close

Seni Budaya

OlahragaPendidikanSeni Budaya

MI Salafiyah Sidorejo Gelar PORSENI dalam Rangka Harlah NU dan Hari Lahir Madrasah

template berita foto warta desa (1)

Warta Desa, Batang – MI Salafiyah Sidorejo Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang menyemarakkan peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama sekaligus Hari Lahir Madrasah dengan menggelar Pekan Olahraga dan Seni yang berlangsung selama dua hari mulai Jumat hingga Sabtu Sabtu (30-31/01/2026).. Bertempat di lingkungan madrasah dan TPQ Salafiyah nol satu Sidorejo, kegiatan ini mengusung tema besar mengenai upaya bersama meraih prestasi dan bersatu dalam kreasi yang diikuti oleh seluruh siswa dengan penuh antusias.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua PAC Pergunu Warungasem sekaligus Kepala MI Salafiyah Sidorejo bernama Fatkhuddin yang menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengejar prestasi akademik namun lebih pada pembentukan karakter peserta didik. Ketua Panitia Muhammad Zamzami menjelaskan bahwa pelaksanaan ajang ini merupakan bagian dari program pembinaan untuk menggali potensi siswa di bidang non-akademik serta menumbuhkan semangat sportivitas, kreativitas, dan kedisiplinan sejak usia dini agar mereka mampu berkompetisi secara sehat dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran.

Berbagai cabang lomba menarik dipertandingkan dalam kegiatan ini mulai dari bidang olahraga seperti lari enam puluh meter, lari jarak jauh, lompat tinggi, lompat jauh, bulu tangkis, tolak peluru, catur, hingga bola voli. Sementara untuk bidang seni para siswa saling unjuk gigi dalam lomba pidato empat bahasa, pembacaan puisi, pembuatan kaligrafi, dan seni kolase yang mengasah kreativitas mereka. Semangat berkompetisi dirasakan langsung oleh salah satu siswa bernama Adi Pindan Baskoro yang mengaku sangat senang karena mendapatkan pengalaman berharga dan kesempatan berinteraksi lebih erat dengan teman-temannya.

Melalui penyelenggaraan pekan olahraga dan seni ini pihak madrasah berharap dapat terus memupuk budaya berprestasi dan menguatkan posisi lembaga pendidikan sebagai wadah pengembangan minat dan bakat yang komprehensif. Upaya ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi siswa dalam membentuk mental yang kuat dan mempererat semangat kebersamaan di lingkungan pendidikan madrasah Kabupaten Batang. ***

Pewarta: M. Najmul Ula

Editor: Buono

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

Seni Bertutur yang Kian Luntur

lukman

Oleh:  Lukman Alfaris, S.Pd., M.Pd.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan budaya. Kekayaan itu tidak hanya tercermin dalam ragam tarian, musik, atau busana tradisional, tetapi juga dalam tradisi lisan yang hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat. Salah satu warisan budaya lisan yang sarat makna adalah seni bertutur atau mendongeng. Melalui tuturan, nilai-nilai kehidupan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, menjaga bahasa dan tradisi bertutur sejatinya adalah upaya menjaga jati diri dan kebudayaan bangsa.

Namun, di tengah semangat merayakan Bahasa Indonesia pada saat Bulan Bahasa, ada satu aspek kebahasaan yang justru perlahan mulai memudar dari kehidupan sehari-hari, yakni seni bertutur. Tradisi mendongeng yang dahulu akrab di ruang keluarga dan masyarakat kini semakin jarang dijumpai. Aktivitas yang dulu menjadi momen hangat sebelum tidur, ketika anak-anak mendengarkan cerita dari orang tua atau kakek-neneknya, kini nyaris terlupakan. Modernisasi dan perubahan gaya hidup telah menggeser kebiasaan tersebut.

