close
Opini

Upaya Menyiapkan Generasi Sehat Dimulai dari Pencegahan Stunting

202602030043.jpg

OLEH: KHANSA KHAIRUN NISA 

Pendahuluan

Stunting masih menjadi salah satu persoalan kesehatan yang perlu mendapat perhatian di Indonesia. Berdasarkan Survei Status Gizi Indonesia (SSGI) tahun 2024, prevalensi stunting nasional mengalami penurunan dari 21,5% pada tahun 2023 menjadi 19,8% pada tahun 2024. Penurunan tersebut menunjukkan perkembangan positif dalam penanganan stunting, tetapi persoalan ini belum dapat dianggap selesai dan masih memerlukan perhatian secara berkelanjutan (Kementerian Kesehatan Republik Indonesia, 2025). Stunting juga tidak hanya berkaitan dengan tinggi badan anak, tetapi berhubungan dengan kondisi kesehatan dan pemenuhan gizi dalam jangka panjang. Berbagai faktor dapat berkaitan dengan terjadinya stunting, sehingga pencegahannya tidak cukup hanya berfokus pada makanan anak, tetapi juga perlu memperhatikan kondisi ibu, kesehatan anak, dan lingkungan tempat anak tumbuh (Siramaneerat et al., 2024; Siregar et al., 2024).

Pencegahan stunting menjadi penting karena kesehatan anak saat ini akan berhubungan dengan kualitas sumber daya manusia di masa depan. Dampak stunting tidak hanya dirasakan pada masa anak-anak, tetapi juga dapat memengaruhi perkembangan generasi pada masa mendatang. Hal ini sejalan dengan arah pembangunan menuju Indonesia Emas 2045 yang menempatkan pembangunan sumber daya manusia sebagai salah satu bagian penting dalam masa depan Indonesia (Kementerian PPN/Bappenas, 2023). Oleh karena itu, pencegahan stunting bukan hanya bertujuan menurunkan angka kasus, tetapi juga menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi Indonesia yang lebih sehat dan mampu berkembang secara optimal.

Pembahasan

Stunting bukan sekadar masalah tinggi badan anak yang berada di bawah rata-rata. Kondisi ini berkaitan dengan proses tumbuh kembang yang berlangsung dalam waktu cukup lama dan dipengaruhi oleh berbagai faktor. Karena itu, pencegahan stunting tidak dapat dilakukan hanya dengan memastikan anak mendapatkan makanan yang cukup. Kondisi kesehatan ibu, berat badan anak saat lahir, akses terhadap pelayanan kesehatan, serta lingkungan tempat anak tumbuh juga perlu diperhatikan. Penelitian Siramaneerat et al. (2024) menunjukkan bahwa usia anak, berat lahir, status gizi ibu, dan tempat tinggal memiliki hubungan dengan kejadian stunting pada anak di Indonesia.

Pencegahan stunting sebenarnya perlu dimulai bahkan sebelum anak lahir. Kondisi kesehatan dan gizi ibu selama kehamilan dapat memengaruhi pertumbuhan anak. Setelah anak lahir, pemantauan pertumbuhan dan pemenuhan kebutuhan gizi juga tetap diperlukan. Selain itu, terdapat perbedaan kondisi antara wilayah perkotaan dan perdesaan yang dapat berkaitan dengan akses terhadap layanan kesehatan dan sumber daya lainnya. Hal ini membuat upaya pencegahan stunting perlu disesuaikan dengan kondisi masyarakat, karena kebutuhan dan hambatan yang dihadapi setiap wilayah belum tentu sama (Siramaneerat et al., 2024).

Pengetahuan orang tua, khususnya ibu, juga menjadi salah satu hal yang penting. Orang tua yang memahami kebutuhan gizi dan pertumbuhan anak akan lebih mudah memperhatikan pemenuhan kebutuhan tersebut dalam kehidupan sehari-hari. Kinasih dan Afifah (2024) menemukan bahwa edukasi stunting menggunakan media video berpengaruh terhadap peningkatan pengetahuan dan sikap ibu balita. Hasil tersebut menunjukkan bahwa penyampaian informasi kesehatan dapat menjadi salah satu bagian dari upaya pencegahan, terutama ketika informasi diberikan dengan cara yang mudah dipahami oleh masyarakat.

Pemerintah, tenaga kesehatan, institusi pendidikan, dan masyarakat memiliki peran masing-masing dalam menciptakan lingkungan yang mendukung kesehatan ibu dan anak. Bagi mahasiswa keperawatan, persoalan ini juga dapat menjadi ruang untuk ikut berkontribusi melalui kegiatan yang berkaitan dengan promosi dan pencegahan penyakit. Edukasi mengenai gizi, kesehatan ibu dan anak, serta pentingnya pemantauan pertumbuhan dapat menjadi bentuk kontribusi yang dapat dilakukan sesuai dengan bidang keilmuan.

