close

Seni Budaya

Seni Budaya

Brendung, kesenian magis asli Comal yang hampir punah

brendung

Mbak ayune si Brendung
Temuruna pumping sore
Widadari patang puluh
age-age padha ngranjinga
yen ngrajing padha pedhayana
yen wis pedhayan padhan jogeta…

mbok Brendung temuruno /

age-age mumpung sore /
nggawahojatu karma /
kramane sing anggawe /
sing nggawe katah lare /
lare nang undang dewa…

Suku Kaso di Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal,kabupatem Pemalang, selama ini dikenal luas oleh sebagian besar masyarakat sebagai Suku Saminnya Kabupaten Pemalang. Namun,seiring perjalanan waktu tradisi yang melingkupinya terkikis oleh kedatangan budaya modern. Padahal nilai-nilai luhur yang hendak disampaikan dari tradisi Suku Kaso, bukan hanya mampu mempersatukan antar warga akan tetapi juga mampu menyelaraskan serta mensikapi diri dengan alam. Saat ini,satu-satunya tradisi yang masih bertahan adalah kesenian tradisional Brendung.

Kesenian Brendung sendiri merupakan permainan boneka yang terbuat dari tempurung kelapa dan tubuhnya dari bambu. Boneka tersebut dirias sedemikian rupa, termasuk didandani ala wanita cantik, kemudian ditancapkan pada alas tampah (nyiru). Boneka wanita cantik konon melambangkan bidadari, atau menurut istilah setempat Brendung.

Dalam permainan Brendung yang dibantu wanita sebanyak 4 sampai 6 orang sebagai penyanyi, seorang pemimpin yang dinamakan ‘mlandang’ memainkan boneka bidadari sebagai pemeran utama dalam lakon tersebut. Para penyanyi ikut serta membantu memegang tali wanita cantik yang dilambangakan boneka bidadari itu keempat sisi bagian.

Kalau wanita cantik atau ‘mbok’ Brendung sudah menari-nari, maka tali yang dipegangi itu jadi terasa berat sekali. Ini menunjukkan kalau permainan Brendung itu telah berhasil. Memang kesenian Brendung ini mengandung permainan magis, sebab dalam setiap penampilannya selalu melibatkan roh halus yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang disebut mlandang tadi.

Apabila mlandang itu telah memberi roh kepada boneka cantik tersebut dengan mahluk halus yang dipanggilnya, maka permainan Brendung akan benar-benar ramai dan seru. Hal itu setelah didendangkan lagu-lagu pujian dengan syair-syair yang terdengar ‘unik’ ditambah suara tetabuhan dua buah kendang yang ditutupi kain hingga menimbulkan bunyi yang aneh serta sebuah kencrek yang menambah suasana gemeresek.

Mbok Brendung itu akan mulai beraksi dimulai dengan gerakan-gerakan yang sangat lemah, lalu semakin lama semakin kuat yang seolah-olah bak seorang penari yang sedang dimabuk tariannya. Dan bila lagu-lagu yang disenandungkan berisi syair-syair yang memujinya, maka mbok Brendung jadi melonjak-lonjak girang.

Syair-syair seperti ; mbok Brendung temuruno / age-age mumpung sore / nggawahojatu karma / kramane sing anggawe / sing nggawe katah lare / lare nang undang dewa… dsb, dst, itu nyanyian khas Brendung yang mereka alunkan. Disamping lagu-lagu tersebut, untuk membangkitkan semangat kekuatan magic dalam boneka, juga dialunkan lagu-lagu yang sifatnya wangsalan/pantun sehingga pertunjukkan kian semarak.

Kemudian ditawarkan kepada penonton, siapa yang akan atau berminat memegangi Brendung, dengan catatan jangan coba-coba menghina/mencaci maki boneka tersebut. Sebab, bila mengucapkan kata-kata yang bernada mengejek/menggodanya, meski pemeran utama itu hanyalah benda mati belaka, akan dapat menyerang dengan mengejar dan memukulinya.

Kesenian Brendung dilihat dari bentuknya memang dianggap kuno dan mengandung permainan magic. Karena dalam permainan kesenian tersebut memerlukan keahlian melibatkan roh halus kedalam boneka wanita yang melambangkan bidadari, agar sesuatu permohonannya dapat terkabul. Maksud dan tujuannya meminta kepada kekuatan ghaib, diantaranya sembuh dari penyakit, mendapatkan jodoh dan agar desa jauh dari marabahaya.

