close

Kesehatan

KesehatanLayanan Publik

Pembangunan Puskesmas Kajen 1 dan 2 terancam gagal

gagal lelang

Kajen, Wartadesa. – Pembangunan Puskesmas Kajen 1 dan Puskesmas Kajen 2 terancam gagal lantaran gagal lelang. Demikian terangkum dalam kunjungan Komisi C DPRD Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/12) ke Dinas Kesehatan tekait pembangunan dua Puskesmas tersebut.

Abdul Munir, Ketua Komisi C mengungkapkan pihaknya prihatin dengan gagal lelangnya dua Puskesmas di Kajen akibat jadwal (lelang) terlalu mepet. “Kami sangat prihatin karena seharusnya masyarakat sudah bisa menikmati Puskesmas yang nyaman dan bagus, karena gagal lelang akhrinya tertunda 1 tahun lagi.” Ujarnya.

Munir menambahkan, Puskesmas Kajen 1 dan Puskesmas Kajen 2 baru bisa dianggarkan tahun depan. “Tahun depan belum dianggarkan untuk yang gagal lelang dan baru dianggarkan pada tahun 2021,” lanjutnya.

Sementara itu, Kabid Kesehatan Masyarakat Dinas Kesehatan Kab. Pekalongan, Ida Sulistiyani menjelaskan bahwa untuk rencana tahun 2019 di Dinas Kesehatan ada 6 proyek. RSUD Kesesi, Puskesmas Talun, Puskesmas Kajen 1, Puskesmas Kajen 2, Puskesmas Pembantu Jetak Kidul dan Puskesmas Pembantu Kwasen.

“Untuk puskesmas kajen 1 dan 2 mengalami gagal lelang karena tidak ada peserta yang memenuhi syarat teknis,” tutur Ida.

Ida menambahkan, pada tahun 2020 Pemkab merencanakan pembangunan 9 proyek Puskesmas, diantaranya,  Puskesmas Wonopringgo, Puskesmas Siwalan dan RSUD Kesesi, Puskesmas Pembantu Kalijoyo, Puskesmas Pembantu Lolong, Puskesmas Pembantu Sijambe, Puskesmas Pembantu Pegandon, Puskesmas Pembantu Lemah Abang dan Puskesmas Pembantu Sembung Jambu.

Menurut Ida, pihaknya akan lebih serius dan fokus dalam perencanaan, sehingga kejadian tender gagal lelang tidak terjadi lagi. (Eva Abdullah)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikSosial Budaya

Sepotong kisah Reza, bocah penderita lumpuh otak dari Samborejo

kisah reza

Tirto, Wartadesa. – Nama lengkap bocah berusia delapan tahun itu Azizatun Reza. Ia biasa disapa Resa, tinggal di sepetak kamar bersama ibunya, Ida Fatmawati (42) di rumah saudaranya Desa Samborejo Rt. 13/05, Kecamatan Tirto Kabupaten Pekalongan. Reza dan ibunya terpaksa menumpang di rumah saudaranya, lantaran belum memiliki rumah sendiri.

Reza menderita cerebal palsy sejak lahir ( Cerebral palsy atau lumpuh otak adalah penyakit yang menyebabkan gangguan pada gerakan dan koordinasi tubuh). Diusianya yang sudah delapan tahun, Reza belum bisa berjalan, ataupun melakukan aktivitas seperti anak-anak seumurannya.

Ibunya, Ida Fatmawati selalu mengendong Reza  kemanapun ibunya pergi, begitupun disaat ibunya bekerja Reza selalu menemani. Bahkan ketika harus kontrol ke rumah sakit dengan jarak yang lumayan jauh, sang ibu harus berjalan kaki sambil menggendong Reza, karena tak ada uang untuk membayar ojek ataupun angkutan umum.

Ayah Reza meninggal satu tahun yang lalu dalam sebuah kecelakaan. Kini Ibu Reza berjuang sendiri dengan bekerja sebagai buruh nyolet (mewarnai kain batik) dengan penghasilan yang tak menentu.

Tak bisa dibayangkan begitu berat ujian yang harus mereka lalui. Hingga malu rasanya diri ini apabila masih sering mengeluh.

