close

Seni Budaya

Jalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Batik Pekalongan digemari dalam ajang @Yala Thailand

Pengunjung Paviliun Indonesia di Melayu Day @Yala © Sumber: Universitas Muhammadiyah Sumatera Utara

Jakarta, Wartadesa. – Pavilium Indonesia dalam gelaran Hari Melayu Tahunan keenam @Yala 2019 Thailand yang dibuka sejak Jum’at hingga Ahad (08-10/02) ramai dikunjungi pengunjung. Bahkan Farida, penggila batik Thailand tiap hari datang ke Pavilium Indonesia untuk membeli batik.

Farida kepada The Jakarta Post mengungkapkan dia menyukai batik Indonesia. “Saya suka batik dan saya punya koleksi, termasuk beberapa [tekstil] dari Indonesia. Saya suka motif dan desain batik Indonesia, “kata Farida.

Paviliun Indonesia di @Yala dikelola oleh vendor Estu Batik Pekalongan, Roemah Srikandi dan Kasturi Fashion telah menjadi stan yang paling banyak dikunjungi.

“Alhamdulillah, batik masih punya banyak penggemar di sini,” kata Azka, pemilik Estu Batik Pekalongan.

Bagi warga Pekalongan Estu Batik yang beralamatkan di Jalan Keputran Ledok I, Kauman, Kecamatan Pekalongan Timur, Kota Pekalongan tentu banyak yang mengenal.

Selain menampilkan beragam kerajinan batik dan tekstil, Paviliun Indonesia di @Yala 2019 juga menyuguhkan beragam produk lokal dan menawarkan paket wisata. Pengunjung juga dapat membeli produk kreatif dari UKM dan pengrajin Indonesia yang dikuratori khusus untuk festival, serta mencicipi berbagai hidangan dari seluruh nusantara.

“Selama tiga hari [festival], kami memperkenalkan kelezatan kuliner seperti soto Padang [sup daging sapi], rendang [daging sapi direbus dengan santan dan rempah-rempah], bakso, nasi tumpeng [nasi kuning berbentuk kerucut dengan lauk pauk, bakwan , dan lauk lainnya yang bisa dinikmati pengunjung secara gratis, “kata Konsul Jendral Indonesia di Songkhla Fachry Sulaiman.

Fachry menambahkan beberapa universitas di Indonesia mempromosikan kesempatan belajar berkelanjutan bagi siswa Thailand dalam ajang festival tahunan tersebut.

“Kami mengucapkan terima kasih dan penghargaan kami karena diundang oleh pemerintah kota Yala dari tahun ke tahun untuk berpartisipasi dan menjadi mitra dalam salah satu festival budaya Melayu terbesar di Thailand. Selama tiga hari dari Hari Melayu 2019 @Yala, Konsulat Indonesia di Songkhla berpartisipasi dalam menampilkan seni dan budaya Indonesia melalui menyoroti budaya Melayu dengan karakteristik Indonesia, dengan dukungan dari pemerintah kota Binjai dan Medan.” kata Fachry. (The Jakarta Post)

selengkapnya
Jalan-jalanPendidikanSeni BudayaTekno

Komunitas Lubang Jarum Indonesia dari tiga provinsi bakal hunting bareng di Pekalongan

buku jejak langkah telinga panjang_istagram

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Anggota Komunitas Lubang Jarum Indonesia (KLJI) dari tiga provinsi akan meggelar aksi hunting (memotret) bareng dengan kamera lubang jarum dan membedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang karya Ati Bachtiar, Ahad (17/02) di Museum Batik Pekalongan.

Buku bertajuk Jejak Langkah Telinga Panjang ini merupakan proyek dokumentasi fotografi di pesisir Kalimantan Timur hingga Kalimantan Utara.

Ati Bachtiar dibantu oleh beberapa kontributor, Chris Djoka, Ganecha Yudistira, Novi Balan dan Ray Bachtiar, menyusur pesisir Kaltim hingga Kaltara, menembus perkebunan sawit, area pertambangan, berpapasan dengan keajaiban alam, dan menjadi bagian dari upacara tradisi suku Dayak . Mendokumetasikan 38 wanita Dayak dari suku Bahau, Kenyah, Kayan, Wehea, Gaay dan Punan.

