PEKALONGAN, WARTA DESA – Lelah usai memeras otak dalam penatnya kerja seketika sirna begitu roda kendaraan melaju membelah dataran tinggi Paninggaran, Pekalongan. Udara dingin yang merangkul tubuh, jalanan berliku yang menantang, serta barisan pohon cemara yang berjejer rapi di sepanjang perjalanan seolah menjadi penawar dahaga visual. Mata dan hati yang semula tegang mendadak adem.
Namun, perjalanan sore itu tak berhenti hanya pada suguhan pemandangan alam. Didorong rasa penasaran, rombongan memutuskan menepi dan singgah ke salah satu rumah perajin sapu di Desa Botosari, Kecamatan Paninggaran.
Begitu melangkahkan kaki ke dalam bengkel rumahan warga, aroma khas serat gelagah (bunga tebu/kaso) yang dikeringkan langsung menyapa indra penciuman. Jemari para perajin tampak begitu terampil dan lincah—menata ikatan gelagah, menganyam benang warna-warni pada bagian pangkal (songket), hingga mengikatnya kuat pada tangkai bambu.
Desa Botosari memang bukan desa biasa. Terletak di kawasan pegunungan yang sejuk, desa ini dikenal luas sebagai salah satu sentra industri rumahan (home industry) kerajinan sapu tradisional terbesar di Pekalongan. Bahkan, denyut nadi kerajinan sapu glagah dan sapu songket di Botosari diperkirakan sudah berdetak turun-temurun sejak era 1940-an.
“Hampir 80 persen warga di Botosari menggantungkan hidupnya dari membuat sapu ini,” tutur salah satu perajin lokal saat menyambut hangat kedatangan rombongan.
Hebatnya lagi, meski dikerjakan secara manual dengan peralatan yang terbilang sederhana, sapu buatan warga Botosari tak hanya memenuhi kebutuhan lokal Pekalongan atau wilayah Jawa Tengah semata. Kualitas anayaman yang rapat, tidak mudah rontok, dan ketahanan tangkainya telah membawa produk kerajinan desa pegunungan ini menembus pasar luar Jawa, seperti Sumatra dan Kalimantan.
Kehidupan ekonomi masyarakat Botosari mencerminkan kemandirian yang harmonis. Di sela-sela waktu merakit sapu songket, warga juga mengolah lahan pertanian dan beternak sapi. Pola hidup yang menyatu dengan alam ini membuat roda perekonomian desa tetap berputar stabil dari generasi ke generasi.
Bagi rombongan, kunjungan singkat usai rakor ini memberi kesan mendalam. Tidak hanya membawa pulang oleh-oleh sapu lantai yang kokoh dan estetik untuk rumah masing-masing, tetapi juga membawa pulang cerita tentang ketangguhan warga desa yang terus menjaga warisan leluhur.
Perjalanan pulang menuruni perbukitan Paninggaran pun terasa semakin hangat. Di balik rimbunnya cemara dan kabut tipis yang mulai turun, Desa Botosari telah mengajarkan bahwa dari kesederhanaan jemari warga desa, lahir karya yang menyapu bersih himpitan ekonomi sekaligus merawat tradisi. ***










