close

Layanan Publik

Layanan PublikSosial Budaya

Warga Dukuh Banaran Selopajang gelar Upacara Kemerdekaan

upacara

Batang, Wartadesa. – Warga Dukuh Banaran, Desa Selopajang Barat, Kecamatan Blado, Kabupaten Batang menggelar upacara bendera memperingati HUT RI ke-73. Upacara yang dilaksanakan pada Jum’at (17/08) diikuti oleh seluruh elemen warga.

Ketua Panitia, Fahrudin mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan inisiatif warga dan tokoh masyarakat “Kami menyelenggarakan upacara di Dukuh Banaran Desa Selopajang Barat, Kecamatan Blado, atas inisiatif warga dan tokoh masyarakat Dukuh Banaran karena belum pernah ada pelaksanaan upacara di desa maupun dukuh, sebelumnya,” ujarnya Sabtu (18/08).

Fahrudin berharap agar kegiatan upacara memperingati HUT RI tersebut menjadi awal kegiatan sejenis untuk tahun-tahun berikutnya, “Semoga menjadi awal yang baik dan meningkatkan kesadaran warga masyarakat untuk mengenang jasa-jasa  para leluhur pejuang yang telah memerdekakan bumi pertiwi Indonesia,” lanjutnya.

Upacara diikuti oleh ratusan warga, tokoh masyarakat, siswa RA, SD, MI, TPQ, ketua RT/RW dan perangkat desa setempat. “Upacara  dihadiri kurang lebih 350 peserta dengan inspektur upacara Kadus Banaran,” ujar Fahrudin.

Khafidzin, Kadus Banaran dalam amanatnya mengungkapkan rasa bangga kepada warg Banaran yang antusias mengikuti upacara peringatan HUT RI Ke-73. Dia berharap agar  warga lebih  semangat rasa kebersamaan, guyup rukun dalam kehidupan bermasyarakat, membangun desa,” ujarnya.

Menurut Khafidzin, momen-momen seperti ini (upacara bendera) harus dibudayakan kepada gererasi muda, untuk mengenang jasa-jasa  pahlawan yang telah berjuang mencapai kemerdekaan bangsa Indonesia.

Selepas upacara bendera, warga menggelar kegiatan aneka lomba yang diikuti oleh seluruh warga, anak-anak, tua dan muda sembari menikmati hiburan rakyat.

Sebelumnya, warga menggelar kegiatan tirakatan (do’a bersama) mengenang jasa para pahlawan kemerdekaan. (Wahyani)

selengkapnya
KesehatanLayanan Publik

Tujuh bulan, 51 penderita HIV/AIDS baru ditemukan di Pemalang

ilustrasi aids_elsam

Pemalang, Wartadesa. – Dalam waktu tujuh bulan, rentang Januari hingga Juli 2018, 51 penderita HIV/AIDS baru ditemukan. Mereka positif terkena HIV/AIDS setelah dilakukan tes pemeriksaaan di berbagai tempat di Pemalang.

Dinas Kesehatan Kabupaten Pemalang menyebut bahwa 51 penderita baru tersebut dari kalangan karyawan dan buruh. Demikian disampaikan oleh Yulis Nuraya, Kabid Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Dinkes Pemalang, Selasa kemarin. Menurutnya jumlah tersebut dimungkinkan akan lebih tinggi dibanding tahun lalu, karena masih ada sisa waktu hingga akhir 2018.

Yulis menyebut jumlah penderita HIV/AIDS di Pemalang pada tahun 2017 sebanyak 62 orang, sedang untuk penderita baru rentang Januari hingga Juli 2018 mencapai 51 orang yang positif terjangkit virus HIV/AIDS.

Tes pemeriksaan yang dilakukan oleh Dinkes setempat, lanjut Yulis, adalah tempat hiburan malam dan tempat wisata. Selain itu tes juga menyusur sejumlah warung makan. Dengan sample tes para pengunjung dan karyawan yang diambil contoh darahnya.

