close

Lingkungan

Layanan PublikLingkungan

Minim kesadaran pembangunan Ipal, warga jadi korban limbah

limbah

Wonopringgo, Wartadesa. – Minimnya kesadaran pengusaha di Kota Santri akan pentingnya Instalasi Pengolahhan Air Limbah (IPAL) membuat warga di sekitar industri batik, tekstil dan pencucian jins menjadi korban limbah. Aksi demo yang dilakukan oleh warga Pegaden Tengah, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, Kamis (19/09) merupakan akumulasi dari penderitaan warga setempat yang sungainya tercemar limbah pencucian jins.

Seperti diberitakan dalam video warga yang ditayangkan di laman media sosial Warta Desa kemarin, ratusan warga Desa Pegaden Tengah melakukan aksi demo menolak pembuangan limbah pencucian jins ke sungai. Warga menuntut agar limbah tidak dibuang kesungai dengan membentangkan ketas karton bertuliskan penolakan pembungan limbah ke sungai desa setempat.

Kepala Desa Pegaden Tengah, Khaeriyah mengungkapkan bahwa aksi warga merupakan kesepakatan bersama untuk menolak pembuangan limbah pencucian jins ke sungai. Ia menambahkan bahwa pengusaha selama ini tidak mempunyai IPAL, hanya bak penampungan saja.

Padahal dalam Perda Kabupaten Pekalongan Nomor 5 Tahun 2014 Tentang Pengelolaan Air Limbah, jelas mengatur  bahwa setiap pelaku usaha dan atau kegiatan industri yang menghasilkan limbah dan membuang ari limbah, industri/usaha tersebut wajib memiliki IPAL guna mengolah air agar sesuai dengan baku mutu.

Menurut Khaeriyah, sebelum aksi demo, telah ada pertemuan antara warga dengan pengusaha untuk tidak membuang limbah ke sungai. Hingga akhirnya warga mengajak Dinas Lingkungan Hidup untuk melakukan pengecekan pada usaha pencucian jins di desa tersebut.  “Dari hasil tinjauan kemarin, semuanya tidak mempunyai IPAL, hanya bak tampung saja,” tuturnya.

Khaeriyah juga menuturkan bahwa industri jeans wash di Pegaden Tengah ini sudah berjalan puluhan tahun, dan pengusaha selalu membuat limbahnya ke sungai. Pengusaha seperti abai dengan keresahan warga dan terus menjalankan usahanya tanpa memikirkan sekitar terkait pembuangan limbah.

Menurut Khaeriyah, ada enam pengusaha pencucian jins  yang beroperasi di Desa Pegaden Tengah yang kesemuanya belum berijin.  “Sebelumnya kita sudah beri teguran agar pengusaha mengumpulkan KTP dan surat ijin usaha dan lingkungan, akan tetapi sampai saat ini pengusaha seperti menyepelekan, makanya warga sepakat untuk menutup saluran air limbah ke sungai,” jelasnya.

Kabid Pedal Dinas Perkim dan LH Kabupaten Pekalongan Pratomo  menyarankan agar pengusaha mengolah limbah sebelum dibuang kesungai dengan membuat IPAl yang benar. “Dinas Perkim LH juga punya penyedotan air limbah yang bisa digunakan sementara bagi pengusaha yang belum punya IPAL,”  ujarnya.

Sementara itu, Endah Kusumaningtias (27), salah seorang pengusaha pencucian jins  mengakui bahwa usahanya yang menghasilkan limbah memang dibuang ke sungai.  Endang mengaku belum meiliki IPAL, “Kita nanti akan ngurus surat ijinnya, sementara akan minta bantuan truk dam milik Dinas Perkim LH untuk membuang limbah ke IPAL milik pemkab,” ujarnya.

Pada Maret 2018 sebelumnya, Dinas Perkim Lingkungan Hidup Kabupaten Pekalongan membenarkan bahwa masih banyak perusahaan cucian jins  maupun batik di Kota Santri yang belum memiliki IPAL. Apabila dibiarkan, tentu akan berdampak pada kerusakan lingkungan.  Hal itu diungkapkan Kabid Pencegahan dan Pengawasan Lingkungan Dinas Perkim LH Kabupaten Pekalongan,  Yarochim.