Dari kisah mereka, aku mendapatkan guru kehidupan yang membuatku sadar akan arti rasa yyukur yang selama ini terabaikan.  Ampuni hamba ya  Robb…. (Haria Sulistiyaningsing)

 

Haria Sulistiyaningsih adalah penggiat penyakit gagal jantung bawaan, tinggal di Desa Tangkil Kulon, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Ia aktif di komunitas tersebut di wilayah Pemalang, Pekalongan dan Batang.

Editor: Buono

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikLingkungan

Catat! Industri di Kota Santri tidak boleh mencemari sungai

sampel air

Kajen, Wartadesa. – Sebagai kota batik, jins dan tekstile, Bupati Pekalogan, Asip Kholbihi mendeklarasikan industri di Kota Santri tidak boleh mencemari sungai. Sudah mahfum bila kondisi sungai di Pekalongan saat ini tidak dalam kondisi baik-baik saja. Industri batik printing, tekstil dan cucian jins disinyalir menyumbang pencemaran sungai–setidaknya selama ini.

Puncak dari kekecewan warga akan pencemaran sungai, dilakukan oleh warga Desa Pegaden Tengah, beberapa waktu lalu. Hingga akhirnya, beberapa industri cucian jins ditutup sampai mereka membuat IPAL atau meminta DLH untuk mengangkut limbah mereka. Dan, Kamis (24/10) pihak DLH melakukan pengecekan kadar air limbah yang ada di sungai Pegaden Tengah.

Kanit reskrim Polsek Wonopringgo Bripka Pipin Setio dan Kanit II Reskrim Polres Pekalongan bekerja sama dengan KLH Provinsi Jawa Tengah melakukan pengecekan pembuangan air limbah jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan.

Warga setempat berharap agar hasil pengecean tersebut diumumkan melalui surat resmi ke Kepala Desa dan disampaikan ke warga Pegaden Tengah.

Pencemaran kali di Pekalongan, tidak hanya terjadi di Pegaden Tengah saja. Hampir di seluruh sentra industri jins, batik printing dan tekstil terjadi hal serupa. Hanya saja, hingga saat ini warga belum menyuarakan keluhan mereka.

Komitmen Bupati Pekalongan yang diungkapkan dalam Kick-off Meeting (pertemuan) dan Focus Group Discussion (FGD–grup diskusi terfokus) Kajian Dampak dan Risiko Iklim Kota dan Kabupaten Pekalongan, di Hotel Santika Pekalongan, Kamis (24/10) terkait gerakan “Kaline Resik Rejekine Apik” patut diapresiasi dan dipantau warga dalam implementasinya.

“Kami sedang melakukan gerakan yang sudah mendapat apresiasi dari banyak pihak yaitu “Kaline Resik Rejekine Apik”. Program bersih-bersih sungai kita ini sudah dimulai sejak dulu. Termasuk untuk mencegah banjir, rob. Kami juga memoratorium pengadaan sumur dalam tanah. Saya membaca betul hasil penelitian DR. Andreas dari ITB bahwa salah satu penyebab rob adalah terlalu banyaknya sumber air dalam atau air bawah tanah (ABT) yang kita manfaatkan,” kata Asip.

Asip menambahkan bahwa pihaknya tahun ini mendeklarasikan bahwa seluruh produk industri tidak boleh mencemari sungai. Ia mengaku telah mengumpulkan 120 pengusaha pencucian jins agar mengolah limbahnya dengan IPAL. “Sebanyak 120 pemilik wash jeans sudah kami kumpulkan dan kami sudah punya solusinya bagaimana mengolah limbah. Pertama yang akan kita tertibkan adalah IPAL komunal maupun IPAL yang dimiliki sendiri oleh industri,” jelasnya.