Data keseluruhan pengidap HIV/AIDS yang terkumpul di Dinas Kesehatan Pemalang dari 1993 hingga 2017 ada 419 orang penderita HIV/AIDS. Dari data tersebut, 116 meninggal, 303 orang maasih bertahan menjalani pengobatan.

Yulis melanjutkan, pengidap HIV/AIDS didominasi kalangan buruh, ibu rumah tangga, dan wanita pekerja seks komersial (PSK) dan yang lebih mengejutkan adalah tingginya ibu hamil yang terkena virus tersebut. ”Ibu hamil juga cukup tinggi,” ungkapnya.

Saat ini alat tes dan obat untuk penderita HIV/AIDS cukup tersedia di Dinkes Pemalang, selain itu kesadaran masyarakat Pemalang cukup tinggi untuk membentengi diri dan keluarga dari bahaya penyakit yang mematikan tersebut.  (WD)

selengkapnya
Layanan PublikSosial Budaya

Jembatan “sewu” Karangdadap-Pandansari mulai dikerjakan lagi

Jembatan-Kali-Kupang

Batang, Wartadesa. – Setelah sempat mangkrak selaama dua tahun, Jembatan Kalikupang, jembatan yang dikenal warga dengan “jembatan sewu” yang menghubungkan Desa Karangdadap, Kabupaten Pekalongan dengan Desa Pandansari, Kabupaten Batang, akhirnya dikerjakan kembali.

Jembatan sewu sempat ramai di media sosial lantaran tiap warga yang lewat jembatan sasak (jembatan darurat) yang dibuat oleh warga setempat diharuskan membayar retribusi Rp. 1000 tiap satu kali lewat.

Bupati Batang, Wihaji saat meninjau lokasi jembatan, Selasa (14/08) mengungkapkan bahwa pembangunan jembatan tersebut dilanjutkan setelah mendapat bantuan keuangan dari Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.

”Dua tahun yang lalu pernah mendapatkan bantuan keuangan dari Pemprov tapi mangkrak karena pelaksana proyek tidak punya uang, dan tahun ini kita anggarkan lagi oleh karena itu kita pastikan melihat langsung agar tidak terjadi permasalahan yang sama,” ujar Wihaji.

Wihaji sempat meradang melihat kondisi jembatan yang masih 30 persen dan mangkrak ditinggal pelaksana proyek. Menurutnya, mangkraknya pembangunan jembatan tersebut merepotkan dan merugikan warga.

”Saya tidak mau tahu yang jelas harus selesai dan jangan sampai mangkrak lagi, karena rakyat sudah dirugikan karena mangkraknya pembangunan jembatan ini,” lanjut Wihaji kesal.

Sementara itu, Kepala Seksi Pemeliharaan Dinas Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat Kabupaten Batang Hendro Sutyono mengatakan bahwa pembangunan jembatan merupakan lanjutan dari sebelumnya. ”Kalau dulu pembangunan proyeknya baru 30 persen, ini tinggal melanjutkan 60 persen dengan panjang jembatan 22 meter dan lebar 9 meter,”  tuturnya.

Pembangunan jembatan tahap pertama yang mangkrak memakan anggaran Rp. 6 miliar, dan pelaksana proyek sudah di black list (masuk daftar hitam), sedang anggaran untuk melanjutkan pembangunan jembatan dianggarkan Rp.  3,8 miliar dengan target tahun ini selesai.  (WD)

selengkapnya
EducationLayanan PublikPendidikan

Naik dua kali lipat lebih, siswa SMK Yapenda demo

demo yapenda

Wiradesa, Wartadesa. – Naiknya SPP (Sumbangan Pokok Pendidikan) dari Rp. 100 ribu menjadi Rp. 250 ribu dianggap oleh siswa-siswi SMK Yapenda Wiradesa Kabupaten Pekalongan terlalu memberatkan, hingga mereka kembali menggelar aksi demo.

Para siswa menggelar demo lanjutan Selasa (14/08) setelah pada Senin dinihari (13/08) mereka melampiaskan dalam bentu vandalisme, memprotes kebijakan kenaikan iuran administrasi dengan mencorat-coret tembok sekolah.

