close

Lingkungan

Lingkungan

Galian C di Donowangun dan Kalirejo salahi aturan

galian-C_1

Talun, Wartadesa. – Galian C di Desa Donowangun dan Desa Kalirejo, Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan dinilai menyalahi aturan. Hasil pengecekan lokasi oleh Dinas ESDM Serayu Utara, galian C tersebut tidak sesuai dengan prosedur yakni dilakukan secara terasering, bukan tegak lurus.

Menurut Kepala Cabang ESDM Serayu Utara, Primasto Ardi, mengungkapkan setelah dilakukan pengecekan dan laporan keluhan warga, kegiatan dua galian C itu telah membuat alam menjadi rusak, serta mengakibatkan sumur warga menjadi keruh, khususnya saat alat berat beroperasi. Kondisi tersebut, apabila dibiarkan terus menerus memunculkan kekhawatiran, akan mengakibatkan dampak lebih buruk. “Setelah dicek bersama tim, disimpulkan bahwa penambangan menyalahi aturan, kerena tidak sesuai dengan prosedur yakni dilakukan secara terasering, bukan tegak lurus.” Ujar Primasto Ardi, Senin (07/01).

Primasto menambahkan, iin penambangan di Desa Donowangun sudah habis dan saat ini sedang dalam masa pengajuan perpanjangan ijin. Terkait dengan proses penambangan galian C yang tidak sesuai prosedur, Primasto mengatakan, pihaknya akan memberikan teguran secara bertahap.

”Nanti akan kami berikan teguran karena melakukan reklamasi merupakan kewajiban, kalau teguran pertama dan kedua tidak diindahkan, maka yang ketiga kalinya izin akan dicabut. Untuk Kabupaten Pekalongan memang ada sekitar 25 penambangan yang sudah diberikan izin oleh Pemerintah Provinsi Jateng,” tutur Primasto.

Kerusakan alam disekitar wilayah galian C Desa Donowangun diungkapkan oleh Abaidillah (30), warga setempat. Menurutnya sungai dan sumur warga menjadi keruh. Selain itu warga dan pekerja galian C sering adu mulut karena suara bising yang ditimbulkan saat para pekerja menjalankan aktivitasnya pada malam hari.

Seperti diberitakan Wartadesa sebelumnya, kegiatan penambangan Galian C di Desa Donowangun dan Kalirejo Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan dinilai menyalahi aturan secara teknis. Akibatnya Pemprov Jawa Tengah akan mengevaluasi perpanjangan ijin tambang tersebut.

Primasto Ardi, Kepala Cabang Dinas ESDM Serayu Utara mengungkapkan bahwa secara teknis kegiatan penambangan galian C di Desa Donowangun menyalahi aturan karena pengeprasan tanah tebing dibuat tegak lurus.

“Pada peraturan, penambangan galian C tidak boleh tebing tanah dibuat tegak lurus namun harus dibuat berjenjang atau teras sering. Untung saja, kondisi struktur tanah di galian C tersebut cukup kuat sehingga tidak begitu menimbulkan rawan longsor,” kata Prismanto dilansir dari Antara Jateng.

Jarak aman aktivitas penambangan galian C dari permukiman penduduk minimal 50 meter, sehingga menurut peraturan, pihak perusahaan Galian C harus melakukan reklamasi.

“Kendati demikian, pada peraturan untuk menghindari kerawanan bencana maka pihak perusahaan atau pemilik galian C harus melakukan reklamasi. Itu peraturan yang harus dipatuhi tetapi masih banyak pengelola galian yang mengabaikan hal itu meski sanksinya juga cukup beras,” lanjut Prismanto.

Prismanto meluruskan adanya anggapan jika Pemprov Jateng memudahkan pengajuan perizinan penambangan galian di daerah. “Masalah perizinan penambangan galian C, kami hanya akan memberikan izin jika surat dari kabupaten dalam hal Dinas Lingkungan hidup mengeluarkan izin lingkungan terlebih dahulu. Oleh karena, kami berharap masyarakat ikut mengawal segala macam proses perizinan karena penyaringan izin diawali dari daerah,” katanya.

