close

Kesehatan

KesehatanSosial Budaya

Angka Pernikahan Anak di Batang Melonjak: Pentingnya Remaja Pahami Risiko dan Jaga Batas Pergaulan

template berita foto warta desa(15)

WARTADESA, BATANG — Angka permohonan dispensasi kawin di Kabupaten Batang kembali menunjukkan tren peningkatan. Data Pengadilan Agama (PA) Batang mencatat, sepanjang Januari hingga Juli 2026 terdapat 206 permohonan dispensasi kawin, di mana 61 pasangan di antaranya merupakan anak di bawah umur—mayoritas remaja perempuan berusia 15 hingga 18 tahun. Angka ini meningkat dibandingkan periode yang sama pada tahun 2025 yang mencatat 156 permohonan.

Sebagian besar pengajuan ini dipicu oleh hubungan remaja yang melampaui batas hingga berujung pada kehamilan di luar nikah. Pemerintah Kabupaten Batang melalui DP3AP2KB bersama PA Batang, Puspaga, dan Kementerian Agama terus memperketat prosedur konseling serta edukasi guna menekan angka pernikahan anak demi masa depan generasi muda yang lebih baik.

Memahami Risiko Dini: Mengapa Pernikahan Anak Perlu Dicegah?

Pernikahan di usia remaja bukan sekadar pergantian status sosial, melainkan langkah besar yang membawa dampak signifikan pada berbagai aspek kehidupan:

  • Kesehatan Reproduksi: Tubuh remaja, khususnya organ reproduksi perempuan, secara biologis belum siap sepenuhnya untuk mengandung dan melahirkan. Hal ini meningkatkan risiko komplikasi kehamilan, stunting pada bayi, hingga kematian ibu dan anak.

  • Kesiapan Mental & Psikologis: Emosi remaja yang masih labil berisiko memicu ketidakharmonisan, Kekerasan Dalam Rumah Tangga (KDRT), hingga perceraian di usia muda.

  • Putus Sekolah & Ekonomi: Pernikahan dini kerap memaksa remaja berhenti mengejar pendidikan, yang berdampak langsung pada keterbatasan peluang kerja dan kesejahteraan ekonomi keluarga di masa depan.

Langkah Nyata Remaja: Bagaimana Cara Mencegahnya?

Mencegah pernikahan dini dimulai dari kesadaran diri sendiri. Berikut adalah langkah penting yang bisa diterapkan oleh para remaja:

1. Pahami Batas dalam Berpacaran

Menjaga pergaulan sehat adalah kunci utama. Tetapkan batasan yang jelas dan tegas (personal boundaries) dalam hubungan asmara agar tidak terjebak dalam perilaku berisiko yang memicu kehamilan di luar nikah.

2. Fokus Pada Pendidikan dan Cita-Cita

Gunakan masa muda untuk mengeksplorasi potensi diri, mengenyam pendidikan setinggi-tingginya, dan merancang karier. Masa depan yang matang akan menjadi fondasi kuat saat kelak membina rumah tangga.

3. Asah Pemahaman Edukasi Seksual yang Benar

Cari informasi mengenai kesehatan reproduksi dan hak-hak anak dari sumber resmi dan terpercaya. Memahami konsekuensi biologis dan hukum dari setiap tindakan membantu remaja mengambil keputusan secara bijak.

4. Buka Komunikasi dengan Orang Tua dan Konselor

Jangan ragu untuk berdiskusi dengan orang tua, guru Bimbingan Konseling (BK), atau memanfaatkan layanan masyarakat seperti Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) jika menghadapi masalah pergaulan atau tekanan sebaya.

Ingat: Pernikahan membutuhkan kesiapan fisik, mental, finansial, dan spiritual. Menunda pernikahan hingga usia matang bukan berarti menolak kebahagiaan, melainkan mempersiapkan masa depan yang jauh lebih cerah dan berkualitas. ***

Terkait
Terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, dua anak meninggal

Tirto, Wartadesa. - Dua saudara sepupu terseret ombak di Pantai Kisik Wonokerto, Senin (01/01) sekitar pukul 11.35 WIB. Kedua bucah Read more

Gudang oven pabrik kayu lapis di Karanganyar ludes terbakar

Karanganyar, Wartadesa. - Gudang Oven Kayu Lapis PT Duta Albasy di Jalan Raya Kulu Asri, Desa Kulu Kecamatan Karanganyar Kab. Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Longsor, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar tertutup batu

Lebakbarang, Wartadesa. - Akibat hujan yang mengguyur wilayah Lebakbarang, ruas jalan Lebakbarang-Karanganyar, terjadi longsor yang menutup ruas jalan di dua Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Inspiratif! SD Muhammadiyah Bligo 01 Launching Layanan Kesehatan Mandiri untuk Motivasi Siswa Jadi Dokter

template berita foto warta desa

PEKALONGAN, WARTADESA. – Dalam upaya nyata mewujudkan ekosistem sekolah yang sehat sekaligus inspiratif, SD Muhammadiyah Bligo 01 resmi meluncurkan (launching) program layanan kesehatan mandiri baru pada Sabtu (11/7/2026). Langkah inovatif ini dirancang tidak hanya untuk menjaga kebugaran fisik warga sekolah, tetapi juga untuk memantik mimpi besar para siswa.

Layanan kesehatan mandiri ini terasa sangat istimewa karena menghadirkan langsung dua tenaga medis profesional yang merupakan alumni berprestasi dari sekolah tersebut, yaitu dr. Nabil Azra Mahendra dan dr. Masyitha Rakhmawati.

