close

Lingkungan

Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Desa-desa di Pekalongan ini rawan air bersih

kekeringan

Kajen, Wartadesa. – Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mengungkapkan bahwa sebanyak 11 titik rawan kekurangan air pada musim kemarau tahun ini. Kesebelas titik rawan tersebut berada di Desa Kesesi, Ujungnegoro, Luraging, Pangkah, Kedungkebo, dan Pegandon.

Kepala BPBD setempat, Budi Rahardjo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan untuk mengatisipasi dan melakukan dropping (penyaluran) air bersih. “Pemetaaan daerah rawan kekeringan ini untuk memudahkan pemkab melakukan antisipasi dan penyaluran air bersih pada warga yang berada di wilayah itu,”  ujarnya, Jum’at (12/07) dikutip dari Antara Jateng.

Menurut Budi Rahardjo, pihaknya telah berkoordinasi dengan PMI dan PDAM dalam antisipasi dampak kekeringan tersebut. “Secara lisan, kami sudah berkomunikasi dengan PMI dan PDAM karena rencananya rapat baru dilakukan minggu ini. Jika nanti ada permohonan bantuan droping air agar pihak terkait siap menyalurkan air bersih,”  tambahnya.

Budi Rahardjo mengatakan bahwa bagi warga yang mengalami kesulitan air bersih dapat mengajukan permohonan bantuan dropping air ke BPBD.  “Biasanya jika ada masyarakat yang membutuhkan air, mereka langsung menghubungi pemkab. Yang jelas, kita siap menyalurkan air bersih pada warga tanpa harus melalui prosedur yang ‘njlimet’ (sulit),” pungkasnya. (Sumber: Antara)

Berita Terkait:

Lima desa di Pekalongan krisis air, 27 desa lainnya beresiko kekeringan

Dua Kelurahan kekeringan, Kota Pekalongan darurat bencana kekeringan

 

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Penegakan hukum dan kesadaran lemah, Kali Loji penuh sampah dan limbah

sampah kaliloji

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Kali Loji penuh sampah rumah tangga dan limbah industri. Berkali-kali berbagai komunitas peduli membersihkan kali, tak butuh waktu lama, kali dipenuhi dengan sampah yang menggunung. Kenapa ini terjadi?

Tahun 2018 lalu, Pemerintah Kota Pekalongan berjanji akan serius menangani Kali Loji, saat itu Walikota, Saelany Mahfudz mengungkapkan keseriusannya menangani permasalahan Kali Loji. Ia berharap seluruh warga, baik komunitas maupun lainnya mendukung pemkot memperbaiki kondisi Kali Loji yang semakin keruh, kotor dan penuh sampah.

Beragam iven (event) digelar untuk mengenalkan Kali Loji sebagai wisata air di Kota Pekalongan dengan tujuan mengubah perilaku warga, menjaga kebersihan sungai. Namun lemahnya penegakan hukum dan kesadaran warga untuk tidak mengotori kali dengan limbah dan sampah, membuat Kali Loji tak berdaya.

Imam Nurhuda, penggiat Komunitas Sapu Lidi mengungkapkan bahwa masalah utama sampah di Kali Loji adalah antara penegakan hukum dan kesadaran warga terhadap lingkungan Kali Loji. Menurut pria yang biasa disapa Kang Hoed,  ketika penegakan hukum terhadap pembuang sampah dan limbah tidak dilaksanakan maka para pengrajin batik (tukang babar–Jawa.) akan selalu membuang limbah (cair) batiknya ke sungai.

“Yang pada akhirnya berdampak kepada warga masyarakat sekitar bantaran (kali), melihat sungai yang berwarna atau hitam pekat menjadi terangsang untuk ikut membuang sampah (rumah tangga/limbah padat) ke sungai. Maka persoalan sungai yang mendominasi Kali Loji yaitu limbah padat dan limbah cair tidak akan pernah bisa diatasi.” Ujarnya, Senin (05/07/2019).