Sekarang kesenian Brendung dimainkan kadang-kadang saja, apabila dibutuhkan. Kesenian tradisional milik masyarakat Sarwodadi pada masa hidupnya dulu, merupakan hiburan masyarakat juga dan biasanya ditampilan sesudah musim panen.Terlebih pada zaman sekarang yang serba modern kesenian Brendung sudah dilupakan orang.

Memang bila dibandingkan dengan kesenian tradisional yang ada dan hidup di Kab. Pemalang seperti seni Kuntulan, Bolo Boso, Wayang Purnodan Tayuban, kesenian Brendung keadaannya lebih memprihatinkan. Kesenian yang sekilas mirip dengan seni Jaelangkung ini sekarang sudah tinggal dari peredarannya dan tak punya tempat lagi di hati masyarakat.

Hal ini disebabkan, disamping keadaan para tokoh sendiri sudah tidak ada, juga jumlahnya sudah hilang. Seperti mlandang Taban pada tahun 1990an adalah keturunan yang III dari pawang Tawi. Kesenian Brendung sendiri sudah ada sejak tahun 1800 dan ditemukan oleh seorang penduduk desa Sarwodadi yang bernama TAWI. Oleh masyarakat setempat kemudian Tawi dikenal sebagai pawang Brendung dan secara turun temurun generasi Tawi ini menjadi pawang Brendung.

Dalam memilih tempurung yang dilakukan oleh mlandang adalah kelapa yang besar dan bulat untuk dijadikan kepala mbok Bredung tidak sembarangan. Seorang mlandang bahkan harus bertapa segala dan memilih ‘cumplung’ (tempurung kelapa) yang jatuh pas pada malam jum’at Kliwon. Kemudian didandani cantik jelita bak bidadari, oleh pawang dibawa ketempat yang dianggap keramat dengan dilengkapi sesaji dan peralatan kecantikan, antara lain bedak, alat-alat make-up, kaca untuk berhias dll. Dengan dibacakan mantera-mantera sambil membakar kemenyan dengan maksud mendatangkan kekuatan magic yang akan dapat memasuki boneka tersebut.

Setelah dari tempat keramat, barulah pawang mementaskan Brendung yang diawali dengan meletakkan boneka tersebut di atas penampi/tampah dan ditemani lampu kecil (senthir). Menurut pawang Brendung kekuatan magic akan cepat memasuki boneka bila penyelenggaranya dilaksanakan pada waktu bulan purnama, tanpa sinar lampu yang menyoroti. Konon yang menjadi pantangan, apabila yang menjadi pawang bukan dari ahli waris Tawi akan banyak mendapatkan kesulitan dan gagal dalam penyelenggaraan kesenian tersebut karena sang boneka tidak mau menari-nari.

Selain di Pemalang, ternyata kesenian Brendung ada di wilayah Banjarnegara, dari laman http://budparbanjarnegara.com disebutkan bahwa Nyai Brendung adalah boneka yang dibuat dari siwur (gayung dari tempurung) dan bubu penangkap ikan yang dihias seperti boneka serta dengan asesoris bunga-bunga yang diikat dengan angking. Nyai Brendung dimainkan oleh warha setempat dengan tujuan untuk meminta datangnya hujan. Boneka Brendung bisa bergerak sendiri dengan permohonan seorang pawang disertai dengan beberapa sesaji dan dinyanyikan lagu/mantra. Tujuan diberikannya sesaji dan dinyayikan lagu/mantra yaitu untuk memanggil ruh-ruh gaib yang diiringi dengan musik lodong. Adapun peserta pemain Boneka Brendung terdiri dari 20 pemain putra dan 10 pemain putri. Meski demikian laman tersebut tidak memuat secara rinci, wilayah atau desa spesifik yang menyajikan kesenian magis tersebut. (Eky Diantara, dirangkum dari berbagai sumber)

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

Mengenal Ritual Ageng Banyu Panguripan dalam Festival Wong Gunung

festival wong gunung

Pemalang, Wartadesa. – Gelaran Festival Wong Gunung, Desa Pulosari, Kecamatan Pulosari, Kabupaten Pemalang kembali dihelat dengan agenda utama Ritual Ageng Banyu Panguripan yang merupakan bentuk rasa syukur atas nikmat air yang melimpah

Acara yang dimulai Sabtu (07/09) dimulai dengan acara Ebeg Jurangmangu, dilanjutkan dengan Pamundhutan Banyu Tuk Pitu, Ruwat Agung Banyu Panguripan, dan pada hari ini (Ahad 08/09) akan dihelat Kirab Agung Banyu Panguripan, Pinasrahan Agung, dan acara hiburan yang dimeriahkan oleh penyanyi papan atas, Ello dengan ditutup pesta kembang api pada malam harinya.

