close

Seni Budaya

Seni Budaya

Makam wali dan sesepuh Pekalongan akan dijadikan cagar budaya

asip

Kajen, Wartadesa. – Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi akan menjadikan makam para wali dan para sesepuh di Kabupaten Pekalongan menjadi situs cagar budaya. Demikian disampaikan dalam peringatan Haul Mbah Nurul Anam dan Sesepuh Kranji, di Dukuh Kranji Kelurahan Kedungwuni Timur Kecamatan Kedungwuni, Rabu (20/3/2019).

Pemerintah Kabupaten Pekalongan menurut Asip, akan membangun kembali makam para wali dan sesepuh. “Jika sudah menjadi situs cagar budaya makam para wali dan sesepuh akan terlindungi, karena sudah masuk dalam undang-undang.” Lanjutnya.

Asip menyebut bahwa  Kabupaten Pekalongan merupakan daerah subur, Kecamatan Kasesi, Bojong dan Sragi dulu menjadi lumbung padi untuk pasukan Mataram. Hal tersebut juga berkat perjuangan para sesepuh, dan perjuangan mereka  dan akan diteruskan oleh pihaknya.

Sejak jaman Belanda, ujar Asip, pemimpin di Kota Santri telah memegang teguh dan melesarikan budaya.  “Bupati Pekalongan dari zaman Belanda merupakan orang yang pintar dalam menejemen pemerintahan, selain itu menjunjung tinggi tradisi keagamaan dan budayanya,” katanya.

Hingga dia berjanji akan terus melestarikan budaya dan tradisi para leluhur. “Budaya dan tradisi para leluhur akan terus kami lestari termasuk haul dan tahlil,” paparnya. (WD)

selengkapnya
OlahragaSeni BudayaSosial Budaya

Perkuat Silaturrahim, Pemuda Muhammadiyah gelar Torseni

torseni

Kajen, Wartadesa. – Penguatan silaturrahim antar kader Pemuda Muhammadiyah se-Kabupaten Pekalongan menjadi tema utama gelaran Temu Olahraga dan Seni (Torseni) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan yang dihelat pada Ahad (24/02) di Kajen.

“Torseni ke-4 ini diadakan dalam rangka memperkuat silaturrahim antar kader pemuda Muhammadiyah se-Kabupaten Pekalongan, terlebih ditahun politik yang rentan dengan perpecahan.” Ujar M. Mirwan, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Pekalongan dalam sambutan pembukaan acara.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Mulyono menyampaikan bahwa Pemuda Muhammadiyah diharapkan menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah.

“Pemuda harus sehat, sehat jasmani dan rohani, sehat badan dan sehat akalnya. Mens Sana in Corpore Sano. Sehingga pemuda Muhammadiyah benar-benar bisa menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna Muhammadiyah.” Ujar Mulyono.

Torseni  Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan merupakan kegiatan rutin dua tahunan. Perhelatan tahun ini merupakan Torseni keempat yang digelar. Diikuti oleh delegasi pimpinan Cabang dan pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah se Kab.Pekalongan.

Kegiatan berlangsung di Komplek Lapangan Nasional Kajen, PAYM dan Masjid As Salam tersebut berjalan sangat meriah. acara dibuka oleh Ketua PDM Kabupaten Pekalongan dengan dihadiri oleh unsur  Muspika Kecamatan Kajen, Relawan Kebencanaan Nasional Naibul Umam Eko Sakti serta tamu undangan lainnya.

Dalam kegiatan ini diselenggarakan pawai taaruf yang diikuti kader pemuda Muhammadiyah delegasi 17 Cabang dan setelah itu ditandingkan tujuh cabang lomba yaitu Lomba Sepak Bola, Lomba Volly, Lomba Tenis Meja, Lomba Panahan, Lomba Paduan Suara, Lomba MTQ dan Lomba Kaligrafi.

