close

Lingkungan

LingkunganSosial Budaya

Warga Surajaya bikin makam, protes penutupan Galian C

demo surajaya1

PEMALANG, WARTADESA. – Warga Desa Surajaya kembali menggelar demo menolak beroperasinya tambang Galian C. Warga membuat puluhan makam di lokasi sebagai bentuk protes atas matinya hati nurani pemerintah desa setempat yang tidak menutup tambang pasir tersebut, usai demo sebelumnya.

Menurut Bambang (60) aksi dilakukan karena warga menolak beroperasinya Galian C yang tidak direspon oleh pemerintah desa setempat. Selain itu, Galian C akan merusak lingkungan yang merupakan situs purbakala dan menghilangkan mata air yang menjadi sumber utama warga.

“Makam ini bagian dari simbol protes kami, kami tidak ingin alam yang sudah diciptakan untuk kelangsungan hidup orang banyak dirusak oleh segelintir orang demi keuntungan, sebab, lokasi galian merupakan sejarah dan terdapat mata air untuk digunakan juga lahan pertanian,” kata Bambang.

Dengan melantunkan Sholawat, tasbih, tahmid dan tahlil, warga membuat makam. Bahkan beberapa dari mereka menangis melihat tebing yang merupakan sumber mata air warga dikeduk untuk Galian C.

Diberitakan sebelumnya, aktivitas tambang Galian C di Desa Surajaya, Pemalang ditutup paksa oleh ratusan warga desa setempat. Padahal tambang pasir ini belum lama beroperasi. Mereka menutup tambang lantaran dianggap merusak lingkungan blok Makam Purbaya dan mengurangi debit air.

Video demo warga diunggah oleh akun Krungu Krungu dan Ngapaks dalam posting di media sosial Facebook, Senin (23/11). Terlihat ratusan warga, laki-laki dan perempuan mendatangi lokasi galian pasir tersebut.

Warga berdiri mengelilingi kubangan bekas galian. Sementara di bagian bawah, atau persis di kubangan itu, warga lain menancapkan spanduk yang tampak bertuliskan Galian Pasir Ditutup dan disambut riuh tepuk tangan.

Video yang diunggah oleh akun Ngapaks, terlihat Kepala Desa Surajaya, Wasno mengatakan bahwa pihak desa belum menerima uang sewa Galian C tersebut, dan pihaknya belum menerima kuitansi maupun uang pengadaan galian pasir tersebut.

Wasno menambahkan, bahwa pihaknya akan meneruskan tuntutan warga kepada pihak-pihak terkait. “Penutupan itu tidak bisa dilakukan sepihak karena harus melewati kajian-kajian dari dinas terkait yang membidangi,”

Menurut Wasno, galian pasir tersebut baru seminggu beroperasi tapi warga menolak. Awalnya dilakukan audiensi, tapi setelah itu warga mendatangi lokasi dan menutup galian.

Dalam audiensi, warga membawa surat perjajian kerjasama antara pihak desa dan pengusaha tambang Galian C. Mereka mengaku mengetahui ada alokasi anggaran kepada lembaga desa dari hasil galian tersebut. (Eva Abdullah/Bono)

 

Terkait
Warga Surajaya tutup paksa tambang Galian C

Pemalang, WartaDesa. - Aktivitas tambang Galian C di Desa Surajaya, Pemalang ditutup paksa oleh ratusan warga desa setempat. Padahal tambang Read more

Didatangi puluhan warga, sosialisasi galian C Desa Wisnu dibatalkan

Pemalang, Wartadesa. - Duh .... Gara-gara didatangi 50 orang warga Desa Wisnu, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, sosialisasi kegiatan galian C Read more

Warga Semingkir Pemalang demo tolak tambang Galian C di Istana Negara

Jakarta, Wartadesa. - Warga Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang, hari ini menggelar aksi demo menolah tambang Galian C di Read more

Petani Semingkir dan Sumurkidang keluhkan galian C

Pemalang, Wartadesa. - Petani di Desa Sumurkidang dan Desa Semingkir, Kecamatan Randudongkal, Kabupaten Pemalang mengeluhkan hadirnya galian C dengan menggunakan Read more

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Warga Surajaya tutup paksa tambang Galian C

demo surajaya

Pemalang, WartaDesa. – Aktivitas tambang Galian C di Desa Surajaya, Pemalang ditutup paksa oleh ratusan warga desa setempat. Padahal tambang pasir ini belum lama beroperasi. Mereka menutup tambang lantaran dianggap merusak lingkungan blok Makam Purbaya dan mengurangi debit air.

