close

Lingkungan

Hukum & KriminalKesehatanLingkungan

Kasus pencemaran limbah di Pegaden Tengah kembali dilaporkan

lurah pegaden

Wonopringgo, Wartadesa. – Kasus pencemaran anak kali Sengkarang di Desa Pegaden Tengah, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan kembali mencuat. Setelah sebelumnya, Rabu (17/06) siang, warga setempat mendapati limbah cair dibuang ke sungai tanpa melalui proses.

Dalam video yang dikirimkan warga Pegaden Tengah kepada Wartadesa, terlihat bahwa limbah cair yang belum diolah, disalurkan melalui peralon dan dibuang ke sungai.

Warga kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Kepala Desa Pegaden Tengah, A. Rofiq. Mereka meminta agar pelaku ditindak sesuai dengan kesepakatan antara warga dengan pengusaha cucian jins sebelumnya, untuk tidak membuang limbah cair ke sungai sebelum diolah di IPAL.

A. Rofiq yang kami konfirmasi pada Ahad (21/06) membenarkan kejadian tersebut. Bahkan ia menunjukkan video dimaksud. “Benar, warga melaporkan kejadian tersebut pada Rabu (17/06). Kemudian kami tindak-lanjuti bersama Bhabinkamtibmas, BPD dan perwakilan warga mendatangi dua pengusaha yang diduga membuang limbah cair cucian jins tanpa diolah tersebut,” ujarnya.

Saat saya bersama BPD, Bhabin, dan perwakilan warga ke rumah Pak Karim, lanjut Rofiq, disana didapati limbah cair sudah diproses di IPAL, “Kalau di rumah Pak Karim, air yang keluar terlihat sudah putih, dan tidak berbau. Adanya air di anakan kali Sengkarang yang hitam, mungkin dari pengusaha yang membuang diatasnya,” lanjutnya.

Rofiq dan tim kemudian mendatangi pengusaha Tikno, untuk mengecek IPAL disana. Benar saja, kapasitas yang berlebih, membuat limbah cair melimpas dari IPAL dan dibuang saja ke sungai. “Ternyata air melimpas dari IPAL tersebut, otomatis limbah cair tersebut mengalir ke sungai,” jelas Rofiq.

“Kaji Tikno saat itu sedang menjalani operasi, jadi yang menerima anaknya. Nah anaknya ini berjanji dalam satu pekan ini akan menghentikan aktivitas cucian jins, sambil memperbaiki kapasitas IPAL,” lanjut Rofiq.

Temuan tersebut kemudian dilaporkan ke Dinas Perkim dan Satpol PP Kabupaten Pekalongan, “Hari kamisnya, pihak desa melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Perkim dan Satpol PP Kabupaten Pekalongan. Mereka berjanji akan segera menindak tegas,” pungkas Rofiq.

Sementara itu, salah seorang warga Pegaden Tengah mengungkapkan bahwa, seharusnya ada tindakan tegas dari Pemerintah Desa Pegaden Tengah, untuk menutup usaha pencucian jins yang terbukti menyalahi perjanjian sebelumnya.

Ia berharap agar pihak terkati dan pemerintah desa tegas menindak pengusaha nakal yang membuang limbah cair tanpa diolah. Pasalnya hal tersebut sudah dilakukan berulang, dengan alasan IPAL bocor dan melimpas. Pungkasnya. (Tim Liputan: Buono/Eva Abdullah)

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Bakal ada wisata pantai termegah di Kota Pekalongan

wisata laut

Pekalongan, Wartadesa. – Bakal hadirnya obyek wisata baru di Kota Pekalongan, yakni, wisata laut terbesar di Indonesia dalam waktu dekat ini, ditanggapi warga. Menurut warga Pemerintah Kota Pekalongan sebaiknya menyelesaikan terlebih dulu masalah banjir rob yang merendam wilayah pantai utara Kota Batik selama puluhan tahun tersebut.

Imam Nurhuda, salah seorang aktivis lingkungan yang tinggal di Kota Pekalongan mengatakan bahwa penyelesaian rob di Kota Pekalongan lebih urgen, “lebih urgen menyelesaikan rob ketimbang membangun obyek wisata,” tuturnya Kamis (11/06) dihubungi Warta Desa.

Menurut pria yang akrab disapa Kang Hoed, ia mengatakan bahwa pembangunan tempat wisata harus memperhatikan aspek lingkungan dan kelestariannya.