Pada kegiatan Torseni ke-4 yang penuh dengan sportifitas ini, keluar sebagai juara Umum adalah PCPM Wonokerto dengan raihan 10 point, disusul oleh PCPM Kedungwuni dengan raihan 9 point dan tuan Rumah PCPM Kajen dengan raihan 8 point. (WD)

selengkapnya
PendidikanSeni BudayaSosial Budaya

Asyiknya pameran seni dalam dies natalis SMA Islam YMI ke-27

IMG-20190221-WA0012

Wonopringgo, Wartadesa. – Di antara sekian unsur dies natalis SMA Islam YMI ke-27, kamis. 21 Februari 2019, satu unsur yang tidak boleh dilewatkan adalah pameran seni budaya siswa kelas 12. Pameran seni ini menjadi ciri khas yang selalu menyajikan karya-karya menarik dengan tema yang bervariasi.

Selain sebagai bagian tetap dari acara dies natalis, pameran seni budaya ini diselenggarakan untuk memenuhi nilai ujian praktik mata pelajaran seni budaya. Tahun ini, pameran seni budaya disajikan oleh 3 kelas: XII IPA 1, XII IPA 2, dan XII IPS.

Masing-masing kelas menyajikan tema berbeda. Kelas XII IPA 1 menampilkan tema budaya tradisional dengan maskot sultan dan ratu jawa di singgasanananya. Kelas XII IPA 2 mengambil tema Negeri di Atas awan dengan maskot bidadari di antara awan-awan. Sementara kelas XII IPS tampil percaya diri mengusung tema klasik dengan memajang miniatur vespa, motor klasik, dan sajian musik akustik.

Pengunjung bisa berswafoto di tempat foto yang memang sudah disajikan begitu apik di dalam ruang pameran. Tentu saja ada kesan tersendiri dan cocok sekali diunggah di media sosial. Selain itu, tentunya para pengunjung bisa bergembira dan mengapresiasi karya seni siswa yang setiap tahun selalu dinantikan. (M. Ilyasa)

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

SMA Islam YMI Gelar Festival Rebana dalam Rangka Dies Natalis ke-27

Screenshot_20190225_143328

Wonopringgo, Wartadesa. – Ada yang tidak biasa di kompleks SMA Islam YMI Wonopringgo pada Kamis, 21 Februari 2019. Suasana sekolah tampak meriah. Stand photobooth tampak begitu indah menghiasi sudut depan laboratorium komputer. Stand kuliner dan pameran seni pun ditata tak kalah apik. Belum lagi panggung yang berdiri megah. Ternyata, hari itu adalah puncak perayaan dies natalis ke-27 dari SMA berbasis pendidikan islam ini.

Pada perayaan dies natalis tahun ini SMA Islam YMI menyelenggarakan pameran seni siswa kelas 12 dan festival rebana tingkat pelajar SMP/MTs dan Pondok Pesantren se-Kabupaten dan Kota Pekalongan. Tahun ini untuk pertama kali SMA Islam YMI mengadakan festival rebana.

Sebelum lomba rebana dimulai, hadirin disuguhi penampilan opening ceremony berupa kolaborasi tari dan pencak silat dari siswa SMA Islam YMI. Setelah itu, mulai pukul 09.45 para hadirin dibuat terpukau oleh penampilan para peserta festival rebana yang membawakan kasidah dengan indah dan kreatif.

Salah seorang peserta festival rebana, Royan (13) mengaku senang dengan adanya festival rebana tersebut karena kemeriahan panggung dan acaranya. Sementara itu, salah satu panitia, Setiyo (16), mengaku bangga dapat menyelenggarakan acara ini. Harapannya, acara tahun depan bisa lebih meriah dan maksimal lagi. (M. Ilyasa)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSeni BudayaSosial Budaya

Belasan Cagar Budaya di Pekalongan jadi tempat usaha

museum-batik_1

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Belasan bangunan yang menjadi Cagar Budaya di Kota Pekalongan beralih fungsi menjadi tempat usaha. Hal tersebut membuat pegiat sejarah Pekalongan Heritage Community Mohammad Dirhamsyah prihatin.