Bila IPAL yang merupakan syarat wajib sebuah industri atau usaha yang menghasilkan limbah berdiri tidak menjadi acuan penerbitan ijin usaha industri, maka wargalah yang dirugikan. (Eva Abdullah)

selengkapnya
BencanaLingkungan

Hutan karet Rogoselo terbakar

kebakaran hutan karet

Doro, Wartadesa. – Hutan karet di Blok Sawahan, Dukuh Sawahan, Desa Rogoselo, Kecamatan Doro, Kabupaten Pekalongan terbakar, Jum’at (13/09) siang, selepas sholat Jum’at. Penyebab kebakaran hingga saat ini tidak diketahui.

Kebakaran diketahui saat mandor Produksi getah Karet di Blok A PTPN IX Sawahan kebun Blimbing Afdeling Warangan, melihat asap dari PTPN 9 Warangan Blok Sawahan tahun tanam 2010. Saat dicek, ternyata api sudah membakar daun dan ranting kering.

Sang mandor kemudian melaporkan kejadian tersebut ke Sinder, Fery Hariyanto. Bersama warga, anggota TNI/Polri, Fery langsung berusaha memadamkan api yang membakar lahan kebun karet seluas 5 hektar tersebut. Beruntung api dapat dipadamkan dua jam setelah kejadian, sekitar pukul 14.20 WIB.

Petugas bersama warga kemudian melakukan penyisiran untuk memastikan api benar-benar sudah padam di kebun karet Blok Sawahan, Dukuh Sawahan Desa Rogoselo   milik PTPN IX kebun Blimbing Afdelling Warangan.

Tidak ada kerugian baik materil maupun korban jiwa serta yang terbakar adalah dedaunan kering,ranting kering, rerumputan dan mangkok sadap getah karet. Hingga saat ini sumber api belum diketahui.

Kebakaran lahan dengan tanaman pohon jati, dialami oleh warga. Kebakaran terjadi, diduga ulah orang tidak bertanggung jawab yang membakar kebun jati milik Aban Falahi, warga Desa Kranji, Kabupaten Pekalongan.  Aban mengatakan bahwa kebakaran terjadi Jum’at siang, namun ia tidak tahu siapa pelakunya. Ia hanya geram kepada pelaku yang diduga sengaja melakukan pembakaran kebun.

Sebelumnya, Hutan Karet PTPN IX Jolotigo, Talun Kabupaten Pekalongan seluas 5 hektar terbakar, Rabu (11/09). Puluhan warga dibantu oleh petugas kepolisian Polsek Doro, bersama karyawan PTPN bahu-membahu memadamkan api yang melalap hutan karet di blok Blabar di Dukuh Kecembung, Desa Randusari Kecamatan Doro.

Pemadaman api dilakukan secara manual dengan menggunakan dahan dan ranting yang ada daun hijaunya. Beruntung, api segera dapat dipadamkan. “Yang terbakar hanya rerumputan yang kering serta semak-semak di bawah pohon karet,” ujar Aiptu Suharno.

Suharno berpesan serta menghimbau kepada warga masyarakat agar pada musim kemarau panjang ini jangan membakar sampah atau apapun tanpa adanya pengawasan, serta jangan membuang puntung rokok sembarangan sehingga dapat menimbulkan kebakaran yang dapat merugikan, baik material dan jiwa yang tidak kita kehendaki bersama. (Eva Abdullah/Suharno)

Terkait: https://www.wartadesa.net/hutan-karet-jolotigo-terbakar/

selengkapnya
BencanaLingkunganSosial Budaya

Hutan karet Jolotigo terbakar

hutan karet

Doro, Wartadesa. – Hutan Karet PTPN IX Jolotigo, Talun Kabupaten Pekalongan seluas 5 hektar terbakar, Rabu (11/09). Puluhan warga dibantu oleh petugas kepolisian Polsek Doro, bersama karyawan PTPN bahu-membahu memadamkan api yang melalap hutan karet di blok Blabar di Dukuh Kecembung, Desa Randusari Kecamatan Doro.

Pemadaman api dilakukan secara manual dengan menggunakan dahan dan ranting yang ada daun hijaunya. Beruntung, api segera dapat dipadamkan. “Yang terbakar hanya rerumputan yang kering serta semak-semak di bawah pohon karet,” ujar Aiptu Suharno.

