close
Opini

Implementasi Pelatihan Kesiapsiagaan Gawat Darurat dan Manajemen Pengungsian Sehat dari Mahasiswa Keperawatan untuk Menuju Indonesia Emas 2045

WhatsApp Image 2026-09-07 at 20.53.36

Oleh: Rizqona Safiro        

 

Pendahuluan

Indonesia menggerakkan visi besar menjadi negara maju yang tangguh, adil, dan makmur tepat di usia satu abad kemerdekaannya, yang kita kenal sebagai Indonesia Emas 2045. Namun, bagaimana kita bisa bermimpi menjadi bangsa yang besar jika fondasi paling dasar dari pembangunan manusia yaitu keselamatan dan Kesehatan masih rapuh di hadapan ancaman alam? Perubahan iklim bukan lagi sekadar topik sains tentang mencairnya es di kutub atau naiknya permukaan air laut yang jauh di sana. Hari ini, kita menyaksikannya langsung di depan mata dalam bentuk yang mengerikan seperti, banjir bandang yang datang tiba-tiba, tanah longsor yang meruntuhkan pemukiman, hingga cuaca ekstrem yang makin sulit diprediksi. Ironisnya, di tengah kepungan ancaman bencana hidrometeorologi ini, masyarakat Khususnya di kawasan rawan bencana sering kali ditempatkan hanya sebagai objek penderita yang pasrah menunggu nasib. Pola pikir penanggulangan bencana kita masih terjebak pada pola lama yang using bersifat penyembuhan dan terlalu bergantung pada bantuan pemerintah yang sering kali terlambat datang karena akses yang lumpuh saat darurat. Sudah saatnya kita merombak total cara pandang ini. Kita harus menyadari bahwa dalam menit-menit awal pasca-bencana, hidup atau matinya seorang korban tidak ditentukan oleh tim SAR yang masih di jalan, melainkan oleh tetangga di sebelah rumahnya.

Dalam kondisi tersebut, masyarakat setempat adalah garda terdepan yang menentukan hidup atau matinya seorang korban. Oleh karena itu, pembentukan keterampilan gawat darurat awam bagi warga lokal mutlak diperlukan. Melalui pendekatan Pelatihan Kesiapsiagaan Gawat Darurat, peran mahasiswa keperawatan menjadi sangat strategis. Mahasiswa keperawatan tidak hanya berperan di dalam institusi rumah sakit, melainkan harus turun ke masyarakat sebagai fasilitator untuk mentransfer ilmu kesiapsiagaan, mulai dari penanganan cedera fisik darurat hingga pengelolaan sanitasi posko pengungsian yang sehat demi mencegah wabah penyakit pasca-bencana.

Di sinilah peran mahasiswa keperawatan harus didefinisikan ulang. Kita tidak boleh lagi memenjarakan ilmu keperawatan hanya di dalam dinding tebal rumah sakit atau ruang kelas yang nyaman. Melalui konsep Kesiapsiagaan Gawat Darurat ini , mahasiswa keperawatan memiliki tanggung jawab moral untuk membumikan ilmu medis dan mentransfernya ke tangan rakyat. Mengedukasi warga desa tentang Bantuan Hidup Dasar (BHD), cara membalut luka darurat dengan alat seadanya, hingga mengelola dapur umum pengungsian yang higienis bukan lagi sekadar program pengabdian masyarakat demi menggugurkan kewajiban kuliah. Ini adalah langkah konkret adaptasi iklim yang nyata. Ketika kita membekali warga lokal dengan keterampilan gawat darurat, kita sedang menanam benih ketangguhan di tingkat akar rumput. Ini adalah investasi kemanusiaan yang paling murah namun berdampak paling besar untuk mendukung SDGs (Penanganan Perubahan Iklim). Bencana akibat rusaknya iklim mungkin belum bisa kita hentikan sepenuhnya, tetapi kepasrahan warga menghadapi kematian akibat ketidaktahuan adalah hal yang mutlak bisa kita ubah mulai dari sekarang.