Asip juga mengungkapkan bahwa pihaknya mempunyai 1,5 ribu hektar lahan yang disiapkan untuk kawasan industri. Kawasan tersebut disiapkan agar pembangunan yang dilakukan sesuai dengan tata ruang wilayah. Gong perang terhadap pencemaran sungai, sampah dan pembangunan berbasis pro-iklim telang dicanangkan. Tentu warga berharap hal tersebut diimplementasikan secara nyata. (Buono)

selengkapnya
KesehatanLingkungan

Air disekelilingmu layak minum? Cek dengan teh

teh

Kajen, Wartadesa. – Permasalahan limbah cair batik dan tekstile (temasuk pencucian jins) di Kabupaten dan Kota Pekalongan dan permasalahan genangan rob bagi sebagian warga yang berada di pesisir utara Pekalongan membuat kualitas air di wilayah tersebut tak layak konsumsi.

Data Dinas Lingkungan Hidup (DLH) Kota Pekalongan Agustus 2019, dari 5.190 meter kubik limbah cair, yang sudah diolah di Instalasi Pengolahan Air Limbah (IPAL)  baru 2.601 meter kubik, atau 2,6 juta liter setiap harinya. Dimana   5 juta liter lebih limbah cair tersebut dihasilkan oleh industri batik, tekstil dan jins yang ada di Pekalongan.

Cemaran limbah di Pekalongan, terlihat jelas dari air yang mengalir di sungai-sungai yang ada, dengan penuh warna-warni. Pun, beberapa waktu lalu, saat rob menggenangi wilayah Pantura Pekalongan, limbah ini bercampur dengan air rob dan mencemari wilayah tersebut.

Data dari Badan Pusat Statistik (BPS) tahun 2019, akses air bersih layak konsumsi di Indonesia hanya mencapai 73,55 persen. Faktor penyebab air tidak layak konsumsi menurut BPS dipengaruhi beberapa faktor yaitu sampah anorganik dan organik yang membusuk dan tertimbun di atas tanah dekat sumber air, serta limbah cair rumah tangga atau pun industri yang mengandung racun yang terbawa air hujan dan bermuara ke sumber air.

Bagi warga yang ‘terpaksa’ menggunakan air tidak layak konsumsi akan terjangkit beberapa penyakit   seperti diare, korela, hepatitis A, dan disentri.

Lalu, bagaimana melakukan pengecekan sendiri, secara sederhana, untuk mengetahui kualitas air di sekitarnya? Ternyata teh dapat digunakan untuk melakukan pengecekan kualitas air. Kualitas air layak konsumsi adalah air (air sumur, dan sumber lainnya) yang tidak mengandung kadar logam dan kesadahan–Kesadahan air adalah kandungan mineral-mineral tertentu di dalam air, umumnya ion kalsium (Ca) dan magnesium (Mg) dalam bentuk garam karbonat.– yang berlebih.

Tim II KKN Undip 2019 di Desa Tangkl Tengah, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan, beberapa waktu lalu melakukan sosialisasi dengan pengujian sederhana kualitas air dengan menggunakan media teh. Ujicoba yang dilakukan dengan cara:

  1. Menambahkan air teh tawar dengan air sampel dengan perbandingan 1:2,
  2. Diamkan air tersebut selama satu malam dengan keadaan terbuka,
  3. Amati perubahan, jika terdapat lapisan minyak diatasnya maka air tersebut mengandung logam.

Dari hasil pengujian air sampel yang diambil dari Desa Tangkil Tengah oleh Fatimah az Zahra, mahasiswa KKN Undip 2019,  terdapat lapisan minyak diatasnya yang menunjukkan adanya kandungan logam pada air tersebut. Sehingga dinyatakan bahwa kualitas air di desa tersebut tidak layak konsumsi.

Namun, dari hasil penelitian tersebut  perlu adanya tindak lanjut uji laboraturium agar dapat mengetahui kandungan dari air tersebut dengan akurat. Mahasiswa Tim II KKN UNdip berharap, dari hasil ujicoba sederhana tersebut, pemerintah desa dapat meningkatkan program penyulingan air bersih, agar warga  setempat dapat hidup sehat dengan kualitas air yang baik. (Eva Abdullah, dan tambahan data dari tulisan Sarah az Zahra di kompasiana)

selengkapnya
Hukum & KriminalKesehatanLayanan PublikLingkunganSosial Budaya

Limbah cucian jins di Pegaden Tengah disedot

limbah jins

Wonopringgo, Wartadesa. – Paska demo warga Pegaden Tengah, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan beberapa waktu lalu.  Tim penyedot limbah dari KLH Kabupaten Pekalongan melakukan penyedotan limbah cucian jins atas permintaan para pengusaha, Selasa (01/10).

