- Kampung Nasi Goreng Jrakah Pemalang
Pemalang, Wartadesa. – Lebih dari 80 persen laki-laki warga Desa Jrakah, Kecamatan Taman, Pemalang kini berprofesi sebagai pedagang nasi goreng. Pantas saja, kalau beberapa waktu lalu Monumen Nasi Goreng dibangun swadaya dan diresmikan oleh bupati setempat.
Kuliner nasi goreng Jrakah berawal dari mbah Ramidi dan mbah Rawen. Keduanya berkeliling jualan nasi goreng dengan pikulan sejak tahun 1967. Mereka berkeliling kampung 5-10 kilometer. Demikian penuturan Yanto, salah seorang pedagang nasi goreng asal Jrakah.
Nasi goreng Jrakah menjadi sangat terkenal lantaran menggunakan resep ala Tionghoa. Menurut Sudiro, tokoh warga setempat, resep nasi goreng Jrakah merupakan resep dari seorang pedagang Tionghoa. Menurutnya, ada warga desa Jrakah yang pada zaman kolonial Belanda bekerja pada pedagang Tionghoa. Resep nasi goreng yang digunakan saat ini merupakan resep turun temurun dari resep pedagang Tionghoa tersebut.
”Resepnya itu diperoleh dari sejak zaman kolonial Belanda ketika ada warga Desa Jrakah yang bekerja ke seorang pedagang Tionghoa, resep ini yang membuat nasi goreng Jrakah menjadi berkembang dan maju,”ujar Sudiro.
Berawal dari dua orang yang berjualan dengan pikulan tersebut. Kini pedagang nasi goreng Jrakah dapat dijumpai di kota-kota besar Indonesia seperti Jakarta, Surabaya, Semarang dan Medan. Menurut penuturan warga, hampir seluruh pelosok nusantara ada pedagang nasi goreng dari Desa Jrakah.
Profesi ini yang menjadikan ekonomi warga setempat sejahtera. Banyak pedagang yang sudah memiliki rumah bertingkat dan mobil serta mampu menyekolahkan anak-anak mereka ke jenjang yang tinggi. Lembaga-lembaga keuangan pun banyak yang menaruh kepercayaan pembiayaan usaha ke warga desa tersebut. Apalagi untuk berdagang nasi goreng membutuhkan modal paling sedikit Rp 15 juta untuk satu gerobak komplit. (Eva Abdullah)










