close

Seni Budaya

PendidikanSeni Budaya

Paguyuban Seni Karawitan ‘Hijau Laras’ diluncurkan

asip tanpa masker

Keterangan Foto: Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi (tanpa masker) meresmikan peluncuran (launching) Paguyuban Seni Karawitan “Hijau Laras” PGRI Kabupaten Pekalongan, Senin (03/08). Foto: PPID Kabupaten Pekalongan.

Kajen, Wartadesa. – Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi meresmikan peluncuran Paguyuban Seni Karawitan “Hijau Laras” yang diinisiasi oleh para guru di wilayah Kecamatan Karanganyar, Senin (03/08). Gelaran acara dihadiri oleh Ketua PGRI  Rejo Herbeno, Kepala Dindikbud Sumarwati, Asisten 1 Setda Toto Budi Mulyanto dan Inpektorat Ali Riza.

Asip dalam sambutannya mengapresiasi penuh terbentuknya paguyuban kesenian Hijau Laras,  menurutnya paguyuban ini bisa menjadi ikon dari PGRI Kabupaten Pekalongan pada aspek pelestarian budaya. ‘’Ini paguyuban seni Ijo Laras itu luar biasa semua dari guru-guru Karanganyar. Saya sangat mengapresasi, dan mudah-mudahan ini menjadi ikon kita. Karena ini merupakan titik tolak kita untuk cinta terhadap budaya,’’ ujarnya.

Menurut pejabat publik yang bakal melaju dalam kontestasi Pemilukada Kabupaten Pekalongan ini, paguyuban Hijau Laras merupakan inisiasi para guru untuk menggairahkan semangat belajar siswa-siswi ditengah pandemi Covid-19.

‘’Monggo bapak ibu guru yang punya cara yang bisa menyentuh hati anak didik kita supaya tetap semangat belajar dengan kondisi apapun. Dan saya harap tetap dikontrol anak didiknya, supaya peran guru masih melekat pada siswa-siswi,’’ jelasnya.

Sementara itu, Ketua PGRI Kabupaten Pekalongan Rejo Herbeno mengatakan bahwa Paguyuban Hijau Laras ini merupakan inisiasi dari PGRI Kabupaten Pekalongan cabang Karanganyar yang dipimpin langsung oleh ketua cabangnya.

‘’Atas nama PGRI Kabupaten Pekalongan dan seluruh guru saya menyampaikan terimakasih yang sebesar-besarnya kepada Pemerintah Kabupaten Pekalongan yang selalu membantu dan memberikan dorongan kepada kita dalam menjalankan program,’’ ujar Rejo. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Seni Budaya

Minggu ngarep wis iso nanggap orkes lur

entertain

Batang, Wartadesa. – Minggu ngarep wis iso nanggap orkes lur! Demikian disampaikan oleh penggiat seni hiburan Kabupaten Batang usai audiensi dengan Bupati Batang. Senin (15/06).

Audiensi digelar lantaran para pekerja seni hiburan di Kabupaten Batang selama tiga bulan masa pandemi Korona ini nir-penghasilan.

Menurut Ketua Batang entertainment bersatu, Sutarno, seluruh pekerja kesenian dan entertainment, seperti penyewaan sound system, rias manten, seni tradisional dan orkes dangdut, selam tiga bulan mereka tidak mendapat penghasilan. Mengingat selama pandemi Covid-19, seluruh pentas atau pertunjukan dan juga hajatqn dilarang.

Diperbolehkannya kembali para pekerja seni ini untuk manggung kembali disyukuri oleh insan seni Alas Roban. “Alhamdulillah bupati mendukung keinginan dan harapan kami untuk kembali pentas, dan juga ikut diajak merumuskan masalah teknis dalam penerapan protokol kesehata,” kata Sutarno.

Bupati Batang, Wihaji mengatakan bahwa pihaknya memperbolehkan orkes dan hajatan manten digelar mulai pekan depan. “Dari pertemuan tadi, kita sudah sepakat minggu depan orkes dan hajatan manten boleh kembali digelar, tetapi dengan syarat protokol kesehatanya harus tetap dijalankan,” jelasnya.

