close

Seni Budaya

PendidikanSeni Budaya

Hujan Deras Tak Surutkan Antusiasme Warga Saksikan Aksi Dalang Cilik di Malam 10 Suro

IMG-20260626-WA0096

PEKALONGAN,WARTADESA. – Kemeriahan malam 10 Suro (10 Muharam) di Aula Masjid Hj. Mutimah Dahlan, Doro, berlangsung semarak meski diguyur hujan deras. Antusiasme warga dan para Pimpinan Cabang Muhammadiyah (PCM) Doro tetap tinggi untuk menyaksikan pagelaran wayang kulit unik yang menampilkan dalang cilik berbakat, Naufal Absana Putra.

​Naufal, yang saat ini masih duduk di bangku kelas 4 SD Muhammadiyah Wonosari, ternyata mewarisi darah seni dari Boyolali melalui ibunya. Ia juga merupakan saudara sepupu dari dalang kondang asal Boyolali, Ki Joko Sunarno dan Ki Anggoro Dwi Sadono.

​Pesan Mendalam KH Salim Jufri: Seni yang Membangkitkan Tauhid

​Acara ini turut dihadiri oleh tokoh agama terkemuka, KH Salim Jufri. Dalam sambutannya, beliau memberikan apresiasi yang luar biasa kepada Naufal dengan menghadiahkan sebuah buku panduan pewayangan yang Islami sebagai kenang-kenangan.

​KH Salim Jufri juga menyampaikan pesan mendalam mengenai kedudukan seni dalam Islam:

​”Seni adalah fitrah. Islam tidak bertentangan dengan seni, akan tetapi seni harus membangkitkan ketauhidan. Saya berpesan kepada Nak Naufal, apabila nanti menjadi dalang profesional, jadilah dalang yang islami seperti almarhum Ki Kentus yang selalu mengangkat Islam. Dan yang paling utama, jaga sholat, jadilah seniman yang tidak meninggalkan sholat,” tegasnya.

​Ulasan Singkat Lakon: Gatotkaca Jedhi

​Dalam pagelaran malam itu, Naufal membawakan lakon “Gatotkaca Jedhi” (Gatotkaca Lahir/Wisuda).

Lakon ini mengisahkan tentang masa kecil Gatotkaca (saat masih bernama Jabang Tetuka) yang memiliki kesaktian luar biasa sejak lahir, bahkan tali pusarnya hanya bisa dipotong menggunakan sarung senjata Kontawijayadanu. Ketika Khayangan diserang oleh patih raksasa Sekipu dari Kerajaan Trabelasuket, para dewa meminta bantuan Jabang Tetuka.

Bayi Tetuka kemudian diceburkan (di-jedhi) ke dalam Kawah Candradimuka bersama berbagai senjata pusaka para dewa. Bukannya hancur, ia justru tumbuh seketika menjadi ksatria dewasa yang perkasa dengan otot kawat tulang besi, lalu berhasil mengalahkan musuh khayangan.

Lakon ini menjadi simbol proses penempaan diri yang berat (kawah candradimuka) bagi seorang manusia untuk mencapai kedewasaan, kekuatan spiritual, dan mental yang kokoh agar siap menjadi pahlawan serta pelindung kebenaran. (Isa Anshori)

Terkait
Agak risih sih dengernya, tapi ….

Wonopringgo, Wartadesa. - Agak risih juga sih dengernya, disebutin organ reproduksi, trus masa-masa remaja ... kadang mimpi basah, tapi karena Read more

Warga sambut baik kegiatan praktik manasik haji SMPN 01 Pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. - Tidak kurang 600 peserta praktik manasik haji memadati komplek Islamic Centre Kota Pekalongan, Kompleks Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an, Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Pensiunan guru diduga jadi korban pembunuhan

Kesesi, Wartadesa. - Sumarti  (60), pensiunan guru yang tinggal di desa Sidosari rt 04/02 Kec. Kesesi Kab. Pekalongan, diduga menjadi korban Read more

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

Pukau Penonton, Dalang Cilik Noval Waryono Tutup Pentas Ceria SD Muhammadiyah Wonosari dengan Gemilang

template berita foto warta desa_20260617_181115_0000

PEKALONGAN – Suara sabetan wayang dan alunan narasi khas pewayangan bergema dinamis di sela-sela riuh tepuk tangan penonton. Penampilan memukau dari seorang dalang cilik, Noval Waryono, sukses menjadi bintang utama sekaligus penutup yang manis dalam acara “Pentas Ceria” yang digelar hari ini, Rabu (17/06/2026).

​Siswa kelas 4 tersebut berhasil menyihir seluruh hadirin lewat kelincahan jemarinya memainkan tokoh-tokoh wayang. Penampilan inspiratif Noval tidak hanya menjadi hiburan, tetapi juga simbol luhurnya pelestarian budaya yang berhasil ditanamkan sejak dini di lingkungan sekolah.

​Pelepasan Siswa yang Penuh Makna

​Acara Pentas Ceria ini diselenggarakan oleh SD Muhammadiyah Wonosari Doro dalam rangka pelepasan siswa-siswi kelas 6. Sejak pagi, atmosfer hangat dan haru sudah terasa. Acara dibuka dengan khidmat lewat penampilan doa harian yang dibawakan secara serempak oleh siswa-siswi kelas 1.

