Oleh: Soleha
Indonesia Emas 2045 bukan hanya tentang kemajuan teknologi, ekonomi dan pembanguan infrastruktur. Di balik kemajuan tersebut, terdapat hal yang tidak boleh diabaikan, yaitu kesehatan masyarakat. Masyarakat yang sehat adalah modal yang sangat penting bagi Indonesia untuk memiliki sumbar daya manusia yang produktif, mampu bersaing, dan berkualitas. Nah oleh karena itu, pembangunan kesehatan perlu menjadi perhatian bersama, termasuk bagi mahasiswa sebagai generasi muda dan dan penerus bangsa.
Hal ini berkaitan dengan Sustainble Development Goals (SDGs), khususnya tujuan ketiga yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). SDGs adalah tujuan pembangunan berkelanjutan yang ingin dicapai agar menciptakan kehidupan yang lebih baik untuk masyarakat. Dalam hal kesehatan, masih ada berbagai masalah yang harus diperhatikan, seperti contohnya masalah penyakit, kurangnya kesadaran untuk menjaga kesehatan, gizi serta belum meratanya pemahaman masyarakat mengenai informasi kesehatan.
Salah satu masalah yang masih sangat menjadi perhatian yaitu stunting pada anak. Berdasarkan data Kementerian Kesehatan, persentase stunting balita di Indonesia pada tahun 2023 masih berada di angka 21,5%. Meskipun angka stunting sudah mengalami penurunan, masalah tersebut tetap membutuhkan perhatian dikarenakan pertumbuhan serta perkembangan anak sangat berpengaruh terhadap kualitas sumber daya manusia di era masa depan. Masalah kesehatan seperti ini tidak hanya bisa diselesaikan ketika seseorang sudah sakit, tetapi harus perlu dicegah sejak awal melalui pengetahuan serta kebiasaan hidup yang baik.
Di sisi lain, perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah mendapatkan informasi soal kesehatan. Hanya dengan menggunakan handphone, seseorang bisa mencari informasi tentang penyakit, obat, makanan, maupun cara menjaga kesehatan. Tetapi, kemudahan seperti itu juga memiliki sisi lain. Tidak semua informasi yang ada di media sosial benar. Karena terkadang masyarakat lebih mudah percaya pada informasi yang sering muncul atau dibagaikan oleh orang lain tanpa mencari tau kebenarannya terlebih dahulu. Hal ini dapat menjadi masalah apabila informasinya salah kemudian diterapkan dalam kehidupan sehari- hari.
Menurut saya, kondisi tersebut menjadi salah satu alasan mahasiswa dapat ikut mengambil peran. Dan tentunya mahasiswa tidak perlu menunggu lulus agar bisa berkontribusi serta memberikan manfaat kepada masyarakat. Selama masa perkuliahan, mahasiswa sudah mendapatkan pengetahuan yang bisa dibagikan kepada orang lain. Terlebih bagi mahasiswa keperawatan, ilmu yang dipelajari sangat dekat dengan kehidupan masyarakat sehari- hari.
Sebagai mahasiswa S1 Keperawatan, salah satu hal yang ingin saya lakukan adalah ikut meningkatkan kesadaran masyarakat mengenai pentingnya menjaga kesehatan. Hal ini bisa dilakukan melalui edukasi yang sederhana, seperti contohnya edukasi tentang pola hidup bersih dan sehat, makanan yang bergizi, aktivitas fisi, kebersihan lingkungan, pencegahan penyakit, serta pentingnya memeriksakan diri ketika mengalami masalah kesehatan. Edukasi tidak harus diakukan dengan cara terlalu formal. Mahasiswa bisa menggunakan bahasa yang lebih sederhana biar informasi lebih mudah diterima oleh masyarakat.
Media sosial juga bisa dimanfaatkan sebagai tempat untuk menyampaikan informasi kesehatan. Mahasiswa bisa membuat konten sederhana, seperti contohnya poster, video pendek, atau tulisan tentang kesehatan. Misalnya, bikin konten tentang cara menjaga kebersihan tangan, pentingnya sarapan dan makanan bergizi, atau cara membedakan informasi kesehatan yang bisa dipercaya. Hal sederhana seperti itu mungkin terlihat sederhana, tetapi ketika dilakukan secara terus menerus dan dibagikan ke banyak orang, manfaatnya jadi lebih luas.
Selain melalui media sosial, mahasiswa juga bisa terlibat langsung dalam kegiatan di masyarakat. Seperti melalui kegiatan pengabdian masyarakat, mahasiswa bisa membantu memberikan edukasi kesehatan kepada anak-anak, remaja, orang tua, maupun kelompok masyarakat yang lain. Kegiatan seperti penyuluhan kesehatan, kerja bakti, kampanye mengenai hidup sehat, atau kegiatan lainnya bisa menjadi pengalaman bagi mahasiswa sekaligus memberikan manfaat bagi masyarakat.
