Oleh: Elsa Awalita
Memasuki dunia perkuliahan sebagai mahasiswa baru tentu saja mengalami banyak perubahan , kami belajar beradaptasi. Bukan hanya tentang kegiatan seperti PORMABA atau MASTA. Disini kami juga belajar untuk lebih mandiri,berteman dengan orang baru , membangun rutinitas baru. Terutama bagi para mahasiswa yang merantau dan tinggal di kos, tantangannya akan lebih terasa. Jauh dari keluarga,keterbatasan uang saku,jadwal kuliah yang padat , banyaknya tugas sehingga minim waktu untuk memasak. Mahasiswa baru harus belajar tentang tanggung jawab pada dirinya sendiri dan belajar cara mengelola uang dan waktu dengan baik agar kebutuhan akan diri sendiri dapat terpenuhi,terutama tentang makan.
Ketika mendengar istilah “Tanpa Kelaparan“,Sebagian orang mungkin langsung tergambar tentang satu kelompok masyarakat yang kelaparan dan tidak punya makanan sama sekali. Padahal menurut saya persoalannya tidak selalu sekompleks itu dan jauh lebih luas. Tujuan 2 Sustainable Development Goals (SDGs) tidak hanya berfokus pada mengakhiri kelaparan, perbaikan gizi ,mencapai ketahanan pangan dan mendorong pertanian berkelanjutan.Dengan demikian konsep “Tanpa Pangan” disini bukan berarti sekedar memastikan seseorang bisa makan tapi juga berarti memastikan makanan cukup tersedia dan dapat dijangkau.
Permasalahan tentang pangan masih menjadi tantangan di indonesia . Menurut data Badan Pangan Nasional menunjukkan bahwa pada 2025 prevalensi ketidakcukupan konsumsi pangan di indonesia berada pada angka 7,85 % atau sekitar 22,67% juta penduduk. Indikator ini menunjukkan masyarakat Indonesia energinya berada dibawah batas kebutuhan minimum untuk hidup sehat dan aktif. Angka ini juga menunjukkan bahwa persoalan ini dekat dengan kita.
Hal ini terkait dengan kehidupan mahasiswa baru. Kehidupan mahasiswa baru identik dengan jadwal yang padat . Ada kegiatan seperti pindahan ke kos, kuliah , kegiatan pendaftaran organisasi, PORMABA, hingga aktifitas lainya bersama teman. Banyaknya kegiatan tersebut terkadang membuat para Mahasiswa baru melewatkan urusan makan . Ada yang melewatkan makan karena sudah terlambat,ada tipe orang yang picky eater,atau juga karna hanya sebatas malas dan lupa. Padahal makan sendiri sangat penting bagi seorang mahasiswa, Ahli Gizi UGM, Dr. Mirza Hapsari Sakti Titis Penggalih, S.Gz., M.P,H., RD., menjelaskan mengapa sarapan penting untuk dilakukan. Salah satunya, sarapan menjadi sumber energi atau penyedia bahan bakar bagi tubuh untuk beraktivitas di siang hari.Tubuh membutuhkan asupan yang cukup agar dapat menjalankan kegiatan kuliah dengan baik dan lancar.
Disinilah konsep “Tanpa Kelaparan’ dapat kita mulai sebagai seorang mahasiswa baru.
Menurut WHO, pola makan perlu memperhatikan kecukupan , keseimbangan , keberagaman, dan modernisasi,dan keragaman harus menjadi dasar dari setiap pola makan sehat. Agar sehat , pola makan terbebas dari kontamin mikroba dan bahan kimia menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan . Artinya mahasiwa tidak harus mengkonsumsi makanan yang mahal, cukup dengan mengkonsumsi real food dengan kadungan karbohidrat, protein , sayur, dan buah sudah menjadi langkah kecil yang berarti.
Sebagai mahasiswa S1 Keperawatan, persoalan ini menjadi lebih relevan. Keperawatan bertanggung jawab bukan hanya merawat pasien tetapi juga menjaga dan meningkatkan kesehatan masyarakat. Seorang perawat sudah pasti harus paham pengetahuan tentang gizi dan pola hidup sehat ,sehingga dapat mengedukasi para pasien nantinya . WHO juga menjelaskan bahwa kebiasaan sarapan pagi dari kecil dapat terbawa hingga masa dewasa.Bayangkan jika banyak masyarakat yang menerapkan kebiasaan sarapan pagi , mungkin angka kesehatan dan kesejahteraan pangan akan meningkat.
Oleh karena itu menurut saya mahasiswa bahkan masyarakat sekalipun dapat berpartisipasi dalam pembenahan masalah pangan di Indonesia.Semua orang memiliki kesempatan yang sama, dengan belajar kebiasan kecil yaitu sarapan pagi. Langkah sederhana dapat dimulai dengan membiasakan diri tidak menyia nyiakan makanan , makan makanan yang bergizi, juga berbagi makanan bersama orang lain , seperti berbagi nasi kotak setiap hari jumat atau juga sesederhana berbagi bekal dengan teman sendiri.
Lebih detailnya lagi, semangat ‘Tanpa Pangan” dapat diterapkan dalam kegiatan PORMABA atau kegiatan lainya , panitia dapat menyediakan makan siang bagi para mahasiswa peserta dengan mempertimbangkan penyedian makanan yang cukup secara porsi, bergizi, dan tidak berlebihan.
Mahasiswa juga dapat menggunakan berbagai perantara untuk mengedukasi , tidak harus selalu edukasi secara langsung tetapi juga bisa lewat medsos. Mahasiswa dapat membuat konten sederhan dengan menjelaskan konteks tersebut.Dengan kekuatan generasi muda (Gen z) menggunakan teknologi , pesan mengenai ketahanan pangan dapat didengar oleh lebih banyak orang. Pada akhirnya . mewujudkan SDGs Tujuan 2 bukan hanya tanggung jawab pemerintah atau Lembaga tertentu. Mahasiswa juga bisa berpartisipasi .Dari kebiasaan makan yang lebih baik menjadi Langkah kecil menuju tujuan yang lebih besar.
Tanpa kelaparan tidak harus selalu diselesikan dengan sesuatu yang besar . Dari sepiring nasi Sebagai mahasiswa baru Langkah kecil tersebut menjadi awal untuk membangun generasi yang tidak hanya cerdas secara akademik , tapi juga sehat,peduli,dan mampu memberi manfaat. Karena masa depan Indonesia Emas 2045 bukan hanyak tentang seberapa tinggi pendidikan yang dicapai , tetapi juga tentang seberapa besar kepedulian kita terhadap kesehatan dan kesejahteraan masyarakat Indonesia.
DAFTAR PUSTAKA
Badan Pangan Nasional (2026) . Jumblah Penduduk yang mengalami Ketidakcukupan Konsumsi Pangan Nasional Update Tahun 2025 . Badan Pangan Nasional
World Health Organization. (2026). Healthy diet.
https://www.who.int/news-room/fact-sheets/detail/healthy-diet?utm_source=chatgpt.com
Universitas Gadjah Mada. (2022, 24 Februari). Pakar UGM tekankan pentingnya sarapan bagi kesehatan tubuh. Universitas Gadjah Mada.
https://ugm.ac.id/id/berita/22310-pakar-ugm-tekankan-pentingnya-sarapan-bagi-kesehatan-tubuh/
Penulis adalah Mahasiswa Fakultas Ilmu Kesehatan, Prodi S1 Keperawatan dengan NIM 202602030035, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)