​Kepala Sekolah SD Muhammadiyah Wonosari, Abdul Sukur, dalam sambutannya menyampaikan rasa terima kasih yang mendalam kepada para wali murid yang telah memercayakan pendidikan anak-anak mereka di sekolah ini. Beliau juga menitipkan pesan mendalam untuk para lulusan.

​”Lanjutkan belajar ke jenjang yang lebih tinggi. Tetap teruskan kebiasaan-kebiasaan baik yang sudah dipelajari dan dipraktikkan selama belajar di sekolah ini,” pesan Abdul Sukur kepada para siswa.

​Apresiasi Wali Murid dan Ragam Bakat Siswa

​Ungkapan emosional juga datang dari perwakilan wali murid, Imam Setianto. Ia menyampaikan apresiasi tertinggi kepada para guru yang telah mendidik anak-anak dengan penuh kesabaran.

​Ia juga menyemangati para siswa agar terus mengejar cita-cita sembari menjaga nama baik almamater. “Tunjukkan prestasi dan jagalah nama baik sekolah dengan selalu berperilaku baik di mana pun kalian berada,” ujarnya.

​Sebelum penampilan dalang cilik yang memukau di akhir acara, panggung Pentas Ceria terlebih dahulu diwarnai oleh berbagai aksi kreatif siswa lainnya. Di antaranya adalah penampilan drama edukatif dari kelas 3 yang mengusung tema pentingnya mengoptimalkan waktu, serta lantunan suara merdu dari siswa kelas 4 yang membawakan lagu When the Children Cry secara solo.

​Pentas seni ini menjadi bukti nyata bahwa SD Muhammadiyah Wonosari Doro tidak hanya fokus pada pendidikan akademik, tetapi juga menjadi wadah subur bagi tumbuhnya bakat, kreativitas, dan karakter mulia generasi muda. (Fahrudin

Terkait
Agak risih sih dengernya, tapi ….

Wonopringgo, Wartadesa. - Agak risih juga sih dengernya, disebutin organ reproduksi, trus masa-masa remaja ... kadang mimpi basah, tapi karena Read more

Warga sambut baik kegiatan praktik manasik haji SMPN 01 Pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. - Tidak kurang 600 peserta praktik manasik haji memadati komplek Islamic Centre Kota Pekalongan, Kompleks Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an, Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Pensiunan guru diduga jadi korban pembunuhan

Kesesi, Wartadesa. - Sumarti  (60), pensiunan guru yang tinggal di desa Sidosari rt 04/02 Kec. Kesesi Kab. Pekalongan, diduga menjadi korban Read more

selengkapnya
Hukum & KriminalSeni Budaya

Laporan Khusus Menjual Sejarah, Menuai Masalah: Karut-Marut Salah Urus Eks Pendopo Bupati Pekalongan

template berita foto warta desa

KOTA PEKALONGAN, Warta Desa – Eks Pendopo Bupati Pekalongan yang berdiri kokoh di selatan Alun-Alun Kota Pekalongan bukan sekadar susunan bata, kayu, dan pilar kuno. Bagi masyarakat lintas generasi, kompleks cagar budaya tersebut adalah jangkar ingatan kolektif, sebuah simbol sejarah kebudayaan sekaligus saksi bisu pasang surutnya kekuasaan di ranah penopang Pantura.

Namun hari ini, wajah situs bersejarah tersebut justru muram. Alih-alih dirawat dengan kesucian nilai historisnya, kompleks cagar budaya ini justru terjerat dalam lingkaran karut-marut tata kelola komersial. Jeritan para pemborong lokal yang hak pembayarannya mandek, ditambah temuan bahwa pihak pengelola baru menyetor sebagian kecil dari nilai kontrak sewa aset daerah, menjadi potret buram bahwa situs warisan rakyat ini sedang salah urus.

Modus Komersialisasi: Prosedur Tabrak Aturan demi Lapak Komersial?

Secara regulasi, Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 tentang Cagar Budaya serta Perda Cagar Budaya Kabupaten Pekalongan yang disahkan Mei 2026, memang tidak mengharamkan pemanfaatan adaptif untuk sektor ekonomi kreatif. Namun, aturan tersebut memberikan pagar pembatas yang sangat rigid: wajib menjunjung tinggi nilai keaslian, menjaga zonasi tata ruang historis, tidak merusak estetika jarak pandang (visual disruption), serta wajib melalui konsultasi publik dan kajian Tim Ahli Cagar Budaya (TACB).

Kritik tajam dari berbagai elemen budayawan dan aktivis lokal membuktikan bahwa proyek wisata kuliner di eks pendopo ini melompati tahapan etis tersebut.

“Publik berhak tahu bagaimana proses penunjukan dilakukan, apakah melalui mekanisme terbuka atau hanya penunjukan langsung,” ujar salah satu pemerhati kebijakan di Pekalongan.

Minmnya transparansi sejak awal perencanaan hingga ketiadaan public hearing (dengar pendapat publik) membuat proyek ini terkesan dipaksakan demi mengejar target pendapatan semata. Arah angin kekuasaan rupanya berhembus mengabaikan suara parlemen; Ketua DPRD Kabupaten Pekalongan sebelumnya dengan tegas menyatakan ketidaksetujuannya jika eks pendopo diubah menjadi area bisnis, dan mendesak tempat tersebut dijadikan Museum Daerah sebagai ruang edukasi publik gratis.