Selain keberatan dengan kenaikan SPP, para siswa juga mempertanyakan pelayanan dan tindakan dari pihak sekolah, mereka menumpahkan keberatannya dengan berorasi, sembari membentangkan spanduk bernada protes.

Baca: Iuran Administrasi Naik, Puluhan Siswa SMK Yapenda Gelar Aksi Vandalisme  

Setelah berorasi, dilakukan mediasi antara pihak sekolah dengan perwakilan siswa yang dipimpin oleh Kapolsek Wiradesa, AKP Yorisa Prabowi.

Terungkap dalam mediasi, siswa keberatan dan merasa tidak nyaman dengan iuran bulanan (SPP) yang dinilai terlalu tinggi. Selain itu, beratnya hukuman bagi siswa yang datang terlambat ke sekolah menjadi keluhan mereka.

Perwakilan siswa mempertanyakan minimnya sarana-prasarana sekolah, meski mereka dibebani dengan biaya sekolah yang tinggi. Menurut para siswa, sarana-prasarana sekolah tidak layak, namun tidak segera diperbaiki.

Akibatnya, mereka (para siswa) mencurahkan uneg-unegnya dalam bentuk aksi vandalisme pada Senin dinihari. Dan tidak bersedia menerima pelajaran dari para guru pada Senin hingga Selasa kemarin. Hingga dilakukan mediasi oleh Kapolsek Wiradesa.

Mediasi yang diikuti oleh perwakilan siswa, yakni,  Andi Ferial, Dio Virsa Yustito, Surya dan Indah Kartika Silfani dengan Kepala SMK Yapenda Wiradesa, Muhtar akhirnya sepakat untuk meninjau ulang SPP (iuran bulanan) dengan membicarakan kembali dengan rapat orang tua.

Selain itu, mereka juga sepakat untuk menyesuaikan hukuman bagi para siswa yang datang terlambat dan pihak sekolah berjanji akan memperbaiki sarana-prasarana sekolah yang tidak layak. (WD)

selengkapnya
Layanan PublikPendidikan

Iuran administrasi naik, puluhan siswa SMK Yapenda gelar aksi vandalisme

demo smk yapenda

Wiradesa. Wartadesa. – Puluhan siswa Sekolah Menengah Kejuruan (SMK) Yayasan Pemerintah Daerah (Yapenda) menggelar aksi vandalisme di dinding tembok sekolah mereka, Senin (13/08) dinihari.

Aksi yang dilakukan oleh 30 siswa kelas XI SMK Yapenda tersebut merupakan aksi unjuk rasa, lantaran mereka kecewa dan keberatan dengan kenaikan iuran administrasi yang diminta oleh pihak sekolah untuk tahun pelajaran 2018/2019.

Aksi yang keburu konangan (ketahuan) patroli Polsek Wiradesa tersebut, akhirnya dihentikan. Menurut Aiptu Erick Hantoko, petugas patroli di lapangan, aksi corat-coret dilakukan dengan mengunakan cat semprot ke dinding sekolahan. “Ketika kegiatan patroli sampai di SMK Yapenda Wiradesa, kami melihat aksi pemuda yang melakukan vandalisme,” tuturnya.

Setelah berkomunikasi sebentar selanjutnya Aiptu Erick Hantoko dan Aipda Agus Budiyanto,  meminta para pemuda yang berjumlah 30 anak tersebut bisa ikut ke Polsek Wiradesa.

