Oleh: Rafa Ifaqoh
A.Pendahuluan
Banjir rob di wilayah Pekalongan mempengaruhi berbagai aspek yang terdapat di wilayah pesisir Pekalongan. Banjir rob jika tidak ada penanganan yang signifikan dari pihak Pemerintah baik Pemerintah Pusat, Provinsi maupun Daerah maka pemukiman kumuh akibat banjir rob di wilayah pesisir pekalongan akan semakin besar dan meluas ke wilayah lain karena air laut yang setiap tahun semakin naik ke wilayah daratan akan menyebabkan banjir rob yang berasal dari bibir pantai. banjir rob juga akan menimbulkan Kerusakan di berbagai sektor dan menyebankan kerugian yang perkirakan mencapai triliyun an rupiah. Tujuan penanganan banjir rob adalah untuk meningkatkan daya dukung infrastruktur dan pelayanan transportasi wilayah pekalongan.
Pekalongan termasuk daerah yang relatif datar, yaitu dengan kemiringan lahan rata – rata antara 0 – 5%. Kondisi ini secara topografis akan menyulitkan pengaturan saluran drainase, karena persentase kemiringan lahan relatif kecil. Akibatnya di beberapa kawasan Kota Pekalongan sering mengalami gangguan genangan banjir, sementara di sisi utara wilayah Kota Pekalongan, yang berbatasan dengan kawasan pesisir pantai mengalami bencana rob dengan frekuensi dan luasan genangan yang meningkat. Oleh karena itu penanganan Rob di Pekalongan sangatlah diperlukan untuk mengantisipasi bencana Rob yang setiap tahun melanda Pekalongan. Salah satu upaya penanganan bencana Rob adalah dengan “Smart Flood and Rob Monioring System”. Smart flood and monitoring system adalah sistem teknologi cerdas berbasis Internet of Things (IoT) untuk memantau ketinggian air secara real-time dan memberikan peringatan dini bencana banjir. Essai ini bertujuan untuk membahas peran mahasiswa dalam pengendalian banjir rob dan pengelolaan lingkungan perkotaan pekalongan melalui Smart Flood and Rob Monitoring System.
B.Pembahasan
- Banjir Rob sebagai Permasalahan Wilayah Pesisir
- Definisi Banjir Rob
Banjir rob adalah banjir yang terjadi di daerah pesisir yang disebabkan karena permukaan air laut lebih tinggi daripada daratan di pesisir pantai.
- Faktor Pemicu dan Karakteristik Banjir Rob
- Penyebab Rob Pasang Normal (Astronomis): Terjadi karena gaya tarik gravitasi bulan dan matahari, terutama saat fase bulan purnama atau bulan baru.
- Badai (Storm Surge): Terjadi akibat dorongan angin kencang atau badai tropis di laut yang menaikkan gelombang air laut jauh lebih tinggi dari batas normal ke daratan.
- Penurunan Muka Tanah (Land Subsidence): Diperparah oleh amblesnya permukaan daratan akibat pengambilan air tanah berlebihan atau beban bangunan, membuat air pasang semakin mudah menggenangi wilayah pesisir.
- Perubahan Iklim (Sea Level Rise): Pemanasan global mencairkan es kutub sehingga volume air laut meningkat dan memperluas cakupan serta frekuensi banjir rob.
- Penyebab terjadinya banjir
- Penyebab Terjadinya Banjir
- Pasang Air Laut (Tidal Flooding): Gaya gravitasi bulan dan matahari menyebabkan air laut naik. Kondisi ini meningkat saat bulan purnama atau fase perigee (jarak terdekat bulan ke bumi) (Iskandar, dk.. 2020).
- Perubahan Iklim dan Pemanasan Global: Peningkatan suhu bumi mencairkan es di kutub sehingga volume air laut global naik (Iskandar, dk.. 2020).
- Gelombang Ekstrem: Dorongan angin kencang atau gelombang tinggi dari laut lepas mempercepat air meluap ke daratan pesisir.
