close

Opini

Opini

Menjaga Tanah, Menjaga Pangan: Refleksi Hari Tanah Sedunia

IMG-20251205-WA0004

Oleh: Towijaya*

Setiap 5 Desember, dunia memperingati Hari Tanah Sedunia. Bagi sebagian orang, peringatan ini mungkin terdengar abstrak. Namun bagi negara seperti Indonesia—yang pangan, ekonomi, dan kehidupannya sangat bergantung pada tanah—momen ini bukan sekadar seremoni. Ini adalah peringatan bahwa keberadaan pangan di meja makan ditentukan oleh sesuatu yang sering kita lupakan yaitu kesehatan tanah.

Fakta bahwa 95 persen pangan dunia tumbuh dari tanah. Tanah bukan hanya media fisik, melainkan ekosistem hidup yang kompleks, dihuni miliaran mikroorganisme yang memastikan tanaman dapat tumbuh. Ketika tanah sehat, pertanian dapat berjalan berkelanjutan tanpa bergantung pada input kimia berlebih. Ketika tanah rusak, seluruh mata rantai pangan ikut runtuh.

Kini dunia menghadapi kenyataan pahit: sepertiga tanah subur telah terdegradasi. Dalam konteks Indonesia, degradasi tanah dipicu oleh erosi, penggunaan pupuk kimia yang tak terkendali, pencemaran, dan alih fungsi lahan yang terus meluas. Lahan sawah kita menyusut setiap tahun, sementara kebutuhan pangan meningkat seiring pertumbuhan penduduk.

Ironisnya, tanah—sumber kehidupan—adalah elemen paling terabaikan dalam diskusi ketahanan pangan. Pemerintah sering memprioritaskan perbaikan irigasi, distribusi pupuk, atau stabilisasi harga pangan. Semua itu penting, tetapi tanpa tanah yang sehat, upaya tersebut seperti menambal perahu bocor dengan pita perekat.

Kesehatan tanah menentukan tiga hal utama: produktivitas, ketahanan terhadap iklim ekstrem, dan keamanan pangan. Tanah yang kaya bahan organik mampu menyimpan air lebih baik dan menjadi benteng alami terhadap banjir maupun kekeringan. Tanah yang terawat juga berperan sebagai penyaring polutan sehingga pangan yang dihasilkan aman dikonsumsi.

Apa yang harus dilakukan Indonesia?

Pertama, memperkuat regenerasi tanah. Pertanian regeneratif—menggunakan pupuk organik, rotasi tanaman, agroforestri, dan tanaman penutup tanah—terbukti meningkatkan hasil panen sekaligus menurunkan biaya produksi. Ini bukan teknologi rumit, melainkan kembali ke prinsip dasar merawat tanah.

Kedua, mengurangi ketergantungan pada pupuk kimia. Pupuk memang menaikkan hasil dalam jangka pendek, tetapi penggunaan berlebihan membunuh mikroorganisme bermanfaat dan menurunkan kesuburan jangka panjang. Pemerintah daerah sampai desa perlu mendorong produksi kompos lokal dan biofertilizer.

Ketiga, memperkuat peran kampus dan riset tanah. Banyak inovasi pertanian presisi, biologi tanah, hingga pemetaan kesuburan lahir di kampus, tetapi adopsinya oleh petani masih rendah. Kolaborasi perguruan tinggi—petani—pemerintah harus diperkuat.

Keempat, memperbaiki kebijakan perlindungan tanah. Lahan pertanian produktif tidak boleh terus-menerus dikonversi. Setiap hektare sawah yang hilang membutuhkan waktu puluhan tahun untuk dipulihkan.

Hari Tanah Sedunia mengingatkan kita bahwa ketahanan pangan bukan hanya persoalan produksi, tetapi tentang keberlanjutan. Tanpa tanah sehat, Indonesia akan menghadapi tantangan pangan yang lebih besar, terutama dalam era perubahan iklim.

Menjaga tanah adalah menjaga hidup. Dan menjaga tanah dimulai dari kesadaran kolektif bahwa tanah bukan sekadar sumber daya, melainkan warisan yang harus kita lindungi !.***

 

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekanangan Pekalongan (UMPP) 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Kampus Menjadi Pusat Penguatan Gerakan Relawan pada IVY 2025: Untuk Pembangunan Ekonomi dan Sosial Internasional

IMG-20251205-WA0004

Oleh: Towijaya*

Dunia pendidikan, terutama perguruan tinggi, memiliki peran strategis dalam meningkatkan jumlah dan kualitas relawan di Indonesia pada peringatan International Volunteer Year (IVY) 2025. Dalam ekosistem kerelawanan nasional, kampus disebut sebagai salah satu pilar kunci yang mampu melahirkan generasi relawan terlatih sekaligus memperkuat ketahanan sosial masyarakat, baik nasional maupun internasional.

Selama ini, relawan banyak dikenal lewat kegiatan kemanusiaan atau tanggap bencana. Namun  kampus dapat mendorong partisipasi relawan secara lebih sistematis melalui pendidikan karakter, penelitian dan pengabdian masyarakat, serta pembangunan kapasitas mahasiswa.

Perguruan tinggi memiliki sumber daya intelektual dan organisasi yang kuat. Jika dikelola secara terintegrasi, kampus dapat menjadi pusat produksi relawan yang kompeten dan berkelanjutan dengan kualitas relawan tingkat internasional dengan pembekalan bahasa yang baik.

Kampus sebagai Inkubasi Relawan Muda

Dalam sebuah kajian, kampus memiliki tiga keunggulan utama sebagai inkubator relawan muda:

  1. Populasi usia produktif yang besar, dengan lebih dari 10 juta mahasiswa secara nasional aktif saat ini.
  2. Struktur organisasi yang teratur, mulai dari UKM, BEM, hingga Pusat Studi.
  3. Kapasitas pendidikan dan riset yang dapat dihubungkan langsung dengan isu sosial, lingkungan, hingga kemanusiaan.

Banyak perguruan tinggi telah menjalankan kuliah KKN atau community service, namun kontribusinya dinilai masih bisa diperluas. Penulis merekomendasikan agar program pengabdian masyarakat tidak hanya bersifat proyek jangka pendek, tetapi terhubung dengan kebutuhan komunitas dan keberlanjutan relawan di daerah.

Digitalisasi dan Standarisasi Pelatihan

Digitalisasi manajemen relawan kampus sangat diperlukan, seperti platform pemetaan minat, pelatihan daring, dan distribusi relawan ke sektor yang membutuhkan. Sistem ini dinilai mampu meningkatkan efisiensi sekaligus membuka peluang kolaborasi antara kampus, pemerintah daerah, dan lembaga sosial.

Di sisi lain, standarisasi pelatihan menjadi perhatian penting, Kampus harus memastikan relawan memiliki kompetensi dasar- mulai dari komunikasi publik, literasi digital, hingga penanganan bencana.

Beberapa universitas telah memulai langkah ini, seperti membuka volunteer center, memasukkan kerelawanan dalam student development, atau menjalin kemitraan dengan BNPB, PMI, dan lembaga filantropi.

Integrasi Kerelawanan ke Kebijakan Kampus

Agar relawan kampus benar-benar berdampak, kerelawanan harus menjadi bagian dari kebijakan institusi, bukan sekadar aktivitas mahasiswa. Integrasi tersebut dapat dilakukan melalui:

  • Pengakuan SKS untuk aktivitas kerelawanan
  • Kurikulum berbasis service-learning
  • Penguatan riset dan publikasi terkait pemberdayaan komunitas
  • Insentif bagi dosen pembina kegiatan sosial

Langkah ini dapat meningkatkan jumlah relawan terlatih secara signifikan dalam dua tahun ke depan.

Jawa Tengah Menyongsong IVY 2025

Dengan IVY 2025 semakin dekat, kampus dipandang memiliki peluang besar untuk menjadi pusat gerakan kerelawanan nasional. Selain menghasilkan relawan, kampus juga mampu memperluas jejaring sosial, mendorong inovasi pengabdian masyarakat, dan menguatkan modal sosial bangsa.

Jika setiap kampus mampu menyiapkan sistem kerelawanan yang terstruktur, Indonesia tidak hanya siap menghadapi IVY 2025, tetapi juga memiliki fondasi kuat untuk ketahanan sosial jangka panjang.

Dengan jumlah kisaran 700 ribu mahasiswa aktif di Jawa Tengah, kampus memiliki modal sosial yang sangat kuat untuk memperkuat pembangunan daerah. Relawan mahasiswa selama ini telah banyak terlibat dalam penanganan bencana di wilayah rawan seperti Semarang, Kudus, Klaten, Pati, Banyumas dan Pekalongan. Namun kontribusi ini dinilai masih dapat ditingkatkan melalui sistem pelatihan dan koordinasi yang lebih terstruktur.

Relawan mahasiswa sangat cepat turun ke lapangan saat banjir, tanah longsor, atau erupsi merapi. Tetapi mereka membutuhkan standar pelatihan yang seragam agar dapat bekerja lebih aman dan efektif.

Penulis merekomendasikan pembentukan Jawa Tengah Volunteer Center berbasis kampus, integrasi relawan ke dalam KKN tematik kebencanaan, serta penyusunan platform digital untuk memetakan kebutuhan relawan di tingkat kabupaten/kota.

Sejumlah kampus seperti UNDIP, UNS, Unnes, UIN Walisongo, dan banyak Universitas Muhammadiyah disebut telah memiliki unit kerelawanan aktif, namun dinilai perlu memperluas kemitraan dengan BPBD Jateng, PMI, dan organisasi kebencanaan lokal.

Jawa Tengah memiliki tantangan bencana yang tinggi, keterlibatan kampus dapat menjadi faktor penentu penguatan kesiapsiagaan masyarakat. Dari Jawa Tengah ini dapat menjadi role model untuk mewujudkan pembangunan ekonomi dan sosial internasional. Contoh nyata Pembangunan Internasional adalah SAVE PALESTINE !.***

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) 

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Kontribusi Islam pada Kemajuan Ilmu Pengetahuan dalam Pengembangan Aplikasi Mobile Pemantauan Terapi Obat Diabetes Melitus oleh Apoteker

IMG-20251205-WA0001

Oleh: Ainun Muthoharoh*

Melalui ilmu, seorang muslim dapat  meningkatkan pengetahuannya tentang Allah, membantu mengembangkan masyarakat Islam dan merealisasikan tujuan-tujuannya secara efektif, membimbing orang lain dalam melakukan pengabdian kepada Allah, dan dapat memecahkan berbagai masalah masyarakat manusia.