Video demo warga diunggah oleh akun Krungu Krungu dan Ngapaks dalam posting di media sosial Facebook, Senin (23/11). Terlihat ratusan warga, laki-laki dan perempuan mendatangi lokasi galian pasir tersebut.

Warga berdiri mengelilingi kubangan bekas galian. Sementara di bagian bawah, atau persis di kubangan itu, warga lain menancapkan spanduk yang tampak bertuliskan Galian Pasir Ditutup dan disambut riuh tepuk tangan.

Video yang diunggah oleh akun Ngapaks, terlihat Kepala Desa Surajaya, Wasno mengatakan bahwa pihak desa belum menerima uang sewa Galian C tersebut, dan pihaknya belum menerima kuitansi maupun uang pengadaan galian pasir tersebut.

Wasno menambahkan, bahwa pihaknya akan meneruskan tuntutan warga kepada pihak-pihak terkait. “Penutupan itu tidak bisa dilakukan sepihak karena harus melewati kajian-kajian dari dinas terkait yang membidangi,”

Menurut Wasno, galian pasir tersebut baru seminggu beroperasi tapi warga menolak. Awalnya dilakukan audiensi, tapi setelah itu warga mendatangi lokasi dan menutup galian.

Dalam audiensi, warga membawa surat perjajian kerjasama antara pihak desa dan pengusaha tambang Galian C. Mereka mengaku mengetahui ada alokasi anggaran kepada lembaga desa dari hasil galian tersebut. (Eva Abdullah/Bono)

Terkait
Warga Surajaya bikin makam, protes penutupan Galian C

PEMALANG, WARTADESA. - Warga Desa Surajaya kembali menggelar demo menolak beroperasinya tambang Galian C. Warga membuat puluhan makam di lokasi Read more

Rumah dilalap api, Risto alami kerugian hingga Rp 15 juta

Pemalang, WartaDesa. - Diduga akibat korsleting arus pendek, rumah milik pasangan Risto-Rofiah, warga Dusun Simadu RT 01/08, Desa Banyumudal, Moga, Read more

Mayat laki-laki ditemukan di pesisir Pantai Blendung

Pemalang, WartaDesa. - Sosok mayat berjenis kelamin laki-laki ditemukan tergeletak di pesisir Pantai Blendung, Rt.04 Rw. 06, Kecamatan Ulujami, Pemalang. Read more

Lomba cerita tingkat SD se Kabupaten Pemalang digelar

Pemalang, WartaDesa. - Puluhan siswa SD/MI perwakilan dari empat belas kecamatan se Kabupaten Pemalang hari ini Rabu, (18/11/2020) unjuk kemampuan dalam Read more

selengkapnya
BencanaLingkunganSosial Budaya

Warga Kandang bergotong-royong bikin trucuk

trucuk

Pemalang, WartaDesa. – Banyak cara dilakukan warga secara swadaya untuk menanggulangi bahaya banjir, saat musim penghujan. Seperti dilakukan oleh puluhan warga Desa Kandang, Kecamatan Comal, Pemalang. Mereka bergotong-royong membangun trucuk (senderan) di bantaran Kali Comal untuk mencegah luapan air sungai meluap ke permukiman.

Para lelaki bahu-membahu memasang trucuk dari bambu di sepanjang kali Desa Kandang, sementara kaum perempuan menyiapkan makanan dan minuman untuk rasum para pekerja.

Mutahdin, Kepala Desa Kandang mengatakan bahwa kerja bakti yang dilakukan warganya merupakan antisipasi mencegah luapan air Kali Comal yang saat hujan besar airnya meluap ke permukiman warga.  Ia mengatakan bahwa pihaknya menaruh perhatian kepada warga yang tinggal di dekat bantaran Kali Comal.

“Kami menaruh perhatian khusus kepada warga yang tinggal di bantaran Kali Comal, dengan  guyup dan saling bahu membahu untuk mencegah meluapnya debet air Kali Comal pada musim penghujan. Karena tanggul yang sekaligus juga digunakan sebagai ruas jalan, saat ini kondisinya amblas akibat musim hujan pada tahun lalu dan berpotensi jebol apabila musim penghujan kembali datang.” Ujar Mutahdin.