Sebagai penggiat Komunitas Sapulidi, Kang Hoed menyayangkan persoalan sampah di Kali Loji yang tak kunjung selesai. “Komunitas Sapulidi sebagai bagian dari komunitas yang konsen terhadap konservasi lingkungan dan sungai sangat menyesalkan dan menyayangkan persoalan sampah di Kali Loji/sungai Kupang, sampai detik ini pun belum bisa diatasi.” Tuturnya.

Penanganan sampah di Kali Loji, lanjut Huda, bukan tidak dilakukan secara rutin, menurutnya pekerjaan Tim Patroli Sungai Loji (TPSL) dibawah naungan Dinas Lingkungan Hidup (DLH) yang setiap hari turun untuk melakukan pembersihan, pengangkatan dan pengakutan sampah di Kali Loji pun seperti sia-sia. Karena setiap waktu sampah akan terus datang memenuhi aliran sungai–akibat lemahnya kesadaran warga untuk tidak membuang sampah dan limbah di sungai.

Kurangnya kesadaran warga maupun industri yang membuang sampah dan limbah, menambah permasalahan yang ingin ditangani. Menurut Huda, berapapun personel yang diterjunkan untuk menangani sampah dan limbah, tidak mampu mengembalikan Kali Loji seperti dahulu, yang bersih.

“Bahkan ketika dilakukan tambahan personil dari teman-teman relawan untuk membantu pekerjaan TPSL, pun tidak banyak membantu, karena hanya mengobati luka sementara waktu, tapi nanti pada hari berikutnya luka atau penyakit itu akan datang lagi dan lagi.” Ujar Huda.

Untuk mengobati penyakit Kali Loji yang masuk “stadium empat”, menurut Imam Nurhuda, dibutuhkan keseriusan dan totalitas dari Pemerintah Kota Pekalongan untuk menangani sampah Kali Loji. “Pemkot seharusnya tidak selalu membebankan (penanganan sampah dan limbah di Kali Loji) kepada salah satu dinas saja. Bila perlu walikota turut turun tangan memimpin langsung  Tim Penanganan Sampah Kali Loji,” ujarnya.

Penanganan sampah dan limbah yang ditawarkan Komunitas Sapulidi, menurut Huda, bisa dilakukan dengan beberapa cara, yaitu penanganan teknis dan pendekatan kebijakan. Selain itu diperlukan pula sebuah riset/kajian, pemetaan dan pendekataan kepada masyarakat. Juga perlu berperannya institusi keagamaan untuk ikut memberikan himbauan moral melalui ulama, kyai ataupun ustad pada moment khutbah Jum’at, pengajian, dan lain lain.

“Penanganan teknis adalah kegiatan teknis yang rutin dilakukan oleh TPSL untuk mengatasi sampah sungai langsung dilapangan. Dan bisa dibantu relawan bila kuwalahan atau kekurangan tenaga.” Ujar Huda.

Huda menambahkan,  pendekatan kebijakan adalah upaya penanganan sampah sungai dengan menggunakan instrumen hukum yang sudah ada seperti Perda, Perwal (Peraturan Walikota) dan lain lain.

Riset atau kajian, pemetaan dan pendekatan kepada warga adalah upaya yang perlu dilakukan untuk mengetahui penyebab atau akar permasalahan yang menyebabkan warga membuang sampah ke sungai. Juga pemetaan wilayah dimana saja sumber atau titik-titik sampah itu muncul atau disebabkan. Lanjut Huda.

“Pendekatan menggunakan metode RRA, PRA atau PAR ( RRA–Rapid Rural Appraisal, PRA–Participation Rural Apraisal adalah metode penelitian dengan pendekatan pemberdayaan warga-red.) memungkinkan untuk bisa memberikan gambaran baik secara kuantitatif maupun kualitatif sampah sungai kota pekalongan.” Ujar Imam Nurhuda.

Huda mengatakan bahwa rencana kajian dan pemetaan serta pendekatan ke warga ini (pendekatan diatas-red.) akan dilakukan antara Komunitas Sapulidi dan Dinas Lingkungan Hidup dalam upaya penataan lingkungan bantaran sungai Kali Loji di wilayah kelurahan Bendankergon dan Kauman. Semoga upaya yang akan dilakukan ini bisa membuahkan hasil dan bisa direplikasi atau dicontoh kelurahan-kelurahan lain dalam penataan lingkungan dan sampah di wilayah masing-masing.