Permasalahan limbah cucian jins di desa tersebut beberapa waktu lalu menjadi kontra antara warga sekitar dengan pengusaha dan warga sempat menutup saluran pembuangan limbah cucian ke sungai dengan menggunakan adukan semen dan sirtu.

Sebelumnya, adanya informasi, limbah cucian jins yang mulai meluap, membuat Kanit Reskrim dan Kanit Intel Polsek Wonopringgo, menghimbau agar pengusaha segera melakukan penyedotan dengan berkoordinasi dan mengajukan permohonan ke pemerintah yaitu KLH Kabupaten Pekalongan untuk melakukan penyedotan guna mencegah warga untuk tidak mengadakan protes lagi.

Penyedotan limbah pun dilakukan pada Selasa (01/09) dengan disaksikan Kanit Intel dan Kanit Reskrim Polsek Wonopringgo. Meski terjadi gejolak warga, hadirnya petugas mampu megatasi permasalahan tersebut.

Penyedotanpun dilakukan oleh tim KLH sesuai permintaan dari pengusah. Penyedotan limbah oleh KLH dilakukan setelah adanya permintaan dari pengusaha.

Diberitakan sebelumnya, mediasi antara warga Desa Pegaden Tengah, Kecamatan Wonopriggo, Kabupaten Pekalongan dengan pengusaha cucian jins (jeans wash) deadlock alias belum ada titik temu. Mediasi yang digelar Kamis (26/09) siang pukul 10.00-12.30 WIB mengalami kebuntuan.

Informasi didapat, perwakilan warga menganggap bahwa  sejak awal adanya perjanjian antara warga dengan pengusaha pada tahun 2011 sampai dengan sekarang tidak pernah ditaati. Penandatanganan kesepaatan antara warga dengan pengusaha pun batal dilakukan, menunggu pertemuan yang dihadiri lebih banyak warga, pada tanggal 07 Oktober 2019 mendatang.

Sebelum pertemuan pada Oktober mendatang, warga meminta agar dilakukan pembersihan aliran sungai dari hulu hingga hilir, dari Rt. 07 hingga Rt. 04 Desa Pegaden Tengah. Sebelum hal tersebut dilakukan, warga belum mau melakukan penandatanganan kesepakatan.

Hadir dalam musyawarah antara lain Kabid Penegakan Perda Sat Pol PP  Slamet Riyanto, Camat Wonopringgo diwakili oleh  Totok, BPD Desa Pegadentengah dan warga masyarakat.

Kepala Desa Pegaden Tengah, Khaeriyah mengungkapkan bahwa pertemuan tersebut merupakan upaya mencari solusi dari permasalahan yang ada di desa tersebut. Kepala Desa berharap para pengusaha dan masyarakat dalam pertemuan ini bisa mencapai kesepakatan yang tidak merugikan kedua belah pihak kepala desa juga menyadari bahwa permasalahan ini sudah terjadi sejak dulu namun harus disadari bersama bahwa permasalahan tersebut segera diselesaikan.

Sementara itu, Kabid Penegakan Perda Sat Pol PP  Slamet Riyanto menegaskan bahwa dengan adanya keluhan warga, pihaknya memberikan dua  opsi kepada para pengusaha, apabila berkeinginan beroperasi kembali harus memiliki IPAL atau mambuat bak penampung yang diteruskan penyedotan oleh Dinas Perkim dan LH. (Eva Abdullah/Teguh/Polsek Wonopringgo)

selengkapnya
KesehatanPendidikan

PMR Wira SMK Muhamka borong piala di VIA IAIN Pekalongan

pmr wira

Kajen, Wartadesa. – Palang Merah Remaja (PMR) Wira SMK Muhamka meraih juara pada tiga cabang lomba sekaligus dalam ajang Volunteer In Action (VIA) III 2019 yang diselenggarakan oleh IAIN Pekalongan, Ahad (1/9) lalu.