Dalam Islam ditegaskan bahwa orang muslim harus menuntut ilmu yang berguna dan melarang mencari ilmu yang bahayanya lebih besar dari manfaatnya. Agama Islam memberi tekanan yang sangat besar kepada masalah ilmu. Kata al-‘ilm dalam Al-Qur’an muncul sebanyak 780 kali. QS Az-Zumar: 9 yang artinya “Katakanlah: Adakah sama orang-orang yang mengetahui dengan orang-orang yang tidak mengetahui?”. Hal ini diartikan bahwa tidak sama antara orang yang berilmu dengan yang tidak berilmu.

Menurut Imam Abu Rajab al-Hambali yaitu “ilmu yang bermanfaat adalah yang dipelajari dengan seksama dari Al-Quran dan Sunnah Rasulullah, serta berusaha memahami kandungan maknanya”. Ilmu tersebut masuk (dan menetap) ke dalam relung hati, yang kemudian melahirkan rasa tenang, takut, tunduk, merendahkan dan mengakui kelemahan diri di hadapan Allah Ta’ala. Untuk itu setiap muslim wajib mempelajari ilmu untuk sebagai upaya mendukung kebutuhan dalam kehidupannya.

Salah satu bentuk kontribusi tersebut tampak dalam pengembangan aplikasi mobile untuk pemantauan terapi obat diabetes melitus oleh apoteker. Pasien diabetes membutuhkan pemantauan ketat terhadap penggunaan obat, gaya hidup, dan kontrol gula darah. Sehingga, inovasi teknologi digital sebagai upaya meningkatkan kualitas hidup pasien yang lebih baik. Prinsip-prinsip ilmiah yang berkembang pada masa peradaban Islam seperti evidence-based practice, observasi klinis, dan pencatatan medis sistematis menjadi landasan filosofis bagi pendekatan teknologi kesehatan saat ini.

Aplikasi mobile pemantauan terapi diabetes yang dikembangkan apoteker merupakan wujud modern dari semangat intelektual seorang muslim dengan menggabungkan ilmu pengetahuan, teknologi, dan kepedulian kemanusiaan. Aplikasi memuat fitur pengingat minum obat, pencatatan kadar gula darah, edukasi obat, deteksi interaksi obat, dan konsultasi langsung dengan apoteker. Melalui aplikasi, pasien diharapkan dapat lebih patuh, terkontrol, dan teredukasi dalam menjalani terapi. Pada saat yang sama, apoteker dapat memantau data pasien secara real-time untuk mengambil keputusan klinis yang lebih tepat.

Melalui pemanfaatan teknologi, spirit keilmuan dan kemanusiaan yang pernah diwujudkan oleh para ilmuwan muslim terdahulu dapat terus hidup, memberi manfaat, mencegah mudarat, dan membawa kemajuan bagi kesehatan masyarakat. Dengan demikian, kontribusi Islam terhadap ilmu pengetahuan bukan hanya sejarah, tetapi terus berkembang hingga hari ini. Aplikasi mobile pemantauan terapi obat diabetes adalah salah satu bukti nyata bahwa nilai-nilai itu tetap relevan dan produktif. Beberapa contoh pemanfaatan teknologi digital yang berkaitan dengan diabetes, seperti aplikasi Nutri Diabetic Care, e-Diary DM, Teman DM, DM Calendar App dan Salam Sehat dapat meningkatkan self-care, self efficacy, dan kepatuhan terhadap pengobatan dan diet dapat meningkatkan kesadaran (awareness) dalam pengelolaan penyakit diabetes melitus. ***

 

Referensi:

 

Soelaiman, Darwis A. (2019). Filsafat Ilmu Pengetahuan Perspektif Barat dan Islam. Bandar Publishing.

Maiisyah, P. A., Ikawati, Z., & Zainal, Z. A. (2021). Smartphone Application for Diabetes in Indonesia: A Narrative Review. Research Journal of Pharmacy and Technology, 14(7), 3955–3960. https://doi.org/10.52711/0974-360X.2021.00686

 

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), Mahasiswa Program Studi Ilmu Farmasi Program Doktor UAD

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

“Embun Pagi Sebelum Cahaya” Panggilan Hati Relawan Kemanusiaan dalam Penanggulangan Bencana Alam di Indonesia

septiandi

Oleh: R.Kurniawan Dwi Septiady 

Abstrak

Peran vital relawan bencana di Indonesia, mengibaratkan mereka sebagai “embun pagi sebelum cahaya” yang hadir memberikan pertolongan pertama sebelum bantuan formal tiba. Dengan fokus pada bencana alam seperti banjir, tanah longsor, dan laka air, studi ini mengeksplorasi motivasi altruistik (panggilan hati) yang mendorong para relawan untuk bertindak demi kemanusiaan, bahkan dalam situasi paling berbahaya. Data kualitatif dan studi kasus seperti Tsunami Aceh 2004 dan bencana Sibolga (referensi umum untuk bencana di Sumatera) menyoroti kontribusi krusial mereka dalam fase tanggap darurat, mulai dari evakuasi, penyediaan kebutuhan dasar, hingga pendampingan psikososial. Temuan menunjukkan bahwa kerelawanan bencana merupakan modal sosial yang tak ternilai, namun memerlukan peningkatan kapasitas, koordinasi, dan perlindungan hukum untuk optimalisasi peran.

Kata Kunci: Relawan Bencana, Kemanusiaan, Altruisme, Tanggap Darurat, Modal Sosial, Aceh, Sibolga.

Pendahuluan

Indonesia, yang berada di jalur Cincin Api Pasifik, merupakan negara dengan tingkat risiko bencana alam yang tinggi (BNPB, 2020). Frekuensi dan intensitas bencana seperti gempa bumi, tsunami, banjir, dan longsor, menuntut sistem penanggulangan bencana yang kuat. Meskipun peran pemerintah sentral, relawan atau sukarelawan telah terbukti menjadi ujung tombak (BNPB, 2020) yang pertama kali tiba di lokasi, seringkali mendahului tim resmi. Analogi “embun pagi sebelum cahaya” menggambarkan kehadiran relawan yang murni dan tulus, datang dalam kegelapan dan kekacauan awal bencana, memberikan harapan dan pertolongan pertama yang menenangkan sebelum organisasi formal dan bantuan besar lainnya tiba. Fenomena ini didorong oleh panggilan hati dan nilai-nilai kemanusiaan yang mendalam (Utomo & Minza, 2016).

 Definisi dan Prinsip Relawan Bencana

Relawan Penanggulangan Bencana didefinisikan sebagai seseorang atau sekelompok orang yang memiliki kemampuan dan kepedulian untuk bekerja secara sukarela dan ikhlas dalam upaya penanggulangan bencana (BPBD DIY, n.d.; Peraturan Kepala BNPB No. 17 Tahun 2011). Prinsip kerja relawan mencakup Cepat dan Tepat, Prioritas, Koordinasi, Akuntabilitas, dan Non-diskriminasi. Relawan merupakan modal sosial dan aset berharga dalam sistem penanggulangan bencana (BNPB, 2020). Termasuk unsur dari elemen kemahasiswaan dan kepemudaan aktif dalam kegiatan relawan tanggap bencana seperti ,KSR, Resimen Mahasiwa ( MENWA) Pencinta Alam ( Mapala) yang siap dimobilisasi kapan saja jika terjadi bencana

Altruisme dan Panggilan Kemanusiaan

Motivasi utama relawan sering kali berakar pada sikap altruistik, yaitu tindakan menolong orang lain tanpa mengharapkan imbalan, didorong oleh hati nurani yang ikhlas (Utomo & Minza, 2016). Dalam perspektif keagamaan, kerelawanan dipandang sebagai bagian dari ibadah dan dakwah kemanusiaan (Sahniur, 2021). Ungkapan bahwa “relawan tidak dibayar bukan karena mereka tak layak untuk dibayar, tetapi karena mereka tak ternilai” (Sahniur, 2021) menggarisbawahi nilai non-material dari pengabdian mereka. Namun seringkali dalam keaadaan pasca bencana para relawan terkadang menanggung cercaan dari masyarakat korban bencana dikarenakan kepanikan korban dan trauma pasca bencana akibat keterbatasan sarana maupun tenaga yang relawan miliki.dan dimasa tenang tiada peristiwa bencana terkadang mendapat cibiran sebagai orang yang kurang kerjaan.

Peran Relawan dalam Siklus Bencana

Peran relawan mencakup tiga fase utama (BPBD Balikpapan, n.d.): Pra Bencana: Sosialisasi, mitigasi, penyiapan logistik, dan simulasi. Tanggap Darurat: Pencarian dan Penyelamatan (SAR), Evakuasi, Dapur Umum, Layanan Kesehatan, dan Pendampingan Psikososial. Pasca Bencana: Pengumpulan data kerusakan, rehabilitasi, dan rekonstruksi.

Panggilan Hati dalam Aksi Nyata Refleksi Kasus: Bencana Sumatera Kontribusi Relawan dalam Bencana Hidrometeorologi Aceh (2024-2025)

Kasus Tsunami Aceh 2004 menjadi titik balik sejarah kerelawanan di Indonesia. Ribuan relawan domestik dan internasional berjibaku menolong, mengevakuasi korban, dan menyediakan bantuan di tengah kehancuran total (Kemenag Aceh, 2013). Kisah-kisah ini menunjukkan bahwa pada momen genting, rasa persaudaraan dan kemanusiaan melampaui sekat-sekat SARA dan nasionalisme. Demikian pula dalam konteks bencana hidrometeorologi (banjir, longsor, laka air) yang sering melanda wilayah seperti Sibolga (Sumatera Utara) dan daerah lain di Sumatera. Relawan lokal, seringkali dari komunitas atau organisasi seperti PMI, SAR, atau mahasiswa, menjadi garda terdepan dalam operasi evakuasi menggunakan perahu karet dan penyiapan pos pengungsian darurat (Antara News, 2025; PMI, n.d.). Kehadiran mereka yang cepat dan tanpa pamrih adalah perwujudan nyata dari “embun pagi” yang hadir menenangkan. Meskipun Tsunami 2004 merupakan kasus mega-bencana yang mengubah paradigma, bencana alam di Aceh dalam beberapa tahun terakhir, khususnya pada tahun 2024 dan 2025 (yang didominasi oleh banjir dan longsor di lebih dari 18 kabupaten/kota) (Acehprov, 2025), memberikan konteks yang lebih kontemporer mengenai peran relawan. Bencana-bencana ini, yang sering kali terjadi di daerah terisolasi seperti Gayo Lues dan Aceh Tenggara (Metro TV, 2025), menggarisbawahi urgensi kehadiran “embun pagi sebelum cahaya.”