Ebeg merupakan bentuk kesenian tari daerah Banyumas seperti kesenian kuda lumping. Tarian Ebeg menggambarkan prajurit perang yang sedang menunggang kuda. Gerak tari yang menggambarkan kegagahan diperagakan oleh pemain Ebeg.

Menurut Wikipedia, kesenian Ebeg ini sudah ada sejak zaman purba tepatnya ketika manusia mulai menganut aliran kepercayaan animisme dan dinamisme. Salah satu bukti yang menguatkan Ebeg dalam jajaran kesenian tua adalah adanya bentuk-bentuk in trance (kesurupan) atau wuru. Bentuk-bentuk seperti ini merupakan ciri dari kesenian yang terlahir pada zaman animisme dan dinamisme.

Selain itu Ebeg dianggap sebagai seni budaya yang benar-benar asli dari Jawa Banyumasan mengingat didalamnya sama sekali tidak ada pengaruh dari budaya lain.

Pamundutan Banyu Tuk Pitu

Pamundutan banyu tuk pitu Merupakan prosesi pengambilan banyu panguripan di tujuh sumber mata air yang ada di Gunung Slamet. Prosesi ini dilakukan oleh para pendekar dari Desa Jurangmangu Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang dan dipimpin langsung oleh Juru Kunci Gunung Slamet. Acara ini merupakan pembuka Ritual Agung Banyu Panguripan dalam Festival Wong Gunung 2019.

Ruwat Agung Banyu Panguripan

Ruwat Agung Banyu Panguripan merupakan prosesi Banyu Panguripan yang telah diambil akan disatukan oleh penggowo Desa Jurangmangu. Prosesi ini diiringi ayat-ayat suci Al-Qur’an dan dibagikan ke 12 lodong oleh penggowo 12 desa. Selanjutnya, disemayamkan dengan dikelilingi 99 obor.

Kirab Agung Banyu Panguripan

Setelah disemayamkan, Banyu Panguripan dibawa oleh 12 Putri Banyu Panguripan dan diarak 12 Kepala Desa serta ribuan warga Kecamatan Pulosari. Seluruh pengarak menggunakan pakaian tradisional Jawa dan membawa hasil bumi yang dirangkai menjadi gunungan.

Pinasrahan Banyu Panguripan

Sebagai puncak acara dari Ritual Agung Banyu Panguripan, Pinasrahan dilakukan oleh 12 putri yang membawa Banyu Panguripan dan diserahkan kepada 12 Kepala Desa. Tujuan untuk segera dibawa kembali ke desa masing-masing.

Manunggaling Banyu Panguripan

Setelah di Pinasrahkan, Banyu Panguripan dituangkan ke mata yang ada di desa sebagai simbol keprihatinan sekaligus rasa syukur terhadap keadaan air yang ada di Kecamatan Pulosari. Prosesi ini menjadi penutup Ritual Agung Banyu Panguripan. (Eky Diantara/Eva Abdullah dengan tambahan berbagai sumber)

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

AMM Pencongan gelar aksi teaterikal sejarah Tugu Pentjongan

aksi teaterikal

Wiradesa, Wartadesa. – Aksi unik berupa teaterikal sejarah Tugu Pentjongan ditampilkan oleh Angkatan Muda Muhammadiyah (AMM) Pencongan, Kecamatan Wiradesa dalam sebuah gelaran Kirab Budaya Wiradesa, Jum’at (06/09) lalu.

Aksi teaterikal yang dihelat untuk memeriahkan Kirab Budaya Wiradesa tersebut, Angkatan Muda Muhammadiyah pencongan  mengangkat sebuah cerita teatrikal sejarah pertumpahan darah yang terjadi di sekitar sungai Sengkarang (Pencongan–dulu Penjongan).

Dalam cerita sejarah, sekitar tahun 1940-an terjadi peristiwa memilukan, yakni pembantaian bebrapa pemuda dan ulama yang disaksikan oleh masyarakat setempat karena tidak mau sejalan dengan Belanda waktu itu.

