close
BencanaBerita DesaLingkungan

Gunung Slamet Terluka, “Emak Bergerak” Adisana Kembali Turun ke Jalan Menuju Tegal

template berita foto warta desa

BUMIAYU, WARTA DESA – Semangat pantang menyerah kembali ditunjukkan oleh kelompok “Emak Bergerak” dari Desa Adisana, Kabupaten Brebes. Hari ini, Senin (2/2/2026), sebanyak 17 ibu rumah tangga berangkat melakukan perjalanan moral menuju Desa Bojong, Kabupaten Tegal, sebagai bentuk protes atas kerusakan alam di Gunung Slamet yang kian parah.

Dengan modal swadaya (urunan) untuk menyewa mobil bak terbuka, para emak ini berangkat dari Gang Badrun, Desa Adisana, sekitar pukul 09.00 WIB. Mereka membawa misi penting: memasang spanduk peringatan di wilayah Bojong demi mengingatkan publik akan ancaman nyata banjir bandang yang terus mengintai pemukiman mereka.

Perjalanan Moral demi Anak Cucu

Aksi ini merupakan kelanjutan dari aksi jalan kaki yang sebelumnya digelar pada Jumat (30/1/2026) lalu. Kerusakan hutan di lereng Gunung Slamet akibat eksploitasi dan penebangan liar dinilai menjadi biang keladi banjir yang kerap merendam Desa Adisana, Dukuhturi, hingga Kalierang.

“Kami melangkah dengan keyakinan dan harapan. Insyaallah Semestakung, semesta pasti mendukung niat baik kami,” ujar Ibu Dewi Namara, Koordinator Lapangan Emak Bergerak, dengan nada optimis.

Dua Tuntutan Utama

Dalam aksi kali ini, kelompok Emak Bergerak membawa dua tuntutan konkret yang ditujukan kepada pemangku kebijakan:

  1. Pembangunan Tanggul Darurat: Mendesak Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS/BBWSDA) untuk segera merealisasikan pembangunan tanggul di Kali Keruh dan Kali Erang Pagenjahan. Beloknya aliran Sungai Keruh akibat ketiadaan tanggul permanen dituding sebagai penyebab utama banjir bandang yang telah memakan korban jiwa.

  2. Tindak Tegas Perusak Hutan: Meminta aparat penegak hukum untuk menindak tanpa pandang bulu para pelaku perusakan hutan di Gunung Slamet yang memicu bencana ekologis.

Suara dari Lereng Gunung

Perjalanan dari Brebes menuju Tegal ini bukan sekadar seremoni pemasangan spanduk, melainkan sebuah seruan bagi seluruh ibu di wilayah lereng Gunung Slamet—termasuk Purbalingga, Pemalang, dan Banyumas—untuk bersatu menjaga alam.

Para emak ini menegaskan bahwa mereka tidak akan tinggal diam melihat hutan digunduli oleh tangan-tangan serakah yang hanya mementingkan keuntungan pribadi namun menyengsarakan rakyat kecil. Suara mereka adalah suara perlindungan bagi masa depan generasi mendatang agar tidak lagi dihantui ketakutan setiap kali hujan lebat turun. ***

Laporan: Hendi Yetus / Redaksi

Terkait
Sejak Ramadhan lalu warga Gunungsari Pemalang kekurangan Air

Pemalang, Wartadesa. - Warga Desa Gunungsari Kecamatan Pulosari Kabupaten Pemalang, Jawa Tengah, sejak bulan Ramadhan lalu kekurangan air bersih. Biasanya Read more

Kekurangan air bersih, droping air ke Pulosari dan Belik akan ditambah

Pemalang, Wartadesa. - Kekurangan air bersih di wilayah Kecamatan Polosari akibat debit air Gunung Slamet yang terus mengecil ditanggapi oleh Read more

Kabupaten Pekalongan raih Adipura, setelah penantian panjang

Jakarta, Wartadesa. - Kabupaten Pekalongan dinobatkan sebagai penerima penghargaan Adipura Tahun 2017. Penghargaan tersebut diberikan kepada daerah paling bersih tingkat Read more

Anggaran pembangunan tanggul rob dialihkan untuk exit tol Pekalongan

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Penanganan rob itu bukan hanya membangun tanggul saja, namun juga pembangunan lainnya. Kasihan, masyarakat sudah menderita Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : brebesbumiayuemak-emak bergerak