Wihaji mengaku bahwa pada Rabu depan (17/06) akan dibahas teknis protokol kesehatan hajatan dan pentas hiburan, agar tidak ada temuan klaster baru virus Korona. (Eva Abdullah)

Berita terkait:

 

Kegiatan seni budaya dalam hajatan boleh digelar di Pemalang

selengkapnya
BencanaSeni Budaya

Korsleting, dua rumah di Wales Blado ludes terbakar

kebakaran wales

Batang, Wartadesa.- Berita duka menimpa Sari’ah (80) dan Siti Fatimah (47), ibu dan anak warga Dukuh Wales, Desa Wonobodro, Kecamatan Blado, Batang. Senin pagi sekitar pukul 08.30 WIB dua rumah milik satu keluarga di Rt 02 Rw 06 tersebut, luluh lantak akibat dilalap si jago merah.

Dugaan sementara penyebab kebakaran adalah korsleting arus listrik, mengingat dua pemilik rumah hari ini, Senin, sedang menjalani puasa sunah. “Dugaan penyebab kebakaran karena konsleting listrik mas (korsleting), karena pada hari Senin pemilik rumahnya sedang puasa sunah … otomatis masaknya sore hari. Jadi bukan dari tungku dapur penyebabnya,” tutur warga setempat. Nasuha saat dihubungi Wartadesa, Senin (15/06).

Menurut warga, api pertama diketahui saat ada kepulan asap pada atap rumah, warga kemudian langsung berteriak ada kebakaran. Pemilik rumah pun lansung keluar rumah untuk menyelamatkan diri.

Warga yang berdatangan kemudian berusaha memadamkan api dengan peralatan manual. Namun karena material rumah yang mudah terbakar, api merembet ke rumah milik Fatimah, anak korban.

Api semakin menggila akibat terpaan angin. Dua rumah tersebut luluh-lantak.

Tidak ada korban jiwa dalam kebakaran tersebut. Kerugian material diduga mencapai puluhan juta rupiah.

Terpisah, kebakaran juga menimpa gudang rongsok milik Abdul Khodir, warga Desa Cemplik Rt 05/04, Pelutan, Kabupaten Pemalang. Ahad (14/06) tengah malam.

Penyebab kebakaran adalah sambaran api dari sampah yang dibakar dan melalap gudang rongsok tersebut.

Petugas pemadam kebakaran dari Dinas Pemadam Kebakaran dan Sapol PP Kabupaten Pemalang bersama warga memadamkan api yang membakar gudang tersebut.

Kerugian material dari kebakaran gudang rongsok sedang dihitung. (Eva Abdullah)

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikSeni Budaya

Kegiatan seni budaya dalam hajatan boleh digelar di Pemalang

demo seni

Pemalang, Wartadesa. – Warga Pemalang sudah diperbolehkan menggelar acara seni budaya dalam resepsi maupun hajatan. Demikian disampaikan oleh Juru Bicara Penanggulangan Percepatan Covid-19 Pemalang Tutuko Raharjo, Senin (15/06).

Menurut Tutuko dalam pelaksanaan hajatan, pihak menanggung jawab maupun yang punya hajat mesti mengatur di pintu masuk agar tamu undangan mengantre di luar dan tidak berdesak-desakan. “Penanggungjawab mesti mengatur agar tamu undangan antre, itu tatanan normal baru,” jelasnya.

Sebelumnya, Kamis (11/06) para pelaku seni dan hiburan di Pemalang menggelar aksi demo, agar mereka diperbolehkan menggelar acara pentas seni. Permohonan mereka kemudian diluluskan oleh Bupati Pemalang dengan menandatangani Perbub Nomor 28/2020 tentang pelaksanaan new normal.

“Saya baru saja menandatangani Peraturan Bupati (Perbup) nomor 28/2020 tentang bagaimana yang harus dilaksanakan dalam kehidupan baru new normal,”kata Bupati. Perbup lanjutnya nanti akan disusul dengan penerbitan Surat Keputusan (SK) Bupati.

