close
KesehatanOpini

Sintesis Ontologi, Epistemologi, dan Aksiologi Ilmu Farmasi dalam Inovasi Model Intervensi Digital Apoteker Berbasis User-Centered Design pada Pasien Hemodialisis

foto penulis

Oleh: apt. Siti Rahmawati.,S.Farm.,M.Farm

Ilmu farmasi sebagai disiplin keilmuan terapan tidak hanya berorientasi pada obat sebagai objek material, tetapi juga pada manusia sebagai subjek utama. Dalam konteks penyakit kronis seperti gagal ginjal stadium akhir yang memerlukan terapi hemodialisis, praktik kefarmasian menghadapi tantangan besar seperti kompleksitas biologis, psikologis, sosial, dan teknologi. Diperlukan landasan filsafat ilmu yang kuat agar pengembangan pengetahuan tidak bersifat teknokratis semata, tetapi juga bermakna secara ilmiah, etis, dan humanistik.

Secara ontologis, pasien hemodialisis tidak dipahami hanya sebagai entitas biologis yang menerima terapi farmakologis, melainkan sebagai individu dengan sistem keyakinan, perilaku, persepsi risiko, dan pengalaman hidup yang memengaruhi keberhasilan terapi. Keyakinan terhadap obat, kepatuhan pengobatan, persepsi risiko, dan kualitas hidup merupakan realitas yang bersifat abstrak dan konstruk psikososial, namun memiliki eksistensi nyata dalam praktik kefarmasian karena secara langsung memengaruhi luaran klinis dan humanistik. Realitas tersebut tidak berdiri sendiri, melainkan terbentuk melalui interaksi pasien dengan obat, tenaga kesehatan, sistem layanan, serta teknologi digital. Intervensi digital apoteker secara ontologis dipahami sebagai artefak ilmiah hasil rekayasa kefarmasian, yang diciptakan untuk menjembatani kebutuhan manusia dengan sistem terapi. Dengan demikian, terjadi pergeseran ilmu farmasi dari paradigma product-oriented menuju paradigma patient-centered dan technology-enabled pharmaceutical care.

Pengetahuan tentang efektivitas intervensi digital apoteker diperoleh melalui proses ilmiah yang menggabungkan metode kuantitatif berbasis bukti dengan pemahaman kontekstual terhadap pengalaman pengguna. Pengukuran perubahan keyakinan, kepatuhan, persepsi risiko, dan kualitas hidup dilakukan melalui instrumen yang tervalidasi secara ilmiah, mencerminkan pendekatan positivistik dan post-positivistik yang menekankan objektivitas, reliabilitas, dan validitas. Namun, pendekatan user-centered design menempatkan pasien sebagai subjek aktif dalam proses pengembangan intervensi, sehingga pengetahuan juga dibangun melalui pemahaman subjektif, partisipatif, dan kontekstual. Epistemologi ini bersifat konstruktivistik-kritis, di mana kebenaran ilmiah tidak hanya ditentukan oleh signifikansi statistik, tetapi juga oleh relevansi klinis, keberterimaan pengguna, dan keberlanjutan praktik. Pengetahuan farmasi dipahami sebagai hasil dialog antara teori, bukti empiris, dan praktik profesional apoteker dalam ekosistem digital kesehatan.

Pengembangan model intervensi digital apoteker bukan semata menghasilkan inovasi teknologi, tetapi meningkatkan kualitas hidup pasien hemodialisis melalui penguatan keyakinan positif terhadap terapi, peningkatan kepatuhan, dan pemahaman risiko yang rasional. Nilai etika dalam tercermin dalam penghormatan terhadap otonomi pasien, perlindungan privasi dan keamanan data digital, serta prinsip keadilan dalam akses layanan kefarmasian. Peran apoteker dalam intervensi digital diposisikan sebagai pendamping terapi (pharmaceutical care provider), bukan sekadar penyampai informasi, sehingga memperkuat dimensi humanistik profesi farmasi. Aksiologi mencakup kontribusinya terhadap pengembangan praktik kefarmasian modern, transformasi layanan kesehatan berbasis digital, serta penguatan posisi apoteker dalam sistem pelayanan penyakit kronis. Dengan demikian, ilmu farmasi tidak hanya bernilai secara akademik, tetapi juga berdampak nyata bagi pasien, profesi, dan sistem kesehatan.

Secara filosofis, inovasi model intervensi digital apoteker berbasis user-centered design pada pasien hemodialisis merepresentasikan kesatuan ontologi manusia sebagai pusat terapi, epistemologi pengetahuan berbasis bukti dan pengalaman, serta aksiologi yang menjunjung nilai kemanusiaan dan kebermanfaatan sosial. Landasan filsafat ini menegaskan bahwa ilmu farmasi modern adalah ilmu yang ilmiah, humanistik, dan transformatif, selaras dengan tantangan pelayanan kefarmasian di era digital dan penyakit kronis. .***

Penulis adalah  Mahasiswa program Doktoral Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan dan Institut Teknologi Sains dan Kesehatan RS Dr Soepraoen Kesdam V/Brawijaya Malang

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : farmasiuad