Peran Kunci Relawan pada Fase Tanggap Darurat

Pada fase tanggap darurat, peran relawan sangat krusial, di antaranya: SAR dan Evakuasi: Melakukan penyelamatan awal di zona bahaya, seringkali mempertaruhkan nyawa, sebelum tim terlatih tiba. Prinsip Aman Diri, Aman Korban, Aman Lingkungan menjadi pedoman utama (Ramadhan, 2022). Distribusi Bantuan: Mengelola dan mendistribusikan logistik dasar (makanan, selimut, hygiene kit) di lokasi yang sulit dijangkau. Dukungan Psikososial: Memberikan pendampingan emosional kepada korban, terutama kelompok rentan seperti anak-anak, lansia, dan perempuan.

Peran Relawan dalam Isolasi dan Aksesibilitas

Dalam kasus banjir dan longsor terbaru di Aceh, tantangan utamanya adalah terputusnya akses darat (misalnya, jalur Sumatera Utara-Aceh Tamiang dan Banda Aceh-Lhokseumawe) (Metro TV, 2025). Kondisi ini secara signifikan meningkatkan ketergantungan pada relawan lokal dan tim yang dilengkapi dengan keahlian khusus: Akses dan Asesmen Cepat (24 Jam Pertama): Tim relawan pendahulu (misalnya, dari universitas atau NGO) berperan vital dalam melakukan assessment cepat dalam 24 jam pertama. Mereka menggunakan jaringan lokal untuk memetakan kebutuhan mendesak dan melaporkan kondisi medan (UNS, 2025), menjadi mata dan telinga bagi bantuan formal yang terhambat. Operasi Logistik Darurat: Relawan, termasuk dari PMI dan komunitas, bekerja sama dengan Polri dan lembaga lain untuk menyalurkan bantuan logistik melalui jalur alternatif, bahkan menggunakan kapal atau akses udara terbatas (CNN Indonesia, 2025; Antara News, 2025). Mereka adalah penentu supply chain kemanusiaan di wilayah terisolasi. Keahlian Teknis: Bencana hidrometeorologi sering kali merusak sumber air bersih. Dalam kasus terbaru, relawan dikerahkan dengan keahlian pengolahan air untuk memastikan ketersediaan sanitasi dasar di pos pengungsian (Antara News, 2025). Ini menunjukkan evolusi peran relawan dari sekadar tenaga fisik menjadi penyedia keahlian teknis spesifik. Pendataan dan Koordinasi: Pentingnya pendataan relawan ke dalam Desk Relawan Penanganan Bencana (Acehprov, 2025) menunjukkan upaya pemerintah untuk mengintegrasikan aksi “panggilan hati” ini ke dalam sistem penanggulangan bencana yang terorganisir. Keterlibatan relawan dalam bencana banjir dan longsor terbaru di Aceh menegaskan kembali bahwa nilai-nilai altruisme dan kemanusiaan tidak hanya terwujud dalam bencana berskala besar, tetapi juga dalam menghadapi ancaman bencana berulang yang menuntut kesiapsiagaan komunitas dan kecepatan respons dari garda terdepan.

Tantangan dan Optimalisasi

Meskipun peran krusial, relawan menghadapi tantangan, termasuk risiko keselamatan, kelelahan, dan kurangnya sertifikasi atau pelatihan yang memadai (Dewaniar, 2020; IPDN, n.d.). Untuk mengoptimalkan peran, diperlukan. Peningkatan Kapasitas: Pelatihan dan sertifikasi yang terstruktur mengenai manajemen bencana, SAR, dan Basic Life Support (BLS) (JOSWAE, 2022). Sistem Koordinasi yang Jelas: Integrasi yang kuat dalam satu pola sistem koordinasi antara relawan dengan BPBD dan instansi lain (Universitas Esa Unggul, 2024). Perlindungan Hukum: Jaminan perlindungan dan pengakuan resmi bagi relawan dalam melaksanakan tugas kemanusiaan (BPBD DIY, n.d.). pernah kedapatan relawan bencana merapi yang sempat ditangkap karena membawa pisau survival yang merupakan bekal relawan gunung untuk melakukan aktivitasnya dihutan. Tentunya hal semacam ini tidak boleh terulang lagi dimasa depan.

Simpulan

Relawan bencana, yang diibaratkan sebagai “embun pagi sebelum cahaya”, adalah pilar utama dalam penanggulangan bencana di Indonesia. Motivasi altruistik yang berakar pada panggilan hati demi kemanusiaan menjadikan mereka kekuatan tak ternilai dalam menghadapi chaos pasca-bencana. Kasus-kasus seperti Tsunami Aceh dan bencana-bencana di Sumatera membuktikan bahwa kesediaan mereka untuk berkorban adalah manifestasi nyata dari solidaritas bangsa. Untuk menjamin keberlanjutan dan keefektifan, pemerintah dan organisasi terkait harus terus berinvestasi dalam peningkatan kapasitas, koordinasi, dan kesejahteraan para pahlawan kemanusiaan ini.

 

 

 

 

 

Daftar Pustaka (Referensi)

Antara News. (2025). Ratusan personel Basarnas perbantuan mulai berlabuh di Aceh dan Sumut.

BNPB. (2020). Relawan Sebagai Ujung Tombak Penanggulangan Bencana.

BPBD Balikpapan. (n.d.). Relawan Kencana.

BPBD DIY. (n.d.). Relawan Penanggulangan Bencana.

Dewaniar, E. (2020). PARA PENGIBAR KEMANUSIAAN (ANALISIS FENOMENOLOGI INTERPRETATIF TENTANG PENGALAMAN MENJADI RELAWAN BENCANA LAKI-LAKI). Jurnal Empati, 8(4), 148-161.

IPDN. (n.d.). Optimalisasi Relawan Penanggulangan Bencana dalam Pengurangan Risiko Bencana Banjir di Kabupaten Kudus Provinsi Jawa Tengah.

Kemenag Aceh. (2013). Kisah Relawan PMI Tsunami Aceh.

Ramadhan, N. A. (2022). Pengalaman Menjadi Relawan Tanggap Bencana. Universitas Muhammadiyah Jakarta.

Sahniur, A. (2021). Relawan dalam Perspektif Islam (Studi: Aksi Cepat Tanggap Cabang Sumatera Utara). Al-Hikmah: Jurnal Studi Keislaman, 2(2).

Universitas Esa Unggul. (2024). SOSIALISASI PERAN RELAWAN PENANGGULANGAN BENCANA (STUDI KASUS PADA GEMPA CIANJUR 2022).

Utomo, M. H., & Minza, W. M. (2016). Perilaku Menolong Relawan Spontan Bencana Alam.

JOSWAE. (2022). PENDAMPINGAN MAHASISWA RELAWAN SIAGA BENCANA PADA FASE PREPAREDNESS.

 

Penulis adalah Dosen & Pembina Resimen Mahasiswa UMPP

Terkait
Penyelenggaraan transportasi darat harus perhatikan amdal

Wiradesa, Wartadesa. - Pemerintah Kabupaten Pekalongan, hari ini, Selasa (29/11) mensosialisasikan dua perda Tahun 2016 di Aula Kecamatan Wiradesa. Perda Read more

Longsor Kandangserang, ratusan warga terisolir

Kandangserang, Wartadesa. -  Ratusan warga Desa Klasem Kecamatan Kandangserang Kabupaten Pekalongan kini hidup dalam kondisi khawatir saat hujan deras, pasalnya Read more

Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

selengkapnya
Opini

Redefinisi Profesi Guru di Era Disrupsi Pada Momentum Hari Guru Nasional

septiandi

Oleh: R.Kurniawan Dwi Septiady*

Abstrak

Hari Guru Nasional (HGN) di Indonesia, yang diperingati setiap tanggal 25 November, bukan hanya momen perayaan, tetapi juga waktu refleksi kritis terhadap peran dan redefinisi profesi guru di tengah perubahan global yang cepat dan disrupsi teknologi. Artikel ini membahas pergeseran paradigma profesi guru dari sekadar penyampai informasi menjadi fasilitator pembelajaran, desainer pengalaman belajar, dan agen perubahan sosial. Redefinisi ini menuntut transformasi kompetensi, mulai dari penguasaan pedagogi digital, literasi multikultural, hingga kemampuan coaching dan pendampingan personal. Diperlukan kebijakan yang mendukung pengembangan profesional berkelanjutan, otonomi guru, dan pengakuan yang lebih komprehensif terhadap kontribusi guru dalam membentuk masa depan bangsa.

Profesi guru telah lama dihormati sebagai pilar utama dalam pembangunan sumber daya manusia (SDM) suatu negara.Di Jepang pasca kekalahanya pada Perang Dunia II Guru sangat penting bagi Kekaisaran Jepang karena mereka dianggap sebagai pilar utama dalam pembangunan kembali negara pasca-Perang Dunia II, terutama untuk membentuk kembali mentalitas dan nilai-nilai masyarakat. Di Indonesia, Hari Guru Nasional menjadi pengingat akan dedikasi para pendidik. Namun, era disrupsi yang ditandai dengan revolusi industri 4.0 dan Society 5.0 telah menghadirkan tantangan eksistensial bagi profesi ini. Akses tak terbatas terhadap informasi melalui internet menipiskan peran guru sebagai satu-satunya sumber pengetahuan. Oleh karena itu, diperlukan upaya sistematis untuk merefleksikan dan mendefinisikan kembali esensi profesi guru agar tetap relevan di abad ke-21. Redefinisi ini melampaui perubahan administratif; ia menuntut transformasi epistemologis dan praksis pedagogis.