Terkuak Sosok Iwan Babeh: “Orang Kuat” di Balik CV Pendopo

Berdasarkan dokumen perjanjian sewa-menyewa lahan dan bangunan bekas Pendopo Nusantara yang tersebar ke publik, misteri siapa pengelola “istimewa” ini akhirnya terkuak. Kontrak tersebut ditandatangani oleh Sekda Kabupaten Pekalongan, Yulian Akbar, dengan pengusaha muda asal Kecamatan Kesesi: Iwan Setiawan, atau yang lebih akrab disapa Iwan Babeh.

Aktivis Kabupaten Pekalongan, Mustofa, mengungkapkan bahwa Iwan Babeh bukanlah nama asing. Ia dikenal sebagai sosok berpengaruh di kalangan kontraktor lokal dan disebut-sebut sebagai salah satu orang kepercayaan Bupati Nonaktif Pekalongan, Fadia Arafiq.

Profil Pengelola Berdasarkan Dokumen Perjanjian:
• Nama Pihak Ketiga : Iwan Setiawan (Iwan Babeh) / CV. Pendopo
• Penandatangan Kontrak Pemkab : Sekda Kabupaten Pekalongan, Yulian Akbar
• Status Proyek : Pendopo Trade Center / Pusat Kuliner & UMKM

Sejak tahun 2021, di tengah lesunya kondisi usaha rekanan pemerintah di Pekalongan, bisnis Iwan Babeh justru meroket. Ia menjadi langganan pemenang tender pengadaan barang dan jasa serta proyek konstruksi strategis daerah. Jaringan lobinya disinyalir sangat kuat, menjangkau lingkaran birokrasi hingga jajaran Aparat Penegak Hukum (APH).

Kehebatan jaringan ini kian memicu tanda tanya publik. Meskipun KPK saat ini telah menahan Bupati Nonaktif Fadia Arafiq beserta sejumlah pejabat dan pengusaha atas dugaan rasuah pengadaan barang dan jasa, nama Iwan Babeh sejauh ini tetap melenggang aman tak tersentuh hukum.

Menimbang Dua Sisi: Antara PAD dan Realita Wanprestasi

Demi menjaga keadilan informasi, pemerintah daerah kerap beralasan bahwa perawatan gedung cagar budaya membutuhkan biaya besar. Membuka pintu bagi investasi pihak ketiga untuk mengelola kawasan kuliner dipandang sebagai jalan pintas yang rasional demi mendongkrak Pendapatan Asli Daerah (PAD) dan menghidupkan kawasan agar tidak menjadi “gedung hantu”. Pihak pengelola pun barangkali memiliki visi untuk menata UMKM agar lebih terpusat dan rapi di sekitar Alun-Alun.

Namun, argumen peningkatan ekonomi ini seketika gugur dan kehilangan legitimasi moralnya di lapangan:

  1. Hak Buruh Terabaikan: Muncul jeritan dari para pekerja dan subkontraktor/pemborong lokal yang hak-hak materil pembayarannya mandek ditunggak pengelola.

  2. Setoran Macet: Pihak pengelola dilaporkan baru menyetor sebagian kecil dari nilai kontrak sewa yang seharusnya masuk ke kas daerah.

Ketika modal besar diberi karpet merah namun berujung pada kemacetan finansial yang merugikan buruh lokal, maka esensi dari “pemberdayaan ekonomi” itu sendiri patut dipertanyakan.

Jadi Temuan BPK, Pemkab Pekalongan Evaluasi Total

Merespons kegaduhan yang terus menggelinding, Plt Bupati Pekalongan, Sukirman, akhirnya angkat bicara. Pemerintah Daerah secara resmi mengakui bahwa proyek pemanfaatan Pendopo Nusantara ini kini resmi menjadi temuan kedeputian Badan Pemeriksa Keuangan (BPK) terkait ketidakberesan administratif dan finansial dari pihak pengelola.

Guna menyelamatkan aset daerah dan mencegah kerugian negara yang lebih besar, Pemkab Pekalongan saat ini menegaskan tengah melakukan evaluasi total terhadap kelayakan kontrak kerja sama dengan CV Pendopo.

Suara Akar Rumput: Kembalikan Hak Publik!

Bagi media komunitas warga seperti Warta Desa, polemik eks pendopo ini bukan sekadar urusan angka-angka kontrak sewa yang belum lunas, bukan pula sekadar urusan sengketa antara pengusaha dan birokrat. Ini adalah urusan hak publik atas ruang sejarah mereka yang telah dirampas secara fungsional.

Warga Pekalongan tidak butuh penambahan lapak komersial berantakan yang justru menenggelamkan keagungan visual bangunan pendopo bersejarah. Warga butuh ruang publik yang bermartabat, tempat di mana identitas kolektif dirawat, dan warisan leluhur dihormati.

Dengan status bupati nonaktif yang kini tengah berhadapan dengan hukum di gedung KPK, momentum ini sudah sepatutnya dijadikan titik balik bagi jajaran pemangku kebijakan yang tersisa di Pemkab Pekalongan untuk memutus kontrak kerja sama eks pendopo tersebut.