Junaedi menambahkan, para seniman  boleh manggung dengan catatan mematuhi protokol kesehatan. Pada saat digelar panggung kesenian lanjut Bupati penontonnya hanya diperbolehkan 50% dari kapasitas gedung pertunjukkan. Panggung-panggung kata dia akan diawasi oleh TNI dan Polri, dan menjaga jarak minimal satu meter antar penonton.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian, Andi Rustono meminta agar para seniman diberikan ruang untuk membantu mensosialisasikan dan ikut mengedukasi Covid-19 dari panggung-ke panggung kepada warga.

Menurut Andi, para seniman meminta ruang aktivitas berkreasi baik dalam ruangan maupun diluar ruangan,  diberi izin kegiatan budaya, adat dan kesenian dan jadikan alat kesenian di pendapa Kabupaten sebagai sarana berkesenian aktif dan terarah,” lanjut Andi. (Eva Abdullah)

Berita terkait:

Bupati Pemalang perbolehkan pentas seni

selengkapnya
KesehatanLayanan PublikSeni Budaya

Bupati Pemalang perbolehkan pentas seni

demo seni

Pemalang, Wartadesa. – Para pelaku seni di Kabupaten Pemalang patut bergembira. Pasalnya orang nomor satu di Kota Ikhlas tersebut memperbolehkan seniman menggelar panggung kreatifitas memasuki masa adaptasi kelaziman baru (new normal). Demikian disampaikan oleh Junaedi, Bupati Pemalang saat menemui peserta demo di Pendapa Kabupaten Pemalang, Kamis (11/06).

Dalam video demonstrasi unggahan Muhammad Reza Fahlevi Djunaedi di kanal Youtube diatas terlihat massa dari Pasukan Sound System berorasi di Pendopo dan disambut oleh Bupati, Ketua DPRD Pemalang, Agus Sukotco.

“Saya baru saja menandatangani Peraturan Bupati (Perbup) nomor 28/2020 tentang bagaimana yang harus dilaksanakan dalam kehidupan baru new normal,”kata Bupati. Perbup lanjutnya nanti akan disusul dengan penerbitan Surat Keputusan (SK) Bupati.

Junaedi menambahkan, para seniman  boleh manggung dengan catatan mematuhi protokol kesehatan. Pada saat digelar panggung kesenian lanjut Bupati penontonnya hanya diperbolehkan 50% dari kapasitas gedung pertunjukkan. Panggung-panggung kata dia akan diawasi oleh TNI dan Polri, dan menjaga jarak minimal satu meter antar penonton.

Sementara itu, Ketua Dewan Kesenian, Andi Rustono meminta agar para seniman diberikan ruang untuk membantu mensosialisasikan dan ikut mengedukasi Covid-19 dari panggung-ke panggung kepada warga.

Menurut Andi, para seniman meminta ruang aktivitas berkreasi baik dalam ruangan maupun diluar ruangan,  diberi izin kegiatan budaya, adat dan kesenian dan jadikan alat kesenian di pendapa Kabupaten sebagai sarana berkesenian aktif dan terarah,” lanjut Andi. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

New Normal, tamu undangan hajatan dibatasi 20 orang bergilir

sukarso

Batang, Wartadesa. – Pandemi Korona berdampak bagi pelaku seni hiburan. Pembatasan sosial (sosial/physical distancing) membuat para pekerja seni hiburan praktis tidak ada pemasukan.

Wacana kelaziman baru (New Normal) yang bakal diterapkan di Indonesia saat ini ditindaklanjuti Pemkab Batang dengan merumuskan konsep “menggelar pernikahan” dalam era new normal saat pandemi Covid-19. Benarkah bisa menolong pelaku seni hiburan?

“Gara – gara tidak boleh ada hajatan pernikahan, para seniman musik tidak laku. Maka rencana rumusan konsep kita boleh hajatan maksimal dihadiri 20 orang, Secara bergantian dan jeda waktunya serta protokol kesehatan harus jelas,” kata Wihaji, Bupati Batang belum lama ini.

Konsep tersebut, masih menurut Wihaji masih menunggu petunjuk dari pemerintah pusat. “Ini masih rumusan konsep tatanan kehidupan baru atau new normal dalam beraktifitas saat pandemi covid-19. sambil menunggu petunujuk pemerintah pusat,” katanya.

