Oleh: Diva Safitri Putriani
Pendahuluan
Kesehatan merupakan salah satu fondasi penting dalam membangun masa depan suatu bangsa. Masyarakat yang sehat memiliki kesempatan lebih besar untuk belajar, berkembang, bekerja, dan berkontribusi bagi lingkungan serta negaranya. Kesehatan tidak hanya berkaitan dengan terbebas dari penyakit, tetapi juga mencakup kesejahteraan fisik, mental, dan sosial. Oleh karena itu, menciptakan masyarakat yang sehat bukan hanya menjadi tanggung jawab tenaga kesehatan, tetapi membutuhkan kepedulian dan kontribusi dari seluruh lapisan masyarakat, termasuk generasi muda.
Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera. SDG 3 bertujuan memastikan kehidupan yang sehat serta meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang di segala usia. Salah satu upaya untuk mendukung tujuan tersebut adalah meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap kesehatan, mendorong pencegahan penyakit, serta memastikan masyarakat mampu memperoleh dan memahami informasi kesehatan yang dapat dipercaya.
Namun, kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak dini masih menjadi tantangan. Sebagian masyarakat masih memandang kesehatan hanya sebagai sesuatu yang perlu diperhatikan ketika seseorang telah mengalami sakit. Padahal, banyak masalah kesehatan yang dapat diminimalkan melalui kebiasaan hidup sehat dan tindakan pencegahan. Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah memperoleh informasi kesehatan. Hanya dengan menggunakan telepon genggam, berbagai informasi dapat ditemukan dalam waktu singkat. Kemudahan tersebut menjadi peluang, tetapi juga menghadirkan tantangan karena tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan.
Kemampuan seseorang untuk menemukan, memahami, menilai, dan menggunakan informasi kesehatan secara tepat merupakan bagian dari literasi kesehatan. WHO menjelaskan bahwa literasi kesehatan berperan dalam membantu seseorang mengambil keputusan yang mendukung kesehatan dan kesejahteraannya. Karena itu, masyarakat tidak cukup hanya memiliki akses terhadap informasi, tetapi juga perlu memiliki kemampuan untuk memahami dan menilai informasi tersebut.
Pembahasan
Dalam kondisi tersebut, mahasiswa sebagai bagian dari generasi muda memiliki peluang untuk ikut mengambil peran. Mahasiswa tidak hanya memiliki posisi sebagai penerima ilmu di lingkungan perguruan tinggi, tetapi juga dapat menjadi penggerak perubahan di tengah masyarakat. Terlebih bagi mahasiswa baru, masa awal perkuliahan dapat menjadi titik awal untuk membangun karakter sebagai generasi yang tidak hanya berorientasi pada pencapaian akademik, tetapi juga memiliki kepedulian terhadap permasalahan di sekitarnya.
Sebagai mahasiswa keperawatan, misalnya, ilmu yang dipelajari tidak hanya berkaitan dengan tindakan ketika seseorang mengalami sakit. Keperawatan juga memiliki peran dalam upaya promotif dan preventif, yaitu meningkatkan kesadaran kesehatan serta membantu mencegah terjadinya masalah kesehatan. Pengetahuan tersebut dapat menjadi bekal bagi mahasiswa untuk berkontribusi melalui edukasi sederhana kepada teman sebaya, keluarga, maupun masyarakat. Mahasiswa tidak perlu menunggu menjadi tenaga kesehatan profesional untuk mulai melakukan hal-hal positif. Perubahan dapat dimulai dari lingkungan terdekat sesuai dengan kapasitas dan peran sebagai mahasiswa.
Perkembangan teknologi digital kemudian dapat menjadi salah satu sarana untuk memperluas kontribusi tersebut. Saat ini, media sosial telah menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda. Informasi dapat dikemas dalam bentuk video singkat, infografis, tulisan, maupun berbagai bentuk konten kreatif lainnya. Kondisi ini membuka peluang bagi mahasiswa untuk menjadikan teknologi bukan hanya sebagai sarana hiburan, tetapi juga sebagai media edukasi dan gerakan sosial.
