close
Layanan PublikSosial Budaya

Sepenggal kisah Arwat, profesi dengan resiko penjara

penjaga palang pintu
Arwat, PJL Kereta Api di Pemalang

Pemalang, Wartadesa. – Ada sebagian dari kita yang belum mengetahui profesi seorang Penjaga Jalan Lintasan (PJL) kereta api. Sebagian warga memandang pekerjaan PJL hanya duduk-duduk semata, namun adakah yang tahu bahwa resiko pekerjaan mereka adalah penjara?.

“Ya kita sering beranggapan melihat pekerjaan seorang PJL hanyalah duduk, naik turunin palang, tetapi yang perlu kita tahu adalah risiko bagi para PJL yang paling besar ketika lalai dan memakan korban, ancamannya adalah penjara.” Hal ini di tegaskan oleh Arwat (59) salah satu petugas PJL di JPL 144 KM 106-113 Jl. Raya Comal baru.

Arwat memulai profesi sebagai PJL sejak tahun 1990 lalu. Ia mengabdikan dirinya untuk menjaga dan memberi rasa aman kepada setiap pengguna jalan saat melintas di jalur rel kereta api khususnya di Jl. Raya Comal baru.

Banyak suka duka yang sudah ia lalui selama bekerja, “Ya banyak mas … suka dukanya, kadang saya jumpai para pengendara yang bandel, memaksa melintas dengan mengangkat palang pintu. Ada juga anak-anak remaja yang foto selfie disaat kereta melintas. Ya tentu saya tegur karena sangat berbahaya mas.” Tutur Arwat yang berdomisili di Desa Losari, Kecamatan Ampelgading, Pemalang.

Menurut Arwat, profesinya menuntut untuk peka terhadap suara datangnya kereta, kalau tidak, akibatnya akan fatal. “PJL juga harus memiliki kepekaan dari mana datangnya suara kereta mas. Hal itu diperlukan untuk mengantisipasi jika mesin penginformasi datangnya kereta tak berfungsi.” Tambahnya

“Kalau enggak bisa bedain suara dari kiri atau kanan aja, fatal akibatnya. Kalo keadaan darurat, seperti mesin rusak, nge-blank kan bahaya. Alat kan enggak selalu normal, walaupun sudah diantisipasi kecil kemungkinan bisa terjadi kerusakan juga,” lanjut Arwat.

Saat mesin rusak, Arwat dan petugas PJL lainnya akan menyetop kendaraan bermotor untuk tidak melintas, saat kereta akan dan sedang lewat. “Saya berharap para pengendara selalu memperhatikan bunyi alarm dan palang pintu stasiun dan tidak menerobos apabila palang pintu sudah diturunkan.” Tuturnya.

Bagi Arwat, sebagai PJL kebahagiaannya sederhana. Cukup melihat pengendara tertib saat melewati palang pintu kereta. “Orang-orang tertib saja itu udah cukup senang buat saya mas. Begitu banyak orang, saya enggak bisa ngawasin satu per satu (untuk menjaga keamanan mereka),” ucapnya.

Meski harus bekerja keras setiap hari, Arwat selalu bersyukur dan meminta warga mendoakan agar pekerjaan mereka lancar, aman, dan semua warga selamat.

Cara kerja PJL
Arwat menceritakan bagaimana PJL bekerja setiap harinya. Saat kereta akan melintas, petugas PJL mulai menutup palang pintu dan membunyikan alarm jika bunyi dari tombol buzzer menyala.

Tombol buzzer menyala otomatis apabila kereta mencapai 500 meter sampai satu kilometer sebelum pelintasan sebidang. Selain itu, PJL menerima informasi dari PJL di pos sebelumnya.

“Di relnya ada sambungan. Kalau roda kereta lewat, nanti bunyi. Dari sana (pos) sudah lewat, telepon dulu ke mari. Yang dikabari nama kereta yang lewat,” kata Arwat.

Setelah kereta melintas, PJL akan mematikan alarm dan menaikkan palang pintu. Mereka juga akan menginformasikan informasi mengenai kereta yang lewat kepada PJL di pos selanjutnya.

Atas dasar itu, sedianya warga tidak meremehkan pekerjaan para PJL yang terlihat mudah, tetapi sesungguhnya menanggung tanggung jawab yang besar. (Eky Diantara)