Tidak kalah penting, lanjut Huda, juga perlunya dukungan dari kalangan tokoh agama islam seperti ulama, kyai dan ustad atau tokoh-tokoh dari agama lain, dalam rangka memberikan himbauan dan nasehat kepada masyarakat luas tentang pentingnya kebersihan dan menjaga lingkungan.

Komunitas Sapulidi berharap agar Kali Loji atau sungai Kupang kembali bersih, sehat dan bermanfaat bagi ekosistem sungai maupun warga Pekalongan khususnya, dan masyarakat luas pada umumnya. Pungkas Huda. (Bono)

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Petani Desa Klayeran terancam gagal panen

gagal panen

Pemalang, Wartadesa. – Ratusan petani di Desa Klayeran, Kecamatan Petarukan, Kabupaten Pemalang, terancam gagal panen, akibat sawah mereka mengalami kekeringan. Air irigrasi yang biasanya sampai ke sawah milik petani Klayeran, kini tak sampai, akibat debit airnya menyusut, dampak dari musim kemarau.

Karsadi (35), petani setempat mengaku kesulitan mengairi sawahnya yang hampir panen. Menurutnya kesulitan air yang dialami para petani sudah terjadi sealama bertahun-tahun, tiap musim tanam kedua.

“Air irigrasi tidak sampai disini kalau musim kemarau, ini sudah berlangsung bertahun-tahun, biasanya tiap musim tanam kedua,” ujarnya, Rabu kemarin.

Karsadi berharap agar pihak pemerintah membantu kesulitan warga mengairi sawah mereka agar terhindar dari puso alias gagal panen.

Menanggapi keluhan petani Desa Klayeran, Wiharnyo, kepala desa setempat mengungkapkan bahwa lebih dari 150 HA sawah warga di blok Jatiteken selalu kekurangan air, tiap tahunnya.

Menurut Wiharnyo, pihaknya sudah melakukan pengerukan saluran irigrasi, agar air bisa mengalir ke sawah warga, namun upaya tersebut sia-sia lantaran debit air bendungan Sokowati menurun drastis saat musim kemarau.

“Kami sudah berupaya dengan mengeruk saluran irigrasi, namun karena debit air bendungan Sokowati turun, air tidak sampai ke blok Jatiteken,” ujar Wiharnyo.

Wiharnyo menambahkan, pihaknya saat ini sedang berupaya membuat sumur bor dengan kedalaman 60 meter untuk digunakan mengairi sawah petani. “Kita anggarkan dengan gotong-royong (patungan) para petani,” ujarnya. (Eky Diantara)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikLingkunganSosial Budaya

Lagi, Pulosari alami krisis air bersih

droping air bersih

Pemalang, Wartadesa. – Musim kemarau, lagi-lagi,  membuat warga di Kecamatan Pulosari kembali mengalami krisis air bersih. Warga Desa Siremeng, Kecamatan Pulosari, Kabupten Pemalang turut mengalami krisis air tersebut. Warga yang mengandalkan air bersih dari sumber air Pesamoan, kini harus antri seharian di penampungan air, lantaran debit air menyusut.

Warga mengaku sudah satu bulan ini mereka kesulitan mendapatkan air bersih. Untuk keperluan mandi,  mencuci, masak dan minum, warga harus antri selama sehari untuk mendapatkan dua pikulan air. “Saya ambil dari mata air Pesamoan, tapi harus antri seharian untuk mendapatkan dua pikulan air,” ujar Murtini, warga Dukuh Siremeng Kidul. Kamis (27/06)

‎Lamanya mengantri untuk mendapatkan air bersih membuat warga terpaksa harus membeli pedagang air bersih keliling dengan harga Rp. 4 ribu per pikul air (2 jerigen).  “Kalau pas antrean banyak sedangkan persedian air di rumah habis ya harus beli. Harga satu pikul air Rp 4.000. Dalam sehari membutuhkan lima pikul,” ungkap Sodiah, warga Siremeng lainnya.

