close
OlahragaOpini

Refleksi 73 Tahun, Persekap Pekalongan dan Hal Mendasar yang Belum Usai

persekap
Pemain Persekap terjatuh saat laga persahabatan Persekap vs Kendal United, (31/08/2022). Foto: Buono/Wartadesa

Oleh : Supranoto

Tepat hari ini (kemarin_red), 73 tahun yang lalu, Persekap Kabupaten Pekalongan lahir. Sedikit sekali sejarah yang tertulis soal klub ini. Menghimpun talenta dan menjadi wakil Kabupaten Pekalongan di level kompetisi sepak bola nasional mungkin menjadi tugas paling dekat dengannya. Simpel nan mulia.

Soal prestasi, dalam satu dasawarsa klub berjuluk Laskar Ki Ageng Cempaluk ini paling banter membawa pulang piala Liga Nusantara Regional Jateng 2014. Lalu tumbang di babak 16 besar putaran nasional. Selebihnya mentok di putaran semifinal seperti musim 2017.

Selain itu, tim ini  justru acapakali bertarung di gelanggang kompetisi dengan visi dan misi yang tidak dapat dijelaskan oleh manajemen itu sendiri. Sekadar ikut, tapi tidak tau hendak berbuat apa di sana.

Mengkhawatirkan sekaligus menyedihkan, Persekap sebagai representasi warga Kota Santri–yang sangat mencintai sepak bola–seperti tidak memiliki gairah untuk berbicara banyak dalam liga bahkan naik kasta.

Namun, sebelum berbicara banyak soal prestasi dan naik kasta, masih banyak pekerjaan rumah yang perlu dibenahi dan disiapkan untuk mendapat titel klub mendekati profesional.

Sejauh saya mengenal Persekap, klub ini lebih sering “yang penting ikut liga” lalu hal-hal yang melingkupinya diabaikan. Soal infrastruktur bernama stadion, misalnya.

Markas Persekap bernama Stadion Widya Manggala Krida sudah terlalu usang dan butuh sentuhan untuk menggelar pertandingan sepak bola berstandar nasional.

Pembatas tribun dengan lapangan jebol, akses keluar masuk hanya satu pintu, pagar pembatas luar bisa dipanjat dan lain sebagainya. Yang bisa dibanggakan hanya rumput. Tapi bicara stadion ada fasilitas dan keamanan pengunjung yang juga perlu diperhitungkan bukan?

Padahal Persekap bisa beranjak dari sekadar ikut, lalu menjadi “alat” untuk kemajuan sepak bola di Kabupaten Pekalongan secara umum. Dari partisipatif, menjadi substansial. Jangan khawatir untuk alat politik, klub ini belum layak, kurang menjual, akui itu.

Misalnya, Persekap bisa menjadi “alat” untuk mendorong perbaikan Stadion Widya Manggala Krida di Kedungwuni sana, atau bahkan mendorong pemerintah daerah untuk membuat stadion baru. Jika Persekap yang minta, jelas peruntukannya.

Pemda memiliki tanggungjawab untuk mengimplementasikan Instruksi Presiden Nomor 3 Tahun 2019 tentang Percepatan Pembangunan Persepakbolaan Nasional.

Dalam inpres tersebut secara khusus menginstruksikan kepada Bupati/Walikota untuk “menyediakan dan mengalokasikan dalam Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah sesuai dengan kewenangan daerah berdasarkan kemampuan keuangan daerah masing-masing, untuk prasarana dan sarana, pembinaan, kompetisi amatir, kompetisi kelompok umur sepak bola elit (unggulan), dan training center di wilayah masing-masing, untuk peningkatan prestasi sepak bola nasional dan internasional.”

Instruksinya jelas. Sejelas hasil pembangunan tribun timur Stadion Widya Manggala Krida jika dilihat dari tribun barat: belum ada atap hingga belum tersentuh kuas cat.

Jika ditilik beberapa waktu ke belakang, ASKAB PSSI Kabupaten Pekalongan sedang bergeliat dengan level kompetisi junior. Terima kasih untuk itu.

Tidak perlu diperdebatkan mana yang lebih penting antara pembangunan sumber daya manusia dengan pembangunan infrastruktur, keduanya berkelindan dan saling membutuhkan.

Jadi, sekarang menunggu apa untuk turut memperjuangkan perbaikan Stadion Widya Manggala Krida atau pembangunan stadion baru?

Tidak hanya sekadar untuk Persekap. Pegiat sepak bola lain akan merasakan manisnya: Liga Pendidikan, Liga Divisi 1 dan 2 ASKAB, Liga Santri dan lain sebagainya. Bahkan cabang olahraga lain. Bahkan sektor perekonomian lain.

Sekarang, mungkin alatnya tumpul (baca: Persekap), atau karena tidak mengerti cara menggunakannya, atau bahkan lupa cara bertransformasi menjadi alat yang efektif dengan cara menggabungkan kekuatan dengan alat-alat (baca: stakeholder sepak bola) lain.

