close
Sosial Budaya

Panitia pendirian rumah ibadah diklarifikasi

rumah ibadah
Puluhan warga warga Kalibaros, Taman, Pemalang mendatangi balai desa setempat untuk menyaksikan klarifikasi dari panitia pendirian tempat ibadah, Senin (29/06). Foto: Puskapik

Pemalang, Wartadesa. – Panitia pendirian rumah ibadah di Dusun Kalibaros, Desa/Kecamatan Taman, Kabupaten Pemalang diklarifikasi terkait pengumpulan dukungan warga berupa tanda tangan dan foto kopi kartu identitas.  Senin (29/06).

Puluhan warga yang mendatangi balaidesa setempat menyaksikan klarifikasi tersebut. Klarifikasi difasilitasi oleh pemerintah desa setempat, dengan hasil penandatanganan surat pernyataan pendirian rumah ibadah di desa tersebut.

Agus Sutrisno, Kepala Desa Taman mengatakan bahwa pihaknya mengakomodir seluruh pihak dalam musyawarah dan klarifikasi dari panitia pendirian rumah ibadah tersebut. Agus menambahkan bahwa pihaknya tidak menerima sesuatu dari pihak panitia pendirian rumah ibadah untuk memuluskan ijin.

Menurut Agus, pihaknya memang pernah didatangi oleh salah seorang panitia, Ani Wijayanto, namun pertemuan tersebut hanya membicarakan seputar pembangunan jembatan dan pengurugan. “Memang sebelumnya saudara Ani pernah mendatangi balai desa dan bertemu saya. Tapi yang dibicarakan seputar pembuatan jembatan dan pengurugan, ” ujarnya dikutip dari Puskapik.

“Saya tegaskan sekali lagi, agar tidak ada suudzon dari warga. Saya tidak pernah menerima apapun, tugas saya hanya melayani sebagai aparat desa,” lanjut Agus.

Kades mengungkapkan bahwa pihak panitia pendirian rumah ibadah belum mengajukan ijin pendirian rumah ibadah. “Belum ada pengajuan ijin spesifik pendirian rumah ibadah kepada pemerintah desa. Lokasi tersebut adalah tanah kavling untuk perumahan,” ujarnya.

Dalam pertemuan tersebut terungkap bahwa Ani Wijayanto mengumpulkan dukungan dalam bentuk tandatangan dan KTP sebayak 17 dukungan.

Namun satu warga Desa Taman, RT 01 RW 10, Waluyo, mengungkapkan, dirinya merasa dibohongi oleh orang suruhan Ani Wijayanto. Menurutnya ketika dimintai tanda tangan dan KTP dirinya tidak diberitahu untuk keperluan apa tanda tangan itu.

“Saya diminta tandatangan dan dijanjikan akan diberi sesuatu, saya tanya untuk apa? tidak dijelaskan. Dan benar setelah tandatangan saya diberi uang Rp 75 ribu waktu itu, ” ungkap Waluyo.

Waluyo membantah telah mendukung pendirian rumah ibadah. Menurutnya jika saat itu dia tahu kalau tandatangannya adalah bentuk dukungan maka saat itu juga dia akan menolak.

Sementara itu, pihak panitia pendirian rumah ibadah, Ani Wijayanto mengatakan, permintaan tandatangan dan KTP adalah justru sebagai bukti penolakan pembangunan rumah ibadah  yang nantinya akan diserahkan kepada pihak yayasan. “Saya akui kesalahan saya tidak berkordinasi dahulu dengan pihak pemerintah desa,” kata Ani.

Acara diakhiri dengan penandatanganan surat pernyataan penolakan pendirian gereja oleh panitia pendirian gereja dan tokoh warga disaksikan oleh perangkat desa, Babinsa, dan aparat Polres Pemalang. (Sumber: Puskapik)

Tags : kalibarosrumah ibadahtaman