Oleh : Abdul Rahman Wahid
Kanker payudara masih menjadi salah satu ancaman kesehatan terbesar bagi perempuan di dunia, termasuk di Indonesia. Angka kejadiannya terus meningkat setiap tahun, sementara biaya pengobatan yang mahal dan efek samping terapi konvensional sering menjadi beban berat bagi pasien. Kondisi ini mendorong para ilmuwan untuk terus mencari sumber obat baru yang lebih efektif dan aman, salah satunya dari alam—termasuk dari laut Indonesia.
Indonesia dikenal sebagai negara kepulauan dengan kekayaan biodiversitas laut yang luar biasa. Namun, potensi ini belum sepenuhnya dimanfaatkan untuk pengembangan obat. Salah satu biota laut yang menarik perhatian para peneliti adalah spons laut, organisme sederhana yang hidup menempel di dasar laut. Meskipun terlihat sederhana, spons laut ternyata memproduksi berbagai senyawa kimia unik untuk bertahan hidup di lingkungan yang keras. Senyawa inilah yang berpotensi dimanfaatkan sebagai obat, termasuk obat antikanker.
Salah satu jenis spons yang banyak ditemukan di perairan Sekotong, Lombok Barat, Nusa Tenggara Barat, adalah spons Callyspongia sp. Penelitian-penelitian sebelumnya menunjukkan bahwa spons dari genus ini mengandung senyawa bioaktif seperti alkaloid, terpenoid, steroid, dan peptida siklik yang mampu menghambat pertumbuhan sel kanker. Sayangnya, potensi besar ini masih jarang dieksplorasi secara mendalam, khususnya yang berasal dari perairan Lombok.
Penelitian disertasi ini bertujuan untuk menggali potensi senyawa antikanker dari spons Callyspongia sp. dengan pendekatan ilmiah modern. Spons laut diekstraksi dan dipisahkan menjadi beberapa fraksi, kemudian diuji terhadap sel kanker payudara T47D di laboratorium. Fraksi yang paling aktif selanjutnya dimurnikan untuk mengetahui struktur kimianya serta cara kerjanya dalam membunuh sel kanker.
Yang menarik, penelitian ini tidak hanya melihat apakah senyawa tersebut mampu membunuh sel kanker, tetapi juga menelusuri mekanisme molekulernya. Fokus utama diarahkan pada gen p53 dan caspase-3, dua komponen penting yang berperan dalam proses kematian sel terprogram (apoptosis). Dengan memahami mekanisme ini, peluang pengembangan obat yang lebih tepat sasaran menjadi semakin besar.
Lebih dari sekadar penelitian laboratorium, studi ini juga membawa pesan penting bagi masyarakat pesisir: kekayaan laut bukan hanya sumber pangan, tetapi juga sumber harapan bagi kesehatan manusia. Jika dikelola dengan bijak dan berkelanjutan, biota laut seperti spons Callyspongia sp. dapat menjadi kandidat bahan baku obat antikanker di masa depan.
Penelitian ini diharapkan menjadi langkah awal menuju pemanfaatan sumber daya laut Indonesia secara ilmiah, berkelanjutan, dan bernilai tinggi—demi kesehatan dan kesejahteraan generasi mendatang. ***
Penulis adalah Mahasiswa Doktor Ilmu Farmasi Universitas Ahmad Dahlan / Akadmisi Universitas Muhammadiyah Mataram