Kesibukan orang tua menjadi salah satu faktor utama. Rutinitas pekerjaan yang padat, kelelahan fisik, serta tekanan ekonomi membuat waktu bersama anak semakin terbatas. Percakapan hangat dan cerita penuh makna tergantikan oleh keheningan atau interaksi singkat yang minim kedalaman. Padahal, dari tuturan sederhana itulah terbangun kedekatan emosional, rasa aman, serta ikatan batin yang kuat antara anak dan orang tua. Cerita yang disampaikan dengan penuh cinta sering kali menetap lebih lama dalam ingatan anak dibandingkan nasihat panjang yang disampaikan tanpa sentuhan emosi.

Di sisi lain, perubahan perilaku anak-anak di era digital turut mempercepat lunturnya seni bertutur. Gawai, video daring, dan gim digital kini menjadi teman sehari-hari anak. Dunia mereka berpindah dari ruang cerita menuju layar yang penuh gambar bergerak. Komunikasi yang dahulu dipenuhi tatapan mata, intonasi suara, dan ekspresi wajah kini digantikan oleh animasi dan suara mesin.

Akibatnya, jarak emosional antara anak dan orang tua semakin terasa, sementara ruang dialog dan imajinasi semakin menyempit. Ironisnya, di tengah derasnya arus teknologi tersebut, seni bertutur justru memiliki kekuatan yang tidak tergantikan. Dongeng dan cerita lisan mengajarkan anak mengenali kebaikan dan keburukan, memahami kejujuran, kerja keras, keberanian, serta kasih sayang. Melalui alur cerita dan tokoh-tokohnya, anak belajar berempati, memahami perasaan orang lain, dan menimbang konsekuensi dari setiap tindakan.

Nilai-nilai itu tidak diajarkan secara menggurui, tetapi tumbuh secara alami dalam kesadaran anak. Seni bertutur tidak Lebih dari sekadar hiburan, namun seni bertutur merupakan media pendidikan karakter yang hidup. Ia bekerja melalui rasa, imajinasi, dan kedekatan emosional. Cerita yang disampaikan dengan suara lembut dan penuh penghayatan mampu menanamkan nilai moral jauh lebih dalam dibandingkan larangan atau perintah yang kering makna.

Di sanalah kekuatan dongeng: ia membentuk manusia yang beradab melalui cara yang halus dan manusiawi. Oleh karena itu, Mengembalikan tradisi mendongeng tidak selalu membutuhkan waktu lama atau cerita yang rumit. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk hadir, berbicara, dan mendengarkan. Sebab, dari tuturan sederhana itulah masa depan karakter anak dan keberlanjutan budaya bangsa dapat dijaga. ***

Diperkenankan untuk mengambil sebagian atau keseluruhan artikel ini dengan menyertakan link/tautan aktif artikel ini

Penulis adalah Dosen Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
Seni Budaya

Porseni IPNU-IPPNU Ke-VI Kecamatan Kandangserang Resmi Digelar

IMG-20251122-WA0009

Warta Desa, Lambur, 22 November 2025.
Kandangserang — Kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) tingkat Kecamatan Kandangserang resmi dilaksanakan hari ini di Gedung GOR Bulu Tangkis Lambur.

Antusiasme terlihat dari seluruh pengurus IPNU dan IPPNU se-Kecamatan Kandangserang yang hadir untuk menyukseskan rangkaian kegiatan tersebut.

Regina, salah satu pengurus IPPNU Kecamatan Kandangserang, menyampaikan bahwa kegiatan Porseni ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pelajar Nahdlatul Ulama sekaligus mempererat tali silaturahmi antar pengurus ranting di wilayah kecamatan.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pelajar Nahdlatul Ulama serta mempererat tali silaturahmi antar pengurus ranting,” ujar Regina.

Sementara itu, Ketua NU Kandangserang, H. Roni, menjelaskan bahwa Porseni tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari Hadroh hingga sejumlah lomba seperti cerdas cermat dan cabang seni lainnya.