Tiga juara cabang lomba yang berhasil diraih diantaranya Juara 1 Perawatan Keluarga (PK) oleh Mita Pramesti XI TKJ 4 dan Vina Pitasari XI KI, Juara 3 Pertolongan Pertama (PP) oleh Erwinanto XI TKR 1 dan Muhammad Muzaqi XI TKR 1, serta Juara 2 Lomba Video Kreatif.

Pembina Ekstrakurikuler PMR Wira SMK Muhamka Nihla Nurul Laili menuturkan apa yang diraih anak didiknya adalah buah kerja keras selama ini dan motivasi mereka untuk berprestasi juga sangat baik.

“Alhamdulillah, hasil kerja keras latihan satu bulan mendapatkan hasil yang memuaskan, semoga anak-anak PMR SMK Muhamka tetap rendah hati dan bisa menjadi relawan hebat di negeri ini,” ucap Nihla Nurul Laili.

Sementara itu anggota PMR Linda Virasati Abdika mengatakan, dirinya bangga dengan prestasi yang diraih timnya.

“Bangga dan bahagia melihat teman-temanku, adik-adik PMR Wira Muhamka menjadi juara. Semoga bisa lebih baik lagi dilomba-lomba berikutnya. Siamo! Tutti Fratelli” Ujar Linda yang juga siswi kelas XII jurusan komputer itu.

Senada dengan Linda, Mita Pramesti juga menyampaikan kesan mendalam atas prestasi yang baru saja diraihnya.

“Bagi saya, kemenangan bukanlah sesuatu yang terjadi tiba-tiba saat dewan juri berkata mulai dan memulai menghitung waktu. Namun, menang adalah sesuatu yang membangun secara fisik dan mental dikarenakan setiap saat saya ditempa untuk latihan. Dan benar saja, usaha tak mengkhianati hasil. Saya pun merasa senang bisa turut andil dalam lomba ini bersama keluarga PMR Wira Muhamka,” Ujar Mita.

Volunteer In Action (VIA) III tahun 2019 diikuti oleh 23 kontingen PMR Wira se-karisedenan Pekalongan. Lomba ini dilaksanakan selama satu hari di kampus 2 IAIN Kajen, Pekalongan. (Linda Virasati Abdika-XII TKJ 2)

selengkapnya
KesehatanPendidikanSosial BudayaUncategorized

Tim KKN Undip gelar Cumi dan mewarnai indah di Paduraksa

cumi

Pemalang, Wartadesa. – Tim II KKN Undip Semarang menggelar acara Cumi (cuci tangan usia dini) dan mewarnai indah bagi anak-anak PAUD usia 4-6 tahun di Kelurahan Paduraksa, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, beberapa waktu lalu.

Mencuci tangan menggunakan sabun dengan teknik enam langkah merupakan salah satu kiat penting hidup sehat. Bertempat di Balai Kelurahan Paduraksa, mahasiswa KKN TIM II Universitas Diponegoro, Devina Afraditya Paveta Program Studi Kedokteran Universitas Diponegoro mengenalkan dan mengajak anak – anak usia dini di Kelurahan Paduraksa untuk melakukan cuci tangan menggunakan sabun yang baik dan benar.

Dengan teknik enam langkah melalui program “CUMI” pada hari Sabtu pukul 08.00 WIB. Acara dimulai dengan penyampaian materi melalui media gambar, video edukasi, dan senam cuci tangan enam langkah.

Kemudian, acara dilanjutkan dengan mewarnai gambar langkah – langkah cuci tangan bersama dalam kelompok kecil dan bermain mengurutkan gambar tersebut dengan baik dan benar.

Tidak hanya penyampaian materi dan mewarnai bersama, namun juga melakukan praktik langsung mencuci tangan menggunakan sabun dengan teknik enam langkah bersama – sama sebelum dan sesudah makan siang.