Muhtadin berharap pemerintah daerah secepatnya menangani masalah amblasnya tanggul Kali Comal tersebut. “Pasalnya tanggul tersebut berfungsi sebagai penahan debet air ketika sungai Comal meluap,” pungkasnya. (Bono)

Terkait
Korsleting, dua rumah di Adinuso hangus terbakar

BATANG, WARTADESA. - Dua rumah di Desa Adinuso, Reban, Batang hangus terbakar akibat dugaan arus pendek listrik (korsleting). Api membakar Read more

Aksi Kemanusiaan Jajaran Kodim 0207/SML Bantu Warga Korban Longsor di Bayu Muslimin

SIMALUNGUN (WARTA DESA). - TRAGEDI tanah longsor akibat curah hujan tinggi melanda Dusun I dan II Desa Negeri Bayu Muslimin Read more

Terjebak datangnya air bah di Kali Sengkarang, pemancing dievakuasi

KARANGANYAR, WARTADESA. - Petugas SAR Gabungan Kabupaten Pekalongan berhasil mengevakuasi seorang pemancing yang terjebak di tengah Kali Sengkarang saat air Read more

Razia di Banyuputih dan Limpung, ratusan botol miras diamankan

LIMPUNG, WARTADESA. - Jajaran Polsek Limpung, Batang menggelar razia minuman keras dalam Kegiatan Kepolisian yang Ditingkatkan (KKYD) di wilayah Banyuputih Read more

selengkapnya
BencanaLingkungan

Warga diminta cepat membaca perubahan alam saat musim hujan

longsor pemalang

Pemalang, WartaDesa. – Warga yang tinggal di daerah rawan bencana, diminta untuk cepat membaca perubahan alam, saat musim penghujan saat ini. Dimana kecepatan membaca perubahan tersebut berfungsi untuk meningkatkan kewaspadaan warga sekitar dalam penanganan bencana alam yang kerap mucul saat curah hujan tinggi. Demikian disampaikan oleh Kabid Pencegahan dan Kesiapsiagaan, BPBD Kabupaten Pemalang, Bambang Ali Nuryanto.

“Antisipasi yang dilakukan masyarakat terhadap bencana tanah longsor, harus segera membaca perubahan alam. Ketika hujan besar, terus terjadi pergerakan tanah, kemudian segera keluar, dan mengingatkan kepada semua masyarakat,”  ujar Bambang, Sabtu (31/10).

Bambang juga meminta warga rawan bencana untuk ramah lingkungan, dengan cara tidak melakukan penebangan pohon semena-mena dan tidak membendung sungai, jembatan, atau gorong-gorong hingga menyebabkan banjir.

BPBD setempat telah memetakan wialayah rawan bencana di Pemalang, yakni wilayah Moga, Bodeh, Watukumpul, Belik, “Kecamatan Watukumpul paling rawan longsor, karena bentuk permukaan bumi (topografi) wilayah tersebut merupakan daerah perbukitan. Ditambah, kini perbukitan tersebut mulai gundul, sehingga manakala terjadi hujan besar bisa menyebabkan longsor dan menimpa bangunan dibawahnya.” Ujarnya.

Pihak BPBD Pemalang juga telah memasang deteksi dini bencana (early warning system/EWS) di lima titik sekitar Watukumpul, yakni Desa Bodas, Cibongas, dan Telagasana.

EWS akan mengeluarkan sirine  saat terjadi gerakan tanah, alat tersebut secara otomatis. Ujar Bambang. Ia menambahkan, di daerah rawan bencana telah terbentuk relawan yang telah dibekali dengan pelatihan dan pembentukan desa tangguh bencana.   (Bono)

Terkait
KBM Tatap Muka Kabupaten Pemalang mulai Januari 2021

PEMALANG, WARTADESA. - Angin segar bagi siswa-siswi di Kabupaten Pemalang yang sudah merindukan kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka,  Dinas Read more

Warga Surajaya tutup paksa tambang Galian C

Pemalang, WartaDesa. - Aktivitas tambang Galian C di Desa Surajaya, Pemalang ditutup paksa oleh ratusan warga desa setempat. Padahal tambang Read more

Rumah dilalap api, Risto alami kerugian hingga Rp 15 juta

Pemalang, WartaDesa. - Diduga akibat korsleting arus pendek, rumah milik pasangan Risto-Rofiah, warga Dusun Simadu RT 01/08, Desa Banyumudal, Moga, Read more

Mayat laki-laki ditemukan di pesisir Pantai Blendung

Pemalang, WartaDesa. - Sosok mayat berjenis kelamin laki-laki ditemukan tergeletak di pesisir Pantai Blendung, Rt.04 Rw. 06, Kecamatan Ulujami, Pemalang. Read more

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Duh! Tiga alat pendeteksi dini bencana di Pekalongan rusak

ews rusak_tribun

Kajen, WartaDesa. – Tiga dari tujuh alat deteksi peringatan dini bencana atau Early Warning System (EWS) yang dipasang di wilayah rawan bencana Kabupaten Pekalongan rusak. Pada Januari 2020 lalu, BPBD setempat menyebut satu EWS  rusak sebelum dipasang. Padahal biaya pengadaan satu paket alat EWS tanah bergerak/longsor cukup mahal yakni senilai Rp118,35 juta

“Dari tujuh yang terpasang di titik-titik rawan longsor, ada tiga alat EWS rusak. tiga alat tersebut berada di Kecamatan Kandangserang,” kata Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan budi Raharjo, Kamis (29/10) dilansir dari Tribun.

