close
Layanan PublikPendidikan

Guru wiyata bakti butuh pengakuan dan kesejahteraan

wb

Kajen, Wartadesa. – Keberadaan guru negeri (baca: ASN–Aparatur Sipil Negara) dinilai berpengaruh terhadap keberadaan (eksistensi) guru wiyata bakti (honorer). Guru honorer butuh pengakuan dari Pemerintah Kabupaten Pekalongan, termasuk tambahan kesejahteraan yang dianggarkan melalui Bosda (Biaya Operasional Sekolah Daerah). Demikian terangkum dalam audiensi Bupati Pekalongan dengan Forum Komunikasi Wiyata Bakti ( FKWB) di ruang rapat bupati, Rabu (08/07) pagi.

Menurut Ifan Munawar Chaniago, Ketua FKWB audiensi difokuskan pada dua hal, yakni  pengakuan dan bosda, baik prosedural maupun nominalnya. “Terkait pengakuan, Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Kabupaten Pekalongan sudah menerbitkan surat keterangan. Sedangkan untuk nominal Bosda, kami mengharap ada kenaikan tunjangan Bosda.” Tuturnya.

Menjawab keresahan para guru honorer, Sumarwati, Kepala Dindikbud Kabupaten Pekalongan mengungkapkan bahwa pihaknya akan melindungi keberadaan guru honorer sepanjang masih membutuhkan. “Guru yang mendapatkan kesejahteraan wiyata bhakti ada 1913. Sepanjang kita masih membutuhkan, kita lindungi guru wiyata bakti,” tegas Sumarwati, dilansir dari laman resmi Pemkab Pekalongan.

Menurut Sumarwati, saat ini pihaknya masih melakukan pemetaan guru. “Sentral guru paling tinggi di dua kecamatan yaitu di Bojong dan Kesesi. Sementara kekurangan guru selain di dua kecamatan tersebut masih banyak,” lanjutnya.

Sementara itu, Bupati Pekalongan, Asip Kholbihi mengaku bahwa pihaknya terbuka terhadap kritik dan saran. “Pemerintah sekarang openmind, menerima semua masukan, kritik dan saran. Kita diskusikan, musyawarohkan kemudian hasilnya mana nanti yang kita bisa, mana yang jangka menengah atau jangka panjang,” ucap bupati

Menurut Asip, ada kebijakan yang dirisaukan guru wiyata yaitu kalau nanti di sekolah ada guru negeri, ini nanti mempengaruhi eksistensi guru wiyata bakti sehingga perlu dicarikan jalan keluar yang baik. Nantinya melalui Dinas Pendidikan dan Kebudayaan akan dibuat norma atau sistem yang standar. Bupati berharap seiring kebijakan-kebijakan dari pemerintah pusat atau ada reformulasi berkaitan dengan status para guru wiyata bakti. “Tentu kami akan sambut dengan baik, disamping itu ada juga ruang kebijakan yang bersifat lokal, dalam hal ini kebijakan pemkab,” ujarnya

Bupati meyakini kepala dinas mampu membuat sistem itu sehingga proporsi guru negeri tidak akan mempengaruhi keberadaan guru wiyata bakti. Pemkab sendiri sudah mulai melakukan posisioning terhadap keberadaan guru wiyata bakti. (Eva Abdullah)

Terkait
Rusak, Jalan Raya Ketitang-Sedayu dikeluhkan warga

Bojong, Wartadesa. - Kerusakan Jalan Raya Ketitang (Bojong) - Sedayu (Wonopronggo) dibeberapa titik dikeluhkan warga, musim penghujan menambah kondisi jalan Read more

Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

PKS Kota Santri serahkan bantuan al-Quran

Kedungwuni, Waradesa. - Jajaran Pengurus Dewan Pimpinan Daerah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) Kabupaten Pekalongan, Kamis (05/01) mendatangi komplek Ponpes Miftakhul Read more

Ratusan penjaga sekolah di Batang tuntut kesejahteraan

Batang, Wartadesa. - Kecilnya honor bagi penjaga sekolah di wilayah Batang, semetara tanggung jawab mereka yang besar, seperti harus bertanggung Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : bosdahonorerwbwiyata bakti