“Hari ini anak-anak IPNU dan IPPNU melaksanakan kegiatan Porseni yang diisi dengan beberapa kegiatan seperti Hadroh, lomba cerdas cermat, dan lain sebagainya,” tutur H. Roni.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi pelajar NU untuk mengembangkan potensi, memperkuat karakter, serta mempererat kebersamaan antar kader di lingkungan NU Kecamatan Kandangserang. (Andi Purwandi)

Terkait
IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

IPNU IPPNU himbau anggotanya tak konvoi malam tahun baru

Buaran, Wartadesa. - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Putra Putri Nahdlatul Ulama (IPNU IPPNU) Kecamatan Buaran menghimbau Read more

IPNU IPPNU Wonokerto gelar ngepit bareng

Wonokerto, Waratadesa. - Sebagai pemuda penerus perjuangan NU, sudah selayaknya IPNU IPPNU menjadi pelopor kegiatan yang postif, kegiatan-kegiatan sosial ataupun Read more

SMA Islam YMI tuan rumah Porseni IPNU IPPNU Wonopringgo

Wonopringgo, Wartadesa. - SMA Islam YMI menjadi tuan rumah Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) II se-Anak Cabang Wonopringgo pada Jumat-Sabtu, Read more

selengkapnya
Seni Budaya

Gunakan Lagu Asing, Gelaran Apresiasi Seni Musik Dunia Disorot Warga

semarak seni

Warta Desa, Karanganyar, Pekalongan — Kementerian Kebudayaan Indonesia menggelar kegiatan bertajuk Semarak Budaya sebagai bentuk apresiasi terhadap keberagaman seni musik dunia. Acara ini berlangsung meriah di depan Aula Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, pada Minggu (3/11/2025) malam, mulai pukul 20.00 hingga selesai.

Sayangnya, gelaran musik jazz tersebut menampilkan lagu-lagu berbahasa asing. Sejumlah  warga menyayangkan karena dalam acara tersebut tidak disertai penampilan lagu-lagu Indonesia atau kesenian tradisional Jawa, yang selama ini menjadi identitas kuat budaya Pekalongan.

“Seni budaya Jawa itu tidak kalah bagus. Kalau semua lagu pakai bahasa asing, banyak yang tidak mengerti maknanya. Akan lebih baik kalau disisipkan juga lagu daerah atau gamelan agar lebih terasa nuansa budayanya,” ungkap salah satu warga yang hadir di lokasi.

Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPR RI, Camat Karanganyar beserta jajaran pemerintah kecamatan, beberapa kepala desa, serta puluhan masyarakat sekitar yang antusias menyaksikan pertunjukan musik jazz dari para musisi muda lokal dan nasional.

Acara Semarak Budaya ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan dalam mengembangkan serta memberdayakan potensi seni dan budaya daerah, sekaligus memperkenalkan karya-karya lokal di tingkat nasional maupun internasional.

Terkait dengan respon warga, pihak panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini ke depannya akan dikembangkan dengan konsep kolaborasi budaya, yaitu menggabungkan unsur musik modern seperti jazz dengan kekayaan seni tradisional nusantara.

Melalui Semarak Budaya, diharapkan lahir ruang ekspresi baru bagi para seniman muda untuk terus berkreasi tanpa melupakan akar budaya lokal yang menjadi jati diri bangsa. (Rohadi)

Terkait
Pembudidaya Ikan Air Tawar di Bintek

Karanganyar, Wartadesa - Pembudi-daya ikan air tawar di Kabupaten Pekalongan diberi bimbingan tentang teknologi budidaya ikan air tawar oleh Dinas Read more

Karcis parkir tertulis seribu, eh … ditulis pake bolpoin seribu lima ratus

Karanganyar, Wartadesa. - Karut marut perparkiran di Kabupaten Pekalongan, nampaknya terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kajen, Jalan Raya Read more

Ribuan santri dan walisantri meriahkan Panggung Gembira IMBS Miftakhul Ulum Pekajangan

