Oleh: Bdn. Suparni, SST., M.Kes., Bdn. Nina Zuhana, SST., M.Kes., dan Laily Lolita Sari, M.Psi., Psikolog
Pendampingan ibu hamil tidak cukup berhenti di ruang pemeriksaan. Ketika kader diperkuat, keluarga dilibatkan, dan tenaga kesehatan menjadi tempat berkoordinasi, dukungan terhadap ibu hamil dapat dibangun lebih dekat dari lingkungan tempat mereka tinggal.
Tidak semua kehamilan berjalan dengan tenang. Bagi ibu hamil dengan faktor risiko, setiap pemeriksaan dapat membawa harapan sekaligus kekhawatiran. Ada pertanyaan tentang kondisi ibu dan bayi, kekhawatiran menghadapi persalinan, hingga kebutuhan akan dukungan dari orang-orang terdekat.
Dalam situasi seperti ini, ibu tidak cukup hanya mendapatkan pemeriksaan medis. Mereka juga membutuhkan pendampingan yang membuat merasa didengar, dipahami, dan tidak menghadapi kehamilan seorang diri.
Dari kebutuhan tersebut, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP) melalui Program Kemitraan Masyarakat (PKM) BERSERI (Bersalin Sehat dan Percaya Diri melalui Paket Psikososial Care Terintegrasi) hadir di Desa Rengas, wilayah kerja Puskesmas Kedungwuni II, Kabupaten Pekalongan. Program ini merupakan bentuk pendampingan bagi ibu hamil dengan faktor risiko yang dilaksanakan secara langsung di masyarakat.
Program berlangsung pada Mei hingga Agustus 2026 dengan melibatkan 10 kader kesehatan, 10 ibu hamil dengan faktor risiko, serta 10 suami. Kegiatan ini memperoleh pendanaan melalui Hibah Pengabdian kepada Masyarakat Skema Pemberdayaan Berbasis Masyarakat, Ruang Lingkup Pemberdayaan Kemitraan Masyarakat Tahun Anggaran 2026 dari Direktorat Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat, Direktorat Jenderal Riset dan Pengembangan, Kementerian Pendidikan Tinggi, Sains, dan Teknologi.
Memperkuat Kader sebagai Pendamping
Sebanyak 10 kader kesehatan dilibatkan untuk mendapatkan penguatan kapasitas sebagai pendamping ibu hamil. Pembekalan diberikan melalui materi mengenai kehamilan dengan faktor risiko, tanda bahaya dan persiapan persalinan, pendampingan psikologis, relaksasi dan afirmasi positif, serta peran suami dan dukungan keluarga.
Kader juga dibekali panduan untuk menjalankan perannya sebagai fasilitator dalam mendampingi ibu hamil dengan faktor risiko.
Pelatihan tidak berhenti pada penyampaian materi. Pengetahuan kader dievaluasi sebelum dan sesudah pembekalan. Hasil pre-test menunjukkan nilai rata-rata 80, kemudian meningkat menjadi 96 pada post-test. Artinya, terdapat peningkatan sebesar 16 poin setelah kader mendapatkan pembekalan.
Peningkatan pengetahuan tersebut menjadi modal awal bagi kader untuk menerapkan keterampilan yang telah dipelajari dalam pendampingan. Kader tidak ditempatkan sebagai pengganti tenaga kesehatan, melainkan sebagai pihak yang berada lebih dekat dengan ibu dan dapat membantu memberikan edukasi, melakukan pemantauan sederhana, mengenali kondisi yang perlu diperhatikan, serta menghubungkan ibu dengan bidan ketika diperlukan.
Sepuluh Ibu Hamil Mendapatkan Pendampingan
Sasaran utama Program BERSERI adalah 10 ibu hamil dengan faktor risiko. Mereka mendapatkan pendampingan melalui edukasi, kunjungan, pemantauan, serta dukungan psikososial.
Pendampingan diarahkan agar ibu tidak hanya mengetahui kondisi kehamilannya, tetapi juga memahami apa yang perlu dilakukan dan kapan harus mencari bantuan tenaga kesehatan.
Pelatihan kader tidak berhenti di ruang pertemuan. Setelah mendapatkan pembekalan, 10 kader mempraktikkan keterampilan pendampingan dengan masing-masing melakukan pendampingan dan monitoring kepada dua ibu hamil. Dari proses tersebut diperoleh 20 data monitoring yang menggambarkan penerapan keterampilan kader di lapangan.
Kader menggunakan modul dan formulir monitoring sebagai alat bantu dalam proses pendampingan. Melalui instrumen tersebut, berbagai aspek dipantau, seperti pemeriksaan kehamilan, konsumsi Tablet Tambah Darah (TTD), keluhan ibu, faktor risiko, kebutuhan edukasi, serta tindak lanjut yang diperlukan.
Ketika Kader Mengenali, Bidan Menindaklanjuti
Pendampingan di tingkat masyarakat juga memiliki arti penting dalam menemukan kondisi yang membutuhkan perhatian lebih lanjut. Hasil monitoring menunjukkan bahwa 100% ibu hamil telah melakukan ANC sesuai jadwal dan mengetahui jadwal pemeriksaan berikutnya. Sebanyak 90% mengonsumsi Tablet Tambah Darah (TTD) sesuai anjuran, dan 80% tidak mengalami keluhan setelah mengonsumsinya. Namun, baru 40% ibu hamil yang mendapatkan edukasi terkait faktor risiko kehamilan, sementara 65% masih memerlukan koordinasi lebih lanjut dengan bidan dan 35% ditemukan memiliki keluhan atau tanda bahaya yang memerlukan pemantauan lebih lanjut. Hasil ini menunjukkan perlunya penguatan edukasi, pendampingan, dan koordinasi dengan tenaga kesehatan secara berkelanjutan.