Pergeseran Paradigma Profesi Guru

Redefinisi profesi guru berpusat pada pergeseran peran utama dari “Sage on the Stage” menjadi “Guide on the Side” (King, 1993). Peran baru ini mencakup beberapa aspek kunci: Guru sebagai Desainer Pembelajaran (Learning Designer) Di tengah kurikulum yang dinamis, guru dituntut tidak hanya mengimplementasikan tetapi juga merancang pengalaman belajar yang personalized dan bermakna. Ini melibatkan integrasi teknologi pendidikan (EdTech) dan metode pembelajaran yang berpusat pada siswa (student-centered).

“Peran guru telah berubah dari sekadar memberikan pengetahuan menjadi menciptakan lingkungan di mana siswa dapat membangun pengetahuan mereka sendiri, berkolaborasi, dan memecahkan masalah kompleks yang relevan dengan dunia nyata.” (Fullan & Quinn, 2016, hlm. 45) Peran ini menghadapi tantangan Internal dari dalam pemikiran guru itu sendiri terkadang bagi guru yang belum menghayati kesadaran Jiwa Profesi tang dijalani terjebak dalam stuasi psikologis Ego Superioritas Komleks bahkan Megalomania, dimana perasaan sebagai sumber belajar bermanifestasi kedalam pemahaman diri selalu benar, merasa paling hebat dan menjadi cemburu terhadap capaian murid yang melampauinya . Padahal pada hakikat profesi ini justru jika murid melampaui capaian sang guru menandakan guru tersebut telah berhasil meletakan pondasi pengetahuan bagi siswanya. Dalam praktik mengajar penulis pernah mengajar selama lima tahun dalam 3 level pendidikan yang berbeda SMP dilevel pendidikan dasar, SMK di level pendidikan menengan dan politeknik di level pendidikan tinggi, yang selanjutnya sejak 2011 penulis hanya berfokus dipendidikan tinggi saja, selama pengalaman mengajar tersebut penulis mendapatkan pemahaman ibarat penambang dan pengrajin permata, kita hamya menemukan ,memoles, dan membuang retakan retakan kecil dari permata tersebut , Namun Kilau dan kualitas permata tersebut akan menjadi berharga tinggi setelah berada dilingkungan yang tepat sesuai kualitas permata itu sendiri. Ketika batu permata tersebut sangat berkualitas istimewa maka keberadaanya menjadi sangat berharga sehingga digunakan sebagai penghias mahkota siatas kepalaseorang raja.

Guru sebagai Agen Perubahan Sosial (Agent of Change)

Guru memiliki tanggung jawab moral untuk menanamkan nilai-nilai karakter, literasi multikultural, dan global citizenship. Mereka adalah prototipe pembelajar seumur hidup yang mendorong siswa untuk menjadi warga negara yang kritis dan adaptif.sebagai seorang pembelajar yang menjadi role mode bagi masyarakat maka Guru tidak bisa melepaskan diri dari etiket yang disndanya meski atas dasar profesionalitas versus kehidupan pribadi ( Privacy) maraknya kasus perelingkuhan ASN yang didominasi oleh profesi guru juga merupakan fakta yang kontra produktif terhadap peran sebagai agen perubahan masyarakat, salah satunya ditujukan oleh maraknya pemberitaan peningkatan kasus gusat cerai disejumlah daerah setelah proses penyerahan SK PPPK.

Guru sebagai Coach dan Fasilitator Refleksi

Dalam konteks Kurikulum Merdeka di Indonesia, peran guru sebagai fasilitator dan coach menjadi sentral. Guru membantu siswa mengidentifikasi potensi mereka, mengembangkan keterampilan metakognitif, dan melakukan refleksi atas proses belajar mereka.dalam pengalaman penulis sebagai jurnalis lokal, pernah mejadi mentor dari siswa yang diajar dilembaga sebelum siswa tersebut lulus wisuda mereka mampu berkembang menjadi jurnalis yang baik meski tidak linear jenjang pendidikanya dengan profesi yang digeluti mereka , bahkan keduanya mampu melampaui capaian metor mereka dengan menjadi jurnalis profesional di media nasional.

Kompetensi Guru di Abad ke-21

Redefinisi peran menuntut pembaruan kompetensi. Selain empat kompetensi inti (pedagogik, profesional, kepribadian, dan sosial), guru kini harus menguasai Kompetensi Digital dan Literasi Data, Kemampuan mengintegrasikan teknologi secara efektif dan menggunakan data pembelajaran untuk pengambilan keputusan pedagogis.Kedua Kompetensi Social and Emotional Learning (SEL). Kemampuan untuk mengelola emosi diri dan orang lain, serta mengajarkan empati dan keterampilan sosial kepada siswa.Ketiga Kompetensi Adaptif dan Growth Mindset.  Kesediaan untuk terus belajar dan beradaptasi dengan inovasi pedagogis baru, melihat tantangan sebagai peluang pengembangan.

Implikasi Kebijakan pada Hari Guru Nasional

Peringatan Hari Guru Nasional harus menjadi momentum untuk menggalakkan kebijakan yang mendukung redefinisi ini:

  1. Pengembangan Profesional Berkelanjutan (PPB): PPB harus bergeser dari pelatihan yang bersifat one-shot menjadi komunitas belajar profesional (Professional Learning Communities/PLC) yang berkelanjutan dan berbasis kebutuhan sekolah.
  2. Otonomi dan Akuntabilitas: Guru perlu diberikan otonomi pedagogis yang lebih besar dalam mendesain kurikulum, diikuti dengan sistem akuntabilitas yang jelas dan mendukung perbaikan berkelanjutan.
  3. Kesejahteraan dan Pengakuan: Peningkatan kesejahteraan finansial harus diiringi dengan pengakuan non-finansial terhadap peran guru sebagai inovator dan pemimpin di sekolah.

Akhir

Redefinisi profesi guru adalah suatu keniscayaan di era disrupsi. Profesi ini bertransformasi dari penyampai konten menjadi arsitek pembelajaran masa depan. Hari Guru Nasional harus dimanfaatkan sebagai katalis untuk mendorong transformasi ini melalui peningkatan kompetensi digital, penguatan peran sebagai coach, dan dukungan kebijakan yang holistik. Keberhasilan sistem pendidikan Indonesia di masa depan akan sangat bergantung pada seberapa cepat dan efektif para guru menginternalisasi dan mengaktualisasikan peran baru ini.

 

Daftar Referensi

  • Fullan, M., & Quinn, J. (2016). Coherence: The Right Drivers in Action for Schools, Districts, and Systems. Corwin Press.
  • King, A. (1993). From Sage on the Stage to Guide on the Side. College Teaching, 41(1), 30-35.
  • Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Republik Indonesia No. 35 Tahun 2018 tentang Perubahan Atas Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan No. 16 Tahun 2007 tentang Standar Kualifikasi Akademik dan Kompetensi Guru.
  • OECD. (2019). TALIS 2018 Results (Volume I): Teachers and School Leaders as Lifelong Learners. OECD Publishing.

 

Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)

Terkait
Pensiunan guru diduga jadi korban pembunuhan

Kesesi, Wartadesa. - Sumarti  (60), pensiunan guru yang tinggal di desa Sidosari rt 04/02 Kec. Kesesi Kab. Pekalongan, diduga menjadi korban Read more

Jalan sehat warnai peringatan HUT PGRI Kesesi

Kesesi, Wartadesa. - Memperingati ulang tahunnya ke-71, Persatuan Guru Republik Indonesia (PGRI)  Kecamatan Kesesi menggelar jalan sehat. Kegiatan yang digelar Read more

HUT PGRI, ajang silaturahmi

Kajen.wartadesa - Pagi ini alun-alun Kajen kabupaten Pekalongan tampak meriah. Guru se Kota Santri, tumpah ruah memenuhi alun-alun mengikuti jalan sehat Read more

714 guru swasta yang mengabdi di sekolah negeri dapat tunjangan Rp. 500 ribu

Bupati: Yang mengabdi di sekolah swasta sedang dikaji Kajen, Wartadesa. - Sebanyak 714 guru non PNS (wiyata bakti) yang mengabdi Read more

selengkapnya
Opini

Indonesia Gudangnya Pejuang ‘Ber-Cosplay’ Robin Hood

septiandi

Refleksi Hari Wayang Sedunia dan Hari Pahlawan: Merayakan Kepahlawanan di Garis Senyap

Oleh: R.Kurniawan Dwi Septiady, SIP.MM 

Hari Pahlawan dari tahun ketahun kita peringati dengan mayoritas mengenang kembali bagaimana Bung Tomo membakar semangat para pemuda Surabaya untuk melawan agresi militer penjajah, namun jarang kita mengingat kembali bagaimana kepahlawanan disekitar kita. Dengan momen yang berdekatan dengan hari wayang sedunia sebagai penulis saya mencoba mensintesakan kedua peringatan kepahlawanan dan asset budaya tersebut kedalam sebuah refleksi. Hari Pahlawan dan Hari Wayang Sedunia mengingatkan kita pada dua spektrum narasi: perjuangan yang terang benderang dan kisah-kisah di balik layar yang sering terabaikan. Dalam sejarah kemerdekaan Indonesia, citra pahlawan kerap diasosiasikan dengan seragam militer, pekik takbir jihad, dan keberanian di medan tempur terbuka. Namun, di balik laskar-laskar “bersinar terang” seperti Hizbullah, Sabilillah, TKR, dan Angkatan Umat Islam (AUI), tersimpan “gudang” pejuang yang memilih jalan sunyi, bahkan menanggung stigma, mirip Robin Hood atau bahkan tokoh-tokoh non-protagonis penting bagi kita merenungkan bahwa perjuangan kemerdekaan di Indonesia tidak sekadar milik tokoh besar yang secara resmi tercatat dalam buku sejarah, tetapi juga melibatkan figur–figur lokal, pasukan bawah tanah, dan strategi yang “di luar dialektika” resmi. Di wilayah Karesidenan Pekalongan misalnya, muncul kisah pejuang yang tampak seperti “Robin Hood” — yakni mengambil jalan yang tak lazim, mencuri dari penjajah, membalik relasi kekuasaan, dan memberi harapan pada orang-lemah (meskipun secara literal tidak selalu seperti Robin Hood Inggris).

