close

Opini

Opini

Kepemimpinan Muhammadiyah: Manifesto Meritokrasi dan Estafet Ideologi

makruf

Oleh: Ma’ruf Syifa’

Muhammadiyah telah lama mengukuhkan dirinya sebagai organisasi modern yang memegang teguh prinsip profesionalisme. Dalam struktur kepemimpinan persyarikatan maupun Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), kekuasaan bukanlah komoditas yang bisa diwariskan melalui garis darah (monarki) ataupun ikatan nasabiyah. Kepemimpinan di Muhammadiyah adalah mandat yang diputuskan secara selektif berdasarkan kompetensi dan ketaatan pada kaidah organisasi.

Berikut adalah pilar utama sistem regenerasi Muhammadiyah yang berbasis pada kaderisasi unggul:

1. Membangun Sistem, Bukan Kultus Individu

Dalam ekosistem AUM, tongkat estafet kepemimpinan tidak diserahkan berdasarkan nama belakang atau hubungan kekerabatan. Muhammadiyah lebih mengandalkan warisan ideologis daripada warisan biologis. Pemimpin yang hebat tidak mendesain institusi agar bergantung pada karisma pribadinya. Sebaliknya, ia membangun prosedur, budaya organisasi, dan standar mutu yang kokoh. Efeknya, saat masa jabatan berakhir, institusi tetap berdiri tegak karena yang ditinggalkan adalah mekanisme yang sehat, bukan sekadar instruksi personal.

2. Meritokrasi: Kaderisasi sebagai “Uji Nyali”

Regenerasi di Muhammadiyah adalah hasil dari proses penyaringan yang ketat. Untuk menjadi seorang pemimpin, seorang kader harus melewati ujian ganda:

  • Ujian Integritas: Teruji secara moral dan kejujuran dalam berorganisasi.

  • Ujian Kompetensi: Memiliki kemampuan manajerial yang mumpuni dalam mengelola amal usaha serta loyalitas tanpa batas pada visi persyarikatan.

3. Periodesasi sebagai Antitesis KKN

Sebagai langkah konkret mengantisipasi kolusi, korupsi, dan nepotisme (KKN), Muhammadiyah secara ketat menerapkan sistem periodesasi jabatan. Batasan waktu ini memastikan tidak adanya penguasaan absolut oleh satu individu. Selesainya masa jabatan dipandang sebagai peluang untuk memberikan kesempatan kepada kader lain, menjamin estafet kepemimpinan tetap dinamis dan segar.

4. Keikhlasan Melepas Takhta

Ciri paling otentik dari pemimpin Muhammadiyah adalah kerelaan untuk menepi (khusnul khatimah dalam jabatan). Di organisasi ini, kekuasaan dianggap sebagai penugasan sementara, bukan hak milik abadi. Keberhasilan seorang pimpinan justru diukur ketika ia mampu mencetak pengganti yang lebih baik dari dirinya sendiri—seperti melesatkan “anak panah” (kader) yang mampu menjangkau sasaran lebih jauh dari yang pernah ia capai.

Intisari: Di Muhammadiyah, siapa pun dari latar belakang mana pun memiliki hak yang sama untuk memimpin, sejauh ia memenuhi syarat kompetensi dan integritas. Muhammadiyah membuktikan bahwa kepemimpinan yang hebat adalah tentang mempersiapkan masa depan, bukan sekadar mempertahankan masa jabatan. ***

Penulis adalah Pimpinan Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani (MPKSDI) Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan

Terkait
Muhammadiyah membangun bangsa berkarakter berkemajuan

Kedungwuni, Wartadesa. - Umat dan bangsa yang mempunyai karakter berkamajuan, selain berperilaku emas, juga tegas, berilmu, terampil, kreatif, inovatif, mandiri, Read more

Dahnil Anzar Simanjuntak: Jangan khawatir Pemuda Muhammadiyah dan Muhammadiyah dicap teroris

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Ketua Pemuda Muhammadiyah, Dahnil Anzar Simanjuntak mengaku tak khawatir bila Pemuda Muhammadiyah dan Muhammadiyah dicap teroris Read more

Muhammadiyah mendorong Jokowi mengeluarkan kebijakan yang tegas jadi atau tidaknya FDS

Buaran, Wartadesa. - Muhammadiyah mendorong Jokowi untuk segera mengeluarkan Peraturan Pemerintah (PP) atau kebijakan yang tegas, memutuskan jadi tidaknya full Read more

SMAM 12 Jakarta kunjungi Muhammadiyah Pencongan

Wiradesa, Wartadesa. - Ratusan siswa dan guru dari SMA Muhammadiyah (SMAM) 12 Jakarta, Rabu (18/04) mengunjungi tempat sejarah tarjih Muhammadiyah Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

EKSPLORASI BAHAN ALAM DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU: KELOR, PEGAGAN, DAN JINTAN HITAM

kelor pegagan jintan

Oleh: Apt. Fajrul Fhalaq Baso.,S.Farm.,M.Farm

Beberapa tahun terakhir, minat masyarakat terhadap bahan alam sebagai penunjang kesehatan terus meningkat. Di tengah tantangan penyakit kronis, tingginya biaya layanan kesehatan, serta kesadaran akan pentingnya keberlanjutan lingkungan, bahan alam kembali dipandang sebagai alternatif yang menjanjikan. Namun, pemanfaatan bahan alam tidak cukup hanya dilandasi oleh tradisi atau tren, tetapi memerlukan kerangka berpikir yang kokoh agar tidak terjebak pada klaim berlebihan. Di sinilah perspektif filsafat ilmu menjadi relevan.

Filsafat ilmu membantu kita memahami bagaimana pengetahuan tentang bahan alam dibangun, divalidasi, dan dimanfaatkan. Tiga pilar utamanya yakni ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang menjadi lensa penting untuk menilai secara utuh eksplorasi bahan alam dalam konteks kesehatan. Melalui pendekatan ini, Daun kelor, herba pegagan, dan jintan hitam tidak hanya dipahami sebagai tanaman obat, tetapi sebagai objek ilmiah yang harus dikaji secara rasional dan bertanggung jawab.

Dari Aspek ontologi, pertanyaan mendasar yang diajukan adalah: Apa hakikat bahan alam dalam konteks kesehatan? Daun kelor, herba pegagan, dan jintan hitam bukan sekadar tumbuhan, melainkan entitas biologis yang mengandung senyawa aktif dengan potensi farmakologis. Dalam ilmu farmasi, keberadaan senyawa bioaktif mempunyai aktivitas sebagai antioksidan, antiinflamasi, dan imunomodulator menjadi dasar untuk menilai potensi terapeutiknya. Pendekatan ontologis menempatkan bahan alam sebagai bagian dari sistem biologis yang kompleks, bukan sebagai “obat ajaib” yang berdiri sendiri. Ontologi juga mengingatkan bahwa bahan alam memiliki keterbatasan. Kandungan senyawa aktif dapat bervariasi tergantung varietas, lingkungan tumbuh, dan proses pengolahan. Kesadaran ini penting agar masyarakat tidak memandang bahan alam secara simplistis, melainkan sebagai objek ilmiah yang memerlukan pemahaman mendalam.