Mohammad Dirhamsyah mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari seratusan bangunan cagar budaya berada di Kota Pekalongan, namun sebagian sudah beralih fungsi. “Oleh karena itu, kami berharap pada Pemerintah Kota Pekalongan melakukan langkah antisipasi penyelamatan terhadap bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah itu,” katanya dilansir dari Antara Jateng, Rabu (20/02).

Dirhamsyah menambahkan bahwa alih fungsi bagunan cagar budaya milik pemerintah dan swasta diantaranya menjadi perkantoran. “Saat ini sebagian besar bangunan cagar budaya milik pemerintah tersebut dimanfaatkan untuk aktivitas perkantoran dan lembaga pendidikan. Adapun bagi bangunan cagar budaya yang dimiliki swasta yang sudah beralih fungsi seperti bekas gedung bioskop Rahayu dan rumah Bupati Pekalongan yang berada di Jalan Nusantara Kota Pekalongan,” katanya.

Menurut Dirhamsyah ratusan bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan tersebut terdiri atas bangunan rumah kuno milik warga, 23 bangunan cagar milik Pemkot Pekalongan dan Pemprov Jateng, dua bangunan milik PT Kereta Api Indonesia, dan PT Pertani yang berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu.

Adapun sebanyak 23 bangunan cagar budaya milik pemkot, kata dia, sebagian besar berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu, antara lain Museum Batik Nasional, eks-Bakorwil Pekalongan, kantor pos, pengadilan negeri, rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas), serta kantor Perum Perikanan Indonesia Pekalongan.

Dirhamsyah berharap agar pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya untuk menyelamatkan warisan budaya tersebut. Saat ini bangunan cagar budaya yang dimiliki oleh swasta beralih fungsi menjadi toko moderen dan sektor perdagangan.

“Oleh karena itu, kami berharap pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya dan tim ahli bangunan cagar budaya sebagai upaya melestarikan dan menetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan cagar budaya tidak boleh sembarangan diubah bentuknya dengan menghilangkan keasliannya,” ujar Dirhamsyah.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kota Pekalongan Ninik Murniasih mengatakan pemkot sudah mengirimkan registrasi usulan pelestarian bangunan cagar budaya ke pemerintah pusat yang akan ditindaklanjuti dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Tim Ahli Bangunan Cagar Budaya (BCB) Provinsi Jateng.

“Setelah dikirim ke TACB dan BCB kami menunggu rekomendasi atau kajian apakah disahkan atau tidak. Saat ini, kami masih menunggu karena masih diproses,” kata Ninik.

Sementara itu, Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah menilai potensi cagar budaya di Kota Pekalongan akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Koordinator Publikasi dan Pemanfaatan Balai Cagar Budaya Jawa Tengah, Wahyu Kristanto di Pekalongan, Selasa(19/02), mengatakan Kota Pekalongan telah menjadi jalur strategis perdagangan dan perkebunan pada masa kolonial Hindia Belanda.

Selain itu, kata dia, banyak pula orang Indo-Eropa yang berdomisili di Kota Pekalongan dan meninggalkan tempat yang menjadi cagar budaya seperi Kampung Arab Pecinan dan kawasan kolonial lainnya.

“Oleh karena, dengan banyaknya potensi cagar budaya yang dimiliki Kota Pekalongan maka akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat di daerah ini sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” katanya saat mengikuti kegiatan “Pameran Cinta Cagar Budaya”.

Ia mengatakan benda atau bangunan dapat disebut sebagai cagar budaya harus memiliki empat kriteria antara lain memiliki usia minimal dan gaya berumur 50 tahun, mempunyai nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan, serta bisa menguatkan kepribadian bangsa.