Suharno berpesan serta menghimbau kepada warga masyarakat agar pada musim kemarau panjang ini jangan membakar sampah atau apapun tanpa adanya pengawasan, serta jangan membuang puntung rokok sembarangan sehingga dapat menimbulkan kebakaran yang dapat merugikan, baik material dan jiwa yang tidak kita kehendaki bersama. (Eva Abdullah/Suharno)

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Satu minggu terakhir warga Siberuk Paninggaran kekurangan air bersih

image834

Paninggaran, Wartadesa. – Sudah satu minggu terakhir warga Dukuh Siberuk, Desa Lambanggelun, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan kekurangan air bersih. Mereka terpaksa harus ngangsu (mengambil) dari sumber mata air di kawasan hutan pinus Perhutani yang jaraknya 1,3 kilometer dari permukiman.

”Sudah satu minggu lebih 65 KK dan 307 jiwa warga dukuh Siberuk kekurangan air bersih, hal itu dikarenakan sumu-sumur sudah banyak yang kering karena kemarau panjang. Dan untuk mencukupi kebutuhan air bersih mereka memanfaatkan sumber mata air terdekat yang jaraknya kurang lebih 1,3 kilometer di area perkebunan milik perhutani,” jelas Danramil Paninggaran, Kapten Cpm Abdul Khamim, Ahad  (08/09).

Khamim menambahkan, sebelumnya, pada hari Rabu 4 September 2019 masyarakat Dukuh Siberuk Desa Lambanggelung sudah mendapat bantuan air bersih dr BPBD Kabupaten Pekalongan sebanyak 1 truk tangki yang berisi 5000 liter karena. Namun karena kurang dan belum cukup maka masyarakat berinisiatip untuk mengambil air bersih dari mata air terdekat terdekat tersebut.

”Bantuan dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan sudah ada, yaitu dengan memberikan 5000 liter air, namun karena masih kurang, sehingga warga berupaya mencari sumber mata air terdekat untuk memenuhi kebutuhannya.” Ujar Khamim.

Saat ini Danramil bersama Forkompincam Paninggaran dan aparat Desa setempat, berupaya untuk mencari solusi dengan membuat saluran air/dengan pipa peralon dan membuat bak penampungan air, agar air bisa mengalir sampai ke pemukiman warga.

” Saat ini selain kita berkoordinasi dengan BPBD Kabupaten Pekalongan untuk pendistribusian air bersih, juga bersama Forkompincam dan aparat Desa Setempat mencari solusi guna mengalirkan air dari sumber mata air di area perhutani agar bisa menjangkau ke pemukiman warga,”pungkas Danramil. (Penerangan Kodim Pekalongan)

selengkapnya
BencanaLingkungan

Kebakaran hutan landa Bukit Sipandu

kebakaran sipandu

Batang, Wartadesa. – Bukit Sipandu Dieng, perbatasan Batang-Banjarnegara, Jawa Tengah mengalami kebakaran. Warga dibantu petugas gabungan dan relawan, langsung melakukan pemadaman.  Kamis (05/09).

Diketahui bukit Sipandu terbakar sejak kamis sekitar pukul 18.30 WIB. Bukit yang berada di 2000 mdpl (meter diatas permukaan laut) terlihat membara. Warga dengan peralatan seadanya dan sumber air terbatas bersama tim gabungan dan relawan, bahu-membahu memadamkan api. Namun kondisi musim kemarau dan tiupan angin, api terus membakar kayu dan dedaunan kering di hutan tersebut.

Kobaran api terlihat jelas dari Dukuh Sigemplong, Desa Prantern, Kecamatan Bawang, Batang. Warga bersama petugas berusaha menggeser pipa air dari bukit Sipandu yang baru satu tahun dipasang, agar tidak ikut terbakar.

“Kalau sampai pipa air dari sumber mata air Gunung Perahu itu terbakar, warga akan kesulitan mendapatkan air lagi karena itu satu-satunya sumber air yang ada di desa kami,” kata Kepala Dusun Sigemplong, Sumadi, Jumat, 6 September 2019, dikutip dari Media Indonesia.

Kepala BPBD Batang, Ulul Asmi mengungkapkan bahwa pihaknya langsung mengerahkan petugas menuju titik api. Medan lokasi kebakaran cukup berat dan banyaknya kayu, ranting dan daun kering, lanjut Ulul, membuat pemadaman hutan sulit dilokalisir.

