close

Seni Budaya

PendidikanSeni Budaya

Milad ke-7 UMPP: Tak Hanya Mahir Mengajar, Dosen dan Tendik Unjuk Gigi di Lomba Vokal

template berita foto warta desa(4)

PEKALONGAN, WARTA DESA – Kemeriahan Milad ke-7 Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) tidak hanya milik mahasiswa. Kali ini, giliran para dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang mencuri perhatian melalui ajang Lomba Vokal yang digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan hari jadi kampus, pekan ini.

Mengusung semangat “Berdampak Berkemajuan”, perlombaan ini menjadi wadah bagi para pendidik dan staf untuk melepaskan penat sejenak dari rutinitas akademik. Suasana formal kampus berubah menjadi panggung penuh kreativitas dan kehangatan kekeluargaan.

Ajang Unjuk Bakat dan Penghayatan Penampilan para peserta sukses memukau penonton dan dewan juri. Penilaian tidak hanya menitikberatkan pada teknik vokal semata, tetapi juga penghayatan lagu, penguasaan panggung, hingga kemampuan berinteraksi dengan audiens yang didominasi oleh rekan sejawat dan mahasiswa mereka sendiri.

Sorak sorai dan tepuk tangan meriah mengiringi setiap peserta, menciptakan atmosfer yang cair dan penuh apresiasi. Hal ini membuktikan bahwa civitas akademika UMPP memiliki potensi seni yang tidak kalah mumpuni di samping prestasi akademik mereka.

Daftar Juara Lomba Vokal Setelah melalui proses penilaian yang cukup ketat, dewan juri akhirnya menetapkan para pemenang Lomba Vokal Dosen & Tendik Milad UMPP ke-7 sebagai berikut:

  • Juara 1: Benny Arief Sulistyanto (Dosen Prodi S1 Keperawatan)

  • Juara 2: Eko Arifianto (Tendik Dekanat FIKes)

  • Juara 3: Dafid Arifiyanto (Dosen Prodi S1 Keperawatan)

Mempererat Tali Silaturahmi Keberhasilan para pemenang disambut gembira oleh seluruh warga kampus. Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini diharapkan mampu memperkuat tali silaturahmi dan meningkatkan semangat kolaborasi antarunit di lingkungan UMPP.

“Kegiatan ini menunjukkan komitmen UMPP untuk membangun lingkungan kampus yang seimbang. Kita tidak hanya mengejar keunggulan pendidikan, tetapi juga memberikan ruang bagi pengembangan bakat dan kreativitas seluruh elemen civitas akademika,” ungkap salah satu panitia di sela acara.

Melalui perayaan Milad ke-7 ini, UMPP semakin menegaskan jati dirinya sebagai kampus yang aktif, kreatif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dalam setiap langkah menuju kemajuan. (.*.)

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

Promosi Sekolah Lewat Kreativitas, SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Gelar Islamic Festival Smuhi 2026

template berita foto warta desa

PEKALONGAN, WARTA DESA – SMA Muhammadiyah 1 (Smuhi) Pekajangan kembali menghidupkan suasana kompetisi dan silaturahmi pelajar melalui perhelatan Islamic Festival Smuhi 2026. Acara tahunan yang berlangsung pada Kamis (7/5/2026) ini menjadi magnet bagi pelajar SMP/MTs se-Pekalongan Raya, meliputi wilayah Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, hingga Kabupaten Batang.

Selain menjadi ajang silaturahmi, festival ini merupakan bagian dari strategi syiar dan promosi Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Smuhi untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada calon siswa potensial.

Acara dibuka langsung oleh Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan, Amilah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Smuhi yang menjadi motor utama di balik kemeriahan acara tersebut.

“Saya sangat berterima kasih kepada anak-anak IPM. Acara sebesar dan semeriah ini diselenggarakan sepenuhnya oleh mereka. Ini adalah proses belajar menjadi CEO di masa depan. Sekali lagi, IPM Jaya!” ujar Amilah dengan bangga.

