close
Sosial Budaya

Pekalongan, dari daratan-laut-daratan dan kemungkinan kembali tenggelam

foto udara banjir pekalongan (antara)
Foto udara banjir pekalongan. Foto: Antara

Perbincangan soal banjir yang merendam hampir seluruh wilayah Kota Pekalongan dan sepertiga wilayah Kabupaten Pekalongan, dua pekan terakhir ini sangat menarik disimak.  Dalam sebuah grup media sosial Facebook, perbincangan bahwa Pekalongan dulunya adalah laut, dan akan kembali (menjadi) laut, terjadi pro dan kontra. Menurut banyak warganet dalam grup tersebut, closing statement (kalimat akhir) dalam postingan akun Sunan Doro, dianggap tidak care terdahap korban bencana banjir dan rob di Pekalongan.

Begini kira kira Gambaran Visual Pekalongan 3.000 tahun yang lalu. Nama BANDAR, artinya Pelabuhan. Pelabuhan pada masa itu berada di Kecamatan Bandar sekarang, yg tampak jadi Gunung. Satu Garis dengan mBandar di sebelah Barat adalah Doro, juga dikenal dengan nama Kaso.
Gunung Berapi Rogojembangan meletus dan membentuk Delta sepanjang 30 km dan menjadi daratan, dan sebagian wilayah Paling Utara kemudian dinamakan KOTA BESAR PEKALONGAN, Kemudian menjadi KOTA MADYA PEKALONGAN, nama sekarang KOTA PEKALONGAN.
Kali Kupang, 3.000 tahun lalu membentuk Curug ( Air Terjun). Kini menjadi KALI LOJI. Usia Bumi dah Milyaran Tahun, 3.000 tahun kuwi, bagi Alam, wingi otok. Kota Pekalongan jane barang anyaran.
Iki arep kembali dadi Laut Meneh, yo wis lumrah (postingan Sunan Doro dalam grub PEKALONGAN INFO, Kamis 18/02).
Dari penelusuran penulis, Pekalongan, awalnya adalah sebuah daratan yang menjadi bagian dari Sundaland (Tanah Sunda) yang pada zaman es, permukaan laut naik akibat gelombang es di kutub mencair. Dataran Sundaland kemudian terpisah menjadi pulau-pulau seperti pada peta saat ini.
Sundaland. Sumber: sundaland.world
Akibat melelehnya es kutub yang berlangsung beribu-ribu tahun, Pekalongan saat ini merupakan laut dengan batas pantai di Bandar (Batang) dan Doro (Pekalongan).  Sedimentasi yang cepat terjadi di wilayah Pantai Utara Jawa dari Semarang hingga Brebes, menjadikan Pekalongan wilayah Utara menjadi daratan baru.
Kini, akibat penurunan muka tanah yang sangat cepat–penelitian ITB melaporkan penurutan permukaan tanah Pekalongan 10-20 centimeter bahkan tahun 2020 turun 25 centimeter– Pekalongan direndam oleh rob dan banjir saat hujan.
Sundaland, Era 20 ribu  lalu
Postingan Hafiz Ostman, seorang warga Kuala Lumpur yang dibagikan dalam laman Sundaland.Word menulis bahwa kira-kira 20.000 tahun lalu hampir keseluruhan kawasan Asia Tenggara ialah dataran luas yang saling berhubung. Dataran ini dikenali sebagai Sundaland dan dikatakan Pulau Tioman yang wujud pada hari ini ialah hasil kenaikan paras air laut dan akhirnya memisahkan Pulau Tioman daripada dataran Semenanjung.
Analisis Hafiz Ostman ini diperkuat oleh postingan Sundaland sebelumnya yang memuat gambar peta sungai dibawah laut jawa milik Dhani Irwanto, pada 23 Desember 2020.
Ancient River Network Under The Java Sea. Foto: Dhani Irwanto yang dimuat di laman Facebook Sundaland.Word (23/12/2020)
Dalam laman wikipedia, Paparan Sunda (Sundaland) merupakan landas kontinen perpanjangan lempeng benua Euroasia di Asia Tenggara. Daratan utamanya meliputi Semenanjung Malaya, Sumatera, Jawa, Madura, Bali dan pulau-pulau kecil di sekitarna.
Area ini meliputi kawasan seluas 1,85 juta km2. Kedalaman laut dangkal yang membenam paparan ini jarang sekali melebihi 50 meter, dan kebanyakan hanya sedalam kurang dari 20 meter, hal ini mengakibatkan kuatnya erosi dasar laut akibat gelombang laut. Tebing curam bawah laut memisahkan Paparan Sunda dari kepulauan Filipina, Sulawesi, dan Kepulauan Sunda Kecil.
Paparan ini terbentuk akibat aktivitas vulkanik beribu-ribu tahun dan erosi massa benua Asia, serta terbentuknya konsolidasi runtuhan batu di pesisir seiring naik dan turunnya permukaan laut.