Sodiah berharap ada bantuan air bersih yang rutin didistribusikan ke desanya sehingga dia tidak perlu membeli air selama musim kemarau. “Butuh sekali bantuan air bersih karena sumber air yang ada sudah berkurang airnya, bahkan mengering,” ungkapnya.

Diberitakan Wartadesa sebelumnya, kemarau di Pemalang membuat sebagian warga Desa Pulosari kekurangan air bersih. Kondisi tersebut terjadi setiap musim kemarau datang. Untuk membantu warga yang membutuhkan air bersih, Polsek Pulosari memberikan bantuan air bersih di Dukuh Karangpoh, Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang, Sabtu (22/06).

Menurut Kapolsek Pulosari, AKP Trisno, pengiriman bantuan air tersebut merupakan bentuk kepedulian terhadap warga yang mengalami kesulitan saat kemarau datang sekaligus dalam rangka Hari Bhayangkara ke 73 yang jatuh pada tanggal 1 Juli mendatang.

“Bantuan air bersih yang diberikan terhadap masyarakat akan terus dilakukan dan tidak berbatas waktu,” tutur Trisno.

Trisno menambahkan bahwa pihaknya akan terus intens membagikan air bersih bagi wialayah yang membutuhkan.  “Kami terus intens dalam membagikan air bersih ini, ke wilayah yang betul-betul membutuhkan. Giat ini juga bentuk silaturahmi. Kami juga bisa bersentuhan langsung dengan masyarakat agar kami dapat mendengarkan langsung apa yang menjadi kebutuhan mereka. Intinya, Polri selalu ada bersama masyarakat,” Pungkasnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
BencanaLayanan PublikLingkungan

Pekalongan kembali terendam rob

rob pekalongan

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Banjir rob di Kota Pekalongan kembali merendam hampir seluruh kawasan di Kecamatan Pekalongan Utara, Selasa (14/05). Banjir rob mulai menggenangi permukiman warga sejak siang menjelang sore.

Rob cukup besar akibat air laut meluap ke permukiman warga dengan ketinggian 10 hingga 30 centimeter. Selain itu, ketinggian air juga disebabkan oleh tanggul laut di pesisir Pantai Utara Kota Pekalongan yang tidak mampu menahan terjangan gelombang laut.

Maryono (42), warga Krapyak menyebut bahwa rob di wilayahnya mencapai ketinggian lutut orang dewasa, “Ketinggian air saat ini mencapai lutut mas … terutama di Krapyak Gang 3A,” ujarnya kemarin. Meski demikian, lanjut Maryono, warga belum melakukan pengungsian meski banjir rob menggenang.

Pantauan di lapangan, banjir rob merendam permukiman di wilayah Pasirsari,  Kramatsari, Kandangpanjang, Sorogenen, Klego, Krapyak, Pabean, Panjangwetan dan Pantaisari.

Rob telah dirasakan warga hampir selama lima tahun, hal demikian membuat warga mempertanyakan keseriusan pemerintah setempat dalam penanggulangan banjir tersebut. Maryono berharap Pemkot Pekalongan lebih memprioritaskan penganganan rob demi menyelamatkan kehidupan warga di wilayah Pekalongan Utara.

“Kami berharap agar penanganan rob ini lebih serius, dilakukan secara lebih cepat untuk menyelamatkan ekonomi warga, lanjutnya.

Sebelumnya, pada akhir April 2019, banjir rob sempat menggenangi sebagian besar wilayah Kecamatan Pekalongan Utara selama lima hari. Pembangunan tanggul penahan rob yang belum selesai, dituding sebagai pemicu mengapa rob kerap merendam wilayah tersebut. (WD)

selengkapnya
Layanan PublikLingkungan

Sudah diajukan perbaikan oleh Pemdes sejak 2016, jalan Plakaran masih rusak parah

jalan rusak pemalang

Pemalang, Wartadesa. –  Kondisi jalan kabupaten yang melintas di Desa Plakaran, Kecamatan Moga, Kabupaten Pemalang sangat memprihatinkan.  Kerusakan jalan sangat parah, hampir seperti kali asat, menurut warga. Bagaimana tidak, hampir seluruh permukaan jalan tidak tampak aspal, yang terlihat hanya bebatauan atau makakam, lantaran aspalnya sudah terkelupas.