Para penggemar cukup sering bertamu ke kantor Dewan Perwakilan Rakyat Daerah di komplek pemerintahan Alun-alun Kajen. Memperjuangkan fasilitas sepak bola sering jadi pembahasan utamanya. Pembangunan tribun timur bisa dikatakan menjadi buahnya. Sayang tidak bisa matang dengan baik.

Sekarang giliran Persekap itu sendiri membentuk bargaining position dan bargaining power di hadapan publik dan si penyokong utama keuangan klub: Pemerintah Daerah Kabupaten Pekalongan, yang diturunkan melalui KONI.

Bukan bermain di tarkam seperti Jum’at 2 September lalu tentunya. Model promosinya cukup efektif, bapak saya yang seumur-umur belum pernah nonton Persekap akhirnya kesampaian.  Namun tafsir hebat soal Persekap dari anaknya sekejap hilang dengan kalimat, “Biasane sing gelut suportere, ehh iki malah pemaine,” yang disambut gelak tawa penonton sebelahnya.

Banyak cara yang lebih efektif dan elegan untuk mem-Persekap-kan Kabupaten Pekalongan.

Lalu soal si penyokong tadi, posisi Persekap sangat dilematis. Terbiasa “disuapi” membuat Persekap malas mengelola keuangan secara efektif, mengabaikan model promosi yang menjual, hingga menelantarkan detail-detail kecil yang sangat jauh dari label klub profesional.

Salah satunya soal penggunaan media sosial sebagai gerbang baru mengenal Laskar Ki Ageng Cempaluk. Tim ini baru dua musim ini benar-benar aktif di media sosial, justru ditekan dan diinisiasi oleh para penggemar.

Padahal “hal kecil” seperti itu dapat melahirkan penggemar baru, tidak khawatir soal segmen pasar jika ingin mencari sumber pendapatan dari merchandise, hingga mendatangkan sponsor-sponsor baru karena feedback yang akan didapatkan bisa terukur.

Itu salah satunya saja, soal mekanisme sponsor dan penjualan merchandise adalah permasalahan yang lebih dalam lagi dan masih luput dari sentuhan manajemen.

Sudah 73 Tahun, Mari Berbenah!

Menjadi representasi sepak bola Kabupaten Pekalongan untuk kancah kompetisi nasional seharusnya menjadi pertimbangan utama menentukan masa depan Persekap. Artinya klub ini tidak diurus secara serampangan.

Saya mengenal Persekap belum lama, saat masih duduk di bangku Sekolah Menengah Pertama (SMP), medio 2012-2013. Memperhatikan Persekap pun sedikit berjarak.

Namun, melihat kondisi pemegang piala Liga Nusantara Regional Jateng musim kompetisi 2014 ini masih berkutat di persoalan mendasar, bisa disimpulkan Persekap hanya jalan di tempat dan mungkin bergerak maju sedikit saja di umur yang sudah menginjak 73 tahun ini.

Jika dianalogikan sebagai remaja menuju dewasa, pemuda bernama Persekap ini belum selesai dengan dirinya sendiri. Padahal, ia tak lagi muda.

Perlu berumur berapa tahun untuk sekadar menempati stadion yang layak, dikelola oleh manajemen yang paham sepak bola, dan dicintai masyarakatnya sendiri?

Simpan jawabannya, lalu lantunkan dalam do’a. Selamat ulang tahun, Laskar Ki Ageng Cempaluk. Mari tetap cintai Persekap Pekalongan sekarang, esok, dan nanti. (.*.}

 

Penulis adalah penggemar Persekap, tinggal di Kabupaten Pekalongan.

Terkait
Raih Kemenangan Perdana di Liga 3, Pelatih dan Pemain Sepakat Persekap Perlu Banyak Perbaikan di Sisa Dua Laga

Kedungwuni, Wartadesa. - Pelatih dan pemain Persekap Kabupaten Pekalongan sepakat masih ada yang perlu diperbaiki dari tim, Ki Ageng Cempaluk Read more

Persekap Raih Kemenangan Perdana, Main Dominan Guna Atasi BJL 2000

Kedungwuni, Wartadesa. - Persekap Kabupaten Pekalongan memetik kemenangan perdana di Liga 3 Jawa Tengah 2022, tim asuhan Mochamad Hasan mengalahkan Read more

Makin Cakep, Begini Penampakan Jersey Persekap Pra-Musim 2022

  • Home Jersey Persekap Pre-session 2022
Comal, Wartadesa. - Tim Laskar Ki Ageng Cempaluk memang secara resmi belum diluncurkan, namun jersey Persekap pra-musim Tahun Read more

Persekap Gandeng Prazcesco Provare Luncurkan Jersey Pra-Musim

Karangdadap, Wartadesa. - Laskar Ki Ageng Cempaluk berpotensi menjadi tim besar di Jawa Tengah dalam Liga 3 PSSI mendatang, hal Read more

Tags : Bolaliga 3 pssi jatengPersekapulang tahun persekap