Analogi ini kita gunakan untuk memahami gambaran perjuangan: seorang pahlawan yang muncul bukan dalam wujud konvensional kesatria-terhormat, tetapi dalam wujud yang lebih bayangan, gerilya, dalam kegelapan, “bercosplay” sebagai Robin Hood—mengambil dari mereka yang punya, memberi kepada mereka yang tertindas, dengan cara yang tidak baku. Selanjutnya kita akan membedah tiga elemen: (1) konteks lokal Karesidenan Pekalongan; (2) kisah Lasmini dan cerpen – karya Gati Andoko; (3) strategi dan pasukan yang dibentuk oleh Moestopo, dan bagaimana semua ini bisa kita baca sebagai metafora perjuangan kemerdekaan yang unik.

Konteks Lokal Karesidenan Pekalongan

Wilayah Karesidenan Pekalongan pada masa revolusi kemerdekaan mengalami dinamika serius. Sebagai wilayah administratif zaman Hindia Belanda, Karesidenan Pekalongan mencakup beberapa kabupaten dan kota. Pada tanggal 3 Oktober 1945, rakyat Pekalongan mengangkat senjata melawan Jepang, dan pada 7 Oktober 1945 Kota Pekalongan dibebaskan dari tentara Jepang.  Kemudian pada masa agresi militer Belanda (1947–1949), wilayah selatan Karesidenan Pekalongan, termasuk area Lebakbarang, menjadi lokasi pengungsian dan pemberontakan rakyat. “Pertempuran di Lebakbarang pada tahun 1947 menjadikan daerah bagian selatan Karesidenan Pekalongan porak poranda. Banyak warga yang mengungsi ke segala tempat yang aman.” Jurnal Bebasan+1 Dalam situasi ini, perjuangan tak selalu dalam bentuk barisan reguler. Ada pula pemerintahan darurat yang dibentuk untuk menjaga wilayah agar tidak tercerai-berai. Harapan RakyatMaka, dari konteks ini, kita bisa melihat munculnya pahlawan lokal yang tak mutlak tercatat dalam buku besar, tetapi dalam narasi rakyat—layaknya “cosplay Robin Hood”.

Kisah Lasmini, Jihad Dibalik Stigma Ronggeng Lebakbarang,

Cerpen Lasmini: Ronggeng Lebakbarang karya Gati Andoko menghadirkan tokoh Lasmini — seorang ronggeng di Lebakbarang (wilayah selatan Pekalongan) — yang kemudian “masuk” dalam perjuangan melawan Belanda sebagai mata-mata, anggota pasukan rahasia. Jurnal Bebasan Dalam narasi itu, Lasmini adalah figur yang bukan pahlawan konvensional (kesatria berpakaian rapi), melainkan perempuan ronggeng — yang secara sosial terpinggir — yang kemudian justru menjadi bagian dari strategi perjuangan. Di sini ia “bercosplay” sebagai Robin Hood: dari sisi sosial dianggap korban atau terpinggir, tetapi masuk ke ruang kekuasaan dan pengambilan informasi dari penjajah.

Cerpen tersebut menunjukkan bahwa keberadaan tokoh seperti Lasmini menghadirkan “delegitimasi dan intervensi terhadap logos sejarah”. Jurnal Bebasan+1 Artinya: kisah-kisah yang tidak mainstream juga punya peran penting dalam narasi kemerdekaan lokal. Dengan demikian, kisah Lasmini memunculkan dua gagasan penting: (1) pahlawan bisa berasal dari ranah yang “tak terhormat” tetapi kemudian berjuang; (2) strategi perjuangan bisa bersifat tersembunyi, tak dalam barisan terbuka tapi dalam kegelapan, pengintaian, informas

“Pasukan Moestopo” Legiun Para Antagonis

Dr. Moestopo dalam perjuangan di Kebumen, terutama upayanya mencegah pasukan Belanda mencapai Yogyakarta. Moestopo, seorang dokter gigi dan tokoh militer, memiliki keunikan yang jauh dari citra laskar konvensional. Ia mendirikan Pasukan Terate, yang ironisnya, dibentuk melalui rehabilitasi para pencopet, pelacur, dan penjahat.

Alih-alih merekrut pemuda idealis dari pesantren atau sekolah militer, Moestopo melihat potensi patriotisme dan keterampilan tersembunyi dalam diri mereka yang terpinggirkan. Para mantan bromocorah dan kupu-kupu malam ini diubah menjadi agen intelijen andal yang beroperasi secara diam-diam dalam kegelapan. Mereka sukses menjebol informasi rahasia intelejen Belanda dan melakukan sabotase logistik, hal yang mustahil dilakukan oleh laskar bersinar terang yang gerakannya mudah terdeteksi. Upaya Dr. Moestopo ini adalah Reklasering Patriotik, membuktikan bahwa semangat kemerdekaan tidak mengenal latar belakang sosial atau catatan kriminal. Patriotisme diwujudkan melalui utilitas strategis yang memanfaatkan “keterampilan gelap” mereka untuk tujuan negara. Mereka adalah pahlawan tanpa mahkota yang kehadirannya diakui bukan karena kesucian, melainkan karena efektivitas perjuangannya.

Moestopo (1913-1986) adalah dokter gigi yang kemudian menjadi pejuang kemerdekaan dan mendirikan institusi setelahnya. Yang menarik adalah strategi militer inovatif dan tak lazim yang dipakainya selama revolusi. Salah satu catatan menyebut bahwa ia membentuk pasukan bernama Pasukan Terate — akronim dari Tentara Rahasia Tinggi — yang diisi oleh pencopet, pelacur, bahkan penjahat, yang kemudian direklasifikasi menjadi pejuang.

  • Pasukan Terate ditugaskan mencegah gerak maju tentara Belanda di daerah Kebumen dan Gombong
  • Pasukan itu melakukan sabotase malam hari, menyusup ke garis musuh, mencuri senjata, logistik, bahkan menerapkan metode perang rahasia (“secret war”). Djokjakarta 1945+1
  • Moestopo sendiri dikenal sebagai “nyentrik” — misalnya memberi instruksi makan daging kucing agar penglihatan malam meningkat, atau bambu runcing dioles kotoran kuda agar musuh terkena tetanus. tirto.id

Dari sini kita melihat aspek yang sangat cocok dengan metafora “Robin Hood”: pasukan yang mungkin awalnya dianggap kriminal, namun diberi makna baru untuk perjuangan, mengambil dari “musuh” kekuatan mereka, dan menggunakan cara-cara di luar konvensi perang formal. Dalam lingkungan lokal seperti Kebumen (yang berada di daerah eks Karesidenan Pekalongan / sekitar Jawa Tengah) atau front yang menuju Yogyakarta, pasukan ini beroperasi dalam kegelapan, gerilya, dengan elemen rahasia intelijen.

Hal ini mengingatkan bahwa perjuangan kemerdekaan tidak melulu tentang tembak-menembak di lapangan terbuka, tetapi juga tentang intelijen, sabotase, infiltrasi—dan aktor yang tak lazim menjadi pahlawan dalam bayangan.

Refleksi Wayang: Kebajikan Sang Antagonis

Kisah-kisah ini, Lasmini dan Pasukan Moestopo, memiliki kemiripan dengan epos Ramayana, khususnya peran tokoh non-protagonis seperti Rahwana dan Kumbakarna. Rahwana, meskipun dicap sebagai antagonis karena penculikan Shinta, tetap menunjukkan sisi ksatria (tidak pernah menyentuh Shinta secara paksa selama tiga tahun) dan harga diri sebagai pemimpin negara yang wajib mempertahankan kedaulatan dari invasi Ayodya yang dipimpin Sri Rama. Begitu pula Kumbakarna, yang meskipun sadar perang tersebut salah, ia maju membela negaranya, Alengka, dari kehancuran. Mereka menanggung garis takdir sebagai “antagonis” yang harus dihancurkan, namun motivasi terdalamnya mengandung unsur patriotisme terdistorsi yang relevan untuk direfleksikan. Lasmini, dalam pandangan masyarakat, adalah “antagonis” moral; anggota Pasukan Moestopo adalah “antagonis” hukum. Namun, dalam konteks perjuangan kemerdekaan, mereka adalah penjaga kedaulatan yang memilih jalan berliku.

Kesimpulan Ilmiah

Indonesia memang gudangnya pejuang yang “ber-cosplay” Robin Hood. Perjuangan kemerdekaan bukan hanya milik elit politik atau laskar ideal yang berjuang di bawah panji kemuliaan. Sejarah lokal menunjukkan adanya strategi subversif patriotik yang memanfaatkan mereka yang terbuang—para anti-hero—untuk mencapai tujuan nasional.

Hal ini menuntut kita, dalam refleksi Hari Pahlawan, untuk memperluas definisi kepahlawanan. Kepahlawanan juga milik mereka yang berjuang di garis senyap, menanggung stigma, dan mewujudkan patriotisme dengan cara yang berbeda, namun terbukti krusial dalam menjamin berlanjutnya eksistensi Republik Indonesia. Mereka mengajarkan kita bahwa integritas sejati sering kali diuji bukan oleh apa yang terlihat terang, melainkan oleh apa yang dilakukan dalam kegelapan demi kedaulatan bangsa.

 

 

Daftar Referensi

  • Andoko, Gati. (2019). Lasmini: Ronggeng Lebakbarang [Dalam konteks kajian historisisme,
  • Ensiklopedia Pahlawan Nasional. (Merujuk pada biografi resmi Dr. Moestopo, 2007). Keputusan Presiden Nomor 66/2007 TK.
  • Kajian Sejarah Lokal. (Merujuk pada catatan sejarah Perang Kemerdekaan di Karesidenan Pekalongan, Agresi Militer Belanda I, 1947).
  • Sumber Biografi Dr. Moestopo. (Merujuk pada kegiatan reklasering dan pembentukan pasukan Terate/Tentara Rahasia Tinggi).
  • Ahmad Junaidi, Jiko Vindhy Megawianto, M. Lutfi Dwi Kurniawan. “Jihad Seorang Pelacur: Kajian Historisisme terhadap Cerpen ‘Lasmini: Ronggeng Lebakbarang’”. Jurnal Bébasan, Vol. 10 No. 2 (2023).
  • “Kegilaan dan Aksi Nyentrik Moestopo Demi Republik”. Tirto.id, 28 Sept 2019. tirto.id
  • “Pasukan Terate”. Djokja1945 blog (‘Barisan Gundul’ etc). Djokjakarta 1945
  • Harapan Rakyat. “Karesidenan Pekalongan Zaman Revolusi, Pemerintahan Darurat…” 16 Apr 2023.
  • Sejarah Singkat Kota Pekalongan. pekalongankota.go.id.