Warga sempat memposting kondisi ruas jalan tersebut pada laman media sosial twitter dan dijawab oleh Gubernur Jawa Tengah, Ganjar Pranowo, bahwa pemdes hendanya mengusulkan ke pihak pemkab. “Kadesnya usul ke Pemkab … gampang kan?” tulis Ganjar (05/05).

Jawaban Ganjar Pranowo dalam postingan warga di Twitter (05/05)

Menurut Pemdes Plakaran Kecamatan Moga, Nur Laela, kerusakan jalan paling parah dari Balai Desa Plakaran ke Dusun II dan III. “Jalan yang rusak adalah jalur dari Balai Desa Plakaran ke Dusun II dan III, terlebih jalan menurun lumayan terjal.” Ujarnya.

Selain itu, kerusakan jalan juga terjadi pada ruas yang melewati Desa Mandi Raja ke Desa Plakaran. Informasi yang didapatkan dari Pemdes Plakaran, pihak Pemerintah Desa Plakaran telah mengajukan perbaikan jalan pada 2016, namun perbaikan jalan kurang dari separuh yang direalisasikan.

“Pihak desa (pemdes) sudah mengajukan perbaikan dari tahun 2016, dari Volume 6,4 KM baru turun dan diperbaiki 2,4 KM, sisanya masih rusak parah.” Lanjutnya.

Pemerintah  dan warga Desa Plakaran sangat menyayangkan respon dari Pemkab Pemalang yang lamban memperbaiki fasilitas layanan publik tersebut. “Kalo bisa diperbaiki dengan dana desa (DD) sudah diperbaiki, tetapi aturannya Dana Desa tidak boleh untuk memperbaiki jalan kabupaten yang sudah menjadi kewenangan kabupaten.” Tambahnya.

Pemdes Plakaran berharap agar Pemkab Pemalang segera memperbaiki ruas jalan tersebut untuk meningkatkan produtivitas warga. “Diharapkan pihak Pemkab dalam hal ini DPU Kabupaten Pemalang dan dinas terkait segera memperbaiki (ruas jalan tersebut), kasihan warga kami, aktivitas dan kesehariannya terganggu karena jalan yang rusak.” Pungkasnya. (Eky Diantara)

selengkapnya
LingkunganSosial Budaya

Pertarungan sengit Monyet dan Sanca, primata tewas

monyet mati
  • Tak Benar Ditembak Pemburu

Petungkriyono, Wartadesa. – Beredarnya informasi di media sosial, adanya monyet yang mati ditembak oleh pemburu di hutan Petungkriyono, ternyata tidak benar.  Primata ekor panjang  mati terluka di atas aspal tepi jalan Sokokembang tersebut usai bertarung dengan seekor Sanca.

Identifikasi  yang dilakukan dan dilakukan oleh swaraowa pada Jum’at (26/04) menemukan monyet ekor panjang terluka di bagian dada, dan punggung. Identifikasi dilakukan pukul 18.46 WIB tersebut mengenali bahwa monyet yang mati berkelamin jantan.

Setelah penemuan mayat yang dilaporkan oleh warga teridentifikasi, Swaraowa melaporkan kejadian ke BKSDA resort Pemalang pada malam harinya, pukul 22.30 WIB.

Penelururan Swaraowa dilakukan esok harinya, lantaran kondisi malam dan pencahayaan kurang. Pukul 10.15 WIB, Sabtu (27/04), dikakukan penelitian lebih lanjut. Di lokasi kejadian ditemukan bekas lonsoran dari bagian tebing, seperti bekas dilalui oleh satwa.

Tim kemudian mewawancarai Parti (35), pedagang warung dimana ditemukan monyet ekor panjang mati. Parti sempat ditanyakan perihal adanya serangan monyet dan dijawab tidak ada serangan primata kepada manusia.