Kerusakan EWS menurut Budi disebabkan karena faktor alam. “Semua alat EWS bantuan dari provinsi dan satu buah alat tersebut harganya sangat mahal sekali,” ujarnya.

Diketahui bahwa EWS dipasang di Desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Desa Kaliombo dan Desa Werdi di Kecamatan Paninggaran, serta Desa Bojongkoneng, Desa Luragung, dan Desa Wangkelang di Kecamatan Kandangserang.

Sebelumnya WartaDesa menulis alat (alarm) peringatan dini bencana  (Early Warning System –EWS) yang merupakan alat untuk mendeteksi dini ancaman tanah bergerak di Wangkelang, Kandangserang, Kabupaten Pekalongan rusak. Demikian disampaikan oleh Kepala BPBD Kabupaten Pekalongan Budi Raharjo, Kamis (09/01) kemarin.

Budi Raharjo mengatakan bahwa Kota Santri memiliki enam EWS di beberapa wilayah, namun saat pengecekan didapati satu EWS yang rusak. “Ada enam EWS,yang masing-masing terpasang di Desa Curugmuncar, Kecamatan Petungkriyono, Desa Kaliombo dan Desa Werdi di Kecamatan Paninggaran, serta Desa Bojongkoneng, Desa Luragung, dan Desa Wangkelang di Kecamatan Kandangserang,” ujarnya.

Budi menyebut alat berharga mahal tersebut rusak karena faktor alam. “Enam EWS merupakan bantuan dari provinsi dan satu buah EWS harganya mahal. Jadi, EWS yang rusak masih berada di lokasi. BPBD belum menganggarkan mengenai pengadaan EWS,” ungkapnya.

Dilansir dari Gatra, harga satu unit EWS mencapai ratusan juta rupiah. “Biaya pengadaan satu paket alat EWS tanah bergerak/longsor cukup mahal yakni senilai Rp118,35 juta,” tutur Kepala Seksi Kesiapsiagaan BPBD Jawa Tengah, Wahjoedi Fajar.

EWS tidaklah selalu mahal

Seorang rugu Fisika SMK Negeri 2 Bawang, Banjarnegara, Wasis Sucipto mengembangkan teknologi alat peringatan dini longsor (EWS) yang canggih dengan biaya murah. Alat buatannya mampu mendeteksi bencana longsor dan mengirimkan sinyal ke sirine. Sinyal dari gelombang FM ini dapat dikirimkan secara massal kepada seluruh penduduk yang berada di wilayah longsor.

Melalui sebuah antena yang terpasang, gelombang tersebut mengirimkan sinyal ke semua lokasi searah daya pancar antena. Sirine pun berbunyi keras sebagai peringatan bahaya longsor. “Dari pemancar FM itu nanti diterima pesawat radio FM,” ucapnya, Kamis, 6 Desember 2018, dikutip dari liputan enam.

Sinyal peringatan dini gerakan tanah ini pun langsung dapat dipantau melalui ponsel atau radio yang memiliki fasilitas FM. Jika terlalu repot harus selalu mengakses radio, warga pun bisa memasang alat peringatan dini longsor yang juga dilengkapi sirine. Perangkat ini bisa dipasang di lokasi strategis agar seluruh warga yang terancam bisa mendengarnya dengan jelas.

Sirine itu akan berbunyi saat terjadi pergerakan tanah yang membuat alat itu otomatis bekerja. Masyarakat yang menangkap sinyal bahaya dari sirine itu dengan demikian bisa cepat untuk menyelamatkan diri.

