Pekalongan, Wartadesa. – Suara cicit dan melodi merdu burung-burung kecil saling bersahutan memenuhi udara di sisi utara perempatan Desa Salakbrojo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan. Setiap hari Jumat pagi, lokasi yang berdekatan dengan SD Negeri Salakbloro dan area BKD desa setempat ini disulap menjadi ajang berkumpulnya para pecinta kicaumania melalui ajang Latihan Bersama (Latber) Miyanggong Basecamp (BC).
Ajang latber ini menjadi agenda rutin mingguan yang telah berjalan sekitar tiga tahun. Uniknya, arena gantangan membagi jadwalnya menjadi dua sesi khusus setiap pekannya: pagi hari didominasi oleh kicauan burung Srigunting/Sogon (Sogon), sementara siang hingga sore hari dilanjutkan untuk gantangan burung Pleci.
Sejak pagi hari, belasan hingga puluhan sangkar burung digantungkan di arena beratap baja ringan. Peserta dan penonton tampak bergerombol menantikan jagoan mereka dinilai oleh lima hingga enam juri profesional yang dengan cermat menyimak kemerduan irama, durasi, serta gaya berkicau dari tiap burung Sogon.
Magnet Kicaumania Luar Daerah
Meski berstatus sebagai ajang latihan bersama, magnet gantangan Miyanggong BC tak bisa dipandang sebelah mata. Menurut keterangan Ayah Bek dari penggiat komunitas burung di Miyanggong Basecamp, peserta yang datang tidak hanya berasal dari wilayah lokal seperti Kajen dan Bojong.
“Peserta lumayan menyeluruh. Kalau pas ajang latpres (latihan berprestasi), peserta dari jauh-jauh hari sudah memesan tiket. Kadang ada yang datang dari Banjarnegara, Pemalang, Tegal, bahkan sampai Malang,” ungkap pria yang akrab disaba Ayah Beh.
Ia menjelaskan bahwa sejarah awal arena ini sebenarnya diperuntukkan khusus bagi komunitas burung Pleci. Namun seiring berjalannya waktu dan berkembangnya minat kicaumania terhadap burung Sogon yang harganya cenderung terjangkau serta perawatannya yang menarik, pihak panitia akhirnya membagi waktu gantangan menjadi dua sesi setiap hari Jumat.
Wadah Silaturahmi dan Komunitas
Bagi para kicaumania, latber ini bukan sekadar ajang adu merdu suara burung atau memburu piagam penghargaan Miyanggong BC. Lebih dari itu, gantangan ini menjadi wadah silaturahmi antaranggata komunitas, seperti Penggemar Sogon Indonesia (PSIP) Pekalongan, serta tempat menyalurkan hobi bagi berbagai kalangan usia—mulai dari anak-anak hingga dewasa.
Penggiat Sogon setempat berharap ajang seperti ini terus tumbuh konsisten untuk mempererat kebersamaan para pecinta burung kecil berkicau di wilayah Pekalongan dan sekitarnya.
“Harapannya untuk penggemar burung Sogon maupun Pleci tetap kompak selalu di wadah komunitasnya. Semangat terus biar makin ramai dan solid,” tutupnya. ***

