KARANGDADAP, WARTADESA. — Di sebuah rumah sederhana di perbatasan Kecamatan Karangdadap dan Doro, Kabupaten Pekalongan, bayang-bayang asa seorang remaja perempuan berusia 17 tahun terus menyala di tengah himpitan ekonomi keluarga. Sebut saja namanya Cendekia. Ia adalah satu dari sedikitnya 14 ribu Anak Tidak Sekolah (ATS) di Kabupaten Pekalongan—angka yang saat ini sedang terus diverifikasi oleh Dinas Pendidikan setempat untuk memperoleh data riil di lapangan.
Kehidupan Cendekia berubah total dua tahun lalu. Saat baru menduduki kelas 10 Sekolah Menengah Atas (SMA), ia terpaksa mengundurkan diri. Keputusan pahit itu terpaksa diambil lantaran usaha konveksi pakaian milik orang tuanya di Pasar Comal, Pemalang, dihantam sepi. Pergeseran tren belanja masyarakat yang berpindah ke platform daring (online) membuat lapak tradisional milik keluarga Cendekia kehilangan pembeli. Upaya kedua orang tuanya untuk ikut menjajakan barang secara daring pun tak kunjung membuahkan hasil manis layaknya pedagang lain.
Dampak krisis ekonomi keluarga tersebut menjalar ke seluruh lini. Kakak laki-laki Cendekia yang saat itu menempuh kuliah semester 5 turut terpaksa putus kuliah setelah berbagai jalur beasiswa yang diperjuangkan gagal didapat. Kini, sang kakak memilih mengabdi di sebuah pondok pesantren, sedangkan kakak sulungnya telah berkeluarga dan menetap di Jakarta.
“Waktu itu kondisi ekonomi benar-benar sulit, jualan di pasar tidak seramai dulu,” ungkap kedua orang tua Cendekia.
Cita-cita yang Tak Pernah Padam
Kendati langkahnya terhenti di bangku formal, cita-cita Cendekia untuk mengecap pendidikan tak pernah padam. Di dalam lubuk hatinya, ia tetap memendam keinginan kuat untuk belajar. Cendekia sempat mendaftar di lembaga pendidikan berbasis daring, namun impian itu kembali terhadang tembok tebal: keterbatasan sinyal internet di tempat tinggalnya serta tingginya biaya operasional sekolah daring tersebut.
Pantang menyerah, Cendekia kini kembali mendaftarkan diri di Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM) berbasis daring yang berpusat di Depok. Ia bahkan berencana memperkuat akses jaringan internet di rumahnya demi memastikan proses belajarnya tak lagi terganggu.
Selama sekitar 30 menit kami berbincang hangat bersama keluarganya, gadis berkerudung itu lebih banyak memendam kata. Namun, menjelang akhir pertemuan, satu kalimat tegas berucap dari bibirnya, menandakan optimisme yang belum padam.
“Kurang kirim berkas KK, sudah daftar sekolah online sekarang,” pungkas Cendekia singkat.
Kisah Cendekia menjadi cermin dari ribuan anak di Kabupaten Pekalongan yang terpaksa meninggalkan bangku sekolah akibat tekanan ekonomi. Namun, semangat juangnya membuktikan bahwa pendidikan tetap bisa dikejar melalui jalur alternatif, asalkan ada kemauan dan dukungan infrastruktur yang memadai. (Redaksi)
Catatan Redaksi: Cendekia sejak kecil mondok, sehingga ia tidak bisa naik sepeda/motor, sementara tidak ada angkutan dari kampungnya menuju jalan utama. Itu alasannya, ia memilih pkbm yang menawarkan belajar daring.