Sementara itu, menurut Sadiin, Koordinator Peduli Lingkungan Desa Donowangun merasa prihatin aktivitas penambangan di wilayahnya sudah melebihi batas, dan mendekati lokasi permukiman warga. Hal tersebut, menurutnya, kalau dibiarkan akan terjadi longsor.

Penambangan Galia C di Donowangun sudah dua tahun, saat ini pihak pengembang mengajukan proses perpanjangan ijin penambangan. Sadiin berharap agar Gubernur Jateng tidak mengeluarkan permohonan perpanjangan ijin tersebut.

“Oleh karena, kami berharap pada Gubernur Jateng tidak mengeluarkan permohonan perizinan penambangan galian C di Desa Donowangun maupun Desa Kalirejo karena dampaknya sudah menyengsarakan warga setempat,” pungkas Sadiin. (WD)

selengkapnya
Lingkungan

Salahi aturan, ijin tambang Galian C di Donowangun dan Kalirejo dievaluasi

galian-C_1

Talun, Wartadesa. – Kegiatan penambangan Galian C di Desa Donowangun dan Kalirejo Kecamatan Talun, Kabupaten Pekalongan dinilai menyalahi aturan secara teknis. Akibatnya Pemprov Jawa Tengah akan mengevaluasi perpanjangan ijin tambang tersebut.

Primasto Ardi, Kepala Cabang Dinas ESDM Serayu Utara mengungkapkan bahwa secara teknis kegiatan penambangan galian C di Desa Donowangun menyalahi aturan karena pengeprasan tanah tebing dibuat tegak lurus.

“Pada peraturan, penambangan galian C tidak boleh tebing tanah dibuat tegak lurus namun harus dibuat berjenjang atau teras sering. Untung saja, kondisi struktur tanah di galian C tersebut cukup kuat sehingga tidak begitu menimbulkan rawan longsor,” kata Prismanto dilansir dari Antara Jateng.

Jarak aman aktivitas penambangan galian C dari permukiman penduduk minimal 50 meter, sehingga menurut peraturan, pihak perusahaan Galian C harus melakukan reklamasi.

“Kendati demikian, pada peraturan untuk menghindari kerawanan bencana maka pihak perusahaan atau pemilik galian C harus melakukan reklamasi. Itu peraturan yang harus dipatuhi tetapi masih banyak pengelola galian yang mengabaikan hal itu meski sanksinya juga cukup beras,” lanjut Prismanto.

Prismanto meluruskan adanya anggapan jika Pemprov Jateng memudahkan pengajuan perizinan penambangan galian di daerah. “Masalah perizinan penambangan galian C, kami hanya akan memberikan izin jika surat dari kabupaten dalam hal Dinas Lingkungan hidup mengeluarkan izin lingkungan terlebih dahulu. Oleh karena, kami berharap masyarakat ikut mengawal segala macam proses perizinan karena penyaringan izin diawali dari daerah,” katanya.

Sementara itu, menurut Sadiin, Koordinator Peduli Lingkungan Desa Donowangun merasa prihatin aktivitas penambangan di wilayahnya sudah melebihi batas, dan mendekati lokasi permukiman warga. Hal tersebut, menurutnya, kalau dibiarkan akan terjadi longsor.

Penambangan Galia C di Donowangun sudah dua tahun, saat ini pihak pengembang mengajukan proses perpanjangan ijin penambangan. Sadiin berharap agar Gubernur Jateng tidak mengeluarkan permohonan perpanjangan ijin tersebut.

“Oleh karena, kami berharap pada Gubernur Jateng tidak mengeluarkan permohonan perizinan penambangan galian C di Desa Donowangun maupun Desa Kalirejo karena dampaknya sudah menyengsarakan warga setempat,” pungkas Sadiin. (Sumber: Antara Jateng)


selengkapnya
BencanaLingkungan

Kesaksian warga Pemalang saat bencana Tsunami Tanjung Lesung, terlihat pijaran lava dari Anak Gunung Krakatau

Burhan Korban Tsunami dari pemalang

Pemalang, Wartadesa. – Bencana Tsunami yang terjadi di Selat Sunda, daerah Tanjung Lesung, Anyer pada Ahad pagi, 23 Desember 2018 menyisakan sepenggal kisah dari korban asal Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah. Adalah Burhani Cokro Handoko, warga Desa Pamutih, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang bersama rekannya menjadi korban selamat dalam bencana tersebut.