Dalam peristiwa itu, muncul sosok ulama di Kelurahan Bener yang bernama Kyai Muchtar, pada zaman itu terkenal dengan kesaktianya. Masyarakat mengenal kesaktianya karena Belanda selalu gagal dalam menangkap beliau, meskipun usianya sudah tua. Ia lihai mengelabui Belanda.

Dalam pentas teaterikal tersebut Angkatan Muda Muhammadiyah Pencongan membawa pesan kepada anak muda untuk tidak melupakan peristiwa tersebut.

“Kegiatan ini kami sengaja angkat karena banyak masyarakat, terutama kaum muda tidak tahu sejarah yang memilukan tersebut. Sejarah dimana beberpa pemuda dan ulama dibantai dengan sadis dihadapan masyarakat setempat karena tidak mau sejalan dengan belanda….” Tutur Zaenal Holis, salah satu anggota Komando Kesiapsiagaan Angkatan Muda Muhammadiyah (KOKAM) Pencongan, Jum’at (06/09).

Kirab Budaya Wiradesa diikuti oleh semua kelurahan se kecamatan Wiradesa, ormas dan beberapa instansi pemerintah lainnya.

Peserta terlihat sangat antusias dan bersemangat dengan mengenakan berbagai macam kostum, mulai dari kostum batik karnival, busana adat, pejuang, pendekar dan lain-lain. Dengan tema dan ikon masing-masing, para peserta menunjukan kreativitas dan inovasinya, hal ini sesuai dengan tujuan diadakannya acara ini.

Dalam gelaran tersebut terpilih sebagai pemenang berdasarkan hasil penilaian para juri dari DKD Kabupaten Pekalongan, DKKP Kota Pekalongan dan Kobuira, sebagai berikut,
Juara I : Desa Wiradesa
Juara II : Desa Delegtukang
Juara III : Kelurahan Mayangan
Juara Harapan I : Desa Kampil
Juara Harapan II : Desa Warukidul
Juara Harapan III : Kelurahan Gumawang (.*.)

Kontributor : Fauzan Amin

 

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

Tradisi Goro Suro dan penganut Kepribaden

goro suro

Karanganyar, Wartadesa. – Pelibatan masyarakat adat dalam peringatan satu Suro dan memperingati Hari Jadi ke-397 Pemkab Pekalongan, digelar dengan acara Goro Suro di Desa Legok Kalong, Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, Ahad (01/09) lalu.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi yang hadir dalam gelaran tersebut mengungkapkan bahwa Goro Suro merupakan upaya nguri-uri (melestarikan) budaya. “Ini bagian dari upaya nguri-nguri budaya Jawa, meskipun ada beberapa kekurangan,”  ujarnya.

Asip mengucapkan terima kasih kepada para penganut Kepribaden dalam mempertahankan budaya Jawa agar tetap eksis, dengan melibatkan mereka dalam acara doa bersama antar umat beragama pada Peringatan Hari Jadi ke-397 Kabupaten Pekalongan.

Menurut Asip, falsafah Jawa jika dilaksanakan mampu menjadikan manusia seutuhnya dan dengan nguri-uri budaya Jawa, akan mengembalikan entitas orang Jawa.

“Dalam falsafah Jawa dikenal dengan karakter adigang, adigung, adiguno. Padahal jika kita mampu mengalahkan sifat adigang, adigung, adiguno akan timbul sifat lemah lembut, sopan, ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake,”  kata Asip.

Untuk nguri-uri budaya, Pemkab Pekalongan akan menggunakan bahasa Jawa dala upacara maupun kegiatan pemerintahan tiap hari Kamis, lanjut Asip.

Asip berharap kegiatan Goro Suro terus dilakukan turun-temurun sebagai ikhtiar dalam menjaga tradisi budaya Jawa. “Ini sebagai pengingat bahwa orang tua kita dahulu memiliki penanggalan Jawa atau pranatan yang pantas disandingkan dengan penanggalan lainnya,” lanjutnya.

Dikutip dari Tirto id, penghayat Kapribaden tak memiliki kitab suci. Mereka hanya mengacu pada buku tuntunan mencapai kesempurnaan sejati yang ditulis pinisepuh Wahyono Raharjo.

Penghayat kapribaden mengajarkan lima gaib dan lima tindakan. Setiap warga Kapribaden yang dianggap mumpuni memiliki dua nama, yakni nama bagi fisik dan rohnya. Manusia secara fisik akan menjadi tua dan mati, tapi bagi mereka, roh tetap abadi. Mereka diajarkan untuk mereduksi sifat buruk dengan berlaku sabar, menerima, welas asih, dan tulus terhadap sesama.