Sinergi Alumni untuk Kesejahteraan Sekolah

Program ini dipersiapkan secara matang untuk melayani kebutuhan kesehatan seluruh ekosistem sekolah, mulai dari guru, karyawan, hingga fokus utamanya: para siswa dan wali murid di lingkungan SD Muhammadiyah Bligo 01.

Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Bligo 01, M. Aufa Siddiq, S.Pd, menyampaikan bahwa kehadiran dr. Nabil dan dr. Masyitha di sekolah bukan sekadar untuk memberikan pelayanan medis rutin. Keduanya dijadwalkan akan membuka praktik langsung di sekolah setiap hari Selasa dan Sabtu sepanjang tahun ajaran ini.

“Kami ingin para siswa memiliki sosok teladan yang bisa ditemui secara langsung. Melalui kehadiran kakak alumni yang menjadi dokter ini, kami berharap siswa terinspirasi untuk menapaki jenjang pendidikan tinggi dan menggapai cita-cita setinggi mungkin,” jelas Aufa Siddiq.

Menghadirkan Role Model Nyata bagi Siswa

Selain memberikan akses kesehatan yang lebih dekat, mudah, dan cepat, program ini mengemban misi strategis dalam hal motivasi belajar. Melihat langsung keberhasilan kakak tingkat mereka yang kini memakai jas putih dokter diharapkan mampu memberikan dorongan psikologis yang kuat bagi siswa untuk belajar dengan tekun.

Melalui program bertajuk “Sekolah Sehat” ini, SD Muhammadiyah Bligo 01 membuktikan komitmennya dalam memperhatikan kesejahteraan fisik dan mental warga sekolah secara holistik.

Sinergi apik antara alumni hebat dan institusi pendidikan ini diharapkan mampu melahirkan generasi masa depan yang tidak hanya unggul secara akademis, namun juga memiliki kesadaran kesehatan yang tinggi serta visi masa depan yang jelas. (Red)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Potensi Food Loss dan Food Waste di Kota Pekalongan

foto background putih.JPG

oleh: Milatun Khanifah*

Isu food loss dan food waste telah menjadi  perhatian serius di hampir seluruh wilayah di belahan dunia. Masalah food loss dan food waste terjadi dari mulai produksi bahan makanan dan pengolahan makanan dalam skala besar, usaha kecil menengah bahkan sampai tataran rumah tangga. Food and Agriculture Organization/FAO (2019) mendefinisikan food loss sebagai produk pangan yang dimaksudkan untuk konsumsi manusia namun pada akhirnya tidak dimakan akibat penurunan kualitas yang tercermin dalam nilai gizi, nilai ekonomi, atau aspek keamanan pangan. Sehingga dalam terminologi food loss tersirat adanya unsur ketidaksengajaan dalam pemborosan makanan. Food waste adalah produk pangan yang disediakan untuk konsumsi manusia tetapi dibuang atau digunakan untuk kebutuhan selain pangan setelah produk pangan  tersebut  dibiarkan rusak atau kedaluwarsa akibat kelalaian.

Kota Pekalongan tidak banyak memiliki lahan yang digunakan sebagai lahan produksi bahan pangan. Sumber bahan makan pokok, sayur , buah, dan hewan ternak, banyak didapatkan dari daerah lain seperti Kabuaten Pekalongan dan Kabupaten Batang. Kondisi ini menggambarkan potensi food loss di tahap produksi di Kota Pekalongan relative kecil. Namun demikian terjadinya food loss dari tahap lain dalam rantai makanan terutama dalam pemrosesan dan penyiapan bahan makanan masih perlu mendapatkan perhatian. Potensi food loss yang besar di Kota Pekalongan dapat terjadi karena suhu Kota Pekalongan yang relative tinggi dan penggunaan teknologi pemrosesan dan pengolahan bahan makanan yang belum optimal.

Suhu kota Pekalongan yang relative tinggi menyebabkan bahan makanan terutama sayur dan buah banyak yang rusak sebelum mencapai dapur. Kondisi ini dapat terlihat dengan banyaknya sayur dan buah yang rusak dan tidak layak dikonsumsi menumpuk dan akhirnya dibuang sebagai sampah di pasar-pasar tradisional Kota Pekalongan. Tumpukan sayur dan buah yang rusak ini tidak banyak dimanfaatkan ulang oleh masyarakat setempat, misalnya  digunakan sebagai bahan makan ternak atau pupuk organik.  Artinya proses re-use dari bahan sayur dan buah agar tidak berujung menjadi sampah masih belum menjadi budaya untuk mengurangi food loss.

Penggunaan teknologi yang belum optimal sehingga meningkatkan potensi food loss dalam pengolahan bahan makanan salah satunya dapat kita lihat dalam proses pembuatan Megono sebagai menu khas Kota Pekalongan. Megono adalah lauk dengan bahan dasar buah nangka muda yang dicacah halus kemudian dicampur dengan kelapa parut dan bumbu dapur. Proses pencacahan nangka muda ini dilakukan dengan cara tradisional menggunakan pisau dengan ukuran cukup besar. Dengan teknik seperti ini banyak bagian dari buah nangka muda yang akhirnya tidak dapat dimanfaatkan dan banyak yang tumpah pada saat proses pencacahan. Buah nangka juga banyak yang dibuang jika bentuknya tidak rata karena kesulitan pada proses mengupas, sehingga banyak bagian inti yang terbuang. Masyarakat kota Pekalongan belum menggunakan teknologi lebih maju, seperti penggunaan mesin pencacah untuk mengurangi food loss saat memroses nangka muda ini untuk menjadi bahan yang siap dimasak menjadi megono.