Lautan di antara pulau-pulai ini relatif stabil berupa dataran purba yang bercirikan rendahnya aktivitas gempa, anomali gravitasi isostatik yang rendah, serta tanpa adanya aktivitas gunung berapi, kecuali bagian pulau Sumatra, Jawa dan Bali yang terhubung dengan paparan Sunda, yang termasuk kawasan geologi muda sistem orogenik Pelengkung Sunda (atau Sistem Pegunungan Sunda).

Pada zaman es, permukaan laut turun, dan kawasan luas Paparan Sunda terbuka dan muncul di atas permukaan air dalam bentuk dataran rawa yang amat luas. Naiknya permukaan air laut pada saat gelombang es di kutub mencair sebanyak 14,6 sampai 14,3 kbp menaikan permukaan laut setinggi 16 meter dalam jangka waktu 300 tahun menjadikan Sundaland terpisah-pisah menjadi pulau-pulau baru seperti peta saat ini.

Pekalongan dulunya laut, benarkah?

Laman blog irwanseksiwisata memuat buku bertajuk Mozaik Sejarah Pekalongan yang disusun dan ditulis oleh DR. Kusnin Asa, Prof. DR. Haris Sukendar, DR. Machi Suhadi dan DR. Suharto. Tulisan ini merangkum kondisi daratan Pekalongan pada masa pra sejarah, zaman kerajaan-kerajaan Jawa hingga masa penjajahan Belanda.

Menurut Van Bemmelen (1949), geolog pertama yang menempatkan garis pantai kuno di wilayah Pekalongan, Pemalang, Tegal dan Brebes berada di selatan. Ia menyebut bahwa   dataran pesisir Jawa Tengah mempunyai lebar maksimal 40 km di selatan Brebes di lembah sungai Pemali dan menyempit hingga 20 km selatan Tegal dan Pekalongan.

Tjia dkk, 1978 (dalam Ongko Songo dan Kinarti 1980 : 39-40) menyebutkan bahwa perkembangan pantai Jawa Tengah utara dapat diketahui sekitar 55 – 160 meter setiap tahun. Sementara batas antara wilayah pesisir utara Jawa Tengah dengan wilayah pegunungan Serayu Utara (gunung Perahu, Rogojembangan, Dieng) di wilayah eks-karesidenan Pekalongan dan eks-karesidenan Semarang tampak merupakan kelurusan (linemaent) yang diinterpretasikan sebagai sesar atau kekar yang berkembang menjadi lembah yang lebar.

Berdasar penelitian dari Bemmelen dan Tjia dkk, Sutoyo, SU–seorang peneliti UGM– memprediksikan bahwa 500 tahun lalu pantai kuno di daerah Pekalongan meliputi Doro, Kedungwuni, Kajen, di selatan Pekalongan, yang saat ini pantai tersebut maju ke arah laut akibat sendimentasi endapan aluvial vulkanik (qt) dari gunung Rogojembangan.

Bemmelen menandai ada nama-nama pelabuhan yang ada pada pantai purba sekarang di wilayah pegunungan yaitu wilayah bukit Candi di Semarang, Boja di Kendal, Celong dan Bandar di wilayah Batang, Doro di Pekalongan, dan Bumi Jawa atau Linggapura di Slawi, Tegal.

Untuk membuktikan bahwa daerah tersebut dahulunya bekas laut, seorang bekas mahasiswa dari Universitas Islam Sultan Agung dan juga seorang ulama sufi Habib Syekh Ahmad Syakir telah meneliti dan menemukan fosil-fosil dari binatang purba yang ada di sekitar hulu sungai Simongan, Ungaran.