“Tiga Wadyabalad (panggilan anggota komunitas KLJI) dari Provinsi Jawa Barat yakni KLJI Cirebon, KLJI Semarang Jawa Tengah dan KLJI Yogyakarta akan berkumpul membedah buku karya Ati Bachtiar dan hunting bareng,” tutur Muhammad Benbella, penggiat KLJI Pekalongan, Ahad (10/02).

Pria yang akrab disapa Beng Beng ini mengungkapkan bahwa helatan acara tersebut merupakan upaya mengenalkan fotografi lubang jarum di Pekalongan, “Komunitas Lubang Jarum Indonesia sebagai wadah kreasi penggiat fotografi lubang jarum seluruh nusantara terus mengupayakan agar seni proses ini semakin dikenal oleh masyarakat. Sebagai sebuah kegiatan yang positif tentu bukan hanya diketahui, tapi juga bisa dilakukan oleh masyarakat umum, bukan melulu untuk yang suka fotografi, tapi juga untuk semua kalangan.” Tambahnya.

Menurut Benbella, fotografi lubang jarum ini banyak yang bisa dipelajari, melatih kesabaran dan mengasah naluri merupakan salah satunya. “Karena banyak hal yang bisa dipelajari dari genre fotografi ini. Melatih kesabaran dan mengasah naluri adalah salah satu dari sekian banyak manfaat yang bisa diperoleh.” Tutur penggila beragam bahan bacaan ini.

KLJI Pekalongan juga berharap perhelatan yang akan digelar menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru pengiat KLJI. “Dengan beragam hal positif di atas, kami juga ingin menunjukkan bahwa keberadaan komunitas ini sudah menyebar di berbagai kota di Indonesia. Bersama para penggiat dari luar daerah ini setidaknya bisa menjadi pemicu munculnya wajah-wajah baru penggiat KLJ, agar seni proses ini bisa terus berkelanjutan prosesnya mewarnai pembangunan karakter anak bangsa.” Harapnya penuh semangat.

Terkait acara bedah buku yang akan digelar, Benbella mengungkapkan bahwa bedah buku Jejak Langkah Telinga Panjang yang akan disampaikan oleh penulisnya sendiri yaitu ambu Ati Bachtiar, bertujuan memantik kesadaran masyarakat untuk melestarikan kebudayaan yang ada di daerah masing-masing melalui media fotografi. “Agar suatu saat ketika budaya tersebut hilang dari sebuah masyarakat, anak cucu kita masih bisa mengenal dan melihatnya walaupun dalam bentuk cetakan foto.” Paparnya. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanPendidikanSeni BudayaSosial Budaya

KKN Undip di Wonorejo dongkrak pemasaran gerabah lewat online

gambar mahasiswi

Wonopringgo, Wartadesa. – Kerajinan gerabah di Desa Wonorejo Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan saat ini masih dilakukan secara langsung. Pembeli dari berbagai wilayah di Tegal, Pemalang, Comal, Batang, Limpung dan daerah lain, biasanya datang langsung ke pengrajin gerabah untuk dijual lagi di wilayah mereka. Ragam dan jenis gerabah yang masih tradisional turut menurunkan minat remaja dan pemuda desa setempat untuk menggeluti usaha turun-temurun di desanya.

Untuk mendongkrak sekaligus mengenalkan gerabah asli Wonorejo, Tim Kuliah Kerja Nyata (KKN) Universitas Diponegoro (Undip) Semarang menggandeng Karangtaruna dan pemuda desa setempat untuk mencintai dan memasarkan gerabah melalui media online.

“Pendampingan yang kami lakukan di Desa Wonorejo yakni dengan membantu warga dan generasimuda melalui pemasaran online, melalui platform e-comercee pada marketplace yang ada seperti Lazada, Bukalapak dan marketplace lainnya maupun media sosial,” ujar Titi Marfiyah, salah seorang anggota Tim KKN Undip, Sabtu (02/02) disela-sela mendampingi Karangtaruna desa setempat saat kunjungan wisata edukasi Kampung Gerabah dari TK dan PAUD Islam Futuhiyah Doro.

