close

Seni Budaya

HiburanSeni BudayaSosial BudayaTekno

Salurkan bakat pemuda kampung, Karangtaruna bikin radio komunitas

bara fm

Pemalang, Wartadesa. – Malam ini, Rabu (05/12), Warta Desa menyambangi radio komunitas Bara FM di Desa ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, untuk melepas penat sembari mencari inspirasi malam, selepas kativitas sehari-hari yang melelahkan.

Dalam sebuah ruangan yang disulap sebagai studio radio, Warta Desa bertemu dengan anggota Karangtaruna Bakhti Mulya Desa Ketapang. Sembari menikmati alunan musik karya pemuda setempat. Musik Indie, mereka menyebutnya.

Karangtaruna Bakhti Mulya dengan motto “Berkarya tanpa batas” ini mewujudkan siaran radio komunitas sejak 2013 lalu. Siaran radio yang bisa dinikmati warga seputaran Kecamatan Comal, dan Ulujami ini menjadi wadah silaturahmi pemuda Desa Ketapang dan sekitarnya.

Sebagai wadah kreatifitas warga, siaran radio komunitas Bara FM menayangkan karya pemuda Ketapang dan sekitarnya, berupa karya-karya musik ciptaan warga setempat (musik indie), menampung dan menyuarakan aspirasi warga setempat. Beberapa ajang pencari bakat warga seperti lomba karaoke digelar menjadi agenda tahunan setiap bulan Agustus. Demikian informasi yang kami dapatkan saat ngobrol-ngobrol dengan penggiatnya.

Menurut Samsudin(36), Ketua Karangtaruna Bakhti Mulya, dia berharap  dengan hadirnya radio komunitas Bara FM yang merupakan kreatifitas pemuda Desa Ketapang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pemalang untuk mendukung program dan agenda kegiatan mereka.

Hal senada juga disampaikan Taufik (30), tokoh pemuda setempat, dia  berharap, kedepan Bara FM bisa lebih maju dan berjaya di udara, tidak kalah dengan radio siaran swasta lainnya.  Taufik juga minta dukungan warga untuk selalu mendukung karya anak desa mereka.

Sementara, salah seorang pendengar setia yang ikut nimbrung dalam obrolan kami, Kardiman, mengungkapkan bahwa kehadiran Bara FM ini sangat membantu warga dalam menyampaikan informasi lokal yang penting bagi warga sekitar. Selain sebagai sarana hiburan warga saat sedang bekerja, terlebih saat bulan Ramadhan tiba. Tuturnya. Bara FM menjadi rujukan utama warga untuk mengetahui waktu imsak dan berbuka. Pungkasnya. (Eky Diantara)

selengkapnya
Seni BudayaTekno

Suka duka KLJI Pekalongan: Rame di media sosial, pas acara hanya segelintir

m benbella

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Suka dan duka berkecimpung dalam aktivitas komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia (KLJI) Pekalongan sudah dialami oleh pria bernama Muhammad Benbella, warga Gapuro Batang yang kini bermukim di Simbangkulon, Buaran, Kota Pekalongan ini berbagi cerita dalam helatan Ngobrol karo Ngopi, Komunitas Cerito Wong Pekalongan di Alesscow Coffe, Sabtu (20/10).

“Selama ini kami kadang diundang untuk kegiatan workshop kamera lubang jarum, kadang juga menggelar sendiri workshop. Saat pengumuman workshop di media sosial …  responnya rame … begitu acara … yang datang sedikit … yang datang merupakan wong edan itu … yang benar-benar ingin mengetahui kamera lubang jarum,” tuturnya saat diskusi berlangsung.

Menurut Muhammad Benbella, KLJI Pekalongan belum banyak didengar oleh warga Pekalongan dan sekitarnya. Komunitas ini menggunakan barang bekas untuk dimanfaatkan menjadi kamera analog. “Fotografi … teknik memotretnya berawal dari lubang jarum. Biasanya memakai kaleng bekas … kaleng rokok, diberi lubang sebesar lubang jarum … didalamnya diberi kertas foto negatif yang peka cahaya. Fotografer yang memulai dari foto analog akan lebih mengenal teknik lubang jarum yang masih manual dan memakai larutan kimia untuk mencuci foto.” Ujarnya.