“Pembangunan tempat wisata harus memperhatikan aspek lingkungan dan kelestarian, pembangunan yang hanya berorientasi ekonomi sangat berbahaya apalagi wilayah pesisir utara Pekalongan adalah satu masalah utama kota yaitu banjir dan rob. Atau bisa dikatakan Kota Pekalongan yang rentan terhadap bencana” lanjut Imam.
Imam Nurhuda berpandangan bahwa seharusnya pihak Pemkot melakukan kajian yang matang dengan melibatkan warga. “Harus dilakukan kajian dan perencanaan yang matang dan melibatkan semua unsur, termasuk keterlibatan masyarakat dan komunitas.” Lanjutnya.
Imam menambahkan bahwa pendekatan yang dilakukan oleh Pemkot, tidak sekedar sosialisasi, melainkan seluruh pihak terkait membahas bersama, “perlu dikumpulkan para stakeholder untuk membahas dari berbagai aspek pendekatan. Tidak hanya sekedar sosialisasi.”
Imam juga mengingatkan bahwa daerah pesisir utara rawan bencana.  “Daerah pesisir Pekalongan rawan bencana, hati-hati apabila akan membangun proyek wisata.” Pungkasnya.
Diketahui, hari ini Pemkot Pekalongan menerima serah terima maket pembangunan wisata laut terbesar di Indonesia dari Tim Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (Kemen-PUPR) RI.

Serahterima maket tersebut dilakukan oleh Kepala Satuan Kerja Pengembangan Kawasan Pemukiman Provinsi Jawa Tengah, Dwiatma Singgih Raharja, ST kepada Walikota Pekalongan, Saelany Machfudz, dalam rapat koordinasi pembangunan wisata laut terbesar di Kawasan Pesisir Kota Pekalongan.

Walikota Pekalongan, Saelany Machfudz,  mengatakan bahwa pembangunan tempat wisata laut terbesar dibiayai oleh Kemen PUPR  dan sudah mulai dikerjakan pada akhir Maret 2020 kemarin dengan anggaran sepenuhnya bersumber dari APBN.

Pembangunan tahap pertama akan dipusatkan di Pantai Pasir Kencana dan tahap kedua akan diprioritaskan di Pantai Slamaran dan tahap ketiga di Pantai Sari, serta tahap terakhir Wisata Mangrove.

“Tahun ini sudah mulai pengerjaan dan Detail Engineering Design (DED) sudah selesai dipaparkan oleh tim dari Balai Prasarana Permukiman Wilayah Jawa Tengah (BPPW) Provinsi Jawa Tengah Direktorat Jenderal Cipta Karya
Kemen-PUPR,” papar Saelany.

Menurut Saelany, dengan terwujudnya taman wisata laut ini dapat meningkatkan perekonomian menuju kesejahteraan masyarakat, khususnya masyarakat di Kecamatan Pekalongan Utara. (Eva Abdullah)

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Lima desa di Pemalang terendam rob

rob pemalang

Pemalang, Wartadesa. – Dampak banjir rob di pesisir utara Kabupaten Pemalang dirasakan warga. Sedikitnya lima desa di Kota Ikhas terdampak, akibat air pasang tersebut. Lima desa terdampak meliputi Desa Ketapang, Blendung, Tasikrejo, Kertosari, dan Limbangan.

Ketinggian air di masing-masing desa yang terkena rob mengganggu akses warga, utamanya saat warga beraktivitas di permukiman atau rumah mereka.

Selain lima desa tersebut, rob juga merendam permukiman warga di Desa Kaliprau, kondisi ketinggian air saat ini setinggi 25 centimeter di Dusun IV RT 06 RW 06.

Camat Ulujami, Yanuar Nitbani mengatakan bahwa banjir rob dimulai dari pukul 14.00 WIB hingga pukul 15.00 WIB, kemudian malam hari sampai pagi banjir rob surut.

Yanuar menambahkan bahwa banjir rob di wilayah Ulujami sudah memasuki hari kelima, menurutnya seharusnya sudah selesai, namun akibat cuaca ekstrim kali ini, banjir rob masih dialami warga. “Mestinya sudah selesai, tapi tahun ini lebih lama dan ekstrim,” ujar Yanuar, Jumat (5/6).

Hingga saat ini, belum ada warga di lima desa tersebut yang mengungsi akibat banjir rob.

