PEKALONGAN, WARTADESA. — Program Studi Sarjana Farmasi dan Program Studi Pendidikan Profesi Apoteker, Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), sukses menyelenggarakan Kuliah Umum Kefarmasian bertema “Transformasi Pelayanan Kefarmasian: Komunikasi Efektif dan Pemanfaatan Herbal untuk Optimalisasi Terapi Penyakit Degeneratif” pada Jumat (16/10/2026). Kegiatan yang berlangsung secara hybrid di Gedung Rektorat Lantai 7 UMPP ini menghadirkan Moch. Saiful Bachri, Ketua Program Studi S2 Farmasi Universitas Ahmad Dahlan (UAD), sebagai narasumber utama.
Kuliah umum ini bertujuan untuk meningkatkan wawasan mahasiswa, dosen, serta tenaga kefarmasian mengenai pentingnya komunikasi efektif dan pemanfaatan herbal secara tepat dalam mendukung penanganan penyakit degeneratif.
Pentingnya Komunikasi Efektif dalam Pelayanan Kefarmasian
Dalam pemaparannya, ditekankan bahwa komunikasi efektif merupakan fondasi penting dalam pelayanan kefarmasian. Seorang apoteker tidak hanya bertugas menyerahkan obat kepada pasien, tetapi juga memastikan pasien memahami aturan penggunaan, manfaat, potensi risiko, serta pentingnya kepatuhan terhadap pengobatan.
Melalui komunikasi yang baik, apoteker dapat menggali informasi mendalam mengenai kondisi pasien, riwayat penggunaan obat, hingga kebiasaan mengonsumsi produk herbal. Pendekatan ini mendukung pelayanan yang berorientasi pada kebutuhan pasien (patient-centered care) sekaligus meningkatkan keselamatan penggunaan obat secara keseluruhan.
Pemanfaatan Herbal Berbasis Bukti Ilmiah
Selain komunikasi, kegiatan ini juga mengupas tuntas pentingnya pemanfaatan produk herbal yang didasarkan pada bukti ilmiah. Penggunaan herbal harus memperhatikan aspek mutu, keamanan, ketepatan dosis, serta kemungkinan interaksi dengan obat konvensional—terutama bagi pasien penyakit kronis yang menjalani terapi jangka panjang.
Tenaga kefarmasian memiliki peran strategis dalam memberikan edukasi yang objektif agar pasien dapat mempertimbangkan manfaat dan risiko secara rasional. Diingatkan pula bahwa produk herbal tidak dapat secara otomatis menggantikan terapi medis yang telah diresepkan, sehingga penggunaannya wajib dikonsultasikan dengan tenaga kesehatan yang kompeten.
Meningkatkan Kompetensi Calon Apoteker
Melalui kegiatan ini, UMPP terus mendorong mahasiswa farmasi untuk memperkuat kompetensi komunikasi, pemahaman farmakoterapi, serta literasi informasi kesehatan. Kompetensi tersebut sangat esensial agar calon apoteker mampu memberikan informasi obat dan herbal secara tepat, objektif, serta bertanggung jawab di tengah masyarakat.
Acara yang dilaksanakan secara hybrid melalui tatap muka langsung, Zoom Meeting, dan siaran langsung YouTube ini diharapkan mampu memperkaya wawasan akademik dan kesiapan mahasiswa dalam menghadapi dinamika serta tantangan pelayanan kefarmasian masa kini.
UMPP menegaskan komitmennya untuk terus mengintegrasikan kompetensi ilmiah, komunikasi efektif, dan keselamatan pasien demi mewujudkan pelayanan kefarmasian yang rasional, aman, dan berorientasi pada peningkatan kualitas hidup masyarakat. ***