Ia menambahkan bahwa Islamic Festival tahun ini merupakan gelaran ketiga dan diklaim sebagai yang paling meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari adanya bazar yang turut meramaikan lokasi acara. Amilah berkomitmen bahwa pihak sekolah akan memberikan dukungan lebih besar di tahun mendatang agar acara ini terus berkembang.

Pembukaan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Humas dan Keislaman,  Pasrum Affandi.

Di sela-sela kegiatan, Ketua IPM Smuhi didampingi Ketua Panitia, Ipmawan Busan dan Ipmawan M. Lutfi, menjelaskan bahwa festival tahun ini tidak hanya berisi kompetisi.

“Selain berbagai lomba, kami juga mengadakan talk show bersama Immatulfathina Purifiedriyaningrum, diangkat sangat relevan, yakni ‘Meningkatkan Kesadaran Positif Remaja di Era Digital’,” jelas mereka.

Acara yang berlangsung khidmat dan meriah ini diakhiri dengan prosesi pembagian piala kejuaraan serta sertifikat kepada para pemenang lomba yang telah berkompetisi membawa nama baik sekolah masing-masing. (Kontributor: Toir)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Meneruskan estafet kepemimpinan rating IPPNU Pecakaran

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Wujud Syukur, Warga Botosari Gelar Ruwat Bumi dengan Lakon “Wahyu Purbo Sejati”

template berita foto warta desa

PEKALONGAN, WARTADESA. – Suasana khidmat menyelimuti Dukuh Gunung Surat, Desa Botosari, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan pada Minggu (26/04/2026). Ratusan warga berkumpul untuk melaksanakan tradisi tahunan Ruwat Bumi atau Sedekah Bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil pertanian yang melimpah.

Ritual Doa dan Harapan Keberkahan

Tradisi ini digelar bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah doa bersama agar warga setempat senantiasa mendapatkan berkah dari apa yang mereka tanam. Warga berharap tanah yang mereka olah tetap subur dan dijauhkan dari segala marabahaya serta hama tanaman.

Kemeriahan Wayang Kulit Semalam Suntuk

Puncak acara Ruwat Bumi tahun ini dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kulit yang berlangsung selama satu hari satu malam. Menampilkan dalang Joko Setyo Pranolo, pertunjukan ini membawakan lakon “Wahyu Purbo Sejati”. Lakon tersebut dipilih karena mengandung filosofi mendalam tentang asal-usul kehidupan dan keseimbangan alam, yang sangat relevan dengan semangat pelestarian lingkungan di Botosari.Pesan Kepala Desa: Jaga Kerukunan dan Lingkungan

Dalam sambutannya, Kepala Desa Botosari, Karyono, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas antusiasme warga dalam menjaga kearifan lokal ini. Beliau menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai sosial di tengah masyarakat.

“Saya berharap melalui momentum Ruwat Bumi ini, masyarakat Desa Botosari selalu guyup rukun, kompak dalam bergotong royong, serta memiliki kesadaran tinggi untuk saling menjaga lingkungan sekitar,” ujar Karyono.

Acara yang berlangsung tertib dan meriah ini ditutup dengan doa bersama, mempertegas komitmen warga Dukuh Gunung Surat untuk terus melestarikan warisan leluhur demi keharmonisan antara manusia dan alam.

Laporan: RIDWAN

Terkait
Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj batal hadir di haul Wali Tanduran

Paninggaran, Wartadesa. - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj batal menghadiri haul Wali Tanduran di Paninggaran, Read more

Ribuan warga terlibat dalam Sekantenan

Bojong, Wartadesa. - Ribuan warga Desa Ketitanglor Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan, Jum'at (18/08) mengadakan agenda Tahunan Kirab Tumpeng 'Sekantetan'. Kkegiatan Read more

Peserta khitanan masal nangis, peserta lainnya jadi heboh

Kedungwuni, Wartadesa. - Gelaran rangkaian peringatan Legenonan, tradisi warga turun-temurun di Pekalongan yang masih lestari, di Desa Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni, Read more

Ribuan santri dan walisantri meriahkan Panggung Gembira IMBS Miftakhul Ulum Pekajangan