Buku pedoman mencapai kesempurnaan sejati  ditulis oleh pinisepuh Wahyono Raharjo. Sebelum meninggal pada 1981, sesepuh paguyuban, Herucokro Semono yang dipanggil romo, mewariskan kepemimpinan kepada Wahyono Raharjo dan Hartini Wahyono—keduanya disebut pinisepuh. Secara simbolik romo memberikan pusaka tongkat komando kepada kedua pinisepuh itu. Ini tanda peralihan kekuasaan untuk memimpin penganut Kapribaden dari Bali, Jawa Tengah, Jawa Timur, Yogyakarta, Jawa Barat, dan Jakarta. (Eva Abdullah dengan tambahan sumber dari Tirto.id)

selengkapnya
Seni Budaya

Ronggeng, sawer dan minuman keras

ronggeng

Lebakbarang, Wartadesa. – Tari ronggeng, sebagian warga mengganggap kesenian ini erat dengan budaya sawer dan mabuk-mabukan miras. Benarkah demikian kenyataanya?

Dalam sebuah hajatan pernikahan putri bapak Waluyo, warga Pamutuh, Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan, pertunjukan ronggeng digelar secara meriah. Tak kurang dari ratusan penonton, warga sekitar menyaksikan perhelatan tersebut. Selasa (27/08) malam. Tari ini berlangsung hingga dinihari, pukul 03.00 WIB.

Untuk menepis tari ronggeng erat kaitannya dengan mabuk-mabukan, petugas kepolisian setempat menghimbau kepada penonton untuk tidak menenggak miras maupun mabuk-mabukan saat menari dan memberikan saweran kepada sang ronggeng.

Alhasil, pertunjukan lebih dari 8 jam tersebut berjalan dengan kondusif, penonton yang akan menari bersama sang ronggeng, dan sawer menjadi hal yang lazim dilakukan oleh penonton yang akan menari bersama ronggeng pun menjadi ciri khas tari yang berasal dari dataran Sunda maupun Jawa, berlangsung tertib.

Di kota santri, tari ronggeng dikenal dengan petilasan situs pengilon ronggeng. Situs itu berdasarkan cerita tutur masyarakat Desa Kutorojo, Kecamatan Kajen, ada kaitannya dengan masuknya kesenian ronggeng ke desa tersebut.

Menurut warga,  sebagian masyarakat di Desa Kutorojo dan sekitarnya masih ada yang menganggap tari ronggeng berkaitan erat dengan budaya sawer dan mabuk-mabukan atau miniman alkohol.

Untuk nemepis kesan tersebu, beberapa tahun sebelumnya, Pemerintah Desa Kutorojo bersama Pemerintah Kecamatan Kajen menggelar Festival Ronggeng.  Festival ini digelar untuk  menepis kesan itu (sawer dan miras). Selain menggelar tari ronggeng, dihelat seminar tentang kesenian ronggeng dan seluk-beluk sejarah yagn melekat pada kesenian tersebut.

Mulanya, tari ronggeng merupakan tarian hiburan, biasanya tari ronggeng dipentaskan oleh lima orang wanita berpenampilan cantik dan luwes dengan satu penari utama mengenakan selendang dan diiringi oleh pengibing, yaitu sekelompok laki-laki yang mengenakan sarung, dan penabuh gamelan.

Tari ronggeng memiliki satu aturan yang tidak boleh dilanggar, yaitu antara penari dan pengibing tidak diperbolehkan melakukan kontak langsung yaitu tidak bersentuhan.

Ronggeng yang pada mulanya berupa kesenian hiburan berubah menjadi bentuk pertunjukan, diantaranya adalah terdapat jarak antara penonton dan pemain artinya tidak ada interaksi langsung secara fisik karena penonton hanya dapat menikmati sajian yang disunguhkan.

Tari ronggeng di Desa Kutorojo ditampilkan oleh penari dengan tarian yang tidak terlalu erotis, disesuaikan dengan nilai-nilai budaya Jawa dan nilai-nilai agama.  Nilai estetis tari ronggeng dapat dilihat  dari penari melalui bentuk gerak, koreografi, rias dan busana penari, iringan musik gamelan dan penampilan tari.

Kopi Ronggeng

Anggapan sebagian warga bahwa tari ronggeng identik dengan mabuk-mabukan dan minuman keras sebenarnya tidak ada literasi (asal-usul) yang jelas. Tari ronggeng, awalnya identik dengan minuman kopi dengan sebutan Kopi Ronggeng.