Pemanfaatan teknologi dan inovasi tersebut juga dapat dikaitkan dengan SDG 9, yaitu Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. SDG 9 mendorong pengembangan teknologi, inovasi, serta kemampuan penelitian sebagai bagian dari pembangunan berkelanjutan. Dalam konteks mahasiswa, penerapannya tidak harus selalu berupa teknologi yang rumit. Mengubah cara menyampaikan edukasi kesehatan melalui media digital secara kreatif juga dapat menjadi bentuk inovasi sederhana yang memberikan manfaat.
Hal ini sejalan dengan arah transformasi kesehatan di Indonesia yang juga memasukkan teknologi kesehatan sebagai salah satu pilar. Kementerian Kesehatan menyebutkan bahwa transformasi teknologi kesehatan dilakukan untuk memanfaatkan teknologi informasi dan perkembangan digital dalam bidang kesehatan. Artinya, generasi muda memiliki ruang untuk ikut berkembang bersama perubahan tersebut dengan memanfaatkan teknologi secara bijak dan bertanggung jawab.
Gagasan/Aksi Mahasiswa
Salah satu gagasan yang dapat dilakukan oleh mahasiswa baru adalah membangun gerakan “Generasi Baru Sehat dan Cerdas Digital”. Gerakan ini merupakan upaya sederhana yang menggabungkan edukasi kesehatan, kreativitas mahasiswa, dan pemanfaatan teknologi digital untuk mendukung SDG 3 sekaligus mengenalkan semangat inovasi yang berkaitan dengan SDG 9.
Gerakan tersebut dapat dimulai dari lingkungan kampus. Mahasiswa dapat membuat konten edukasi kesehatan yang dekat dengan kehidupan sehari-hari mahasiswa dan generasi muda. Misalnya, edukasi mengenai pentingnya menjaga kebersihan diri dan lingkungan, aktivitas fisik, pola makan yang sehat dan seimbang, istirahat yang cukup, kesehatan mental, pencegahan penyakit, serta pentingnya mencari bantuan tenaga kesehatan ketika mengalami masalah kesehatan.
Konten tersebut dapat dikemas secara kreatif melalui video singkat, infografis, poster digital, maupun kampanye media sosial. Mahasiswa keperawatan dapat berperan dalam menyusun informasi berdasarkan ilmu yang dipelajari dan sumber yang dapat dipercaya. Mahasiswa dari bidang lain juga dapat berkolaborasi melalui kemampuan desain, komunikasi, teknologi, maupun organisasi. Dengan demikian, sebuah gerakan kesehatan tidak hanya menjadi tugas mahasiswa kesehatan, tetapi dapat menjadi gerakan bersama mahasiswa dari berbagai bidang keilmuan.
Gerakan ini juga dapat dikembangkan menjadi kegiatan sederhana di lingkungan kampus, seperti “Satu Mahasiswa, Satu Aksi Sehat”. Setiap mahasiswa dapat melakukan satu tindakan nyata yang mendukung kesehatan, kemudian mengajak orang lain untuk melakukan hal serupa. Aksinya dapat berupa menjaga kebersihan lingkungan kampus, mengajak teman menerapkan kebiasaan hidup sehat, membuat edukasi kesehatan, atau mengadakan kampanye literasi informasi kesehatan.
Hal terpenting dari gerakan tersebut bukanlah seberapa besar kegiatan yang dilakukan, melainkan keberlanjutan dan dampaknya. Mahasiswa tidak harus membuat program yang membutuhkan biaya besar. Dengan memanfaatkan teknologi yang sudah tersedia, kreativitas, serta kerja sama antarmahasiswa, gerakan tersebut dapat dilakukan secara sederhana tetapi tetap memberikan manfaat. Teknologi menjadi alat untuk memperluas jangkauan, sedangkan mahasiswa menjadi penggerak yang memberikan isi dan tujuan dari inovasi tersebut.