Di Mapolsek Wiradesa 30 pemuda tersebut di data dan di intrograsi ternyata mereka semua siswa kelas XI SMK Yapenda yang melakukan aksi unjuk rasa dengan cara Vandalisme atau mencorat coret dinding luar sekolahnya dikarenakan merasakan kecewa dan berat atas kenaikan iuran administrasi yang diminta dari pihak sekolah untuk tahun ajaran baru 2018 – 2019. Tutur Erick

Ketigapuluh siswa tersebut akhirnya diminta oleh Kapolsek Wiradesa, AKP Yorisa Prabowo untuk menyelesaikan permasalahan mereka secara intern dengan pihak sekolah. Para siswa kemudian diminta untuk pulang. “Mungkin karena adanya miskomunikasi antara Guru dan orang tua siswa hingga menimbulkan perilaku vandalisme siswa SMK Yapenda tersebut” terang AKP Yorisa. (WD)

 

selengkapnya
EkonomiLayanan Publik

Tak boleh berjualan di trotoar, pedagang Parti Lapangan Mataram protes

parti

Kota Pekalongan, Wartadesa. – Pedagang pasar tiban (Parti) yang biasa menggelar lapaknya tiap hari Ahad di komplek Lapangan Mataram Kota Pekalongan protes, lantaran mereka dilarang berjualan di trotoar oleh Satpol PP setempat, Ahad (12/08).

Protes dilakukan dengan mengerubuti petugas Satpol PP, mereka memprotes lantaran terbiasa berjualan di lokasi trotoar sejak pukul 05.00 WIB. Hingga akhirnya petugas Satpol PP mengarahkan para pedagang untuk berjualan pada trotoar sebelah timur lapangan.

Namun pemindahan pedagang ke trotoar Timur, diprotes oleh para pedagang yang sebelumnya biasa mangkal di trotoar Timur. Para pedagang tidak mau berdesak-desakan. Akibatnya, keributan terjadi, dan mereka mengadu kembali ke petugas Satpol PP agar diberikan kesempatan untuk berjualan di tempat biasa mereka mangkal pada hari itu.

Satpol PP yang berjaga pun akhirnya membolehkan pedagang jualan di tepi lapangan, tetapi tidak menggunakan trotoar. Akhirnya setelah pukul 07.00 pedagang terpaksa berjualan di tepi lapangan dan berlangsung hingga pukul 09.30 WIB.

Salah seorang pedagang, Sulasmi (43) mengungkapkan bahwa saat akan menggelar dagangannya di trotoar sebelah Timur, ditolah oleh pedagang lainnya. “Ya … nggak boleh buka lapak di sebelah Timur. Kan pedagang disitu juga sudah untel uyek (banyak),

“Akhirnya kami minta agar diperbolehkan untuk berjualan di tempat semula, meski minggu depan tidak boleh berjualan disitu,” lanjut Sulasmi.

Menurut petugas Satpol PP, larangan pedagang untuk berjualan di trotoar, sebetulnya sudah lama disampaikan kepada para pedagang. Namun mereka tetap membuka lapak jualannya disitu. Hal tersebut juga dibenarkan oleh Kepala Satpol PP Kota Pekalongan, Muadi.

Sudah berkali-kali Satpol melakukan sosialisasi soal larangan itu meski setiap hari Minggu masih ada pedagang yang datang ingin berjualan. Minggu depan pedagang sudah tidak boleh berjualan lagi di trotoar lapangan Mataram.  Tutur Muadi.

Menurut Muadi, keperuntukan trotoar Lapangan Mataram adalah untuk para warga yang melakukan aktivitas olahraga. (WD)

selengkapnya
Hukum & KriminalLayanan PublikLingkunganSosial Budaya

PT SMJ mangkir dari tanggung jawab perbaikan jalan

jalan pemalang rusak

Pemalang, Wartadesa. – Subkontraktor pelaksana pembangunan jalan tol Trans Jawa ruas Pemalang mangkir saat diundang rapat oleh Komisi B DPRD Kabupaten Pemalang, Senin (06/08). Agenda rapat yang merupakan tindak lanjut dari rapat pada 26 Juli lalu tersebut mengagendakan pemulihan kondisi jalan desa maupun jalan kabupaten yang rusak akibat imbas pembangunan tol.

”Agenda kami pada rapat itu didasari progres capaian yang dikerjakan PT SMJ sangat rendah. Padahal kontrak Oktober mendatang sudah selesai. Disamping itu MoU tentang pemulihan jalan terdampak tol sudah dibuat,” kata Fahmi, Ketua Komisi B.