Informasi dari Muyati (60), warung di depan Tugu Petungkriyono Natural Heritage mengungkapkan bahwa ia melihat ada seekor monyet yang dimakan ular. “Sekitar pukul 13.00 WIB  ular itu membelit monyet dan kemudian kelompok monyet yang lain menyerang menggit ular tersebut, terdengar ramai sekali karena kelompok monyet yang di atas bersuara semua,” tuturnya.

Kejadian tersebut sempat direkam oleh Gianto, warga dari dusun Mesoyi yang kebetulan berada di tempat tersebut.

Hasil otopsi yang dilakukan Tim Swaraowa, Sabtu pukul 11.56 menemukan  dua lubang berjarak sekitar 4 cm yang satu besar yang satu lebih kecil ukurannya, demikian juga yang ada di bagian dada, ada dua lubang juga yang satu lebih lebar diameternya dan yang satunya lebih keci.jarak sekitar 4 cm antar lubang.

Slamet Mahlul, BKSD Jawa Tengah resort Pemalang yang tiba di Sokokembang yang datang ke Sokokembang kemudian bersama Tim Swaraowa kembali ke Tugu Petungkriyono Natural Heritage bertemu dengan Mulyati. Tim kemudian mewawancarai Eko (36) penjual bakso yang melihat kejadian pertarungan antara monyet ekor panjang dan sanca. Eko yang mendapatkan video rekaman dari salah seorang warga kemudian menunjukkan video tersebut.

Dalam video kiriman Jagawana Perhutani KPH Pekalongan Timur, terlihat seekor ular sanca (Phyton reticulatus)  membelit seekor monyet, berada di tengah jalan, dan monyet terlihat tidak berdaya kemudian di tinggal oleh ular sanca.  (WD)

Sumber: Blog Swaraowa

selengkapnya
BencanaLingkunganSosial Budaya

Wilayah Pantura Pekalongan tergenang rob

rob pekalongan

Wonokerto, Wartadesa. – Banjir rob (air laut pasang) di wilayah Pantura Kabupaten dan Kota Pekalongan kembali terjadi. Tiga hari ini rob menggenangi wilayah Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan dengan ketinggian 15-50 CM. Banjir rob juga menggenangi wilayah Krapyak, Bandengan, Pabean, Klego, Pasirsari dan Bugisan sejak seminggu terakhir.

Rob di kawasan Wonokerto merendam wilayah Kecamatan Wonokerto, Tratebang, Wonokerto Kulon, Wonokerto Wetan, Api-api, Pecakaran, Sijambe, Pesanggrahan, dan sebagian wilayah Bebel, Rowoyoso dan Semut.

Warga menyebut, rob kali ini lantaran pembangunan tanggul raksasa belum selesai. Area yang terbuka membuat air dari laut masuk ke permukiman warga.  Air rob mulai masuk ke permukiman pukul 12.00 WIB dan semakin tinggi hingga malam hari.

Warga berharap agar pembangunan tanggul raksasa yang menahan rob segera diselesaikan untuk mengatasi masalah tersebut.

Sementara itu, rob di Kota Pekalongan mencapai ketinggian antara 20-50 CM. Mujiono (55), warga Krapyak menyebut bahwa genangan air mulai Taman Jlamprang hingga ke Utara. Akibat rob tersebut puluhan rumah di wilayah Krapyak, Kota Pekalongan tergenang.

Menurut Mujiono, seminggu ini wilayah Krapyak menjadi langganan banjir rob, namun ketinggian air mencapai puncaknya pada Rabu (24/04) kemarin. (WD)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikLingkunganSosial Budaya

Warga perlu menginisiasi gerakan politik

SAM_3168
  • Diskusi Nobar Film Sexy Killers

Kajen, Wartadesa. – Dibutuhkan gerakan politik yang diinisiasi, diusung oleh warga guna memperjuangkan dan menyuarakan suara warga. Menurut Ribut Achwandi, budayawan dari Kota Pekalongan, warga perlu menginisiasi gerakan politik tersebut dengan cara mengusung tokoh warga sekitar yang dikenal untuk “nyemplung” dalam “comberan” politik.