Kemudian di Pekalongan, laporan seorang geolog dari Dinas Pertambangan Jawa Tengah-Barat menyampaikan bahwa di tempat tinggalnya di wilayah Buaran Pekalongan ketika menggali sumur dengan kedalaman 3 meter sudah menemukan pasir laut dan fosil-fosil binatang laut. Pada penelitian geomorfologi yang diadakan oleh Fakultas Geologi UGM (Rosita Sari dan Efendi serta Sutoto, SU yang tidak dipublikasikan dan tidak diteruskan) telah mengadakan ekskavasi dengan membuka tespit di formasi Kajen. Hasilnya menunjukkan adanya temuan fosil laut dan keramik asing.

Dalam  Mozaik Sejarah Pekalongan disebutkan bahwa permukiman kuno Pekalongan terletak di wilayah Doro, Kajen, Linggoasri, Kesesi, Wonopringgo, dibuktikan dengan peninggalan artefak  dan memiliki indikasi dengan kehidupan masyarakat Pekalongan kuno. Nama-nama yang memiliki kaitan dengan bahasa Jawa Kuno, Melayu Kuno dan Sansekerta telah menunjukkan adanya masyarakat yang dahulunya memiliki tradisi yang kaitannya dengan tempat pemukiman masa lalu.

Pekalongan pada 1200 tahun lalu (abad VII – VIII Masehi), masa klasik Hindu Jawa,  disebut sebagai sebagai Poe-Chue-Lang (Che-poe)–sebutan Jawa Dwipa oleh bangsa Cina saat itu–, hal tersebut ditulis oleh Chao Ju-Kua seorang penulis kerajaan kekaisaran Cina Dinasti Sung dalam karyanya Ling-wai-tai-ta tahun 1278.

Nama Pekalongan adalah satu-satunya lokasi yang memiliki konotasi ejaan yang menurut sinologi pada Dinasti Sung abad XII Masehi, menyebut Jawa sebagai Poe-Chue-Lang. Nama Pekalongan adalah hasil perubahan konsonan yang diucapkan baik yang diucapkan oleh penduduk asing, cina lokal dan pendatang maupun penduduk di negara Cina itu sendiri untuk menyebut Poe menjadi Pe, Calang menjadi Kalong, (halong) yang artinya tidak berubah sebagai pulau penghasil padi atau Coe-Poe.

Arkeolog Settiawati Sulaiman berpendapat bahwa ucapan  Cou-Ju-Kua bahwa Coe-Pe adalah sama dengan Poe-Chue-Lang (Pekalongan). Dan pendapat ini juga didukung oleh W.P. Groeneveldt yang mengidentifikasikan toponim Poe-Chue-Lang dengan Pekalongan. Pekalongan terletak di utara barat Jawa Tengah yang pada masa abad XII Masehi, letaknya berada di pegunungan tepi pantai purba. Wilayah tersebut dapat ditengarai kemungkinan di Doro, Petungkriono maupun daerah-daerah sekitarnya termasuk Kajen atau Kedungwuni.

Pekalongan Baru

Peta Pekalongan Baru Tahun 1920. Sumber: Saudara Tua

Pekalongan baru terjadi setelah proses sedimentasi yang cepat di wilayah pantai Pekalongan. Pada abad XIV kelompok penduduk Cina yang disebut Ma Huan singgah di Pekalongan yakni Kampung Sampangan, lokasinya di dekat muara sungai Kupang atau sungai Loji.  Penyebutan Sampangan karena di tempat tersebut merupakan tambatan sampan. Sampangan saat ini disebut sebagai Kampung Pecinan.

Kota Pekalongan kemudian menjadi kota metropolis, dengan Kali Loji sebagai pangkalan pelabuhan niaga dan pusat perdagangan. Beragam bangsa datang ke Pekalongan, hingga dikenal dengan munculnya kampung-kampung baru seperti Kampung Arab di seberang timur Kali Loji.

Pekalongan Tenggelam (kembali)?

Penelitian yang dilakukan oleh Direktur Pesisisr dan Lautan Kementrian Kelautan dan Perikanan, Subandono Diposaptono di Pekalongan dan Semarang tahun 2019, menganalisis bahwa adanya bahaya, kerentanan dan resiko kenaikan permukaan laut di dua kota tersebut.

Menurut Subandono, berdasarkan analisis kontur melalui DEM dan asumsi kenaikan paras muka air laut rata-rata 8 milimeter per tahun, 100 tahun kedepan, genangan akan merangsek ke darat sejauh 2,1 sampai 2,8 kilometer dari garis pantai.