Peran Mahasiswa Keperawatan dalam Pencegahan Stunting

Pencegahan stunting tidak hanya menjadi tanggung jawab pemerintah dan tenaga kesehatan. Mahasiswa keperawatan juga dapat ikut berkontribusi sesuai dengan pengetahuan dan keterampilan yang dipelajari selama perkuliahan. Salah satu hal yang dapat dilakukan adalah memberikan edukasi kesehatan kepada masyarakat, terutama mengenai pentingnya menjaga kesehatan ibu dan anak serta memenuhi kebutuhan gizi sejak masa kehamilan. Edukasi menjadi penting karena pengetahuan orang tua dapat memengaruhi cara mereka memenuhi kebutuhan dan melakukan pengasuhan terhadap anak. Penelitian Kinasih dan Afifah (2024) menunjukkan bahwa edukasi stunting menggunakan media video dapat meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu balita.

Mahasiswa keperawatan dapat terlibat dalam kegiatan edukasi melalui pengabdian masyarakat, kegiatan kampus, maupun kerja sama dengan Posyandu dan fasilitas kesehatan di lingkungan sekitar. Informasi yang disampaikan juga tidak harus selalu dalam bentuk penyuluhan formal. Mahasiswa dapat memanfaatkan media yang lebih sederhana dan mudah dipahami, seperti poster, video singkat, atau konten media sosial. Materi yang diberikan dapat disesuaikan dengan kebutuhan masyarakat, misalnya mengenai pemenuhan gizi ibu dan anak, pentingnya pemantauan pertumbuhan, atau pencegahan masalah kesehatan yang dapat memengaruhi tumbuh kembang anak.

Selain memberikan edukasi, mahasiswa keperawatan juga dapat membantu meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya pencegahan sejak dini. Berdasarkan Siregar et al. (2024), stunting berkaitan dengan faktor ibu, anak, dan lingkungan. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa pencegahan tidak cukup dilakukan ketika anak telah mengalami gangguan pertumbuhan. Perhatian terhadap kesehatan ibu, pemenuhan kebutuhan anak, serta kondisi lingkungan perlu dilakukan secara bersamaan. Melalui keterlibatan dalam kegiatan promotif dan preventif, mahasiswa keperawatan dapat menjadi bagian dari upaya untuk membantu masyarakat memahami pentingnya pencegahan stunting sejak awal.

Penutup

Pencegahan stunting perlu dilakukan secara berkelanjutan karena persoalan ini berkaitan dengan kesehatan dan perkembangan generasi di masa depan. Penanganannya tidak hanya bergantung pada pemerintah dan tenaga kesehatan, tetapi juga membutuhkan keterlibatan keluarga, masyarakat, dan mahasiswa. Mahasiswa keperawatan dapat berkontribusi melalui edukasi dan kegiatan promotif serta preventif sesuai bidang keilmuannya. Upaya pencegahan sejak dini menjadi penting untuk mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Dengan semakin banyak pihak yang terlibat, pencegahan stunting dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan sumber daya manusia yang sehat untuk mendukung Indonesia Emas 2045.

 

Daftar Pustaka

Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2025, 26 Mei). SSGI 2024: Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%. Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. SSGI 2024: Prevalensi stunting nasional turun menjadi 19,8%

Kementerian PPN/Bappenas. (2023, 15 Juni). Luncurkan rancangan akhir RPJPN 2025–2045, Presiden paparkan visi Indonesia Emas 2045. Bappenas. Luncurkan rancangan akhir RPJPN 2025–2045, Presiden paparkan visi Indonesia Emas 2045

Kinasih, A. D., & Afifah, C. A. N. (2024). Eduting (edukasi stunting) dengan media video untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap ibu balita di Desa Ngepung Kabupaten Nganjuk. Nutrizione: Nutrition Research and Development Journal, 3(3), 66–75.

Siramaneerat, I., Astutik, E., Agushybana, F., Bhumkittipich, P., & Lamprom, W. (2024). Examining determinants of stunting in urban and rural Indonesia: A multilevel analysis using the population-based Indonesian Family Life Survey (IFLS). BMC Public Health, 24, Article 1371.

Siregar, R. J., Harahap, M. L., & Suryani, E. (2024). Determinants of stunting among children under five years in Indonesia: Evidence from the 2021–2022 demographic and health survey. International Journal of Public Health Excellence, 3(2), 666–676.

 

Penulis adalah Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UMPP

Terkait
Pemalang masuk dalam 100 desa prioritas penanganan gizi buruk stunting

Pemalang, Wartadesa. - Kabupaten Pemalang masuk dalam 100 desa dari 10 kabupaten prioritas penanganan stunting (gizi buruk yang menyebabkan balita Read more

Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : stuntingumpp