WARTADESA, KEDUNGWUNI – Majelis Pemberdayaan Masyarakat (MPM) Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan sukses menggelar panen raya jagung tahap 1 bertajuk “jagungMu”. Kegiatan ini dilaksanakan di area lahan pertanian Podo Utara, tepatnya di sekitar Perum Villa Berlian, Desa Podo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan pada Ahad (19/07/2026).
Acara panen raya ini dihadiri oleh jajaran petinggi persyarikatan dan unsur pemerintahan. Di antaranya tampak hadir Ketua MPM Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah M. Nurul Yamin, Wakil Ketua PDM Kabupaten Pekalongan Mardi Raharjo, Ketua MPM PDM Kabupaten Pekalongan Islah Milono, perwakilan Dinas Pertanian Kabupaten Pekalongan, perwakilan DPRD Provinsi Jawa Tengah, serta pengurus PCM dan Jamaah Tani Muhammadiyah se-Kabupaten Pekalongan.
Ketua MPM PP Muhammadiyah, M. Nurul Yamin, dalam kesempatan tersebut menjelaskan bahwa gerakan ini merupakan perwujudan nyata dari amanat Muktamar Muhammadiyah. Sejak dibentuk pada Muktamar 2005 di Malang, MPM berkomitmen untuk hadir dan mendampingi gerakan akar rumput yang selama ini luput dari perhatian. Komitmen ini kemudian dipertegas pada Muktamar ke-48 di Surakarta tahun 2022 lalu, yang menetapkan penguatan dakwah akar rumput sebagai salah satu dari delapan program prioritas organisasi.
“MPM mengidentifikasi kelompok akar rumput yang kurang mendapat perhatian ini berada di sektor petani dan pertanian, nelayan, kemiskinan kota, difabel, daerah tertinggal, serta kelompok yang dalam bahasa agama disebut dhuafa dan mustad’afin,” terang Nurul Yamin.
Ia juga menyoroti persoalan menahun yang terus menjerat nasib para petani lokal. “Selama ini kita sering mendengar keluhan bahwa saat musim tanam, petani dihadapkan pada biaya produksi dan harga pupuk yang melonjak tinggi. Namun, ironisnya saat musim panen tiba, harga jual hasil panen justru anjlok dan kurang menggembirakan. Kondisi inilah yang harus kita ubah bersama,” tegasnya.
Menurut Yamin, untuk mengangkat martabat dan kesejahteraan para petani local diperlukan kerja keras, sinergi, serta kolaborasi yang kuat dari berbagai pihak. Muhammadiyah melalui MPM menegaskan posisinya untuk mengambil peran aktif mendampingi masyarakat dan mendorong lahirnya kebijakan-kebijakan pemerintah yang pro-petani.
Kedaulatan pangan dinilai sebagai pilar utama kekuatan dan kedaulatan bangsa. Melalui wadah Jamaah Tani Muhammadiyah, persyarikatan berupaya mengonsolidasikan potensi para petani agar memiliki daya tawar yang lebih baik dan mampu mengelola pertanian secara mandiri dari hulu hingga hilir.
Ke depan, MPM Muhammadiyah berharap program pemberdayaan pertanian seperti gerakan “jagungMu” ini tidak berhenti di sini, melainkan terus bergulir dan meluas ke tingkat Wilayah, Cabang, hingga Ranting di berbagai daerah. Komoditas yang ditanam pun diharapkan semakin variatif agar bisa menjadi motor penggerak ketahanan dan kedaulatan pangan nasional yang dimulai dari tingkat desa. (Isa Anshori)










