Oleh: Shevina Bethari Nugrahani
Pendahuluan
Kesehatan merupakan salah satu kebutuhan dasar manusia yang sangat menentukan kualitas kehidupan. Pelayanan kesehatan memiliki peranan penting karena menjadi sarana bagi masyarakat untuk memperoleh upaya promotif, preventif, kuratif, dan rehabilitatif. Pelayanan kesehatan yang mudah dijangkau, bermutu, aman, dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat menjadi salah satu dasar dalam menciptakan kehidupan yang sehat dan sejahtera.
Hal tersebut sejalan dengan Sustainable Development Goals (SDGs) tujuan ke-3, yaitu Kehidupan Sehat dan Sejahtera (Good Health and Well-being). SDG 3 bertujuan memastikan kehidupan yang sehat dan meningkatkan kesejahteraan bagi semua orang pada segala usia. Dalam konteks Indonesia, pelayanan kesehatan menjadi bagian penting dari upaya mencapai tujuan tersebut karena kualitas kesehatan masyarakat sangat dipengaruhi oleh akses, pemerataan, mutu pelayanan, tenaga kesehatan, fasilitas, pembiayaan, serta kesadaran masyarakat.
Indonesia saat ini terus melakukan transformasi sistem kesehatan. Kementerian Kesehatan menempatkan transformasi layanan primer sebagai salah satu pilar utama, dengan penekanan pada penguatan upaya promotif dan preventif, peningkatan skrining, edukasi penduduk, serta peningkatan kapasitas pelayanan kesehatan primer. Hal ini menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan tidak hanya berfokus pada pengobatan ketika seseorang telah sakit, tetapi juga pada upaya menjaga masyarakat agar tetap sehat.
Pembahasan
Salah satu permasalahan dalam pelayanan kesehatan adalah belum meratanya akses terhadap layanan yang berkualitas. Kondisi geografis Indonesia yang luas menyebabkan kebutuhan pelayanan kesehatan di setiap daerah dapat berbeda. Masyarakat di wilayah yang jauh dari pusat pelayanan dapat menghadapi kendala jarak, transportasi, ketersediaan tenaga kesehatan, fasilitas, maupun informasi. Karena itu, peningkatan kualitas pelayanan harus berjalan bersama dengan pemerataan akses agar manfaat pembangunan kesehatan dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat.
Selain persoalan akses, pelayanan kesehatan juga menghadapi tantangan dalam meningkatkan kualitas layanan dan mengutamakan pencegahan. Kementerian Kesehatan menjelaskan bahwa transformasi layanan primer diarahkan untuk memperkuat aktivitas promotif dan preventif, memperbaiki skrining kesehatan, serta meningkatkan kapasitas layanan primer. Pendekatan tersebut penting karena pelayanan kesehatan yang baik seharusnya tidak hanya menunggu masyarakat datang ketika sakit, tetapi juga aktif membantu masyarakat mencegah penyakit dan menjaga kesehatan.
Permasalahan pelayanan kesehatan memiliki hubungan yang erat dengan SDG 3. Akses terhadap pelayanan kesehatan yang berkualitas merupakan bagian penting dari upaya mewujudkan kehidupan sehat dan sejahtera. Penguatan Puskesmas, Puskesmas Pembantu, Posyandu, kegiatan skrining, edukasi kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat merupakan contoh langkah yang dapat mendekatkan pelayanan kepada masyarakat. Kementerian Kesehatan juga mengembangkan Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer (ILP) dengan pendekatan berdasarkan siklus hidup dan penguatan jejaring pelayanan hingga tingkat desa dan dusun.
Penyelesaian masalah pelayanan kesehatan penting dilakukan karena kesehatan berhubungan langsung dengan kualitas sumber daya manusia. Pelayanan yang terlambat atau sulit dijangkau dapat membuat masalah kesehatan menjadi lebih berat dan pada akhirnya meningkatkan beban individu, keluarga, serta sistem kesehatan. Sebaliknya, pelayanan yang mudah diakses dan berorientasi pada pencegahan dapat membantu masyarakat memperoleh penanganan lebih awal dan meningkatkan kesadaran untuk menjaga kesehatan.