Kopi ronggeng merupakan kopi khas warga Kutorojo, kopi berjenis robusta ini disajikan bersama pisang bakar. Warga Kutorojo menyebutnya suguhan Majapahit. Warga menikmati kopi ronggeng sembari menonton pertunjukan ronggeng yang digelar.

Kopi ronggeng menurut salah seorang warga, Budi Setiawan (30), pemilik kedai kopi ronggeng Desa Kutorojo menuturkan bahwa kopi ronggeng sudah ada sejak era kolonial, di mana masyarakat meminumnya sembari menyaksikan tari ronggeng asal Desa Kutorojo.

Dalam penyajiannya, menurut Budi, kopi ronggeng tidak dituang dengan air panas melainkan bubuk kopi direbus sekitar 10 hingga 15 menit, baru disajikan. (Bono dengan berbagai sumber tambahan)

selengkapnya
BencanaLayanan PublikLingkunganSeni BudayaSosial Budaya

Sinden asal Hongaria meriahkan peringatan HUT RI ditengah banjir rob

sinden

Tirto, Wartadesa. – Sinden Agnes Serfozo asal Hongaria bersama Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro memeriahkan HUT RI Ke-74 di Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan dalam pagelaran wayang santri bertajuk Semar Tambak, Sabtu (17/08) malam di balai desa setempat.

Gelaran acara yang dimulai sehabis sholat Isya tersebut merupakan kerjasama Pemerintah Desa Jeruksari bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan dalam sosialisasi sadar bencana melalui budaya.

Agnes Serfozo menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar. Ribuan warga berduyun-duyun mendatangi lokasi wayang santri. Termasuk bagi Sastro (65), warga Jeruksari, ia mengungkapkan bahwa selama ini ia hanya menonton sinden Agnes Serfoyo melalui keping DVD. “Ya … selama ini saya hanya menonton lewat video, sekarang bisa langsung melihat dengan mata secara langsung,” tuturnya, Ahad (18/08).

Menurut Sastro, sosialisasi yang dilakukan dengan cara gelar budaya, menarik bagi warga. “Hampir semua warga keluar mas … untuk menonton, bahkan warga desa disekitar juga ikut berbondong-bondong menonton acara,” lanjutnya.

Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro menyentil kondisi rob di Pekalongan yang berlangsung lebih dari lima tahun, dalam pementasannya. Ia mengungkapkan bahwa kondisi rob di wilayah Jeruksari dan sekitarnya merupakan bencana yang merenggut nilai-nilai sosial, ekonomi warga. Banyak kehidupan sosial dan ekonomi warga yang tercerabut ketika rob semakin lama menggenangi warga Jeruksari.

Dengan pagelaran wayang santri bertajuk Semar Tambak, Ki Wiwit berharap warga tanggap akan bencana alam disekelilingnya, diharapkan warga bersama pemerintah bahu-membahu mengatasi rob yang makin ‘menggila’ di wilayah tersebut.

Lakon pewayangan Semar Tambak, menceritakan kisah Semar yang berada di Dukuh Klampisireng, pada suatu hari sedang duduk di pendapa dihadap Gareng, Petruk dan Bagong. Dalam pertemuan itu dibicarakan mengenai kesejahteraan rakyat Klampisireng, yang akhir-akhir ini terus merosot. Maka Semar mempunyai ide untuk membangun dam atau bendungan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian penduduk. Untuk itu Semar mengutus Petruk pergi ke Amarta guna meminta dukungan moral maupun pembiayaan.

Setelah tiba di Amarta, Petruk melaporkan apa yang direncanakan Kyai Semar dan para Pandawa mendukung rencana itu serta memberikan dukungan dana. Sementara Prabu Suyudana yang dihadap Patih Sengkuni, Karna, Drona dan Kartamarma, mendengar rencana Semar akan membangun bendungan di Klampisireng merasa khawatir, sebab bilamana rakyat Klampisireng makmur berarti akan menambah kekuatan Pandawa dan kelak dalam perang Baratayuda akan menambah barisan perang pihak Pandawa.

