close

Seni Budaya

BencanaLayanan PublikLingkunganSeni BudayaSosial Budaya

Sinden asal Hongaria meriahkan peringatan HUT RI ditengah banjir rob

sinden

Tirto, Wartadesa. – Sinden Agnes Serfozo asal Hongaria bersama Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro memeriahkan HUT RI Ke-74 di Desa Jeruksari, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan dalam pagelaran wayang santri bertajuk Semar Tambak, Sabtu (17/08) malam di balai desa setempat.

Gelaran acara yang dimulai sehabis sholat Isya tersebut merupakan kerjasama Pemerintah Desa Jeruksari bersama Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Pekalongan dalam sosialisasi sadar bencana melalui budaya.

Agnes Serfozo menjadi daya tarik tersendiri bagi warga sekitar. Ribuan warga berduyun-duyun mendatangi lokasi wayang santri. Termasuk bagi Sastro (65), warga Jeruksari, ia mengungkapkan bahwa selama ini ia hanya menonton sinden Agnes Serfoyo melalui keping DVD. “Ya … selama ini saya hanya menonton lewat video, sekarang bisa langsung melihat dengan mata secara langsung,” tuturnya, Ahad (18/08).

Menurut Sastro, sosialisasi yang dilakukan dengan cara gelar budaya, menarik bagi warga. “Hampir semua warga keluar mas … untuk menonton, bahkan warga desa disekitar juga ikut berbondong-bondong menonton acara,” lanjutnya.

Ki Dalang Wiwit Sri Kuncoro menyentil kondisi rob di Pekalongan yang berlangsung lebih dari lima tahun, dalam pementasannya. Ia mengungkapkan bahwa kondisi rob di wilayah Jeruksari dan sekitarnya merupakan bencana yang merenggut nilai-nilai sosial, ekonomi warga. Banyak kehidupan sosial dan ekonomi warga yang tercerabut ketika rob semakin lama menggenangi warga Jeruksari.

Dengan pagelaran wayang santri bertajuk Semar Tambak, Ki Wiwit berharap warga tanggap akan bencana alam disekelilingnya, diharapkan warga bersama pemerintah bahu-membahu mengatasi rob yang makin ‘menggila’ di wilayah tersebut.

Lakon pewayangan Semar Tambak, menceritakan kisah Semar yang berada di Dukuh Klampisireng, pada suatu hari sedang duduk di pendapa dihadap Gareng, Petruk dan Bagong. Dalam pertemuan itu dibicarakan mengenai kesejahteraan rakyat Klampisireng, yang akhir-akhir ini terus merosot. Maka Semar mempunyai ide untuk membangun dam atau bendungan untuk mengairi sawah dan lahan pertanian penduduk. Untuk itu Semar mengutus Petruk pergi ke Amarta guna meminta dukungan moral maupun pembiayaan.

Setelah tiba di Amarta, Petruk melaporkan apa yang direncanakan Kyai Semar dan para Pandawa mendukung rencana itu serta memberikan dukungan dana. Sementara Prabu Suyudana yang dihadap Patih Sengkuni, Karna, Drona dan Kartamarma, mendengar rencana Semar akan membangun bendungan di Klampisireng merasa khawatir, sebab bilamana rakyat Klampisireng makmur berarti akan menambah kekuatan Pandawa dan kelak dalam perang Baratayuda akan menambah barisan perang pihak Pandawa.

Untuk itu ia memerintahkan Karna dan Kurawa agar mengacau serta menggagalkan rencana Semar itu. Niat Kurawa itu mendapat perlawanan rakyat Klampisireng yang dipimpin Petruk serta dibantu Pandawa. Walaupun mendapat gangguan dan rintangan dari pihak Kurawa akhirnya bendungan terwujud dan akan meningkatkan kesejahteraan penduduk Klampisireng. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

Seni Kuda Lumping meriahkan gelaran halal bi halal warga Brengkolan

jaran kepang

Kajen, Wartadesa. – Nguri-uri budaya, demikian yang diungkapkan warga Desa Brengkolan, Kecamatan Kajen, Kabupaten Pekalongan saat ‘nanggap’ kesenian kuda lumping dalam rangka halal bi halal warga, Selasa (11/06) malam.