Potensi food loss sebenarnya bisa terkurangi dengan keberadaaan pasar-pasar tradisional di Kota Pekalongan sebagai salah satu tempat distribusi terbesar bahan makan yang  beroperasi setiap hari dan mulai sejak dini hari. Sebelum subuh, pasar utama yaitu pasar Banjarsari dan Grogolan sudah mulai ramai dengan aktivitasnya. Kondisi ini memungkinkan masyarakat, baik di kalangan rumah tangga maupun pelaku usaha makanan bisa mendapatkan bahan dasar untuk diolah setiap hari. Mereka tidak perlu menyetok dalam jumlah banyak yang berpeluang menyebabkan bahan makanan rusak sebelum diolah menjadi makanan. Selain itu, keberadaan beberapa institusi pendidikan tinggi yang memiliki jurusan teknik mesin juga memberikan harapan dalam upaya pengurangan food loss. Mereka dapat digandeng dalam pengembangan alat atau teknologi yang membantu para pedagang nangka muda cacah sebagai bahan dasar megono untuk meminimalkan food loss.

Sebagai kota sentra batik, penduduk kota Pekalongan sebagian besar berkutat dalam produksi batik. Sektor ini masih menjadi tulang punggung ekonomi Kota Pekalongan dan menjadi ciri khas yang sangat dikenal. Tidak hanya kepala rumah tangga, ibu rumah tangga di Kota Pekalongan banyak yang memilih untuk bekerja di rumah mulai dari memotong kain, menjahit, melipat atau memasukkan produk batik ke dalam kemasan. Dalam urusan makanan, mereka lebih memilih membeli makanan dari pada memasak sendiri. Ini menyebabkan warung makan di Kota Pekalongan dapat ditemukan bahkan di gang-gang kecil. Warung-warung makan ini juga bisa kita dapatkan menjajakan masakannya kapan pun, bahkan banyak mereka yang menjajakan makanannya pada dini hari. Potensi food waste yang cepat menumpuk tidak hanya dari rumah tangga tapi juga dari warung-warung makan.  Kondisi ini menyebabkan tingginya volume sampah makanan di Kota Pekalongan.

Kota Pekalongan pernah dinyatakan status darurat sampah pada tahun 2025, berdasarkan Surat Keputusan (SK) Wali Kota Pekalongan Nomor 600.4.15/0556 Tahun 2025. Data dari Dinas Pertanian dan Pangan (Dinperpa) Kota Pekalongan menunjukkan bahwa 60 persen dari 160 ton sampah perhari yang dihasikan kota Pekalongan adalah sampah dari bahan makanan maupun sisa makanan. Sampah ini  berasal dari sektor besar maupun dari sampah rumah tangga.

Perlu peningkatan kesadaran bagi warga kota Pekalongan untuk mengupayakan bijak dalam mengkonsumsi pangan. Upaya ini dapat dilakukan dengan beberapa tips antara lain belanja bahan makanan yang benar-benar diperlukan, menyimpan bahan makanan dengan benar untuk menghindari pembusukan, mengolah bahan makanan secara efisien, termasuk memanfaatkan bagian makanan yang sering terbuang seperti kulit buah atau tulang ikan, memanfaatkan sisa makanan dengan mengolahnya menjadi hidangan baru atau dijadikan kompos untuk mengurangi limbah dan membagikan makanan berlebih yang masih layak konsumsi kepada masyarakat yang membutuhkan. Tips-tips tersebut tidak hanya dalam rangka mengurangi sampah organic yang masih menjadi masalah lingkungan dan menjadi tantangan besar kota Pekalongan tapi juga sebagai upaya memperbaiki perekonomian karena praktik ini dapat menghemat pengeluaran belanja rumah tangga.

Keberadaam lembaga yang bergerak untuk mengurangi potensi food loss dan food waste dengan konsep Reduce, Re-Use dan Re-Cycle di Kota Pekalongan perlu diperkuat. Semua  ini harus dilakukan dengan sinergi yang baik agar dampak food loss dan food waste di kota Pekalongan tidak semakin meluas. Kampanye  konsumsi ramah lingkungan dan bijak pangan untuk menekan jumlah sampah sisa makanan sejak dari sumbernya harus digalakkan. Pemerintah daerah, kecamatan hingga kelurahan bersama dengan tokoh masyarakat dan penggiat sosial media memiliki peran penting untuk keberhasilan kampanye dalam rangka menekan food loss dan food waste di Kota Pekalongan. ***

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Puskesmas tak jadi naik 400 persen, ditunda Bupati Pekalongan

Kajen, Wartadesa. - Kenaikan tarif pelayanan Puskesmas di Kabupaten Pekalongan sebesar 400 persen sejak tanggal 1 Februari 2018, mulai hari Read more

Masuk 10 besar wilayah rawan narkoba Jateng, Saelany akan bentuk BNNK

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Tingginya kasus pelanggaran kasus narkoba di Kota Pekalongan, membuat wilayah ini masuk dalam 10 besar wilayah Read more

Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kota Pekalongan 'darurat' gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit Read more

selengkapnya
KesehatanPendidikan

Asah Kompetensi di Puskesmas, Mahasiswa Profesi Apoteker UMPP Mulai PKL di Kabupaten Pemalang

template berita foto warta desa(3)

PEMALANG, WARTA DESA – Sebanyak mahasiswa Program Studi Profesi Apoteker Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) resmi terjun ke lapangan untuk menjalani Praktik Kerja Lapangan (PKL). Kegiatan yang bertujuan mengaplikasikan ilmu kefarmasian ini dilaksanakan di Dinas Kesehatan (Dinkes) dan Puskesmas di wilayah Kabupaten Pemalang.