Burhan adalah tim event organizer (EO) gathering PLN yang menghadirkan grup band Seventeen. Dia merupakan kru outbond yang mengisi acara gathering tersebut.

Dikutip dari Kabar Pemalang, Burhan menceritakan peristiwa yang menimpa dirinya, Kamis (27/12) melalui sambungan telepon. Dia mengungkapkan bahwa sebelum peristiwa tsunami, dia melihat pijaran lava dari Anak Gunung Krakatau dan menyampaikannya dengan salah satu kru lainnya pada saat keluar dari Cottage tempat mereka menginap ke lokasi panggung acara. Menurut kru, peristiwa tersebut merupakan kali pertama dirinya melihat namun memberitahukan untuk tidak khawatir.

Saat kejadian, masih tutur Burhan via telepon, Seventen sendiri mulai naik panggung sekitar pukul 21.30 WIB setelah sebelumnya diisi dengan rangkaian seremonial. Posisi Burhan, tepat di depan Bani, Basis Seventen. Setelah lagu pertama, atau jeda menuju lagu kedua, tiba-tiba air bah datang. Panggung langsung ambruk dan banyak peserta yang tidak sempat untuk menyelamatkan diri lebih dini.

Posisi panggung sendiri membelakangi pantai sehingga tanda-tanda datangnya air bah tidak dikehatui. Semua terseret air yang tingginya diperkirakan mencapai tiga meter. Burhan sendiri yang ikut terbawa arus berusaha menyelamatkan diri dengan mencoba meraih apapun yang ada di sekitarnya. Burhan terseret hingga ke dekat Cottage tempat menginap. Jarak Cottage dengan lokasi panggung sendiri kurang lebih 100 meter.

Beruntung, Burhan selamat meski mengalami beberapa luka di beberapa bagian tubuhnya akibat benturan dengan benda yang terbawa air. Dengan dibantu warga sekitar, Burhan akhirnya dibawa ke Puskesmas terdekat untuk mendapat perawatan. Menurut penuturannya pula, manajer dari EO pelaksana termasuk korban yang meninggal.

Bencana tsunami di Selat Sunda ini melanda daerah Banten dan Lampung. Berdasarkan data BNPB korban meninggal mencapai 430 orang. (Sumber: Kabar Pemalang)

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Dua tahun jalan Desa Pendowo rusak, warga blokade dan galang koin perbaikan

koin peduli pendowo

Pemalang, Wartadesa. – Ratusan warga Desa Pendowo menggelar aksi unjuk rasa menuntut perbaikan jalan yang rusak akibat imbas pembangunan jalan tol Pemalang-Batang. Warga menggelar aksi dengan melakukan orasi, memasang blokade jalan dan membuka koin donasi perbaikan jalan. Selasa (25/12).

Aksi warga ini dipicu lambannya perbaikan jalan yang dijanjikan oleh pihak pengembang tol. Menurut koordinator aksi, Supriyadi, lebih dari dua tahun warga dijanjikan perbaikan jalan yang rusak setelah proyek pembangunan jalan tol selesai. Namun hingga jalan tol diresmikan dan sudah dibuka untuk umum, jalan tak kunjung diperbaiki.

”Kami atas nama masyarakat Desa Pendowo dan Kecamatan Bodeh menuntut kepada Pemerintah Daerah Pemalang dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah untuk segera memperbaiki Jalan Raya Pendowo yang rusak parah akibat pembangunan jalan tol,” tuntut Supriyadi dalam orasinya.