Imamusholeh, warga Brengkolan mengungkapkan bahwa dipilihnya kuda lumping atau jaran kepang sebagai hiburan warga dalam acara silaturahmi warga sekaligus halal bi halal merupakan pilihan warga untuk nguri-uri budaya.

“Warga desa lebih memilih kuda lumping dalam acara halal bi halal, disamping untuk memeriahkan acara, juga untuk menguri-uri dan mempertahankan serta memperkenalkan kepada generasi muda kebudayaan tradisional Indonesia agar tidak punah,” ujar Imam.

Hal senada diungkapkan Kepala Desa Brengkolan dalam sambutannya. Acara yang dimulai pukul 19.30 WIB tersebut berlangsung meriah.

Lima petugas keamanan diperbantukan mengamankan gelaran acara. Pagelaran berlangsung hingga pukul 24.00 WIB begitu dinikmati penonton. Anto, warga setempat mengaku tak beranjak dari lokasi sejak acara dimulai hingga berakhir. “Acaranya meriah mas … menurutku warga sini masih antusias dengan seni tradisional kuda lumping. Semoga pemerintah desa tiap tahun menggelar acara serupa,” harapnya. (WD)

selengkapnya
PolitikSeni Budaya

Pembelajaran Kolaboratif, SMK Muhamka Gelar Pentas Drama

perpisahan muhamka

Kajen, Wartadesa. – Suara tembakan yang keras gemparkan SMK Muhammadiyah Kajen (Muhamka), diikuti dengan teriakan histeris ditengah-tengah kepulan asap. Tentara Belanda telah menyerang.

Ilustrasi diatas adalah salah satu adegan dalam Pagelaran Drama yang ditampilkan oleh siswa siswi SMK Muhamka, Jumat-Sabtu (3-4/5).

Pagelaran drama siswa siswi SMK Muhamka disamping memberikan ruang ekspresi bakat seni, kegiatan ini sebagai penilaian multi mata pelajaran atau pembelajaran kolaboratif untuk tahun pelajaran 2018/2019.

Hal ini disampaikan oleh koordinator kegiatan Sugiharto.Sugiharto melanjutkan, pagelaran drama ini adalah penilaian untuk kompetensi ketrampilan berbagai mata pelajaran.

Collaborative Learning atau Pembelajaran kolaboratif menyediakan peluang untuk menuju pada kesuksesan praktik-praktik pembelajaran. Kegiatan ini setidaknya ada sembilan mata pelajaran yang terlibat, diantaranya Seni Budaya, Bahasa Inggris, Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama Islam, Desain Grafis, Simulasi Digital, Bahasa Jawa, Kewirausahaan, dan Pendidikan Kewarganegaraan.” jelasnya.

Pagelaran Drama Kolaborasi Mata Pelajaran diselenggarakan selama dua hari di halaman sekolah dan diikuti oleh 19 penampil yang berasal dari kelas X dan XI, alhamdulillah kegiatan berjalan dengan lancar dan sukses, pungkasnya.

Kepala SMK Muhamka M. Rustam Aji kepada Media Muhamka menuturkan kekagumannya pada siswa-siswi SMK Muhamka yang telah menunjukan bakat-bakat luar biasanya.

“Anak-anak begitu diberi ruang yang lebih, mereka bisa menunjukkan kemampuan aslinya, mulai merencanakan, mengkomunikasikan, kerjasama, kreatif semuanya ditunjukkan oleh anak-anak hebat SMK Muhamka. Waktu salat tetap terjaga, acara berjalan dengan tertib dan meriah, ini menunjukkan anak-anak SMK Muhamka memang anak-anak juara.” ujarnya.

Tidak lupa beliau sampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah mensukseskan acara ini, kita sebagai tenaga pendidik perlu ilmu yang lebih lagi, belajar lagi untuk melihat kemampuan anak-anak kita, tandasnya.