Wasis mengklaim, perangkat alat peringatan dini longsor ini mudah ditemukan di toko-toko elektronik dengan harga terjangkau. Perawatannya juga mudah. Tak perlu teknisi khusus untuk memperbaiki alat ini jika sewaktu-waktu mengalami kerusakan. Bahkan, tukang servis radio pun pasti bisa memperbaiki alat ini. (Bono, Eva Abdullah, dengan tambahan sumber tercantum)

Terkait
Masuk musim penghujan, ini pemetaan wilayah rawan longsor dan banjir di Pekalongan

Kajen, WartaDesa. - Masuknya musim penghujan di Kota Santri membuat Pemerintah Kabupaten Pekalongan menghimbau warga untuk waspada terhadap bencana longsor Read more

Longsor Kandangserang, ratusan warga terisolir

Kandangserang, Wartadesa. -  Ratusan warga Desa Klasem Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan kini hidup dalam kondisi khawatir saat hujan deras, pasalnya Read more

Penyelenggaraan transportasi darat harus perhatikan amdal

Wiradesa, Wartadesa. - Pemerintah Kabupaten Pekalongan, hari ini, Selasa (29/11) mensosialisasikan dua perda Tahun 2016 di Aula Kecamatan Wiradesa. Perda Read more

Razia di Banyuputih dan Limpung, ratusan botol miras diamankan

LIMPUNG, WARTADESA. - Jajaran Polsek Limpung, Batang menggelar razia minuman keras dalam Kegiatan Kepolisian yang Ditingkatkan (KKYD) di wilayah Banyuputih Read more

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Masuk musim penghujan, ini pemetaan wilayah rawan longsor dan banjir di Pekalongan

longsor

Kajen, WartaDesa. – Masuknya musim penghujan di Kota Santri membuat Pemerintah Kabupaten Pekalongan menghimbau warga untuk waspada terhadap bencana longsor dan banjir. Pemkab memetakan sejumlah wilayah kecamatan yang rawan longsor, antara lain Kecamatan Kandangserang, Paninggaran, Lebakbarang, dan Doro, sedangkan daerah rawan banjir, seperti Kecamatan Kajen, Wiradesa, dan Wonokerto, dan Bojong.

Untuk mengantisipasi rawan bencana tersebut, Pemkab bersama TNI tengah menyiapkan sarana, prasarana, dan personel untuk mengantisipasi kemungkinan terjadinya bencana alam. Hal tersebut diungkapkan oleh Pelaksana Tugas Bupati Pekalongan Arini Harimurti, Kamis (29/10).

“Kami meminta seluruh masyarakat berhati-hati dan siaga apabila hujan deras mengguyur di wilayahnya,” tutur Arini.

Arini menyebut wilayah yang rawan longsor meliputi Kecamatan Kandangserang, Paninggaran, Lebakbarang dan Doro. Sedang wilayah rawan banjir meliputi Kajen, Wiradesa, Wonokerto dan Bojong.

Sementara itu,  Komandan Kodim 0710/Pekalongan Letkol CZI Hamonangan Lumban Toruan  mengungkapkan bahwa sejumlah personel Polri, PMI, dan mahasiswa sudah disiapkan dalam penanggulangan bencana.

“Kita akan melibatkan unsur Polri, Palang Merah Indonesia (PMI) dan mahasiswa dalam kesiapsiagaan bencana atau penanggulangan bencana alam,” tuturnya. (Bono)

Terkait
Puting Beliung Landa Dua Dusun, 17 Rumah Warga di Simalungun Porak Poranda

UJUNG PADANG (WARTA DESA). - CUACA ekstrim berakibat bencana. Tujuh belas (17) rumah warga porak poranda di hantam puting beliung Read more

Warga diminta cepat membaca perubahan alam saat musim hujan

Pemalang, WartaDesa. - Warga yang tinggal di daerah rawan bencana, diminta untuk cepat membaca perubahan alam, saat musim penghujan saat Read more

Alih fungsi lahan jadi penyebab longsor di Pranten Batang

Batang, Wartadesa. - Alih fungsi lahan di Desa Pranten Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang disinyalir menjadi penyebab longsor dan banjir bandang Read more

Tebing longsor di Songgodadi, akses jalan sempat lumpuh

Petungkriyono, Wartadesa. - Akses jalan penghubung antara Kecamatan Lebakbarang-Petungkriyono sempat terputus akibat tebing setinggi 25 meter, selebar 10 meter di Read more

selengkapnya
Lingkungan

Tim Penggerak PKK Tersono raih juara pertama lomba ecobrick

ekobrick

Batang, WartaDesa. – Tim Penggerak PKK Kecamatan Tersono, Batang, Jawa Tengah meraih juara pertama dalam ajang lomba pemanfaatan sampah plastik di Kantor PKK Kabupaten Batang, Selasa (20/10). Disusul TP PKK Kecamatan Gringsing sebagai runner-up.