“Oleh karena, kami mengajak para pelajar dan masyarakat dapat melestarikan cagar budaya yang ada di daerah ini. Cagar budaya di Kota Pekalongan cukup banyak, salah satunya adalah batik dan bangunan kuno,” katanya.

Wahyu Kristanto mengatakan dengan berkunjung dan mengikuti sejumlah kegiatan dalam Pameran Cinta Cagar Budaya, pelajar dan masyarakat dapat melihat keterangan gambar atau replika untuk mengenal cagar budaya.?

“Kami berharap para pelajar dan masyarakat dapat memanfaatkan kegiatan pameran ini agar dapat mengetahui cagar budaya,” katanya. (Antara)

selengkapnya
Jalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Batik Pekalongan digemari dalam ajang @Yala Thailand

Pengunjung Paviliun Indonesia di Melayu Day @Yala © Sumber: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Jakarta, Wartadesa. – Pavilium Indonesia dalam gelaran Hari Melayu Tahunan keenam @Yala 2019 Thailand yang dibuka sejak Jum’at hingga Ahad (08-10/02) ramai dikunjungi pengunjung. Bahkan Farida, penggila batik Thailand tiap hari datang ke Pavilium Indonesia untuk membeli batik.

Farida kepada The Jakarta Post mengungkapkan dia menyukai batik Indonesia. “Saya suka batik dan saya punya koleksi, termasuk beberapa [tekstil] dari Indonesia. Saya suka motif dan desain batik Indonesia, “kata Farida.

Paviliun Indonesia di @Yala dikelola oleh vendor Estu Batik Pekalongan, Roemah Srikandi dan Kasturi Fashion telah menjadi stan yang paling banyak dikunjungi.

“Alhamdulillah, batik masih punya banyak penggemar di sini,” kata Azka, pemilik Estu Batik Pekalongan.

Bagi warga Pekalongan Estu Batik yang beralamatkan di Jalan Keputran Ledok I, Kauman, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan tentu banyak yang mengenal.

Selain menampilkan beragam kerajinan batik dan tekstil, Paviliun Indonesia di @Yala 2019 juga menyuguhkan beragam produk lokal dan menawarkan paket wisata. Pengunjung juga dapat membeli produk kreatif dari UKM dan pengrajin Indonesia yang dikuratori khusus untuk festival, serta mencicipi berbagai hidangan dari seluruh nusantara.

“Selama tiga hari [festival], kami memperkenalkan kelezatan kuliner seperti soto Padang [sup daging sapi], rendang [daging sapi direbus dengan santan dan rempah-rempah], bakso, nasi tumpeng [nasi kuning berbentuk kerucut dengan lauk pauk, bakwan , dan lauk lainnya yang bisa dinikmati pengunjung secara gratis, “kata Konsul Jendral Indonesia di Songkhla Fachry Sulaiman.

Fachry menambahkan beberapa universitas di Indonesia mempromosikan kesempatan belajar berkelanjutan bagi siswa Thailand dalam ajang festival tahunan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kami karena diundang oleh pemerintah kota Yala dari tahun ke tahun untuk berpartisipasi dan menjadi mitra dalam salah satu festival budaya Melayu terbesar di Thailand. Selama tiga hari dari Hari Melayu 2019 @Yala, Konsulat Indonesia di Songkhla berpartisipasi dalam menampilkan seni dan budaya Indonesia melalui menyoroti budaya Melayu dengan karakteristik Indonesia, dengan dukungan dari pemerintah kota Binjai dan Medan.” kata Fachry. (The Jakarta Post)

selengkapnya
Jalan-jalanPendidikanSeni BudayaTekno

Komunitas Lubang Jarum Indonesia dari tiga provinsi bakal hunting bareng di Pekalongan

buku jejak langkah telinga panjang_istagram

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Anggota Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) dari tiga provinsi akan meggelar aksi hunting (memotret) bareng dengan kamera lubang jarum dan membedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang karya Ati Bachtiar, Ahad (17/02) di Museum Batik Pekalongan.