Sementara itu, BMKG mengingatkan bahwa bulan ini akan terjadi ombak besar dan berpontensi terhadap tinggi nya rob pada pertengahan bulan ini. (Eva Abdullah)

selengkapnya
BencanaLayanan PublikLingkungan

Banjir rob di Wonokerto capai 1,5 meter

simonet

Wonokerto, Wartadesa. – Banjir rob di Dukuh Simonet, Desa Semut, Kecamatan Wonokerto mencapai 1,5 meter. Akibatnya, 14 warga dukuh tersebut terpaksa diungsikan ke TPSR yang lokasinya lebih tinggi. Rabu (03/06).

“Untuk sementara yang dapat saya evakuasi 14 jiwa. Ini mereka yang minat untuk mengungsi. Namun jika nanti situasi robnya tidak surut warga lainnya akan kita paksa untuk ngungsi. Kita terus melakukan pantauan,” kata Sugiono, Kades Semut, Kamis (04/06).

Sebelumnya banjir rob hanya berkisar 30-40 centimeter, namun air laut pasang membuat ketinggian air pedukuhan Simonet semakin tinggi.  “Jika sebelumnya rob masih wajar sekitar 30 cm hingga 40 cm. Mulai kemarin dan hari ini kok ndak surut tapi malah tambah karena mungkin didorong angin yang kencang air pasang lautnya,” lanjut Sugiono.

Untuk memenuhi kebutuhan logistik pengungsi, Sugiono menambahkan bahwa saat ini kebutuhan ditanggung oleh pihak desa, sembari menunggu bantuan dari pihak lain.

Tingginya rob di Simonet diakibatkan oleh tanggul raksasa melintang, yang menyebabkan air laut yang meluap tidak bisa mengalir ke sisi selatan tanggul.

Sugiono meminta agar pemerintah membangun tanggul penahan gelombang di Simonet yang saat ini dihuni oleh 56 rumah dengan 250 kepala keluarga.

Menurutnya dulu tanggul penahan gelombang tingginya dua meter, namun saat ini tinggal satu meter ketinggiannya, hal demikian menyebabkan air dari laut langsung menyerbu Simonet. “Breakwater itu dulu tingginya sekitar dua meter, namun sekarang ambles hingga tingginya kurang dari 1 meter. Konstruksi batu untuk pemecah gelombang ini juga banyak yang bolong sehingga tidak berfungsi optimal saat air laut pasang,” lanjutnya.

Selasa (02/06) sebelumnya, Pemkab Pekalongan menawarkan relokasi warga yang tinggal di Simonet. “Kami menawarkan solusi relokasi bagi warga dukuh semonet untuk mendekati pemukiman warga lain. Tapi mata pencahariannya tetap di sini,” ucap Bupati Pekalongan saat mengunjungi pedukuhan tersebut.

Menurut Bupati Asip, untuk mewujudkannya kita butuh proses waktu yang cukup lama, namun minimal hari ini pihaknya sudah memulai untuk menyampaikan program-programnya melalui sosialisasi oleh kades setempat.

“Pemkab punya altenatif untuk pemukiman yang aman tanpa masyarakat meninggalkan basis mata pencahariannya yaitu nelayan”tandasnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Jaga ketahanan pangan saat pandemi Korona, Kades wuled ajak manfaatkan pekarangan

berkebun

Tirto, Wartadesa. –  Sawan (wabah/pagebluk) Korona saat ini membawa kondisi sulit bagi siapapun. Sehingga warga perlu meningkatkan cadangan pangan, karena wabah pagebluk tersebut tidak bisa diprediksi kapan berakhir. Hal demikian membuat Kepala Desa Wuled, Kecamatan Tirto, Pekalongan mengajak seluruh warganya untuk memanfaatkan area yang ada untuk ditanami dengan sayur dan tanaman pangan lainnya untuk menjaga cadangan pangan warga.

“Kondisi seperti sekarang sulit diprediksi sehingga kita perlu meningkatkan cadangan pangan, karena wabah pageblug atau sawan tidak bisa di prediksi kapan akan berakhir. Sedangkan pengangguran semakin banyak, anjuran pemerintah utuk tetap di rumah demi kebaikan kita harus kita turuti… Kami berharap warga desa untuk stop sambat dan gluntang-gluntung (mengeluh dan berdiam diri dirumah saja). Yok, kita manfaatkan pekarangan, samping, belakang rumah utk kita tanami sayuran,” tuturnya, Selasa (21/04).