Aspek epistemologi kemudian menjawab pertanyaan: Bagaimana pengetahuan tentang bahan alam diperoleh dan diuji kebenarannya? Dalam konteks kesehatan modern, pengetahuan tidak lagi cukup bersandar pada pengalaman turun-temurun, tetapi harus diperkuat melalui penelitian ilmiah yang sistematis, mulai dari riset dasar, uji laboratorium/uji praklinik, produksi hingga uji klinik. Banyak penelitian mutakhir telah mengkaji potensi daun kelor dalam pengendalian penyakit metabolik, herba pegagan dalam kesehatan saraf dan penyembuhan luka, serta jintan hitam dalam modulasi sistem imun. Namun, epistemologi juga mengajarkan sikap kritis. Tidak semua hasil penelitian dapat langsung digeneralisasi. Perbedaan metode, dosis, dan populasi penelitian menuntut kehati-hatian dalam menarik kesimpulan. Di sinilah peran tenaga kefarmasian menjadi strategis, yaitu menerjemahkan hasil riset menjadi informasi yang akurat, rasional, dan mudah dipahami masyarakat. Epistemologi yang baik mencegah terjadinya disinformasi kesehatan yang sering muncul dalam promosi produk herbal.

Aspek ketiga, aksiologi, berbicara tentang nilai dan tujuan dari pemanfaatan bahan alam. Untuk apa pengetahuan ini digunakan, dan siapa yang diuntungkan? Dalam perspektif kesehatan berkelanjutan, eksplorasi daun kelor, herba pegagan, dan jintan hitam seharusnya diarahkan pada kemaslahatan publik, bukan semata kepentingan komersial. Pemanfaatan yang tepat dapat mendukung upaya promotif dan preventif, mengurangi ketergantungan pada obat impor, serta memperkuat sistem kesehatan berbasis komunitas. Aksiologi juga berkaitan dengan etika. Penggunaan bahan alam harus mempertimbangkan aspek keamanan, keadilan akses, dan kelestarian lingkungan. Eksploitasi berlebihan tanpa memperhatikan keberlanjutan justru akan merugikan generasi mendatang. Dalam hal ini, prinsip kehati-hatian dan tanggung jawab sosial menjadi nilai yang tidak terpisahkan dari praktik farmasi bahan alam.

Dari sudut pandang farmasi, integrasi ketiga aspek filsafat ilmu tersebut sangat penting. Farmasi tidak hanya berbicara tentang formulasi dan khasiat, tetapi juga tentang rasionalitas penggunaan obat. Bahan alam yang dieksplorasi tanpa kerangka ontologi, epistemologi, dan aksiologi yang jelas berisiko menimbulkan kesalahan penggunaan dan harapan yang tidak realistis di masyarakat. Lebih jauh, pendekatan filsafat ilmu membantu menjembatani ilmu pengetahuan dan kebutuhan nyata masyarakat. Tanaman kelor yang mudah dibudidayakan, pegagan yang tumbuh luas, serta jintan hitam yang telah lama dikenal lintas budaya, memiliki potensi besar jika dikembangkan dengan pendekatan ilmiah yang beretika. Pemanfaatannya dapat menjadi bagian dari strategi kesehatan berkelanjutan yang mengedepankan pencegahan, kemandirian, dan pemberdayaan.

Pada akhirnya, eksplorasi bahan alam bukan sekadar persoalan “alami” atau “modern”, akan tetapi ini adalah persoalan cara berpikir. Filsafat ilmu mengajarkan bahwa ilmu yang baik adalah ilmu yang memahami hakikat objeknya, menggunakan metode yang dapat dipertanggungjawabkan, serta diarahkan untuk kemanfaatan manusia. Dalam kerangka inilah kelor, pegagan, dan jintan hitam menemukan maknanya, bukan hanya sebagai tanaman obat, tetapi sebagai bagian dari ikhtiar ilmiah menuju kesehatan yang berkelanjutan dan bermartabat. ***

Penulis adalah Mahasiswa Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta. Dosen D-III Farmasi STIKes Salewangang Maros

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

PENGEMBANGAN MODEL KONSELING KEFARMASIAN BERBASIS MOTIVATIONAL INTERVIEWING DAN BEHAVIORAL CHANGE TERHADAP LUARAN KLINIK DAN HUMANISTIK PASIEN HIV/AIDS

dokkes

Oleh: Ipan Supriatna

Pasien HIV/AIDS merupakan kelompok dengan kebutuhan pelayanan kesehatan yang kompleks, tidak hanya dari aspek klinik tetapi juga aspek psikologis, sosial, dan kualitas hidup. Terapi antiretroviral (ARV) yang harus dikonsumsi seumur hidup menuntut tingkat kepatuhan yang tinggi agar dapat menekan viral load, meningkatkan jumlah CD4, serta mencegah terjadinya resistensi obat. Namun, dalam praktiknya, berbagai hambatan seperti efek samping obat, kelelahan terapi, stigma sosial, dan kurangnya pemahaman pasien sering kali menyebabkan ketidakpatuhan terhadap pengobatan.

Dalam konteks tersebut, peran apoteker tidak lagi terbatas pada penyediaan obat, melainkan berkembang sebagai tenaga kesehatan yang memiliki peran strategis dalam memberikan konseling kefarmasian yang berfokus pada pasien (patient-centered care). Konseling kefarmasian yang efektif diharapkan mampu meningkatkan pemahaman pasien terhadap terapinya, membangun motivasi internal, serta mendorong perubahan perilaku yang berkelanjutan dalam menjalani pengobatan ARV.

Salah satu pendekatan komunikasi yang dinilai efektif dalam meningkatkan motivasi dan kepatuhan pasien adalah Motivational Interviewing (MI). MI merupakan pendekatan konseling kolaboratif yang berfokus pada eksplorasi dan penguatan motivasi intrinsik individu untuk berubah. Pendekatan ini menekankan empati, refleksi, serta penghargaan terhadap otonomi pasien, sehingga sangat relevan diterapkan pada pasien HIV/AIDS yang sering mengalami konflik internal, ambivalensi, dan tekanan psikososial.