Menurut Titi, pihaknya juga melakukan pendampingan warga pengrajin gerabah, pembekalan kepada para remaja dan pemuda tentang pemasaran, potensi usaha secara online. “Karena dengan pemasaran secara online, akan lebih efektif, cepat dan mudah dilakukan,” lanjutnya.

Selama ini, menurut Titi, kerajinan gerabah hanya dilakukan oleh para orang tua, “kedepan … melalui Karangtaruna kami turut berkontribusi membina remaja untuk menjadi pengrajin gerabah, agar kerajinan tersebut menjadi ikon Desa Wonorejo,” tutur gadis cantik berkerudung tersebut.

Singkatnya waktu KKN di Desa Wonorejo menjadikan timnya, masih menurut Titi, tidak mendampingi warga membuat aneka gerabah modern. Bentuk gerabah tradisional berupa lemper (tempat makan), celengan, teko dan lain sebagainya masih tetap dipertahankan, timnya hanya memberikan inovasi berupa pengecatan dengan cat tembok maupun cat lainnya sesuai dengan keinginan pasar.

“Kami tidak melakukan pendampingan pruduk baru, karena mereka harus belajar dari nol lagi untuk belajar yang baru, inovasinya dilakukan dengan pengecatan sesuai dengan keinginan seperti cat tembok, atau cat lainnya,” ujar Titi.

Titi dan tim KKNnya juga turut mendorong warga di Pekalongan dan sekitarnya untuk datang ke Desa Wonorejo dengan belajar sambil berwisata di wisata edukasi Kampung Gerabah, “silakan datang ke Desa Wonorejo, sambil wisata edukasi gerabah,” pungkasnya. (WD)

selengkapnya
EkonomiJalan-jalanSeni BudayaSosial Budaya

Pengrajin gerabah Desa Wonorejo butuh mesin pengolah tanah

gambar sumarni

Wonopringgo, Wartadesa. – Kerajinan gerabah di Dukuh Lengkong, Desa Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan mulai menggeliat. Kerajinan “usaha lemah” yang merupakan usaha turun-temurun warga ini awalnya sempat meredup. Dari ratusan pengrajin di pedukuhan teresebut, kini tingal puluhan pengrajin yang tinggal.

Beragam permasalahan pengrajin dilontarkan ketika Warta Desa menyambangi mereka Sabtu (02/02) di sekretariat Desa Wisata Edukasi Gerabah. Bersamaan dengan kunjungan dari TK dan PAUD Islam Futuhiyah, Doro.

Sumarni (65), pengrajin gerabah desa setempat menuturkan bahwa punahnya kerajinan di desanya lantaran anak-anak muda mulai tidak mengyukai kerajinan tersebut. “Kerajinan gerabah mulai punah, anak-anak muda tidak menyukai kerajinan tersebut karena penghasilan yang tidak menjanjikan, proses pembuatan yang lama, apalagi ketika musim hujan.
Sehari ambil tanah, tiga hari diproses diijek-injek/diuleni, baru kemudian dibuat, dijemur dan dibakar,” tuturnya.

Menurut Sumarni, jika harga gerabah maupun bentuk gerabah di desanya bervariasi mungkin anak-anak muda akan menyukainya. Dia berharap agar kerajinan gerabah yang merupakan warisan turun-temurun tidak punah. Harus ada usaha untuk menumbuhkan kecintaan para remaja dan pemuda pada kerajinan gerabah.

Ibu paruh baya yang pernah melakukan studi banding ke Gunungkidul, Yogyakarta untuk belajar pembuatan gerabah tersebut mengungkapkan bahwa di sana jenis, bentuk dan model gerabah beraneka macam dan pengrajinnya merupakan anak-anak muda. Sumarni berharap agar gerabah produksi di desanya bisa bervariasi seperti pengrajin di Gunungkidul.

Permasalahannya para pengrajin di desanya, yang nota bene sudah tua-tua tidak tahu cara membuat gerabah modern. Alat yang saat ini masih manual menjadi kendala. “Belum pernah membuat kerajinan yang modern seperti yang di Jogja. Selain itu jenis tanah di Jogja berbeda dengan kondisi di Wonorejo,” lanjutnya.