 

Penulis adalah seorang dosen di UMPP Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Opini

Bendera “One Piece” Sebagai Simbol Protes Melawan Kemapanan Demokrasi Sudut Pandang Demontrasi di Indonesia Dan Nepal

kurniawan

Oleh|:R. Kurniawan Dwi Septiady

Ketika Fiksi Berjumpa realitas Politik.

Dalam dunia modern, simbolisme memainkan peran krusial dalam gerakan sosial dan politik. Berbagai objek, dari bunga hingga bendera, telah digunakan untuk menyampaikan pesan, menyatukan massa, dan menentang otoritas. Fenomena menarik yang muncul beberapa waktu belakangan ini adalah penggunaan bendera kru Topi Jerami dari serial anime populer “One Piece” sebagai simbol protes. Awalnya hanya dikenal sebagai hiburan, bendera ini kini berevolusi menjadi lambang perlawanan, terutama dalam konteks perjuangan demokrasi.Bendera bajak laut Topi Jerami, yang menampilkan tengkorak dengan topi jerami ikonisnya, adalah simbol kebebasan, petualangan, dan persahabatan dalam dunia manga dan anime “One Piece” karya Eiichiro Oda. Di balik visualnya yang sederhana, bendera ini merepresentasikan perjuangan para karakternya melawan ketidakadilan, korupsi, dan sistem kekuasaan yang opresif. Kapten Monkey D. Luffy dan krunya berlayar untuk mencari kebebasan mutlak, menolak tunduk pada Pemerintah Dunia yang korup.

Transformasi bendera “One Piece” menjadi simbol protes dapat dilihat dalam beberapa gerakan pro-demokrasi di Asia, terutama di Thailand. Pada tahun 2020, saat demonstrasi besar-besaran menuntut reformasi monarki dan pemerintahan, bendera ini mulai muncul di antara kerumunan. Para pengunjuk rasa mengibarkannya bersama bendera nasional dan spanduk lainnya, mengirimkan pesan bahwa mereka adalah “bajak laut” yang berjuang untuk keadilan dan kebebasan. Efektivitas bendera “One Piece” sebagai simbol protes terletak pada beberapa faktor: Identitas Bersama: Serial ini memiliki basis penggemar global yang sangat besar. Menggunakan simbol dari “One Piece” menciptakan rasa solidaritas dan identitas bersama di antara para pengunjuk rasa, terlepas dari latar belakang sosial atau politik mereka Di Indonesia aksi bendera ini terlihat pada aksi besar menentang DPR RI dan menuntut Pengesahan RUU Perampasan asset sebagai senjata menekan korupsi . Pesan yang Jelas: Bendera ini secara inheren mewakili perjuangan melawan tirani dan pencarian kebebasan Namun diantara aksi masa tetap tidak meninggalkan sang dwi warna yaitu merah putih, artinya mereka sangat paham dan mengerti bahwa merah putih adalah saty – satunya bendera negara yang mereka cintai dan merekapun tidak ingin berganti negara maupun dbendera pusaka namun hanya memprotes para elit penguasa yang mengatasnamakan rakyat untuk korupsi. Ini adalah pesan yang universal dan mudah dipahami, tidak memerlukan penjelasan yang rumit.Resonansi Emosional: Bagi para penggemar, bendera ini membangkitkan nostalgia dan ikatan emosional yang kuat. Mengibarkannya di tengah protes tidak hanya menjadi tindakan politik, tetapi juga pernyataan pribadi yang penuh makna.

Meskipun Sibolisasi ini mirip diberbagai negara yang menyuarakan protes terhadap Lembaga perwakilan namun hasil di beberapa negara serta penaganannya berbeda-beda, DiIndonesia penggunaan bedera ini dilarang jkeras dengan ancaman menyamakan dengan aksi makar, sesuai UU no 24 tahun 2009.padahal dalam beberapa kesempatan seringkali kita melihat di sebuah pertandingan bola adanya bendera sporter, pada konser music adanga bendera komunitas serta pertemuan organisasi ada bendera dan panji organisasi tersebut.

Sebenarnya ketakutan makar tersebut adalah sesuatu yang berlebihan dikarenakan ketakutan dominasi politik yang biasa di genggam oleh penguasa selama ini kemudian dicoba diprotes oleh para generasi milinial yang merupakan populasi terbesar dari suara pemilu saat ini. Aksi massa yang sempat merebak antara Indonesia dan Nepal membuahkan hasil yang berbeda diindonesia evektifitasnya hanya sebagian sementara Nepal berhasil menggulingkan rejim. Kenapa hal ini terjadi Nampak untu Nepal Gerakan ini lebih murni dan lebih sesuai dengan karakter one peace sebenarnya, hal ini tercermin saat masa berhasil menerobos Gedung penguasa mereka membongkar brankas uang dan menyebarkanya ke jalanan dari lantai atas dan tampak masa demo acuh dengan uang tersebut dikarenakan tujuan utama aksi mereka adalah memprotes pemerintahan korup bukan merampas uang.

Hal ini berbeda dengan indosnesiua yang banyak diwarnai aksi penjarahan terhadap beberapa barang dan fasilitas umum yang berakhir dengan tujuan menjual demi mendapatkan uang . sehingga tujuan utama dari aksi ini gagal mendapatkan dukungan masyarakat apalagi dalam aksinya disinyalir terpengaruh minuman keras. Jalan Panjang mendapatkan kemapanan berfikir tentang demokrasi sebagai pilihan mayoritas rakyat Indonesia akan terus menjadi wacana sesuai dinamika politik Indonesia berkembang baik dilingkungan internal maupun didunia intetrnasional dan semoga protes tersebut menjadi pengingat bagi para elit penguasa bahwa prilaku mereka diawasi oleh rakyat, dan pada titik tetrtentu rakyat akan melawan dominasi kekuasan jika dianggap tidan adil. Sebgaimana tokoh oposisi Myanmar pernah berkata “ Tidak mudah suatu bangsa melepaskan diri dari racun ketakutan yang telah mengakar namun keberanian akan bangkit karena takut bukanlah sifat manusia yang beradab” (Aung san Su Kyi).

Referensi

From Pirates to Protesters: ‘One Piece’ Fans and the Fight for Democracy” – The Washington Post

How ‘One Piece’ Became a Symbol of Protest in Thailand” – Coconuts Bangkok

The Role of Anime and Manga in Political Protest” – The Diplomat

Undang-undang Ri No 24 tahun 2009 tentang Bendera,Bahasa dan Lambang Negara serta Lagu Kebangsaan

 

Penulis adalah seorang dosen UMPP (Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan)

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

selengkapnya
Dana DesaOpiniPemberantasan Korupsi

JANGAN ADA KADES TERPENJARA LAGI, KURANGNYA PENGAWASAN JADI SOROTAN: CAMAT HARUS MAKSIMAL JALANKAN TUGAS

camat

Warta Desa, Pekalongan, 12-juni- 2025 – Maraknya kasus kepala desa (kades) yang terjerat hukum akibat penyalahgunaan wewenang, terutama dalam pengelolaan dana desa, menimbulkan keprihatinan. Kondisi ini menunjukkan lemahnya pengawasan dan pembinaan dari camat sebagai perpanjangan tangan bupati di wilayah kecamatan.

Padahal, sesuai Permendagri No. 84 Tahun 2015 dan PP No. 17 Tahun 2018, camat memiliki peran sentral dalam membina, mengawasi, dan mengevaluasi kinerja pemerintahan desa. Tugas pokok camat kepada desa tidak hanya administratif, namun juga menyangkut moral kepemimpinan dan pencegahan potensi penyimpangan.

Di antara tugas penting camat yaitu melakukan pembinaan administrasi pemerintahan desa, mengoordinasikan pembangunan, melakukan evaluasi laporan pertanggungjawaban kepala desa, dan turut mengawasi penggunaan Dana Desa serta Alokasi Dana Desa (ADD). Camat juga berperan sebagai fasilitator dan mediator ketika terjadi konflik antara kepala desa dengan Badan Permusyawaratan Desa (BPD) atau warga.

Kurangnya pengawasan berjenjang dan minimnya evaluasi menyeluruh kerap membuat kesalahan-kesalahan kepala desa tidak terdeteksi sejak dini. Maka, diperlukan keseriusan dan intensitas camat dalam menjalankan fungsi pengawasan serta memberikan rekomendasi yang objektif kepada bupati/walikota atas hasil evaluasi kinerja kepala desa.

Jika camat menjalankan tugas secara maksimal, potensi penyimpangan dapat ditekan, dan tidak akan ada lagi kepala desa yang harus mendekam di balik jeruji besi. Sudah saatnya pengawasan berjalan efektif demi terciptanya pemerintahan desa yang bersih, transparan, dan akuntabel. (Rohadi)

QR Code

Terkait
Warga Jetak Kidul Pertanyakan Kejanggalan Hasil Audit Inspektorat Terkait Dugaan Penyalahgunaan Dana Desa

Warta Desa, Pekalongan, 11 Juni 2025. -  Sejumlah warga Desa Jetak Kidul, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, mempertanyakan kejanggalan dalam Laporan Read more

Kepala Desa Kesesi Ditetapkan sebagai Tersangka Korupsi Dana Desa 2024, Negara Rugi Hampir Rp1 Miliar

Warta Desa, Pekalongan, 10 Juni 2025 – Kejaksaan Negeri Kabupaten Pekalongan resmi menetapkan Kepala Desa Kesesi, berinisial JI, sebagai tersangka dalam Read more

Ribuan Warga Desa Sijambe Tuntut Sekdes Mundur, Diduga Terlibat Penyelewengan Dana Desa

Warta Desa, Pekalongan, 23 Mei 2025 – Ribuan warga Desa Sijambe, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, menggelar aksi damai pada Jumat (23/05), Read more

Diduga Tilep Dana Desa Rp230 Juta, Sekdes Sijambe Dievakuasi Polisi Usai Audiensi Ricuh Balai Desa Mencekam, Warga Geram Sikap Arogan Sekretaris Desa

Warta Desa, Pekalongan, 08/05/2025. -  Ketegangan memuncak di Balai Desa Sijambe, Kecamatan Wonokerto, Kabupaten Pekalongan, pada Selasa malam (6/5/2025). Audiensi warga Read more

selengkapnya
Opini

Koperasi Desa Merah Putih: Menyemai Kembali Kesejahteraan Rakyat dari Kebonagung

LURAH BONAGUNG

Oleh: Andi Kristiyanto, S.E., M.H.

