PEKALONGAN, WARTADESA. – Masalah kerusakan lingkungan bukan sekadar isu teknis atau kebijakan, melainkan persoalan mendalam yang berakar pada moral dan spiritual manusia. Hal tersebut mengemuka dalam Seminar Nasional bertajuk “Jihad Ekologis” yang diselenggarakan oleh UIN K.H. Abdurrahman Wahid (UIN Gus Dur) Pekalongan di Gedung Student Center, Selasa (28/4/2026).
Hadir sebagai narasumber utama, ulama kharismatik Nahdlatul Ulama, KH. Ahmad Muwafiq (Gus Muwafiq). Dalam pemaparannya, ia menekankan bahwa krisis ekologi saat ini merupakan cerminan dari kegagalan manusia dalam mengemban amanah sebagai khalifah di bumi.
Refleksi Spiritual dan Keseimbangan Alam
Gus Muwafiq menyoroti bagaimana pola konsumsi manusia modern yang terjebak dalam sikap berlebihan (israf) dan keserakahan telah memicu eksploitasi alam tanpa batas. Padahal, Islam sangat menjunjung tinggi prinsip keseimbangan (mizan).
“Apa yang kita pakai hari ini sejatinya adalah hasil dari pengerukan bumi. Make up, semir, baterai, lipstik, baju, dan lain-lain. Ini menunjukkan bahwa manusia sangat bergantung pada alam, sekaligus memiliki tanggung jawab besar untuk menjaganya,” ujar Gus Muwafiq.
Beliau juga mengajak peserta untuk menengok kembali ajaran tasawuf sebagai solusi spiritual. Menurutnya, pembersihan hati (tazkiyatun nafs) dan sikap zuhud adalah kunci untuk mengerem nafsu eksploitatif terhadap dunia.
“Dunia akan baik-baik saja tanpa manusia; ikan akan banyak lagi, laut jadi jernih. Tapi dunia jadi sepi jika hanya diserahkan kepada malaikat. Untuk mengembalikan keseimbangan ekologi, kita harus kembali ke tasawuf, menata hati, dan mengurangi keserakahan,” pungkasnya.
Kampus Sebagai Agen Perubahan Ekologis
Sejalan dengan hal tersebut, Rektor UIN Gus Dur, Zaenal Mustakim,menyatakan bahwa perguruan tinggi memiliki peran strategis sebagai agen perubahan. Ia mendorong seluruh civitas akademika untuk tidak sekadar berteori, tetapi terjun langsung dalam aksi nyata.
Poin Utama Arahan Rektor:
-
Aksi Nyata: Melakukan penanaman pohon dan pengelolaan sampah berbasis lingkungan.
-
Integrasi Akademik: Memasukkan nilai kepedulian alam dalam kurikulum dan kegiatan pengabdian masyarakat.
-
Implementasi Harian: Mahasiswa dan dosen diharapkan mempraktikkan gaya hidup ramah lingkungan setiap hari.
-
Kesadaran Kolektif
Seminar yang mengangkat tema “Spiritualitas Sufi dalam Merespon Krisis Ekologi dan Energi” ini diikuti oleh sekitar 700 peserta. Antusiasme peserta menunjukkan adanya urgensi besar untuk mulai bergerak menyelamatkan bumi dari kerusakan yang semakin nyata.
Kegiatan ini diharapkan menjadi momentum bangkitnya kesadaran kolektif bahwa menjaga kelestarian lingkungan bukan sekadar pilihan sosial, melainkan bentuk ketaatan dan ibadah kepada Allah SWT.
Kontributor: Khairul Anwar