Sementara itu, Handoyo salah satu sutradara yang telah sukses pentaskan drama kelasnya menyampaikan terima kasih kepada pihak sekolah yang telah selenggarakan kegiatan ini.

“Kegiatan drama seperti ini sangat menyenangkan, kita jadi kompak satu kelas. Banyak bakat-bakat yang bisa disalurkan dan pembelajaran tidak selalu didalam kelas. Harapannya semoga SMK Muhamka semakin sering buat kegiatan semacam ini, dan lebih meriah tentunya,”ujar siswa kelas XI jurusan Teknik Otomotif itu. (Rudi Widianto)

selengkapnya
Seni Budaya

Makam wali dan sesepuh Pekalongan akan dijadikan cagar budaya

asip

Kajen, Wartadesa. – Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi akan menjadikan makam para wali dan para sesepuh di Kabupaten Pekalongan menjadi situs cagar budaya. Demikian disampaikan dalam peringatan Haul Mbah Nurul Anam dan Sesepuh Kranji, di Dukuh Kranji Kelurahan Kedungwuni Timur Kecamatan Kedungwuni, Rabu (20/3/2019).

Pemerintah Kabupaten Pekalongan menurut Asip, akan membangun kembali makam para wali dan sesepuh. “Jika sudah menjadi situs cagar budaya makam para wali dan sesepuh akan terlindungi, karena sudah masuk dalam undang-undang.” Lanjutnya.

Asip menyebut bahwa  Kabupaten Pekalongan merupakan daerah subur, Kecamatan Kasesi, Bojong dan Sragi dulu menjadi lumbung padi untuk pasukan Mataram. Hal tersebut juga berkat perjuangan para sesepuh, dan perjuangan mereka  dan akan diteruskan oleh pihaknya.

Sejak jaman Belanda, ujar Asip, pemimpin di Kota Santri telah memegang teguh dan melesarikan budaya.  “Bupati Pekalongan dari zaman Belanda merupakan orang yang pintar dalam menejemen pemerintahan, selain itu menjunjung tinggi tradisi keagamaan dan budayanya,” katanya.

Hingga dia berjanji akan terus melestarikan budaya dan tradisi para leluhur. “Budaya dan tradisi para leluhur akan terus kami lestari termasuk haul dan tahlil,” paparnya. (WD)

selengkapnya
OlahragaSeni BudayaSosial Budaya

Perkuat Silaturrahim, Pemuda Muhammadiyah gelar Torseni

torseni

Kajen, Wartadesa. – Penguatan silaturrahim antar kader Pemuda Muhammadiyah se-Kabupaten Pekalongan menjadi tema utama gelaran Temu Olahraga dan Seni (Torseni) Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan yang dihelat pada Ahad (24/02) di Kajen.

“Torseni ke-4 ini diadakan dalam rangka memperkuat silaturrahim antar kader pemuda Muhammadiyah se-Kabupaten Pekalongan, terlebih ditahun politik yang rentan dengan perpecahan.” Ujar M. Mirwan, Ketua Pimpinan Daerah Pemuda Muhammadiyah (PDPM) Kabupaten Pekalongan dalam sambutan pembukaan acara.

Sementara itu, Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Mulyono menyampaikan bahwa Pemuda Muhammadiyah diharapkan menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna amal usaha Muhammadiyah.

“Pemuda harus sehat, sehat jasmani dan rohani, sehat badan dan sehat akalnya. Mens Sana in Corpore Sano. Sehingga pemuda Muhammadiyah benar-benar bisa menjadi pelopor, pelangsung dan penyempurna Muhammadiyah.” Ujar Mulyono.

Torseni  Pemuda Muhammadiyah Kabupaten Pekalongan merupakan kegiatan rutin dua tahunan. Perhelatan tahun ini merupakan Torseni keempat yang digelar. Diikuti oleh delegasi pimpinan Cabang dan pimpinan Ranting Pemuda Muhammadiyah se Kab.Pekalongan.

