close
Sosial Budaya

Ekonomi dan selingkuh jadi motif gugatan cerai kaum perempuan di Batang

ilustrsi cerai

Batang, Warta Desa. – Gugatan cerai yang dilayangkan kaum perempuan di Batang didominasi alasan ekonomi dan perselingkuhan yang dilakukan oleh pasangannya. Catatan Pengadilan Agama Batang, terdapat 1786 kasus gugatan cerai pada tahun 2019, dimana pada tahun sebelumnya hanya berjumlah 606 kasus.

“Kasus cerai gugat mendominasi, dari 2294 perkara,  ada 1786 perkara cerai gugat dan 508 perkara cerai talak. Masalah utama perempuan mengugat cerai karena alasan ekonomi kurang dan perselingkuhan atau bermain cinta dengan wanita lain, dan beberapa alasan lainnya.” Tutur Subroto, Ketua Pengadilan Batang.

Subroto menambahkan, ada beberapa kasus yang berakhir damai dan membatalkan perceraian. “Jadi kami juga upayakan adanya mediasi antar kedua pihak. Jika memang sudah tidak terjadi damai lalu dilanjutkan dengan pemeriksaan materi perkara. Namun jumlah kasus yang berakhir damai jumlahnya sedikit,” pungkas Subroto. (Eva Abdullah)

Terkait
Satu tahun beroperasi dengan alat berat, Galian C di Limpung tak berijin

Batang, WartaDesa. - Beroperasinya Galian C di Desa Babatan dan Plumbon, Limpung, Batang satu tahun terakhir dengan penambangan alat berat, Read more

Warga Batang terkena Covid-19 dapat tunjangan Rp 1 juta

Batang, WartaDesa. - Sebanyak 76 warga Batang positif Covid-19 mengajukan permohonan bantuan santunan sebesar Rp 1 juta. Santunan tersebut diberikan Read more

Kasus DBD di Batang masih tinggi

Batang, Wartadesa. - Kasus demam berdarah dengue (DBD) di Kabupaten cukup tinggi. Berdasarkan data Dinas Kesehatan Kabupaten Batang, dari Januari Read more

Masa pandemi Perpusdes mulai dibuka

Batang, Wartadesa. - Masa pandemi Covid-19 di Batang beberapa perpustakaan desa (Perpusdes) sudah mulai dibuka dan melayani peminjaman koleksi. Selain Read more

Tags : Batanggugat cerai