Warga mengaku akibat rusaknya jalan ruas Pendowo-Bodeh, banyak warga yang tergelincir oleh lubang-lubang yang menganga di sepanjang jalan. “Kalau musim hujan banyak warga yang melintas jatuh karena banyaknya lubang jalan dan licin. Apakah pemerintah menunggu ada warga yang meninggal baru akan di perbaiki?” tutur Supriyadi retoris.

Supriyadi menambahkan, saat ini perbaikan jalan seperti diping-pong, antara kontraktor tol PT SMJ dan pemerintah setempat. Pihaknya mengaku tidak mau tanggung jawab perbaikan jalan dilempar ke pihak lain. “Kami tidak ingin dilempar tanggung jawab ke perusahaan kontraktor PT. Sumber Mitra Jaya seperti plang-plang yang dipasang dipinggir jalan yang dipasang oleh Dinas Pekerjaan Umum dan Tata Ruang Kabupaten Pemalang karna kami bayar pajak ke Pemerintah, bukan ke PT. SMJ,”

Selain menuntut perbaikan jalan yang rusak. Warga juga menuntut ganti rugi imbas jalanan yang rusak akibat pembangunan jalan tol. Pasalnya banyak warga yang terserang gangguan pernafasan, batuk dan sakit mata sejak pembangunan jalan tol dimulai. Bahkan banyak rumah warga yang rusak.

“Kesehatan warga kami terutama yang rumahnya ada di depan jalan, banyak yang mengeluh sesak napas akibat banyaknya debu dari jalan. Rumah mereka kotor dan cat tembok rumah banyak yang rusak karena terkena cipratan air dari kendaraan yang lewat, untuk itu kami warga desa Pendowo menutut ganti rugi sebesar Rp 10 Juta rupiah bagi setiap KK yang rumahnya terdampak langsung oleh kerusakan jalan tersebut,” ujar Supriyadi.

Peserta aksi mengaku bila tuntutan mereka tidak segera dipenuhi, mereka akan menutup akses jalan yang menghubungkan dua kecamatan di Pemalang. (WD, dari berbagai sumber)

selengkapnya
Lingkungan

Walhi Jateng akan gugat perusahaan Galian C di Desa Wisnu dan Semingkir

galian c semingkir

Semarang, Wartadesa. – Wahana Lingkungan Hidup (Walhi) Jawa Tengah akan menggugat PT Asa Sukses Amanah, perusahaan pertambangan Galian C di Desa Wisnu dan Semingkir, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang.

Gugatan Walhi dilayangkan lantaran aktivitas pertambangan yang dilakukan perusahaan tersebut menyebabkan kerusakan lingkungan. Gugatan juga dilakukan dalam upaya pelestaria lingkungan hidup, seperti diatur dalam Pasal 5 ayat 1 Undang-Undang Pengelolaan Lingkungan Hidup. Demikian disampaikan oleh Umi Ma’rufah, Staf Komunikasi dan Kampanye Walhi Jateng, dilansir dari Semarangpos, Kamis (20/12).

“Selain Desa Wisnu, kerusakan juga terjadi di Desa Semingkir. Gugatan akan kami sampaikan ke Polda Jateng. Gugatan itu untuk pemilik izin galian C di Desa Watukumpul atas nama PT Asa Sukses Amanah, sedangkan di Desa Semingkir atas nama Ronny Aquario Pratama,” ujar Umi.

Baca: Warga Semingkir Pemalang demo tolak tambang galian C di Istana Negara

Penolakan tambang Galian C di Desa Semingkir sudah berulangkali. Warga telah menempuh segala cara untuk menolak tambang tersebut, mulai dari audiensi dengan kepala desa, demo, audiensi dengan dinas lingkungan hidup dan kehutanan dan dinas energi dan sumber daya mineral, melapor ke Komisi B DPRD Pemalang hingga demo ke Istana Negara, Jakarta.