DESA Kebonagung, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, Indonesia, negeri yang kaya akan sumber daya alam dan keragaman budaya, memiliki sejarah panjang dalam praktik gotong royong dan kebersamaan. Semangat ini terwujud salah satunya dalam bentuk koperasi, sebuah entitas ekonomi yang berlandaskan pada prinsip kekeluargaan dan bertujuan untuk meningkatkan kesejahteraan anggotanya. Namun, perjalanan koperasi di Tanah Air tidak selalu mulus. Gelombang modernisasi dan dinamika ekonomi seringkali menggerus eksistensi koperasi, meninggalkan jejak keprihatinan akan hilangnya pilar ekonomi kerakyatan ini.

Di tengah tantangan tersebut, secercah harapan kembali hadir melalui inisiasi Bapak Presiden Prabowo Subianto dengan program Koperasi Desa Merah Putih (KDMP). Sebuah visi yang membangkitkan kembali semangat berkoperasi sebagai fondasi kesejahteraan rakyat, khususnya di tingkat desa. Program ini bukan sekadar revitalisasi koperasi yang ada, melainkan sebuah gerakan strategis untuk membentuk koperasi-koperasi desa yang kuat, mandiri, dan berdaya saing, yang mampu menjadi motor penggerak ekonomi lokal.

Sebagai Kepala Desa Kebonagung, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan, saya menyambut dengan antusias dan optimisme yang tinggi kehadiran KDMP ini. Kebonagung, sebuah desa yang memiliki potensi sumber daya dan semangat gotong royong yang kuat, kini memiliki wadah yang lebih terstruktur dan terarah untuk mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui koperasi. Kabar gembira pun menyelimuti desa kami pada tanggal 16 Mei 2025, dengan terdaftarnya Koperasi Desa Merah Putih Kebonagung di Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia (Kemenkumham) dan diterbitkannya Akta Hukum Usaha (AHU). Sebuah tonggak sejarah yang menandai langkah awal Kebonagung dalam merajut kembali asa kesejahteraan melalui kekuatan kolektif.

Proses pendirian KDMP Kebonagung ini tidak lepas dari dedikasi dan kerja keras berbagai pihak, termasuk dukungan penuh dari notaris terkemuka, Dr. Rindiana Larasati, S.H., M.Kn., yang telah mengesahkan akta pendirian koperasi ini. Kepercayaan dan legitimasi hukum yang telah kami peroleh ini menjadi modal berharga untuk melangkah lebih jauh dalam memberdayakan masyarakat Kebonagung.

Membangkitkan Kembali Ruh Koperasi: Belajar dari Masa Lalu, Menatap Masa Depan
Sejarah koperasi di Indonesia mencatat pasang surut yang perlu kita jadikan pelajaran berharga. Pada masa-masa kejayaannya, koperasi mampu menjadi tulang punggung ekonomi masyarakat, terutama di sektor pertanian dan kerajinan. Namun, berbagai faktor seperti manajemen yang kurang profesional, persaingan dengan lembaga keuangan modern, dan kurangnya adaptasi terhadap perubahan zaman, menyebabkan banyak koperasi mengalami kemunduran bahkan menghilang tanpa jejak.

Program KDMP hadir bukan untuk mengulang kesalahan masa lalu, melainkan untuk membangun koperasi desa yang modern, transparan, dan akuntabel. Belajar dari kegagalan sebelumnya, KDMP mengedepankan prinsip-prinsip tata kelola yang baik, pemanfaatan teknologi, dan pengembangan sumber daya manusia yang kompeten. Dengan demikian, koperasi desa diharapkan mampu bersaing secara sehat dan memberikan manfaat yang optimal bagi anggotanya.

Di Kebonagung, kami memiliki keyakinan kuat bahwa KDMP akan menjadi lokomotif baru bagi peningkatan kesejahteraan masyarakat. Potensi desa kami yang meliputi sektor pertanian, UMKM, dan potensi sumber daya lokal lainnya, akan diintegrasikan dan dikembangkan melalui wadah koperasi ini. Dengan semangat gotong royong yang telah mendarah daging, kami yakin bahwa KDMP Kebonagung akan tumbuh menjadi koperasi yang kuat dan memberikan kontribusi nyata bagi kemajuan desa.

Visi dan Program KDMP Kebonagung: Menuju Masyarakat yang Lebih Sejahtera
Sebagai Kepala Desa Kebonagung, saya telah merancang beberapa program strategis yang akan diimplementasikan melalui KDMP Kebonagung. Program-program ini dirancang untuk menjawab kebutuhan riil masyarakat dan memanfaatkan potensi lokal secara optimal. Beberapa program utama yang telah kami siapkan antara lain:

Pertama,  Penguatan Sektor Pertanian: Kebonagung memiliki lahan pertanian yang subur dan menjadi sumber penghidupan utama bagi sebagian besar masyarakat. Melalui KDMP, kami akan membentuk kelompok-kelompok tani yang akan mendapatkan akses lebih mudah terhadap modal usaha, pelatihan pertanian modern, bibit unggul, pupuk berkualitas, serta pendampingan dalam pemasaran hasil panen. Koperasi akan berperan sebagai agregator dan fasilitator, memastikan petani mendapatkan harga yang adil dan pasar yang berkelanjutan. Kami juga akan mendorong diversifikasi produk pertanian dan pengolahan hasil panen menjadi produk bernilai tambah, sehingga meningkatkan pendapatan petani secara signifikan.

Kedua,  Pengembangan Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM): Sektor UMKM di Kebonagung memiliki potensi yang besar namun seringkali terkendala oleh keterbatasan modal, akses pasar, dan keterampilan manajemen. KDMP akan hadir sebagai solusi dengan menyediakan pembiayaan yang terjangkau, pelatihan kewirausahaan, pendampingan bisnis, serta membantu dalam pemasaran produk secara online maupun offline. Kami akan mendorong pembentukan klaster-klaster UMKM berdasarkan jenis usaha, sehingga tercipta sinergi dan efisiensi dalam produksi dan pemasaran. Produk-produk unggulan Kebonagung, seperti kerajinan tangan, makanan olahan, dan produk lokal lainnya, akan dipromosikan melalui jaringan koperasi dan platform digital.

Ketiga,  Simpan Pinjam yang Berkeadilan: Salah satu fungsi utama koperasi adalah menyediakan layanan simpan pinjam bagi anggotanya. KDMP Kebonagung akan mengelola layanan ini secara transparan dan berkeadilan, dengan suku bunga yang kompetitif dan persyaratan yang mudah diakses oleh masyarakat. Layanan simpan pinjam ini akan membantu masyarakat dalam memenuhi kebutuhan modal usaha, biaya pendidikan, kesehatan, maupun kebutuhan konsumtif lainnya, tanpa terjerat oleh praktik rentenir yang merugikan. Kami akan mengedepankan prinsip kehati-hatian dalam pengelolaan dana dan memastikan keberlanjutan layanan ini bagi seluruh anggota.

Keempat,  Pengembangan Potensi Lokal dan Pariwisata: Kebonagung memiliki potensi sumber daya alam dan budaya yang dapat dikembangkan menjadi daya tarik wisata. Melalui KDMP, kami akan menginisiasi program-program yang mendukung pengembangan ekowisata, wisata budaya, dan wisata kuliner. Koperasi akan berperan dalam pengelolaan homestay, penyediaan layanan transportasi wisata, pengembangan produk-produk suvenir lokal, serta promosi potensi wisata Kebonagung. Dengan demikian, sektor pariwisata diharapkan dapat menjadi sumber pendapatan baru bagi masyarakat dan meningkatkan perekonomian desa secara keseluruhan.

Kelima,  Peningkatan Kualitas Sumber Daya Manusia: Keberhasilan KDMP sangat bergantung pada kualitas sumber daya manusia, baik pengurus, pengelola, maupun anggota. Oleh karena itu, kami akan memprioritaskan program-program pelatihan dan pendidikan yang berkelanjutan. Pelatihan akan diberikan dalam berbagai aspek, mulai dari manajemen koperasi, keuangan, pemasaran, teknologi informasi, hingga keterampilan teknis sesuai dengan bidang usaha anggota. Kami juga akan mendorong partisipasi aktif anggota dalam pengambilan keputusan dan pengelolaan koperasi, sehingga tercipta rasa memiliki dan tanggung jawab bersama.

Keenam, Pemanfaatan Teknologi Digital: Di era digital ini, pemanfaatan teknologi menjadi kunci untuk meningkatkan efisiensi dan daya saing koperasi. KDMP Kebonagung akan mengadopsi teknologi informasi dalam berbagai aspek operasional, mulai dari sistem administrasi keanggotaan, pengelolaan keuangan, pemasaran online, hingga platform komunikasi dengan anggota. Pemanfaatan teknologi akan memudahkan anggota dalam mengakses layanan koperasi, meningkatkan transparansi, dan memperluas jangkauan pasar.

Ketujuh,  Kemitraan Strategis: Untuk mempercepat pertumbuhan dan memperluas dampak positif KDMP Kebonagung, kami akan menjalin kemitraan strategis dengan berbagai pihak, termasuk pemerintah daerah, lembaga keuangan, perguruan tinggi, organisasi masyarakat, dan pelaku usaha lainnya. Kemitraan ini akan membuka akses terhadap sumber daya, pengetahuan, dan jaringan yang lebih luas, sehingga memperkuat posisi KDMP Kebonagung dalam ekosistem ekonomi lokal dan regional.