“Pengolahan tanahnya menggunakan mesin, sehingga tidak banyak menggunakan air. Mesin ini menjadi kebutuhan utama para pengrajin, untuk membuat kerajinan gerabah yang modern,” ujar Sumarni.

Menurut Sumarni, dengan mesin pengolah tanah tersebut, uletan tanah lebih kenyal dan merata, sehinga hasilnya lebih baik.

Selain bantuan mesin pengolah tanah untuk kerajinan gerabah, pengrajin desa setempat juga membutuhkan instruktur gerabah modern dari Jogja untuk menerapkan seni gerabah modern di desanya. “Ya … selain bantuan mesin pengolah tanah, kalo bisa ada instruktur atau guru yang mengajari warga untuk membuat gerabah modern,” harap Sumarni.

Desa Wonorejo saat ini sering dikunjungi oleh lembaga pendidikan untuk melakukan wisata edukasi pembuatan gerabah. Beberapa tahun terakhir ini sering dijadikan mahasiswa dari berbagai perguruan tinggi untuk praktik Kuliah Kerja Nyata (KKN), bahkan Bupapi Pekalongan, Asip Kholbihi pernah datang ke desa tersebut untuk melihat langsung kerajinan warga tersebut. (WD)

selengkapnya
Seni Budaya

Terpeleset ke jurang, mandor Perhutani meninggal

masuk jurang

Lebakbarang, Wartadesa. – Sudaryo (53), mandor Perhutani asal Dukuh Sidolor Rt.03 Rw.01, Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan meninggal setelah terpeleset dan jatuh ke selokan air, kemudian jatuh ke jurang setinggi tiga meter. Rabu (30/01).

Sudaryo terpeleset ketika hendak pulang dari tugas patroli di hutan pet;ak 13 dan 15. Korban masuk ke jurang di petak 33R masuk wilayah Dukuh Parakandowo Rt.91 Rw.05 Desa Sidomulyo Kecamatan Lebakbarang.

“Pada saat kejadian bersama korban sedang dalam perjalanan pulang setelah melakukan patroli di hutan petak 13 dan 15 sesampainya TKP, saat itu Kondisi jalan rabat beton yang di lalui sangat licin karena seharian di guyur hujan dengan intensitas yang cukup tinggi korban terpeleset dan jatuh kejurang sedalam kurang lebih 3 meter dengan posisi terlebih dahulu kepala membentur bebatuan yang berada didasar jurang,” ungkap rekan korban Rohmadi (54).

Dari informasi yang didapat bahwa Korban saat jatuh dalam posisi tertelungkup dan bagian kepala terlebih dahulu menghantam bebatuan didasar jurang. Melihat kejadian tersebut rekan Korban langsung meminta bantuan warga yang kebetulan tidak jauh dari lokasi TKP untuk menganggkat tubuh korban.

Karena berat badan dan lokasi yang sulit serta tidak memungkinkan untuk diangkat berdua, kemudian rekan Korban meminta tolong pada warga masyarakat untuk membantu mengangkat dan mengevakuasi tubuh korban dari lokasi kejadian.

Setelah berhasil di evakuasi, Korban langsung dibawa ke Puskesmas Lebakbarang. Dari hasil pemeriksaan petugas kesehatan Puskesmas bahwa Korban dinyatakan sudah meninggal, dan dari hasil pemeriksaan diketahui bahwa Korban mempunyai riwayat penyakit jantung dan hipertensi. (WD)

selengkapnya
Seni Budaya

Warga antusias ikuti Nyadran Gunung Silurah

festival gunung silurah_foto sonny johnbmc

Batang, Wartadesa. – Antusiasme warga Desa Silurah, Kecamatan Wonotunggal, Kabupaten Batang mengikuti gelaran Nyadran Gunung yang digelar sejak 23 Januari 2019 sangat tinggi. Terlihat, meski hujan mengguyur, Kirab Kebo Bule dan Gunungan Hasil Bumi yang dihelat pada Kamis (24/01) tak menyurutkan warga untuk mengikuti kegiatan tersebut.