Sudah saatnya menghentikan salah urus yang memalukan ini. Kembalikan eks Pendopo Bupati Pekalongan ke marwahnya yang asli: sebagai ruang publik budaya atau museum rakyat. Karena pada akhirnya, cagar budaya adalah milik sejarah dan rakyat, bukan milik pemodal, apalagi komoditas politik yang bisa digadaikan kepentingannya. (Redaksi)

Terkait
GP Ansor Kab. Pekalongan serukan warga tak ikut demo

GP Ansor Kab. Pekalongan menghimbau agar warga NU Kab. Pekalongan tidak ikut-ikutan melakukan aksi demo ke Jakarta tanggal 4 Nopember Read more

Operasi Zebra akan digelar serentak November ini

Pekalongan, Wartadesa. - Seluruh jajaran Polsek, Polres dan Polda di Indonesia akan menggelar operasi zebra, terhitung mulai tanggal 16 hingga Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Mayat ditemukan di Ponolawen Kesesi

Kesesi, Wartadesa. - Sesosok mayat ditemukan di Desa Ponolawen Kecamatan Kesesi Kabupaten Pekalongan pagi tadi, Selasa (8/11). Korban ditemukan subuh, Read more

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

Milad ke-7 UMPP: Tak Hanya Mahir Mengajar, Dosen dan Tendik Unjuk Gigi di Lomba Vokal

template berita foto warta desa(4)

PEKALONGAN, WARTA DESA – Kemeriahan Milad ke-7 Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) tidak hanya milik mahasiswa. Kali ini, giliran para dosen dan tenaga kependidikan (tendik) yang mencuri perhatian melalui ajang Lomba Vokal yang digelar sebagai bagian dari rangkaian perayaan hari jadi kampus, pekan ini.

Mengusung semangat “Berdampak Berkemajuan”, perlombaan ini menjadi wadah bagi para pendidik dan staf untuk melepaskan penat sejenak dari rutinitas akademik. Suasana formal kampus berubah menjadi panggung penuh kreativitas dan kehangatan kekeluargaan.

Ajang Unjuk Bakat dan Penghayatan Penampilan para peserta sukses memukau penonton dan dewan juri. Penilaian tidak hanya menitikberatkan pada teknik vokal semata, tetapi juga penghayatan lagu, penguasaan panggung, hingga kemampuan berinteraksi dengan audiens yang didominasi oleh rekan sejawat dan mahasiswa mereka sendiri.

Sorak sorai dan tepuk tangan meriah mengiringi setiap peserta, menciptakan atmosfer yang cair dan penuh apresiasi. Hal ini membuktikan bahwa civitas akademika UMPP memiliki potensi seni yang tidak kalah mumpuni di samping prestasi akademik mereka.

Daftar Juara Lomba Vokal Setelah melalui proses penilaian yang cukup ketat, dewan juri akhirnya menetapkan para pemenang Lomba Vokal Dosen & Tendik Milad UMPP ke-7 sebagai berikut:

  • Juara 1: Benny Arief Sulistyanto (Dosen Prodi S1 Keperawatan)

  • Juara 2: Eko Arifianto (Tendik Dekanat FIKes)

  • Juara 3: Dafid Arifiyanto (Dosen Prodi S1 Keperawatan)

Mempererat Tali Silaturahmi Keberhasilan para pemenang disambut gembira oleh seluruh warga kampus. Lebih dari sekadar kompetisi, ajang ini diharapkan mampu memperkuat tali silaturahmi dan meningkatkan semangat kolaborasi antarunit di lingkungan UMPP.

“Kegiatan ini menunjukkan komitmen UMPP untuk membangun lingkungan kampus yang seimbang. Kita tidak hanya mengejar keunggulan pendidikan, tetapi juga memberikan ruang bagi pengembangan bakat dan kreativitas seluruh elemen civitas akademika,” ungkap salah satu panitia di sela acara.

Melalui perayaan Milad ke-7 ini, UMPP semakin menegaskan jati dirinya sebagai kampus yang aktif, kreatif, dan menjunjung tinggi nilai-nilai kebersamaan dalam setiap langkah menuju kemajuan. (.*.)

Terkait
Agak risih sih dengernya, tapi ….

Wonopringgo, Wartadesa. - Agak risih juga sih dengernya, disebutin organ reproduksi, trus masa-masa remaja ... kadang mimpi basah, tapi karena Read more

Warga sambut baik kegiatan praktik manasik haji SMPN 01 Pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. - Tidak kurang 600 peserta praktik manasik haji memadati komplek Islamic Centre Kota Pekalongan, Kompleks Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an, Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Pensiunan guru diduga jadi korban pembunuhan

Kesesi, Wartadesa. - Sumarti  (60), pensiunan guru yang tinggal di desa Sidosari rt 04/02 Kec. Kesesi Kab. Pekalongan, diduga menjadi korban Read more

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

Promosi Sekolah Lewat Kreativitas, SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan Gelar Islamic Festival Smuhi 2026

template berita foto warta desa

PEKALONGAN, WARTA DESA – SMA Muhammadiyah 1 (Smuhi) Pekajangan kembali menghidupkan suasana kompetisi dan silaturahmi pelajar melalui perhelatan Islamic Festival Smuhi 2026. Acara tahunan yang berlangsung pada Kamis (7/5/2026) ini menjadi magnet bagi pelajar SMP/MTs se-Pekalongan Raya, meliputi wilayah Kabupaten Pekalongan, Kota Pekalongan, hingga Kabupaten Batang.

Selain menjadi ajang silaturahmi, festival ini merupakan bagian dari strategi syiar dan promosi Sosialisasi Penerimaan Mahasiswa Baru (SPMB) Smuhi untuk mengenalkan lingkungan sekolah kepada calon siswa potensial.