- Faktor Aktivitas Manusia
- Hilangnya Sabuk Hijau (Mangrove): Penggundulan hutan mangrove menghilangkan pelindung alami yang meredam hantaman gelombang dan pasang air laut.
- Alih Fungsi Lahan dan Pembangunan: Reklamasi pantai serta pembangunan di dataran rendah pesisir mempersempit daerah resapan dan mengubah aliran air.
- Dampak Banjir Rob
- Kerusakan Infrastruktur dan Lingkungan
- Kerusakan bangunan: Jalan raya, jembatan, dan rumah warga rusak akibat tergenang air asin yang bersifat korosif. Banjir rob yang berlangsung berulang dapat menggenangi permukiman, fasilitas publik, serta infrastruktur dan menimbulkan kerusakan. Penelitian di Pekalongan menunjukkan bahwa penurunan muka tanah dan banjir pesisir telah berdampak pada infrastruktur serta menyebabkan kerusakan pada kawasan permukiman dan fasilitas lainnya (Yuwana dkk., 2026)
- Kerusakan ekosistem: Abrasi menggerus garis pantai dan merusak vegetasi seperti hutan mangrove.
- Penurunan kualitas tanah: Genangan terus-menerus mempercepat amblesnya permukaan tanah di wilayah pesisir
- Dampak Sosial dan Ekonomi
- Ancaman kesehatan: Warga rentan terserang penyakit kulit (gatal-gatal), diare, dan infeksi saluran pernapasan akibat lingkungan yang kotor.
- Kelangkaan air bersih: Sumur warga tercampur oleh air laut yang asin sehingga sulit dikonsumsi.
2.) Kondisi Geografis dan Karteristik Wilayah Kota Pekalongan
- Wilayah Kota Pekalongan
Dilihat dari letak geografisnya, Kota Pekalongan berada di kawasan pesisir utara Jawa Tengah dan berbatasan langsung dengan Laut Jawa di sebelah utara. Di bagian selatan, Kota Pekalongan berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan Kabupaten Batang. Sementara itu, sebelah barat berbatasan dengan Kabupaten Pekalongan dan sebelah timur berbatasan dengan Kabupaten Batang. Kota Pekalongan memiliki luas wilayah sekitar 45,25 km² yang secara administratif terbagi atas empat kecamatan dan 27 kelurahan.
- Karakteristik Daratan Kota Pekalongan
Kondisi geografis Kota Pekalongan menunjukkan bahwa wilayah ini termasuk kawasan dataran rendah pesisir. Berdasarkan dokumen pemerintah daerah yang mengacu pada data BPS, ketinggian wilayah Kota Pekalongan berada sekitar 0–6 meter di atas permukaan laut. Permukaan wilayahnya juga cenderung datar dengan tingkat kemiringan sekitar 0–8%. Kondisi tersebut menyebabkan beberapa wilayah di Pekalongan, khususnya kawasan pesisir, memiliki tingkat kerentanan terhadap genangan air akibat pasang laut atau banjir rob.
Salah satu wilayah yang memiliki karakteristik tersebut adalah Kecamatan Pekalongan Utara. Kecamatan ini berada di kawasan dataran rendah pantai utara dengan ketinggian sekitar satu meter di atas permukaan laut serta berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Kondisi tersebut menjadi salah satu faktor yang perlu diperhatikan dalam menghadapi risiko banjir rob di wilayah Pekalongan.
4.) Smart Flood & Rob Monitoring System
Smart Flood & Rob Monitoring System merupakan sebuah gagasan yang memanfaatkan teknologi untuk membantu melakukan pemantauan terhadap banjir dan banjir rob di kawasan perkotaan Pekalongan. Sistem ini dirancang agar informasi mengenai kondisi serta ketinggian air dapat diperoleh dengan lebih cepat dan kemudian disampaikan kepada masyarakat maupun pihak-pihak yang membutuhkan informasi tersebut. Dalam pengembangannya, sistem dapat memanfaatkan berbagai teknologi yang telah tersedia, seperti Internet of Things (IoT), sensor, sistem informasi geografis, serta platform digital.