Dimulainya rangkaian praktik kerja ini ditandai dengan penyambutan langsung oleh Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang pada Senin (04/05/2026). Kehadiran mahasiswa ini disambut baik sebagai upaya kolaborasi dalam meningkatkan kualitas layanan kesehatan bagi warga Pemalang.

Langkah Nyata di Dunia Kerja Ketua Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker (PSPPA) UMPP secara simbolis menyerahkan para mahasiswa kepada pihak Dinkes Pemalang. Penyerahan ini menandai awal perjalanan para calon apoteker untuk merasakan pengalaman nyata di berbagai fasilitas kesehatan, mulai dari tata kelola obat hingga pelayanan klinis.

“Melalui PKL ini, mahasiswa diharapkan tidak hanya mahir secara teori, tetapi juga mampu mengasah etika kerja dan interaksi langsung dengan masyarakat maupun tenaga kesehatan lainnya,” ungkap Kaprodi PSPPA UMPP.

Dampak bagi Pelayanan Publik Pihak Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang berharap kehadiran mahasiswa apoteker ini dapat memberikan dampak positif, terutama dalam efisiensi pengelolaan obat di tingkat puskesmas. Mahasiswa akan ditempatkan di berbagai unit untuk mendalami peran strategis apoteker dalam sistem kesehatan masyarakat.

Kegiatan ini dijadwalkan berlangsung selama beberapa pekan ke depan. Dengan terjun langsung ke berbagai unit pelayanan kesehatan di pelosok Pemalang, para mahasiswa diharapkan lulus menjadi apoteker profesional yang adaptif dan siap menghadapi tantangan di dunia kesehatan yang kian dinamis.

Melalui sinergi antara UMPP dan Pemerintah Kabupaten Pemalang ini, diharapkan lahir tenaga kesehatan yang tidak hanya kompeten secara akademis, tetapi juga memiliki kepekaan sosial terhadap kondisi kesehatan di akar rumput. (.*.)

Terkait
PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

SMP Trensains gelar workshop guru profesional

Pekalongan Kota, Wartadesa. - SMP Trensain Pekalongan menggelar workshop (pelatihan) guru profesional yang diikuti oleh seluruh guru dan tamu undangan, Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalKesehatanLayanan Publik

Diserbu Ribuan Lalat, Warga Jambangan Desak Pemilik Kandang Ayam Jaga Kebersihan Lingkungan

template berita foto warta desa(2)

PEKALONGAN, WARTADESA. – Warga Dukuh Jambangan, Desa Batursari, Kecamatan Talun, akhirnya bernapas lega setelah keluhan mereka terkait serbuan lalat yang meresahkan mendapat respons. Ribuan lalat yang diduga berasal dari kandang ayam petelur di lingkungan mereka kini menjadi sorotan tajam setelah warga melaporkan gangguan tersebut pada Jumat (17/4/2026).

Keresahan warga dipicu oleh populasi sekitar 9.000 ekor ayam milik Harjo yang kotorannya jarang dibersihkan. Akibatnya, pemukiman warga dikepung lalat hingga mengganggu kenyamanan dan kesehatan lingkungan.

Merespons kondisi tersebut, Kapolsek Talun, Heru Santoso, bersama jajaran kepolisian dan Kepala Desa Batursari, Titik Sumarlin, turun langsung ke lokasi untuk memfasilitasi mediasi antara warga dan pemilik kandang.

Dalam pertemuan yang digelar di rumah salah satu warga bernama Subiyanto alias Kasbek, terungkap bahwa sumber utama masalah adalah keterlambatan pembersihan kotoran ayam yang memicu ledakan populasi lalat.

Warga Beri Peringatan Keras

Meski mediasi berakhir dengan kesepakatan musyawarah, warga Jambangan memberikan catatan tegas. Pasalnya, persoalan serupa ternyata pernah terjadi pada Desember 2025 lalu.

Warga menegaskan tidak berniat menghalangi orang mencari rezeki melalui usaha peternakan. Namun, mereka menuntut hak atas lingkungan yang bersih dan sehat dipenuhi. Jika gangguan lalat kembali terulang di masa mendatang, warga tidak segan-segan meminta agar usaha kandang ayam tersebut ditutup permanen.

Pemilik Kandang Janji Benahi Kebersihan

Menanggapi tuntutan warga, pemilik kandang menyatakan kesanggupannya untuk melakukan pembenahan total, di antaranya:

  • Pembersihan Rutin: Menjamin pembersihan kotoran ayam setiap empat hari hingga maksimal satu minggu sekali.

  • Tambah Personel: Menambah dua karyawan khusus yang fokus menangani kebersihan kandang.

  • Penyemprotan: Melakukan penyemprotan obat pembasmi lalat secara berkala di area peternakan.

Kapolsek Talun, Heru Santoso, menegaskan bahwa kehadiran petugas bertujuan untuk memastikan aspirasi masyarakat didengar dan dicarikan jalan keluar secara dialogis guna menjaga kondusifitas wilayah.

Warga kini berharap komitmen yang tertuang dalam kesepakatan tersebut benar-benar dijalankan, sehingga kenyamanan di Dukuh Jambangan tidak lagi terusik oleh bau dan serbuan lalat. (,*.)