Acara dibuka langsung oleh Kepala Sekolah SMA Muhammadiyah 1 Pekajangan, Amilah. Dalam sambutannya, ia menyampaikan apresiasi tinggi kepada ranting Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM) Smuhi yang menjadi motor utama di balik kemeriahan acara tersebut.

“Saya sangat berterima kasih kepada anak-anak IPM. Acara sebesar dan semeriah ini diselenggarakan sepenuhnya oleh mereka. Ini adalah proses belajar menjadi CEO di masa depan. Sekali lagi, IPM Jaya!” ujar Amilah dengan bangga.

Ia menambahkan bahwa Islamic Festival tahun ini merupakan gelaran ketiga dan diklaim sebagai yang paling meriah dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Hal ini terlihat dari adanya bazar yang turut meramaikan lokasi acara. Amilah berkomitmen bahwa pihak sekolah akan memberikan dukungan lebih besar di tahun mendatang agar acara ini terus berkembang.

Pembukaan ditutup dengan doa yang dipimpin oleh Wakil Kepala Sekolah bidang Humas dan Keislaman,  Pasrum Affandi.

Di sela-sela kegiatan, Ketua IPM Smuhi didampingi Ketua Panitia, Ipmawan Busan dan Ipmawan M. Lutfi, menjelaskan bahwa festival tahun ini tidak hanya berisi kompetisi.

“Selain berbagai lomba, kami juga mengadakan talk show bersama Immatulfathina Purifiedriyaningrum, diangkat sangat relevan, yakni ‘Meningkatkan Kesadaran Positif Remaja di Era Digital’,” jelas mereka.

Acara yang berlangsung khidmat dan meriah ini diakhiri dengan prosesi pembagian piala kejuaraan serta sertifikat kepada para pemenang lomba yang telah berkompetisi membawa nama baik sekolah masing-masing. (Kontributor: Toir)

Terkait
Gerimis warnai bukaan Gembiro

Ngiyup. Warga yang memadati bukaan bendung Gembiro terlihat berteduh karena gerimis. (1/11). Foto: Eva Abdullah Ajis/wartadesa Read more

Kebakaran di Binagriya hanguskan rumah

Pekalongan Barat, Wartadesa. -Rumah Rofi yang berada di Jalan Pesona Raya No. 510-511 komplek perumahan Bina Griya, Pekalongan Barat, hangus Read more

Agak risih sih dengernya, tapi ….

Wonopringgo, Wartadesa. - Agak risih juga sih dengernya, disebutin organ reproduksi, trus masa-masa remaja ... kadang mimpi basah, tapi karena Read more

Warga sambut baik kegiatan praktik manasik haji SMPN 01 Pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. - Tidak kurang 600 peserta praktik manasik haji memadati komplek Islamic Centre Kota Pekalongan, Kompleks Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an, Read more

selengkapnya
Berita DesaSeni Budaya

Wujud Syukur, Warga Botosari Gelar Ruwat Bumi dengan Lakon “Wahyu Purbo Sejati”

template berita foto warta desa

PEKALONGAN, WARTADESA. – Suasana khidmat menyelimuti Dukuh Gunung Surat, Desa Botosari, Kecamatan Paninggaran, Kabupaten Pekalongan pada Minggu (26/04/2026). Ratusan warga berkumpul untuk melaksanakan tradisi tahunan Ruwat Bumi atau Sedekah Bumi sebagai bentuk rasa syukur atas hasil pertanian yang melimpah.

Ritual Doa dan Harapan Keberkahan

Tradisi ini digelar bukan sekadar rutinitas, melainkan sebuah doa bersama agar warga setempat senantiasa mendapatkan berkah dari apa yang mereka tanam. Warga berharap tanah yang mereka olah tetap subur dan dijauhkan dari segala marabahaya serta hama tanaman.

Kemeriahan Wayang Kulit Semalam Suntuk

Puncak acara Ruwat Bumi tahun ini dimeriahkan dengan pertunjukan wayang kulit yang berlangsung selama satu hari satu malam. Menampilkan dalang Joko Setyo Pranolo, pertunjukan ini membawakan lakon “Wahyu Purbo Sejati”. Lakon tersebut dipilih karena mengandung filosofi mendalam tentang asal-usul kehidupan dan keseimbangan alam, yang sangat relevan dengan semangat pelestarian lingkungan di Botosari.Pesan Kepala Desa: Jaga Kerukunan dan Lingkungan

Dalam sambutannya, Kepala Desa Botosari, Karyono, menyampaikan apresiasi yang tinggi atas antusiasme warga dalam menjaga kearifan lokal ini. Beliau menekankan pentingnya menjaga nilai-nilai sosial di tengah masyarakat.

“Saya berharap melalui momentum Ruwat Bumi ini, masyarakat Desa Botosari selalu guyup rukun, kompak dalam bergotong royong, serta memiliki kesadaran tinggi untuk saling menjaga lingkungan sekitar,” ujar Karyono.

Acara yang berlangsung tertib dan meriah ini ditutup dengan doa bersama, mempertegas komitmen warga Dukuh Gunung Surat untuk terus melestarikan warisan leluhur demi keharmonisan antara manusia dan alam.