Sistem ini bekerja dengan menempatkan sensor di sejumlah lokasi yang memiliki risiko tinggi terhadap banjir rob. Sensor tersebut digunakan untuk mengukur perubahan ketinggian air secara berkala. Data hasil pengukuran selanjutnya dikirimkan ke sistem digital melalui jaringan internet. Data tersebut kemudian dapat ditampilkan melalui website atau aplikasi sehingga masyarakat dapat mengetahui kondisi air pada setiap titik pemantauan tanpa perlu melihatnya secara langsung di lokasi.
Agar mudah digunakan, informasi yang disediakan oleh sistem dapat disajikan dalam bentuk yang sederhana dan mudah dipahami. Kondisi suatu wilayah, misalnya, dapat dibagi ke dalam beberapa kategori seperti aman, waspada, dan siaga berdasarkan batas ketinggian air yang telah ditentukan. Jika ketinggian air meningkat dan melewati batas yang ditetapkan, sistem dapat mengirimkan notifikasi atau peringatan kepada pengguna. Informasi tersebut dapat membantu masyarakat mengetahui perkembangan kondisi wilayah dan meningkatkan kewaspadaan terhadap kemungkinan terjadinya banjir rob.
Selain digunakan untuk memantau ketinggian air, sistem juga dapat dilengkapi dengan peta digital yang menunjukkan titik-titik pemantauan serta wilayah yang mengalami genangan. Melalui peta tersebut, masyarakat dapat mengetahui lokasi yang sedang terdampak maupun wilayah yang memiliki risiko lebih besar. Data hasil pemantauan juga dapat disimpan dan dikumpulkan secara berkala sehingga dapat digunakan untuk mengetahui pola terjadinya banjir rob dari waktu ke waktu.
Pengembangan Smart Flood & Rob Monitoring System tidak harus dimulai dengan menciptakan teknologi yang benar-benar baru. Teknologi yang telah diterapkan di daerah lain dapat dijadikan sebagai bahan acuan dan kemudian disesuaikan dengan kebutuhan Kota Pekalongan. Salah satu contoh yang dapat dijadikan referensi adalah Tide-Eye, yaitu sistem pemantauan dan mitigasi banjir pasang yang dikembangkan melalui kerja sama Telkom University dengan University of Wollongong Australia. Sistem tersebut memanfaatkan IoT, drone, dan kecerdasan buatan untuk membantu memantau banjir pasang dan telah diterapkan di beberapa wilayah, termasuk Pekalongan, Semarang, dan Demak (Telkom University, 2023, 2024).
Untuk wilayah Pekalongan, sistem tersebut dapat dikembangkan lebih lanjut dengan mempertimbangkan kondisi wilayah dan kebutuhan masyarakat setempat. Informasi yang diperoleh dari sistem tidak hanya dapat digunakan sebagai peringatan ketika banjir rob terjadi, tetapi juga dapat dimanfaatkan sebagai bahan penelitian dan evaluasi terhadap kondisi lingkungan perkotaan. Data yang dikumpulkan secara berkala dapat membantu dalam menganalisis perubahan kondisi wilayah, pola genangan, serta lokasi yang sering mengalami dampak banjir rob.
Dengan demikian, Smart Flood & Rob Monitoring System dapat menjadi sarana untuk melakukan pemantauan, menyebarkan informasi, sekaligus membantu meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat dalam menghadapi banjir rob. Pemanfaatan teknologi ini diharapkan dapat membuat masyarakat memperoleh informasi mengenai kondisi rob dengan lebih cepat serta mendukung pengelolaan lingkungan perkotaan Pekalongan yang lebih terarah dan berdasarkan data.