Kedungwuni, Wartadesa. - Ribuan walisantri dan santri Pondok Pesanten International Muhammadiyah Boarding School (IMBS) Miftakhul Ulum Pekajangan di Desa Ambokembang Read more

Tebarkan syiar Islam, grup hadroh SMA Islam YMI tampil di Kajen

Kajen, Wartadesa. - Grup Hadroh SMA Islam YMI Wonopringgo, Syauqul Mustofa, kembali tampil dalam pembacaan maulid nabi dan solawat pada Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalSeni Budaya

Odong-odong Tampil di Kirab Budaya Kabupaten Pekalongan, Dinilai Langgar Aturan dan Undang-Undang

odong odong

Warta Desa, Pekalongan – Penampilan kereta kelinci alias odong-odong dalam Kirab Budaya Kabupaten Pekalongan menuai kritik tajam. Pasalnya, kendaraan hiburan yang sudah dilarang beroperasi karena tidak sesuai standar keselamatan tersebut justru tampil terbuka dalam acara resmi tingkat kabupaten.

Sebagaimana diketahui, keberadaan odong-odong sudah diatur dalam regulasi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, setiap kendaraan yang beroperasi di jalan wajib memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Odong-odong selama ini dinyatakan tidak memenuhi standar keselamatan, baik dari sisi rangka kendaraan, sistem rem, maupun perizinan operasional.

Larangan juga diperkuat dengan berbagai surat edaran dan instruksi dari Kementerian Perhubungan serta kepolisian. Kendaraan tersebut dinilai berisiko tinggi menyebabkan kecelakaan lalu lintas, terutama karena kerap dimodifikasi tanpa standar resmi.

Namun dalam karnaval baru-baru ini, justru terlihat odong-odong ikut serta sebagai peserta. Hal ini sontak memicu tanda tanya publik terkait konsistensi aturan yang berlaku.

Yang menjadi sorotan odong – ondong tersebut dinaiki oleh istri – istri para anggota DPR

“Kalau di jalan umum saja dilarang karena berbahaya, mengapa bisa tampil di acara resmi kabupaten? Ini jelas kontradiktif dan menimbulkan kesan pembiaran,” ujar salah seorang warga yang menyaksikan karnaval.

Sejumlah warga menilai, penampilan odong-odong dalam karnaval tidak hanya menyalahi aturan, tetapi juga berpotensi menormalkan praktik yang sudah dilarang. Bahkan, ada kekhawatiran jika hal ini dibiarkan, masyarakat akan menganggap odong-odong kembali diperbolehkan beroperasi.

“Acara karnaval semestinya menjadi ajang edukasi budaya sekaligus memberi teladan kepada masyarakat. Kalau yang ditampilkan justru kendaraan ilegal, berarti pemerintah daerah gagal memberikan contoh yang baik,” ungkap salah satu aktivis di Pekalongan.

Hingga kini, instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan diperbolehkannya odong-odong ikut tampil. Publik menunggu langkah tegas dari pemerintah kabupaten dan aparat penegak hukum agar aturan tidak hanya berlaku di atas kertas, tetapi juga dijalankan secara konsisten di lapangan. (Agung Dwi Wicaksono)

QR Code

Terkait

[caption id="attachment_1300" align="aligncenter" width="768"] Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

Warga terdampak tol mulai pindah

[caption id="attachment_1331" align="aligncenter" width="768"] Warga terdampak tol di desa Bulakpelem, Sragi ini mulai membongkar rumahnya secara swadaya. (15/10) Foto : Read more

Angaran Pilkades Rembang telan 1.5 miliar

[caption id="attachment_1372" align="alignnone" width="717"] Ilustrasi: Rembang akan melaksanakan pilkades bagi 43 desa secara serentak pada 30 Nopember 2016 mendatang. Rembang, Read more

selengkapnya
Layanan PublikSeni Budaya

MIRIS! Pendopo Lama Kabupaten Pekalongan Terlupakan, Disulap Jadi Lahan Bisnis Sementara Bangunan Sejarah Terbengkalai