Buku bertajuk Jejak Langkah Telinga Panjang ini merupakan proyek dokumentasi fotografi di pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara.

Ati Bachtiar dibantu oleh beberapa kontributor, Chris Djoka, Ganecha Yudistira, Novi Balan dan Ray Bachtiar, menyusur pesisir Kaltim hingga Kaltara, menembus perkebunan sawit, area pertambangan, berpapasan dengan keajaiban alam, dan menjadi bagian dari upacara tradisi suku Dayak . Mendokumetasikan 38 wanita Dayak dari suku Bahau, Kenyah, Kayan, Wehea, Gaay dan Punan.

“Tiga Wadyabalad (panggilan anggota komunitas KLJI) dari Provinsi Jawa Barat yakni KLJI Cirebon, KLJI Semarang Jawa Tengah dan KLJI Yogyakarta akan berkumpul membedah buku karya Ati Bachtiar dan hunting bareng,” tutur Muhammad Benbella, penggiat KLJI Pekalongan, Ahad (10/02).

Pria yang akrab disapa Beng Beng ini mengungkapkan bahwa helatan acara tersebut merupakan upaya mengenalkan fotografi lubang jarum di Pekalongan, “Komunitas Lubang Jarum Indonesia sebagai wadah kreasi penggiat fotografi lubang jarum seluruh nusantara terus mengupayakan agar seni proses ini semakin dikenal oleh masyarakat. Sebagai sebuah kegiatan yang positif tentu bukan hanya diketahui, tapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum, bukan melulu untuk yang suka fotografi, tapi juga untuk semua kalangan.” Tambahnya.

Menurut Benbella, fotografi lubang jarum ini banyak yang bisa dipelajari, melatih kesabaran dan mengasah naluri merupakan salah satunya. “Karena banyak hal yang bisa dipelajari dari genre fotografi ini. Melatih kesabaran dan mengasah naluri adalah salah satu dari sekian banyak manfaat yang bisa diperoleh.” Tutur penggila beragam bahan bacaan ini.

KLJI Pekalongan juga berharap perhelatan yang akan digelar menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru pengiat KLJI. “Dengan beragam hal positif di atas, kami juga ingin menunjukkan bahwa keberadaan komunitas ini sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia. Bersama para penggiat dari luar daerah ini setidaknya bisa menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru penggiat KLJ, agar seni proses ini bisa terus berkelanjutan prosesnya mewarnai pembangunan karakter anak bangsa.” Harapnya penuh semangat.

Terkait acara bedah buku yang akan digelar, Benbella mengungkapkan bahwa bedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang yang akan disampaikan oleh penulisnya sendiri yaitu ambu Ati Bachtiar, bertujuan memantik kesadaran masyarakat untuk melestarikan kebudayaan yang ada di daerah masing-masing melalui media fotografi. “Agar suatu saat ketika budaya tersebut hilang dari sebuah masyarakat, anak cucu kita masih bisa mengenal dan melihatnya walaupun dalam bentuk cetakan foto.” Paparnya. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanPendidikanSeni BudayaSosial Budaya

KKN Undip di Wonorejo dongkrak pemasaran gerabah lewat online

gambar mahasiswi

Wonopringgo, Wartadesa. – Kerajinan gerabah di Desa Wonorejo Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan saat ini masih dilakukan secara langsung. Pembeli dari berbagai wilayah di Tegal, Pemalang, Comal, Batang, Limpung dan daerah lain, biasanya datang langsung ke pengrajin gerabah untuk dijual lagi di wilayah mereka. Ragam dan jenis gerabah yang masih tradisional turut menurunkan minat remaja dan pemuda desa setempat untuk menggeluti usaha turun-temurun di desanya.

Untuk mendongkrak sekaligus mengenalkan gerabah asli Wonorejo, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggandeng Karangtaruna dan pemuda desa setempat untuk mencintai dan memasarkan gerabah melalui media online.