Terkait
Ditinggal mancing, motor digasak pencuri

Pemalang, Wartadesa. - Naas bagi M. Saefudin Zuhri bin Muharil (28), seorang buruh konveksi warga Desa Kendaldoyong Kecamatan Petarukan Kabupaten Read more

Modus rampas HP korban dengan pura-pura minta nomor kontak

Pemalang, Wartadesa. - Hati-hatilah dengan orang yang meminta nomor HP atau ponsel Anda, bisa jadi itu hanya modus untuk melakukan Read more

Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalKesehatan

Darurat Tramadol di Tegal: Dari Pemicu Tawuran Remaja Hingga Desakan Tameng Regulasi P4GN

template berita foto warta desa(3)

TEGAL, WARTADESA. – Peredaran obat keras jenis tramadol di kalangan remaja Kabupaten Tegal telah mencapai titik yang mengkhawatirkan. Bukan sekadar masalah penyalahgunaan obat, fenomena ini kini bertransformasi menjadi pemicu utama aksi kriminalitas jalanan dan tawuran, yang mendorong DPRD Kabupaten Tegal untuk mempercepat pembentukan payung hukum khusus.

Tramadol: “Modal” Berani di Balik Aksi Tawuran

Sekretaris Komisi IV DPRD Kabupaten Tegal, Bagus Sakti Maulana, menyoroti kaitan erat antara konsumsi tramadol dengan meningkatnya agresivitas remaja. Dalam banyak kasus, obat keras ini dikonsumsi sebagai “penghilang rasa takut” sebelum mereka turun ke jalan untuk terlibat tawuran.

“Biasanya sebelum tawuran mereka mengonsumsi tramadol. Ini yang membuat perilaku mereka jadi di luar kendali. Kondisi ini sangat memprihatinkan,” ungkap Bagus, Selasa (14/4/2026). Ia menekankan bahwa para remaja ini sering kali merupakan korban dari ketidaktahuan, keretakan keluarga, serta lingkungan sosial yang tidak sehat.

Mengenal Tramadol dan Risiko Fatal bagi Tubuh

Secara medis, tramadol adalah analgesik opioid yang diperuntukkan bagi pereda nyeri tingkat sedang hingga berat. Sebagai obat kategori Daftar G (Obat Keras), penggunaannya wajib melalui resep dokter. Namun, penggunaan secara ilegal dan berlebihan membawa dampak destruktif bagi kesehatan:

  • Kerusakan Saraf dan Mental: Memicu euforia berlebihan, kecemasan ekstrem, halusinasi, hingga kejang-kejang.

  • Kegagalan Organ Vital: Penggunaan jangka panjang merusak fungsi jantung, ginjal, dan hati secara permanen.

  • Depresi Pernapasan: Dalam dosis tinggi, tramadol memperlambat fungsi paru-paru yang dapat berujung pada koma atau kematian.

  • Kerusakan Otak: Merusak kognisi dan emosi, yang pada akhirnya menghancurkan potensi masa depan generasi muda.

Langkah Legislatif: Menyiapkan Perda P4GN

Menyikapi kekosongan regulasi, DPRD Kabupaten Tegal tengah menyiapkan Rancangan Peraturan Daerah (Raperda) tentang Pencegahan, Pemberantasan, Penyalahgunaan, dan Peredaran Gelap Narkotika (P4GN). Regulasi ini dimaksudkan sebagai tameng hukum untuk menahan laju peredaran obat terlarang yang kian masif.

Meskipun usulan ini sempat tertunda pada 2024, DPRD kini memastikan P4GN masuk dalam prioritas Program Pembentukan Peraturan Daerah (Propemperda). Penanganan ini nantinya akan melibatkan kolaborasi lintas sektor, mulai dari Dinas Kesehatan, DP3AP2KB, hingga Badan Narkotika Nasional (BNN) untuk memperkuat aspek rehabilitasi selain penegakan hukum.

Pengawasan Ketat di Wilayah Perbatasan

Senada dengan langkah di Kabupaten, Ketua DPRD Kota Tegal, Kusnendro, juga menegaskan pentingnya sinergi antara pemerintah daerah dan aparat penegak hukum. Mengingat pola peredaran yang kian tersembunyi, pengawasan berbasis data dan laporan masyarakat menjadi kunci utama.

Kepala Satpol PP Kota Tegal, Budio Pradibto, menambahkan bahwa meskipun warung-warung yang diduga menjual obat ilegal mulai menghilang dari pandangan publik, pihaknya justru mengintensifkan pengawasan lapangan. Operasi rutin dan insidental terus dilakukan guna memastikan ruang gerak pengedar obat keras semakin sempit.

Penyelamatan generasi muda dari jeratan tramadol dan narkotika dinilai sebagai investasi krusial menuju visi Indonesia Emas 2045. Pemerintah daerah didesak untuk bersikap tegas dan tidak terjebak dalam kaku birokrasi demi melindungi masa depan anak bangsa dari kerusakan permanen akibat obat keras. (Redaksi)

Terkait
Ditinggal mancing, motor digasak pencuri

Pemalang, Wartadesa. - Naas bagi M. Saefudin Zuhri bin Muharil (28), seorang buruh konveksi warga Desa Kendaldoyong Kecamatan Petarukan Kabupaten Read more

Modus rampas HP korban dengan pura-pura minta nomor kontak

Pemalang, Wartadesa. - Hati-hatilah dengan orang yang meminta nomor HP atau ponsel Anda, bisa jadi itu hanya modus untuk melakukan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Gunakan gas bersubsidi, Hotel ini kena sidak

Pemalang, Wartadesa. - Hotel Panorama Randudongkal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah kedapatan menggunakan tabung gas elpiji bersubsidi ukuran tiga kilogram, alias Read more

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Medan Ekstrem dan Jalan Rusak Warnai Perjuangan Petugas PMI Antar Jenazah ke Trajumas

template berita foto warta desa(2)

Kandangserang, Pekalongan, Warta Desa.  — Dedikasi tanpa batas kembali ditunjukkan oleh petugas Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pekalongan. Dalam sebuah misi kemanusiaan baru-baru ini, petugas harus berjibaku melawan medan ekstrem demi mengantarkan jenazah menuju Desa Trajumas, Kecamatan Kandangserang.