Kedungwuni, Wartadesa. - Ribuan walisantri dan santri Pondok Pesanten International Muhammadiyah Boarding School (IMBS) Miftakhul Ulum Pekajangan di Desa Ambokembang Read more

selengkapnya
OlahragaPendidikanSeni Budaya

MI Salafiyah Sidorejo Gelar PORSENI dalam Rangka Harlah NU dan Hari Lahir Madrasah

template berita foto warta desa (1)

Warta Desa, Batang – MI Salafiyah Sidorejo Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang menyemarakkan peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama sekaligus Hari Lahir Madrasah dengan menggelar Pekan Olahraga dan Seni yang berlangsung selama dua hari mulai Jumat hingga Sabtu Sabtu (30-31/01/2026).. Bertempat di lingkungan madrasah dan TPQ Salafiyah nol satu Sidorejo, kegiatan ini mengusung tema besar mengenai upaya bersama meraih prestasi dan bersatu dalam kreasi yang diikuti oleh seluruh siswa dengan penuh antusias.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua PAC Pergunu Warungasem sekaligus Kepala MI Salafiyah Sidorejo bernama Fatkhuddin yang menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengejar prestasi akademik namun lebih pada pembentukan karakter peserta didik. Ketua Panitia Muhammad Zamzami menjelaskan bahwa pelaksanaan ajang ini merupakan bagian dari program pembinaan untuk menggali potensi siswa di bidang non-akademik serta menumbuhkan semangat sportivitas, kreativitas, dan kedisiplinan sejak usia dini agar mereka mampu berkompetisi secara sehat dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran.

Berbagai cabang lomba menarik dipertandingkan dalam kegiatan ini mulai dari bidang olahraga seperti lari enam puluh meter, lari jarak jauh, lompat tinggi, lompat jauh, bulu tangkis, tolak peluru, catur, hingga bola voli. Sementara untuk bidang seni para siswa saling unjuk gigi dalam lomba pidato empat bahasa, pembacaan puisi, pembuatan kaligrafi, dan seni kolase yang mengasah kreativitas mereka. Semangat berkompetisi dirasakan langsung oleh salah satu siswa bernama Adi Pindan Baskoro yang mengaku sangat senang karena mendapatkan pengalaman berharga dan kesempatan berinteraksi lebih erat dengan teman-temannya.

Melalui penyelenggaraan pekan olahraga dan seni ini pihak madrasah berharap dapat terus memupuk budaya berprestasi dan menguatkan posisi lembaga pendidikan sebagai wadah pengembangan minat dan bakat yang komprehensif. Upaya ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi siswa dalam membentuk mental yang kuat dan mempererat semangat kebersamaan di lingkungan pendidikan madrasah Kabupaten Batang. ***

Pewarta: M. Najmul Ula

Editor: Buono

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

Seni Bertutur yang Kian Luntur

lukman

Oleh:  Lukman Alfaris, S.Pd., M.Pd.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan budaya. Kekayaan itu tidak hanya tercermin dalam ragam tarian, musik, atau busana tradisional, tetapi juga dalam tradisi lisan yang hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat. Salah satu warisan budaya lisan yang sarat makna adalah seni bertutur atau mendongeng. Melalui tuturan, nilai-nilai kehidupan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, menjaga bahasa dan tradisi bertutur sejatinya adalah upaya menjaga jati diri dan kebudayaan bangsa.

Namun, di tengah semangat merayakan Bahasa Indonesia pada saat Bulan Bahasa, ada satu aspek kebahasaan yang justru perlahan mulai memudar dari kehidupan sehari-hari, yakni seni bertutur. Tradisi mendongeng yang dahulu akrab di ruang keluarga dan masyarakat kini semakin jarang dijumpai. Aktivitas yang dulu menjadi momen hangat sebelum tidur, ketika anak-anak mendengarkan cerita dari orang tua atau kakek-neneknya, kini nyaris terlupakan. Modernisasi dan perubahan gaya hidup telah menggeser kebiasaan tersebut.

