close
KesehatanOpini

Inovasi Sehat untuk Diabetes: Peran Multigrain, Umbi Yakon, dan Daun Kelor dalam Menjaga Gula Darah

foto

Oleh : Elisa Issusilaningtyas

Diabetes mellitus telah menjadi ancaman kesehatan global yang serius, dengan prevalensi terus meningkat di seluruh dunia. Di tengah keterbatasan akses obat-obatan dan efek samping yang tidak diinginkan, masyarakat kini mulai melirik kembali kepada kearifan alam. Penderita diabetes perlu menjaga kadar gula darah agar tetap stabil, dan salah satu cara yang bisa dilakukan adalah dengan memilih makanan yang tepat. Salah satunya adalah inovasi makanan sehat yang menggabungkan tiga bahan alami multigrain, umbi yakon, dan daun kelor muncul sebagai inovasi sehat yang menjanjikan dalam membantu mengontrol kadar gula darah penderita diabetes.

Multigrain adalah campuran berbagai biji-bijian seperti gandum, jagung, dan beras merah. Biji-bijian ini kaya akan serat dan karbohidrat kompleks yang dicerna lebih lambat oleh tubuh, sehingga dapat membantu mencegah lonjakan gula darah setelah makan. Penelitian komprehensif menunjukkan bahwa konsumsi multigrain secara signifikan dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan hemoglobin terglikasi (HbA1c) pada penderita diabetes. Studi meta-analisis yang melibatkan berbagai uji klinis menemukan bahwa asupan 50 gram multigrain per hari dapat mengurangi risiko diabetes tipe 2 hingga 24%. Penelitian terbaru mengungkapkan bahwa proporsi multigrain yang lebih tinggi dalam sumber karbohidrat berkorelasi negatif dengan fluktuasi glukosa darah setelah makan. Para ahli merekomendasikan asupan harian lebih dari 150 gram bahan multigrain sebagai pendekatan preventif untuk diabetes. Intervensi dengan berbagai jenis multigrain terbukti lebih efektif dibandingkan konsumsi tunggal satu jenis biji-bijian saja

Umbi yakon (Smallanthus sonchifolius), tanaman asal Amerika Selatan yang kini mulai dikenal luas, memiliki potensi luar biasa sebagai agen antidiabetes. Penelitian menunjukkan bahwa ekstrak air dari berbagai bagian tanaman yakon dapat meningkatkan toleransi glukosa secara signifikan. Ekstrak daun yakon mampu menurunkan indeks glikemik terintegrasi hingga 30,2%, sementara ekstrak umbi menunjukkan efek yang lebih kuat dengan penurunan mencapai 39,4%. Keunggulan yakon terletak pada kandungan fruktooligosakaridasnya yang tinggi sekitar 70-80% dari komposisinya yang berfungsi sebagai prebiotik alami. Senyawa bioaktif dalam yakon, terutama ester asam caffeic, berkontribusi pada efek hipoglikemik yang telah diakui secara luas dalam komunitas ilmiah. Umbi ini tidak hanya membantu menurunkan gula darah, tetapi juga memodulasi sistem imun dan meningkatkan kesehatan pencernaan.

Daun kelor (Moringa oleifera) yang mudah ditemukan di Indonesia ternyata menyimpan khasiat menakjubkan untuk penderita diabetes. Studi klinis menunjukkan bahwa suplementasi daun kelor dapat menurunkan kadar glukosa darah puasa dan HbA1c secara bermakna. Dalam sebuah penelitian quasi-eksperimental, konsumsi jus daun kelor selama tujuh hari berturut-turut mampu menurunkan kadar gula darah rata-rata sebesar 15,7 mg/dL pada pasien diabetes tipe 2. Lebih menggembirakan lagi, terapi rebusan daun kelor terbukti efektif menurunkan kadar gula darah dan HbA1c dengan nilai signifikansi yang tinggi. Kandungan flavonoid, beta-karoten, vitamin C, dan senyawa bioaktif lainnya dalam daun kelor bekerja sebagai agen antihiperglikemik alami yang membantu meningkatkan sensitivitas insulin dan mengatur metabolisme karbohidrat

Kombinasi olahraga aerobik dengan suplementasi daun kelor bahkan menunjukkan efek sinergis yang superior dalam meningkatkan kontrol glikemik, profil lipid, dan kadar adiponektin pada pasien diabetes tipe 2.

Sinergi multigrain diperkaya umbi yakon, dan daun kelor bisa menjadi alternatif yang aman dan alami dalam pengelolaan diabetes untuk membantu mengatur kadar gula darah. Multigrain menyediakan karbohidrat kompleks yang melepas energi bertahap membantu menjaga kestabilan gula darah dengan serat dan karbohidrat kompleks, sementara umbi yakon menambah rasa manis alami plus prebiotik, dan kelor memberikan vitamin serta senyawa bioaktif pelindung. Formulasi tepat menghasilkan produk dengan indeks glikemik rendah (52-56), tinggi protein (11,2-14,3%), tinggi serat (9,1-11,6%), dan kaya antioksidan dengan konsep “makanan sebagai obat” dalam filosofi pengobatan tradisional. ***

Penulis adalah Mahasiswa Prodi S3 Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Dosen Farmasi Universitas Al-Irsyad Cilacap

Terkait
Gathering Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia

Bekasi, Wartadesa. – Pejuang Myasthenia Gravis Indonesia (PMGI) yang berdiri pada tahun 2016 yang lalu, menyelenggarakan Gathering dan Silaturrahim perdana Read more

Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Sejumlah orang tua tolak vaksinasi Rubella

Pekalongan Kota, Wartadesa. -  Setidaknya 15 orang tua siswa di beberapa SD di wilayah Kota Pekalongan menolak anaknya diimunisasi Measles Read more

Kasus HIV/AIDS di Kota Santri capai 40

Kajen, Wartadesa. - Kasus HIV/AIDS di Kota Santri sejak Januari hingga Juni 2017, meningkat tajam dibanding tahun sebelumnya. Komisi Penanggulangan Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : diabetes melitusuaduniversitas al irsyad