“Setelah menonton film Sexy Killers, yang kita butuhkan sekarang atau beberapa tahun mendatang, adalah bagaimana generasi Y maupun generazi Z (milenial) menggerakkan warga untuk mengusung tokoh yang merepresentasikan warga. Mereka berkumpul untuk kemudian memilih tokoh yang akan diusung, setelah bersepakat, galang saweran … misal Rp. 10 ribu, tidak boleh lebih dari nominal tersebut. Warga yang bersepakat seluruhnya berdonasi secara sukarela. Hasilnya digunakan untuk mendaftarkan tokoh yang diusung pada salah satu partai politik, untuk merepresentasikan suara warga.”

Ribut yang juga merupakan akademisi perguruan tinggi di Pekalongan tersebut mengungkapkan dalam diskusi gelaran nonton bareng film Sexy Killers di PhomRak Cafe seberang SMA Negeri 1 Kajen, Senin (22/04) malam. Menurutnya, oligarki politik sejak berpuluh-puluh tahun, hingga saat ini, perlu menumbuhkan kesadaran warga untuk turut terjun kegelanggang politik praktis, memperjuangkan kepentingan warga akar rumput.

Ribut Achwandi memantik acara diskusi pada acara nonton bareng film Sexy Killers di Kajen, Senin (22/04) malam. Foto: Wartadesa

“Hiruk-pikuk pemilu serentak tidak mendidik warga untuk tahu visi, misi calon wakil rakyat. Bahkan hampir tidak ada caleg (calon legislatif) yang mensosialisasikan visi-misi mereka ketika mereka berkampanye. Kita hanya dijejali dengan gambar-gambar caleg di sepanjang jalan, tanpa tahu apa yang mereka perjuangkan,” lanjut Ribut.

Budayawan yang tinggal di Landungsari, Kota Pekalongan tersebut mengungkapkan bahwa gelaran pemilu legislatif terkooptasi (tertutup) oleh perdebatan panas calon presiden dan calon wakil presiden yang berimbas pada warga.

Imam, peserta diskusi asal Desa Sinangoh Prendeng, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan membenarkan bahwa film Sexy Killers yang mengungkap bisnis korporasi tambang batubara, perkebunan kelapa sawit, PLTU maupun turunannya, tidak memperhatikan konservasi alam.

Pemuda yang sempat bekerja di salah satu perusahaan tambang batubara di Kalimantan tersebut menceritakan bagaimana perusahaan batubara beroperasi sejak awal hingga mengolah fosil bumi Indonesia.

“Saya pernah bekerja di sebuah perusahaan tambang batubara di Kalimantan. Jadi, untuk mendapatkan batubara, awalnya bukit atau hutan digunduli dengan cara dibakar. Pembakaran hutan ini, tentu saja mematikan kehidupan ekosistem yang ada. Binatang dan makhluk hidup lainnya tentu terdampak, termasuk manusia.” Ujarnya.

Setelah hutan gundul, lanjut Imam, tanah yang ada dipermukaan diambil. “Seharusnya tanah yang diambil untuk mendapatkan batubara, disimpan (tanahnya), setelah tambang habis, tanah dikembalikan kembali dan volume tanah ditambah sesuai dengan jumlah batubara yang dikeruk. Namun hal tersebut tidak dilakukan, itulah yang terjadi, alam rusak lantaran tambang tersebut,” tuturnya.

Apa yang kita lihat dalam film Sexy Killers, ditingkat lokal, Pekalongan juga terjadi. “Di Pekalongan saat ini kan marak tambang galian C, apakah tambang galian C disekitar kita tersebut telah memperhatikan kelestarian lingkungan? Saya tidak tahu, lanjut Imam retoris.

Sementara Dudi, mahasiswa Yogya asal Kedungwuni mengungkapkan pengalamannya bagaimana warga Kulonprogo berdaya, menolak tambang pasir besi. Menurutnya inisiasi gerakan warga perlu ditumbuhkan, “pengalaman turut mendampingi warga Kulonprogo membuat saya membangun sebuah komunitas di Jogja yang memberikan literasi bagi warga,” ungkapnya.