Menurut Wasduki, membangun ketahanan pangan dalam rangka menghadapi musim paceklik sudah selayaknya dilakukan oleh berbagai kalangan, termasuk jajaran pemerintah desa dan warganya. “Ojo mung sambat karo gluntang gluntung, bergerak sedulurku, tanam apa yang bisa kita tanam,” lanjutnya.

Ajakan untuk memanfaatkan lahan yang ada yang dilakukannya tersebut, saat ini sudah dimulai dari dirinya dan para perangkat desa, “kami mengajak seluruh warga untuk memanfaatkan lahan yang ada, minimal menanam sayuran yang cepat panen, sehingga bisa membantu ketersediaan gizi warga menghadapi virus Korona,” ujar Wasduki menambahkan.

Pantauan di lapangan, area samping dan belakang rumah milik Kepala Desa dan Perangkat Desa Wuled, serta lahan milik pemerintah desa yang menganggur sudah dibersihkan dan mulai ditanami berbagai sayuran dan tanaman kebun obat atau apotik hidup. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Lingkungan

Alih fungsi lahan jadi penyebab longsor di Pranten Batang

longsor pranten

Batang, Wartadesa. – Alih fungsi lahan di Desa Pranten Kecamatan Bawang, Kabupaten Batang disinyalir menjadi penyebab longsor dan banjir bandang yang menutup akses jalan warga setempat, Jum’at (17/04) kemarin.

Diketahui, hujan deras yang mengguyur wilayah Kecamatan Bawang, kemarin mengakibatkan banjir lumpur yang membanjiri beberapa jalan di Dukuh Sigemplong Desa Pranten Kecamatan Bawang Kabupaten Batang.

Selain banjir disertai material lumpur, longsor terjadi hingga menyebagbkan akses menuju Pranten–Bawang tidak dapat di lewati pengguna jalan, walaupun tidak menimbulkan korban jiwa namun terdapat kerugian pada petani, dengan luas area yang terkena bencana alam seluas tiga hektar tanaman bawang putih.

“Alih fungsi lahan hutan salah satu faktor terjadinya tanah longsor, untuk meminimalisir bencana longsor maka mulai sekarang perbanyak tanaman keras yang bisa menyimpan air serta cocok ditanam di daerah tebing,” ujar Wihaji saat meninjau lokasi dan memimpin kerja bakti membersihkan material longsor, Sabtu (18/04).

“Saya apresiasi dan berterima kasih atas dedikasi dan jiwa relawan TNI Polri dan ormas melakukan pembersihan material longsoran, sehingga jalan bisa dilalui kembali,” lanjut Wihaji.

Wihaji juga berharap dengan kejadian tanah longsor bisa menjadi pelajaran bagi kita, agar menjaga kelestarian hutan dan ekosistem alam. Sehingga bisa meminimlaisir dan mencegah bencana longsor.

Sementara itu, Kepala Pelaksanan BPBD Kabupaten Batang, Ulul Azmi mengungkapkan, bencana longsor dan banjir bandang terjadi, Jumat (17/4) pukul 08.00 WIB, menyebabkan tebing setinggi 50 meter dan lebar 25 meter longsor membawa material menutupi Jalan Dukuh Pranten Desa Pranten Kecamatan Bawang.

“Walaupun bencana longsor dan banjir bandang yang menimpa Desa Praten tidak ada korban jiwa namun, ada kerugian petani diprediksi Mencapai Rp455 juta,” jelas Ulul Azmi.

Kapolsek Bawang Polres Batang AKP Muharom mengatakan bahwa Desa Pranten merupakan wilayah paling rawan bencana. “Desa Pranten daerah paling rawan bencana tanah longsor, karena masuk rawan bencana Polsek dan Koramil Bawang berupaya semaksimal mungkin mempersiapkan gencarkan sosialisasi masyarakat agar tanggap dan tangguh bencana,”kata AKP Muharom. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Lingkungan

Kedungkebo akan dijadikan TPA Sampah, ini syarat yang diminta warga

kedungkebo

Karangdadap, Wartadesa. –  Berlebihnya kapasitas Tempat Pembuangan Akhir (TPA)  Sampah di Bojonglarang membuat Pemerintah Kabupaten Pekalongan mencari alternatif lokasi TPA Sampah. Sebelumnya alternatif TPA Sampah diusulkan di Desa Kaligawe, Karangdadap, namun ditolak warga. Kini Desa Kedungkebo menjadi salah satu alternatif lokasi TPA Sampah tersebut. Namun warga dan pemerintah desa setempat mempunyai syarat yang harus dipenuhi.