Dalam menjalankan gerakan ini, mahasiswa juga harus bertanggung jawab terhadap informasi yang disampaikan. Informasi kesehatan perlu berasal dari sumber yang dapat dipercaya dan disampaikan dengan bahasa yang mudah dipahami. Mahasiswa juga perlu memahami batas perannya sehingga edukasi yang diberikan tidak menggantikan diagnosis atau pelayanan dari tenaga kesehatan profesional. Dengan demikian, pemanfaatan teknologi tidak hanya menghasilkan konten yang menarik, tetapi juga membantu masyarakat memperoleh informasi kesehatan yang lebih aman dan bermanfaat.
Gerakan tersebut dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi generasi muda menuju Indonesia Emas 2045. Indonesia membutuhkan generasi yang tidak hanya memiliki kemampuan akademik, tetapi juga memiliki kepedulian, kreativitas, kemampuan berkolaborasi, serta keberanian untuk menciptakan perubahan. Generasi yang sehat akan memiliki fondasi yang lebih baik untuk belajar, berkarya, dan berkontribusi dalam pembangunan bangsa.
Penutup
Mewujudkan kehidupan yang sehat dan sejahtera tidak selalu harus dimulai dari langkah yang besar. Perubahan dapat dimulai dari hal sederhana, seperti meningkatkan kesadaran diri, menjaga kesehatan, menyebarkan informasi yang benar, serta mengajak orang lain untuk melakukan kebiasaan positif. Dalam hal ini, mahasiswa baru sebagai bagian dari generasi baru memiliki kesempatan untuk mulai bergerak sejak awal perjalanan mereka di perguruan tinggi.
Melalui gerakan “Generasi Baru Sehat dan Cerdas Digital”, mahasiswa dapat menggabungkan ilmu, kreativitas, teknologi, dan kepedulian sosial untuk mendukung SDG 3: Kehidupan Sehat dan Sejahtera, sekaligus menghadirkan semangat inovasi yang selaras dengan SDG 9: Industri, Inovasi, dan Infrastruktur. Teknologi tidak seharusnya hanya menjadi alat untuk mengikuti perkembangan zaman, tetapi juga dapat digunakan untuk menciptakan manfaat bagi masyarakat.
Generasi baru bukan hanya generasi yang akan mewarisi masa depan, tetapi generasi yang mulai membentuk masa depan sejak hari ini. Dengan berani belajar, bergerak, berinovasi, dan berkolaborasi, mahasiswa dapat menjadi bagian dari perubahan menuju masyarakat yang lebih sehat dan Indonesia yang lebih maju. Dari satu mahasiswa, satu aksi, dan satu perubahan kecil, dapat tumbuh gerakan besar menuju Indonesia Emas 2045.
Data Referensi
Jasmine, Izza Luria Putri, and Farida Nurul Rahmawati. “INFLUENCER DIGITAL SEBAGAI AGEN KOMUNIKASI KESEHATAN STUDI PERAN dr. TIRTA DI ERA MEDIA SOSIAL.” Jurnal Media Akademik (JMA) 3.6 (2025).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Pedoman Pembinaan Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS). Jakarta: Kementerian Kesehatan Republik Indonesia.
Tunny, Rahma, et al. “Peran Tenaga Kesehatan Masyarakat dalam Era Digital: Tinjauan Naratif tentang Pemerataan Layanan Kesehatan pada Populasi Rentan.” Journal of Healthcare Technology and Medicine 11.1 (2025): 348-355.
United Nations. Sustainable Development Goals: Goal 3 – Good Health and Well-being. SDGs
United Nations. Sustainable Development Goals: Goal 9 – Industry, Innovation and Infrastructure. SDGs
World Health Organization. (2022). Primary health care: An integrated approach for delivering universal health coverage with a focus on social justice, equity, and solidarity.
Penulis adalah Mahasiswa D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)