Sementara Komandan Koramil 04 Bawang, Kapte INf Amin mengatakan hingga saat ini petugas tim gabungan masih berjibaku memadamkan api.  “Kita masih terus berjibaku memadamkan api, dikhawatirkan akan merambat ke wilayah lain apalagi tidak jauh dari lokasi ada sumber gas bumi,” ucap dia. (Sumber: Media Indonesia)

selengkapnya
Hukum & KriminalLayanan PublikLingkungan

Tak sesuai spek, pembangunan penataan kawasan Gemek dibongkar

lsm

Kedungwuni, Wartadesa. – Pembangunan Infrastruktur Ibukota Kecamatan, Penataan Kawasan (kuliner) Gemek, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan dibongkar. Pembongkaran bangunan berupa paket cor diduga karena kualitas bangunan tidak sesuai dengan spesifikasi (spek) yang telah ditentukan. Kamis (05/09) sore.

Adanya temuan dugaan pembangunan yang tidak sesuai dengan spesifikasi tersebut membuat aktifis Forum Pekalongan Bangkit (FPB), Mustofa, meminta agar seluruh bangunan dibongkar. ” Kami minta semua bangunan dibongkar!” Sebut Mustofa saat ditanya terkait dibongkarnya salah satu bangunan cor di area proyek.

Pembangunan penataan ibukota kecamatan yang memakan pagu anggaran 2.279.351.350,69 (hampir 2,3 miliar) ini mulai dikerjakan sejak 2 September 2019 lalu. Namun, saat FPB melakukan sidak (inspeksi mendadak), ditemukan kualitas bangunan yang tidak memenuhi spek.

“Ini proyek pemerintah yang nilainya milyaran rupiah, jangan sampai dibuat asal-asan, tadi kami melihan sendiri salah satu bagian cor yang dibongkar karena tidak sesuai spek, lalu apakah bagian yang lain sudah sesuai?” Imbuh Mustofa.

Adanya temuan tersebut diharapkan agar pihak-pihak terkait turun mengawasi proyek pembangunan tersebut. “Kami harap semua pihak terkait segera turun tangan untuk mengawasi dan menindak, jangan sampai ada kerugian negara dan masyarakat kedepaan nanti, dan kami sebagai warga masyarakat tidak akan segan-segan untuk turut mengawasinya.” Tegas Mustofa

Dihari yang sama, nampak pekerja didampingi LSM membongkar cor yang masih baru. lantaran meragukan kualitas bangunan. Sempat terjadi perdebatan antara warga dan salah satu pekerja yang membongkar cor.

” Mungkin yang ini saja, kalau yang lain enggak seperti ini,” kata pekera yang enggan disebut namanya tersebut. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Krisis air bersih di Kota Santri berlanjut

dropping air bersih

Kajen, Wartadesa. – Musim kemarau panjang di wilayah Kota Santri membuat krisis air bersih berkepanjangan. Bulan Juli 2019 lalu, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mengungkapkan bahwa krisis air bersih mencapai 11 titik di Kota Santri. Hingga saat ini, luasan wilayah yang mengalami krisis air bersih bertambah.

Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Pekalongan, Budi Raharjo mengatakan, sebanyak enam desa masuk dalam wilayah krisis air bersih, hingga September 2019. Ia mengatakan, enam desa tersebut meliputi Kelurahan/Kecamatan Sragi, Kecamatan Kesesi, Desa Pecakaran, Kecamatan Wonokerto, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kajen, Desa Rowocacing, Kecamatan Kedungwuni, Kecamatan Wonopringgo dan Desa Legokgunung.

Budi Raharjo mengungkapkan bahwa beberapa desa sudah mengajukan permintaan bantuan air bersih. Menurutnya permintaan bantuan air bersih makin meningkat, seperti Kelurahan Sragi, Desa Kesesi, Desa Tanjungsari, Kecamatan Kajen, Desa Rowocacing, Kecamatan Kedungwuni, Desa Legokgunung dan Kecamatan Wonopringgo.