Pemkab Pekalongan bersama DPRD melalui Komisi III merencanakan akan mengalikan TPA Sampah ke Kedungkebo, Kecamatan Karangdadap. Terkait hal tersebut Komisi III meninjau langsung lokasi yang akan dijadikan TPA Sampah di desa setempat.

“Letaknya sangat memenuhi, laporan dari Kades Kedungkebo pun bahwa masyarakat tidak keberatan jika diwilayahnya dijadikan TPA, tetapi ada beberapa persyaratan yang diajukan oleh masyarakat. InsyaAllah nanti akan dipenuhi oleh Pemerintah Daerah lewat dinas terkait,” ujar Catur Ardiansah, Wakil Ketua Komisi III DPRD Kabupaten Pekalongan, Selasa (14/04).

Sementara itu Camat Karangdadap, Abdul Qoyyum  menyampaikan beberapa persyaratan yang diajukan oleh warga Kedungkebo. Ada empat hal yakni, pertama masyarakat meminta agar ada beberapa warganya diajak ke Malang untuk study banding terkait dengan pengelolaan sampah secara modern dan ramah lingkungan, kedua, agar dump truk yang membawa sampah   menggunakan bak tertutup sehingga tidak ada sampah yang jatuh dijalanan.

Ketiga warga  meminta dalam pengelolaan sampah tersebut melibatkan tenaga dari warga sekitar sehingga memberikan dampak ekonomi juga di sekitar. Keempat agar juga terkoneksi dengan KBK yang merupakan dibawah pengelolaan BUMDes untuk wisata edukasi dan wisata kuliner. (Eva Abdullah)

selengkapnya
EducationEkonomiLingkungan

Kedutaan Ceko dan Ostrava Zoo dukung kegiatan ekonomi di habitan Owa Jawa

ostrava

Petungkriyono, Wartadesa. – Konservasi Owa Jawa melalui kegiatan ekonomi berkelanjutan di daerah Hutan Petungkriyono, Pekalongan didukungoleh Kedutan Republik Ceko dan Ostrava Zoo. Ostrava Zoo merupakan kebun binatang terbesar di Czechia.

Swaraowa sebelumnya telah menginisiasi pemberdayaan ekonomi melalui kopi untuk konservasi berkelanjutan Owa Jawa di Hutan Petungkriyono. Konservasi yang dilakukan Swaraowa dengan melibatkan warga setempat ini dimulai sejak 2012 lalu.

Penelitian yang dilakukan oleh Swaraowa, mencatat  populasi terbesar untuk Owa di Jawa Tengah terdapat di Hutan Petungkriyono, Pekalongan. Prioritas upaya pelestarian dengan peningkatan ekonomi warga sekitar hutan habitat Owa jawa terus di kembangkan hingga saat ini.

Pengembangan pengolahan komoditas hutan, peningkatan kapasitas kelompok-kelompok masyarakat sekitar hutan dan pemasaran menjadi kegiatan utama untuk mendorong keberlanjutan pelestarian Owa Jawa dan habitat aslinya. Sejak tahun 2012 dengan bantuan Ostrava Zoo dan beberapa donor lain sudah memberikan hasil nyata dengan munculnya usaha kopi untuk konservasi Kopi Owa di tingkat lokal hingga pasar internasional.

Tahun 2019 Owa Jawa bekerjasama dengan Ostrava Zoo menggelar charity run (lari dengan tujuan untuk menggalang dana konservasi Owa Jawa). Dari laman swaraowa disebutkan bahwa tujuan dari penggalangan dana tersebut untuk mendukung tim lapangan dengan kendaraan operasional yang dapat digunakan untuk kampanye edukasi konservasi dan pemasaran produk-produk komuditas kopi Petungkriyono. Gelaran acara tersebut berhasil mengumpulkan dana CZK 200.000. (atau senilai Rp 13.069.274.000).

Dana yang terkumpulkan kemudian diserahkan ke tim swaraowa untuk pembelian kendaraan operasional, mendukung kegiatan ekonomi di habitat Owa Jawa, dan mendukung edukasi konservasil. Penyerahan dana secara simbolis dilakukan perwakilan dari Ostrava Zoo yang di wakili oleh Frantisek Pibirsky dan Jacub Cerny Deputi Duta Besar Republik Ceko untuk Indonesia. (Sumber: swaraowa)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikLingkungan

Pemuda Desa Tegalontar Swadaya adakan Penyemprotan Desinfektan

tegallontar

Sragi, Wartadesa. – Senin (23/03) Sekelompok pemuda Desa Tegalontar Kecamatan Sragi Kabupaten Pekalongan mengadakan giat penyemprotan disinfektan di tempat ibadah desa setempat secara swadaya kegiatan berlangsung mulai pukul 19.30 sampai 03.00 dini hari.