C. Gagasan atau Aksi Mahasiswa
Permasalahan banjir rob yang terjadi di wilayah pesisir menunjukkan bahwa pemanfaatan teknologi sangat diperlukan untuk membantu proses pemantauan dan mitigasi bencana. Salah satu contoh pemanfaatan teknologi tersebut adalah Tide-Eye, yaitu sistem manajemen untuk memantau dan memitigasi banjir pasang yang dikembangkan oleh Telkom University bersama University of Wollongong Australia. Sistem ini memanfaatkan teknologi Internet of Things (IoT), drone, dan kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) untuk memantau ketinggian air laut serta kondisi banjir rob. Penerapan teknologi tersebut telah dilakukan di beberapa wilayah Jawa Tengah, seperti Pekalongan, Semarang, dan Demak (Telkom University, 2023, 2024).
Penerapan teknologi tersebut dapat menjadi referensi bagi mahasiswa untuk mengembangkan sistem pemantauan rob yang lebih mudah digunakan dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat Pekalongan. Melalui gagasan Smart Flood & Rob Monitoring System, mahasiswa dapat berkontribusi dalam mengembangkan sistem yang menggabungkan pemantauan ketinggian air, pemetaan wilayah yang terdampak, penyebaran informasi, serta pemberian peringatan dini kepada masyarakat. Gagasan tersebut tidak berarti harus menciptakan teknologi yang benar-benar baru, tetapi dapat dilakukan dengan mengembangkan dan memanfaatkan teknologi yang telah tersedia agar dapat disesuaikan dengan kondisi lingkungan perkotaan Pekalongan.
Dalam penerapannya, mahasiswa dapat terlebih dahulu melakukan pemetaan pada wilayah yang sering mengalami rob untuk menentukan lokasi yang membutuhkan pemantauan. Data dari berbagai titik tersebut dapat diperoleh melalui sensor maupun sumber data yang telah tersedia. Selanjutnya, data dapat disajikan dalam bentuk peta digital sehingga masyarakat lebih mudah mengetahui kondisi wilayahnya. Sebagai contoh, Kota Semarang telah memiliki SIGAB yang menyediakan informasi mengenai lokasi genangan banjir secara real time. Selain itu, terdapat pula sistem PantauBanjir yang menampilkan kondisi beberapa stasiun pemantauan dengan kategori aman, siaga, dan awas.
Dengan melihat penerapan sistem tersebut, mahasiswa dapat mengembangkan sistem yang tidak hanya menyajikan informasi tentang ketinggian air, tetapi juga memberikan gambaran kondisi wilayah dengan kategori yang sederhana, seperti aman, waspada, dan siaga. Ketika ketinggian air telah mencapai batas tertentu, sistem dapat mengirimkan peringatan kepada masyarakat melalui aplikasi atau website. Informasi yang diberikan secara cepat tersebut diharapkan dapat membantu masyarakat mengetahui kondisi wilayahnya dan meningkatkan kesiapsiagaan dalam menghadapi kemungkinan terjadinya rob.
Aksi mahasiswa juga dapat diwujudkan melalui penelitian dan pengumpulan data secara langsung di lapangan. Mahasiswa dapat mengamati lokasi yang sering mengalami genangan, mendokumentasikan kondisi lingkungan, serta mencatat informasi mengenai ketinggian dan durasi genangan. Data yang diperoleh selanjutnya dapat diolah dan dianalisis untuk mengetahui pola terjadinya rob serta menjadi bahan pertimbangan dalam menentukan kebutuhan sistem pemantauan.
Pengembangan sistem juga dapat dilakukan melalui kerja sama antarbidang. Mahasiswa yang memiliki kemampuan dalam bidang teknologi dapat berperan dalam pembuatan sistem dan pengolahan data, sedangkan mahasiswa yang memiliki pengetahuan mengenai lingkungan dapat membantu menganalisis kondisi wilayah. Selain itu, mahasiswa dapat bekerja sama dengan masyarakat dan pemerintah daerah agar sistem yang dikembangkan benar-benar sesuai dengan kebutuhan di lapangan. Dengan demikian, mahasiswa tidak hanya bertindak sebagai pengembang teknologi, tetapi juga dapat menjadi penghubung antara teknologi, masyarakat, dan upaya pengelolaan lingkungan.