Untuk memenuhi permintaan bantuan air bersih, tambah Budi Raharjo, pihaknya telah mengirimkan 10 tangki air di Kelurahan Sragi, 17 tangki di Desa Kesesi, 6 tangki di Desa Pecakaran dan masing-masing  2 tangki di Desa Tanjungsari Kajen dan Desa Rowocacing Kedungwuni.

“Hingga Sabtu kemarin kami sudah dropping 37 tangki di lima desa, atau sekitar 185 ribu liter air. Ini belum termasuk dropping pada hari Minggu di Dukuh Gembyang, Kelurahan Sragi, dan di Dukuh Manggal, Desa Legokgunung, Kecamatan Wonopringgo,” ujar Budi Raharjo.

Sementara itu, pihak Palang Merah Indonesia (PMI) Kabupaten Pekalongan menyarankan agar warga yang membutuhkan bantuan air bersih untuk membuat surat pengajuan resmi melalui pihak pemerintah desa. Anjuran tersebut dikemukakan saat Warta Desa memposting permohonan dropping air bersih yang dikirimkan warga Desa Kesesi, dan diunggah di laman media sosial  Warta Desa.

Diberitakan Warta Desa pada Juli 2019 sebelumnya, Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan mengungkapkan bahwa sebanyak 11 titik rawan kekurangan air pada musim kemarau tahun ini. Kesebelas titik rawan tersebut berada di Desa Kesesi, Ujungnegoro, Luraging, Pangkah, Kedungkebo, dan Pegandon.

Kepala BPBD setempat, Budi Rahardjo, mengungkapkan bahwa pihaknya telah melakukan pemetaan daerah rawan kekeringan untuk mengatisipasi dan melakukan dropping (penyaluran) air bersih. “Pemetaaan daerah rawan kekeringan ini untuk memudahkan pemkab melakukan antisipasi dan penyaluran air bersih pada warga yang berada di wilayah itu,”  ujarnya, Jum’at (12/07).

Menurut Budi Rahardjo, pihaknya telah berkoordinasi dengan PMI dan PDAM dalam antisipasi dampak kekeringan tersebut. “Secara lisan, kami sudah berkomunikasi dengan PMI dan PDAM karena rencananya rapat baru dilakukan minggu ini. Jika nanti ada permohonan bantuan droping air agar pihak terkait siap menyalurkan air bersih,”  tambahnya.

Budi Rahardjo mengatakan bahwa bagi warga yang mengalami kesulitan air bersih dapat mengajukan permohonan bantuan dropping air ke BPBD.  “Biasanya jika ada masyarakat yang membutuhkan air, mereka langsung menghubungi pemkab. Yang jelas, kita siap menyalurkan air bersih pada warga tanpa harus melalui prosedur yang ‘njlimet’ (sulit),” pungkasnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Layanan PublikLingkunganSosial Budaya

Hati-hati, buaya tampak di Kali Comal

boyo comal

Pemalang, Wartadesa. – Warga seputaran Kali Comal dibuat geger lantaran muncul penampakan buaya di sekitar bantaran Kali Comal, Selasa (03/09) sekitar pukul 10.45 WIB. Meski sebelumnya warga beberapa kali melihat penampakan buaya tersebut, namun kali ini sang buaya agak lama menampakkan dirinya di bantaran kali Gang Mawar 1, 3 dan 4 Kecamatan Comal, Kabupaten Pemalang.

Saksi mata menuturkan bahwa buaya mucul di permukaan sekitar pukul 10.45 sampai dengan pukul 11.25 WIB. Ia menambahkan bahwa warga setempat sudah beberapa kali melihat munculnya buaya sejak beberapa hari sebelumnya.

Penampakan buaya yang lumayan lama ini tentu saja meresahkan warga. Kasus tersebut kemudian dilaporkan kepada pihak muspika setempat. Pihak Muspika Kecamatan Comal langsung mengecek ke lokasi munculnya buaya. Mereka menghimbau warga untuk  berhati hati dan untuk sementara menjauhi aktifitas di dekat bantaran kali Comal.

Hadir dalam penininjauan Fauzan Camat Comal, AKP Tarhim   Kapolsek Comal   dan Lettu Cba Supardi Danramil 04/Comal,  juga  Ahmad Najib  Kasi Trantib Kecamatan Comal, untuk segera mengambil tindakan.

