close
Dana DesaEkonomiKesehatanLayanan Publik

Pemalang masuk dalam 100 desa prioritas penanganan gizi buruk stunting

ilusttasi-stunting
ilustrasi stunting

Pemalang, Wartadesa. – Kabupaten Pemalang masuk dalam 100 desa dari 10 kabupaten prioritas penanganan stunting (gizi buruk yang menyebabkan balita pendek –kuciten Jawa). Hal tersebut terungkap dalam laman departemen kesehatan yang merupakan pemaparan dari Kementerian Koordinator Bidang Pembangunan Manusia dan Kebudayaan pada Desember tahun lalu.

Stunting adalah masalah gizi kronis yang disebabkan oleh asupan gizi yang kurang dalam waktu lama, umumnya karena asupan makan yang tidak sesuai kebutuhan gizi. Stunting terjadi mulai dari dalam kandungan dan baru terlihat saat anak berusia dua tahun.

Masuknya Kabupaten Pemalang dalam kawasan prioritas stunting tersebut berasal dari jumlah balita stunting, prevalensi stunting (persentase jumlah balita pendek dan sangat pendek)  dan tingkat kemiskinan pada sensus nasional BPS tahun 2013.

Kabupaten Pemalang dan Brebes masuk dalam kawasan prioritas penanganan gizi buruk stunting. Data dari laman Depkes RI

Tercatat 57.37 jiwa balita di Pemalang menderita stunting, sedang Brebes menduduki posisi tertinggi di Jawa Tengah dengan 69.201 jiwa balita penderita stunting.

Untuk menganani gizi buruk stunting di wilayah Pemalang, pemerintah menggelontorkan dana sebesar Rp. 8,8 milyar dari anggaran DD/APBN.

Alokasi DD/APBN penanganan gizi buruk stunting di Kabupaten Pemalang.

Kasus Stunting di Batang dan Pekalongan

Sementara itu, Menteri Kesehatan Nila F. Moeloek mengatakan kasus gizi buruk masih ditemui di Kabupaten Batang, Jawa Tengah. Ada 8,8 persen balita kurus yang tercatat dalam Data Pemantauan Status Gizi (PSG) Kabupaten Batang pada 2016. Jumlah itu setara dengan 936 dari total 60.341 balita di daerah itu.

Untuk daerah Jawa Tengah, terdapat 9,6 persen balita yang berada pada kategori kurus. “Keadaan di Kabupaten Batang saat ini memang ada perbaikan, tapi masih ada catatan, masih ada anak yang kurang gizi,” kata Nila dalam keterangan tertulis, Senin, 9 Januari 2017.

Di Kabupaten Pekalongan, jumlah penderita stunting masih menyisakan 53 anak pada tahun 2018 ini setelah dilakukan penanganan oleh pemda setempat.

“53 anak itu kita tangani secara serius. Mulai dari memberikan bantuan-bantuan, termasuk bantuan pemerintah. Dengan intensif, maka Zero Gizi Buruk, tahun depan diharapkan dapat tercapai secara baik,” ujar Bupati Pekalongan beberapa waktu lalu.

Di Kota Pekalongan, jumlah balita penderita gizi buruk stunting tercatat 31 balita pada 2017, sedang pada tahun 2018 ini masih tersisa 13 balita.

Kepala Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto mengatakan pada 2017 lalu, ada 31 balita yang mengalami gizi buruk. Tapi setelah dilakukan penanganan, berkurang menjadi 13 balita. Mereka masih dalam masa pemulihan dan pengawasan ketat dari pemerintah.

Menurut Slamet, dalam satu bulan, para penderita gizi buruk ini mendapatkan penanganan dan konsultasi di rumah singgah gizi yang didirikan dinas kesehatan. Slamet mengatakan, penanganan masalah gizi buruk ini memang tidak mudah.

Pemerintah melalui Kementerian pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) menggelontrokan anggaran Rp 55 miliar untuk pengurangan angka stunting atau penderita kurang gizi kronis.

Anggaran tersebut digelontorkan untuk mendukung pengurangan stunting di sepuluh kabupaten prioritas, seperti; Riau, Lampung Tengah, Cianjur, Pemalang dan Brebes. Dirjen Cipta Karya, Sri Hartoyo mengatakan, anggaran tersebut digunakan untuk dua keperluan.

Pertama, sebesar Rp 30 miliar untuk program air limbah pedesaan. Sedangkan kedua sebesar Rp 25 miliar, digunakan untuk penyediaan air minum dan sanitas berbasis masyarakat. sri mengatakan, pembangunan sarana tersebut dilakukan untuk menciptakan lingkungan sehat.

Asal tahu saja, stunting merupakan kondisi kekurangan gizi kronis yang ditandai dengan gagal tumbuh, gagal kembang dan gangguan metabolisme pada anak balita. Kondisi stunting antara lain disebabkan kondisi lingkungan yang tidak sehat. (Eva Abdullah, dari berbagai sumber)

Terkait
Budaya Ngapi’i jadi pemicu stunting di Kota Santri

Kajen, Wartadesa. - Budaya selepas melahirkan 'Ngapi'i' yakni ibu yang melahirkan hanya makan-makanan tertentu sebelum 40 hari kelahiran, tidak boleh Read more

Pandemi Covid-19, jumlah warga miskin Kota Santri naik, angka stunting 21%

Raih Peringkat 2 Penanganan Stunting Kajen, WartaDesa. - Pagebluk (pandemi) Covid-19 menjadi pemicu naiknya jumlah warga miskin di Kota Santri.Jika Read more

Mengenal Inpari IR Nutri Zinc, padi pencegah stunting

Batang, Wartadesa. - Hingga Pebruari 2020, sedikitnya 156.549 balita di Jawa Tengah mengalami stunting (kekurangan gizi kronis yang terjadi selama Read more

Pemdes Karangdowo beli motor pengangkut sampah

Kedungwuni, Wartadesa. - Pemerintah Desa Karangdowo, Kecamatan Kedungwuni, Kabupaten Pekalongan melakukan pembelian motor pengangkut sampah dengan sumber anggaran dari Dana Read more

Tags : gizi burukstunting