Dudi menilai bahwa oligarki politik saat ini tentu membutuhkan terobosan bagi generasi milenial –entah lima tahun atau berpuluh tahun mendatang– untuk terjun ke dunia politik yang baik dan benar. “Butuh dorongan kaum milenial untuk terjun ke dunia politik saat ini yang seperti comberan. Mereka harus benar-benar bertekat meluruskan politik saat ini. Walaupun anggapan umum saat ini politik itu kotor, setidaknya perlu dicoba untuk terjun dan memperjuangkan kepentingan warga.” ujarnya.

Gambarannya, ketika ada kucing yang kecemplung ke comberan yang kotor, terus ada orang yang turun ke comberan tersebut kemudian menyelamatkan kucing. Yang kotor hanya kakinya saja, namun kucingnya telah selamat. Ujar Duni menggambarkan, “ketika kaum muda berpolitik dengan tujuan yang baik dan benar. Mereka harus siap untuk dicap “kotor” dan tidak dipercaya. Tapi buktikan kiprahnya, bahwa mereka menyuarakan warga,” lanjutnya.

Dalam diskusi yang dihadiri oleh lebih dari tiga puluh peserta tersebut, terungkap bahwa politik indonesia saat ini, bahkan ditahun-tahun berikutnya akan tetap dikuasi oleh oligarki dan korporasi (baca: pemodal). Pun ditingkatan lokal.

Namun ada beragam cara untuk tetap bisa berkontribusi dan menyuarakan suara warga. Setidaknya jadi ketua RT atau RW yang baik dan benar, memperjuangkan kepentingan warga. Atau dengan menginisiasi komunitas yang berkontribusi dan membemberdayakan warga.

Menurut Najmul Ula, mahasiswa Prodi Ilmu Politik FIS Unnes asal Pekalongan yang juga menjadi moderator acara, saat rekannya, Aghnia Ananda, pemilik PhomRak Cafe mempunyai ide untuk menggelar acara nonton bareng dan diskusi film garapan Watchdog, dia tertarik. Bersama rekan-rekannya, disepakati acara digelar di lapak rekan Aghnia Ananda, di Jalan Mandurorejo Kajen.

“Acara ini diluar dugaan, antusiasme peserta dari Pekalongan begitu tinggi. Ekspektasi kita, sepuluh peserta saja sudah cukup. Yang hadir saat ini lebih dari target. Ini menunjukkan bahwa kaum muda Pekalongan tertarik dengan gerakan literasi,” ujar Najmul.

Gelaran yang dimulai dengan pemutaran film yang disutradarai oleh Dandhy Dwi Laksono pukul 19.30 WIB dilanjutkan dengan diskusi dengan pemantik Ribut Achyadi hingga pukul 00.00 WIB dinihari. (WD)

selengkapnya
Hukum & KriminalLingkungan

Warga laporkan pencamaran limbah cucian jins di Paesan Utara

limbah jins

Kajen, Wartadesa. – Pencemaran limbah cucian jins di Paesan Utara Rt. 03 Rw. 04 Kelurahan Kedungwuni Barat Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan dikeluhkan warga.

Keterangan dari Kasat Reskrim Polres Pekalongan, AKP Hery Hariyanto, warga melaporkan pencemaran limbah cucian jins pada Kamis, 28 Maret 2018.

Laporan penyalahgunaan pengelolaan limbah cucian jins tersebut ditindaklanjuti Kasat Reskrim pada Senin, 1 April 2019 dengan melakukan operasi yang dipimpin oleh AKP Hery Hariyanto.

Pukul 15.00 WIB (01/04), anggota Satreskrim mengecek kebenaran penyalahgunaan limbah cucian jins di  Paesan Utara Rt. 03 Rw. 04 Kel. Kedungwuni Barat Kecamatan Kedungwuni Kabupaten Pekalongan. Dan dilakukan pengecekan dan penindakan sesuai dengan aturan yang berlaku.

Hingga saat ini pemilik, pengelola dan saksi pekerja masih dimintai keterangan lebih lanjut di ruangan Sat Reskrim Polres Pekalongan. (WD)

selengkapnya