“Kami Segera menindak lanjuti munculnya buaya tersebut supaya segera dilaksanakan penangkapan terhadap buaya tersebut dan dikoordinasikan dengan unsur terkait” Ujar Kapolsek Comal, AKP Tarhim, Selasa (03/09).

Fauzan, Camat Comal mengatakan bahwa pihaknya akan segera melaporkan kejadian tersebut ke Dinas Observasi dan Lingkungan Hidup agar segera ditindaklanjuti dan tidak makan korban.  (Eva Abdullah/Eky Diantara)

selengkapnya
EkonomiLingkungan

Melihat dari dekat warga Mendolo memanen madu hutan

memanen madu

Lebakbarang, Wartadesa. – Tidak ada yang tahu secara detil, sejak kapan kaum lelaki di Desa Mendolo, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan memiliki kemampuan dan tradisi turun-temurun memanen madu hutan.

Menurut penuturan warga dari penelusuran Tim Swaraowa, praktik memanen madu hutan sudah dilakoni warga turun-temurun. Awalnya mereka memanen madu untuk dikonsumsi sendiri, kini bergeser menjadi tambahan penghasilan, diluar dari hasil pertanian.

Harga madu hutan yang cukup tinggi menjadikan komoditas ini mulai diburu warga. Mereka memanen madu dengan mengambil sarang madu saja dan meninggalkan bagian anakan lebah.

Namun ada pula praktik yang tidak memperhatikan keberlangsungan lebah madu, dua dekade terakhir, menurut penelurusan Swaraowa, ada beberapa warga yang memanen pulpa (anakan) lebah madu lantaran kaya protein. Dulu pupa/pulpa tak laku, kini dapat menghasilkan uang.

Satu sarang lebah madu dapat menghasilkan 20 kilogram madu. Hasil diskusi grup terfokus (focus group disscussion-FGD) warga Desa Mendolo dengan Swaraowa, diketahui bahwa  sedikitnya ada lebih dari 40 jenis tanaman sumber pakan bagi lebah hutan. Salah satu sumber pakan lebah yang cukup dominan adalah ‘kayu babi’ –sebutan warga setempat.  Jenis lainnya seperti kayu sapi, pakel (mangga), dan durian.

Warga Mendolo biasanya memanen madu pada bulan Juli dan setelahnya. Warga nyaris tiap hari masuk hutan untuk mencari keberadaan sarang lebah. Mereka membentuk tim-tim kecil. Sebuah tim pemanen madu terdiri dari dua atau lebih anggota tim. Satu orang berperan sebagai pemanjat dan pengambil sarang, sedangkan sisanya menjadi asisten. Menyiapkan peralatan, dan membantu proses panen madu.

Alat-alat yang digunakan antara lain sige, upet, pisau/parang, karung, tali, ember, dan saringan. Sige adalah bambu yang digunakan untuk melakukan pemanjatan, terdiri dari dua bagian yaitu banthol (pengait), yang akan disambung dengan lonjoran (jumlahnya bisa lebih dari satu batang tergantung ketinggian sarang yang dipanjat).

Upet adalah bahan pembuat asap. Biasanya upet dibuat dari dedaunan yang diikat, kemudian dibakar di bagian ujungnya. Hasil pembakaran dedaunan yang masih agak basah ini menghasilkan asap untuk membuat lebah lebih tenang.

Pemanjat memotong bagian kepala sarang yang berisi madu. Bagian brood yang berisi telur, larva dan pupa dibiarkan. Harapannya sarang akan kembali terisi madu dan nantinya bisa dipanen kembali. Dengan cara seperti ini, pemanenan bisa dilakukan dua atau tiga kali untuk setiap sarang.

Teknik pemanenan ini relatif aman bagi keberlanjutan koloni-koloni lebah. Hasil panen dari tiap sarang sangat bervariasi. Bila beruntung bisa lebih dari 10 botol ukuran 650ml, dan kalau tidak beruntung bisa pulang dengan tangan hampa.

Musim puncak, panen madu di Desa Mendolo pada kisaran bulan Juli hingga Oktober. Di Desa Mendolo sendiri saat ini ada delapan  orang pengepul lokal, yang menampung hasil panen madu dari para pemanen.

Selain madu, produk turunan dari lebah madu adalah lilin lebah.  Lilin diekstrak dari sisa perasan sarang madu yang dipanaskan hingga mencair, kemudian disaring menggunakan kain. Lilin cair ini setelah dingin akan mengeras membentuk balok-balok lilin. Harga jual lilin mentah ini sekitar Rp. 50 ribu.