“Pendampingan yang kami lakukan di Desa Wonorejo yakni dengan membantu warga dan generasimuda melalui pemasaran online, melalui platform e-comercee pada marketplace yang ada seperti Lazada, Bukalapak dan marketplace lainnya maupun media sosial,” ujar Titi Marfiyah, salah seorang anggota Tim KKN Undip, Sabtu (02/02) disela-sela mendampingi Karangtaruna desa setempat saat kunjungan wisata edukasi Kampung Gerabah dari TK dan PAUD Islam Futuhiyah Doro.

Menurut Titi, pihaknya juga melakukan pendampingan warga pengrajin gerabah, pembekalan kepada para remaja dan pemuda tentang pemasaran, potensi usaha secara online. “Karena dengan pemasaran secara online, akan lebih efektif, cepat dan mudah dilakukan,” lanjutnya.

Selama ini, menurut Titi, kerajinan gerabah hanya dilakukan oleh para orang tua, “kedepan … melalui Karangtaruna kami turut berkontribusi membina remaja untuk menjadi pengrajin gerabah, agar kerajinan tersebut menjadi ikon Desa Wonorejo,” tutur gadis cantik berkerudung tersebut.

Singkatnya waktu KKN di Desa Wonorejo menjadikan timnya, masih menurut Titi, tidak mendampingi warga membuat aneka gerabah modern. Bentuk gerabah tradisional berupa lemper (tempat makan), celengan, teko dan lain sebagainya masih tetap dipertahankan, timnya hanya memberikan inovasi berupa pengecatan dengan cat tembok maupun cat lainnya sesuai dengan keinginan pasar.

“Kami tidak melakukan pendampingan pruduk baru, karena mereka harus belajar dari nol lagi untuk belajar yang baru, inovasinya dilakukan dengan pengecatan sesuai dengan keinginan seperti cat tembok, atau cat lainnya,” ujar Titi.

Titi dan tim KKNnya juga turut mendorong warga di Pekalongan dan sekitarnya untuk datang ke Desa Wonorejo dengan belajar sambil berwisata di wisata edukasi Kampung Gerabah, “silakan datang ke Desa Wonorejo, sambil wisata edukasi gerabah,” pungkasnya. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Pengrajin gerabah Desa Wonorejo butuh mesin pengolah tanah

gambar sumarni

Wonopringgo, Wartadesa. – Kerajinan gerabah di Dukuh Lengkong, Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan mulai menggeliat. Kerajinan “usaha lemah” yang merupakan usaha turun-temurun warga ini awalnya sempat meredup. Dari ratusan pengrajin di pedukuhan teresebut, kini tingal puluhan pengrajin yang tinggal.

Beragam permasalahan pengrajin dilontarkan ketika Warta Desa menyambangi mereka Sabtu (02/02) di sekretariat Desa Wisata Edukasi Gerabah. Bersamaan dengan kunjungan dari TK dan PAUD Islam Futuhiyah, Doro.

Sumarni (65), pengrajin gerabah desa setempat menuturkan bahwa punahnya kerajinan di desanya lantaran anak-anak muda mulai tidak mengyukai kerajinan tersebut. “Kerajinan gerabah mulai punah, anak-anak muda tidak menyukai kerajinan tersebut karena penghasilan yang tidak menjanjikan, proses pembuatan yang lama, apalagi ketika musim hujan.
Sehari ambil tanah, tiga hari diproses diijek-injek/diuleni, baru kemudian dibuat, dijemur dan dibakar,” tuturnya.

Menurut Sumarni, jika harga gerabah maupun bentuk gerabah di desanya bervariasi mungkin anak-anak muda akan menyukainya. Dia berharap agar kerajinan gerabah yang merupakan warisan turun-temurun tidak punah. Harus ada usaha untuk menumbuhkan kecintaan para remaja dan pemuda pada kerajinan gerabah.