Selain itu, juga terdapat penampilan drama oleh teman – teman KKN TIM II Universitas Diponegoro untuk memberikan visualisasi yang lebih nyata mengenai pentingnya cuci tangan pakai sabun dalam kehidupan sehari – hari. Anak – anak pun sangat antusias mengikuti seluruh rangkaian acara. (Jazimatul Husna)

selengkapnya
KesehatanLingkunganSosial Budaya

Limbah plastik dan kaos kaki diubah jadi ecobrick

ecobrick

Pemalang, Wartadesa. – Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggelar pelatihan pengolahan limbah plastik dan limbah kaos kaki menjadi Ecobrick (bata ramah lingkungan) kepada warga Kelurahan Paduraksa, Kecamatan/Kabupaten Pemalang, beberapa waktu lalu.

Menurut Gunawan Silalahi, mahasiswa KKN Undip Semarang,  program ini (pelatihan ecobrick) menjelaskan dampak dari limbah plastik dan pemanfaatan limbah kaos kaki yang ada di Kelurahan Paduraksa. Karena Paduraksa Merukakan sentra Kaos Kaki, sehingga memiliki banyak limbah.

Pelatihan diawali dari pengenalan sampah dan bahaya sampah bagi tubuh manusia dan lingkungan, pemahaman dari konsep 3R (reduce, reuse, recycle).

Ecobrick sendiri merupakan pengolahan limbah yang dapat digunakan sebagai barang serbaguna, seperti bangku, meja, bahkan gapura dan panggung pertunjukan pun dapat dibuat melalui metode Ecobrick.

Dengan pelatihan ini diharapkan dapat membuat masyarakat Paduraksa dapat sadar terhadap bahaya sampah plastik bagi lingkungan. Sehingga masyarakat harusnya dapat peduli dan dituntut dapat mengelola sampah dengan bijaksana mengingat keadaan lingkungan yang semakin memburuk.

Pengelolahan diawali dengan membedakan sampah organik dan non organik, mengurangi sampah plastik dan memanfaatkan sampah plastik menjadi barang yang memiliki nilai guna seperti Ecobrick maupun metode lainnya yang efisien. (Tim II KKN Undip Kelurahan Paduraksa)

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Tidak boleh ada pemasungan lagi pada penyandang disabilitas mental

pasung

Pemalang, Wartadesa. – Tidak boleh ada anggota keluarga yang melakukan pemasungan kepada penyandang disabilitas mental. Demikian disampaikan oleh Tri Lukanah, Pekerja Sosial Masyarakat (PSM) saat melakukan pendampingan dan pemantauan perkembangan penyandang disabilitas mental di Dukuh Pulo, Desa Kebagusan, Kecamatan Ampelgading, Kabupaten Pemalang, Selasa (30/07).

Perempuan yang akrab disapa Lina tersebut mengungkapkan bahwa anggota keluarga yang dipasung harus dibebaskan. “Keluarga yang dipasung harus dibebaskan, sekarang sudah tidak boleh ada lagi (pemasungan),” ujarnya disela-sela kegiatan.

Menurut Lina, PSM saat ini melakukan pendampingan dan memantau perkembangan kondisi warga penyandang disabilitas mental secara rutin. “Kami mendampingi dan memantau perkembangan pasien dari rujukan Puskesmas serta Rumah Sakit Jiwa, higga mereka pulang ke keluarganya,” lanjut Lina.

Lina menyebut, hingga saat ini ada 17 warga penyandang disabilitas mental di Kabupaten Pemalang yang tinggal bersama keluarganya. “Total di Kabupaten Pemalang ada 17 orang. Mereka tinggal bersama keluarganya, kadang diantara mereka suka mengamuk, suka merusak rumah tetangganya. Hal tersebut membuat keluarga kadang bertindak protektif dengan memasung mereka,” ujarnya.

Terkait dengan pemasungan tersebut, PSM bersama Dinas Sosial Kabupaten Pemalang dan Privinsi Jawa Tengah, hari ini melakukan pendampingan dan pemantauan di beberapa titik di Kabupaten Pemalang. “Tujuannya agar anggota keluarga tidak ada yang melakukan pemasungan, jika anggota keluarga kewalahan dalam menangani anggota keluarga yang mengalami disabilitas gangguan mental, sebaiknya dibawa ke Rumah Sakit Jiwa terdekat.” Ujar Lina.