Kegiatan berlangsung di Komplek Lapangan Nasional Kajen, PAYM dan Masjid As Salam tersebut berjalan sangat meriah. acara dibuka oleh Ketua PDM Kabupaten Pekalongan dengan dihadiri oleh unsur  Muspika Kecamatan Kajen, Relawan Kebencanaan Nasional Naibul Umam Eko Sakti serta tamu undangan lainnya.

Dalam kegiatan ini diselenggarakan pawai taaruf yang diikuti kader pemuda Muhammadiyah delegasi 17 Cabang dan setelah itu ditandingkan tujuh cabang lomba yaitu Lomba Sepak Bola, Lomba Volly, Lomba Tenis Meja, Lomba Panahan, Lomba Paduan Suara, Lomba MTQ dan Lomba Kaligrafi.

Pada kegiatan Torseni ke-4 yang penuh dengan sportifitas ini, keluar sebagai juara Umum adalah PCPM Wonokerto dengan raihan 10 point, disusul oleh PCPM Kedungwuni dengan raihan 9 point dan tuan Rumah PCPM Kajen dengan raihan 8 point. (WD)

selengkapnya
PendidikanSeni BudayaSosial Budaya

Asyiknya pameran seni dalam dies natalis SMA Islam YMI ke-27

IMG-20190221-WA0012

Wonopringgo, Wartadesa. – Di antara sekian unsur dies natalis SMA Islam YMI ke-27, kamis. 21 Februari 2019, satu unsur yang tidak boleh dilewatkan adalah pameran seni budaya siswa kelas 12. Pameran seni ini menjadi ciri khas yang selalu menyajikan karya-karya menarik dengan tema yang bervariasi.

Selain sebagai bagian tetap dari acara dies natalis, pameran seni budaya ini diselenggarakan untuk memenuhi nilai ujian praktik mata pelajaran seni budaya. Tahun ini, pameran seni budaya disajikan oleh 3 kelas: XII IPA 1, XII IPA 2, dan XII IPS.

Masing-masing kelas menyajikan tema berbeda. Kelas XII IPA 1 menampilkan tema budaya tradisional dengan maskot sultan dan ratu jawa di singgasanananya. Kelas XII IPA 2 mengambil tema Negeri di Atas awan dengan maskot bidadari di antara awan-awan. Sementara kelas XII IPS tampil percaya diri mengusung tema klasik dengan memajang miniatur vespa, motor klasik, dan sajian musik akustik.

Pengunjung bisa berswafoto di tempat foto yang memang sudah disajikan begitu apik di dalam ruang pameran. Tentu saja ada kesan tersendiri dan cocok sekali diunggah di media sosial. Selain itu, tentunya para pengunjung bisa bergembira dan mengapresiasi karya seni siswa yang setiap tahun selalu dinantikan. (M. Ilyasa)

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

SMA Islam YMI Gelar Festival Rebana dalam Rangka Dies Natalis ke-27

Screenshot_20190225_143328

Wonopringgo, Wartadesa. – Ada yang tidak biasa di kompleks SMA Islam YMI Wonopringgo pada Kamis, 21 Februari 2019. Suasana sekolah tampak meriah. Stand photobooth tampak begitu indah menghiasi sudut depan laboratorium komputer. Stand kuliner dan pameran seni pun ditata tak kalah apik. Belum lagi panggung yang berdiri megah. Ternyata, hari itu adalah puncak perayaan dies natalis ke-27 dari SMA berbasis pendidikan islam ini.

Pada perayaan dies natalis tahun ini SMA Islam YMI menyelenggarakan pameran seni siswa kelas 12 dan festival rebana tingkat pelajar SMP/MTs dan Pondok Pesantren se-Kabupaten dan Kota Pekalongan. Tahun ini untuk pertama kali SMA Islam YMI mengadakan festival rebana.

Sebelum lomba rebana dimulai, hadirin disuguhi penampilan opening ceremony berupa kolaborasi tari dan pencak silat dari siswa SMA Islam YMI. Setelah itu, mulai pukul 09.45 para hadirin dibuat terpukau oleh penampilan para peserta festival rebana yang membawakan kasidah dengan indah dan kreatif.