Kesibukan orang tua menjadi salah satu faktor utama. Rutinitas pekerjaan yang padat, kelelahan fisik, serta tekanan ekonomi membuat waktu bersama anak semakin terbatas. Percakapan hangat dan cerita penuh makna tergantikan oleh keheningan atau interaksi singkat yang minim kedalaman. Padahal, dari tuturan sederhana itulah terbangun kedekatan emosional, rasa aman, serta ikatan batin yang kuat antara anak dan orang tua. Cerita yang disampaikan dengan penuh cinta sering kali menetap lebih lama dalam ingatan anak dibandingkan nasihat panjang yang disampaikan tanpa sentuhan emosi.

Di sisi lain, perubahan perilaku anak-anak di era digital turut mempercepat lunturnya seni bertutur. Gawai, video daring, dan gim digital kini menjadi teman sehari-hari anak. Dunia mereka berpindah dari ruang cerita menuju layar yang penuh gambar bergerak. Komunikasi yang dahulu dipenuhi tatapan mata, intonasi suara, dan ekspresi wajah kini digantikan oleh animasi dan suara mesin.

Akibatnya, jarak emosional antara anak dan orang tua semakin terasa, sementara ruang dialog dan imajinasi semakin menyempit. Ironisnya, di tengah derasnya arus teknologi tersebut, seni bertutur justru memiliki kekuatan yang tidak tergantikan. Dongeng dan cerita lisan mengajarkan anak mengenali kebaikan dan keburukan, memahami kejujuran, kerja keras, keberanian, serta kasih sayang. Melalui alur cerita dan tokoh-tokohnya, anak belajar berempati, memahami perasaan orang lain, dan menimbang konsekuensi dari setiap tindakan.

Nilai-nilai itu tidak diajarkan secara menggurui, tetapi tumbuh secara alami dalam kesadaran anak. Seni bertutur tidak Lebih dari sekadar hiburan, namun seni bertutur merupakan media pendidikan karakter yang hidup. Ia bekerja melalui rasa, imajinasi, dan kedekatan emosional. Cerita yang disampaikan dengan suara lembut dan penuh penghayatan mampu menanamkan nilai moral jauh lebih dalam dibandingkan larangan atau perintah yang kering makna.

Di sanalah kekuatan dongeng: ia membentuk manusia yang beradab melalui cara yang halus dan manusiawi. Oleh karena itu, Mengembalikan tradisi mendongeng tidak selalu membutuhkan waktu lama atau cerita yang rumit. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk hadir, berbicara, dan mendengarkan. Sebab, dari tuturan sederhana itulah masa depan karakter anak dan keberlanjutan budaya bangsa dapat dijaga. ***

Diperkenankan untuk mengambil sebagian atau keseluruhan artikel ini dengan menyertakan link/tautan aktif artikel ini

Penulis adalah Dosen Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

selengkapnya
Seni Budaya

Porseni IPNU-IPPNU Ke-VI Kecamatan Kandangserang Resmi Digelar

IMG-20251122-WA0009

Warta Desa, Lambur, 22 November 2025.
Kandangserang — Kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) tingkat Kecamatan Kandangserang resmi dilaksanakan hari ini di Gedung GOR Bulu Tangkis Lambur.

Antusiasme terlihat dari seluruh pengurus IPNU dan IPPNU se-Kecamatan Kandangserang yang hadir untuk menyukseskan rangkaian kegiatan tersebut.

Regina, salah satu pengurus IPPNU Kecamatan Kandangserang, menyampaikan bahwa kegiatan Porseni ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pelajar Nahdlatul Ulama sekaligus mempererat tali silaturahmi antar pengurus ranting di wilayah kecamatan.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pelajar Nahdlatul Ulama serta mempererat tali silaturahmi antar pengurus ranting,” ujar Regina.

Sementara itu, Ketua NU Kandangserang, H. Roni, menjelaskan bahwa Porseni tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari Hadroh hingga sejumlah lomba seperti cerdas cermat dan cabang seni lainnya.