Selain MI, konsep Behavioral Change atau perubahan perilaku juga menjadi landasan penting dalam pengembangan model konseling kefarmasian. Perubahan perilaku kesehatan tidak terjadi secara instan, melainkan melalui tahapan yang melibatkan kesadaran, niat, tindakan, dan pemeliharaan perilaku. Dengan mengintegrasikan prinsip-prinsip perubahan perilaku ke dalam konseling kefarmasian, apoteker dapat membantu pasien HIV/AIDS untuk secara bertahap membangun perilaku patuh minum obat, menjaga pola hidup sehat, serta berkomitmen terhadap terapi jangka panjang.

Pengembangan model konseling kefarmasian berbasis Motivational Interviewing dan Behavioral Change dilakukan melalui pendekatan sistematis yang mencakup identifikasi kebutuhan pasien, perumusan struktur sesi konseling, serta penentuan indikator luaran klinik dan humanistik. Model ini dirancang agar mudah diterapkan oleh apoteker di fasilitas pelayanan kesehatan, baik di rumah sakit maupun layanan kesehatan primer, dengan tetap memperhatikan karakteristik pasien HIV/AIDS.

Luaran klinik yang menjadi fokus dalam pengembangan model ini meliputi tingkat kepatuhan penggunaan ARV, perubahan nilai CD4, penekanan viral load, serta pengurangan kejadian efek samping obat yang tidak terkelola dengan baik. Sementara itu, luaran humanistik mencakup kualitas hidup pasien, tingkat kepuasan terhadap pelayanan kefarmasian, kepercayaan diri dalam menjalani terapi, serta penurunan beban psikologis terkait penyakit dan pengobatan.

Integrasi pendekatan MI dan Behavioral Change dalam konseling kefarmasian diharapkan mampu menciptakan hubungan terapeutik yang lebih kuat antara apoteker dan pasien. Melalui komunikasi yang empatik, reflektif, dan berorientasi pada tujuan pasien, apoteker dapat membantu pasien HIV/AIDS menemukan makna personal dari pengobatan yang dijalani, sehingga kepatuhan tidak lagi dipandang sebagai kewajiban, melainkan sebagai kebutuhan yang disadari.

Pengembangan model konseling ini tidak hanya berkontribusi terhadap peningkatan luaran klinik pasien HIV/AIDS, tetapi juga memperkuat peran apoteker sebagai tenaga kesehatan yang berorientasi pada pelayanan holistik. Dengan pendekatan yang terstruktur dan berbasis bukti, model ini diharapkan dapat menjadi acuan dalam praktik konseling kefarmasian serta mendukung peningkatan mutu pelayanan farmasi klinik di Indonesia.

Kesimpulan

Pengembangan model konseling kefarmasian berbasis Motivational Interviewing dan Behavioral Change memiliki potensi besar dalam meningkatkan luaran klinik dan humanistik pasien HIV/AIDS. Pendekatan ini memungkinkan apoteker untuk berperan aktif dalam membangun motivasi, mengatasi hambatan kepatuhan, serta mendorong perubahan perilaku pasien secara berkelanjutan. Melalui konseling yang empatik, terstruktur, dan berfokus pada pasien, model ini diharapkan dapat meningkatkan keberhasilan terapi ARV, kualitas hidup pasien, serta mutu pelayanan kefarmasian secara keseluruhan. Model konseling ini juga berpeluang menjadi dasar pengembangan intervensi kefarmasian yang lebih inovatif dan kontekstual dalam penatalaksanaan HIV/AIDS. ***

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Farmasi, Program Studi Doktoral Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Potensi Hair Tonic Herbal Berbasis Ekstrak Daun Jambu Biji dan Daun Kelor: Dari Karakterisasi Ekstrak hingga Uji Klinis

ft

Oleh: Reski Mulia

Kebutuhan masyarakat akan produk perawatan rambut yang aman, alami, dan efektif terus meningkat seiring dengan meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan dan efek samping bahan kimia sintetis. Salah satu solusi yang kini banyak dikembangkan adalah hair tonic berbasis bahan herbal, yang memanfaatkan kekayaan hayati Indonesia. Dua tanaman yang memiliki potensi besar dalam perawatan rambut adalah daun jambu biji (Psidium guajava L.) dan daun kelor (Moringa oleifera).

Daun jambu biji dikenal kaya akan senyawa flavonoid, tanin, dan antioksidan yang berperan dalam menghambat kerontokan rambut serta menjaga kesehatan kulit kepala. Sementara itu, daun kelor mengandung vitamin, mineral, asam amino esensial, dan senyawa bioaktif yang mampu menutrisi akar rambut, merangsang pertumbuhan rambut, serta meningkatkan kekuatan helai rambut. Kombinasi kedua ekstrak ini berpotensi menghasilkan sediaan hair tonic herbal yang efektif dan aman digunakan secara jangka panjang.

Tahap awal pengembangan hair tonic herbal ini diawali dengan proses karakterisasi ekstrak, meliputi penentuan sifat fisik dan kimia ekstrak, uji kandungan senyawa aktif, serta aktivitas antioksidan. Karakterisasi ini bertujuan untuk memastikan kualitas, konsistensi, dan potensi biologis ekstrak daun jambu biji dan daun kelor sebagai bahan aktif utama.

Selanjutnya dilakukan optimasi formula, yaitu penentuan komposisi terbaik antara ekstrak, pelarut, serta bahan pendukung lainnya agar diperoleh sediaan hair tonic yang stabil, nyaman digunakan, dan memiliki daya serap yang baik pada kulit kepala. Optimasi ini juga mempertimbangkan aspek organoleptik seperti warna, aroma, dan tekstur agar produk dapat diterima dengan baik oleh konsumen.

Aspek stabilitas sediaan menjadi tahapan penting berikutnya, untuk memastikan bahwa hair tonic tetap aman dan efektif selama masa penyimpanan. Uji stabilitas dilakukan dengan berbagai kondisi suhu dan waktu, guna menilai perubahan fisik, kimia, serta mikrobiologis dari produk.

Sebagai tahap akhir, dilakukan uji klinis untuk mengevaluasi keamanan dan efektivitas hair tonic herbal pada relawan. Uji ini meliputi pengamatan terhadap penurunan kerontokan rambut, peningkatan pertumbuhan rambut, serta kemungkinan timbulnya iritasi atau reaksi alergi pada kulit kepala. Hasil uji klinis diharapkan dapat memberikan bukti ilmiah bahwa hair tonic herbal berbasis ekstrak daun jambu biji dan daun kelor layak digunakan sebagai alternatif perawatan rambut yang aman dan berbasis bahan alam.