Laporan: RIDWAN

Terkait
Ketua Umum PBNU, Said Aqil Siradj batal hadir di haul Wali Tanduran

Paninggaran, Wartadesa. - Ketua Umum Pengurus Besar Nahdlatul Ulama (PBNU), Said Aqil Siradj batal menghadiri haul Wali Tanduran di Paninggaran, Read more

Ribuan warga terlibat dalam Sekantenan

Bojong, Wartadesa. - Ribuan warga Desa Ketitanglor Kecamatan Bojong Kabupaten Pekalongan, Jum'at (18/08) mengadakan agenda Tahunan Kirab Tumpeng 'Sekantetan'. Kkegiatan Read more

Peserta khitanan masal nangis, peserta lainnya jadi heboh

Kedungwuni, Wartadesa. - Gelaran rangkaian peringatan Legenonan, tradisi warga turun-temurun di Pekalongan yang masih lestari, di Desa Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni, Read more

Ribuan santri dan walisantri meriahkan Panggung Gembira IMBS Miftakhul Ulum Pekajangan

Kedungwuni, Wartadesa. - Ribuan walisantri dan santri Pondok Pesanten International Muhammadiyah Boarding School (IMBS) Miftakhul Ulum Pekajangan di Desa Ambokembang Read more

selengkapnya
OlahragaPendidikanSeni Budaya

MI Salafiyah Sidorejo Gelar PORSENI dalam Rangka Harlah NU dan Hari Lahir Madrasah

template berita foto warta desa (1)

Warta Desa, Batang – MI Salafiyah Sidorejo Kecamatan Warungasem Kabupaten Batang menyemarakkan peringatan Hari Lahir Nahdlatul Ulama sekaligus Hari Lahir Madrasah dengan menggelar Pekan Olahraga dan Seni yang berlangsung selama dua hari mulai Jumat hingga Sabtu Sabtu (30-31/01/2026).. Bertempat di lingkungan madrasah dan TPQ Salafiyah nol satu Sidorejo, kegiatan ini mengusung tema besar mengenai upaya bersama meraih prestasi dan bersatu dalam kreasi yang diikuti oleh seluruh siswa dengan penuh antusias.

Acara dibuka secara resmi oleh Ketua PAC Pergunu Warungasem sekaligus Kepala MI Salafiyah Sidorejo bernama Fatkhuddin yang menekankan bahwa kegiatan ini bukan sekadar mengejar prestasi akademik namun lebih pada pembentukan karakter peserta didik. Ketua Panitia Muhammad Zamzami menjelaskan bahwa pelaksanaan ajang ini merupakan bagian dari program pembinaan untuk menggali potensi siswa di bidang non-akademik serta menumbuhkan semangat sportivitas, kreativitas, dan kedisiplinan sejak usia dini agar mereka mampu berkompetisi secara sehat dengan menjunjung tinggi nilai kejujuran.

Berbagai cabang lomba menarik dipertandingkan dalam kegiatan ini mulai dari bidang olahraga seperti lari enam puluh meter, lari jarak jauh, lompat tinggi, lompat jauh, bulu tangkis, tolak peluru, catur, hingga bola voli. Sementara untuk bidang seni para siswa saling unjuk gigi dalam lomba pidato empat bahasa, pembacaan puisi, pembuatan kaligrafi, dan seni kolase yang mengasah kreativitas mereka. Semangat berkompetisi dirasakan langsung oleh salah satu siswa bernama Adi Pindan Baskoro yang mengaku sangat senang karena mendapatkan pengalaman berharga dan kesempatan berinteraksi lebih erat dengan teman-temannya.

Melalui penyelenggaraan pekan olahraga dan seni ini pihak madrasah berharap dapat terus memupuk budaya berprestasi dan menguatkan posisi lembaga pendidikan sebagai wadah pengembangan minat dan bakat yang komprehensif. Upaya ini diharapkan mampu memberikan dampak jangka panjang bagi siswa dalam membentuk mental yang kuat dan mempererat semangat kebersamaan di lingkungan pendidikan madrasah Kabupaten Batang. ***

Pewarta: M. Najmul Ula

Editor: Buono

Terkait
Agak risih sih dengernya, tapi ….

Wonopringgo, Wartadesa. - Agak risih juga sih dengernya, disebutin organ reproduksi, trus masa-masa remaja ... kadang mimpi basah, tapi karena Read more

Warga sambut baik kegiatan praktik manasik haji SMPN 01 Pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. - Tidak kurang 600 peserta praktik manasik haji memadati komplek Islamic Centre Kota Pekalongan, Kompleks Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an, Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Pensiunan guru diduga jadi korban pembunuhan

Kesesi, Wartadesa. - Sumarti  (60), pensiunan guru yang tinggal di desa Sidosari rt 04/02 Kec. Kesesi Kab. Pekalongan, diduga menjadi korban Read more

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

Seni Bertutur yang Kian Luntur

lukman

Oleh:  Lukman Alfaris, S.Pd., M.Pd.

Bangsa Indonesia dikenal sebagai bangsa yang kaya akan budaya. Kekayaan itu tidak hanya tercermin dalam ragam tarian, musik, atau busana tradisional, tetapi juga dalam tradisi lisan yang hidup dan mengakar kuat di tengah masyarakat. Salah satu warisan budaya lisan yang sarat makna adalah seni bertutur atau mendongeng. Melalui tuturan, nilai-nilai kehidupan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Oleh karena itu, menjaga bahasa dan tradisi bertutur sejatinya adalah upaya menjaga jati diri dan kebudayaan bangsa.