Kesulitan utama yang dihadapi oleh komunitas ini adalah tidak tersedianya bahan-bahan untuk mengekspresikan hobi mereka di Pekalongan. “Untuk mendaptkan kertas dan larutan kimia agak susah … karena harus didapatkan di Jakarta. Komonitas KLJI yang banyak menyediakan untuk anggota KLJI Pekalongan, karena  di Pekalongan sudah tidak ada.” Lanjutnya.

Komunitas yang acapkali berkumpul di Perumahan Limas Krapyak Pekalongan, rumah pendiri KLJI Pekalongan ini merupakan kumpulan “orang-orang gila” menurut Benbella. “komunitas sering berkumpul di Perumahan Limas Krapyak, Pekalongan. Penggiatnya yang gila hanya empat orang …. wong edan kabeh … yang merupakan penggila kamera lubang jarum,” tuturnya.

Hingga saat ini, komunitas KLJI Pekalongan belum mendapat perhatian secara langsung dari pemerintah setempat.  “Dukungn pemerintah hingga saat ini baru dukungan tidak langsung …. dari event orgaizer  yang kenal dengan KLJI Pekalongan … memberi kesempatan komunitas ini untuk memperkenlakan kepada warga … Belum ada dukungan dalam bentuk materi dari pemerintah,” lanjutnya.

Keunikan dari kamera lubang jarum ini mengutamakan proses, “fotografi ini mengutamakan proses … bagaimana kita mengetahui untuk mendapatkan gambar/foto .. prosesnya panjang … berbeda dengan kamera digital … yang tinggal klik langsung jadi.  Semua pakai kira-kira … waktu pemotreatannya kira -kira … gambanya jadinya seperti apa ya juga kira kira … semua pake hati …. Inilah yang membuat menarik anggota komunitas ‘menggilai’ aktivitas memotret dengan kamera lubang jarum,” Tutur Benbella.

Selain itu, lanjut Benbella, kamera lubang jarum ini prinsipnya membuat, bukan membeli, “Bikin sendiri dari kardus, kotak kayu … intinya (barang bekas yang) kedap cahaya ….kaleng rokok dipilih karena pengadaan lebih praktis …  meski beberapa bahan lainnya masih harus membeli, seperti larutan kimia dan kertas cetaknya,” Pungkasnya. (WD)

selengkapnya
Seni Budaya

Serbelawan Art Festival gali kreatifitas pemuda

festival saberlawan

Simalungun, Wartadesa. –  Perhelatan pecinta seni asli Indonesia, Servelawan Art Festival, digelar di Wisma Karya, Kelurahan Serbelawan, Kecamatan Dobana, Kabupaten Simalungun, Sabtu-Ahad (06-07/10). Acara ini dimotori oleh pemuda-pemudi “Serbelawan Pecinta Seni Asli Indonesia”.

Beragam lomba mengisi festival, yakni, lomba mewarnai, menggambar, fashion show tingkat usia Paud hingga SD kelas enam. Selain itu juga digelar lomba lukis bakar, band akuistik, rajut gelang, stand up comedy untuk tingkat dewasa.

Panitia menyediakan jutaan rupiah sebagai hadiah. Selain itu juga disediakan piala dan sertifikat. Demikian disampaikan oleh Fahmi Marpaung, ketua panitia.

Fahmi yang didampingi pelopor event festival dari sanggar seni Kartika, Yohana F. Erlawati mengungkapkan bahwa pada acara puncak yang akan digelar esok hari, Ahad (07/10), ada konvoi batik dengan menggunakan sepeda motor antik.

Acara tersebut digelar sekaligus untuk memeriahkan Hari Batik Nasional. Pungkas Yohana. (WD-Bay) 

selengkapnya
Seni Budaya

Komunitas Pecinta Marawis Pekalongan jadi wadah pegiat seni berekspresi

gempita muharram

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Ribuan warga Pekalongan berbondong-bondong di Kompleks Batik H. Abbas, Simbang Wetan, Kecamatan Pekalongan Selatan, Kota Pekalongan, Jum’at malam (21/09). Mereka ingin menyaksikan meriahnya perhelatan Gempita Muharram Komunitas Marawis Pekalongan (Kompak) ke-6.