Pekalongan 100 tahun kemudian, penelitian Subandono. Foto: Tempo.co

Subandono menambahkan, berdasarkan penelitiannya Kota Pekalongan memiliki kerentanan dengan skor yang tinggi. Dia melihatnya dari unsur geomorfologi, laju erosi pantai, kemiringan pantai, kenaikan muka air laut relatif, rata-rata tinggi gelombang, dan kisaran tinggi pasang surut.

Analisis resiko dari penelitian Subandono mencapai skor 2,4 yang merupakan kategori daerah dengan risiko pantai besar. Artinya, konsekuensi dari dampak kenaikan paras muka air laut yang paling parah adalah infrastruktur dan permukiman penduduk di Pekalongan.

Peneliti Feodesi Fakultas Ilmu dan Teknologi Kebumian, Institut Teknologi Bandung (ITB), Heri Andreas mengungkapkan hasil riset Instansi Patnership Kemitraan Tata Kelola Pemerintahan, bahwa penurunan tanah di Pekalongan sampai 25-34 sentimeter atau hampir 1/2 meter pertahun.

Menurut Heri, penurunan permukaan tanah di wilayah Pantura Pekalongan  rata-rata 1-25 centimeter per tahun. Faktor yang mempengaruhi yaitu banyaknya pengambilan air tanah yang berlebihan oleh industri yang ada di Pekalongan.

Pembangunan tanggul raksasa di Pekalongan, menurut Heri merupakan solusi sementara untuk mengatasi rob. Solusi mengatasi banjir dan rob di Pekalongan seharusnya dilakukan secara menyeluruh.

Banjir Pekalongan saat ini memasuki pekan ketiga, langkah darurat  yang dilakukan oleh Pemkab Pekalongan untuk mengatasi banjir  yakni dengan membongkar tanggul sungai Mrican, agar air bisa mengalir dan membuka pintu sungai Mrican serta melakukan penyedotan dengan pompa air.

Sementara Pemkot Pekalongan berusaha memaksimalkan penyedotan dengan pompa air sebagai langkah darurat.

Penanganan lainnya yakni, dalam  jangka  pendek  dengan melakukan revitalisasi saluran, kemudian jangka menengah dengan penyempurnaan pompanisasi, penyempurnaan tanggul dan lain-lain. Untuk jangka panjangnya adalah membuat polder dan menutup sungai Bremi dan Meduri. (.*.)

Penulis: Buono

Sumber:

  1. Sundaland (https://www.facebook.com/Sundaland.World)
  2. Irwan ((http://irwanseksiwisata.blogspot.com/2011/06/bab-ii-aspek-geografi-sejarah-kuno-di.html)
  3. Wikipedia (https://id.wikipedia.org/wiki/Paparan_Sunda)
  4. Tempo (https://tekno.tempo.co/read/237255/kota-pekalonganterancam-tenggelam/full&view=ok)
  5. Saudara Tua (https://saudaratua.wordpress.com/koleksi-peta-kuno/jawa-peta-kuno/pekalongan-1920/)
  6. Wartadesa (https://www.wartadesa.net/pembangunan-tanggul-raksasa-jadi-solusi-sementara-tanggulangi-rob/)
Terkait
2040: KOTA PEKALONGAN TEMGGELAM?

Oleh: Islah Milono Persoalan degradasi tanah dan naiknya airmuka laut serta curah hujan ekstrim 12-20 Februari 2021 ini yang melanda Read more

Pemkab Pekalongan hentikan pendirian sumur dalam

Kajen, Wartadesa. - Pemerintah Kota Santri bakal menghentikan penambahan sumur dalam baru di Kabupaten Pekalongan. Sumur dalam ditengarai sebagai penyebab Read more

Pembangunan tanggul raksasa jadi solusi sementara tanggulangi rob

Kajen, Wartadesa. - Penganggulangan rob di wilayah pesisir Kabupaten dan Kota Pekalongan dinilai oleh Heri Andreas, Peneliti Feodesi Fakultas Ilmu Read more

Polri Cabut Kewenangan Penyidikan di Tingkat Polsek

Termasuk Sejumlah Polsek di Pekalongan Raya  Pekalongan, Wartadesa - Kepala Kepolisian RI Jenderal Listyo Sigit Prabowo menghapus kewenangan melakukan penyidikan Read more

Tags : berita pekalonganPekalonganpekalongan tenggelam