Pengembangan hair tonic herbal ini tidak hanya membuka peluang inovasi produk kosmetik berbasis bahan alam, tetapi juga mendukung pemanfaatan tanaman lokal bernilai tinggi. Dengan pendekatan ilmiah yang komprehensif mulai dari karakterisasi ekstrak, optimasi formula, uji stabilitas, hingga uji klinis, hair tonic herbal ini diharapkan dapat menjadi solusi alami dalam menjaga kesehatan dan keindahan rambut masyarakat Indonesia.

Kesimpulan

Hair tonic herbal berbasis ekstrak daun jambu biji dan daun kelor memiliki potensi besar sebagai produk perawatan rambut alami yang aman dan efektif. Melalui tahapan karakterisasi ekstrak, optimasi formula, uji stabilitas, dan uji klinis, penelitian ini menunjukkan bahwa kombinasi kedua tanaman tersebut mengandung senyawa bioaktif yang mampu mendukung kesehatan kulit kepala, mengurangi kerontokan, serta merangsang pertumbuhan rambut. Formula hair tonic yang dihasilkan juga memiliki stabilitas yang baik dan dapat ditoleransi dengan aman oleh pengguna. Dengan dukungan bukti ilmiah dan pemanfaatan bahan alam lokal, hair tonic herbal ini berpeluang menjadi alternatif inovatif dalam industri kosmetik berbasis herbal serta mendukung pengembangan produk kesehatan yang berkelanjutan. ***

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Farmasi, Program Studi Doktoral Farmasi Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpiniPendidikan

INTEGRASI TEKNOLOGI MODERN DALAM PENGEMBANGAN PENGOBATAN TRADISIONAL BERBASIS BUKTI ILMIAH

foto tulisan

Oleh : Dewi Gulyla Hari

Pengobatan tradisional merujuk pada sistem perawatan kesehatan dan kesejahteraan yang terkodifikasi atau tidak terkodifikasi, yang meliputi praktik, keterampilan, pengetahuan, dan filosofi yang berasal dari berbagai konteks sejarah dan budaya, yang berbeda dari dan mendahului biomedis, berkembang seiring dengan ilmu pengetahuan untuk penggunaan saat ini dari asal yang berbasis pengalaman. Pengobatan tradisional menekankan pengunaan tanaman obat berbasis bahan alam dengan pendekatan yang menyeluruh dalam rangka menjaga keseimbangan jasmani, rohani, dan lingkungan sekitar.

Pengobatan menggunakan tanaman obat sudah sejak dahulu digunakan oleh para nenek moyang kita hampir di seluruh belahan dunia. Menurut data dari World Health Organization (WHO) sudah 170 dari 194 negara melaporkan penggunaan obat herbal, akupunktur, yoga dan sistem pengobatan tradisional lainnya. Banyak negara sekarang memahami bahwa pengobatan berbahan dasar bahan alam berpotensi untuk dibuatkan regulasinya sehingga bisa diintegrasikan ke dalan sistem kesehatan nasional. Saat ini, pengobatan tradisional telah menjadi fenomena global; permintaannya terus meningkat, dengan kesadaran pasien yang makin meningkat akan kesehatan jiwa dan raga mereka sehingga akan serta merta mencari perawatan kesehatan yang lebih holistik dan personal. Bagi jutaan orang, terutama penduduk yang berada jauh dari kota dan pusat pengobatan medis, bisa dipahami mengapa terapi alternatif seperti penggunaan obat herbal, akupuntur, yoga, dan lain-lainnya masih digunakan untuk kesehatan dan kesejahteraan, menawarkan perawatan yang dapat diterima secara budaya, tersedia, dan terjangkau. Namun, kurang dari 1% pendanaan penelitian kesehatan global saat ini didedikasikan untuk pengobatan tradisional. Kurangnya investasi dalam penelitian melemahkan upaya untuk membangun basis bukti yang kuat. Pekerjaan WHO tentang pengobatan tradisional merupakan respons terhadap permintaan dari berbagai negara untuk bukti dan data guna menginformasikan kebijakan dan praktik, standar global, dan peraturan untuk memastikan keamanan, kualitas, dan akses yang adil.

Traditional, Complementary and Integrative Medicine (TCIM) dalam sistem kesehatan nasional harus dilakukan dengan tepat, efektif, dan aman berdasarkan bukti ilmiah terbaru. WHO mendukung negara-negara yang ingin menerapkan praktik pengobatan tradisional untuk melakukannya dengan cara berbasis sains guna menghindari bahaya bagi pasien dan memastikan perawatan kesehatan yang aman, efektif, dan berkualitas. Pendekatan berbasis bukti terhadap pengobatan tradisional, yang menetapkan kemanjuran dan keamanan melalui validasi ilmiah yang ketat, sangat penting, bahkan jika pun hal tersebut telah digunakan secara turun temurun. Tujuannya tidak hanya menjamin bahwa pengobatan efektif dan aman, tetapi juga memberikan bukti ketat yang dibutuhkan untuk rekomendasi pengobatan tradisional dalam pedoman WHO. Terapi non-medisinal (misalnya yoga dan akupuntur) menghadirkan tantangan tambahan karena jelas terdapat variabilitas yang luas dalam praktiknya dan melakukan uji klinis terkontrol secara acak sangat sulit, bahkan mungkin mustahil. Upaya bersama untuk mengembangkan metodologi baru yang memberikan bukti yang kredibel dan kuat untuk merekomendasikan penggunaannya untuk kondisi kesehatan tertentu sangat dibutuhkan.

WHO mendukung negara-negara dalam mempromosikan penggunaan TCIM yang aman, efektif, dan berpusat pada masyarakat sebagai bagian dari upaya untuk mencapai cakupan kesehatan universal dan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan. Strategi Pengobatan Tradisional Global: 2025–2034 memandu pekerjaan ini, dengan fokus pada penguatan kualitas, keamanan, penggunaan yang tepat, dan integrasi TCIM berdasarkan bukti, inovasi, dan penghormatan terhadap keragaman budaya dan keanekaragaman hayati. Dalam rangka mendukung program ini, pada tahun 2022 di negara India didirikanlah Pusat Pengobatan Tradisional Global oleh WHO.