“Hari ini anak-anak IPNU dan IPPNU melaksanakan kegiatan Porseni yang diisi dengan beberapa kegiatan seperti Hadroh, lomba cerdas cermat, dan lain sebagainya,” tutur H. Roni.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi pelajar NU untuk mengembangkan potensi, memperkuat karakter, serta mempererat kebersamaan antar kader di lingkungan NU Kecamatan Kandangserang. (Andi Purwandi)

Terkait
IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

IPNU IPPNU himbau anggotanya tak konvoi malam tahun baru

Buaran, Wartadesa. - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Putra Putri Nahdlatul Ulama (IPNU IPPNU) Kecamatan Buaran menghimbau Read more

IPNU IPPNU Wonokerto gelar ngepit bareng

Wonokerto, Waratadesa. - Sebagai pemuda penerus perjuangan NU, sudah selayaknya IPNU IPPNU menjadi pelopor kegiatan yang postif, kegiatan-kegiatan sosial ataupun Read more

SMA Islam YMI tuan rumah Porseni IPNU IPPNU Wonopringgo

Wonopringgo, Wartadesa. - SMA Islam YMI menjadi tuan rumah Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) II se-Anak Cabang Wonopringgo pada Jumat-Sabtu, Read more

selengkapnya
Seni Budaya

Gunakan Lagu Asing, Gelaran Apresiasi Seni Musik Dunia Disorot Warga

semarak seni

Warta Desa, Karanganyar, Pekalongan — Kementerian Kebudayaan Indonesia menggelar kegiatan bertajuk Semarak Budaya sebagai bentuk apresiasi terhadap keberagaman seni musik dunia. Acara ini berlangsung meriah di depan Aula Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, pada Minggu (3/11/2025) malam, mulai pukul 20.00 hingga selesai.

Sayangnya, gelaran musik jazz tersebut menampilkan lagu-lagu berbahasa asing. Sejumlah  warga menyayangkan karena dalam acara tersebut tidak disertai penampilan lagu-lagu Indonesia atau kesenian tradisional Jawa, yang selama ini menjadi identitas kuat budaya Pekalongan.

“Seni budaya Jawa itu tidak kalah bagus. Kalau semua lagu pakai bahasa asing, banyak yang tidak mengerti maknanya. Akan lebih baik kalau disisipkan juga lagu daerah atau gamelan agar lebih terasa nuansa budayanya,” ungkap salah satu warga yang hadir di lokasi.

Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPR RI, Camat Karanganyar beserta jajaran pemerintah kecamatan, beberapa kepala desa, serta puluhan masyarakat sekitar yang antusias menyaksikan pertunjukan musik jazz dari para musisi muda lokal dan nasional.

Acara Semarak Budaya ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan dalam mengembangkan serta memberdayakan potensi seni dan budaya daerah, sekaligus memperkenalkan karya-karya lokal di tingkat nasional maupun internasional.

Terkait dengan respon warga, pihak panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini ke depannya akan dikembangkan dengan konsep kolaborasi budaya, yaitu menggabungkan unsur musik modern seperti jazz dengan kekayaan seni tradisional nusantara.

Melalui Semarak Budaya, diharapkan lahir ruang ekspresi baru bagi para seniman muda untuk terus berkreasi tanpa melupakan akar budaya lokal yang menjadi jati diri bangsa. (Rohadi)

Terkait
Pembudidaya Ikan Air Tawar di Bintek

Karanganyar, Wartadesa - Pembudi-daya ikan air tawar di Kabupaten Pekalongan diberi bimbingan tentang teknologi budidaya ikan air tawar oleh Dinas Read more

Karcis parkir tertulis seribu, eh … ditulis pake bolpoin seribu lima ratus

Karanganyar, Wartadesa. - Karut marut perparkiran di Kabupaten Pekalongan, nampaknya terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kajen, Jalan Raya Read more

Ribuan santri dan walisantri meriahkan Panggung Gembira IMBS Miftakhul Ulum Pekajangan

Kedungwuni, Wartadesa. - Ribuan walisantri dan santri Pondok Pesanten International Muhammadiyah Boarding School (IMBS) Miftakhul Ulum Pekajangan di Desa Ambokembang Read more

Tebarkan syiar Islam, grup hadroh SMA Islam YMI tampil di Kajen

Kajen, Wartadesa. - Grup Hadroh SMA Islam YMI Wonopringgo, Syauqul Mustofa, kembali tampil dalam pembacaan maulid nabi dan solawat pada Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalSeni Budaya