Sebelas komunitas kesenian dan budaya berkumpul menampilkan beragam seni dan budaya. Komunitas seni dari FKIP Unikal, Surya Budaya, Seni Etnik Wonopringgo, Seni Rampak, Rujak Uleg, Pangestu da lainnya, berpadu bergantilan menampilkan kreativitasnya.

Abdul Hafidz, Panitia Gempita Muharram Kompak ke-6 mengungkapkan bahwa kegiatan tersebut merupakan ritual tahunan. “Konsep yang kita usung sekarang adalah konsep up to date (kekinian), disesuaikan dengan kebutuhan pegiat seni dan pecinta seni kawula muda. Hingga kami bisa menampilkan sebuah pergelaran yang meriah,” ujarnya, semalam kepada Wartadesa.

Hafidz menyebut, bahwa acara Gempita Muharram Kompak senantiasa berproses, “Kami berproses dari bawah … tidak serta-merta semewah dan semeriah yang sekarang … pada awal tahun 2012, kegiatan kami masih kecil-kecilan. Alhamdulillah, saat ini kami mendapat perhatidan dari Pemkot Pekalongan, DPRD Kota, teman-teman seniman, dan dukungan dari home industri, hingga bisa menyajikan helatan akbar ini,” lanjutnya.

Komunitas Kompak, nantinya diharapkan menjadi wadah bagi pegiat seni untuk menyalurkan aspirasi, berkreasi dan berproduksi seni dan budaya para pelaku kesenian di Pekalongan. “Tujuan kami, semoga Kompak bisa menjadi wadah seni bagi temen-temen pegiat di Pekalongan, dan nantinya event ini bisa menjadi Hari Seni Pekalongan,” ujar Hafidz.

Acara yang spektakuler dengan ribuan penonton tersebut berjalan meriah hingga akhir acara, panitia yang terlibat, tak kurang dari 30 orang mampu menyajikan sebuah gelaran yang menarik bagi warga Kota Batik. (WD)

selengkapnya
HiburanSeni Budaya

Ibunda artis Dewi Sanca dimakamkan di Pemalang

dewi sanja

Pemalang, Wartadesa. – Tjasmirah, ibunda Dewi Sanca (34), artis asal Kota Ikhlas yang meninggal pada usia 70 tahun, hari ini, Ahad (02/09) dimakamkan di Pemalang, Jawa Tengah. Tjasmirah, sang ibunda meninggal setelah menghadapi penyakit asma menahun dan paru-paru.

Artis Dangdut, Dewi Sanca yang kondang lantaran ular sanca yang menemaninya saat manggung tersebut mengungkapkan bahwa ibunya menderita asma sejak dia berada di SMA.  “Asma menahun dari sejak aku SMA. Tambah lagi dua bulan terakhir sakit paru-paru,” kata Dewi Sanca.

Tjasmirah sempat mengalami muntah darah, namun belum sempat dibawa ke rumah sakit,  “Yang terakhir sebulan lalu, sempat muntah darah. Seminggu yang lalu ke klinik cuma tadi malam jam 02.00 WIB belum sempat (dibawa untuk berobat), sudah tidak ada (meninggal),” lanjut pelantun  lagu Bunglon ini.

Ibunda Dewi dimakamkan sore ini, bakda sholat Asar.  Menurut dewi, sang ibu merupakan sosok yang hebat, dia mampu membesarkan dirinya sejak kecil tanpa bantuan suami.

“Mama wanita hebat. Dia membesarkan aku tanpa seorang ayah dari umurku 11 bulan. Dia wanita kuat dan hebat,” kata Dewi.  (Sumber: Kumparan)

selengkapnya
Jalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Festival Wong Gunung, ratusan kilo sampah dibersihkan dari Gunung Slamet

festival wong gunung

Pemalang, Wartadesa. – Ratusan kilo sampah dibersihkan dari area Gunung Slamet. 225 kilogram sampah yang ada di gunung tersebut dibawa turun oleh para pendaki dalam kegiatan Resik Gunung dalam gelaran Festival Wong Gunung. Festival tersebut digelar pada 25 Agustus hingga 2 September 2018.