Upaya WHO dalam bidang Pengobatan Tradisional dan Komplementer (TCIM) terstruktur di sekitar empat area utama:

  1. kepemimpinan: memberikan arahan global melalui Strategi Pengobatan Tradisional Global WHO 2025–2034, menetapkan visi dan prioritas bagi negara-negara anggota;

  2. penelitian dan data: menetapkan prioritas penelitian, meninjau bukti, dan menggunakan teknologi canggih untuk menghasilkan data yang kuat untuk pengambilan keputusan berdasarkan bukti;

  3. norma, standar, regulasi, dan integrasi: mengembangkan standar internasional untuk terminologi, kualitas, dan keamanan produk, praktik, dan praktisi TCIM; mendukung negara-negara dalam membangun sistem regulasi dan mengintegrasikan TCIM ke dalam sistem kesehatan; dan

  4. kemitraan: mendorong kolaborasi dengan para pemangku kepentingan untuk memajukan TCIM dalam agenda kesehatan global, memobilisasi sumber daya, dan memperkuat komitmen politik terhadap tujuan bersama.

Melalui bidang-bidang ini, WHO membantu negara-negara di dunia agar dapat mengintegrasikan TCIM secara efektif dan aman, berkontribusi pada hasil kesehatan yang lebih baik dan perawatan yang lebih inklusif serta responsif secara budaya. Dalam sistem perawatan kesehatan, hasil keselamatan bergantung pada kombinasi faktor-faktor seperti kompetensi praktisi, kualitas produk, komunikasi yang efektif, dan dukungan regulasi yang kuat. Kejadian buruk, kesalahan pengobatan, atau kualitas produk yang terganggu dapat terjadi di bidang perawatan kesehatan mana pun, bukan karena sistem itu sendiri tidak aman, tetapi karena keselamatan bergantung pada bagaimana perawatan diberikan. Baik pengobatan tradisional maupun biomedis memiliki pendekatan yang mapan untuk mempromosikan keselamatan. Ketika didukung oleh pelatihan yang tepat, jaminan kualitas, dan kerangka kerja praktik yang jelas, pengobatan tradisional biasanya merupakan sumber penyembuhan yang aman dan terpercaya.

Seperti halnya dalam biomedik, penguatan keselamatan pasien dalam pengobatan tradisional juga melibatkan peningkatan lingkungan perawatan kesehatan yang lebih luas di sekitarnya. Ini dapat mencakup peningkatan dokumentasi, dukungan terhadap penelitian, memastikan standar kualitas yang konsisten, dan membangun sistem regulasi yang melindungi baik praktisi maupun pasien. Dengan berfokus pada faktor-faktor pendukung ini, pengobatan tradisional dapat terus berkontribusi secara aman dan efektif terhadap kesehatan masyarakat.

Banyak negara memiliki warisan pengobatan tradisional yang panjang dan kaya dan telah mengintegrasikannya ke dalam sistem pelayanan kesehatan nasional mereka dengan berbagai tingkat. Tantangan umum adalah memantau keamanan produk pengobatan tradisional, terutama pembentukan sistem farmakovigilans untuk produk pengobatan tradisional. Mengingat luasnya penggunaan pengobatan tradisional di seluruh dunia, pemantauan keamanannya merupakan bidang kerja yang penting dan diprioritaskan. WHO mendorong negara-negara yang belum memilikinya untuk membangun sistem farmakovigilans terintegrasi untuk obat-obatan konvensional dan produk TCIM. Secara umum, produk dan praktik TCIM tunduk pada pengawasan yang sama (regulasi, keamanan, dan kontrol kualitas) seperti obat-obatan; 124 Negara Anggota WHO telah mengesahkan undang-undang atau peraturan untuk obat-obatan herbal.

Untuk mendukung berbagai negara, WHO telah menerbitkan pedoman tentang kualitas, keamanan, dan khasiat obat herbal, termasuk:

  1. Pedoman WHO tentang pemilihan zat asal herbal untuk pengendalian mutu obat herbal

  2. Metode pengendalian mutu untuk bahan herbal

  3. Pedoman WHO tentang penilaian mutu obat herbal dengan mengacu pada kontaminan dan residu

  4. Pedoman WHO tentang praktik manufaktur yang baik untuk obat herbal

  5. Pedoman WHO tentang praktik pertanian dan pengumpulan yang baik untuk tanaman obat

Sekitar 40% produk farmasi saat ini berbasis produk alami, dan obat-obatan terobosan berasal dari pengobatan tradisional. Tanaman obat telah memberikan sumbangan yang signifikan dengan ditemukannya obat medis yang inovatif. Contohnya adalah penemuan aspirin bersumber dari formulasi pengobatan tradisional yang berasal dari kulit pohon willow. Penelitian pemenang Nobel mengenai artemisinin untuk pengobatan malaria berawal dari peninjauan manuskrip kuno pengobatan Tiongkok. Penemuan vaksin cacar telah menyebabkan pemberantasan penyakit tersebut, terinspirasi oleh praktik inokulasi kuno oleh masyarakat di seluruh dunia. Modernisasi yang luar biasa dan cepat dalam cara mempelajari pengobatan tradisional dapat membantu mewujudkan potensi dan janji pengobatan tradisional dan pengetahuan tradisional, untuk kesehatan dan kesejahteraan. Dengan mengambil petunjuk dari penggunaan tradisional, obat-obatan baru yang efektif secara klinis dapat diidentifikasi melalui penelitian seperti etnofarmakologi dan farmakologi terbalik.

Penggunaan aplikasi berbasis teknologi kecerdasan buatan atau Artificial Intelligence (AI) dalam bidang kesehatan tidak dapat dipungkiri telah mengubah cakrawala pengetahuan baru dalam berbagai aspeknya. AI memegang peranan penting dalam merevolusi studi dan praktik sistem penyembuhan tradisional. Algoritma canggih dan kemampuan pembelajaran mesin AI dapat memungkinkan para peneliti untuk mengeksplorasi pengetahuan medis tradisional yang luas, memetakan bukti, dan mengidentifikasi tren yang sebelumnya sulit dipahami.

(Sumber : World Health Organization 2025)

Penulis adalah adalah Mahasiswa Program Doktoral UAD

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Harta Karun Tersembunyi dari Laut Lombok: Spons Laut dan Harapan Baru Terapi Kanker Payudara

abdul rahman

Oleh : Abdul Rahman Wahid 

Kanker payudara masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan di dunia, termasuk di Indonesia. Angka kejadiannya terus meningkat setiap tahun, sementara biaya pengobatan yang mahal dan efek samping terapi konvensional sering menjadi beban berat bagi pasien. Kondisi ini mendorong para ilmuwan untuk terus mencari sumber obat baru yang lebih efektif dan aman, salah satunya dari alam—termasuk dari laut Indonesia.

Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan kekayaan biodiversitas laut yang luar biasa. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk pengembangan obat. Salah satu biota laut yang menarik perhatian para peneliti adalah spons laut, organisme sederhana yang hidup menempel di dasar laut. Meskipun terlihat sederhana, spons laut ternyata memproduksi berbagai senyawa kimia unik untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras. Senyawa inilah yang berpotensi dimanfaatkan sebagai obat, termasuk obat antikanker.