Nyadran Gunung Silurah dimulai dengan kolaborasi pertunjukan seni tradisional dan kontemporer berupa gamelan Silurah, tari Jaran Gribig (sejenis dengan Jaran Kepang), Jatimrajak, musikalisasi puisi, tari kontemporer dan angklung, pada Rabu (23/01).

Hari selanjutnya, Kamis (24/01), warga melakukan kirab Kebo Bule dan gunungan hasil bumi dengan mengelilingi desa, selama kirab diiringi dengan iringan sholawat Nabi.

Kepala Desa Silurah, Kodirin mengungkapkan bahwa acara Nyadran Gunung Silurah merupakan acara tahunan dan puncak acara tiap tahun ketujuh dengan penyembelihan kebo bule untuk dilarung.

” Ini merupakan ritual budaya rutin tahunan, namun kali ini berbeda kalau setiap tahun hanya kambing yang disembelih, karena setiap tujuh tahun sekali menyembelih Kebo Bule setelah diarak keliling desa yang selanjutnya dilarung di Gunung Rogo Kusumo,” ujar Khodirin.

Khodirin menambahkan bahwa acara nyadran tersebut merupakan bentuk syukur warga atas hasil bumi yang berlimpah dan menolak wabah atau pagebluk selama tujuh tahun.

“Larungan sesaji ini memiliki tujuan yang konon dulunya secara turun-temurun dipercaya dapat menambah keberkahan warga masyarakat desa, sehingga rezekinya lancar, warganya sehat dan menolak bala bencana.” lanjut Khodirin. (WD)

selengkapnya
Seni Budaya

Beragam seni digelar dalam acara Suluk Bumi Santri

suluk bumi

Lebakbarang, Wartadesa. – Hujan deras yang megguyur wilayah Desa Lebakbarang, Kabupaten Pekalongan tidak menghalangi warga untuk berduyun-duyun mengikuti perhelatan Suluk Bumi Santri keenam. Sabtu (19/01) malam.

Beragam pagelaran seni dihelat dalam acara yang dilaksanakan di balaidesa setempat. Sedikitnya 150 warga desa hadir memenuhi ruangan aula balaidesa untuk menyimak lantunan mocopat yang dibawakan oleh .Jumari warga Desa Sidomulyo, gending sholawat jawi kyai suro wongso oleh masyarakat Desa Timbangsari, rebana Jabalul dari SMPN 1 Lebakbarang, hadroh rebana dari ibu-ibu fatayat masyarakat Lebakbarang, tahlil dan dzikir dipimpin oleh Ketua lesbumi NU Kab Pekalongan dan lain-lainya.

Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi mengungkapkan bahwa Suluk Bumi Santri merupakan upaya menghidupkan kembali seni budaya yang ada di Kabupaten Pekalongan. “Mocopat adalah karya seni Jawa yang agung diciptakan oleh para wali di maksudkan untuk mengiringi jalan kehidupan manusia yang berisikan 11 nilai kehidupan serta mengajarkan kepada kita bahwa hidup harus harmoni saling bantu membantu serta tidak egois.” Ujarnya.

Acara dengan tema Peran Pemerintah dan Masyarakat dalam Melestarikan Seni Budaya tersebut, dihadiri oleh anggota DPRD Kabupaten Pekalongan asal Lebakbarang  Endang, Kepala DPU Taru Wahyu Kuncoro, Ketua DKD Kabupaten Pekalongan Djoko, Ketua LESBUMI PCNU Kabupaten Pekalongan Gus Eko Ahmadi.

Dalam acara yang dikemas dialog interaktif, Lazisnu Kabupaten Pekalongan menyerahkan bantuan perlengkapan sekolah kepada 12 siswa-siswi SD asal Lebakbarang. Disamping itu, Bupati Pekalongan juga memberikan beasiswa bagi 1 siswa SMA dan kepada 5 mahasiswa. (WD)

selengkapnya
Seni Budaya

Tersempet kereta, IRT asal Pelutan meninggal

terserempet kereta

Pemalang, Wartadesa. – SL, seorang ibu rumah tangga (IRT) asal Kelurahan Pelutan, Kecamatan/Kabupaten Pemalang meninggal setelah mengalami nasib naas, terserempet kereta barang jurusan Surabaya-Tanjungpriok, Jakarta di jalur rel kereta KM 120+8 Dukuh Pekunden, Kelurahan Pelutan.