Sukarso, pelaku seni hiburan yang berprofesi sebagai emsi berpendapat bahwa konsep pembatasan tamu undangan hajatan hanya 20 orang secara bergiliran tidak akan efektif saat hiburan digelar. Saat hiburan digelar, selain tamu undangan, pasti akan ada kerumunan warga diluar tamu undangan yang datang untuk “menonton” dan menikmati hiburan yang dihelat saibul hajat.

Menurut Sukarto, pelaku hiburan seni lebih memilih aturan baku dari pemerintah pusat bahwa segala aktivitas warga diperbolehkan semua. “Menanggapi konsep kelaziman baru terkait seni hiburan saat hajatan, ojo grusa-grusu, tungg sampai aturan dari pemerintah (pusat) memperbolehkan semua (aktivitas), kalau masih ada batasan, apa artinya hiburan,” tuturnya Ahad (31/05).

Sementara itu, Purwono Aji, pemilik Lintang Production menganggap bahwa pelaksanaan kelaziman baru bagi “pekerja seni” adalah mereka–para pelaku  seni hiburan– mendapatkan job normal–pekerjaan seperti sebelum adanya pandemi Covid-19.

“Kalau saya bicara sebagai pekerja seni, tentang pembatasan tamu undangan pada saat pemberlakuan new normal, sebetulnya enggak masalah karena sebetulnya yang jadi masalah dalam tanda petik “PEKERJA SENI” itu kan karena mata pencaharian selama pandemi ini benar-benar mati dan nyaris enggak ada pendapatan, maka yang diharapkan tentunya mendapatkan job normal dan pendapatannya yang selama ini diharapkan itu pulih sediakala sekalipun harus diperlakukannya protokol kesehatan, artinya saya tegaskan, bahwa kami para pekerja seni karena kebanyakan mata pencahariannya dengan mengais rezeki melalui pentas dan akan mendapatkan imbalan sesuai harapan itu bisa benar-benar terwujud, tidak peduli, ada yang nonton atau tidak, yang penting ada job dan ada pendapatan, clear….” Ujarnya.

Namun, menurut Purwono, konsep pembatasan saat kelaziman baru, membuat kepuasan para pekerja seni berkurang. “Lain bicara sebagai insan seni atau Jiwa Seni, yang tolok ukurnya lebih kepada penyaluran hobby yang pada akhirnya merupakan kepuasan tersendiri bisa tampil bagus dihadapan penonton, apalagi penonton begitu membludak dan membanjiri konser, artinya semakin banyak pengunjung bisa dikatakan pasti bahwa konser kita berhasil dan bisa memikat penonton,” lanjutnya.

Pembatasan “penonton” menurut Purwono Aji akan mengurangi ruh dari digelarnya seni pertunjukan tersebut. “Jadi lebih ke arah kepuasan diri dibanding imbalan yang diterima, nah kalau cuman 20 orang, ya mending ikuti cara saya yang selama ini menghibur penonton melalui streaming, toh kita bisa tampil untuk bisa menghibur penonton, pungkasnya. (Eva Abdullah)

Terkait:

Bagaimana pelaku seni dangdut Kota Santri bertahan ditengah pandemi Covid-19?

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

Hormati Leluruh, Tim Kreatif PWSC 2020 gelar Mangelek Tao Toba

bay1

Simalungun, Wartadesa. – MANGELEK Tao Toba. Secara langsung bermakna Membujuk Danau Toba, satu kegiatan Kearifan Lokal untuk ungkapan penghargaan kepada tradisi leluhur dengan memanjatkan doa kepada Tuhan Yang Maha Esa untuk kepentingan kebaikan bagi warga yang meyakininya.

Ada ritual lain, ‘Manguras Tao’ (menyucikan Danau). Hal ini dilakukan bila dirasakan ada hal yang mencemari kesucian sekitar perairan Danau, yang di anggap bisa menjadi bala kepada warga. Maka harus disyarati melalui ritual tertentu oleh tetua masyarakat adat yang memiliki kemampuan supranatural.