IMG-20250804-WA0030

Warta Desa,Pekalongan – Ditengah geliat pembangunan dan modernisasi yang terus berlangsung di Kabupaten Pekalongan, nasib bangunan bersejarah justru semakin terpinggirkan. Salah satunya adalah Pendopo Lama Kabupaten Pekalongan, yang kini keadaannya sangat memprihatinkan. Bangunan yang dahulu menjadi pusat pemerintahan dan simbol kekuasaan lokal itu kini seakan hanya menjadi saksi bisu kehampaan sejarah, dilupakan oleh penguasa dan tidak dipedulikan oleh pihak terkait.

Ironisnya, kawasan sekitar pendopo kini justru dipenuhi oleh aktivitas ekonomi, mulai dari warung, stan makanan, toko-toko kaki lima, hingga tempat parkir komersial. Aktivitas bisnis yang semakin padat di sekitar area pendopo tidak diiringi dengan upaya perawatan atau pelestarian terhadap bangunan utamanya. Pendopo dibiarkan kusam, reyot, dan nyaris tak terawat. Cat tembok yang mengelupas, kayu-kayu yang lapuk, dan atap yang mulai rusak menjadi pemandangan sehari-hari yang mencoreng identitas budaya daerah.

Seorang warga setempat, Bapak Sutrisno (62), yang sejak kecil tinggal di kawasan itu, mengungkapkan keprihatinannya.

> “Dulu pendopo ini menjadi pusat kegiatan adat dan pemerintahan. Sekarang hanya jadi pemandangan yang menyedihkan. Tidak ada lagi jiwa sejarah di sini. Pemerintah seakan membiarkannya hancur pelan-pelan,” ucapnya.

 

Pendopo Lama tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga nilai arsitektural tinggi sebagai salah satu peninggalan masa pemerintahan kabupaten tempo dulu. Namun, nilai-nilai luhur tersebut saat ini tertutup oleh geliat bisnis yang mengitari kawasan tersebut. Seolah-olah, ekonomi lebih dikedepankan daripada pelestarian warisan leluhur.

Beberapa pemerhati budaya juga menyayangkan tidak adanya langkah konkret dari pemerintah daerah dalam menyelamatkan bangunan tersebut.
“Kalau dibiarkan seperti ini terus, tinggal tunggu waktu sampai pendopo itu benar-benar roboh atau digantikan bangunan lain,” ujar Turadi, pegiat sejarah lokal. “Padahal jika dirawat dan difungsikan dengan baik, pendopo bisa jadi ikon wisata sejarah Pekalongan.”

Tidak sedikit pula yang menilai bahwa pengelolaan kawasan ini hanya berpihak pada kepentingan sesaat. Tanpa ada regulasi ketat, area sekitar pendopo disulap jadi lahan parkir dan kios-kios yang memberi keuntungan instan, tetapi menggerus nilai budaya.

Hingga kini belum ada informasi pasti dari pihak pemerintah daerah mengenai rencana revitalisasi atau pelestarian pendopo. Dinas terkait pun belum memberikan tanggapan resmi atas keluhan masyarakat.

Dengan kondisi seperti ini, masyarakat berharap agar Pendopo Lama Pekalongan tidak hanya dijadikan latar belakang dari geliat bisnis yang kian ramai, tetapi juga dijadikan prioritas dalam pelestarian sejarah daerah. Sudah saatnya pemerintah membuka mata dan telinga terhadap kondisi nyata warisan budaya yang tengah sekarat di depan mata. (Agung Dwi Wicaksono)

 

QR Code

Terkait
Alih Fungsi Pendopo Lama Pekalongan Dinilai Komersial, Abaikan Nilai Sejarah Leluhur

Warta Desa, Pekalongan – Bangunan bersejarah Pendopo Lama Kabupaten Pekalongan kembali menuai sorotan publik. Alih fungsi bangunan yang dulunya merupakan pusat Read more

