close
Lingkungan

Alih Fungsi Lahan Lereng Slamet: Ancaman di Balik Suburnya Kebun Sayur Pulosari

template berita foto warta desa

PEMALANG, WARTA DESA – Peristiwa banjir yang membawa material lumpur dan kayu di wilayah Kabupaten Pemalang belakangan ini menjadi sinyal merah bagi kelestarian ekosistem di lereng Gunung Slamet. Berdasarkan analisis data lima tahun terakhir, aktivitas alih fungsi hutan lindung menjadi perkebunan sayur ditengarai menjadi pemicu utama menurunnya daya dukung lingkungan di wilayah hulu.

Data menunjukkan bahwa degradasi hutan di lereng Slamet telah mencapai angka yang mengkhawatirkan. Perubahan ini tidak hanya terlihat secara visual di lapangan, namun juga terekam dalam angka luasan lahan yang terus menyusut.

Tabel Perubahan Tutupan Lahan di Lereng Slamet (Wilayah Pemalang)

Kategori Lahan Kondisi Sebelumnya Estimasi Periode 2021–2026 Tren Perubahan
Hutan Lahan Kering Primer Dominan (Hutan Lindung) Penurunan kumulatif 10,7% Menyusut drastis
Lahan Pertanian Sayur Terbatas pada kaki gunung Mencapai 4.505,54 Hektare Ekspansi ke hulu
Ketinggian Garis Tanam Di bawah 1.500 mdpl Menembus > 2.000 mdpl Naik ke zona lindung
Perambahan Ilegal Minimal Estimasi 200 Hektare Meningkat di titik terjal

Kebutuhan ekonomi mendorong petani menanam komoditas hortikultura seperti kentang, kubis, dan wortel hingga jauh melampaui batas aman vegetasi. Fenomena ini paling masif ditemukan di Kecamatan Pulosari, mencakup Desa Clekatakan, Batursari, Nyalembeng, dan Gunungsari.

Secara teknis, hilangnya akar pohon keras membuat struktur tanah di kemiringan 25 hingga 30 persen menjadi sangat labil. Tanaman sayuran yang hanya memiliki akar pendek tidak mampu menahan beban tanah saat diguyur hujan lebat. Kondisi inilah yang memicu munculnya aliran permukaan yang tinggi, mengangkut material tanah serta sisa-sisa tebangan kayu dari pembukaan lahan menuju pemukiman di wilayah bawah.

Dampak dari perubahan bentang alam ini sudah mulai dirasakan langsung oleh masyarakat. Selain ancaman banjir bandang, terjadi penurunan debit pada ratusan titik mata air yang menjadi sumber kehidupan warga Pemalang. Kerusakan hutan di wilayah hulu menyebabkan air hujan tidak lagi meresap ke dalam tanah, melainkan langsung meluncur ke hilir membawa material yang merusak.

Meskipun pemerintah telah menetapkan Pulosari sebagai sentra agribisnis, tantangan besar kini ada pada penerapan sistem agroforestri atau tumpang sari. Tanaman keras harus kembali ditanam di sela-sela kebun sayur untuk mengembalikan fungsi ikat tanah. Rehabilitasi lahan kritis di tujuh kecamatan rawan, termasuk Moga dan Belik, mendesak untuk segera dipercepat demi mencegah bencana yang lebih besar di masa mendatang. (Redaksi)

Terkait
Lagi, galian C didemo Warga

Karanganyar, Wartadesa. - Rabu ( 03/02) Ratusan warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongan mendatangi lokasi Galian C yang beradi Read more

Dua cucian jins di Pegaden Tengah ditutup Satpol PP

Wonopringgo, Wartadesa. - Dua tempat pencucian jins di Desa Pegaden Tengah Kecamatan Wonopringgo Kabupaten Pekalongan ditutup oleh Satpol PP, hari Read more

Nasib galian C Pododadi Karanganyar ditentukan Senin depan

Wiradesa, Wartadesa. - Paska unjuk rasa yang dilakukan oleh warga Desa Kutosari Kecamatan Karanganyar Kabupaten Pekalongam, Kamis (11/01) kemarin dan Read more

Laut pasang, Pantaisari terendam

Pekalongan Kota, Wartadesa. - Kondisi laut pasang (rob) yang tinggi merendam jalan WR Supratman depan Tempat Pelelangan Ikan (TPI/PPNP) hingga Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : alih fungsi lahan pemalangbanjirGunung Slamet