Di samping mengembangkan sistem pemantauan, mahasiswa juga dapat melakukan edukasi kepada masyarakat mengenai pentingnya pemantauan dan kesiapsiagaan dalam menghadapi banjir rob. Edukasi dapat diberikan dengan menjelaskan cara menggunakan dan memahami informasi yang tersedia dalam sistem, mengenali setiap tingkat peringatan, serta meningkatkan kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan, termasuk kebersihan saluran air dan kondisi kawasan sekitar agar tidak memperparah genangan.
Dengan adanya gagasan tersebut, Smart Flood & Rob Monitoring System dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam membantu menghadapi permasalahan banjir rob di Pekalongan. Gagasan ini memadukan pemanfaatan teknologi, penelitian, edukasi, dan kerja sama untuk membangun sistem pemantauan yang dapat membantu masyarakat menghadapi rob. Oleh karena itu, peran mahasiswa tidak hanya terbatas pada menciptakan atau mengembangkan teknologi, tetapi juga memastikan teknologi tersebut dapat memberikan manfaat bagi masyarakat serta mendukung pengelolaan lingkungan perkotaan secara berkelanjutan.
D. Penutup
Banjir rob menjadi salah satu persoalan lingkungan yang perlu mendapat perhatian khusus di Kota Pekalongan. Posisi Pekalongan yang berada di kawasan pesisir, ditambah kondisi wilayah yang memiliki daratan rendah dan cenderung datar, membuat kota ini cukup rentan terhadap banjir rob. Kerentanan tersebut juga dipengaruhi oleh beberapa faktor, seperti penurunan permukaan tanah dan meningkatnya permukaan air laut. Dampak rob tidak hanya menyebabkan munculnya genangan, tetapi juga dapat menghambat kegiatan masyarakat, menimbulkan kerusakan pada infrastruktur, serta memberikan pengaruh terhadap kondisi lingkungan dan perekonomian masyarakat.
Penggunaan teknologi dapat menjadi salah satu langkah yang dilakukan untuk mendukung pemantauan serta meningkatkan kesiapsiagaan masyarakat terhadap banjir rob. Smart Flood & Rob Monitoring System dapat dikembangkan dengan menggabungkan beberapa teknologi, seperti sensor, Internet of Things (IoT), sistem informasi geografis, dan platform digital. Sistem tersebut dapat dimanfaatkan untuk mengetahui perubahan ketinggian air, memberikan gambaran kondisi wilayah melalui peta digital, menyampaikan peringatan dini, serta menyimpan data yang dapat dimanfaatkan untuk keperluan penelitian dan pengelolaan lingkungan.
Mahasiswa dapat mengambil peran dalam penerapan gagasan tersebut melalui berbagai bentuk kontribusi, seperti pemanfaatan ilmu pengetahuan dan teknologi, penelitian, edukasi, serta kerja sama dengan berbagai pihak. Mahasiswa dapat melakukan pemetaan daerah yang rawan terkena rob, mengembangkan maupun meningkatkan sistem pemantauan, mengumpulkan dan menganalisis data, memberikan pemahaman kepada masyarakat, serta menjalin kerja sama dengan pemerintah dan pihak terkait. Oleh sebab itu, mahasiswa tidak hanya berperan dalam menghasilkan gagasan, tetapi juga dapat ikut terlibat dalam proses pelaksanaan dan pengembangan solusi.
Pada akhirnya, Smart Flood & Rob Monitoring System dapat menjadi salah satu bentuk kontribusi mahasiswa dalam mendukung upaya menghadapi banjir rob di Pekalongan. Meskipun teknologi bukan merupakan satu-satunya cara untuk menyelesaikan permasalahan rob, keberadaannya dapat membantu masyarakat memperoleh informasi dengan lebih cepat dan meningkatkan kesiapsiagaan terhadap kondisi banjir. Dengan adanya sinergi antara mahasiswa, masyarakat, pemerintah, dan pihak-pihak terkait, pengendalian banjir rob serta pengelolaan lingkungan perkotaan Pekalongan dapat dilakukan dengan lebih terencana, berkelanjutan, dan didukung oleh data.