Para pendaki sebelumnya dilepas oleh Camat Pulosari, Ahmady.  Mereka mendaki bersama warga Pulosari melalui jalur Dipajaya Desa Clekatakan. Total peserta resik gunung sebanyak 118 pendaki yang berasal dari Pemalang, Tegal dan Pekalongan.

Peserta resik gunung membersihkan Bukit Melodi Cinta di Desa Cekatan dan area sekitar. Selain pendaki dewasa, peserta resik gunung juga diikuti oleh 500 siswa SD, SMP dan MTs di Kabupaten Pemalang.

Festival Wong Gunung merupakan agenda tahunan, pada 2018 merupakan kali ketiga event tersebut digelar. Selain kegiatan resik gunung, beragam acara disajikan dalam festival tersebut.

Festival Wong Gunung digelar sebagai ungkapan rasa syukur warga Pulosari atas anugerah yang diberikan Tuhan Yang Maha Kuasa kepada desa tersebut. Agenta tahunan ini menjadi agenda wisata di Kabupaten Pemalang yang cukup dinantikan. Termasuk acara Ruwat Ageng Banyu Panguripan.

Ruwat Ageng Banyu Panguripan (air kehidupan) merupakan  kirab dan rayahan gunungan, hingga penyerahan banyu panguripan air Gunung Slamet kepada 12 kepala desa yang ada di Pulosari.

Kepala Desa Pulosari, Teguh Setyo Widodo, mengatakan festival diadakan untuk mengangkat potensi wisata yang ada di Pulosari. “Pulosari merupakan desa budaya dan wisata. Dengan meningkatnya wisata, kesejahteraan masyarakat juga akan meningkat,” ujarnya, Jum’at (31/08) (WD)

 

selengkapnya
BencanaSeni BudayaSosial Budaya

Jadi korban kebakaran dalam Workshop Batik Disperindag, Nur Maulidah butuh bantuan

korban luka bakar batik rifaiyah

Batang, Wartadesa. – Nur Maulidah (38) menjadi korban kebakaran dalam sebuah workshop (pelatihan) yang digelar oleh Disperindag Batang di pusat workshop Batik Rifaiyah, Desa Kalipucang Wetan, 11 Juli 2018 lalu.

Kejadian terjadi ketika tungku kayu bakar yang digunakan untuk proses pelorodan sulit dinyalakan. Berkali-kali api dinyalakan namun tidak berhasil menyala dengan sempurna. Melihat hal tersebut, salah seorang peserta pelatihan, menuangkan minyak tanah kedalam tungku kayu bakar.

Seketika api berkobar besar, dan menyambar salah seorang peserta bernama Nur Maulidah. Para peserta yang melihat kejadian tersebut panik. Korban kini dirawat di RSUD Kalisari Batang, di ruang isolasi Dahlia.

Kondisi Nur Maulidah sangat memprihatinkan. seluruh wajah dan sebagian tubuh hingga kaki mengalami luka bakar sangat kritis dan dalam keadaan hamil lima bulan.

Perempuan yang bersuamikan Abdul Kholik (45) yang sekarang dikaruniai dua orang anak tersebut telah lama meninggalkan aktivitas batik karena faktor ekonomi. Dia beralih menjadi pengrajin keset kaki. Pada saat digelar workshop batik oleh Disperindag, Nur Maulidah tertarik mengikuti pelatihan karena salah satu karya batiknya pernah dibeli oleh kolektor dari Jakarta.

Bupati Batang, Wihaji, Sabtu (14/07) menjenguk Nur Maulidah. Orang nomor satu di Alas Roban ini memberikan semangat atas musibah yang menimpa dirinya. Wihaji berharap agar Nur Maulidah tabah dan tetap semangat kembali menggeluti seni kerajinan batik.

“Musibah itu tentu menjadi perhatian pemerintah daerah dan problemnya selain pasien tersebut merupakan orang kurang mampu, maka atas nama pemerintah hadir untuk membantu semampu kita,” ujar Wihaji.

Wihaji memerintahkan dinas terkait untuk bisa menjenguk dan memberikan kepastian layanan. Dia juga meminta agar pihak rumah sakit memberikan pelayanan dan perhatian terbaik untuk Nur Maulidah.