Menurut Umi, warga mulai resah dengan dampak buruk tambang yang menyebabkan lahan pertanian terancam kekeringan dan longsor. Warga juga khawatir jika aktivitas tambang dilanjutkan akan menggerus pondasi Jembatan Nambo yang menghubungkan Desa Semingkir dan Desa Wisnu. Apalagi selama ini Jembatan Nambu juga merupakan bendungan irigasi yang mengairi tujuh desa, yakni Desa Semingkir, Wisnu, Wanarat, Sumurkidang, Semaya, Pegiringan, dan Banjarsari.

Pelibatan warga dalam sosialisasi tambang juga tidak pernah dilakukan, masih menurut Umi, padahal sesuai UU 23/1997 tentang Pengelolaan Lingkungan Hidup, warga berhak mengetahui atas pengelolaan lingkungan hidup di daerahnya. (Sumber: Semarangpost.com)

selengkapnya
Hukum & KriminalLingkungan

Warga Semingkir Pemalang demo tolak tambang Galian C di Istana Negara

demo warga semingkir

Jakarta, Wartadesa. – Warga Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, hari ini menggelar aksi demo menolah tambang Galian C di Istana Negara Jakarta. Puluhan warga menggelar aksi demo dengan membawa “untingan” padi dan spanduk berisi penolakan galian pasir dan batu di wilayahnya.

Dalam siaran persnya, Slamet Riyadi, tokoh masyarakat Desa Semingkir mengungkapkan bahwa mayoritas warganya merupakan petani padi dengan sumber pengairan dari Kali Comal. Dalam perkembangannya menjadi irigasi teknis. Petani Desa Semingkir lebih banyak menghabiskan waktunya di sawah,  mulai mencangkul, membajak, membuat benih padi, menanam padi (tandur), membersihkan rumput (matun), sampai memanen.

Namun, saat ini, Kali Comal yang menjadi sumber utama irigasi warga rusak, bahkan porak-poranda akibat penggalian tambang. Tambang Galian C yang menggunakan alat berat, lebih dari lima unit tersebut merusak habitat sungai. Kali rusak dan tidak ada batu besar, lahan pertanian warga rusak. Bahkan jalan milik petani pun tergerus oleh kendaraan pengangkut material Galian C.

Terkait hal tersebut, warga Desa Semingkir menuntut agar penambangan Galian C ditutup, penambang harus bertanggung-jawab terhadap kerusakan alam yang diakibatkannya. Adanya proses hukum bagi pelaku penambang Galian C atau pihak-pihak yang terlibat.

Selain itu, warga juga menuntut agar kelestarian alam Kali Comal dikembalikan dan dijaga, pihak pemerintah diminta ikut menertibkan Galian C sesuai dengan hukum yang berlaku.

Aksi demo yang digelar petani Desa Semingkir dengan didampingi oleh Walhi Jateng bersama kawan-kawan petani dari daerah lain, melakukan aksinya sejak pukul 08.00 WIB dengan aksi longmarch dari masjid Istiqlal menuju istana merdeka.  (WD)

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Aurora terlihat di Pekalongan, warganet heboh

aurora_pekalongan kita1

Sragi, Wartadesa. – Sebuah fenomena alam yang jarang ditemukan, berupa pancaran cahaya hijau di langit yang diunggah laman media sosial Pekalongan Kita, membuat warganet Pekalongan heboh. Pancaran cahaya tersebut dianggap sebagai aurora.

Fenomena diduga aurora. Foto: Pekalongan Kita

Aurora merupakan fenomena alam di langit berupa kilatan cahaya di langit akibat dari reaksi antara medan magnet Bumi dengan radiasi dari luar angkasa. Kilatan cahaya yang indah dapat dilihat dari jauh, seperti pertunjukan cahaya di langit.

Aurora dapat terlihat dengan jelas di beberapa negara belahan Planet Bumi bagian Utara dan Selatan. Namun menurut para ahli fenomena aurora di Indonesia tersebut sulit untuk ditemukan.

Foto yang diunggah laman Pekalongan Kita pada Rabu (05/12) pukul 20.18 WIB ini ditanggapi oleh 432 warganet, dan dibagikan sebanyak 142 kali. Postingan ini mendapat tanggapan yang beragam.