Ritual ‘Mangebang Solu Bolon’, kini dilakukan saat pelaksanaan event olah raga seperi lomba dayung, lomba sampan tradisional (solu bolon) dan lain sebagainya, tergantung kepentingan situasi yang bersentuhan/berkaitan dengan Danau Toba.

Konon semua ritual selalu dilakukan leluhur untuk hal hal kebajikan, pinta pinta (Pengharapan) agar masyarakat yang bermukim atau yang berkepentingan di sekitar Danau beroleh kesehatan, keselamatan dan lain sebagainya.

Mangelek Tao Toba, salah satu Kearifan Lokal yang sudah lama terlupakan dan tidak pernah dilakukan lagi saat event olah raga yang bersentuhan langsung dengan perairan Danau terbesar se-asia Tenggara ini.

Juni Tahun 2018, di gelar ritual ‘Mangelek Tao Toba’, oleh tetua adat leluhur di perairan antara Simanindo – Tigaras saat tenggelamnya kapal motor Sinar Bangun dalam upaya pencarian jenazah korban di luar jangkauan kemampuan yang diperkirakan masih berada di dasar Danau. Ritual dilakukan agar jenazah korban bisa segera terlihat untuk di evakuasi. Katanya.

Namun untuk hajatan besar (pesta bolon), baru ini pernah terlaksana lagi. Dalam persiapan event bergengsi ‘Poldasu Water Ski Championship (PWSC) 2020’ pada tanggal 20 – 22 Maret 2020 nanti. Aku seorang tokoh Adat kota wisata Parapat.

Upacara Mangelek Tao Toba ini di gelar oleh tokoh Masyarakat Adat Pesisir Danau Toba dan pegiat budaya Yayasan Pusuk Buhit Sakti di perairan Pantai Bebas Parapat Rabu (4/3/2020) pukul 09.50 WIB.

Upacara diawali dari Pantai Bebas Parapat di atas satu kapal kayu dengan mempersiapkan perlengkapan upacara tradisi (ritual) yang kemudian bergerak menuju Batu Gantung.

Di Batu Gantung, sesepuh adat kembali melakukan ritual Mangelek Tao Toba, untuk memohon agar gelar PWSC 2020 bisa berlangsung aman dan sukses tanpa ada kendala maupun celaka bagi peserta kelak.

Setelahnya, rombongan kembali ke Pantai Bebas di sekitaran Wisma Pandu Parapat Kecamatan Girsang Simpangan Bolon Kabupaten Simalungun Provinsi Sumatera Utara.

“Gelar Upacara Mangelek Tao Toba, satu kearifan lokal untuk menghargai lelehur. Saya mewakili masyarakat Simpangan Bolon mengucapkan banyak terima kasih kepada Panitia yang tidak melupakan tradisi. Ini sudah lama tidak pernah dilakukan. Sebut DH Sinaga tokoh masyarakat adat didampingi pegiat Budaya Yayasan Pusuk Buhit Sakti dan Tim Kreatif panitia PWSC 2020 Andi Sitompul

“Tadi dalam kegiatan ritual kita memanjatkan doa kepada Tuhan agar event Poldasu Water Ski Championship 2020, Kejuaraan Nasional maupun kejuaraan terbuka berlangsung dengan aman dan sukses. Kita semua sehat dan selamat dalam kegiatan ini.

Sekali lagi kami sangat berterimakasih kepada Kapoldasu dan Kapolres Simalungun yang telah membuat acara penghargaan kepada Leluhur. Upacara ini sangat penting untuk menjaga dan menghargai kearifan lokal,” tambahnya.
Sementara, Tim Kreatif Poldasu Water Ski Championship 2020 kepada awak media meenyampaikan bahwa persiapan kegiatan sudah mencapai 40%. Nanti, pada tanggal 6 maret 2020 sejumlah peralatan berasal dari Surabaya, Jakarata dan Pekanbaru yang akan mengikuti kejuaraan akan tiba di Parapat.