Untuk itu ia memerintahkan Karna dan Kurawa agar mengacau serta menggagalkan rencana Semar itu. Niat Kurawa itu mendapat perlawanan rakyat Klampisireng yang dipimpin Petruk serta dibantu Pandawa. Walaupun mendapat gangguan dan rintangan dari pihak Kurawa akhirnya bendungan terwujud dan akan meningkatkan kesejahteraan penduduk Klampisireng. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

Seni Kuda Lumping meriahkan gelaran halal bi halal warga Brengkolan

jaran kepang

Kajen, Wartadesa. – Nguri-uri budaya, demikian yang diungkapkan warga Desa Brengkolan, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan saat ‘nanggap’ kesenian kuda lumping dalam rangka halal bi halal warga, Selasa (11/06) malam.

Imamusholeh, warga Brengkolan mengungkapkan bahwa dipilihnya kuda lumping atau jaran kepang sebagai hiburan warga dalam acara silaturahmi warga sekaligus halal bi halal merupakan pilihan warga untuk nguri-uri budaya.

“Warga desa lebih memilih kuda lumping dalam acara halal bi halal, disamping untuk memeriahkan acara, juga untuk menguri-uri dan mempertahankan serta memperkenalkan kepada generasi muda kebudayaan tradisional Indonesia agar tidak punah,” ujar Imam.

Hal senada diungkapkan Kepala Desa Brengkolan dalam sambutannya. Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut berlangsung meriah.

Lima petugas keamanan diperbantukan mengamankan gelaran acara. Pagelaran berlangsung hingga pukul 24.00 WIB begitu dinikmati penonton. Anto, warga setempat mengaku tak beranjak dari lokasi sejak acara dimulai hingga berakhir. “Acaranya meriah mas … menurutku warga sini masih antusias dengan seni tradisional kuda lumping. Semoga pemerintah desa tiap tahun menggelar acara serupa,” harapnya. (WD)

selengkapnya
PolitikSeni Budaya

Pembelajaran Kolaboratif, SMK Muhamka Gelar Pentas Drama

perpisahan muhamka

Kajen, Wartadesa. – Suara tembakan yang keras gemparkan SMK Muhammadiyah Kajen (Muhamka), diikuti dengan teriakan histeris ditengah-tengah kepulan asap. Tentara Belanda telah menyerang.

Ilustrasi diatas adalah salah satu adegan dalam Pagelaran Drama yang ditampilkan oleh siswa siswi SMK Muhamka, Jumat-Sabtu (3-4/5).

Pagelaran drama siswa siswi SMK Muhamka disamping memberikan ruang ekspresi bakat seni, kegiatan ini sebagai penilaian multi mata pelajaran atau pembelajaran kolaboratif untuk tahun pelajaran 2018/2019.

Hal ini disampaikan oleh koordinator kegiatan Sugiharto.Sugiharto melanjutkan, pagelaran drama ini adalah penilaian untuk kompetensi ketrampilan berbagai mata pelajaran.

Collaborative Learning atau Pembelajaran kolaboratif menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktik-praktik pembelajaran. Kegiatan ini setidaknya ada sembilan mata pelajaran yang terlibat, diantaranya Seni Budaya, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama Islam, Desain Grafis, Simulasi Digital, Bahasa Jawa, Kewirausahaan, dan Pendidikan Kewarganegaraan.” jelasnya.

Pagelaran Drama Kolaborasi Mata Pelajaran diselenggarakan selama dua hari di halaman sekolah dan diikuti oleh 19 penampil yang berasal dari kelas X dan XI, alhamdulillah kegiatan berjalan dengan lancar dan sukses, pungkasnya.

Kepala SMK Muhamka M. Rustam Aji kepada Media Muhamka menuturkan kekagumannya pada siswa-siswi SMK Muhamka yang telah menunjukan bakat-bakat luar biasanya.

“Anak-anak begitu diberi ruang yang lebih, mereka bisa menunjukkan kemampuan aslinya, mulai merencanakan, mengkomunikasikan, kerjasama, kreatif semuanya ditunjukkan oleh anak-anak hebat SMK Muhamka. Waktu salat tetap terjaga, acara berjalan dengan tertib dan meriah, ini menunjukkan anak-anak SMK Muhamka memang anak-anak juara.” ujarnya.

Tidak lupa beliau sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensukseskan acara ini, kita sebagai tenaga pendidik perlu ilmu yang lebih lagi, belajar lagi untuk melihat kemampuan anak-anak kita, tandasnya.

Sementara itu, Handoyo salah satu sutradara yang telah sukses pentaskan drama kelasnya menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah selenggarakan kegiatan ini.

