Oleh: Nikmah Nuur Rochmah
Peningkatan kasus diabetes melitus di Indonesia menjadi tantangan serius bagi kesehatan masyarakat, terutama di wilayah pedesaan dengan keterbatasan akses layanan kesehatan. Kondisi ini menuntut hadirnya inovasi yang tidak hanya efektif secara ilmiah, tetapi juga terjangkau, aman, dan sesuai dengan nilai-nilai masyarakat. Salah satu upaya yang berkembang adalah inovasi granul effervescent antidiabetes berbasis kombinasi umbi bit merah, jahe, batang sereh, dan buah nanas, yang dikaji dalam perspektif keilmuan Islam dan kearifan alam.
Dalam pandangan Islam, alam semesta merupakan amanah dari Allah SWT yang mengandung tanda-tanda kebesaran-Nya (ayat kauniyah). Setiap tumbuhan diciptakan dengan fungsi dan manfaat bagi kehidupan manusia. Umbi bit merah dikenal kaya antioksidan alami, jahe memiliki aktivitas antiinflamasi dan pengatur metabolisme, sereh berpotensi mendukung keseimbangan metabolik, sedangkan nanas mengandung enzim alami yang membantu proses pencernaan. Kombinasi keempat bahan alam ini mencerminkan kearifan lokal yang selama berabad-abad telah dimanfaatkan masyarakat sebagai bagian dari pengobatan tradisional.
Keunggulan inovasi ini terletak pada bentuk sediaannya, yaitu granul effervescent. Bentuk ini dipilih karena praktis, mudah dikonsumsi, memiliki rasa yang lebih dapat diterima, serta memungkinkan penyerapan senyawa aktif secara lebih cepat. Dari sisi keilmuan farmasi, formulasi effervescent menunjukkan bagaimana ilmu pengetahuan modern dapat mengoptimalkan bahan alam tanpa menghilangkan karakter alaminya. Inilah wujud sinergi antara sains kontemporer dan pengetahuan tradisional yang berakar pada budaya masyarakat.
Dalam kajian filsafat ilmu Islam, inovasi ini dapat dipahami melalui tiga aspek utama. Secara ontologis, bahan alam dipandang sebagai ciptaan Tuhan yang memiliki hakikat dan potensi penyembuhan. Secara epistemologis, pengembangannya dilakukan melalui metode ilmiah—eksperimen, pengujian, dan pembuktian—yang sejalan dengan tradisi keilmuan Islam yang menjunjung tinggi akal dan observasi. Sementara itu, secara aksiologis, tujuan inovasi ini diarahkan pada kemaslahatan umat, yakni meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui solusi kesehatan yang aman dan terjangkau.
Lebih dari sekadar produk kesehatan, granul effervescent antidiabetes ini juga memiliki dimensi sosial dan ekonomi. Pemanfaatan bahan alam lokal membuka peluang pemberdayaan petani dan masyarakat desa, sekaligus mendorong kemandirian bangsa dalam pengembangan produk kesehatan berbasis sumber daya sendiri. Nilai ini sejalan dengan prinsip Islam tentang keadilan, keberlanjutan, dan tanggung jawab sosial dalam pemanfaatan ilmu pengetahuan.
Dengan demikian, inovasi granul effervescent dari umbi bit merah, jahe, batang sereh, dan buah nanas bukan hanya menjawab tantangan medis diabetes melitus, tetapi juga merepresentasikan wajah peradaban Islam yang berkemajuan—peradaban yang memadukan iman, ilmu, dan amal. Melalui kearifan alam dan keilmuan Islam, inovasi ini diharapkan dapat menjadi kontribusi nyata bagi kesehatan masyarakat sekaligus inspirasi bagi pengembangan sains yang beretika dan berorientasi pada kemaslahatan bersama. ***
Penulis adalah Mahasiswa Program Studi Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan Yogyakarta dan Mahasiswa Program Studi Sarjana Farmasi Universitas Al-Irsyad Cilacap