Harapan dan Keyakinan: Koperasi sebagai Pilar Kesejahteraan Masa Depan. Dengan terdaftarnya KDMP Kebonagung di Kemenkumham, sebuah babak baru dalam pembangunan ekonomi desa kami telah dimulai. Kami memiliki harapan besar bahwa koperasi ini akan menjadi wadah yang efektif bagi masyarakat Kebonagung untuk meningkatkan kesejahteraan secara kolektif. Semangat gotong royong, yang merupakan nilai luhur bangsa kita, akan menjadi landasan utama dalam setiap langkah dan program yang akan kami jalankan.

Kami menyadari bahwa membangun koperasi yang kuat dan berkelanjutan membutuhkan waktu, kerja keras, dan komitmen dari seluruh anggota masyarakat. Namun, dengan visi yang jelas, program yang terarah, dan semangat kebersamaan yang tinggi, kami yakin bahwa KDMP Kebonagung akan mampu mewujudkan cita-cita masyarakat untuk hidup lebih sejahtera.

Program Koperasi Desa Merah Putih yang diinisiasi oleh Bapak Presiden Prabowo Subianto adalah sebuah langkah visioner yang patut kita dukung bersama. Ini adalah momentum yang tepat untuk membangkitkan kembali ruh koperasi sebagai soko guru ekonomi kerakyatan. Dari Kebonagung, kami ingin memberikan contoh nyata bahwa dengan semangat gotong royong dan pengelolaan yang profesional, koperasi desa dapat menjadi kekuatan ekonomi yang signifikan dan memberikan kontribusi nyata bagi kesejahteraan masyarakat.
Kami mengajak seluruh masyarakat Kebonagung untuk bergabung dan berpartisipasi aktif dalam memajukan KDMP ini. Mari kita jadikan koperasi ini sebagai milik bersama, sebagai wadah untuk saling membantu, saling menguatkan, dan bersama-sama meraih kesejahteraan yang kita impikan.

Ke depan, kami berharap KDMP Kebonagung tidak hanya menjadi kebanggaan masyarakat desa kami, tetapi juga menjadi inspirasi bagi desa-desa lain di seluruh Indonesia. Kami ingin membuktikan bahwa dengan koperasi yang kuat, desa dapat berdaya, masyarakat sejahtera, dan ekonomi bangsa semakin maju.

Semoga Allah SWT senantiasa memberikan kemudahan dan keberkahan dalam setiap langkah kita mewujudkan kesejahteraan masyarakat melalui Koperasi Desa Merah Putih Kebonagung. (.*.)

 

Penulis adalah Kepala Desa Kebonagung, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan

 

QR Code

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

selengkapnya
Opini

Muhammadiyah dan Pendidikan: Refleksi di Hari Pendidikan Nasional 2025

Untitled

Oleh : H. Tjahyono, M. Pd

“Orang Islam jangan hanya menjadi penonton dalam arus kemajuan. Kita harus menjadi pelaku, dan pendidikan adalah kuncinya.”

— KH Ahmad Dahlan–

Setiap tanggal 2 Mei, bangsa Indonesia memperingati Hari Pendidikan Nasional sebagai penghormatan terhadap tokoh pelopor pendidikan, Ki Hadjar Dewantara. Bagi Muhammadiyah, momen ini juga merupakan ajang refleksi atas kontribusi nyata organisasi dalam bidang pendidikan nasional sejak lebih dari satu abad lalu.

Dari mendirikan sekolah-sekolah modern pada masa penjajahan, hingga mengelola ratusan perguruan tinggi. Hari ini, Muhammadiyah tetap konsisten memajukan pendidikan yang berkemajuan dan inklusif, selaras dengan semangat tajdid yang diwariskan KH Ahmad Dahlan.

Awal Mula Pendidikan Muhammadiyah Didirikan pada 18 November 1912, Muhammadiyah lahir dari keprihatinan KH. Ahmad Dahlan terhadap keterbelakangan umat Islam, terutama dalam hal pendidikan. Saat itu, pesantren masih menjadi satu-satunya model pendidikan bagi umat Islam, sementara Belanda mendominasi sistem pendidikan modern.

KH. Ahmad Dahlan menawarkan alternatif  pendidikan Islam yang memadukan nilai agama dan ilmu pengetahuan umum. Maka lahirlah sekolah Muhammadiyah pertama pada tahun 1911 (dua tahun sebelum Muhammadiyah secara resmi berdiri), yang kelak menjadi cikal bakal ribuan lembaga pendidikan Muhammadiyah di Indonesia.

Konsep Pendidikan KH. Ahmad Dahlan : Integratif dan Progresif

KH. Ahmad Dahlan memiliki pandangan yang revolusioner untuk zamannya. Beliau tidak melihat agama dan ilmu pengetahuan sebagai dua hal yang bertentangan. Sebaliknya, beliau percaya bahwa keduanya harus bersatu dalam proses pendidikan.

“Pendidikan itu harus mengajarkan manusia untuk berpikir dan bekerja, bukan hanya menghafal,” ujarnya dalam salah satu pengajian.

Prinsip dasar pendidikannya meliputi:

* Integrasi ilmu agama dan ilmu dunia

* Pendidikan berbasis akhlak dan amal nyata

* Pemberdayaan masyarakat miskin dan marjinal

* Adaptif terhadap kemajuan zaman

Pendidikan Jalan Membentuk Peradaban

Sejak dahulu, pendidikan adalah kunci dari lahirnya peradaban-peradaban besar dunia. Dalam Islam, wahyu pertama yang turun adalah perintah membaca (iqra’), sebuah simbol bahwa ilmu adalah pondasi utama kebangkitan umat. KH Ahmad Dahlan memahami hal ini dengan sangat dalam. Maka pendidikan dalam Muhammadiyah tidak hanya bertujuan mencetak individu sukses secara pribadi, tetapi juga mencetak pemikir, penggerak, dan pemimpin yang sanggup membangun masyarakat berkemajuan.

Melalui pendidikan, Muhammadiyah mendorong terbentuknya masyarakat yang adil, terbuka, dan beradab. Sekolah-sekolah Muhammadiyah sejak dini mengajarkan nilai toleransi, gotong royong, dan kecintaan terhadap kebenaran dan keilmuan. Inilah yang menjadi ciri khas pendidikan Muhammadiyah sebagai jalan membentuk peradaban Islam yang tercerahkan dan membumi.

Peran Strategis Muhammadiyah dalam Dunia Pendidikan

Sejak awal berdiri hingga kini, pendidikan selalu menjadi core movement (gerakan inti) Muhammadiyah. Dalam berbagai situasi, termasuk masa krisis, Muhammadiyah tetap hadir melalui amal usaha pendidikan yang tidak hanya mencerdaskan, tapi juga mencerahkan.

Pendidikan Muhammadiyah:

* Mengedepankan kurikulum yang seimbang antara iman, ilmu, dan amal

* Menerapkan sistem manajemen modern dan akuntabel

* Mengembangkan karakter keislaman, kebangsaan, dan kepedulian sosial

Bahkan, selama pandemi COVID-19 lalu, Muhammadiyah tetap mampu menggerakkan pendidikan daring dan adaptif melalui Majelis Dikdasmen dan Majelis Dikti Litbang.

Grafik: Jumlah Amal Usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan (2025)

Distribusi Lembaga Pendidikan Muhammadiyah di Seluruh Indonesia (Sumber: Majelis Dikdasmen & Dikti PP Muhammadiyah, 2025)

Grafik: Jumlah Amal Usaha Muhammadiyah di Bidang Pendidikan (2025)

Dengan lebih dari 10.000 amal usaha pendidikan, Muhammadiyah menjadi penyelenggara pendidikan non-pemerintah terbesar di Indonesia.

Pesan untuk Generasi Z: Pendidikan adalah Jalan Perubahan

Generasi Z adalah generasi yang hidup di era internet, kecerdasan buatan, dan perubahan global yang cepat. Di tengah semua ini, pendidikan tetap menjadi kunci untuk bertahan dan melompat maju.

“Jadilah generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga peduli dan berakhlak. Pendidikan adalah tangga menuju perubahan, bukan hanya untuk diri sendiri, tapi juga untuk umat dan bangsa.” Prof. Haedar Nashir, Ketua Umum PP Muhammadiyah

Pesan untuk Generasi Z:

* Jangan puas hanya menjadi pengguna teknologi, tapi ciptakan solusi!

* Pelajari ilmu dengan niat ibadah, bukan sekadar karier

* Rawat nilai-nilai Islam dan kebangsaan dalam setiap langkah belajar

* Bangun semangat kolaborasi dan kepedulian sosial

Penutup: Estafet Pendidikan Muhammadiyah Ada di Tangan kita

Hari Pendidikan Nasional 2 Mei 2025 bukan sekadar seremoni, tetapi momentum untuk merenung dan menegaskan kembali bahwa pendidikan adalah kerja dakwah, kerja peradaban. Muhammadiyah telah membuktikan komitmennya selama lebih dari satu abad. Kini, estafet itu ada di tangan kita para pendidik, siswa, mahasiswa, dan kader-kader Muhammadiyah.

Mari lanjutkan jejak KH. Ahmad Dahlan dalam menjadikan pendidikan sebagai jalan perubahan: cerdas, beriman, dan membawa kemajuan bagi umat dan bangsa. (.*.)

 

Penulis adalah Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan

 

QR Code

 

Terkait
Muhammadiyah membangun bangsa berkarakter berkemajuan

Kedungwuni, Wartadesa. - Umat dan bangsa yang mempunyai karakter berkamajuan, selain berperilaku emas, juga tegas, berilmu, terampil, kreatif, inovatif, mandiri, Read more

Dahnil Anzar Simanjuntak: Jangan khawatir Pemuda Muhammadiyah dan Muhammadiyah dicap teroris

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku tak khawatir bila Pemuda Muhammadiyah dan Muhammadiyah dicap teroris Read more

Muhammadiyah mendorong Jokowi mengeluarkan kebijakan yang tegas jadi atau tidaknya FDS

Buaran, Wartadesa. - Muhammadiyah mendorong Jokowi untuk segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) atau kebijakan yang tegas, memutuskan jadi tidaknya full Read more

SMAM 12 Jakarta kunjungi Muhammadiyah Pencongan

Wiradesa, Wartadesa. - Ratusan siswa dan guru dari SMA Muhammadiyah (SMAM) 12 Jakarta, Rabu (18/04) mengunjungi tempat sejarah tarjih Muhammadiyah Read more

selengkapnya