Pekalongan, Warta Desa, 1 April 2026. – Memasuki usia ke-120 tahun, Kota Pekalongan diharapkan tidak hanya terjebak dalam euforia seremonial semata. Pimpinan Cabang Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PC IMM) Pekalongan Raya menegaskan bahwa momentum hari jadi ini harus menjadi titik balik untuk melakukan pembenahan kota secara lebih serius dan mendalam.
IMM memberikan apresiasi terhadap kemajuan yang telah dicapai Pemerintah Kota Pekalongan, khususnya pada sektor ekonomi kreatif serta penguatan identitas sebagai Kota Batik. Namun, di balik capaian tersebut, IMM menilai masih banyak persoalan mendasar yang menghantui masyarakat, mulai dari masalah lingkungan hingga kesejahteraan.
Solusi Konkret untuk Persoalan Klasik
Ketua IMM Pekalongan menekankan bahwa di usia yang sudah lebih dari satu abad, seharusnya Kota Pekalongan sudah memiliki solusi konkret terhadap masalah menahun, terutama bencana banjir rob yang terus terjadi. Ia menegaskan bahwa usia 120 tahun bukan lagi usia yang muda, sehingga dampak penanganan masalah klasik tersebut harus sudah dirasakan langsung oleh masyarakat.
Selain itu, IMM menilai bahwa pembangunan kota perlu lebih fokus pada kebutuhan warga sehari-hari dan bukan hanya pada aspek fisik atau tampilan kota. Hal ini mencakup penataan lingkungan yang lebih baik serta peningkatan kualitas hidup masyarakat yang masih membutuhkan perhatian dalam sektor ekonomi.
Dorongan Partisipasi Publik
Lebih lanjut, IMM mendorong pemerintah daerah agar lebih responsif terhadap aspirasi masyarakat. Ruang partisipasi publik diharapkan dapat dibuka lebih luas, khususnya bagi generasi muda agar dapat berkontribusi dalam menentukan arah kebijakan kota ke depan.
Melalui semangat hari jadi ke-120 ini, IMM Pekalongan Raya berharap pemerintah mampu membawa perubahan nyata. Target utamanya adalah mewujudkan Kota Pekalongan yang tidak hanya berkembang secara infrastruktur, tetapi juga mampu menghadirkan keadilan, kenyamanan, dan kesejahteraan bagi seluruh lapisan warganya. (Nanang)