Produk lebah lain yang potensial namun belum termanfaatkan adalah beepollen (roti lebah). Beepollen dihasilkan oleh fermentasi serbuk sari bebungaan yang disimpan di sarang lebah.

Prakti memanen madu yang dilakukan oleh warga Desa Mendolo yang memperhatikan kelestarian alam, dengan meninggalkan pupa/pulpa/anakan lebah patut diapresiasi. Tak kalah pentingnya selain madu, peran lebah sebagai serangga penyerbuk ini tidak dapat digantikan oleh manusia dengan alat apapun, pollinasi. (Diolah dari sumber Swaraowa)

selengkapnya
Layanan PublikLingkungan

Pemkab Pekalongan hentikan pendirian sumur dalam

pamsimas

Kajen, Wartadesa. – Pemerintah Kota Santri bakal menghentikan penambahan sumur dalam baru di Kabupaten Pekalongan. Sumur dalam ditengarai sebagai penyebab merosotnya muka air tanah di Pekalongan. Berdasarkan hasil penelitian Institut Teknologi Bandung (ITB) Pekalongan mengalami penurunan tanah rata-rata 10-20 centimeter pertahun.

Kasubbid Infrastruktur Bapppeda dan Litbang Kabupaten Pekalongan, Ismail, Rabu (28/08) kemarin mengungkapkan bahwa penurunan muka tanah di Pekalongan terjadi lantaran eksploitasi air tanah dengan maraknya sumur bor.

“Penyebabnya adalah eksploitasi air tanah dalam dengan banyaknya sumur bor. Kemudian jenis tanah di wilayah pesisir, yakni tanah jenis aluvial,tanah jenis ini tergolong berusia muda karena terbentuk dari proses sedimentasi sungai selama ratusan tahun, sehingga strukturnya belum kuat atau matang,” ujar Ismail.

Ismail tidak menepis bahwa di Kota Santri, sumur dalam (sumur bor) terbanyak dari PDAM Kota Pekalongan yang berada di Kabupaten Pekalongan dan sumur bor Program Pamsimas. Diketahui, program Pamsimas ini dilakukan di banyak desa/kelurahan di Kabupaten Pekalongan.

“Regenerasi air dalam ini tidak mudah, lama ngisinya lagi, maka growong. Selain tadi tanah baru dan growong, sehingga terjadi penurunan tanah.Guna menekan laju penurunan tanah pemkab akan menghentikan (moratorium) pembangunan sumur dalam baru, sehingga ke depannya jumlah sumur dalam tidak terus bertambah,” lanjut Ismail.

Ismail menyebut bahwa kewenangan penghentian pendirian sumur dalam, saat ini berada di ESDM Provinsi Jawa Tengah. Jika Kota Santri ingin menutup ijin pendirian sumur dalam baru, berarti pihaknya harus menyediakan sumur permukaan berupa waduk untuk warga pesisir.

“Saya berkali-kali soundingkan agar Kabupaten Pekalongan dibantu untuk didibangunkan waduk atau bendungan yang besar,karena ketika musim penghujan yaitu bulan november sampai april debit air disungai luar biasa dan terbuang begitu saja ke laut,sedangkan mei sampai november sangat minim,untuk irigasi saja kekurangan apalagi untuk air minum,”ungkapnya.

Namun, menurut Ismail, untuk membangun waduk, Kabupaten Pekalongan tehambat oleh kondisi keuangan.  “Namun,kondisi fiskal kita kurang memungkinkan karena mungkin butuh bertriliyun-triliyun.Kalau sumur resapan kurang begitu ngefek sebetulnya karena sumur resapan hanya beberapa meter, untuk mengisi air dalam harus meresapnya dihulu kalau ada waduk dihulu bisa meresap.ada beberapa ahli mengatakan bahwa kalau sumur resapan dipesisir kurang begitu ngefek karena tanahnya saja sudah jenuh,” tandas Ismail. (Eva Abdullah/Redaksi)

Berita terkait:

Jika tidak segera diatasi Pekalongan akan alami krisis air bawah

Pembangunan tanggul raksasa jadi solusi sementara tanggulangi rob

 

selengkapnya