Terpisah, mengingat kondisi ekonomi keluarga Abdul Kholik-Nur Maulidah,  komunitas BATANG HERITAGE  membuka layanan donasi untuk disalurkan kepada korban. Donasi dapat dikirimkan ke,

Nomer Rekening Donasi:

1. BANK MANDIRI
1390017762307
PRASETIYO WIDHI
HP/WA: 082225577959

2. BCA
2380374334
MJA NASHIR
0818288889

Bagi donatur yang telah mentransfer donasi dimohon konfirmasi ke nomer kontak tersebut. Donasi yang masuk rekening, diupdate secara transparan di FB Batang Heritage. (WD)

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

Lima Arca ditemukan di Pringsurat Kajen

arca

Kajen, Wartadesa. – Lima arca ditemukan oleh seorang pemuda asal Dukuh Jampangan, Desa Pringsurat, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan di sekitar permukiman yang biasa digunakan untuk berkubang kerbau milik warga.

Musa Abdaloh (17), pemuda yang menemukan arca, mengaku bahwa awalnya pada Sabtu (07/07), saat dirinya akan mencuci motor miliknya di sungai. Dirinya melihat batu yang menyerupai patung.

Melihat hal tersebut, Musa kemudian memanggil rekan-rekannya untuk melihat batu tersebut. Setelah diangkat ternyata batu tersebut berupa arca/patung.

“Karena arca tanpa kepala kami berinisiatif mencarinya, hampir setangah hari kami mencari dan menemukan 5 arca. 4 diantaranya lengkap dengan kepala hanya satu yang kepalanya hilang,” tutur Musa.

Oleh para pemuda yang menemukan kelima arca tersebut, kemudian dibawa ke Kantor Desa Pringsurat. “Awalnya dibawa ke rumah kepala desa, namun karena faktor keamanan dan rumah kepala desa selalu didatangi warga yang penasaran. Akhirnya diamankan ke Polsek Kajen,” kata Totok, perangkat desa setempat.

Sementara itu, Kamis (12/07), Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan akan menindaklanjuti penemuan arca warga Pringsurat. Suwarno, kabid Kebudayaan Dindikbud Kabupaten Pekalongan mengaku sudah menyurati Balai Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Yogyakarta untuk datang dan meneliti arca tersebut.

“Kami sudah meninjau kelokasi penemuan arca, dan kami sudah laporkan ke pimpinan untuk menindak lanjuti temuan tersebut. Dindikbud telah melayangkan surat ke BPCB Yogyakarta untuk mendatangkan tim ahli, hal tersebut dilakukan untuk memastikan arca tersebut benda cagar budaya atau bukan,” ” ujar Suwarno saat meninjau arca di Mapolsek Kajen. (WD)

 

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

Lomba da’i kamtibmas yunior digelar di Batang

lomba dai batang

Batang, Wartadesa. – Lomba Da’i Yunior tingkat SD oleh Polsek Limpung diikuti oleh puluhan siswa. Lomba yang digelar dalam rangka menyemarakkan Hari Bhayangkara ke-72 tersebut meliputi lomba kithobah (da’i), azan dan qori atau membaca Al-Qur’an.

“Di samping lomba juga mencari kader yang akan dilatih sebagai dai kamtibmas kelak, semua itu untuk menjadikan anak anak paham akan tugas polisi, “ ujar Kanit Binmas Ipda H.Rofii, Sabtu (30/06).

Sementara Kepala SD Sempu  Eni  mengatakan kegiatan terlaksana atas kerjasama antara Polsek Limpung dan pihak sekolahnya. “Sebelum pelaksanaan sudah kami komunikasikan dan koordinasikan dengan kepolisian sektor Limpung sebagai pembina kamtibmas, termasuk waku penyelenggaraanya. Memang kali ini masih dalam libur sekolah dan hari ini seluruh guru serta murid berkumpul, kebetulan pada sore harinya kami juga melaksanakan pelepasan bagi siswa kelas VI yang lulus,” katanya.

Dewan juri lomba Khumaedi  yang juga guru agama dikelasnya menyampaikan jauh jauh sebelum lomba sudah di persiapkan secara teknis guna mendukung pelaksanaannya. “Selaku ketua Tim Pak Haji Rofii telah mempersiapkan dengan matang terhadap hal yang di lombakan,di samping melatih keberanian juga mendidik mental, kepribadian karakter para peserta,“ katanya.