“Hari ini kita melaksanankan ritual budaya “Mangelek Tao Toba”, bersama dengan toko masyarakat dan penggiat budaya kita memberikan penghormatan kepada leluhur melalui upacara adat yang dilakukan, dimana yang kita lakukan ini juga menghormati kearifan lokal,”kata Andi Sitompul

Hadir pada gelar Upacara Mangelek Tao Toba, unsur Forum Komunikasi Pimpinan Kecamatan Girsang Simpangan Bolon, Camat, Danramil 11/Parapat, ASN Pemkab Simalungun serta masyarakat adat kota Parapat. (wd-bay)

selengkapnya
Seni BudayaSosial Budaya

Gelaran Pulosari Development Festival meriah

pulosari

Pemalang, Wartadesa. – Pagelaran Pulosari Development Festival (PDF) yang dihelat di halaman kantor Kecamatan Pulosari, Sabtu-Ahad (08-09/02) berlangsung meriah. Acara yang dihelat untuk kali pertama tersebut menyajikan beragam pentas seni dan produk unggulan warga se-Kecamatan Pulosari.

Acara yang disiarkan langsung melalui kanal TV Desa oleh penggiat Puspindes Pemalang tersebut menyedot banyak perhatian warga.

Kemeriahan acara diapresiasi oleh Bupati Pemalang, Junaedi. “Kegiatan-kegiatan semacam ini harus kita lestarikan dan didukung penuh. Bukan sebatas hiburannya, tapi bagaimana mengenalkan potensi pedesaan di wilayah Pulosari dan produk-produk ungulannya,”  ujarnya.

Acara yang mengusung tema Rencana Pembangunan Kawasan Pedesaan Kecamatan Pulosari (RPKP), diskusi dengan narasumber Susana Ratih, Dosen Pembimbing Lapangan Fakultas Teknik Undip Semarang ini dihadiri Kepala OPD, Ketua DPRD, Kades se Kec Pulosari, Komunitas, Tokoh Masyarakat, Forkompinca dan mahasiswa KKN Undip.

Camat Pulosari, Ahmadi mengungkapkan bahwa perhelatan tersebut diharapkan dapat mengenalkan potensi wisata, UMKM maupun produk unggulan desa di wilayahnya. (Eva Abdullah)

 

 

selengkapnya
PendidikanSeni Budaya

Puluhan siswa di Pemalang meriahkan kemah budaya

kemah budaya

Pemalang, Wartadesa. – Puluhan siswa-siswi SMA sederajad Kabupaten Pemalang mengikuti gelaran kemah budaya di obyek wisata Pantai Widuri. Perhelatan yang merupakan wahana untuk menumbuhkan kecintaan dan meningkatkan apresiasi generasi muda terhadap warisan budaya dan cagar budaya tersebut digelar Senin-Selasa (09-10/12/2019).

Kemah budaya mengambil tema ”Mewujudkan generasi muda yang mandiri berdaya saing dan berkarakte” dibuka oleh Plt. Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pemalang,  Supa’at. Sebelum dilaksanakan pembukaan kemah budaya, para peserta upacara, disuguhi pagelaran drama musikal berjudul gebyar merah-putih yang disajikan secara apik oleh para siswa SLB Negeri 1 Pemalang.

Menurut Supaat, kemah budaya tahun ini merupakan langkah awal dalam proses mewujudkan amanat Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2010 dari pasal yang berkaitan dengan program pelestarian.

Supa’at berharap partisipasi para peserta dalam upaya pelestarian warisan budaya melalui pengalaman dan pengetahuan agar  mampu mengantarkan masyarakat kabupaten Pemalang sadar dengan budayanya. Supa’at menambahkan, dengan kegiatan kemah budaya dapat membuka pikiran dan wawasan bahwa di Kabupaten Pemalang memiliki potensi warisan budaya dan kearifan lokal luar biasa dan perlu dilestarikan.