Namun, di tengah semangat merayakan Bahasa Indonesia pada saat Bulan Bahasa, ada satu aspek kebahasaan yang justru perlahan mulai memudar dari kehidupan sehari-hari, yakni seni bertutur. Tradisi mendongeng yang dahulu akrab di ruang keluarga dan masyarakat kini semakin jarang dijumpai. Aktivitas yang dulu menjadi momen hangat sebelum tidur, ketika anak-anak mendengarkan cerita dari orang tua atau kakek-neneknya, kini nyaris terlupakan. Modernisasi dan perubahan gaya hidup telah menggeser kebiasaan tersebut.

Kesibukan orang tua menjadi salah satu faktor utama. Rutinitas pekerjaan yang padat, kelelahan fisik, serta tekanan ekonomi membuat waktu bersama anak semakin terbatas. Percakapan hangat dan cerita penuh makna tergantikan oleh keheningan atau interaksi singkat yang minim kedalaman. Padahal, dari tuturan sederhana itulah terbangun kedekatan emosional, rasa aman, serta ikatan batin yang kuat antara anak dan orang tua. Cerita yang disampaikan dengan penuh cinta sering kali menetap lebih lama dalam ingatan anak dibandingkan nasihat panjang yang disampaikan tanpa sentuhan emosi.

Di sisi lain, perubahan perilaku anak-anak di era digital turut mempercepat lunturnya seni bertutur. Gawai, video daring, dan gim digital kini menjadi teman sehari-hari anak. Dunia mereka berpindah dari ruang cerita menuju layar yang penuh gambar bergerak. Komunikasi yang dahulu dipenuhi tatapan mata, intonasi suara, dan ekspresi wajah kini digantikan oleh animasi dan suara mesin.

Akibatnya, jarak emosional antara anak dan orang tua semakin terasa, sementara ruang dialog dan imajinasi semakin menyempit. Ironisnya, di tengah derasnya arus teknologi tersebut, seni bertutur justru memiliki kekuatan yang tidak tergantikan. Dongeng dan cerita lisan mengajarkan anak mengenali kebaikan dan keburukan, memahami kejujuran, kerja keras, keberanian, serta kasih sayang. Melalui alur cerita dan tokoh-tokohnya, anak belajar berempati, memahami perasaan orang lain, dan menimbang konsekuensi dari setiap tindakan.

Nilai-nilai itu tidak diajarkan secara menggurui, tetapi tumbuh secara alami dalam kesadaran anak. Seni bertutur tidak Lebih dari sekadar hiburan, namun seni bertutur merupakan media pendidikan karakter yang hidup. Ia bekerja melalui rasa, imajinasi, dan kedekatan emosional. Cerita yang disampaikan dengan suara lembut dan penuh penghayatan mampu menanamkan nilai moral jauh lebih dalam dibandingkan larangan atau perintah yang kering makna.

Di sanalah kekuatan dongeng: ia membentuk manusia yang beradab melalui cara yang halus dan manusiawi. Oleh karena itu, Mengembalikan tradisi mendongeng tidak selalu membutuhkan waktu lama atau cerita yang rumit. Yang dibutuhkan hanyalah kemauan untuk hadir, berbicara, dan mendengarkan. Sebab, dari tuturan sederhana itulah masa depan karakter anak dan keberlanjutan budaya bangsa dapat dijaga. ***

Diperkenankan untuk mengambil sebagian atau keseluruhan artikel ini dengan menyertakan link/tautan aktif artikel ini

Penulis adalah Dosen Bahasa Indonesia Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Agak risih sih dengernya, tapi ….

Wonopringgo, Wartadesa. - Agak risih juga sih dengernya, disebutin organ reproduksi, trus masa-masa remaja ... kadang mimpi basah, tapi karena Read more

Warga sambut baik kegiatan praktik manasik haji SMPN 01 Pekalongan

Pekalongan, Wartadesa. - Tidak kurang 600 peserta praktik manasik haji memadati komplek Islamic Centre Kota Pekalongan, Kompleks Pondok Pesantren Modern Al-Qur'an, Read more

Awas penipuan berkedok pengiriman data guru

Pekalongan, Wartadesa. Hati-hati terhadap email yang dikirim dari Hamid Muhammad dengan alamat email humasdikdasmen@gmail.com, email  berupa permintaan data guru dan Read more

Pensiunan guru diduga jadi korban pembunuhan

Kesesi, Wartadesa. - Sumarti  (60), pensiunan guru yang tinggal di desa Sidosari rt 04/02 Kec. Kesesi Kab. Pekalongan, diduga menjadi korban Read more

selengkapnya
Seni Budaya

Porseni IPNU-IPPNU Ke-VI Kecamatan Kandangserang Resmi Digelar

IMG-20251122-WA0009

Warta Desa, Lambur, 22 November 2025.
Kandangserang — Kegiatan Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU) dan Ikatan Pelajar Putri Nahdlatul Ulama (IPPNU) tingkat Kecamatan Kandangserang resmi dilaksanakan hari ini di Gedung GOR Bulu Tangkis Lambur.

Antusiasme terlihat dari seluruh pengurus IPNU dan IPPNU se-Kecamatan Kandangserang yang hadir untuk menyukseskan rangkaian kegiatan tersebut.

Regina, salah satu pengurus IPPNU Kecamatan Kandangserang, menyampaikan bahwa kegiatan Porseni ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan pelajar Nahdlatul Ulama sekaligus mempererat tali silaturahmi antar pengurus ranting di wilayah kecamatan.

“Kegiatan ini bertujuan meningkatkan kemampuan pelajar Nahdlatul Ulama serta mempererat tali silaturahmi antar pengurus ranting,” ujar Regina.