Senada disampaikan Brigpol Nur Hasyim yang termasuk salah satu Tim juri bahwa dari ketiga perlombaan semuanya untuk mengasah ketrampilan ,seni dan kreasi anak. “Penampilan anak anak secara utuh dapat kita lihat bersama sehingga penilai dapat berlaku se obyektif mungkin sesuai dengan kesepakatan bersama,” tambah Brigpol Nurhasyim yang juga Alumni Pondok pesantren Selamat Kendal.

Sementara itu, Kapolsek Limpung Polres Batang AKP Donni Krestanto, yang turut hadir dan menunggui awal hingga akhir lomba mengatakan bahwa semuanya merupakan bentuk rangkaian kegiatan peringatan hari Bhayangkara tahun 2018 Polres Batang.  “Sesuai petunjuk dan arahan dari Polres Batang kegiatan tersebut dilaksanakan,terima kasih kepada semua pihak yang telah mendukung pelaksanaan kegiatan ini, terutama ibu kepala sekolah dan masyarakat desa Sempu,” tuturnya.

Apresiasi positif datang dari Pimpinan pondok pesantres Tuba Fikr Ustadz Kharisul Ulum Al Khasan atau yang akrab di sapa Ustadz Khasan.  “Terima kasih kepada Polsek Limpung semua itu merupakan sebagai ajang evaluasi terhadap pembelajaran Agama islam di sekolah, kalau bisa terus seperti ini juga di laksanakan dalam peringatan hari besar nasional misalnya hari lahir pancasila ataupun hari besar agama islam lainya,” tandas Ustadz hasan.

Terpisah, Koordinator wilayah pendidikan  Maksum   menyampaikan semua itu terselenggara karena kebersamaan instansi di bawahnya dengan kepolisian. “Inilah bentuk sinergitas antara polri dan sekolah yang sudah terbina dengan baik dengan di kenalnya polisi di kalangan pelajar dapat menekan kenakalan dikalangan anak anak,” ucapnya. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Jalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Festival Musik Bambu Nusantara digelar

festival musik bambu1

Batang, Wartadesa. – 14 grub musik bambu mengikuti gelaran acara Festival Musik Bambu Nusantara yang diselenggarakan oleh Pimpinan Cabang NU Kabupaten Batang, Jawa Tengah, Sabtu-Ahad (23-24/06) di Jalan Veteran Batang. Festival ini degelar dalam rangka menyemarakkan Konferensi Cabang ke-17 pada 14 hingga 15 Juli Mendatang.

Ketua Panitia, Ahmad Munir Malik mengungkapkan bahwa Festival Musik Bambu Nusantara merupakan bentuk penghargaan seni tradisi asli nusantara.  “Semangat Islam Nusantara terletak pada penghargaan kepada perbedaan dan penghormatan terhadap tradisi masyarakat yang tidak bertentangan dengan syariat,” ujarnya.

Dalam festival tersebut, lagu wajib yang dibawakan peserta adalah Ya Lal Wathan, “lagu wajib yang harus dibawakan oleh peserta yaitu Ya Lal Wathan yang berisikan semangat cinta Tanah Air,” tambah Malik.

Bupati Batang, Wihaji yang membuka acara mengungkapkan rasa terima kasihnya. Ia juga berharap, selain untuk menghibur masyarakat Batang, acara ini bisa mendukung program Heaven of Asia.

“Festival ini tentu saja sangat sejalan dengan visi Pemkab Batang yaitu Batang Heaven Of Asia atau Visit Batang 2022  karena kesenian merupakan khazanah kebudayaan yang sangat menunjang industri pariwisata,” ujar Wihaji.

Menurut Wihaji, event tersebut akan dijadikan acara tahunan tradisi syawalan. “Acara ini sangat bagus sekali, kami ingin acara ini menjadi event tahunan setelah syawalan,” ujarnya.

Dalam festival tersebut, juara satu diraih oleh grub Al-Muhajirin dari SMAN 1 Wonotunggal, juara dua oleh grub Laras Hati Lokojoyo Banyuptih dan juara tiga dari grub An-Nur MTs Nurussalam Tersono. (Eva Abdullah)

selengkapnya