Salah seorang peserta festival rebana, Royan (13) mengaku senang dengan adanya festival rebana tersebut karena kemeriahan panggung dan acaranya. Sementara itu, salah satu panitia, Setiyo (16), mengaku bangga dapat menyelenggarakan acara ini. Harapannya, acara tahun depan bisa lebih meriah dan maksimal lagi. (M. Ilyasa)

selengkapnya
Jalan-jalanLayanan PublikSeni BudayaSosial Budaya

Belasan Cagar Budaya di Pekalongan jadi tempat usaha

museum-batik_1

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Belasan bangunan yang menjadi Cagar Budaya di Kota Pekalongan beralih fungsi menjadi tempat usaha. Hal tersebut membuat pegiat sejarah Pekalongan Heritage Community Mohammad Dirhamsyah prihatin.

Mohammad Dirhamsyah mengungkapkan bahwa saat ini lebih dari seratusan bangunan cagar budaya berada di Kota Pekalongan, namun sebagian sudah beralih fungsi. “Oleh karena itu, kami berharap pada Pemerintah Kota Pekalongan melakukan langkah antisipasi penyelamatan terhadap bangunan cagar budaya yang memiliki nilai sejarah itu,” katanya dilansir dari Antara Jateng, Rabu (20/02).

Dirhamsyah menambahkan bahwa alih fungsi bagunan cagar budaya milik pemerintah dan swasta diantaranya menjadi perkantoran. “Saat ini sebagian besar bangunan cagar budaya milik pemerintah tersebut dimanfaatkan untuk aktivitas perkantoran dan lembaga pendidikan. Adapun bagi bangunan cagar budaya yang dimiliki swasta yang sudah beralih fungsi seperti bekas gedung bioskop Rahayu dan rumah Bupati Pekalongan yang berada di Jalan Nusantara Kota Pekalongan,” katanya.

Menurut Dirhamsyah ratusan bangunan cagar budaya di Kota Pekalongan tersebut terdiri atas bangunan rumah kuno milik warga, 23 bangunan cagar milik Pemkot Pekalongan dan Pemprov Jateng, dua bangunan milik PT Kereta Api Indonesia, dan PT Pertani yang berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu.

Adapun sebanyak 23 bangunan cagar budaya milik pemkot, kata dia, sebagian besar berada di kawasan budaya di Jalan Jetayu, antara lain Museum Batik Nasional, eks-Bakorwil Pekalongan, kantor pos, pengadilan negeri, rumah tahanan (rutan) dan lembaga pemasyarakatan (lapas), serta kantor Perum Perikanan Indonesia Pekalongan.

Dirhamsyah berharap agar pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya untuk menyelamatkan warisan budaya tersebut. Saat ini bangunan cagar budaya yang dimiliki oleh swasta beralih fungsi menjadi toko moderen dan sektor perdagangan.

“Oleh karena itu, kami berharap pemerintah membentuk tim ahli cagar budaya dan tim ahli bangunan cagar budaya sebagai upaya melestarikan dan menetapkan sebagai bangunan cagar budaya. Bangunan cagar budaya tidak boleh sembarangan diubah bentuknya dengan menghilangkan keasliannya,” ujar Dirhamsyah.

Kepala Bidang Kebudayaan Dinas Pariwisata, Kebudayaan, Pemuda, dan Olahraga Kota Pekalongan Ninik Murniasih mengatakan pemkot sudah mengirimkan registrasi usulan pelestarian bangunan cagar budaya ke pemerintah pusat yang akan ditindaklanjuti dengan Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) dan Tim Ahli Bangunan Cagar Budaya (BCB) Provinsi Jateng.

“Setelah dikirim ke TACB dan BCB kami menunggu rekomendasi atau kajian apakah disahkan atau tidak. Saat ini, kami masih menunggu karena masih diproses,” kata Ninik.

Sementara itu, Badan Pelestarian Cagar Budaya (BPCB) Jawa Tengah menilai potensi cagar budaya di Kota Pekalongan akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat sebagai bagian dari bangsa Indonesia. Koordinator Publikasi dan Pemanfaatan Balai Cagar Budaya Jawa Tengah, Wahyu Kristanto di Pekalongan, Selasa(19/02), mengatakan Kota Pekalongan telah menjadi jalur strategis perdagangan dan perkebunan pada masa kolonial Hindia Belanda.