Namun, batas peran tetap menjadi hal penting. Kader tidak melakukan diagnosis atau menggantikan bidan. Kader berperan dalam pengamatan awal, memberikan edukasi sesuai kemampuan, dan menyampaikan informasi kepada bidan.
Dengan pola seperti ini, ibu hamil memiliki dukungan yang lebih dekat di lingkungan tempat tinggalnya, sementara bidan tetap menjadi tenaga kesehatan yang melakukan tindak lanjut sesuai kondisi ibu.
Dalam proses pendampingan, materi edukasi juga diberikan sesuai kebutuhan. Hasil monitoring mencatat edukasi mengenai faktor risiko kehamilan sebagai materi yang paling banyak diberikan, disusul nutrisi ibu hamil, tanda bahaya, pemeriksaan kehamilan, TTD, dukungan suami dan keluarga, serta persiapan persalinan.
Kehamilan Juga Membutuhkan Ketenangan
BERSERI tidak hanya memandang kehamilan dari sisi fisik. Program ini memasukkan pendekatan psikososial melalui relaksasi dan afirmasi positif.
Ibu hamil diajak melakukan latihan sederhana untuk membantu menciptakan suasana yang lebih tenang serta membangun keyakinan positif dalam menjalani kehamilan dan mempersiapkan persalinan.
Paket pendampingan juga dilengkapi dengan musik relaksasi dan aromaterapi. Keduanya digunakan sebagai bagian dari suasana relaksasi dan bukan sebagai pengganti pemeriksaan maupun penanganan medis.
Ibu diperkenalkan dengan pengalaman relaksasi yang dapat dilakukan kembali di rumah sesuai kondisi dan kenyamanannya.
Pendekatan ini menjadi salah satu kekhasan BERSERI. Ibu tidak hanya diajak memahami faktor risiko yang dimiliki, tetapi juga mendapatkan ruang untuk beristirahat sejenak, mengatur napas, membangun afirmasi positif, dan memperoleh dukungan emosional selama menjalani kehamilan.
Suami Tidak Hanya Menemani
Dalam Program BERSERI, 10 suami atau keluarga pendamping juga dilibatkan. Keterlibatan ini penting karena sebagian besar waktu ibu hamil berada di rumah, bukan di fasilitas kesehatan. Dukungan keluarga dapat menjadi bagian dari keseharian ibu dalam menjalani kehamilan.
Suami dapat membantu mengingatkan jadwal pemeriksaan, mendukung ibu mengikuti anjuran tenaga kesehatan, memperhatikan keluhan yang muncul, membantu persiapan persalinan, dan memberikan dukungan emosional.
Dengan memahami kondisi ibu, suami diharapkan tidak hanya hadir ketika terjadi masalah, tetapi menjadi bagian dari proses menjaga kesehatan ibu sejak masa kehamilan.
Keterlibatan keluarga juga membuat pesan kesehatan yang diberikan dalam program lebih mungkin diterapkan dalam kehidupan sehari-hari. Apa yang dipelajari ibu dan suami dapat diteruskan di rumah melalui dukungan yang sederhana tetapi konsisten.
Dari Desa untuk Keberlanjutan
Program BERSERI menunjukkan bahwa penguatan kesehatan ibu hamil dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat dengan mereka. Kader yang mendapatkan pembekalan dapat membantu memberikan edukasi dan melakukan pemantauan. Ibu hamil mendapatkan pendampingan dan dukungan psikososial. Suami dan keluarga ikut terlibat, sementara bidan menjadi tempat koordinasi dan tindak lanjut ketika ditemukan kondisi yang membutuhkan perhatian.
Tantangan setelah program selesai adalah bagaimana pengalaman tersebut tetap digunakan. Karena itu, modul edukasi, panduan kader, formulir monitoring, serta pengalaman yang diperoleh selama pendampingan diharapkan dapat menjadi bekal bagi kader dan mitra untuk melanjutkan kegiatan sesuai kebutuhan di Desa Rengas.
BERSERI pada akhirnya bukan sekadar rangkaian pelatihan, kunjungan, atau kegiatan relaksasi. Program ini mencoba membangun jejaring pendampingan ibu hamil yang melibatkan masyarakat, keluarga, dan tenaga kesehatan.
Sebab, menjaga ibu hamil dengan faktor risiko bukan hanya tugas ibu itu sendiri. Ketika kader hadir di lingkungan masyarakat, suami memberikan dukungan di rumah, dan bidan siap menjadi tempat koordinasi, ibu memiliki lebih banyak orang yang dapat membantu menjalani kehamilan dengan lebih siap.
Dari desa, pendampingan dimulai. Dari kader, dukungan diperkuat. Bersama keluarga dan tenaga kesehatan, ibu hamil didampingi untuk menjalani kehamilan dan mempersiapkan persalinan dengan lebih sehat dan percaya diri. ***
Penulis adalah Dosen Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)