Hadir dalam pendampingan tersebut, Surono dan Wahyu dari Dinsos Provinsi Jateng, Maghfuroh, Erma Kristiani, Paduwati, Siti Khotijah dari Dinsos Kabupaten Pemalang, Aris, Wiwit, Yulis, Warman dan Misbahudin dari Dinas Kesehatan dan Sosial, serta Tri Lukanah, Suciati dan Muhamad hidayat dari PSM Kabupaten Pemalang.

Data dihimpun, Kementerian Sosial mencatat dari 26 provinsi di Indonesia, jumlah penyandang disabilitas mental (orang dengan gangguan jiwa) sebanyak 4.786 orang. Dari angka tersebut sebanyak 3.441 orang telah bebas pasung, sementara 1.345 (28,1%) masih terpasung dan dalam penanganan.

Dari penyandang disabilitas mental yang masih dipasung, terbanyak di Jawa Timur sebanyak 453 orang, disusul Sumatera Selatan 174 orang dan Riau 154 orang.

Pemasungan terjadi karena masih rendahnya pengetahuan keluarga dan warga tentang penyakit gangguan jiwa yang dialami oleh penyandang disabilitas mental.

Tujuan dari Gerakan Stop Pemasungan adalah untuk mencegah penyandang disabilitas mental mengalami pemasungan dan pemasungan kembali, serta mendapatkan rehabilitasi medis dan sosial, sehingga fungsi sosialnya bisa pulih kembali. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Kesehatan

Enam bulan 31 kasus HIV/AIDS di 12 kecamatan Kabupaten Pekalongan

ilustrasi aids

Kajen, Wartadesa. – Hingga Juni 2019 sedikitnya ada 31 kasus HIV/AIDS yang tersebar di 12 kecamatan di Kabupaten Pekalongan. HIV 21 kasus dan AIDS 10 Kasus, tersebar di Kecamatan Bojong, Buaran, Kajen, Karanganyar, Kesesi, Kedungwuni, Paninggaran, Sragi, Talun, Wonokerto, Wonopringgo dan Lebakbarang.

Demikian data yang disampaikan oleh Pengelola Program dan Monev Komisi Penanggulangan AIDS Kabupaten Pekalongan, M. Iqbal Masruri, Senin (29/07).

“Data yang kami peroleh sebelumnya mencatat sampai bulan April 2019 ada 19 kasus, HIV 14 kasus dan AIDS 5 kasus. Untuk data update lagi sampai bulan Juni mencatat ada 31 kasus, HIV 21 kasus dan AIDS 10 Kasus,” ungkap Iqbal, dikutip dari Fajar.co.

Menurut Iqbal,  dari data tahun 2018, jumlah penderita HIV/AIDS di Kabupaten Pekalongan sebanyak 72 kasus. Untuk HIV ada 36 kasus dan AIDS 36 kasus.

Secara kumulatif data dari 2005 hingga 2019 ini mencatat ada 376 kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pekalongan, dengan rincian HIV 202 kasus dan AIDS 174 kasus. Dari data 367 kasus tersebut 177 kasus penderita HIV/AIDS sudah dinyatakan meninggal dunia atau sekitar 49% nya. Sedang untuk kasus enam bulan terakhir ini belum ada yang meninggal dunia. Ungkap Iqbal.

Iqbal menyebut bahwa kasus HIV/AIDS di Kabupaten Pekalongan ini merupakan fenomena gunung es. Menurutnya informasi dari pusat, di Kabupaten Pekalongan  ada 1737 kasus HIV/AIDS, tetapi yang diketahui cuma 376 kasus. Ini seperti fenomena gunung es yang tampak itu masih sangat sedikit, sedangkan yang tidak tampak masih banyak.

Pihaknya menghimbau masyarakat bila mengetahui ada penderita HIV/AIDS bisa memberikan pengertian dengan benar, sehingga bagi yang terindikasi mau melakukan pemeriksaan kesehatan tentang tes HIV/AIDS yang sudah bisa dilakukan di seluruh rumah sakit dan puskesmas yang ada di Kabupaten Pekalongan. (Sumber: Fajar.co)

selengkapnya