Lomba yang dihelat oleh Tim Penggerak PKK Kabupaten Batang ini bertujuan memanfaatkan limbah plastik memiliki nilai ekonomis dan seni.

“Selain itu ada nilai seni yang terkandung dalam pembuatan kreasi ecobrick dalam perlombaan,”  ujar Uni Kuslantasih, istri Bupati Batang.

Menurut Uni, kegiatan tersebut turut mengeduasi warga dalam pemanfaatan ecobrick. “Edukasi ke masyarakat terkait kepedulian terhadap lingkungan sangat penting, perlombaan ini juga sebagai langkah untuk menuju hal tersebut,” lanjutnya.

Sebelumnya, PKK Kabupaten Batang telah memanfaatkan enam ton limbah plastik menjadi taman ecobrick yang berada di lingkungan Kantor Setda setempat.

Jumlah ecobrick sendiri dihitung mencapai lebih dari 26.000 botol. Ribuan ecobrick dibuat untuk kursi, meja, pagar taman, gapura taman bahkan sebuah bangunan rumah green house. (Eva Abdullah)

Terkait
Limbah plastik dan kaos kaki diubah jadi ecobrick

Pemalang, Wartadesa. - Tim II Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggelar pelatihan pengolahan limbah plastik dan limbah Read more

Cemburu! Istri dianiaya hingga meninggal, suami gunakan alibi kecelakaan

BATANG, WARTADESA. -  Sepandai-pandainya menyimpan bangkai, bau busuk akan tercium juga. Seperti pepatah, ulah DK alias Congli (25) warga Desa Read more

Zona Orange, Pemkab Batang belum putuskan pembelajaran tatap muka

Batang, WartaDesa. - Bupati Batang, Wihaji, belum berani memutuskan pembelajaran tatap muka (KBM) lantaran wilayahnya masih masuk zona orange (oranye) Read more

Bayi usia seminggu ditemukan mengambang di sungai Kitiran

Batang, WartaDesa. - Warga sekitar Desa Kambangan, Blado, Batang digegerkan dengan penemuan jasad bayi berjenis kelamin laki-laki yang mengambang di Read more

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Warga Genting Gunung Prau tolak pemanfaatan mata air yang tidak kantongi PKS

pipa air

Kendal, WartaDesa.Warga Desa Genting Gunung, di lereng Gunung Prau, Sukorejo, Kendal menolak pemanfaatan mata air di wilayah Gunung Prau yang tidak memiliki Perjanjian Kerja Sama (PKS). Hal tersebut untuk menjaga keseimbangan ekosistem, flora dan fauna di Gunung Prau demi tersedianya air bersih di masa depan. Demikian rilis yang dikirimkan melalui narahubung, Andi Gunawan, Jum’at (16/10).

Dalam rilisnya, Andi yang juga Ketua Garda Prau,  mengungkapkan bahwa warga Genting Gunung telah menandatangani berita acara penolakan pemanfaatan mata air sesuai dengan rapat mediasi antara  Pemerintah Desa Genting Gunung dan Pemerintah Desa Pathak Banteng yang dilaksanakan pada hari Selasa, 6 Oktober 2020 di BFP (Bejen Forest Park) terkait pemanfaatan mata air di wilayah Desa Genting Gunung.

Dalam berita acara tersebut disepakati dan warga Genting Gunung akan melaksanakan tindakan,

1) Menertibkan pemakaian air di Wilayah Gunung Prahu yang tidak memiliki PKS (Perjanjian Kerja Sama);
2) Melakukan survey / kajian pemakaian mata air di hulu sungai Terong.
2. Berdasarkan hasil survey / kajian mata air yang akan diambil oleh Pemerintah Desa Pathak Banteng yang dilakukan oleh segenap warga Genting Gunung.

Pihak Perhutani, dan CDK 4 serta CDK 9, pihak Desa Genting Gunung memutuskan hal – hal sebagai berikut :
1) Menolak pemanfaatan sumber mata air yang berada di wilayah Desa Genting Gunung untuk dimanfaatkan oleh Desa Pathak Banteng mengingat sumber mata air tersebut mengarah / mengalir ke aliran sungai terong yang pada saat ini sudah dimanfaatkan oleh beberapa desa yang berada di aliran sungai kali terong tersebut.

Selanjutnya, 2) Berkomitmen untuk menjaga keseimbangan ekosistem baik flora maupun fauna di Gunung Perahu demi tersedianya air untuk warga lerang prahu di masa depan.
3) Berkomitmen untuk memulihkan hutan lindung di gunung prahu, khususnya di DAS Sungai Terong.
4) Berkomitmen untuk mengajak desa pemakai air di Gunung Prahu untuk menjaga keutuhan Hutan Lindung demi tersedianya air di masa depan.