Fahmi menambahkan, perjanjian antara Pemkab Pemalang dengan kontraktor tol menyebut bahwa perbaikan jalan yang rusak menjadi tanggung jawab SMJ. Namun perjanjian (MoU) tersebut tidak dipatuhi oleh PT SMJ. Dari 79,1 KM jalan yang rusak hanya 4,2 KM yang diperbaiki. “Ruas jalan yang diperbaiki yaitu ruas yalan Widodaren-Karangasem, atau sekitar 6,7 persen yang sudah diperbaiki,” lanjutnya.

Senin kemarin, masih menurut Fahmi, seharusnya jalan yang rusak sudah dikerjakan oleh SMJ, tetapi saat diundang malah tidak datang.

”Padahal kondisi masyarakat kini sudah sangat resah. Ingin segera jalan rusak yang sudah sekitar dua tahun segera diperbaiki,” tegas Fahmi.

Meskipun pihak SMJ tidak datang hari itu, rapat memutuskan ke depan PBTR yang mengadakan rapat dengan mengudang seluruh pihak. Yakni DPRD, Pemkab Pemalang, PT SMJ dan perwakilan desa masing-masing. Rapat untuk menyusun jadwal penanganan per ruas dengan melaksanakan survei bareng.

”Jika hal itu (perbaikan jalan) tidak dilaksanakan maka DPRD akan meminta kepada Bagian Hukum Pemkab Pemalang menuntut secara hukum,” ungkap Fahmi. (Eva Abdullah)

 

selengkapnya
EkonomiHukum & KriminalLayanan Publik

Ratusan pedagang pasar darurat Banjarsari di Jalan Mangga demo

pedangang pasar darurat jl mangga unjuk rasa

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Ratusan pedagang Pasar Darurat Banjarsari yang berada di Jalan Mangga Kota Pekalongan menggelar demo menuntut Pemerintah Kota Pekalongan memberikan lokasi yang lebih baik, ketimbang lokasi yang saat ini mereka tempati.

Demo yang digelar di Kantor Pemkot Pekalongan Jalan Mataram No. 1, Podosugih, Pekalongan Barat, Kota Pekalongan, Senin (30/07) dilakukan dengan orasi  dan pembentangan tuntutan.

Massa yang sebelumnya berkumpul dari pasar darurat di Jalan Mangga melakukan konvoi dari basecamp hingga ke Kantor Pemkot Pekalongan.

Para pedagang menuntut pihak Pemkot memberikan tempat relokasi yang lebih baik dari sebelumnya.  Mereka juga mengeluhkan pihak Pemkot yang hanya memberikan 72 lapak, sementara jumlah pedagang yang menggelar lapak di lokasi pasar darurat Jalan Mangga jumlahnya lebih dari ratusan pedagang.

“Ratusan pedagang di Jalan Mangga, belum mendapat lokasi relokasi,” tutur Jaelani (56), salah seorang peserta demo.

Para pedagang juga menuntut komitmen dari Pemkot untuk merelokasi seluruh pedagang Pasar Banjarsari ke pasar darurat Jalan Mangga. “Kami menolak untuk direlokasi sebelum proses pembangunan pasar dimulai karena tempat relokasi belum memadai. Kami juga menagih janji dari Pemkot yang dulu akan merelokasi semua pedagang pasar Banjarsari Jalan Mangga.” Lanjut Jaelani.

Dalam aksi tersebut, perwakilan pedagang diterima oleh Pemkot Pekalongan. WalikotaPekalongan  Saelany Machfudz, Sekda Pekalongan Sri Rumingsih, Kepala Dindagkop Zaenul Hakim dan dari pihak kepolisian Kepala Bagian Operasi Polres Pekalongan Kota Kompol Suharsono menemui perwakilan pedagang Zamroni dan Sugeng Rizki.