Muhammadiyah dan Pendidikan: Refleksi di Hari Pendidikan Nasional 2025

Oleh : H. Tjahyono, M. Pd “Orang Islam jangan hanya menjadi penonton dalam arus kemajuan. Kita harus menjadi pelaku, dan Read more

Tren Banyak BMT Kolaps, Muhammadiyah Kajen Pekalongan Ingatkan Semangat Pendirian BT Muhamka

Warta Desa, Pekalongan - Di tengah kondisi banyaknya lembaga koperasi dan Baitul Maal wa Tamwil (BMT) yang kolaps dan tidak sehat, Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Paguyuban 212 Cah Sableng Gelar Santunan Anak Yatim dan Ruwat Alam

santo

Warta Desa, Pemalang, 21 Juli 2025 – Paguyuban 212 Cah Sableng Sabda Manunggaling Pamalang kembali menggelar kegiatan tahunan berupa tasyakuran ruwat alam dan santunan anak yatim, bertempat di Pendopo Paseban, Desa Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang.

Acara ini merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap alam dan rezeki yang telah diterima. Dalam kesempatan kali ini, sebanyak 100 anak yatim dan kaum dhuafa menerima santunan dari paguyuban.

Kegiatan dimulai pada Minggu Pon siang hingga malam hari. Masyarakat Kelangdepok turut berpartisipasi dalam arak-arakan gunungan hasil bumi yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil tani lainnya. Gunungan ini sebagai simbol persembahan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keberkahan alam.

Acara ruwat alam ini juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Dalang Mangun Yuwono, membawakan lakon Parikesit, yang sarat dengan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal nusantara.

Hadir dalam kegiatan ini antara lain Bupati Pemalang, perwakilan dari Kesbangpol, Prokopimcam, Kepala Desa Kelangdepok, para sesepuh, serta masyarakat dari berbagai kalangan yang turut meramaikan acara.

Dalam sambutannya, Bupati Pemalang menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kami sangat mendukung dan berharap kegiatan mulia seperti ini terus dilaksanakan. Pemerintah Kabupaten Pemalang siap turut hadir dan mendukung dalam pelestarian budaya serta kegiatan sosial seperti santunan anak yatim,” ujarnya.

Sementara itu, Eyang Sujito, sesepuh Paseban dan tokoh paguyuban 212 Cah Sableng, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada jajaran pemerintah Kabupaten Pemalang atas kehadiran dan dukungannya. “Ini merupakan bentuk sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga budaya dan kepedulian sosial,” tuturnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong, pelestarian budaya, dan kepedulian terhadap sesama masih kuat tertanam di tengah masyarakat Pemalang. (Gusanto)

Terkait
Bocah Karateka Asal Pekalongan, Sumbang Medali Untuk Pemalang

Unggul Seno menerima pengalungan medali perak dalam lomba Karate Open Jateng & DIY FORKI, (22/10) di Read more

Warga Pemalang jadi korban pembunuhan sadis di Pulomas

Bantarbolang, Wartadesa. - Sugianto (48), warga Desa Pegiringan Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang turut menjadi korban pembunuhan sadis di Jl Pulomas Utara Read more

Warga buka segel kantor Desa Ampelgading

Dampak warga tuntut dua oknum perangkat desa dipecat Pemalang, Wartadesa. - Kapolsek Ampelgading, AKP Heriyadi Noor bersama Camat, Kepala Desa dan Read more

Warga temukan mayat tak dikenal di Kedungbanjar Pemalang, Andakah keluarganya?