Salah satu jenis spons yang banyak ditemukan di perairan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, adalah spons Callyspongia sp. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa spons dari genus ini mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, steroid, dan peptida siklik yang mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Sayangnya, potensi besar ini masih jarang dieksplorasi secara mendalam, khususnya yang berasal dari perairan Lombok.

Penelitian disertasi ini bertujuan untuk menggali potensi senyawa antikanker dari spons Callyspongia sp. dengan pendekatan ilmiah modern. Spons laut diekstraksi dan dipisahkan menjadi beberapa fraksi, kemudian diuji terhadap sel kanker payudara T47D di laboratorium. Fraksi yang paling aktif selanjutnya dimurnikan untuk mengetahui struktur kimianya serta cara kerjanya dalam membunuh sel kanker.

Yang menarik, penelitian ini tidak hanya melihat apakah senyawa tersebut mampu membunuh sel kanker, tetapi juga menelusuri mekanisme molekulernya. Fokus utama diarahkan pada gen p53 dan caspase-3, dua komponen penting yang berperan dalam proses kematian sel terprogram (apoptosis). Dengan memahami mekanisme ini, peluang pengembangan obat yang lebih tepat sasaran menjadi semakin besar.

Lebih dari sekadar penelitian laboratorium, studi ini juga membawa pesan penting bagi masyarakat pesisir: kekayaan laut bukan hanya sumber pangan, tetapi juga sumber harapan bagi kesehatan manusia. Jika dikelola dengan bijak dan berkelanjutan, biota laut seperti spons Callyspongia sp. dapat menjadi kandidat bahan baku obat antikanker di masa depan.

Penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pemanfaatan sumber daya laut Indonesia secara ilmiah, berkelanjutan, dan bernilai tinggi—demi kesehatan dan kesejahteraan generasi mendatang. ***

Penulis adalah Mahasiswa Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan / Akadmisi Universitas Muhammadiyah Mataram

 

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Lebih dari Sekadar Buah Manis: Sawo Duren dan Rahasia Antioksidannya

fadilah

Oleh: Fadillah Maryam

Sawo duren kerap hadir tanpa banyak sorotan. Ia tumbuh di pekarangan, dijajakan di pasar lokal, dan dinikmati sebagai buah musiman dengan rasa manis yang khas. Dalam keseharian masyarakat, sawo duren lebih dikenal sebagai pangan tradisional, bukan sebagai objek sains. Namun, perkembangan ilmu pengetahuan modern menunjukkan bahwa buah ini menyimpan potensi biologis yang jauh melampaui kesan sederhananya.

Sawo duren atau Chrysophyllum cainito L. telah lama dimanfaatkan dalam praktik pengobatan tradisional. Daun dan kulit batangnya digunakan untuk berbagai keluhan kesehatan, sementara buahnya dipercaya membantu menjaga kebugaran tubuh. Pengetahuan ini diwariskan lintas generasi, meskipun belum seluruhnya dijelaskan melalui pendekatan ilmiah yang sistematis. Di sinilah riset farmasi modern mengambil peran penting.

Antioksidan dan Tantangan Kesehatan Modern

Tubuh manusia secara alami menghasilkan oksidan sebagai hasil metabolisme. Namun, gaya hidup modern—polusi udara, paparan radiasi, stres, dan pola makan tidak seimbang—meningkatkan beban oksidatif secara signifikan. Ketidakseimbangan antara oksidan dan antioksidan memicu stres oksidatif, kondisi yang berkontribusi terhadap penuaan dini dan berbagai penyakit degeneratif.

Selama ini, antioksidan sintetis banyak digunakan untuk menekan dampak tersebut. Meski efektif, penggunaannya memunculkan pertanyaan terkait keamanan jangka panjang. Kondisi ini mendorong pencarian sumber antioksidan alami yang lebih aman dan berkelanjutan, termasuk dari buah-buahan lokal seperti sawo duren.

Metabolomik: Pendekatan Baru dalam Riset Bahan Alam

Penelitian bahan alam tidak lagi cukup hanya mengukur satu atau dua senyawa aktif. Pendekatan metabolomik memungkinkan pemetaan menyeluruh metabolit dalam suatu ekstrak tanaman. Melalui teknologi analitik canggih, aktivitas antioksidan dipahami sebagai hasil interaksi kompleks berbagai senyawa bioaktif, seperti polifenol dan flavonoid, yang bekerja secara sinergis.

Dalam konteks sawo duren, pendekatan ini membuka pemahaman baru bahwa kekuatan antioksidan buah tersebut bukan berasal dari satu komponen tunggal, melainkan dari jaringan metabolit yang saling berinteraksi. Cara pandang ini lebih mencerminkan mekanisme biologis yang terjadi di dalam tubuh manusia.

Implikasi bagi Pengembangan Farmasi dan Pangan Fungsional

Hasil riset metabolomik tidak berhenti pada tataran akademik. Potensi sawo duren sebagai sumber antioksidan alami membuka peluang pengembangan produk pangan fungsional dan bahan baku sediaan kesehatan berbasis alam. Bagi Indonesia, ini merupakan langkah strategis untuk memanfaatkan biodiversitas secara ilmiah sekaligus berkelanjutan.

Pengembangan tersebut perlu disertai kebijakan yang berpihak pada pelestarian lingkungan dan pemberdayaan masyarakat lokal. Dengan demikian, nilai tambah tidak hanya dinikmati oleh industri, tetapi juga oleh daerah penghasil dan ekosistem tempat tanaman ini tumbuh.

Refleksi dari Dunia Akademik

Sebagai bagian dari komunitas akademik farmasi, saya memandang riset sawo duren sebagai contoh nyata bagaimana sains modern dapat memperkuat pengetahuan tradisional. Metabolomik bukan sekadar alat analisis, melainkan jembatan yang menghubungkan kearifan lokal dengan bukti ilmiah yang dapat dipertanggungjawabkan.

Lebih dari sekadar buah manis, sawo duren merepresentasikan potensi besar bahan alam Indonesia. Ketika diteliti dengan pendekatan yang tepat, buah lokal ini tidak hanya relevan bagi kesehatan masyarakat, tetapi juga berkontribusi pada pengembangan ilmu pengetahuan dan kemandirian bangsa di bidang farmasi dan kesehatan.***

Penulis adalah Mahasiswi Program Doktoral Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Kasumba Turate: Dari Kearifan Lokal ke Ilmu Pengetahuan Modern untuk Kesehatan dan Kecantikan

kasumbar

Oleh: apt. Virsa Handayani, M.Farm

Pemanfaatan bahan alam dalam bidang kesehatan dan kecantikan terus mengalami perkembangan seiring meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap produk yang aman, berkelanjutan, dan berbasis sumber daya lokal. Salah satu tanaman yang kembali memperoleh perhatian dalam kajian akademik adalah Kasumba Turate (Carthamus tinctorius L.), tanaman yang secara historis telah digunakan dalam praktik tradisional masyarakat, khususnya di Sulawesi Selatan.