Bukan sekadar jarak, tantangan utama yang dihadapi adalah infrastruktur jalan yang rusak parah serta kondisi geografis yang didominasi tanjakan dan turunan curam.

Akses Terputus: Jembatan Rusak dan Jalan Berlubang

Kondisi jalur penghubung antara Desa Sukoharjo dan Desa Trajumas dilaporkan sangat memprihatinkan. Berikut adalah beberapa poin utama yang menjadi kendala di lapangan:

  • Jalan Utama Rusak Parah: Aspal yang mengelupas meninggalkan lubang dalam dan kondisi jalan yang licin, terutama saat diguyur hujan.

  • Lumpuhnya Jembatan Kali Jamban: Jembatan vital ini merupakan akses satu-satunya yang menghubungkan Sukoharjo dan Trajumas. Saat ini, kondisinya dianggap tidak lagi layak dan membahayakan keselamatan pelintas.

  • Upaya Swadaya Terbatas: Meski warga sempat bergotong-royong memperbaiki jalan secara mandiri, keterbatasan dana membuat hasil perbaikan tidak bertahan lama.

Harapan Warga dan Keselamatan Pelajar

Keluhan mengenai buruknya akses jalan ini bukan tanpa alasan. Selain menghambat layanan darurat seperti ambulans PMI, jalur ini merupakan urat nadi bagi aktivitas pendidikan di wilayah tersebut.

“Kami berharap pemerintah segera membangun jalan dan jembatan ini dengan layak. Jalur ini setiap hari dilalui siswa-siswi kami untuk berangkat dan pulang sekolah,” ujar Ridho, salah satu perangkat Desa Trajumas.

Ia menekankan bahwa perbaikan infrastruktur harus segera dilakukan secara konkret oleh pemerintah daerah untuk mencegah terjadinya kecelakaan yang tidak diinginkan di masa depan.

Urgensi Infrastruktur Layak

Peristiwa pengantaran jenazah oleh PMI ini menjadi pengingat nyata bahwa infrastruktur yang memadai adalah kebutuhan mendasar, bukan sekadar fasilitas penunjang. Bagi warga Trajumas, jalan yang layak adalah soal keselamatan, akses kesehatan, dan masa depan generasi muda.

Hingga berita ini diturunkan, masyarakat Desa Trajumas masih menaruh harapan besar agar dinas terkait segera turun tangan melakukan perbaikan menyeluruh pada akses jalan dan Jembatan Kali Jamban. (Andi Purwandi)

Terkait
Warga Desa Menjangan Ditemukan Meninggal di Belakang Rumah, Diduga Jatuh Saat Petik Nangka

Wartadesa. Seorang warga Desa Menjangan, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, ditemukan meninggal dunia di area belakang rumahnya, Minggu (07/09/2025) siang. Korban Read more

BPJS/KIS Mendadak Nonaktif, Pasien di Puskesmas Kandangserang Mengeluh Kesulitan Biaya Berobat

PEKALONGAN, WartaDesa – Sejumlah warga di wilayah Kecamatan Kandangserang, Kabupaten Pekalongan, mengeluhkan status kepesertaan BPJS Kesehatan/Kartu Indonesia Sehat (KIS) mereka Read more

Jelang Ramadan, Harga “Cabai Setan” di Pasar Kandangserang Tembus Rp100.000/Kg

WARTA DESA, KANDANGSERANG, PEKALONGAN – Memasuki pertengahan Februari 2026, warga di wilayah pegunungan Kabupaten Pekalongan mulai mengeluhkan lonjakan harga kebutuhan Read more

Musrenbangcam Kandangserang 2026: Rakyat Bosan Janji, Tuntut Perbaikan Jalan Desa Trajumas yang Terabaikan

WARTA DESA, KANDANGSERANG, PEKALONGAN – Pelaksanaan Musyawarah Perencanaan Pembangunan Kecamatan (Musrenbangcam) Kandangserang untuk tahun anggaran 2026 yang digelar Rabu (11/2), Read more

selengkapnya
KesehatanLingkungan

LAPORAN WARGA: Aktivitas Galian C di Sumur Jomblang Bogo Dikeluhkan, Beroperasi Hingga Malam di Jam Ibadah

template berita foto warta desa(1)

PEKALONGAN, Warta Desa. – Redaksi menerima laporan dari warga terkait aktivitas pertambangan Galian C di Desa Sumur Jomblang Bogo, Kecamatan Bojong, Pekalongan yang dinilai semakin meresahkan. Berdasarkan informasi yang dikirimkan, operasional tambang tersebut dianggap tidak mengenal waktu dan mengganggu kenyamanan warga sekitar, terutama di jam-jam ibadah.