Yuda, mengungkapkan bahwa fenomena tersebut pernah muncul di Jogja saat gempa beberapa tahun silam. “Pernah terjadi gempa di jogja saat org melihat cahaya langit hijau. mugo pekalongan tetep tenang #OjonggeLelucon,” tulisnya.

Khudzil Al Khudz mengungkapkan ketakjubannya, “Mantap aurora ono ng indonesia” tulisnya dalam komentar.

Hal yang sama diungkapkan oleh Nyoman Novi Yanii,  “Seperti Aurora 😍😍 Pengen liat,” tuturnya dalam komentar.

Fenomena diduga aurura ini tidak hanya terlihat di langit Pekalongan, warganet asal Pemalang, Lina Lestari mengungkapkan bahwa aurora terlihat di Pantai Widuri Pemalang.

“JAM 10 lebih, masih terlihat jelas, dari pantai boum panjang., Sayang hape jadul gak bisa memfoto gan…” tulis Zacky Ahmad.

Ditimpali dengan komentar Linna Lestari, “Dipantai widuri Pemalang juga td sperti itu.” Tulisnya.

Fenomena aurora pernah terjadi di Jogja pada 2013 lalu. Dilansir dari laman kaskus, akun hpradityo menulis.

Daerah JOGJA ada yang lihat SINAR HIJAU di langit ngak? Langsung aja gan, tadi kan ane lagi nonton X Factor tiba2 ada angen kenceng trus mati lampu tepatnya sekitar jam 22:34. pas mati lampu gak sengaja ane lihat genteng rumah ane yang terbuat dari kaca, jadi bisa lihat luar, tiba2 ada sinar HIJAU yang menyala terang beberapa detik, habis itu turun hujan, ane yakin deh gan itu bukan sinar petir.

buat kaskuser yang juga ada di jogja, yang mungkin juga ngelihat apa yang ane lihat, tolong share donk,, terus terang ane penasaran, dan masih deg deg an sampai sekarang.
nih listrik baru nyala gan, pas ane bisa bikin ni trit darurat buat ngilangin rasa penasaran ane. (WD)
selengkapnya
Jalan-jalanLingkunganSosial Budaya

Lomba mancing Barramundi dan peluncuran Baper digelar di PPNP Pekalongan

lomba mancing baramundi

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Komunitas Batik Angler Perjuangan (BAPER) bersama pengelola Obyek Wisata Bahari PPNP Kota Pekalongan menggelar lomba mancing Strike Barramundi sekaligus peluncuran Baper. Perhelatan tersebut dilaksanakan pada Ahad  (25/11) di  Wisata Bahari PPNP kota Pekalongan.

Ubaidillah, panitia yang dihubungi oleh Warta Desa mengungkapkan bahwa kegiatan ini diikuti oleh puluhan pecinta mancing mania dari Pekalongan dan luar kota.

“Kegiatan yang diikuti oleh pemancing atau angler se Pekalongan, komunitas mancing mania Pemalang, Batang, Semarang, Brebes, Demak, Kendal, Jepara, Indramayu, Cilacap, Jakarta, Tuban, Tegal dan Bekasi.” Ujar pria yang sering disapa Kang Obek.

Menurut Ubaidillah, kegiatan tersebut  memperebutkan hadiah utama  dua unit sepeda motor Beat dan hadiah lain, memperebutkan trophy, medali dan piagam.

“Selain pemenang lomba dengan kategori terberat ikan Barramundi, peserta yang lain tetap mempunyai kesempatan mendapatkan hadiah doorprize utama sepeda motor dan hadiah menarik lainnya.” Lanjut Obek.

Selain kegiatan mancing, acara juga dimeriahkan dengan  makan olahan ikan bersama sebagai wujud program kementerian Kelautan dan Perikanan untuk menciptakan budaya gemar makan ikan bagi warga untuk meningkatkan kualitas gizi masyarakat.