Korban meninggal di tempat kejadian perkara (TKP) Senin (14/01). Saksi mata, Ganis Dwi Purwanto yang bertugas di stasiun KAI Pemalang menuturkan bahwa dia mendapat telepon dari masinis kereta yang menyadari telah menyerempet perempuan di Dukuh Pekunden, Pelutan.

“Setelah menerima telepon, saya menghubungi Polsek Pemalang Kota untuk melakukan pengecekan di TKP, ternyata benar di lokasi terdapat seorang korban dalam keadaan meninggal dunia” ujar Ganis.

Petugas kepolisian sektor Pemalang yang datang kemudian mengevakuasi korban ke RSUD dr. M. Ashari Pemalang untuk dilakukan pemeriksaan medis.

“Setelah melakukan pengecekan TKP, korban dibawa ke RSUD dr. M Ashari Pemalang untuk dilakukan pemeriksaan medis.” tutur Kapolsek Pemalang Kota AKP I Ketut Mara.

Mara melanjutkan, tidak ada tanda-tanda penganiayaan pada tubuh korban, kejadian tersebut merupakan murni kecelakaan. “Setelah dilakukan pemeriksaan oleh dr. Yossi Bracthin dan mantri kesehatan, tidak ditemukan adanya tanda-tanda penganiayaan pada korban, selanjutnya korban diserahkan kepada Pihak Keluarga untuk dimakamkan” jelas Kapolsek. (Humas Polres Pemalang)


selengkapnya
HiburanSeni BudayaSosial BudayaTekno

Salurkan bakat pemuda kampung, Karangtaruna bikin radio komunitas

bara fm

Pemalang, Wartadesa. – Malam ini, Rabu (05/12), Warta Desa menyambangi radio komunitas Bara FM di Desa ketapang, Kecamatan Ulujami, Kabupaten Pemalang, untuk melepas penat sembari mencari inspirasi malam, selepas kativitas sehari-hari yang melelahkan.

Dalam sebuah ruangan yang disulap sebagai studio radio, Warta Desa bertemu dengan anggota Karangtaruna Bakhti Mulya Desa Ketapang. Sembari menikmati alunan musik karya pemuda setempat. Musik Indie, mereka menyebutnya.

Karangtaruna Bakhti Mulya dengan motto “Berkarya tanpa batas” ini mewujudkan siaran radio komunitas sejak 2013 lalu. Siaran radio yang bisa dinikmati warga seputaran Kecamatan Comal, dan Ulujami ini menjadi wadah silaturahmi pemuda Desa Ketapang dan sekitarnya.

Sebagai wadah kreatifitas warga, siaran radio komunitas Bara FM menayangkan karya pemuda Ketapang dan sekitarnya, berupa karya-karya musik ciptaan warga setempat (musik indie), menampung dan menyuarakan aspirasi warga setempat. Beberapa ajang pencari bakat warga seperti lomba karaoke digelar menjadi agenda tahunan setiap bulan Agustus. Demikian informasi yang kami dapatkan saat ngobrol-ngobrol dengan penggiatnya.

Menurut Samsudin(36), Ketua Karangtaruna Bakhti Mulya, dia berharap  dengan hadirnya radio komunitas Bara FM yang merupakan kreatifitas pemuda Desa Ketapang mendapat perhatian dari Pemerintah Kabupaten Pemalang untuk mendukung program dan agenda kegiatan mereka.

Hal senada juga disampaikan Taufik (30), tokoh pemuda setempat, dia  berharap, kedepan Bara FM bisa lebih maju dan berjaya di udara, tidak kalah dengan radio siaran swasta lainnya.  Taufik juga minta dukungan warga untuk selalu mendukung karya anak desa mereka.

