close
Pendidikan

Visi “Outing Class” Pemalang: Inovasi Pendidikan atau Beban Baru bagi Orang Tua?

template berita foto warta desa(1)

PEMALANG, WARTADESA. – Pemerintah Kabupaten Pemalang melalui Dinas Pendidikan, Pemuda dan Olahraga (Disdikpora) tengah berada dalam situasi paradoks. Di satu sisi, mereka mengampanyekan pentingnya pembelajaran di luar kelas (outing class) untuk membentuk karakter anak usia dini. Namun di sisi lain, kebijakan ini justru dianggap berisiko menjadi “beban tambahan” bagi wali murid di tengah kondisi ekonomi yang sulit.

Paradoks Kebijakan: Antara Teori dan Larangan

Hanya selang dua hari setelah mengeluarkan Surat Edaran (SE) nomor 400.3/2724/Dindikpora/2026 pada 13 April 2026 yang secara resmi menunda seluruh kegiatan outing class dan study tour, Kepala Disdikpora Pemalang, Dr. H. Supa’at, justru melontarkan pernyataan bernada promosi mengenai pentingnya metode tersebut.

Dalam acara Yayasan Dian Dharma di Pendopo Kabupaten (15/4/2026), Supa’at menyebut bahwa anak usia dini (PAUD/TK) butuh melihat dunia nyata—seperti kunjungan antarwilayah dari gunung ke pantai—agar semangat belajar tumbuh.

Ketidaksinkronan ini memicu pertanyaan di kalangan masyarakat: Jika memang krusial bagi karakter anak, mengapa kegiatannya justru ditunda secara total?

Tiga Borok di Balik “Study Tour” Pemalang

Penundaan yang dilakukan Disdikpora sebenarnya merupakan “pengakuan” atas carut-marutnya implementasi kegiatan luar sekolah selama ini. Ada tiga alasan krusial yang mendasari penundaan tersebut:

  1. Administrasi Asal-asalan: Banyak sekolah mengajukan izin yang tidak sinkron dengan kurikulum. Kegiatan luar sekolah seringkali hanya menjadi kedok piknik tanpa nilai edukasi nyata.

  2. Risiko Cuaca Ekstrem: Dampak El-Nino membuat perjalanan luar kota menjadi taruhan nyawa bagi siswa.

  3. Jeritan Wali Murid: Alasan paling sensitif adalah biaya. Keluhan masyarakat mengenai tingginya pungutan untuk study tour membuktikan bahwa asas “sukarela” seringkali hanya menjadi pemanis di atas kertas.

Akar Rumput: “Makan Saja Susah, Malah Disuruh Piknik”

Kritik tajam datang dari orang tua siswa yang merasa terjepit. Meski Disdikpora menekankan bahwa kegiatan ini tidak boleh membebani, realitanya banyak orang tua merasa malu atau “terpaksa” ikut karena tekanan sosial di lingkungan sekolah.

“Penekanan utama bukan pada kemewahan, tetapi kualitas,” klaim Supa’at.

Namun, bagi masyarakat bawah, biaya transportasi, konsumsi, dan seragam kegiatan tetaplah pengeluaran besar. Di tengah kondisi infrastruktur Pemalang yang masih butuh banyak perbaikan, pemaksaan narasi outing class dianggap kurang peka terhadap prioritas ekonomi rakyat.

Catatan Kritis: Transparansi atau Transaksi?

Jika Pemkab Pemalang serius ingin menjalankan outing class yang edukatif tanpa membebani, ada beberapa hal yang harus dibenahi secara fundamental:

  • Audit Transportasi: Pihak sekolah seringkali lalai mengecek kelayakan armada (uji KIR). Jangan sampai nyawa siswa digadaikan demi komisi dari perusahaan otobus.

  • Transparansi Anggaran: Rincian biaya harus dibedah bersama Komite Sekolah tanpa ada margin keuntungan tersembunyi bagi oknum sekolah.

  • Edukasi Lokal vs Luar Daerah: Mengapa harus jauh-jauh ke luar kota jika potensi alam dan budaya di Pemalang sendiri belum tergarap? Mengarahkan outing class ke potensi lokal akan jauh lebih hemat dan membantu ekonomi daerah sendiri.

Kesimpulan

Visi pendidikan adaptif memang bagus, namun jangan sampai menjadi “proyek” musiman yang mencekik leher orang tua siswa. Disdikpora harus tegas: jika sekolah tidak mampu menjamin transparansi biaya dan relevansi kurikulum, maka penundaan ini sebaiknya menjadi penghentian permanen untuk kegiatan yang hanya bersifat hura-hura.

Pendidikan karakter tidak harus dimulai dari perjalanan jauh yang mahal, tapi bisa dimulai dari kejujuran dalam mengelola anggaran pendidikan di sekolah. (Redaksi)

sumber: pemalang.pikiranrakyat.com dan laman FB Warta Desa

Terkait

[caption id="attachment_1326" align="alignnone" width="800"] Pelantikan Pimpinan Ranting IPNU IPPNU Pecakaran, Wonokerto - Pekalongan berlangsung khidmad. (14/10) Foto : Wahidatul Maghfiroh/wartadesa. Read more

SDN Tangkilkulon raih juara 1 lomba MAPSI

Kedungwuni, Wartadesa. - SD Negeri Tangkilkulon, Kecamatan Kedungwuni - Pekalongan meraih juara pertama dalam lomba  Mata Pelajaran Agama Islam dan Read more

IPNU IPPNU Wonokerto bentengi diri dengan Densus Aswaja

PAC IPPNU Wonokerto menggelar kegiatan Densus Aswaja di Masjid Hidayatullah, desa Semut (15/10). Foto Wahidatul Maghfiroh/wartadesa Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : outing classpemalangstudi tour