Kasumba Turate tidak hanya dikenal sebagai pewarna alami dalam tradisi budaya, tetapi juga dimanfaatkan sebagai ramuan herbal untuk menunjang kebugaran dan perawatan diri. Praktik ini lahir dari pengalaman empiris masyarakat yang diwariskan secara turun-temurun. Namun, dalam konteks ilmu pengetahuan modern, pengetahuan tersebut perlu dikaji secara sistematis agar manfaatnya dapat dipahami, diuji, dan dipertanggungjawabkan secara ilmiah.

Dalam kajian akademik, pengembangan bahan alam berbasis kearifan lokal menuntut pendekatan yang tidak hanya empiris, tetapi juga rasional dan metodologis. Virsa Handayani, mahasiswi Program Doktoral Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta, menjelaskan bahwa integrasi antara pengetahuan tradisional dan ilmu pengetahuan modern merupakan fondasi penting dalam pengembangan riset bahan alam yang bertanggung jawab.

Dalam perspektif filsafat ilmu pengetahuan, kearifan lokal merupakan bentuk pengetahuan empiris yang memiliki nilai epistemologis. Ilmu pengetahuan modern tidak meniadakan pengalaman tradisional, melainkan mengembangkannya melalui proses rasionalisasi dan verifikasi metodologis. Pendekatan ini menempatkan tradisi sebagai titik awal eksplorasi ilmiah, bukan sebagai sesuatu yang bertentangan dengan sains.

Berbagai kajian menunjukkan bahwa bunga Kasumba Turate mengandung senyawa bioaktif yang berpotensi berperan sebagai antioksidan. Aktivitas antioksidan memiliki relevansi penting dalam bidang kesehatan karena berkaitan dengan upaya menekan stres oksidatif, yang diketahui berkontribusi terhadap proses degeneratif. Dalam konteks kecantikan, aktivitas tersebut juga dikaitkan dengan perlindungan kulit dari penuaan dini akibat faktor lingkungan.

Lebih lanjut, Virsa Handayani menekankan bahwa pendekatan ilmiah terhadap bahan alam harus diarahkan pada pemahaman mekanisme biologis yang mendasari manfaatnya, sehingga pemanfaatannya tidak berhenti pada klaim tradisional semata, tetapi berkembang menjadi pengetahuan yang rasional dan aman untuk diaplikasikan.

Selain itu, kajian Kasumba Turate juga membuka ruang integrasi antara ilmu pengetahuan dan konteks sosial-budaya. Pendekatan ini mencerminkan paradigma ilmu yang humanis dan kontekstual, di mana penelitian tidak terlepas dari nilai budaya, etika, dan keberlanjutan sumber daya alam. Dengan demikian, pengembangan bahan alam lokal tidak hanya berorientasi pada inovasi, tetapi juga pada tanggung jawab sosial.

Melalui penguatan kajian ilmiah yang berlandaskan filsafat ilmu pengetahuan, Kasumba Turate berpotensi dikembangkan sebagai bahan pendukung kesehatan dan kecantikan berbasis herbal yang berakar pada kearifan lokal Indonesia. Pendekatan ini menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan modern dapat tumbuh dari tradisi, selama diuji dengan nalar kritis, metodologi yang tepat, dan orientasi pada kemaslahatan manusia. ***

Penulis adalah Mahasiswi Prodi Doktoral Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Pengobatan Penyakit Secara Individual: Mengapa Setiap Orang Membutuhkan Terapi yang Berbeda?

faturahman

Oleh: Muhammad Fathurrahman

Selama ini, banyak orang berpikir bahwa satu jenis obat bisa cocok untuk semua pasien dengan penyakit yang sama. Misalnya, semua pasien diabetes mendapat obat yang serupa, atau semua pasien hipertensi minum obat yang sama. Padahal, pada kenyataannya, setiap orang memiliki kondisi tubuh yang berbeda, sehingga respons terhadap obat juga bisa berbeda.

Inilah yang menjadi dasar dari konsep pengobatan penyakit secara individual, atau sering disebut personalized medicine.

Apa Itu Pengobatan Secara Individual?

Pengobatan secara individual adalah pendekatan terapi yang disesuaikan dengan karakteristik masing-masing pasien, bukan hanya berdasarkan jenis penyakitnya.

Penyesuaian ini bisa berdasarkan:

  • Usia
  • Jenis kelamin
  • Berat badan
  • Riwayat penyakit
  • Kondisi organ (hati, ginjal, jantung)
  • Gaya hidup
  • Faktor genetik (bawaan sejak lahir)

Tujuannya sederhana:

Memberikan obat yang paling tepat, dengan dosis yang tepat, pada pasien yang tepat.

Mengapa Setiap Orang Bisa Memberi Respons Berbeda terhadap Obat?

Pernahkah Anda mendengar bahwa:

  • Ada orang yang cepat sembuh dengan suatu obat
  • Ada yang tidak bereaksi sama sekali
  • Ada pula yang justru mengalami efek samping berat

Hal ini terjadi karena tubuh setiap orang bekerja dengan cara yang berbeda, terutama dalam:

  • Menyerap obat
  • Mengubah obat di dalam hati
  • Membuang obat melalui ginjal

Selain itu, faktor genetik juga memengaruhi bagaimana tubuh merespons obat tertentu.

Contoh Pengobatan Secara Individual dalam Kehidupan Sehari-hari

Beberapa contoh yang sering kita temui:

  1. Dosis obat anak berbeda dengan dewasa
    Anak tidak bisa diberi dosis yang sama seperti orang dewasa.
  2. Pasien dengan gangguan ginjal
    Dosis obat sering harus diturunkan agar tidak menumpuk dan meracuni tubuh.
  3. Pasien alergi obat tertentu
    Harus diberi alternatif obat yang lebih aman.
  4. Pasien diabetes
    Ada yang cukup dengan diet dan olahraga, ada yang perlu obat, dan ada yang harus insulin.

Peran Tes Genetik dalam Pengobatan Modern

Di era sekarang, pengobatan semakin maju dengan adanya tes genetik. Tes ini dapat membantu dokter mengetahui:

  • Obat mana yang paling efektif
  • Obat mana yang berisiko menimbulkan efek samping
  • Dosis yang paling sesuai

Contohnya:

  • Beberapa obat jantung dan kanker kini dipilih berdasarkan hasil tes genetik pasien.