Pemalang, Wartadesa. - Polsek Taman Kabupaten Pemalang menunggu 1 x 24 jam, jika tidak ada keluarga yang mengakui korban maka Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni BudayaSosial Budaya

Ruwatan Alam dan Arak-Arakan Hasil Bumi Desa Kelangdepok, Pemalang

IMG-20250720-WA0007

Warta Deaa, Pemalang, 20 Juli 2025 – Bertempat di Pendopo Paseban, Desa Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang, telah diselenggarakan acara Ruwatan Alam yang diinisiasi oleh Yayasan Sabda Manunggal Pemalang. Acara sakral ini digelar sebagai bentuk ungkapan syukur sekaligus harapan akan keselamatan dan kemakmuran alam dan masyarakat.

Acara ini menghadirkan dalang kondang, Ki Dalang Mangun Yuwono, yang memimpin prosesi ruwatan sebagai simbol penyucian dan doa bersama untuk alam. Ruwatan alam dipercaya sebagai cara untuk membersihkan energi negatif serta menghindarkan masyarakat dari mara bahaya dan bencana.

Salah satu rangkaian utama dalam kegiatan ini adalah arak-arakan hasil bumi yang meriah, di mana masyarakat membawa berbagai macam hasil panen seperti sayur-mayur, buah-buahan, dan hasil tani lainnya. Arak-arakan ini mencerminkan rasa syukur atas berkah alam sekaligus doa agar hasil panen ke depan semakin melimpah.

Ketua Yayasan Sabda Manunggal Pemalang, Eyang Sujito, menyampaikan bahwa kegiatan ini akan terus dilestarikan setiap tahunnya. Harapannya, tradisi ini dapat menjadi sarana spiritual untuk menjaga keseimbangan antara manusia dan alam, serta memperkuat solidaritas masyarakat.

“Dengan ruwatan alam dan arak-arakan hasil bumi, kami berharap masyarakat terhindar dari musibah dan dapat hidup dalam kemakmuran,” ujar Eyang Sujito.

Acara ini mendapat sambutan antusias dari warga Desa Kelangdepok serta masyarakat dari berbagai daerah yang turut hadir dan meramaikan kegiatan. Semangat gotong royong dan pelestarian budaya menjadi nilai utama dalam perhelatan ruwatan alam ini. (Gusanto)

 

QR Code

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rusak, warga rehab Mushola “Pasar Kebo”

Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
Seni Budaya

Pertunjukan Musik Gelombang Cinta #2 di Panorama 25 Bojong Dihadiri Ribuan Penonton, Pedagang Kecil Raup Untung Berlipat

konser

Warta Desa, Pekalongan, 4 Juli 2025 – Ribuan penonton memadati kawasan wisata Panorama 25, Desa Duwet, Kecamatan Bojong, Kabupaten Pekalongan, pada Jumat (4/7/2025) dalam gelaran Pertunjukan Musik Gelombang Cinta #2. Acara musik yang dimulai pukul 16.00 hingga 23.00 WIB tersebut menghadirkan bintang tamu LAVORA, JKT48, dan NDX A.X.A, memberikan hiburan spektakuler bagi masyarakat Pekalongan dan sekitarnya.

Diperkirakan sekitar 9.000 penonton hadir dalam konser tersebut. Tak hanya dari Kabupaten Pekalongan, penonton juga datang dari Batang, Pemalang, Kota Pekalongan, hingga Tegal.

Untuk memastikan keamanan dan kelancaran acara, Kabag Ops Polres Pekalongan Kompol M. Farid Amirullah turun langsung memantau jalannya konser bersama Kapamwil Bojong AKP Wastono,  para Padal masing-masing lokasi penggal pengamanan, serta anggota Polri yang tersprint dalam kegiatan.

Pengamanan konser melibatkan, Polri: 120 personel, TNI: 10 personel, Pamswakarsa: 20 personel, EO penyelenggara: 30 personel.

Santi, penonton asal Comal, mengaku puas dan senang bisa menonton konser idolanya. “Senang banget, puas dan nyaman walaupun harus merogoh kantong cukup dalam,” ujarnya.