Kemah budaya yang digelar diisi beragam kegiatan separti ceramah/saresehan sejarah lokal dan cagar budaya, permainan puzzle, pentas seni, kunjungan lapangan, menulis dan presentasi essai /artikel. (Eva Abdullah)

selengkapnya
Seni Budaya

Brendung, kesenian magis asli Comal yang hampir punah

brendung

Mbak ayune si Brendung
Temuruna pumping sore
Widadari patang puluh
age-age padha ngranjinga
yen ngrajing padha pedhayana
yen wis pedhayan padhan jogeta…

mbok Brendung temuruno /

age-age mumpung sore /
nggawahojatu karma /
kramane sing anggawe /
sing nggawe katah lare /
lare nang undang dewa…

Suku Kaso di Desa Sarwodadi, Kecamatan Comal,kabupatem Pemalang, selama ini dikenal luas oleh sebagian besar masyarakat sebagai Suku Saminnya Kabupaten Pemalang. Namun,seiring perjalanan waktu tradisi yang melingkupinya terkikis oleh kedatangan budaya modern. Padahal nilai-nilai luhur yang hendak disampaikan dari tradisi Suku Kaso, bukan hanya mampu mempersatukan antar warga akan tetapi juga mampu menyelaraskan serta mensikapi diri dengan alam. Saat ini,satu-satunya tradisi yang masih bertahan adalah kesenian tradisional Brendung.

Kesenian Brendung sendiri merupakan permainan boneka yang terbuat dari tempurung kelapa dan tubuhnya dari bambu. Boneka tersebut dirias sedemikian rupa, termasuk didandani ala wanita cantik, kemudian ditancapkan pada alas tampah (nyiru). Boneka wanita cantik konon melambangkan bidadari, atau menurut istilah setempat Brendung.

Dalam permainan Brendung yang dibantu wanita sebanyak 4 sampai 6 orang sebagai penyanyi, seorang pemimpin yang dinamakan ‘mlandang’ memainkan boneka bidadari sebagai pemeran utama dalam lakon tersebut. Para penyanyi ikut serta membantu memegang tali wanita cantik yang dilambangakan boneka bidadari itu keempat sisi bagian.

Kalau wanita cantik atau ‘mbok’ Brendung sudah menari-nari, maka tali yang dipegangi itu jadi terasa berat sekali. Ini menunjukkan kalau permainan Brendung itu telah berhasil. Memang kesenian Brendung ini mengandung permainan magis, sebab dalam setiap penampilannya selalu melibatkan roh halus yang dilakukan oleh seorang pemimpin yang disebut mlandang tadi.

Apabila mlandang itu telah memberi roh kepada boneka cantik tersebut dengan mahluk halus yang dipanggilnya, maka permainan Brendung akan benar-benar ramai dan seru. Hal itu setelah didendangkan lagu-lagu pujian dengan syair-syair yang terdengar ‘unik’ ditambah suara tetabuhan dua buah kendang yang ditutupi kain hingga menimbulkan bunyi yang aneh serta sebuah kencrek yang menambah suasana gemeresek.

Mbok Brendung itu akan mulai beraksi dimulai dengan gerakan-gerakan yang sangat lemah, lalu semakin lama semakin kuat yang seolah-olah bak seorang penari yang sedang dimabuk tariannya. Dan bila lagu-lagu yang disenandungkan berisi syair-syair yang memujinya, maka mbok Brendung jadi melonjak-lonjak girang.

Syair-syair seperti ; mbok Brendung temuruno / age-age mumpung sore / nggawahojatu karma / kramane sing anggawe / sing nggawe katah lare / lare nang undang dewa… dsb, dst, itu nyanyian khas Brendung yang mereka alunkan. Disamping lagu-lagu tersebut, untuk membangkitkan semangat kekuatan magic dalam boneka, juga dialunkan lagu-lagu yang sifatnya wangsalan/pantun sehingga pertunjukkan kian semarak.

Kemudian ditawarkan kepada penonton, siapa yang akan atau berminat memegangi Brendung, dengan catatan jangan coba-coba menghina/mencaci maki boneka tersebut. Sebab, bila mengucapkan kata-kata yang bernada mengejek/menggodanya, meski pemeran utama itu hanyalah benda mati belaka, akan dapat menyerang dengan mengejar dan memukulinya.

