PEKALONGAN, WARTADESA — Suasana kegiatan belajar mengajar (KBM) siswa SD Negeri 02 Wonorejo, Kecamatan Wonopringgo, Kabupaten Pekalongan, tampak berbeda dari biasanya. Tanpa riuh ruang kelas formal, para siswa duduk bersila beralaskan karpet di rumah warga serta area gedung TPQ dan PAUD. Meski harus berdesakan dan belajar dengan fasilitas seadanya, raut wajah para siswa tetap memancarkan semangat tinggi untuk mengikuti proses pembelajaran.
Kondisi KBM sementara ini terpaksa dilakukan lantaran seluruh area sekolah sedang menjalani pembenahan total. SDN 02 Wonorejo mendapatkan kucuran bantuan revitalisasi dari APBN bernilai fantastis, yakni Rp1,116 miliar. Dana tersebut dialokasikan untuk pembangunan ruang baru (Ruang Administrasi dan UKS), serta rehabilitasi 4 ruang kelas, perpustakaan, dan toilet.
Tak hanya bantuan dari pemerintah pusat, sekolah ini seolah mendapat durian runtuh. SDN 02 Wonorejo juga menerima alokasi bantuan rehabilitasi dua ruang kelas lainnya yang bersumber dari APBD Kabupaten Pekalongan bernilai ratusan juta rupiah.
Plt. Kepala SDN 02 Wonorejo, Kustriana Dwiyanti, S.Pd.SD—yang akrab disapa Bu Tri—mengungkapkan bahwa bantuan fisik ini sudah sangat lama dinantikan oleh pihak sekolah maupun warga sekolah.
”Bantuan ini memang sudah lama kami harapkan karena kondisi seluruh atap bangunan sekolah sebelumnya sudah rusak parah dan sering bocor saat hujan. Dulu kami mengusulkan proposal ke dinas pendidikan setempat, dan alhamdulillah untuk rehabilitasi APBD sepertinya terealisasi berkat pembaruan data di Dapodik,” ujar Tri.
Terkait papan informasi proyek, Tri menjelaskan bahwa papan proyek untuk program revitalisasi APBN sudah terpasang jelas di lokasi renovasi. Sementara untuk pengerjaan dari dana APBD yang baru dimulai pada Ahad lalu, papan proyeknya belum terpasang. Namun, pihak sekolah telah berkunjung dan berkoordinasi langsung dengan kontraktor pelaksana, yang menyebutkan bahwa papan informasi proyek tersebut sebenarnya sudah disiapkan dan tinggal menunggu dipasang.
Menanggapi ketidaknyamanan yang dialami para siswa selama masa pembangunan, Tri mengakui bahwa keterbatasan tempat tentu sedikit mengganggu ketenangan dan kenyamanan anak-anak. Saat ini KBM memanfaatkan dua unit rumah warga, serta gedung TPQ dan PAUD setempat.
”Kami menyadari anak-anak mungkin merasa kurang nyaman karena harus belajar dalam kondisi menumpang. Tapi ini semua nantinya akan terganti dengan gedung sekolah baru yang jauh lebih representatif dan nyaman untuk belajar,” pungkasnya. (Redaksi)