Odong-odong Tampil di Kirab Budaya Kabupaten Pekalongan, Dinilai Langgar Aturan dan Undang-Undang

odong odong

Warta Desa, Pekalongan – Penampilan kereta kelinci alias odong-odong dalam Kirab Budaya Kabupaten Pekalongan menuai kritik tajam. Pasalnya, kendaraan hiburan yang sudah dilarang beroperasi karena tidak sesuai standar keselamatan tersebut justru tampil terbuka dalam acara resmi tingkat kabupaten.

Sebagaimana diketahui, keberadaan odong-odong sudah diatur dalam regulasi. Berdasarkan Undang-Undang Nomor 22 Tahun 2009 tentang Lalu Lintas dan Angkutan Jalan, setiap kendaraan yang beroperasi di jalan wajib memenuhi persyaratan teknis dan laik jalan. Odong-odong selama ini dinyatakan tidak memenuhi standar keselamatan, baik dari sisi rangka kendaraan, sistem rem, maupun perizinan operasional.

Larangan juga diperkuat dengan berbagai surat edaran dan instruksi dari Kementerian Perhubungan serta kepolisian. Kendaraan tersebut dinilai berisiko tinggi menyebabkan kecelakaan lalu lintas, terutama karena kerap dimodifikasi tanpa standar resmi.

Namun dalam karnaval baru-baru ini, justru terlihat odong-odong ikut serta sebagai peserta. Hal ini sontak memicu tanda tanya publik terkait konsistensi aturan yang berlaku.

Yang menjadi sorotan odong – ondong tersebut dinaiki oleh istri – istri para anggota DPR

“Kalau di jalan umum saja dilarang karena berbahaya, mengapa bisa tampil di acara resmi kabupaten? Ini jelas kontradiktif dan menimbulkan kesan pembiaran,” ujar salah seorang warga yang menyaksikan karnaval.

Sejumlah warga menilai, penampilan odong-odong dalam karnaval tidak hanya menyalahi aturan, tetapi juga berpotensi menormalkan praktik yang sudah dilarang. Bahkan, ada kekhawatiran jika hal ini dibiarkan, masyarakat akan menganggap odong-odong kembali diperbolehkan beroperasi.

“Acara karnaval semestinya menjadi ajang edukasi budaya sekaligus memberi teladan kepada masyarakat. Kalau yang ditampilkan justru kendaraan ilegal, berarti pemerintah daerah gagal memberikan contoh yang baik,” ungkap salah satu aktivis di Pekalongan.

Hingga kini, instansi terkait belum memberikan keterangan resmi mengenai alasan diperbolehkannya odong-odong ikut tampil. Publik menunggu langkah tegas dari pemerintah kabupaten dan aparat penegak hukum agar aturan tidak hanya berlaku di atas kertas, tetapi juga dijalankan secara konsisten di lapangan. (Agung Dwi Wicaksono)

QR Code

Terkait

[caption id="attachment_1300" align="aligncenter" width="768"] Polsek Sragi membantu mengatur lalu lintas di depan SMA Negeri 1 Sragi, Jum'at (14/10). Foto : Read more

Warga terdampak tol mulai pindah

[caption id="attachment_1331" align="aligncenter" width="768"] Warga terdampak tol di desa Bulakpelem, Sragi ini mulai membongkar rumahnya secara swadaya. (15/10) Foto : Read more

Angaran Pilkades Rembang telan 1.5 miliar

[caption id="attachment_1372" align="alignnone" width="717"] Ilustrasi: Rembang akan melaksanakan pilkades bagi 43 desa secara serentak pada 30 Nopember 2016 mendatang. Rembang, Read more

selengkapnya
Layanan PublikSeni Budaya

MIRIS! Pendopo Lama Kabupaten Pekalongan Terlupakan, Disulap Jadi Lahan Bisnis Sementara Bangunan Sejarah Terbengkalai

IMG-20250804-WA0030

Warta Desa,Pekalongan – Ditengah geliat pembangunan dan modernisasi yang terus berlangsung di Kabupaten Pekalongan, nasib bangunan bersejarah justru semakin terpinggirkan. Salah satunya adalah Pendopo Lama Kabupaten Pekalongan, yang kini keadaannya sangat memprihatinkan. Bangunan yang dahulu menjadi pusat pemerintahan dan simbol kekuasaan lokal itu kini seakan hanya menjadi saksi bisu kehampaan sejarah, dilupakan oleh penguasa dan tidak dipedulikan oleh pihak terkait.