Sementara itu, Ketua NU Kandangserang, H. Roni, menjelaskan bahwa Porseni tahun ini diisi dengan berbagai kegiatan, mulai dari Hadroh hingga sejumlah lomba seperti cerdas cermat dan cabang seni lainnya.

“Hari ini anak-anak IPNU dan IPPNU melaksanakan kegiatan Porseni yang diisi dengan beberapa kegiatan seperti Hadroh, lomba cerdas cermat, dan lain sebagainya,” tutur H. Roni.

Kegiatan ini diharapkan dapat menjadi wadah bagi pelajar NU untuk mengembangkan potensi, memperkuat karakter, serta mempererat kebersamaan antar kader di lingkungan NU Kecamatan Kandangserang. (Andi Purwandi)

Terkait
IPNU IPPNU himbau anggotanya tak konvoi malam tahun baru

Buaran, Wartadesa. - Pimpinan Anak Cabang (PAC) Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama-Ikatan Putra Putri Nahdlatul Ulama (IPNU IPPNU) Kecamatan Buaran menghimbau Read more

IPNU IPPNU Wonokerto gelar ngepit bareng

Wonokerto, Waratadesa. - Sebagai pemuda penerus perjuangan NU, sudah selayaknya IPNU IPPNU menjadi pelopor kegiatan yang postif, kegiatan-kegiatan sosial ataupun Read more

SMA Islam YMI tuan rumah Porseni IPNU IPPNU Wonopringgo

Wonopringgo, Wartadesa. - SMA Islam YMI menjadi tuan rumah Pekan Olahraga dan Seni (Porseni) II se-Anak Cabang Wonopringgo pada Jumat-Sabtu, Read more

IPNU-IPPNU Kab. Pekalongan ajak kadernya ramaikan masjid

Kedungwuni, Wartadesa. - Dalam rangka mensyiarkan Islam yang moderat pada masyarakat di bulan suci Ramadhan, Pimpinan Cabang IPNU Kabupaten Pekalongan Read more

selengkapnya
Seni Budaya

Gunakan Lagu Asing, Gelaran Apresiasi Seni Musik Dunia Disorot Warga

semarak seni

Warta Desa, Karanganyar, Pekalongan — Kementerian Kebudayaan Indonesia menggelar kegiatan bertajuk Semarak Budaya sebagai bentuk apresiasi terhadap keberagaman seni musik dunia. Acara ini berlangsung meriah di depan Aula Kecamatan Karanganyar, Kabupaten Pekalongan, pada Minggu (3/11/2025) malam, mulai pukul 20.00 hingga selesai.

Sayangnya, gelaran musik jazz tersebut menampilkan lagu-lagu berbahasa asing. Sejumlah  warga menyayangkan karena dalam acara tersebut tidak disertai penampilan lagu-lagu Indonesia atau kesenian tradisional Jawa, yang selama ini menjadi identitas kuat budaya Pekalongan.

“Seni budaya Jawa itu tidak kalah bagus. Kalau semua lagu pakai bahasa asing, banyak yang tidak mengerti maknanya. Akan lebih baik kalau disisipkan juga lagu daerah atau gamelan agar lebih terasa nuansa budayanya,” ungkap salah satu warga yang hadir di lokasi.

Hadir dalam kegiatan tersebut Anggota DPR RI, Camat Karanganyar beserta jajaran pemerintah kecamatan, beberapa kepala desa, serta puluhan masyarakat sekitar yang antusias menyaksikan pertunjukan musik jazz dari para musisi muda lokal dan nasional.

Acara Semarak Budaya ini menjadi bagian dari upaya Kementerian Kebudayaan dalam mengembangkan serta memberdayakan potensi seni dan budaya daerah, sekaligus memperkenalkan karya-karya lokal di tingkat nasional maupun internasional.

Terkait dengan respon warga, pihak panitia menjelaskan bahwa kegiatan ini ke depannya akan dikembangkan dengan konsep kolaborasi budaya, yaitu menggabungkan unsur musik modern seperti jazz dengan kekayaan seni tradisional nusantara.

Melalui Semarak Budaya, diharapkan lahir ruang ekspresi baru bagi para seniman muda untuk terus berkreasi tanpa melupakan akar budaya lokal yang menjadi jati diri bangsa. (Rohadi)

Terkait
Karcis parkir tertulis seribu, eh … ditulis pake bolpoin seribu lima ratus

Karanganyar, Wartadesa. - Karut marut perparkiran di Kabupaten Pekalongan, nampaknya terjadi di Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Kajen, Jalan Raya Read more

Ribuan santri dan walisantri meriahkan Panggung Gembira IMBS Miftakhul Ulum Pekajangan

Kedungwuni, Wartadesa. - Ribuan walisantri dan santri Pondok Pesanten International Muhammadiyah Boarding School (IMBS) Miftakhul Ulum Pekajangan di Desa Ambokembang Read more

Tebarkan syiar Islam, grup hadroh SMA Islam YMI tampil di Kajen

Kajen, Wartadesa. - Grup Hadroh SMA Islam YMI Wonopringgo, Syauqul Mustofa, kembali tampil dalam pembacaan maulid nabi dan solawat pada Read more

SID akan hibur warga Kota Santri malam ini

Kajen, Wartadesa. - Grub musik cadas asal Bali, Superman Is Dead (SID) malam ini, Jum'at (29/9) akan menggelar konser, menghibur Read more

selengkapnya