Kordinator kegiatan, Gigih mengatakan kegiatan tersebut muncul dari ide beberapa pemuda. “Kegiatan ini muncul dari kawan – kawan pemuda untuk turut serta berberan mencegah munculnya korona dilingkungan kami dan menyikapi berita Hoax yang beredar dimedsos , adapun biaya kami kontengan ( swadaya ) sasaran kami adalah tempat ibadah,” sebut Gigih

Dia berharap masyarakat didesanya jangan panik dan mengikuti apa yang telah dianjurkan oleh pemerintah terkait penyebaran virus Korona (Covid-19).

Kades Tegalontar Mohammad Rizal mengapresuasi apa yang telah dilakukan oleh pemuda didesanya tersebut. “Saya sangat mengapresiasi semangat para pemuda yang telah melaksanakan kegiatan penyemprotan desinfektan tersebut mudah – mudahan akan bermanfaat khususnya untuk masyarakat Tegalontar.” Kata Rizal. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Lingkungan

Akan dibangun taman, sampah di Bojongbata dibersihkan

sampah bojongbata

Pemalang, Wartadesa. – Sampah yang menumpuk, lama, di tepi jalanan Bojongbata, Kabupaten Pemalang dibersihkan kemarin, Jum’at (13/03). Rencananya tempat tersebut akan dibuat taman dengan anggaran dari APBD tahun 2020. Sebelumnya tepi jalanan tersebut  ditumbuhi tanaman pisang dan rumput liar, tapi karena ada satu orang yang  membuang tebangan pohon dan sampah-sampah, akhirnya banyak orang jadi ikut-ikutan.

Warga Perumahan Bojongbata yang berada di RW 17 dan RW 12, bersama pihak Kelurahan, dibantu tenaga DLH Pemalang,  bergotong royong mengatasi timbunan sampah yang sudah sejak lama mengonggok ditempat itu, oleh DLH, timbunan sampah tersebut, rencananya akan segera dituntaskan hari ini juga.

Lurah Bojongbata, Ahmad Saifudin, saat ditemui dilokasi mengatakan, gotong royong membersihkan sampah yang dilakukan warganya dilingkungan RT. 05 RW. 17. merupakan respon bersama agar lingkungan perumahan Bojongbata tidak terlihat kumuh. Kepada seluruh warganya, Lurah Saifuddin berharap, mereka dapat memantau kebersihan dilokasi tersebut, karena menurut Saifuddin, sampah yang dibuang ditempat itu, bukanlah sampah rumah tangga.

“Maka demi menjaga kebersihan dan kesehatan lingkungan, saya minta kesadaran seluruh masyarakat supaya dapat menerapkan ketertiban dalam membuang sampah,” ujar Saifuddin.

Sementara itu, Ketua RW. 17 Kelurahan Bojongbata, Rasiman mengharapkan masyarakat yang membuang, rancah -rancah atau ranting -ranting pohon dan lainnya di lingkungan Perumnas Bojongbata dengan menggunakan armada, supaya bisa langsung masuk ke TPA Pesalakan. Karena menurut Rasiman, lokasi yang digunakan untuk tempat pembuangan sampah tersebut bukanlah TPS namun ditepi jalan umum.

“Jika nanti akan ditunjang dengan restorasi atau taman oleh Pemda, kita akan berkoordinasi dengan Aliansi Patih Sampun. untuk merawat taman tersebut bersama-sama dengan di RW 17 dan 12”, ungka rasiman.

Senada dengan Rasiman, Kepala Unit Kebersihan dan Persampahan Dinas Lingkungan Hidup Kabupaten Pemalang, Slamet Sugisto berharap, Bojongbata bersih dari sampah. Tempat tersebut, kata Sugisto, kedepan akan dijadikan taman dengan anggaran APBD tahun 2020. Terkait dengan kegiatan gotong-royong yang dilakukan oleh warga RW 17 dan 12, dalam ikut mengatasi sampah liar, pihaknya menyampaikan apresiasi dan terimakasih.  (Eva Abdullah)

selengkapnya