Kesenian Brendung dilihat dari bentuknya memang dianggap kuno dan mengandung permainan magic. Karena dalam permainan kesenian tersebut memerlukan keahlian melibatkan roh halus kedalam boneka wanita yang melambangkan bidadari, agar sesuatu permohonannya dapat terkabul. Maksud dan tujuannya meminta kepada kekuatan ghaib, diantaranya sembuh dari penyakit, mendapatkan jodoh dan agar desa jauh dari marabahaya.

Sekarang kesenian Brendung dimainkan kadang-kadang saja, apabila dibutuhkan. Kesenian tradisional milik masyarakat Sarwodadi pada masa hidupnya dulu, merupakan hiburan masyarakat juga dan biasanya ditampilan sesudah musim panen.Terlebih pada zaman sekarang yang serba modern kesenian Brendung sudah dilupakan orang.

Memang bila dibandingkan dengan kesenian tradisional yang ada dan hidup di Kab. Pemalang seperti seni Kuntulan, Bolo Boso, Wayang Purnodan Tayuban, kesenian Brendung keadaannya lebih memprihatinkan. Kesenian yang sekilas mirip dengan seni Jaelangkung ini sekarang sudah tinggal dari peredarannya dan tak punya tempat lagi di hati masyarakat.

Hal ini disebabkan, disamping keadaan para tokoh sendiri sudah tidak ada, juga jumlahnya sudah hilang. Seperti mlandang Taban pada tahun 1990an adalah keturunan yang III dari pawang Tawi. Kesenian Brendung sendiri sudah ada sejak tahun 1800 dan ditemukan oleh seorang penduduk desa Sarwodadi yang bernama TAWI. Oleh masyarakat setempat kemudian Tawi dikenal sebagai pawang Brendung dan secara turun temurun generasi Tawi ini menjadi pawang Brendung.

Dalam memilih tempurung yang dilakukan oleh mlandang adalah kelapa yang besar dan bulat untuk dijadikan kepala mbok Bredung tidak sembarangan. Seorang mlandang bahkan harus bertapa segala dan memilih ‘cumplung’ (tempurung kelapa) yang jatuh pas pada malam jum’at Kliwon. Kemudian didandani cantik jelita bak bidadari, oleh pawang dibawa ketempat yang dianggap keramat dengan dilengkapi sesaji dan peralatan kecantikan, antara lain bedak, alat-alat make-up, kaca untuk berhias dll. Dengan dibacakan mantera-mantera sambil membakar kemenyan dengan maksud mendatangkan kekuatan magic yang akan dapat memasuki boneka tersebut.

Setelah dari tempat keramat, barulah pawang mementaskan Brendung yang diawali dengan meletakkan boneka tersebut di atas penampi/tampah dan ditemani lampu kecil (senthir). Menurut pawang Brendung kekuatan magic akan cepat memasuki boneka bila penyelenggaranya dilaksanakan pada waktu bulan purnama, tanpa sinar lampu yang menyoroti. Konon yang menjadi pantangan, apabila yang menjadi pawang bukan dari ahli waris Tawi akan banyak mendapatkan kesulitan dan gagal dalam penyelenggaraan kesenian tersebut karena sang boneka tidak mau menari-nari.

Selain di Pemalang, ternyata kesenian Brendung ada di wilayah Banjarnegara, dari laman http://budparbanjarnegara.com disebutkan bahwa Nyai Brendung adalah boneka yang dibuat dari siwur (gayung dari tempurung) dan bubu penangkap ikan yang dihias seperti boneka serta dengan asesoris bunga-bunga yang diikat dengan angking. Nyai Brendung dimainkan oleh warha setempat dengan tujuan untuk meminta datangnya hujan. Boneka Brendung bisa bergerak sendiri dengan permohonan seorang pawang disertai dengan beberapa sesaji dan dinyanyikan lagu/mantra. Tujuan diberikannya sesaji dan dinyayikan lagu/mantra yaitu untuk memanggil ruh-ruh gaib yang diiringi dengan musik lodong. Adapun peserta pemain Boneka Brendung terdiri dari 20 pemain putra dan 10 pemain putri. Meski demikian laman tersebut tidak memuat secara rinci, wilayah atau desa spesifik yang menyajikan kesenian magis tersebut. (Eky Diantara, dirangkum dari berbagai sumber)

selengkapnya