Namun, tes ini masih belum digunakan secara luas karena biaya dan ketersediaan yang terbatas.

Manfaat Pengobatan Secara Individual

Pendekatan ini memberikan banyak keuntungan, antara lain:

  • Lebih efektif: peluang sembuh lebih besar
  • Lebih aman: risiko efek samping lebih kecil
  • Lebih efisien: mengurangi percobaan ganti-ganti obat
  • Lebih manusiawi: pasien diperlakukan sebagai individu, bukan sekadar “penyakit”

Peran Dokter dan Apoteker

Pengobatan secara individual tidak bisa dilakukan sendiri. Peran tenaga kesehatan sangat penting:

  • Dokter menegakkan diagnosis dan memilih terapi yang sesuai
  • Apoteker memastikan obat, dosis, dan cara pakai sudah tepat serta memberikan edukasi kepada pasien

Pasien juga berperan aktif dengan:

  • Memberi informasi riwayat penyakit yang lengkap
  • Menginformasikan obat yang sedang dikonsumsi
  • Melaporkan efek samping yang dirasakan

Kesimpulan

Pengobatan penyakit secara individual adalah pendekatan modern yang menyesuaikan terapi dengan kondisi unik setiap pasien.

Pendekatan ini membantu:

  • Meningkatkan keberhasilan pengobatan
  • Mengurangi risiko efek samping
  • Memberikan pelayanan kesehatan yang lebih berkualitas

Dengan berkembangnya ilmu kedokteran dan farmasi, masa depan pengobatan akan semakin tepat sasaran dan berpusat pada pasien. ***

Penulis adalah Mahasiswa Ilmu Farmasi, Program Studi Doktoral Farmasi, Universitas Ahmad Dahlan, Yogyakarta

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya
KesehatanOpini

Sintesis Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Ilmu Farmasi dalam Inovasi Model Intervensi Digital Apoteker Berbasis User-Centered Design pada Pasien Hemodialisis

foto penulis

Oleh: apt. Siti Rahmawati.,S.Farm.,M.Farm

Ilmu farmasi sebagai disiplin keilmuan terapan tidak hanya berorientasi pada obat sebagai objek material, tetapi juga pada manusia sebagai subjek utama. Dalam konteks penyakit kronis seperti gagal ginjal stadium akhir yang memerlukan terapi hemodialisis, praktik kefarmasian menghadapi tantangan besar seperti kompleksitas biologis, psikologis, sosial, dan teknologi. Diperlukan landasan filsafat ilmu yang kuat agar pengembangan pengetahuan tidak bersifat teknokratis semata, tetapi juga bermakna secara ilmiah, etis, dan humanistik.

Secara ontologis, pasien hemodialisis tidak dipahami hanya sebagai entitas biologis yang menerima terapi farmakologis, melainkan sebagai individu dengan sistem keyakinan, perilaku, persepsi risiko, dan pengalaman hidup yang memengaruhi keberhasilan terapi. Keyakinan terhadap obat, kepatuhan pengobatan, persepsi risiko, dan kualitas hidup merupakan realitas yang bersifat abstrak dan konstruk psikososial, namun memiliki eksistensi nyata dalam praktik kefarmasian karena secara langsung memengaruhi luaran klinis dan humanistik. Realitas tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui interaksi pasien dengan obat, tenaga kesehatan, sistem layanan, serta teknologi digital. Intervensi digital apoteker secara ontologis dipahami sebagai artefak ilmiah hasil rekayasa kefarmasian, yang diciptakan untuk menjembatani kebutuhan manusia dengan sistem terapi. Dengan demikian, terjadi pergeseran ilmu farmasi dari paradigma product-oriented menuju paradigma patient-centered dan technology-enabled pharmaceutical care.

Pengetahuan tentang efektivitas intervensi digital apoteker diperoleh melalui proses ilmiah yang menggabungkan metode kuantitatif berbasis bukti dengan pemahaman kontekstual terhadap pengalaman pengguna. Pengukuran perubahan keyakinan, kepatuhan, persepsi risiko, dan kualitas hidup dilakukan melalui instrumen yang tervalidasi secara ilmiah, mencerminkan pendekatan positivistik dan post-positivistik yang menekankan objektivitas, reliabilitas, dan validitas. Namun, pendekatan user-centered design menempatkan pasien sebagai subjek aktif dalam proses pengembangan intervensi, sehingga pengetahuan juga dibangun melalui pemahaman subjektif, partisipatif, dan kontekstual. Epistemologi ini bersifat konstruktivistik-kritis, di mana kebenaran ilmiah tidak hanya ditentukan oleh signifikansi statistik, tetapi juga oleh relevansi klinis, keberterimaan pengguna, dan keberlanjutan praktik. Pengetahuan farmasi dipahami sebagai hasil dialog antara teori, bukti empiris, dan praktik profesional apoteker dalam ekosistem digital kesehatan.

Pengembangan model intervensi digital apoteker bukan semata menghasilkan inovasi teknologi, tetapi meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis melalui penguatan keyakinan positif terhadap terapi, peningkatan kepatuhan, dan pemahaman risiko yang rasional. Nilai etika dalam tercermin dalam penghormatan terhadap otonomi pasien, perlindungan privasi dan keamanan data digital, serta prinsip keadilan dalam akses layanan kefarmasian. Peran apoteker dalam intervensi digital diposisikan sebagai pendamping terapi (pharmaceutical care provider), bukan sekadar penyampai informasi, sehingga memperkuat dimensi humanistik profesi farmasi. Aksiologi mencakup kontribusinya terhadap pengembangan praktik kefarmasian modern, transformasi layanan kesehatan berbasis digital, serta penguatan posisi apoteker dalam sistem pelayanan penyakit kronis. Dengan demikian, ilmu farmasi tidak hanya bernilai secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi pasien, profesi, dan sistem kesehatan.

Secara filosofis, inovasi model intervensi digital apoteker berbasis user-centered design pada pasien hemodialisis merepresentasikan kesatuan ontologi manusia sebagai pusat terapi, epistemologi pengetahuan berbasis bukti dan pengalaman, serta aksiologi yang menjunjung nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan sosial. Landasan filsafat ini menegaskan bahwa ilmu farmasi modern adalah ilmu yang ilmiah, humanistik, dan transformatif, selaras dengan tantangan pelayanan kefarmasian di era digital dan penyakit kronis. .***

Penulis adalah  Mahasiswa program Doktoral Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan dan Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS Dr Soepraoen Kesdam V/Brawijaya Malang

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

selengkapnya