Menurut keterangan warga, pada Senin, 13 April 2026, aktivitas pengerjaan dan lalu lalang armada galian terpantau masih beroperasi hingga pukul 18.00 WIB. Kondisi ini disebut bukan pertama kalinya terjadi, melainkan sudah sering berlangsung pada hari-hari sebelumnya.

Polusi Debu di Lingkungan Ibadah

Warga mengeluhkan dampak polusi debu yang ditimbulkan oleh truk-truk pengangkut material. Hal yang paling disayangkan adalah saat warga mulai berbondong-bondong menuju tempat ibadah (mushola), armada tambang masih aktif melintas.

“Warga harus menikmati polusi debu dari truk yang lewat tepat di sebelah mushola di saat waktu ibadah,” ujar seorang warga dalam pesan tertulisnya.

Desakan Penertiban

Atas kondisi tersebut, masyarakat meminta pihak-pihak terkait untuk segera turun tangan melakukan penertiban. Warga berharap ada kedisiplinan dari pengelola galian agar menghormati waktu lingkungan dan menjaga kebersihan udara, demi kenyamanan bersama.

Hingga berita ini diturunkan, warga masih menunggu respon nyata dari pihak berwenang untuk meninjau jam operasional galian tersebut agar lebih tertib dan tidak mengganggu aktivitas sosial keagamaan di desa setempat. (Redaksi)


Catatan: Berita ini disusun berdasarkan kiriman informasi langsung dari warga yang meminta identitasnya dirahasiakan demi keamanan.

Terkait
Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Nasib galian C Pododadi Karanganyar ditentukan Senin depan

Wiradesa, Wartadesa. - Paska unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongam, Kamis (11/01) kemarin dan Read more

Laut pasang, Pantaisari terendam

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kondisi laut pasang (rob) yang tinggi merendam jalan WR Supratman depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI/PPNP) hingga Read more

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Dilema Peninggian Jalan Kota Pekalongan: Bebas Rob, Tapi Sulit Air Bersih

template berita foto warta desa(3)

PEKALONGAN, Warta Desa. – Proyek peninggian jalan lingkungan di wilayah Pekalongan Utara yang bertujuan untuk mengatasi banjir rob, kini justru memicu persoalan baru bagi masyarakat. Meski jalanan menjadi lebih tinggi, warga di Kelurahan Panjang Baru dan Panjang Wetan mengeluhkan dampak teknis yang menghambat akses air bersih dan sanitasi.

Berikut adalah laporan mendalam mengenai dampak proyek tersebut.

Dilema Peninggian Jalan: Bebas Rob, Tapi Sulit Air Bersih

Pemerintah Kota Pekalongan gencar melakukan betonisasi (cor) jalan di kampung-kampung untuk memastikan akses transportasi warga tidak terendam air pasang. Namun, peninggian jalan yang mencapai satu meter lebih ini dinilai kurang mempertimbangkan infrastruktur bawah tanah.

1. Akses Air Pamsimas Terhambat

Warga melaporkan bahwa aliran air dari Pamsimas (Penyediaan Air Minum dan Sanitasi Berbasis Masyarakat) menjadi tidak lancar. Selain itu, posisi jalan yang kini jauh lebih tinggi dari lantai rumah warga menyebabkan risiko air mengalir langsung masuk ke dalam hunian saat hujan deras atau pasang tinggi.

2. PDAM Batalkan Pemasangan Baru

Dampak paling signifikan dirasakan oleh calon pelanggan PDAM. Pihak PDAM dilaporkan membatalkan sejumlah permohonan pemasangan sambungan baru.

  • Alasannya: Ketebalan cor jalan yang mencapai satu meter menyulitkan petugas untuk melakukan penggalian pipa.

  • Kendala Teknis: Biaya dan tenaga yang dibutuhkan untuk membongkar beton sedalam itu dianggap tidak efisien dan berisiko merusak struktur jalan yang baru dibangun.

Ancaman Jangka Panjang: Saluran Air yang Terkubur

Warga di Panjang Baru dan Panjang Wetan merasa khawatir dengan pemeliharaan infrastruktur di masa depan. Saluran air atau drainase yang kini berada jauh di bawah tumpukan material cor beton menjadi mustahil untuk dicek atau dibersihkan.

“Untuk jangka panjang sangat susah. Saluran air sudah terpendam cor-coran jalan setinggi satu meter lebih. Pengecekan saluran terkendala karena aksesnya tertutup total oleh beton,” ungkap salah seorang warga setempat.

Potensi Meluas ke Wilayah Lain

Keluhan ini bukan hanya sekadar masalah lokal di dua kelurahan tersebut. Warga memperingatkan bahwa jika pola pembangunan ini terus berlanjut tanpa koordinasi lintas instansi (antara pihak pekerjaan umum dan penyedia layanan air), wilayah lain di Kota Pekalongan akan mengalami nasib serupa.

Harapan Warga Kepada Pemerintah

Masyarakat meminta adanya evaluasi terkait teknis peninggian jalan. Beberapa poin yang diharapkan antara lain:

  • Koordinasi Lintas Sektor: Adanya sinkronisasi antara proyek jalan dengan instalasi pipa PDAM/Pamsimas sebelum pembetonan dilakukan.

  • Lubang Kontrol (Manhole): Penyediaan akses atau titik kontrol di sepanjang jalan yang dicor agar pembersihan saluran air tetap bisa dilakukan.

  • Solusi Drainase Rumah: Bantuan atau arahan teknis bagi warga yang rumahnya kini berada di bawah level jalan agar tidak menjadi “kolam” saat hujan.