Pembahasan

Jika kita membedah masalah kegagalan pasca-bencana di Indonesia, posko pengungsian sering kali berubah menjadi klaster baru penyebaran penyakit yang mematikan. Tragedi kemanusiaan yang sebenarnya justru terjadi setelah gempa atau banjir mereda. Akibat overkapasitas, buruknya tata kelola limbah, dan minimnya akses air bersih, tenda darurat secara konsisten bertransformasi menjadi inkubator bagi wabah diare akut, Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA), hingga penyakit kulit massal. Lebih parah lagi, kelompok rentan seperti lansia dengan penyakit kronis (hipertensi atau diabetes), ibu hamil, dan balita sering kali terabaikan dalam manajemen pengungsian yang serabutan. Mereka mengalami keparahan kondisi medis bukan hanya karena benturan fisik dari bencana itu sendiri, melainkan karena ketiadaan sistem penanganan gawat darurat awam dan manajemen posko yang sadar kesehatan.

Permasalahan kesehatan di area bencana ini bukan sekadar isu lokal di tingkat desa, melainkan sebuah hambatan besar yang langsung mencederai komitmen dunia dalam SDGs. Ketika cuaca ekstrem akibat perubahan iklim global menghantam suatu wilayah rawan bencana, para pengungsi dapat menerapkan kesiagaan latihan yang diperoleh. Dampak perubahan iklim memaksa dunia keperawatan untuk melihat bahwa kesehatan manusia tidak berdiri sendiri; ia terikat kuat pada ketangguhan ekosistem dan kesiapan komunitas dalam beradaptasi dengan anomali cuaca.

Membiarkan masyarakat menghadapi bencana dalam kondisi buta literasi kesehatan adalah sebuah kecerobohan kemanusiaan. Menolak menyelesaikan masalah ini sama saja dengan membiarkan lingkaran buruk terbentuk akibat bencana. Ketika seorang kepala keluarga mengalami kecacatan permanen akibat penanganan patah tulang yang salah saat evakuasi, atau seorang balita meninggal karena dehidrasi akibat diare di pengungsian, dampak ekonominya akan dirasakan jangka panjang oleh keluarga tersebut.

Sebagai langkah konkret, solusi sistemik yang ditawarkan adalah melalui Pembangunan Kembali desa rawan bencana menjadi “Kampung Siaga Bencana”. Konsep ini diwujudkan melalui aksi nyata dua program utama:

  1. Pelatihan Gawat Darurat dan Sanitasi Darurat Awam: Mengadakan pelatihan intensif bagi kader desa mengenai Bantuan Hidup Dasar (BHD), teknik balut bidai menggunakan media sarung atau papan kayu, serta edukasi penyiapan “Tas Siaga Bencana” di tiap keluarga. Tidak berhenti di situ, kader perempuan dan ibu-ibu PKK dilatih mengenai manajemen dapur umum ramah gizi bagi balita dan teknik penjernihan air sederhana untuk posko pengungsian sehat.
  2. Sebagai mahasiswa keperawatan, kita memegang tanggung jawab moral dan intelektual untuk menghentikan siklus kepasrahan ini. Solusi konkret yang harus kita tawarkan bukan sekadar turun ke lapangan membawa mi instan saat bencana terjadi, melainkan melalui Implementasi Pelatihan Kesiapsiagaan Gawat Darurat dan Manajemen Pengungsian Sehat yang terstruktur jauh sebelum bencana itu datang. Kita harus mengambil peran sebagai health advocate (pembela kesehatan) dan educator untuk membumikan ilmu medis ke tangan rakyat.
  3. Gagasan/ Aksi Mahasiswa

Saya selaku mahasiswa keperawatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan ingin turut mengimplementasikan program ini sebagai peran tenaga Kesehatan yang cukup membantu banyak Masyarakat, bukan hanya di daerah rawan bencana tetapi juga untuk masyarakat luas guna mengetahui Bantuan Hidup Dasar (BHD). Sebagai mahasiswa keperawatan edukasi tentang kesiagaan bencana sangat penting dipelajari oleh Masyarakat. Lebih dari sekadar program edukasi, gerakan memasyarakatkan BHD ini merupakan perwujudan nyata dari nilai-nilai kemanusiaan dan dakwah kultural luhur yang diajarkan di UMPP. Menolong satu nyawa manusia sejatinya adalah menolong seluruh umat manusia.

