjut Imam, tanah yang ada dipermukaan diambil. “Seharusnya tanah yang diambil untuk mendapatkan batubara, disimpan (tanahnya), setelah tambang habis, tanah dikembalikan kembali dan volume tanah ditambah sesuai dengan jumlah batubara yang dikeruk. Namun hal tersebut tidak dilakukan, itulah yang terjadi, alam rusak lantaran tambang tersebut,” tuturnya.

Apa yang kita lihat dalam film Sexy Killers, ditingkat lokal, Pekalongan juga terjadi. “Di Pekalongan saat ini kan marak tambang galian C, apakah tambang galian C disekitar kita tersebut telah memperhatikan kelestarian lingkungan? Saya tidak tahu, lanjut Imam retoris.

Sementara Dudi, mahasiswa Yogya asal Kedungwuni mengungkapkan pengalamannya bagaimana warga Kulonprogo berdaya, menolak tambang pasir besi. Menurutnya inisiasi gerakan warga perlu ditumbuhkan, “pengalaman turut mendampingi warga Kulonprogo membuat saya membangun sebuah komunitas di Jogja yang memberikan literasi bagi warga,” ungkapnya.

Dudi menilai bahwa oligarki politik saat ini tentu membutuhkan terobosan bagi generasi milenial –entah lima tahun atau berpuluh tahun mendatang– untuk terjun ke dunia politik yang baik dan benar. “Butuh dorongan kaum milenial untuk terjun ke dunia politik saat ini yang seperti comberan. Mereka harus benar-benar bertekat meluruskan politik saat ini. Walaupun anggapan umum saat ini politik itu kotor, setidaknya perlu dicoba untuk terjun dan memperjuangkan kepentingan warga.” ujarnya.

Gambarannya, ketika ada kucing yang kecemplung ke comberan yang kotor, terus ada orang yang turun ke comberan tersebut kemudian menyelamatkan kucing. Yang kotor hanya kakinya saja, namun kucingnya telah selamat. Ujar Duni menggambarkan, “ketika kaum muda berpolitik dengan tujuan yang baik dan benar. Mereka harus siap untuk dicap “kotor” dan tidak dipercaya. Tapi buktikan kiprahnya, bahwa mereka menyuarakan warga,” lanjutnya.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh lebih dari tiga puluh peserta tersebut, terungkap bahwa politik indonesia saat ini, bahkan ditahun-tahun berikutnya akan tetap dikuasi oleh oligarki dan korporasi (baca: pemodal). Pun ditingkatan lokal.

Namun ada beragam cara untuk tetap bisa berkontribusi dan menyuarakan suara warga. Setidaknya jadi ketua RT atau RW yang baik dan benar, memperjuangkan kepentingan warga. Atau dengan menginisiasi komunitas yang berkontribusi dan membemberdayakan warga.

Menurut Najmul Ula, mahasiswa Prodi Ilmu Politik FIS Unnes asal Pekalongan yang juga menjadi moderator acara, saat rekannya, Aghnia Ananda, pemilik PhomRak Cafe mempunyai ide untuk menggelar acara nonton bareng dan diskusi film garapan Watchdog, dia tertarik. Bersama rekan-rekannya, disepakati acara digelar di lapak rekan Aghnia Ananda, di Jalan Mandurorejo Kajen.

“Acara ini diluar dugaan, antusiasme peserta dari Pekalongan begitu tinggi. Ekspektasi kita, sepuluh peserta saja sudah cukup. Yang hadir saat ini lebih dari target. Ini menunjukkan bahwa kaum muda Pekalongan tertarik dengan gerakan literasi,” ujar Najmul.

Gelaran yang dimulai dengan pemutaran film yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono pukul 19.30 WIB dilanjutkan dengan diskusi dengan pemantik Ribut Achyadi hingga pukul 00.00 WIB dinihari. (WD)

selengkapnya
KesehatanSosial Budaya

Duh! Banyak calon pengantin yang positif hamil saat PP test positif

ilustrasi pp positif

Kajen, Wartadesa. – Sedikitnya 306 calon pengantin (catin) pada tahun 2018, positif hamil saat menjalani PP test positif. Data tersebut merupakan sebagian dari total 7.529 calon pengantin yang diperiksa. Dari data tersebut, peringkat pertama catin PP test positif yakni Kecamatan Paninggaran, disusul Kecamatan Kesesi dan Kecamatan Wiradesa.

Demikian disampaikan oleh Kabid Kesehatan Masyarakat, Dinas Kesehatan (Dinkes) Kabupaten Pekalongan, dr Ida Sulistiani, dalam Rapat Koordinasi Upaya Penurunan Bayi BBLR, Balita Gizi Kurang, Balita Gizi Buruk, dan Stunting Melalui ‘Gen Pesat’ (Gerakan Pemuda Siaga Sehat) di Aula Dinkes setempat, beberapa waktu lalu.

Menurut dr. Ida, seharunya semua calon penantin yang diperiksa PP test-nya negatif, lantaran kehamilan yang tidak dikehendaki dapat mempengaruhi janin dan ibu. Selain itu juga melanggar norma agama.

Selain permasalahan kehamilan sebelum penikahan. Permasalahan lainnya yakni masih tingginya usia pernikahan dini di Kota Santri. Ida menyebut, tahun 2017 jumlah pernikahan dini di Kabupaten Pekalongan sebanyak 2.024 dari total 9.044 jumlah perkawinan, atau sebanyak 22,38 persen.

Dari data tersebut, sebanyak lima pernikahan usia dibawah 16 tahun, 394 pernikahan usia 16 tahun, 754 pernikahan usia 17 tahun dan sebanyak 871 pernikahan usia 18 tahun.  Menurut Ida, pernikahan tesebut tidak ideal, karena usia ideal pernikahan yakni laki-laki berumur 25 tahun dan perempuan berusia 20 tahun.

Hal tersebut menjadikan Kota Santri menduduki peringkat ketiga pada pernikahan dini, rangking satu Kabupaten Grobogan dan selanjutnya Kabupaten Brebes.

Tingginya angka pernikahan dini, dan beragam persoalan kesehatan anak, balita dan ibu hamil tersebut Dinkes menelurkan progran Gen Pesat (Gerakan Pemuda Siaga Sehat) untuk menekan bayi BBLR, balita gizi kurang, balita gizi buruk, dan stunting.

Ida menyebut Gen Pesat adalah suatu wadah gerakan pemberdayaan para pemuda/pemudi yang peduli akan kesehatan. Gerakan ini diharapkan mampu menjadi pelopor kesehatan di masyarakat, menggerakkan pemuda agar peduli dengan kesehatan. (WD)

selengkapnya