Dion, Ketua Pelaksana mengungkapkan ucapan terimakasihnya kepada seluruh panitia dan pihak yang mendukung acara tersebut. “Harapan kedepan kegiatan ini bisa berkelanjutan sebagai silaturahmi dan komunikasi dari berbagai komunitas mancing mania.” Pungkasnya. (WD)

selengkapnya
Jalan-jalanLingkunganTekno

Monitoring kehidupan satwa liar hutan Sokokembang, gunakan kamera trap

kamera trap

Pekalongan, Wartadesa. – Kehidupan satwa liar di hutan Sokokembang, Kecamatan Petungkriyono, Kabupaten Pekalongan tidak gampang dipantau secara kasat mata. Untuk monitoring keanekaragaman hayati di ‘negeri di atas awan’ tersebut Komunitas Swara Owa Pekalongan memasang kamera trap.

Meski pemasangan kamera trap di hutan Sokokembang masih bersifat ujicoba, namun beberapa aktivitas kehidupan satwa liar disana sudah terpantau.

Menurut Arief Setiawan, pria yang sehari-hari dipanggil Wawan, penggiat Swara Owa, pemasangan kamera trap ini merupakan bagian dari program pengenalan kehidupan liar dan hutan pada umumnya, dan sebagai bagian dari kampanye penyadar-tahuan untuk mengajak (warga) mengenal hutan dan melestarikan habitat asli (satwa liar) yang tersisa di Jawa Tengah.

Kamera trap merupakan alat yang dipasang untuk  gambar foto atau video dari hidupan liar, alat ini berfungsi secara otomatis dengan sensor gerak atau inframerah. Kamera trap digunakan untuk mengumpulkan foto dan video di belahan hutan Sokokembang yang susah untuk dijangkau tangan manusia.

Kamera secara otomatis akan menangkap perilaku maupun aktivitas satwa liar  yang sangat sensitif dengan kehadiran manusia. Dengan pemasangan kamera trap, populasi, mangsa, predator dan juga ancaman kehidupan liar seperti perburuan manusia akan diketahui.

Wawan menambahkan, uji coba pemasangan kamera trap ini sudah berjalan sekira dua bulan. Selama dua bulan tersebut, mereka sudah mendapatkan   foto jenis-jenis primata pemakan daun yang ada di Sokokembang. Primata ini didapati sedang mencari makan di atas tanah.

Selain foto, relawan mendapatkan video yang jarang ditemui saat pengamatan langsung. Yakni perilaku rekrekan yang sedang memakan nangka.  (WD, Foto: Swara Owa)

selengkapnya
BencanaLingkunganSosial Budaya

BKPRMI Dobana antar bantuan kemanusiaan korban banjir bandang Madina

kegiatan sosial

Simalungun, Wartadesa. – Badan Komunikasi Pemuda Remaja Mesjid Indonesia (BKPRMI) Kecamatan Dolok Batu Nanggar Kabupaten Simalungun mengantarkan bantuan kemanusiaan korban banjir bandang di Kabupaten Mandailing Natal Sumatera Utara, Ahad (18/11).

Rombongan pengurus dipimpin Sekretaris BKPRMI Kabupaten Simalungun Zulham Siregar berangkat dari sekretariat, Sabtu (17/11) dan tiba di posko relawan “Komunitas Madina Xtrim Peduli Madina” Minggu subuh (18/11)sekira 01.30 di Kecamatan Kutaimbaru Kabupaten Mandailing Natal (Madina).

Zulham Siregar kepada wartadesa.net mengatakan via whatsApp, Sebanyak seratusan paket bantuan pangan berupa beras, gula, minyak goreng, mie instan, juga pakaian layak pakai, merupakan bantuan warga Dolok Batu Nanggar yang di galang BKPRMI secara simbolis diterima Ketua Komunitas “Madina Xtrim” Aldi Nasution.

Pada kesempatan itu Aldi Nasution mewakili warga, sangat mengapresiasi dengan ucapan terima kasih banyak kepada BKPRMI khususnya warga Dobana yang sudah nemberi bantuan kemanusiaan atas peristiwa banjir bandang yang menimpa warga Madina berapa waktu lalu. (wd-bay) *

selengkapnya