Pekalongan, Wartadesa. – Institut Agama Islam Negeri Pekalongan meluncurkan BI corner hari ini, Kamis (17/11). Peluncuran BI Corner ini merupakan rangkaian acara gebyar perpustakaan. Tujuan dari diluncurkanya BI corner ini dalam rangka menghadapi MEA. Demikian disampaikan Shinta Dewi.
Sebelumnya, Rabu (16/11) telah dilaksanakan bedah buku Manajemen Keuangan Syari’ah: Analisa Fiqh dan Keuangan di auditorium IAIN Pekalongan yang diikuti oleh ratusan mahasiswa dari perbagai program studi.

Prof. Dr. Mohamad, M.Ag, penulis buku didaulat sebagai nara sumber mendampingi AM.M. Hafidz, dosen ekonomi syari’ah. Bedah buku yang mengambil tema Membumikan Manajemen Keuangan Syari’ah dalam Teori dan Praktik: Upaya Menuju Masa Keemasan yang Rahmatan Lil Alamin ini menjadi hal yang penting untuk dibicarakan dalam menghadapi MEA, karena keuangan syariah menjadi alternatif sistem perekonomian di era MEA. Demikian disampaikan Shinta Dewi, ketua Perpustakaan IAIN Pekalongan dalam sambutannya.
“Alasan kami mengambil tema ini adalah karena tahun ini kita telah masuk di era MEA, sehingga tema ini menjadi penting. Keuangan syariah bukan saja menjadi alternatif tetapi sebagai pondasi keuangan syariah di tingkat nasional ataupun internasional.” Tambah Shinta.
Shinta menambahkan, Prof. Dr. Mohamad, sebagai salah satu dari sekian banyak orang yang berkecimpung di bidang ekonomi islam, memberikan kontribusi yang penting dalam bidang ekonomi islam. 50 buku tentang ekonomi islam telah diterbitkan antara lain Manajemen Keuangan Syariah, Akuntansi Syariah, Manajemen Strategi, dan lain sebagainya.
Menurut Musleh Husain, Waket III IAIN Pekalongan, referensi mengenai ekonomi islam belum begitu banyak ditulis oleh beberapa orang yang berkecimpung dibidang ekonomi islam, sehingga mengisi referensi ekonomi islam menjadi salah satu keinginannya.
Dengan adanya acara bedah buku tentang ekonomi ini, diharapkan mampu mendorong para mahasiswa untuk ikut andil di era MEA, tidak hanya sebagai penonton tetapi juga sebagai pelaku ekonomi islam. “Mahasiswa seharusya tidak hanya menjadi penonoton, tetapi juga menjadi pelaku dalam ekonomi islam.” Ujar Musleh. ***(Wahidatul Maghfiroh)