Pembangunan memang ditujukan untuk kesejahteraan, namun tanpa perencanaan yang integratif, solusi untuk satu masalah (rob) justru melahirkan masalah baru bagi keberlangsungan hidup warga sehari-hari. (Redaksi)

Terkait
Refleksi 120 Tahun Kota Pekalongan: IMM Desak Penanganan Banjir Rob dan Peningkatan Kesejahteraanun, Saatnya Pekalongan Berbenah Lebih Serius

Pekalongan, Warta Desa, 1 April 2026. - Memasuki usia ke-120 tahun, Kota Pekalongan diharapkan tidak hanya terjebak dalam euforia seremonial semata. Read more

Ubah Paradigma, Lazismu Pekalongan Tekankan Amil Pahami Kondisi Riil Mustahik Sebelum Galang Dana

PEKALONGAN – Lembaga Amil Zakat Infaq dan Shadaqah Muhammadiyah (Lazismu) Kabupaten Pekalongan melakukan terobosan dalam strategi pengelolaan zakat. Para amil Read more

Dorong Kepedulian dan Kebiasaan Bermasyarakat, SMP Negeri 1 Kota Pekalongan Salurkan Donasi Bencana ke Lazismu

Warta Desa, Pekalongan – Dalam rangka menumbuhkan kepedulian siswa dan penerapan kebiasaan bermasyarakat dalam tujuh kebiasaan anak hebat, siswa-siswi dan Read more

selengkapnya
Berita DesaKesehatanLayanan Publik

BPJS PBI Hanya Diaktifkan Tiga Bulan, Warga Desa Semut Kebingungan

template berita foto warta desa(2)

PEKALONGAN, Warta Desa. – Seorang warga Desa Semut, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, mengeluhkan sistem verifikasi data kemiskinan setelah kartu BPJS Kesehatan Penerima Bantuan Iuran (PBI) miliknya dinonaktifkan secara sepihak.

Keluhan ini mencuat lantaran jaminan kesehatan tersebut sangat dibutuhkan untuk pengobatan sang buah hati yang menderita penyakit kronis. Berikut adalah laporan selengkapnya.

Hanya Diaktifkan Tiga Bulan, Warga Desa Semut Kebingungan

Nasib malang menimpa salah satu warga Desa Semut yang kini harus berjuang demi kesembuhan anaknya. Sang anak didiagnosis menderita kista di saluran empedu dan diwajibkan menjalani kontrol rutin ke RSUP Dr. Kariadi, Semarang. Namun, langkah pengobatan tersebut terganjal oleh status kepesertaan BPJS PBI yang tiba-tiba nonaktif.

Saat melakukan konfirmasi ke Dinas Sosial (Dinsos) setempat, warga tersebut mendapatkan jawaban yang kurang memuaskan. BPJS miliknya hanya bisa diaktifkan kembali untuk jangka waktu tiga bulan saja.

Kendala Klasik: Masalah Data Desil

Alasan yang diberikan oleh pihak Dinas Sosial adalah terkait pemutakhiran data terpadu kesejahteraan sosial. Warga tersebut dinyatakan masuk dalam kategori Desil 6, yang menurut sistem diklasifikasikan sebagai keluarga mampu.

“Alasan Dinsos hanya bisa mengaktifkan tiga bulan karena saya masuk Desil 6, tergolong rakyat mampu. Padahal kenyataannya, rumah saja masih menumpang orang tua,” ungkap warga tersebut dalam curhatannya.

Kondisi Ekonomi Riil vs Data Sistem

Meski tercatat sebagai warga mampu dalam data desil, kondisi ekonomi riil keluarga ini berbanding terbalik:

  • Status Tempat Tinggal: Belum memiliki rumah pribadi (menumpang orang tua).

  • Pekerjaan: Buruh borongan konveksi.

  • Penghasilan: Tidak menentu, sangat bergantung pada ketersediaan orderan jahitan.

Keluarga berharap ada peninjauan ulang terhadap status desil tersebut. Mengingat biaya pengobatan kista saluran empedu dan transportasi rutin Pekalongan–Semarang sangat besar, kepesertaan BPJS PBI yang permanen menjadi satu-satunya tumpuan harapan mereka.

Pentingnya Akurasi Data Kemiskinan

Kasus ini menambah daftar panjang warga yang “terlempar” dari sistem bantuan sosial akibat ketidakakuratan data di lapangan. Warga berharap Pemerintah Kabupaten Pekalongan melalui Dinas Sosial dapat memberikan solusi jangka panjang, bukan sekadar aktivasi sementara, agar proses penyembuhan sang anak tidak terhenti di tengah jalan.

Catatan Redaksi: Hingga berita ini diturunkan, redaksi terus berupaya mengonfirmasi pihak terkait mengenai prosedur pengajuan sanggahan data desil bagi warga yang merasa tidak mampu namun tercatat mampu dalam sistem. (Redaksi)

Terkait
Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Ombudsman apresiasi Polres Batang bentuk tim khusus tangani kasus pembunuhan Haniyah

Batang, Wartadesa. - Polres Batang Jawa Tengah menegaskan komitmennya untuk menangani kasus pembunuhan yang menewaskan Haniyah (35), warga Desa Gapuro Read more

Warga Gondang pertanyakan hasil pajak parkir pasar

Pemalang, Wartadesa. - 50 pemuda Desa Gondang Kecamatan Taman Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah mempertanyakan hasil pajak parkir pasar desa. Mereka Read more

selengkapnya