Upaya ini sangatlah berharga karena setiap detik ketika seseorang mengalami henti jantung mendadak atau sumbatan jalan napas. Sayangnya, di tengah masyarakat kita, pemandangan yang kerap terjadi saat ada korban kecelakaan atau kedaruratan medis bukanlah pertolongan pertama yang cepat, melainkan kerumunan orang yang panik atau sibuk merekam dengan ponsel. Fenomena ini merefleksikan satu realitas pahit mayoritas masyarakat awam masih buta akan tata cara Bantuan Hidup Dasar (BHD). Jika masyarakat awam yang berada di lokasi kejadian memiliki keberanian dan pengetahuan untuk melakukan kompresi dada (RJP) atau membebaskan jalan napas secara benar, peluang selamat seorang korban akan meningkat berkali-kali lipat sebelum ambulans atau tim medis profesional tiba. Pembekalan BHD kepada masyarakat adalah bentuk investasi sosial yang nilainya tak terhingga.

Di sinilah mahasiswa keperawatan, khususnya dari Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP), harus mengambil peran sebagai agen perubahan (agent of change) untuk memutus rantai ketidaktahuan ini.

Sebagai mahasiswa keperawatan, kami memandang bahwa edukasi tentang kesiagaan bencana dan kegawatdaruratan sangat penting dipelajari oleh masyarakat luas. Ini bukan sekadar tentang transfer teori medis, melainkan langkah pertolongan pertama untuk umat manusia yang berlandaskan pada prinsip saling tolong-menolong. Kedaruratan tidak pernah memilih waktu dan tempat bisa terjadi di jalan raya, di dalam rumah, atau khususnya di wilayah Pekalongan yang secara geografis memiliki karakteristik yang kerap dihadapkan pada tantangan bencana seperti banjir Rob.

Oleh karena itu, kemampuan merespons kondisi gawat darurat tidak boleh lagi menjadi Hak Paten tenaga kesehatan di rumah sakit, melainkan harus menjadi keterampilan dasar yang dimiliki oleh setiap warga. Sebagai calon perawat yang responsif dan adaptif, kami percaya bahwa memasyarakatkan keperawatan gawat darurat dan kebencanaan adalah langkah preventif-kuratif yang esensial demi menciptakan lingkungan masyarakat yang tangguh, mandiri, dan sigap bencana.

Penutup

Pencapaian visi di Indonesia Emas 2045 tidak akan pernah terwujud hanya memalui Pembangunan infrastruktur beton yang megah, melainkan dari ketangguhan manusianya dalam bertahan hidup dan bangkit dari krisi iklim mungkin tidak bis akita hentikan sepenuhnya, tetapi hilangnya nyawa manusia akibat ketidaktahuan Adalah hal yang mutlak bis akita cegah. Melalui Gerakan kepedulian mahasiswa keperawatan yang membumikan ilmu gawat darurat dan manajemen pengungsian sehat kita sedang membangun fondasi bangsavyang tidak mudah goyah. Sudah saatnya mahasiswa keperawatan bergerak melampaui batas-batas klinis rumah sakit, memimpim perubahan garis terdepan, dan membuktikan bahwa di tangan pemuda pemudi yang resposif dan berdaya, Indonesia yang tanggap bencana dan keberlanjutan siap kita jemput do tahun 2045.

Kesimpulannya, memasyarakatkan kemampuan Bantuan Hidup Dasar adalah langkah konkret untuk membangun masyarakat yang tangguh, mandiri, dan responsif terhadap ancaman keselamatan. Kami, mahasiswa keperawatan UMPP, siap berdiri di garda depan untuk menggaungkan dan merealisasikan gerakan kesiapsiagaan ini. Sebab pada akhirnya, keselamatan sebuah bangsa tidak hanya ditentukan oleh kecanggihan fasilitas rumah sakitnya, melainkan oleh seberapa sigap jemari masyarakat awamnya dalam mengulurkan pertolongan pertama.

Referensi

Simbolon Sedia, Rohmah Nur Ulfa, Siregar Karolus Henrianto, Sugiarto Angga, Nurhusna, Pragholapati Andria, Irawati Poppy, Umara Fitriah Annisa, Rosliany Nia, Tahir Rusna, Suwahyu Romy, Prihati Restuning Dyah, Nugroho Wasis (2023). Keperawatan Bencana dan Kegawatdaruratan, Yayasan Kita Menulis.

 Afrida, Rahim Alfyan, Nusdin, (Juni 2025). Analisis Pengetahuan Mahasiswa Keperawatan Dalam Mengaktifkan Sistem Penanggulangan Gawat Darurat Terpadu Pada Kejadian Kegawatdaruratan Pra Hospital. Jurnal Kesehatan, Vol 18 No 1.

 

Penulis adalah mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalonga

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : kesiap-siagaan bencanaumpp