Mahasiswa dapat mengambil peran dalam mendukung peningkatan pelayanan kesehatan tanpa menggantikan tugas tenaga kesehatan. Mahasiswa dapat berperan sebagai penggerak edukasi, penyebar informasi kesehatan yang benar, relawan kegiatan masyarakat, peneliti, maupun pengembang inovasi. Peran tersebut dapat dilakukan melalui organisasi mahasiswa, kegiatan pengabdian kepada masyarakat, kerja sama dengan Puskesmas, Posyandu, sekolah, dan komunitas.
Gagasan/Aksi Mahasiswa
Salah satu gagasan yang realistis adalah membuat program “Mahasiswa Peduli Pelayanan Kesehatan”. Program ini dapat dilakukan dengan bekerja sama dengan Puskesmas atau tenaga kesehatan setempat. Mahasiswa dapat membantu menyelenggarakan edukasi mengenai cara memanfaatkan fasilitas kesehatan, pentingnya pemeriksaan kesehatan, pencegahan penyakit, serta cara memilih informasi kesehatan yang dapat dipercaya.
Program tersebut juga dapat memanfaatkan media digital. Mahasiswa dapat membuat konten edukasi yang sederhana dan mudah dipahami mengenai alur pelayanan kesehatan, manfaat skrining, jadwal kegiatan kesehatan masyarakat, dan informasi mengenai layanan yang tersedia di lingkungan sekitar. Konten harus menggunakan sumber resmi dan tidak memberikan diagnosis atau saran medis secara sembarangan. Dengan demikian, mahasiswa dapat membantu meningkatkan literasi kesehatan masyarakat sekaligus memperkuat hubungan antara masyarakat dan fasilitas pelayanan kesehatan.
Selain edukasi, mahasiswa dapat melakukan pemetaan sederhana mengenai kebutuhan informasi pelayanan kesehatan di lingkungan sekitar melalui survei atau wawancara yang dilakukan dengan izin dan pendampingan pihak terkait. Hasilnya dapat digunakan sebagai bahan untuk menentukan bentuk edukasi yang paling dibutuhkan. Kegiatan seperti ini dapat menjadi contoh kontribusi mahasiswa yang realistis karena menggabungkan pendidikan, teknologi, penelitian, dan pengabdian masyarakat.
Penutup
Pelayanan kesehatan merupakan bagian penting dalam mewujudkan SDG 3 Kehidupan Sehat dan Sejahtera. Tantangan seperti pemerataan akses, kualitas pelayanan, penguatan pencegahan, serta literasi kesehatan perlu diselesaikan secara bersama-sama. Transformasi layanan primer yang dilakukan pemerintah menunjukkan bahwa pelayanan kesehatan perlu semakin dekat dengan masyarakat dan tidak hanya berorientasi pada pengobatan, tetapi juga pada pencegahan serta peningkatan kualitas hidup.
Mahasiswa sebagai generasi muda memiliki kesempatan untuk ikut mengambil bagian melalui edukasi, pengabdian masyarakat, penelitian, pemanfaatan teknologi, dan kerja sama dengan tenaga kesehatan. Kontribusi tersebut dapat dimulai dari lingkungan kampus dan masyarakat sekitar melalui kegiatan yang sederhana, terukur, dan dapat dilaksanakan secara berkelanjutan.
Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya berpendidikan dan produktif, tetapi juga sehat dan memiliki kesadaran terhadap pentingnya pelayanan kesehatan. Oleh karena itu, mahasiswa perlu mengambil peran sebagai generasi yang peduli terhadap kesehatan masyarakat. Dengan langkah nyata dari lingkungan terdekat, mahasiswa dapat ikut mendorong terciptanya pelayanan kesehatan yang lebih mudah diakses, berkualitas, dan berorientasi pada kebutuhan masyarakat.
Referensi
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Program Supporting Essential Health Actions and Transformation (SEHAT).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2026). Layanan Primer Berdasarkan Siklus Hidup Ujung Tombak Layanan.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Transformasi Layanan Primer.
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Integrasi Pelayanan Kesehatan Primer untuk Tingkatkan Kesehatan Masyarakat.
Penulis adalah Mahasiswa Prodi D3 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UMPP










