Pekalongan Kota, Wartadesa. – Kota Pekalongan ‘darurat’ gizi buruk, setidaknya 13 balita di Kota Batik menderita gizi buruk dengan penyakit penyertaan, sehingga butuh waktu untuk proses penyembuhan.
Menurut Dinas Kesehatan Kota Pekalongan, Slamet Budiyanto dikutip dari Pantura Post, pada 2017 ada 31 balita penderita gizi buruk. Setelah dilakukan penanganan, kini tinggal 13 balita yang mengalami gizi buruk. Saat ini mereka dalam masa pemulihan dan pengawasan ketat.
Slamet menambahkan, penanganan gizi buruk akan lebih susah dilakukan ketika adanya penyakit penyerta, “Yang lebih sulit yakni adanya penyakit penyerta, jadi berapa pun asupan gizi yang kita berikan, karena dia menderita penyakit kronis lain penanganannya sangat sulit. Semuanya rawat jalan masih kita pantau melalui rumah singga gizi,” jelas Slamet Jumat (02/02) lalu.
Menurut Slamet, salah satu penderita gizi buruk bernama Oktavia, sejak usia 13 bulan dirawat di rumah sakit, saat ini berat badannya menurun menjadi 6,5 kilogram. “Dia awalnya hanya mengalami panas dan susah makan sehingga berat badannya menurun drastis menjadi 6,5 kilogram. ” Tuturnya.
Selain menderita gizi buruk, Oktavia juga menderita penyakit jantung, “Awalnya panas tidak turun turun, kemudian susah makan. Sempat dirawat di rumah sakit sekitar satu minggu,”kata Munaziroh, ibu balita gizi buruk.
Saat ini kondisi Oktavia sudah membaik, berat badannya sudah naik menjadi 10 kilogram. “Konsultasi ke rumah singgah gizi sebulan dua kali. Pas awal sakit itu sakitnya enam koma lima kilogram. Sekarang bobotnya sepuluh kilogram,” lanjut Munaziroh.
Selain mendapatkan penanganan medis, lanjut dia, keluarga penderita gizi buruk di Pekalongan juga mendapatkan bantuan sosial. Mereka diberikan bantuan modal dan perlengkapan usaha. (Sumber: Pantura Post)