Ironisnya, kawasan sekitar pendopo kini justru dipenuhi oleh aktivitas ekonomi, mulai dari warung, stan makanan, toko-toko kaki lima, hingga tempat parkir komersial. Aktivitas bisnis yang semakin padat di sekitar area pendopo tidak diiringi dengan upaya perawatan atau pelestarian terhadap bangunan utamanya. Pendopo dibiarkan kusam, reyot, dan nyaris tak terawat. Cat tembok yang mengelupas, kayu-kayu yang lapuk, dan atap yang mulai rusak menjadi pemandangan sehari-hari yang mencoreng identitas budaya daerah.

Seorang warga setempat, Bapak Sutrisno (62), yang sejak kecil tinggal di kawasan itu, mengungkapkan keprihatinannya.

> “Dulu pendopo ini menjadi pusat kegiatan adat dan pemerintahan. Sekarang hanya jadi pemandangan yang menyedihkan. Tidak ada lagi jiwa sejarah di sini. Pemerintah seakan membiarkannya hancur pelan-pelan,” ucapnya.

 

Pendopo Lama tidak hanya memiliki nilai historis, tetapi juga nilai arsitektural tinggi sebagai salah satu peninggalan masa pemerintahan kabupaten tempo dulu. Namun, nilai-nilai luhur tersebut saat ini tertutup oleh geliat bisnis yang mengitari kawasan tersebut. Seolah-olah, ekonomi lebih dikedepankan daripada pelestarian warisan leluhur.

Beberapa pemerhati budaya juga menyayangkan tidak adanya langkah konkret dari pemerintah daerah dalam menyelamatkan bangunan tersebut.
“Kalau dibiarkan seperti ini terus, tinggal tunggu waktu sampai pendopo itu benar-benar roboh atau digantikan bangunan lain,” ujar Turadi, pegiat sejarah lokal. “Padahal jika dirawat dan difungsikan dengan baik, pendopo bisa jadi ikon wisata sejarah Pekalongan.”

Tidak sedikit pula yang menilai bahwa pengelolaan kawasan ini hanya berpihak pada kepentingan sesaat. Tanpa ada regulasi ketat, area sekitar pendopo disulap jadi lahan parkir dan kios-kios yang memberi keuntungan instan, tetapi menggerus nilai budaya.

Hingga kini belum ada informasi pasti dari pihak pemerintah daerah mengenai rencana revitalisasi atau pelestarian pendopo. Dinas terkait pun belum memberikan tanggapan resmi atas keluhan masyarakat.

Dengan kondisi seperti ini, masyarakat berharap agar Pendopo Lama Pekalongan tidak hanya dijadikan latar belakang dari geliat bisnis yang kian ramai, tetapi juga dijadikan prioritas dalam pelestarian sejarah daerah. Sudah saatnya pemerintah membuka mata dan telinga terhadap kondisi nyata warisan budaya yang tengah sekarat di depan mata. (Agung Dwi Wicaksono)

 

QR Code

Terkait
Alih Fungsi Pendopo Lama Pekalongan Dinilai Komersial, Abaikan Nilai Sejarah Leluhur

Warta Desa, Pekalongan – Bangunan bersejarah Pendopo Lama Kabupaten Pekalongan kembali menuai sorotan publik. Alih fungsi bangunan yang dulunya merupakan pusat Read more

Muhammadiyah dan Pendidikan: Refleksi di Hari Pendidikan Nasional 2025

Oleh : H. Tjahyono, M. Pd “Orang Islam jangan hanya menjadi penonton dalam arus kemajuan. Kita harus menjadi pelaku, dan Read more