Selain itu, kata dia, banyak pula orang Indo-Eropa yang berdomisili di Kota Pekalongan dan meninggalkan tempat yang menjadi cagar budaya seperi Kampung Arab Pecinan dan kawasan kolonial lainnya.

“Oleh karena, dengan banyaknya potensi cagar budaya yang dimiliki Kota Pekalongan maka akan menguatkan rasa nasionalisme dan jati diri masyarakat di daerah ini sebagai bagian dari bangsa Indonesia,” katanya saat mengikuti kegiatan “Pameran Cinta Cagar Budaya”.

Ia mengatakan benda atau bangunan dapat disebut sebagai cagar budaya harus memiliki empat kriteria antara lain memiliki usia minimal dan gaya berumur 50 tahun, mempunyai nilai penting bagi sejarah dan kebudayaan, serta bisa menguatkan kepribadian bangsa.

“Oleh karena, kami mengajak para pelajar dan masyarakat dapat melestarikan cagar budaya yang ada di daerah ini. Cagar budaya di Kota Pekalongan cukup banyak, salah satunya adalah batik dan bangunan kuno,” katanya.

Wahyu Kristanto mengatakan dengan berkunjung dan mengikuti sejumlah kegiatan dalam Pameran Cinta Cagar Budaya, pelajar dan masyarakat dapat melihat keterangan gambar atau replika untuk mengenal cagar budaya.?

“Kami berharap para pelajar dan masyarakat dapat memanfaatkan kegiatan pameran ini agar dapat mengetahui cagar budaya,” katanya. (Antara)

selengkapnya
Jalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Batik Pekalongan digemari dalam ajang @Yala Thailand

Pengunjung Paviliun Indonesia di Melayu Day @Yala © Sumber: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Jakarta, Wartadesa. – Pavilium Indonesia dalam gelaran Hari Melayu Tahunan keenam @Yala 2019 Thailand yang dibuka sejak Jum’at hingga Ahad (08-10/02) ramai dikunjungi pengunjung. Bahkan Farida, penggila batik Thailand tiap hari datang ke Pavilium Indonesia untuk membeli batik.

Farida kepada The Jakarta Post mengungkapkan dia menyukai batik Indonesia. “Saya suka batik dan saya punya koleksi, termasuk beberapa [tekstil] dari Indonesia. Saya suka motif dan desain batik Indonesia, “kata Farida.

Paviliun Indonesia di @Yala dikelola oleh vendor Estu Batik Pekalongan, Roemah Srikandi dan Kasturi Fashion telah menjadi stan yang paling banyak dikunjungi.

“Alhamdulillah, batik masih punya banyak penggemar di sini,” kata Azka, pemilik Estu Batik Pekalongan.

Bagi warga Pekalongan Estu Batik yang beralamatkan di Jalan Keputran Ledok I, Kauman, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan tentu banyak yang mengenal.

Selain menampilkan beragam kerajinan batik dan tekstil, Paviliun Indonesia di @Yala 2019 juga menyuguhkan beragam produk lokal dan menawarkan paket wisata. Pengunjung juga dapat membeli produk kreatif dari UKM dan pengrajin Indonesia yang dikuratori khusus untuk festival, serta mencicipi berbagai hidangan dari seluruh nusantara.

“Selama tiga hari [festival], kami memperkenalkan kelezatan kuliner seperti soto Padang [sup daging sapi], rendang [daging sapi direbus dengan santan dan rempah-rempah], bakso, nasi tumpeng [nasi kuning berbentuk kerucut dengan lauk pauk, bakwan , dan lauk lainnya yang bisa dinikmati pengunjung secara gratis, “kata Konsul Jendral Indonesia di Songkhla Fachry Sulaiman.