Sementara itu, Slamet, pedagang jagung keliling di area konser, mengaku bersyukur dengan adanya pertunjukan musik di Panorama 25. “Alhamdulillah omset saya naik tiga kali lipat. Semoga sering ada event seperti ini biar bisa membantu ekonomi pedagang kecil seperti saya,” tuturnya.

Acara musik Gelombang Cinta #2 ini berlangsung aman, tertib, dan meriah, memberikan hiburan sekaligus berkah ekonomi bagi pedagang sekitar. Panorama 25 kembali membuktikan diri sebagai destinasi wisata sekaligus pusat hiburan masyarakat di Kabupaten Pekalongan. (Rohadi)

QR Code

Terkait
Suporter Persekap Tolak Konser Full Satru Dihelat di SWMK

Kajen, Wartadesa. - Suporter Persekap Pekalongan menolak acara Konser Full Satru yang bakal dihelat di Stadion Widya Manggala Krida (SWMK) Read more

Selamatkan hulu Kali Kupang, Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono gelar aksi konservasi

Petungkriyono, Wartadesa. - Perhutani KPH Pekalongan Timur, Cabang Dinas Kehutanan 4 Jawa Tengah dan SwaraOwa, menginisiasi aksi konservasi hutan dengan Read more

Sekda Pemalang: tak ada konser Slank di gelaran Destika Jawara Pemalang

Pemalang, Wartadesa. - Setelah sebelumnya di media sosial berseliweran berita bahwa grub musik Slank akan melakukan 'perform' di gelaran Festival Destika Read more

Polsek Bojong Amankan Pertunjukan Musik STATION PROJECT #2 di Panorama 25 Duwet

Ribuan Penonton Hadir, Acara Berjalan Aman dan Lancar Warta Desa, Pekalongan, 25 Juni 2025 – Polsek Bojong melaksanakan pengamanan kegiatan pertunjukan Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Pemdes Kaliombo Gelar Sedekah Bumi dan Wayang Kulit Semalam Suntuk sebagai Wujud Syukur

kaliombo

Warta Desa, Pekalongan, 28 Mei 2025 – Pemerintah Desa (Pemdes) Kaliombo, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan, menggelar acara Sedekah Bumi atau yang dikenal dengan sebutan Legenonan sebagai bentuk rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa. Acara tersebut dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kulit semalam suntuk oleh dalang kenamaan, Ki Dalang Atmo Subarno.

Kepala Desa Kaliombo, Slamet, dalam sambutannya menyampaikan terima kasih kepada seluruh panitia dan warga masyarakat yang telah bahu-membahu, rukun dan kompak dalam menyukseskan acara yang digelar rutin setiap dua tahun sekali ini.

“Sedekah bumi ini adalah bentuk rasa syukur kita atas hasil bumi dan segala nikmat yang telah diberikan oleh Allah SWT. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah ikut andil, semoga acara ini membawa keberkahan bagi seluruh warga Kaliombo,” ujar Slamet.

Sementara itu, Ketua Panitia Sedekah Bumi dalam sambutannya menjelaskan rangkaian kegiatan yang telah dilaksanakan dalam peringatan tersebut. Ia menekankan bahwa pertunjukan wayang kulit bukan sekadar hiburan, tetapi juga sarana tuntunan kehidupan.

“Wayang kulit bukan hanya tontonan, tetapi juga tuntunan. Karena lakon dalam pertunjukan wayang menggambarkan nilai-nilai kehidupan manusia di muka bumi ini. Ada ajaran, petuah, dan filosofi yang bisa kita ambil sebagai pelajaran,” tuturnya.

Acara berlangsung dengan meriah dan penuh khidmat. Warga tampak antusias memadati lokasi acara hingga larut malam. Kepala Desa Kaliombo juga menyampaikan harapan agar tradisi Sedekah Bumi ini terus dilestarikan oleh generasi mendatang sebagai bagian dari warisan budaya lokal yang sarat makna spiritual dan sosial. (Gusanto)

QR Code

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

Rutin, Polsek Sragi beri pengamanan di sekolah

Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

selengkapnya