Andi mengatakan, warga dan beberapa elemen naik ke mata air untuk mencabut pipa yang mengarah ke Igirmranak yang tidak ada PKS-nya, dan sebagian lagi menuju titik pengambilan air patak banteng.

Elemen warga naik ke mata air Gunung Prau, Jum’at (09/10). Foto Andi Gunawan

“Warga Bringinsari naik dari Balong. Warga Ngargosari, Purwosari, CDK 4, CDK Temanggung, Polhut, mantri sama mandor tanam, Fordas Bodri, manggung mangu, naik dari Kenjuran.  Sampai puncak kita ketemu di Pos 4 jalur kenjuran dengan warga Patak Banteng dan Genting Gunung,” ujar Andi melalui pesan WhatsApp, Jum’at (09/10).

Saat tiba di Pos 4 jalur pendakian Kenjuran, cuaca berkabut dan diputuskan untuk menunggu kabut menipis, karena medan jurang dan tebing dalam. “Di sana kami berembug langkah selanjutnya. Kami bagi tugas, sebagian warga Genting Gunung mencabut pipa yang mengarah ke Igirmranak yang tidak ada PKS nya, dan sebagian lagi kami menuju titik pengambilan air Patak Banteng,” lanjut Andi.

Andi menambahkan, dalam perjalanan menuju titik pengambilan air, di HT (handy talky) sudah banyak suara-suara yang menyebutkan bahwa pipa-pipa Patak Banteng dirusak dan dipotong, “padahal kami belum tahu lokasinya dan belum sampai.

Saat itu, lanjut Andi,  Kades Genting Gunung, Kades dan Bhabinkamtibmas Purwosari menuju Patak Banteng dengan kendaraan dan belum bisa menyusul ke puncak karena cuaca hujan angin.

“Sampai di TKP kami sudah mendapati beberapa warga Patak Banteng sudah di lokasi sebelum kami sampai. Dan anehnya, pipa yang ada di seberang warga Patak Banteng itupun sudah terpotong-potong,  padahal posisinya berlawanan denga arah kedatangan kami.” Pungkasnya. (Redaksi)

Terkait
Tiga remaja pendaki Gunung Prau dievakuasi, satu dalam kondisi lemas

BATANG, WARTADESA. - Tim relawan Bagana (Banser Tanggap Bencana) berhasil mengevakuasi tiga remaja asal Kecamtan Tersono, Batang yang berniat mendaki Read more

Aksi Kemanusiaan Jajaran Kodim 0207/SML Bantu Warga Korban Longsor di Bayu Muslimin

SIMALUNGUN (WARTA DESA). - TRAGEDI tanah longsor akibat curah hujan tinggi melanda Dusun I dan II Desa Negeri Bayu Muslimin Read more

Terjebak datangnya air bah di Kali Sengkarang, pemancing dievakuasi

KARANGANYAR, WARTADESA. - Petugas SAR Gabungan Kabupaten Pekalongan berhasil mengevakuasi seorang pemancing yang terjebak di tengah Kali Sengkarang saat air Read more

Razia di Banyuputih dan Limpung, ratusan botol miras diamankan

LIMPUNG, WARTADESA. - Jajaran Polsek Limpung, Batang menggelar razia minuman keras dalam Kegiatan Kepolisian yang Ditingkatkan (KKYD) di wilayah Banyuputih Read more

selengkapnya
BencanaLayanan PublikLingkungan

Satu tahun beroperasi dengan alat berat, Galian C di Limpung tak berijin

galian c

Batang, WartaDesa. – Beroperasinya Galian C di Desa Babatan dan Plumbon, Limpung, Batang satu tahun terakhir dengan penambangan alat berat, membuat lahan seluas tiga hektar di bantaran sungai dan persawahan produktif rusak. Parahnya, penambang tidak mengantongi ijin galian.

Hal tersebut terungkap saat operasi mendadak (sidak) dilakukan oleh Komisi D DPRD Kabupaten Batang, Kamis (10/09) kemarin.

“Galian C di antara wilayah Desa Babatan dan Plumbon ini sudah sangat parah merusak lingkungan. Jika diteruskan, maka bisa membahayakan lingkungan sekitar,” ungkap Ketua Komisi D, Fathurrohman.

Fathurrohman menyebut bahwa dua alat berat digunakan untuk melakukan penambangan batu kali, dengan galian mencapai kedalaman beberapa meter. Hingga menyebabkan lubang cukup dalam tidak jauh dari jembatan penghubung dua desa tersebut.

