close
Sosial Budaya

Transformasi Muhammadiyah Menuju MPM: Dari Gerakan Amal Menuju Gerakan Berdampak

template berita foto warta desa(5)

KAJEN, PEKALONGAN, Warta Desa. – Muhammadiyah kini tengah meneguhkan langkah transformatif dalam mengelola organisasi di tengah pesatnya perubahan zaman. Sekretaris Pimpinan Daerah Muhammadiyah (PDM) Kabupaten Pekalongan, Tjahjono, menekankan pentingnya pergeseran paradigma pengelolaan organisasi dari sekadar gerakan amal menjadi gerakan yang memberikan dampak nyata dan luas bagi umat dan bangsa.

Transformasi strategis ini dirumuskan dalam visi MPM, yang bermakna Maju, Profesional, dan Modern.

Visi Strategis MPM: Menjawab Tantangan Zaman

Dalam pandangan Tjahjono, Muhammadiyah yang telah memiliki ribuan amal usaha di bidang pendidikan, kesehatan, sosial, dan ekonomi, memerlukan tata kelola yang lebih adaptif agar tetap unggul. Ia menguraikan tiga pilar utama visi MPM sebagai berikut:

  • Maju (Quality Driven): Maju bukan sekadar menambah jumlah amal usaha, melainkan meningkatkan kualitas dan daya saing. Muhammadiyah harus mampu memimpin perubahan, di mana sekolah dan rumah sakit tidak hanya hadir, tetapi menjadi pilihan utama masyarakat karena keunggulannya.

  • Profesional (Accountability Driven): Keikhlasan sebagai ruh dakwah harus disandingkan dengan tata kelola yang rapi, terukur, dan akuntabel. Profesionalitas di sini berarti memastikan setiap program memiliki target jelas, pembinaan SDM yang serius, dan pengukuran dampak yang nyata agar dakwah berjalan lebih efektif.

  • Modern (Innovation Driven): Organisasi harus beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Pengelolaan kini wajib berbasis data, digitalisasi sistem, dan kolaborasi luas. Modernitas menuntut Muhammadiyah unggul dalam inovasi manajemen tanpa meninggalkan nilai-nilai Islam.

Menggeser Budaya Kerja: Dari Rutinitas ke Kinerja

Transformasi menuju MPM, menurut Tjahjono, juga menuntut perombakan budaya organisasi. Budaya kerja yang selama ini bertumpu pada rutinitas harus diarahkan menjadi budaya berbasis kinerja dan dampak.

“Rapat tidak cukup hanya menghasilkan wacana, tetapi harus melahirkan solusi dan tindak lanjut yang terukur. Setiap majelis, lembaga, dan amal usaha harus memiliki indikator keberhasilan yang jelas agar gerakan Muhammadiyah berjalan lebih terintegrasi,” tegasnya.

Momentum Konsolidasi di Jawa Tengah

Khusus untuk Jawa Tengah, Tjahjono melihat peluang besar untuk menjadikan wilayah ini sebagai model Muhammadiyah modern di Indonesia. Hal ini didukung oleh jaringan amal usaha yang luas serta basis jamaah yang kuat. Kunci keberhasilan transformasi ini terletak pada sinergi antar lini, penguatan sistem, serta penyiapan SDM yang mampu bekerja secara profesional namun tetap menjaga ruh gerakan.

Sebagai penutup, ia menegaskan bahwa MPM bukanlah sekadar perubahan struktur atau istilah manajemen semata. MPM adalah wujud nyata menghadirkan nilai ihsan dalam pengelolaan organisasi, agar setiap amal yang dilakukan Muhammadiyah benar-benar menjadi kekuatan besar untuk mencerahkan semesta. (Imam Setiobudi)

Terkait
Pantai Depok, Nasibmu Kini

Meski sudah ada pemecah ombak, abrasi terus menggerus Pantai Depok Pekalongan (12/10)

[caption id="attachment_1311" align="aligncenter" width="1024"] Warga sekitar Mushola Pasar Kebo - Kajen merehab Mushola, Jum'at (14/10). Foto : Eva Abdullah/wartadesa Kajen, Read more

[Video] Pantai Siwalan Nasibmu Kini

https://youtu.be/-ifv0wgTxAM Pesisir pantai siwalan hingga wonokerto Kab. Pekalongan terus terkikis, Pemukiman warga terus terancam hilang. Sebagian rumah warga  sudah tidak Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : mpmMuhammadiyahPekalongan