Dari hasil audiensi tersebut pihak Pemkot dan pedagang Pasar Banjarsari bersepakat pengosongan Pasar Jalan Mangga yang seharusnya tanggal 1 Agustus 2018 diundur ke waktu yang belum ditentukan, dari pihak Pemkot akan melakukan validasi data dan pengkroscekan terkait jumlah pedagang Pasar Banjarsari sebelum kebakaran beberapa waktu lalu.

Akibat aksi unjuk rasa tersebut, arus lalu-lintas sempat mengalami kemacetan. Petugas gabungan disiapkan untuk melakukan pengamanan. (Eva Abdullah)

selengkapnya
BencanaKesehatanLayanan Publik

Kebakaran akibat korsleting, laki-laki terpasung tak bisa diselamatkan

korban kebakaran

Pemalang, Wartadesa. – Akibat kosleting arus listrik satu rumah terbakar di Dusun Tambakyuda Rt. 02/04 Desa Bojongnangka Kecamatan/Kabupaten Pemalang, Ahad (29/07). Satu orang warga meninggal dunia dalam kejadian tersebut karena kakinya terpasung dalam kamar.

Kebakaran yang terjadi sekira pukul 23.30 WIB tersebut membakar Tasrono (40) hingga meninggal dunia. Korban mengalami gangguan jiwa hingga keluarga memasungnya. Tasrono sempat berteriak minta tolong saat terjadi kebakaran.

Rusdi, tetangga korban yang mendengar teriakan Tasrono meminta tolong, langsung keluar rumah. Saat dilihatnya rumah Tasrono terbakar, dia langsung berteriak minta tolong kepada warga lainnya. Hingga warga lainnya, Kasnadi dan Taryono mendatangi tempat kejadian.

Warga bersama petugas pemadam kebakaran yang berusaha memadamkan api yang melalap rumah korban selama satu jam, tidak berhasil menyelamatkan korban.

Tasrono terpanggang api dalam keadaan terpasung. Petugas kesehatan dari Puskesmas Kelurahan Kebondalem, Nunuk beserta tim Inavis Polres Pemalang, Brigadir IwanS menyatakan bahwa korban meninggal akibat mengalami luka bakar seluruh tubuh. Tidak ditemukan adanya tanda-tanda kekerasan dalam kejadian tersebut.

Korban kini diserahkan kepada pihak keluarga, Casriyati yang merupakan kakak korban untuk dimakamkan. Pihak keluarga menerima kejadian tersebut sebagai musibah dan tidak menuntut pihak manapun atas kematian yang menimpa korban.

Selain korban jiwa, kerugian material diperkirakan mencapai Rp. 35 juta. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Warga Degayu perbaiki pintu air yang jebol

perbaikan jebol pintu air degayu_daeng mamase

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Warga Degayu bersama anggota Koramil Pekalongan utara bergotong-royong memperbaiki pintu ari di area persawahan kelurahan setempat. Sebelumnya, pintu air yang terbuat dari kayu dengan kanan-kirinya masih berupa tanah tersebut jebol. Akibatnya air laut masuk ke lahan persawahan warga. Sabtu (28/07)

“Pintu air hanya terbuat dari kayu, kanan dan kiri masih pakai tanah dan masih belum permanen sehingga mudah tergerus air rob,” ujar Kapten Inf Suhardi, Danramil 19 Pekalongan Utara.

Suhardi menambahkan, untuk mencegah   air laut tidak masuk ke area persawahan, untuk sementara waktu dilakukan penutupan sementara dengan menggunakan tanah urugan. “Untuk sementara pintu air yang jebol, kami memperbaiki dengan penanganan secara darurat dengan di urukan tanah,” lanjutnya.

Perbaikan pintu air yang bersifat sementara tersebut diharapkan bisa menahan air laut masuk ke persawanan untuk sementara waktu.

Sementara itu, warga yang merupakan petani desa setempat berharap ada tindakan dari pemerintah untuk memperbaiki pintu air secara permanen, mengingat pintu air tersebut sangat vital bagi keberlangsungan lahan pertanian di Kelurahan Degayu. (Eva Abdullah)

selengkapnya