E.Referensi
Bapperida Kota Pekalongan. (2020). Rencana Kerja Pemerintah Daerah (RKPD) Kota Pekalongan Tahun 2020. Pemerintah Kota Pekalongan.
Bapperida Kota Pekalongan. (2023). Laporan akhir riset bersama. Pemerintah Kota Pekalongan.
BPBD Provinsi Jawa Tengah. (2022, May 31). (Update) Banjir/rob di Kota Pekalongan. BPBD Provinsi Jawa Tengah.
Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekalongan. (2025). Dokumen informasi kinerja pengelolaan lingkungan hidup daerah (DIKPLHD) Kota Pekalongan tahun 2025. Pemerintah Kota Pekalongan. Dokumen DIKPLHD Kota Pekalongan Tahun 2025.
Handoko, E. Y., Anjasmara, I. M., Kurniawan, A., Maulida, P., Khomsin, De Silva Nusantara, C. A., Khairunnisa, S., Kholiq, M. A., Sarsito, D. A., & Heliani, L. S. (2026). Integrated geodetic satellite observations for coastal flooding risk modeling: A case study of land subsidence and sea level rise in Pekalongan, Indonesia. Journal of Physics: Conference Series, 3238(1), 012037. https://doi.org/10.1088/1742-6596/3238/1/012037
Pemerintah Kota Pekalongan. (2020, 8 Februari). MCK adaptif, pilot project sanitasi daerah rob. Protokol dan Komunikasi Pimpinan Kota Pekalongan. Sumber resmi Pemerintah Kota Pekalongan
Pemerintah Kota Pekalongan. (2026, January 18). Kapolres Pekalongan Kota bersama Dandim 0710/Pekalongan tinjau langsung lokasi terdampak banjir, pastikan keamanan warga dan layanan publik tetap berjalan. Pemerintah Kota Pekalongan).
Pemerintah Kota Pekalongan. (2026, January 18). Kapolres Pekalongan Kota bersama Dandim 0710/Pekalongan tinjau langsung lokasi terdampak banjir, pastikan keamanan warga dan layanan publik tetap berjalan. Pemerintah Kota Pekalongan
Pemerintah Kota Pekalongan. (n.d.). Sejarah singkat Kota Pekalongan. Pemerintah Kota Pekalongan.
Sugiharto Sh., & Safitri, M. (2021). Status Kesehatan Korban Banjir Rob di Desa Jeruksari Kabupaten Pekalongan. JPKM: Jurnal Profesi Kesehatan Masyarakat, 2(1), 87–92. https://doi.org/10.47575/jpkm.v2i1.211
Telkom University. (2023, October 31). Tide-Eye: Sistem manajemen monitoring dan mitigasi banjir, kolaborasi Telkom University dan University of Wollongong Australia. Telkom University.
Telkom University. (2024, October 3). Inovasi Tide-Eye resmi diluncurkan: Solusi baru hadapi ancaman banjir rob di wilayah pesisir. Telkom University. Sumber resmi Telkom University
Iskandar, S. A., Helmi, M., Muslim, M., Widada, S., & Rochaddi, B. (2020). Analisis geospasial area genangan banjir rob dan dampaknya pada penggunaan lahan tahun 2020–2025 di Kota Pekalongan Provinsi Jawa Tengah. Indonesian Journal of Oceanography, 2(3), 271–282. https://doi.org/10.14710/ijoce.v2i3.8668
Yuwana, D. A., Muslim, D., Iskandarsyah, T. Y. W., Sagala, S., Hermawan, W., Wirabuana, T., & Insan, A. (2026). Integrated analysis of land subsidence from alluvium formation based on conventional deep pipe monitoring (CDPM) and geotechnical parameters in Pekalongan and surrounding areas, Indonesia. Indonesian Journal on Geoscience, 13(1), 129–142. https://doi.org/10.17014/ijog.13.1.129-142
Penulis adalah Mahasiswa S1 Informatika Fakultas Teknik dan Ilmu Komputer UMPP