Jika penambangan terus dilakukan, masih menurut Rohman, saat musim hujan dan debit air naik, akan terjadi dampak yang tidak diinginkan, seperti longsor dan banjir.

“Kita tadi sudah minta pada pihak Dinas Lingkungan Hidup yang juga ikut ke lokasi untuk secepatnya berkoordinasi dengan pihak terkait agar mengambil langkah tegas dalam menyikapi penambangan ilegal tersebut,” tegas Fathurrohman.

Keterangan dari perangkat Desa Plumbon, Eryanto menyebut bahwa tambang Galian C awalnya menggunakan alat manual, penggunaan alat berat dilakukan satu tahun terakhir. “Penggunaan alat berat mulai dilakukan sejak satu tahun yang lalu. Sedangkan untuk kawasan yang ditambang sendiri berada di wilayah Desa Plumbon dan Babatan,” tuturnya.

Sementara, Ibnu Djoko P dari DLH Pemkab Batang  menyebut akan berkoordinasi dengan dinas terkait untuk mengambil langkah selanjutnya. (Eva Abdullah)

Terkait
Didatangi puluhan warga, sosialisasi galian C Desa Wisnu dibatalkan

Pemalang, Wartadesa. - Duh .... Gara-gara didatangi 50 orang warga Desa Wisnu, Kecamatan Watukumpul, Kabupaten Pemalang, sosialisasi kegiatan galian C Read more

Galian C di Donowangun dan Kalirejo salahi aturan

Talun, Wartadesa. - Galian C di Desa Donowangun dan Desa Kalirejo, Kecamatan Talun Kabupaten Pekalongan dinilai menyalahi aturan. Hasil pengecekan Read more

Zona Orange, Pemkab Batang belum putuskan pembelajaran tatap muka

Batang, WartaDesa. - Bupati Batang, Wihaji, belum berani memutuskan pembelajaran tatap muka (KBM) lantaran wilayahnya masih masuk zona orange (oranye) Read more

Bayi usia seminggu ditemukan mengambang di sungai Kitiran

Batang, WartaDesa. - Warga sekitar Desa Kambangan, Blado, Batang digegerkan dengan penemuan jasad bayi berjenis kelamin laki-laki yang mengambang di Read more

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikLingkungan

Warga Pulosari mulai kesulitan air bersih

gambuhan

Pemalang, Wartadesa. – Warga desa-desa di lereng Gunung Slamet Kabupaten Pemalang, khususnya Kecamatan Pulosari mulai kesulitan mendapatkan air bersih memasuki musim kemarau. Hal tersebut berulang setiap musim, lantaran kondisi demografi wilayah tersebut.

Seperti terjadi di Dusun Gajah Oling, Desa Gambuhan, Kecamatan Pulosari, Pemalang. Warga mengalami kesulitan mendapatkan air bersih. Hal tersebut membuat TNI/Polri bersama BPBD setempat membantu penyaluran 5000 liter air bersih.

“Harapannya, bantuan air bersih bisa bermanfaat dan dapat digunakan dengan sebaik-baiknya,”kata Kapolres Pemalang AKBP Ronny Tri Prasetyo Nugroho.

Sementara itu warga yang menerima bantuan air bersih ini mematuhi protokol kesehatan. Mereka mengenakan masker kain dan menjaga jarak. Terdapat kurang lebih 200 warga yang mengantri saat pembagian air bersih. (Eva Abdullah)

Terkait
Ditinggal, rumah warga Gambuhan Pulosari dilalap api

Pemalang, Wartadesa. - Sijago merah melalap habis rumah milik Saudara Dedi Heryanto warga Dk Pelem Rt 04 Rw 02 Desa Read more

Gelaran Pulosari Development Festival meriah

Pemalang, Wartadesa. - Pagelaran Pulosari Development Festival (PDF) yang dihelat di halaman kantor Kecamatan Pulosari, Sabtu-Ahad (08-09/02) berlangsung meriah. Acara Read more

Habis santap hidangan hajatan, ratusan orang keracunan

Pemalang, Wartadesa. - 112 orang harus menjalani rawat jalan, dan 11 orang harus menjalani perawatan di dua rumah sakit akibat Read more

Kebakaran di Penakir Pulosari, kerugian capai 330 juta

Pulosari, Wartadesa. - Kebakaran di Desa Penakir, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang yang meluluhlantakkan rumah milik Zainal dan Tohirin warga RT Read more

selengkapnya