Fachry menambahkan beberapa universitas di Indonesia mempromosikan kesempatan belajar berkelanjutan bagi siswa Thailand dalam ajang festival tahunan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kami karena diundang oleh pemerintah kota Yala dari tahun ke tahun untuk berpartisipasi dan menjadi mitra dalam salah satu festival budaya Melayu terbesar di Thailand. Selama tiga hari dari Hari Melayu 2019 @Yala, Konsulat Indonesia di Songkhla berpartisipasi dalam menampilkan seni dan budaya Indonesia melalui menyoroti budaya Melayu dengan karakteristik Indonesia, dengan dukungan dari pemerintah kota Binjai dan Medan.” kata Fachry. (The Jakarta Post)

selengkapnya
Jalan-jalanPendidikanSeni BudayaTekno

Komunitas Lubang Jarum Indonesia dari tiga provinsi bakal hunting bareng di Pekalongan

buku jejak langkah telinga panjang_istagram

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Anggota Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) dari tiga provinsi akan meggelar aksi hunting (memotret) bareng dengan kamera lubang jarum dan membedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang karya Ati Bachtiar, Ahad (17/02) di Museum Batik Pekalongan.

Buku bertajuk Jejak Langkah Telinga Panjang ini merupakan proyek dokumentasi fotografi di pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara.

Ati Bachtiar dibantu oleh beberapa kontributor, Chris Djoka, Ganecha Yudistira, Novi Balan dan Ray Bachtiar, menyusur pesisir Kaltim hingga Kaltara, menembus perkebunan sawit, area pertambangan, berpapasan dengan keajaiban alam, dan menjadi bagian dari upacara tradisi suku Dayak . Mendokumetasikan 38 wanita Dayak dari suku Bahau, Kenyah, Kayan, Wehea, Gaay dan Punan.

“Tiga Wadyabalad (panggilan anggota komunitas KLJI) dari Provinsi Jawa Barat yakni KLJI Cirebon, KLJI Semarang Jawa Tengah dan KLJI Yogyakarta akan berkumpul membedah buku karya Ati Bachtiar dan hunting bareng,” tutur Muhammad Benbella, penggiat KLJI Pekalongan, Ahad (10/02).

Pria yang akrab disapa Beng Beng ini mengungkapkan bahwa helatan acara tersebut merupakan upaya mengenalkan fotografi lubang jarum di Pekalongan, “Komunitas Lubang Jarum Indonesia sebagai wadah kreasi penggiat fotografi lubang jarum seluruh nusantara terus mengupayakan agar seni proses ini semakin dikenal oleh masyarakat. Sebagai sebuah kegiatan yang positif tentu bukan hanya diketahui, tapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum, bukan melulu untuk yang suka fotografi, tapi juga untuk semua kalangan.” Tambahnya.

Menurut Benbella, fotografi lubang jarum ini banyak yang bisa dipelajari, melatih kesabaran dan mengasah naluri merupakan salah satunya. “Karena banyak hal yang bisa dipelajari dari genre fotografi ini. Melatih kesabaran dan mengasah naluri adalah salah satu dari sekian banyak manfaat yang bisa diperoleh.” Tutur penggila beragam bahan bacaan ini.

KLJI Pekalongan juga berharap perhelatan yang akan digelar menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru pengiat KLJI. “Dengan beragam hal positif di atas, kami juga ingin menunjukkan bahwa keberadaan komunitas ini sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia. Bersama para penggiat dari luar daerah ini setidaknya bisa menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru penggiat KLJ, agar seni proses ini bisa terus berkelanjutan prosesnya mewarnai pembangunan karakter anak bangsa.” Harapnya penuh semangat.

Terkait acara bedah buku yang akan digelar, Benbella mengungkapkan bahwa bedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang yang akan disampaikan oleh penulisnya sendiri yaitu ambu Ati Bachtiar, bertujuan memantik kesadaran masyarakat untuk melestarikan kebudayaan yang ada di daerah masing-masing melalui media fotografi. “Agar suatu saat ketika budaya tersebut hilang dari sebuah masyarakat, anak cucu kita masih bisa mengenal dan melihatnya walaupun dalam bentuk cetakan foto.” Paparnya. (WD)

selengkapnya