Saya juga berpikir bahwa kegiatan seperti ini akan lebih baik jika dilakukan bersama-sama. Mahasiswa dari berbagai program studi dapat bekerja sama karena masalah kesehatan tidak hanya berkaitan dengan satu bidang saja. Mahasiswa keperawatan dapat berfokus pada edukasi kesehatan, sementara mahasiswa dari bidang lainnya bisa membantu dari sisi teknologi, komunikasi, lingkungan, atau bidang yang sesuai. Dengan kerja sama tersebut, kegiatan yang dilakukan bisa menjadi lebih menarik dan tidak hanya berhenti sebagai kegiatan sesaat.
Salah satu gagasan yang dapat dilakukan di lingkungan kampus adalah membuat gerakan sederhana seperti “Mahasiswa Peduli Kesehatan”. Gerakan tersebut bisa berisi kegiatan seperti edukasi kesehatan, kampanye melalui media sosial, kegiatan menjaga kebersihan lingkungan, serta pengabdian kepada masyarakat. Kegiatan ini tidak perlu selalu besar, sederhana saja yang terpenting adalah dilakukan secara konsisten dan benar benar bisa memberikan manfaat. Dari kegiatan seperti ini, mahasiswa juga bisa belajar bagaimana caranya berkomunikasi dengan baik kepada masyarakat serta memahami masalah yang ada di sekitar.
Bagi saya, menjadi mahasiswa keperawatan bukan hanya tentang belajar teori dan keterampilan untuk mendapatkan nilai yang baik saja. Mahasiswa keperawatan nantinya pasti akan berhadapan langsung dengan masyarakat. Oleh karena itu, sejak sekarang mahasiswa harus belajar untuk peduli, mampu berkomunikasi, bekerja sama, dan memberikan edukasi dengan baik. Seorang perawat tidak hanya berperan ketika pasien sedang sakit, tetapi juga bisa membantu seseorang menjaga kesehatannya dan mencegah terjadinya penyakit.
Tentu saja, mahasiswa tidak dapat menyelesaikan semua masalah kesehatan yang ada di Indonesia sendirian. Pemerintah, tenaga kesehatan, perguruan tinggi, keluarga, serta masyarakat juga memiliki peran tersendiri. Akan tetapi, mahasiswa tetap bisa menjadi bagian dari perubahan tersebut. Setidaknya, mahasiswa bisa memulai dari dirinya sendiri, setelah itu mengajak orang di sekitarnya untuk lebih bisa peduli terkait kesehatan.
Menurut saya, Indonesia Emas 2045 harus dipersiapkan mulai dari saat ini. Generasi muda yang sehat akan menjadi salah satu modal penting untuk mewujudkan hal tersebut. Oleh karena itu, sebagai mahasiswa keperawatan, saya ingin ikut serta dalam upaya mencapai hal tersebut, melalui hal hal sederhana yang bisa saya lakukan selama masa kuliah. Belajar dengan sungguh sungguh, membagikan informasi mengenai soal kesehatan dengan benar, mengikuti kegiatan pengabdian, dan peduli terhadap kesehatan masyarakat merupakan beberapa langkah yang bisa dilakukan.
Pada akhirnya, mencapai kehidupan yang sehat dan sejahtera bukan hanya tugas pemerintah atau tenaga kesehatan. Mahasiswa juga bisa ikut berkontribusi sesuai dengan kemampuan dan bidang yang dipelajari. Mungkin kontribusi mahasiswa terlihat kecil sederhana, akan tetapi jika dilakukan bersama dan rutin, hal itu dapat memberikan manfaat serta perubahan. Saya percaya bahwa Indonesia Emas 2045 bisa dimulai dari generasi muda yang mau peduli dan bergerak. Sebagai mahasiswa keperawatan, saya ingin menjadi salah satu bagian dari generasi tersebut dan ikut serta dalam mendukung tercapainya SDGs, khususnya dalam mewujudkan Indonesia yang lebih sehat dan sejahtera.
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Profil Kesehatan Indonesia 2023. Jakarta: Kementerian Kesehatan RI.
Kementerian PPN/Bappenas. (2023). Peta Jalan Tujuan Pembangunan Berkelanjutan 2023-2030. Jakarta: Kementerian PPN/Bappenas.
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Prodi S1 Keperawatan dengan NIM 202602030047 Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)