Tren Banyak BMT Kolaps, Muhammadiyah Kajen Pekalongan Ingatkan Semangat Pendirian BT Muhamka

Warta Desa, Pekalongan - Di tengah kondisi banyaknya lembaga koperasi dan Baitul Maal wa Tamwil (BMT) yang kolaps dan tidak sehat, Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Paguyuban 212 Cah Sableng Gelar Santunan Anak Yatim dan Ruwat Alam

santo

Warta Desa, Pemalang, 21 Juli 2025 – Paguyuban 212 Cah Sableng Sabda Manunggaling Pamalang kembali menggelar kegiatan tahunan berupa tasyakuran ruwat alam dan santunan anak yatim, bertempat di Pendopo Paseban, Desa Kelangdepok, Kecamatan Bodeh, Kabupaten Pemalang.

Acara ini merupakan agenda rutin yang digelar setiap tahun, sebagai bentuk rasa syukur masyarakat terhadap alam dan rezeki yang telah diterima. Dalam kesempatan kali ini, sebanyak 100 anak yatim dan kaum dhuafa menerima santunan dari paguyuban.

Kegiatan dimulai pada Minggu Pon siang hingga malam hari. Masyarakat Kelangdepok turut berpartisipasi dalam arak-arakan gunungan hasil bumi yang terdiri dari sayuran, buah-buahan, dan berbagai hasil tani lainnya. Gunungan ini sebagai simbol persembahan dan rasa syukur kepada Sang Pencipta atas keberkahan alam.

Acara ruwat alam ini juga dimeriahkan dengan pagelaran wayang kulit oleh dalang Ki Dalang Mangun Yuwono, membawakan lakon Parikesit, yang sarat dengan nilai-nilai sejarah dan kearifan lokal nusantara.

Hadir dalam kegiatan ini antara lain Bupati Pemalang, perwakilan dari Kesbangpol, Prokopimcam, Kepala Desa Kelangdepok, para sesepuh, serta masyarakat dari berbagai kalangan yang turut meramaikan acara.

Dalam sambutannya, Bupati Pemalang menyampaikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya kegiatan ini. “Kami sangat mendukung dan berharap kegiatan mulia seperti ini terus dilaksanakan. Pemerintah Kabupaten Pemalang siap turut hadir dan mendukung dalam pelestarian budaya serta kegiatan sosial seperti santunan anak yatim,” ujarnya.

Sementara itu, Eyang Sujito, sesepuh Paseban dan tokoh paguyuban 212 Cah Sableng, mengungkapkan rasa terima kasihnya kepada jajaran pemerintah Kabupaten Pemalang atas kehadiran dan dukungannya. “Ini merupakan bentuk sinergi antara masyarakat dan pemerintah dalam menjaga budaya dan kepedulian sosial,” tuturnya.

Kegiatan ini menjadi bukti bahwa nilai-nilai gotong royong, pelestarian budaya, dan kepedulian terhadap sesama masih kuat tertanam di tengah masyarakat Pemalang. (Gusanto)

Terkait
Bocah Karateka Asal Pekalongan, Sumbang Medali Untuk Pemalang

Unggul Seno menerima pengalungan medali perak dalam lomba Karate Open Jateng & DIY FORKI, (22/10) di Read more

Warga Pemalang jadi korban pembunuhan sadis di Pulomas

Bantarbolang, Wartadesa. - Sugianto (48), warga Desa Pegiringan Kecamatan Bantarbolang Kabupaten Pemalang turut menjadi korban pembunuhan sadis di Jl Pulomas Utara Read more

Warga buka segel kantor Desa Ampelgading

Dampak warga tuntut dua oknum perangkat desa dipecat Pemalang, Wartadesa. - Kapolsek Ampelgading, AKP Heriyadi Noor bersama Camat, Kepala Desa dan Read more

Warga temukan mayat tak dikenal di Kedungbanjar Pemalang, Andakah keluarganya?

Pemalang, Wartadesa. - Polsek Taman Kabupaten Pemalang menunggu 1 x 24 jam, jika tidak ada keluarga yang mengakui korban maka Read more

selengkapnya