Sementara, salah seorang pendengar setia yang ikut nimbrung dalam obrolan kami, Kardiman, mengungkapkan bahwa kehadiran Bara FM ini sangat membantu warga dalam menyampaikan informasi lokal yang penting bagi warga sekitar. Selain sebagai sarana hiburan warga saat sedang bekerja, terlebih saat bulan Ramadhan tiba. Tuturnya. Bara FM menjadi rujukan utama warga untuk mengetahui waktu imsak dan berbuka. Pungkasnya. (Eky Diantara)

selengkapnya
Seni BudayaTekno

Suka duka KLJI Pekalongan: Rame di media sosial, pas acara hanya segelintir

m benbella

Pekalongan Kota, Wartadesa. – Suka dan duka berkecimpung dalam aktivitas komunitas Kamera Lubang Jarum Indonesia (KLJI) Pekalongan sudah dialami oleh pria bernama Muhammad Benbella, warga Gapuro Batang yang kini bermukim di Simbangkulon, Buaran, Kota Pekalongan ini berbagi cerita dalam helatan Ngobrol karo Ngopi, Komunitas Cerito Wong Pekalongan di Alesscow Coffe, Sabtu (20/10).

“Selama ini kami kadang diundang untuk kegiatan workshop kamera lubang jarum, kadang juga menggelar sendiri workshop. Saat pengumuman workshop di media sosial …  responnya rame … begitu acara … yang datang sedikit … yang datang merupakan wong edan itu … yang benar-benar ingin mengetahui kamera lubang jarum,” tuturnya saat diskusi berlangsung.

Menurut Muhammad Benbella, KLJI Pekalongan belum banyak didengar oleh warga Pekalongan dan sekitarnya. Komunitas ini menggunakan barang bekas untuk dimanfaatkan menjadi kamera analog. “Fotografi … teknik memotretnya berawal dari lubang jarum. Biasanya memakai kaleng bekas … kaleng rokok, diberi lubang sebesar lubang jarum … didalamnya diberi kertas foto negatif yang peka cahaya. Fotografer yang memulai dari foto analog akan lebih mengenal teknik lubang jarum yang masih manual dan memakai larutan kimia untuk mencuci foto.” Ujarnya.

Kesulitan utama yang dihadapi oleh komunitas ini adalah tidak tersedianya bahan-bahan untuk mengekspresikan hobi mereka di Pekalongan. “Untuk mendaptkan kertas dan larutan kimia agak susah … karena harus didapatkan di Jakarta. Komonitas KLJI yang banyak menyediakan untuk anggota KLJI Pekalongan, karena  di Pekalongan sudah tidak ada.” Lanjutnya.

Komunitas yang acapkali berkumpul di Perumahan Limas Krapyak Pekalongan, rumah pendiri KLJI Pekalongan ini merupakan kumpulan “orang-orang gila” menurut Benbella. “komunitas sering berkumpul di Perumahan Limas Krapyak, Pekalongan. Penggiatnya yang gila hanya empat orang …. wong edan kabeh … yang merupakan penggila kamera lubang jarum,” tuturnya.

Hingga saat ini, komunitas KLJI Pekalongan belum mendapat perhatian secara langsung dari pemerintah setempat.  “Dukungn pemerintah hingga saat ini baru dukungan tidak langsung …. dari event orgaizer  yang kenal dengan KLJI Pekalongan … memberi kesempatan komunitas ini untuk memperkenlakan kepada warga … Belum ada dukungan dalam bentuk materi dari pemerintah,” lanjutnya.

Keunikan dari kamera lubang jarum ini mengutamakan proses, “fotografi ini mengutamakan proses … bagaimana kita mengetahui untuk mendapatkan gambar/foto .. prosesnya panjang … berbeda dengan kamera digital … yang tinggal klik langsung jadi.  Semua pakai kira-kira … waktu pemotreatannya kira -kira … gambanya jadinya seperti apa ya juga kira kira … semua pake hati …. Inilah yang membuat menarik anggota komunitas ‘menggilai’ aktivitas memotret dengan kamera lubang jarum,” Tutur Benbella.

Selain itu, lanjut Benbella, kamera lubang jarum ini prinsipnya membuat, bukan membeli, “Bikin sendiri dari kardus, kotak kayu … intinya (barang bekas yang) kedap cahaya ….kaleng rokok dipilih karena pengadaan lebih praktis …  meski beberapa bahan lainnya masih harus membeli, seperti larutan kimia dan kertas cetaknya,” Pungkasnya. (WD)

selengkapnya