“Kegiatan drama seperti ini sangat menyenangkan, kita jadi kompak satu kelas. Banyak bakat-bakat yang bisa disalurkan dan pembelajaran tidak selalu didalam kelas. Harapannya semoga SMK Muhamka semakin sering buat kegiatan semacam ini, dan lebih meriah tentunya,”ujar siswa kelas XI jurusan Teknik Otomotif itu. (Rudi Widianto)

selengkapnya
Seni Budaya

Makam wali dan sesepuh Pekalongan akan dijadikan cagar budaya

asip

Kajen, Wartadesa. – Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi akan menjadikan makam para wali dan para sesepuh di Kabupaten Pekalongan menjadi situs cagar budaya. Demikian disampaikan dalam peringatan Haul Mbah Nurul Anam dan Sesepuh Kranji, di Dukuh Kranji Kelurahan Kedungwuni Timur Kecamatan Kedungwuni, Rabu (20/3/2019).

Pemerintah Kabupaten Pekalongan menurut Asip, akan membangun kembali makam para wali dan sesepuh. “Jika sudah menjadi situs cagar budaya makam para wali dan sesepuh akan terlindungi, karena sudah masuk dalam undang-undang.” Lanjutnya.

Asip menyebut bahwa  Kabupaten Pekalongan merupakan daerah subur, Kecamatan Kasesi, Bojong dan Sragi dulu menjadi lumbung padi untuk pasukan Mataram. Hal tersebut juga berkat perjuangan para sesepuh, dan perjuangan mereka  dan akan diteruskan oleh pihaknya.

Sejak jaman Belanda, ujar Asip, pemimpin di Kota Santri telah memegang teguh dan melesarikan budaya.  “Bupati Pekalongan dari zaman Belanda merupakan orang yang pintar dalam menejemen pemerintahan, selain itu menjunjung tinggi tradisi keagamaan dan budayanya,” katanya.

Hingga dia berjanji akan terus melestarikan budaya dan tradisi para leluhur. “Budaya dan tradisi para leluhur akan terus kami lestari termasuk haul dan tahlil,” paparnya. (WD)

selengkapnya
OlahragaSeni BudayaSosial Budaya

Perkuat Silaturrahim, Pemuda Muhammadiyah gelar Torseni

torseni

Kajen, Wartadesa. – Penguatan silaturrahim antar kader Pemuda Muhammadiyah se-Kabupaten Pekalongan menjadi tema utama gelaran Temu Olahraga dan Seni (Torseni) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan yang dihelat pada Ahad (24/02) di Kajen.

“Torseni ke-4 ini diadakan dalam rangka memperkuat silaturrahim antar kader pemuda Muhammadiyah se-Kabupaten Pekalongan, terlebih ditahun politik yang rentan dengan perpecahan.” Ujar M. Mirwan, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Pekalongan dalam sambutan pembukaan acara.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Mulyono menyampaikan bahwa Pemuda Muhammadiyah diharapkan menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah.

“Pemuda harus sehat, sehat jasmani dan rohani, sehat badan dan sehat akalnya. Mens Sana in Corpore Sano. Sehingga pemuda Muhammadiyah benar-benar bisa menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna Muhammadiyah.” Ujar Mulyono.

Torseni  Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan merupakan kegiatan rutin dua tahunan. Perhelatan tahun ini merupakan Torseni keempat yang digelar. Diikuti oleh delegasi pimpinan Cabang dan pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah se Kab.Pekalongan.

Kegiatan berlangsung di Komplek Lapangan Nasional Kajen, PAYM dan Masjid As Salam tersebut berjalan sangat meriah. acara dibuka oleh Ketua PDM Kabupaten Pekalongan dengan dihadiri oleh unsur  Muspika Kecamatan Kajen, Relawan Kebencanaan Nasional Naibul Umam Eko Sakti serta tamu undangan lainnya.

Dalam kegiatan ini diselenggarakan pawai taaruf yang diikuti kader pemuda Muhammadiyah delegasi 17 Cabang dan setelah itu ditandingkan tujuh cabang lomba yaitu Lomba Sepak Bola, Lomba Volly, Lomba Tenis Meja, Lomba Panahan, Lomba Paduan Suara, Lomba MTQ dan Lomba Kaligrafi.

Pada kegiatan Torseni ke-4 yang penuh dengan sportifitas ini, keluar sebagai juara Umum adalah PCPM Wonokerto dengan raihan 10 point, disusul oleh PCPM Kedungwuni dengan raihan 9 point dan tuan Rumah PCPM Kajen dengan raihan 8 point. (WD)

selengkapnya