Ibu paruh baya yang pernah melakukan studi banding ke Gunungkidul, Yogyakarta untuk belajar pembuatan gerabah tersebut mengungkapkan bahwa di sana jenis, bentuk dan model gerabah beraneka macam dan pengrajinnya merupakan anak-anak muda. Sumarni berharap agar gerabah produksi di desanya bisa bervariasi seperti pengrajin di Gunungkidul.

Permasalahannya para pengrajin di desanya, yang nota bene sudah tua-tua tidak tahu cara membuat gerabah modern. Alat yang saat ini masih manual menjadi kendala. “Belum pernah membuat kerajinan yang modern seperti yang di Jogja. Selain itu jenis tanah di Jogja berbeda dengan kondisi di Wonorejo,” lanjutnya.

“Pengolahan tanahnya menggunakan mesin, sehingga tidak banyak menggunakan air. Mesin ini menjadi kebutuhan utama para pengrajin, untuk membuat kerajinan gerabah yang modern,” ujar Sumarni.

Menurut Sumarni, dengan mesin pengolah tanah tersebut, uletan tanah lebih kenyal dan merata, sehinga hasilnya lebih baik.

Selain bantuan mesin pengolah tanah untuk kerajinan gerabah, pengrajin desa setempat juga membutuhkan instruktur gerabah modern dari Jogja untuk menerapkan seni gerabah modern di desanya. “Ya … selain bantuan mesin pengolah tanah, kalo bisa ada instruktur atau guru yang mengajari warga untuk membuat gerabah modern,” harap Sumarni.

Desa Wonorejo saat ini sering dikunjungi oleh lembaga pendidikan untuk melakukan wisata edukasi pembuatan gerabah. Beberapa tahun terakhir ini sering dijadikan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN), bahkan Bupapi Pekalongan, Asip Kholbihi pernah datang ke desa tersebut untuk melihat langsung kerajinan warga tersebut. (WD)

selengkapnya
Seni Budaya

Terpeleset ke jurang, mandor Perhutani meninggal

masuk jurang

Lebakbarang, Wartadesa. – Sudaryo (53), mandor Perhutani asal Dukuh Sidolor Rt.03 Rw.01, Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan meninggal setelah terpeleset dan jatuh ke selokan air, kemudian jatuh ke jurang setinggi tiga meter. Rabu (30/01).

Sudaryo terpeleset ketika hendak pulang dari tugas patroli di hutan pet;ak 13 dan 15. Korban masuk ke jurang di petak 33R masuk wilayah Dukuh Parakandowo Rt.91 Rw.05 Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang.

“Pada saat kejadian bersama korban sedang dalam perjalanan pulang setelah melakukan patroli di hutan petak 13 dan 15 sesampainya TKP, saat itu Kondisi jalan rabat beton yang di lalui sangat licin karena seharian di guyur hujan dengan intensitas yang cukup tinggi korban terpeleset dan jatuh kejurang sedalam kurang lebih 3 meter dengan posisi terlebih dahulu kepala membentur bebatuan yang berada didasar jurang,” ungkap rekan korban Rohmadi (54).

Dari informasi yang didapat bahwa Korban saat jatuh dalam posisi tertelungkup dan bagian kepala terlebih dahulu menghantam bebatuan didasar jurang. Melihat kejadian tersebut rekan Korban langsung meminta bantuan warga yang kebetulan tidak jauh dari lokasi TKP untuk menganggkat tubuh korban.

Karena berat badan dan lokasi yang sulit serta tidak memungkinkan untuk diangkat berdua, kemudian rekan Korban meminta tolong pada warga masyarakat untuk membantu mengangkat dan mengevakuasi tubuh korban dari lokasi kejadian.

Setelah berhasil di evakuasi, Korban langsung dibawa ke Puskesmas Lebakbarang. Dari hasil pemeriksaan petugas kesehatan Puskesmas bahwa Korban dinyatakan sudah meninggal, dan dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa Korban mempunyai riwayat penyakit jantung dan hipertensi. (WD)

selengkapnya