Oleh: Syafa OktaFitriyah Chaerani
Muda Bukan Berarti Selalu Sehat , Ketika mendengar kata hipertensi, yang terbayang di pikiran kita biasanya adalah orang tua. Banyak anak muda merasa belum perlu memikirkan tekanan darah karena merasa masih kuat, masih aktif, dan jarang sakit. Saya sendiri juga sering mendengar anggapan bahwa hipertensi adalah penyakit orang tua. Padahal, usia muda bukan berarti seseorang bebas dari risiko tekanan darah tinggi.
Hal yang cukup mengkhawatirkan adalah hipertensi sering tidak menunjukkan gejala yang jelas. Seseorang dapat merasa baik-baik saja, tetap beraktivitas seperti biasa, tetapi ternyata memiliki tekanan darah yang tinggi. WHO menyebutkan bahwa banyak orang dengan hipertensi tidak merasakan gejala sehingga pemeriksaan tekanan darah menjadi cara penting untuk mengetahui kondisi tersebut (WHO, 2025).
Masalah hipertensi pada generasi muda juga bukan sekadar kekhawatiran. Berdasarkan Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023, prevalensi hipertensi berdasarkan hasil pengukuran tekanan darah mencapai 10,7% pada kelompok usia 18–24 tahun. Angka ini menunjukkan bahwa hipertensi sudah dapat ditemukan pada kelompok usia muda, termasuk usia mahasiswa (Kementerian Kesehatan RI, 2024).
Sebagai mahasiswa D3 Keperawatan, menurut saya kondisi ini perlu menjadi perhatian. Generasi muda merupakan generasi yang nantinya akan menjadi bagian penting dalam pembangunan Indonesia. Indonesia Emas 2045 tentu membutuhkan generasi yang cerdas dan produktif, tetapi semua itu juga harus didukung dengan kondisi kesehatan yang baik. Oleh karena itu, menjaga kesehatan seharusnya tidak menunggu sampai usia tua atau sampai tubuh mulai mengalami keluhan.
Gaya Hidup Anak Muda dan Risiko Hipertensi, Kehidupan generasi muda saat ini tidak bisa dilepaskan dari perubahan gaya hidup. Aktivitas kuliah yang padat, kebiasaan duduk terlalu lama, kurang tidur, makanan cepat saji, minuman manis, serta kebiasaan kurang bergerak menjadi hal yang sering ditemukan dalam kehidupan sehari-hari.
Makanan juga menjadi salah satu hal yang perlu diperhatikan. Saat ini makanan tinggi garam dan lemak sangat mudah ditemukan dan sering menjadi pilihan karena praktis. Padahal, kebiasaan tersebut apabila dilakukan terus-menerus dapat meningkatkan risiko masalah kesehatan. WHO menjelaskan bahwa beberapa faktor risiko hipertensi yang dapat diubah antara lain pola makan yang tidak sehat, konsumsi garam berlebihan, kurang aktivitas fisik, penggunaan tembakau, serta kelebihan berat badan atau obesitas (WHO, 2025).
Sebuah penelitian nasional di Indonesia yang dilakukan oleh Sudikno dan rekan-rekan terhadap remaja usia 15–19 tahun menemukan prevalensi prehipertensi sebesar 16,8% dan hipertensi sebesar 2,6%. Penelitian tersebut juga menunjukkan bahwa usia yang lebih tua dalam kelompok remaja dan obesitas berhubungan dengan meningkatnya risiko hipertensi. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa masalah tekanan darah sudah dapat muncul sejak masa remaja dan tidak seharusnya hanya menjadi perhatian pada usia dewasa atau lanjut usia (Sudikno et al., 2023).
Menurut saya, salah satu masalahnya adalah masih rendahnya kesadaran anak muda untuk melakukan pemeriksaan kesehatan. Banyak orang memeriksa tekanan darah hanya ketika merasa pusing atau tidak enak badan. Padahal, hipertensi tidak selalu memberikan tanda yang dapat dirasakan. Karena itu, menunggu munculnya keluhan bukanlah cara yang tepat untuk mengetahui kondisi Kesehatan.
Pentingnya Deteksi Dini, Deteksi dini merupakan salah satu langkah sederhana yang dapat dilakukan untuk meningkatkan kesadaran terhadap kesehatan. Pemeriksaan tekanan darah tidak membutuhkan waktu yang lama, tetapi hasilnya dapat memberikan gambaran awal mengenai kondisi seseorang.
WHO menyatakan bahwa memeriksa tekanan darah merupakan cara utama untuk mengetahui apakah seseorang memiliki tekanan darah tinggi. Selain itu, pemeriksaan oleh tenaga kesehatan tetap penting untuk menilai risiko dan kondisi kesehatan seseorang secara lebih menyeluruh (WHO, 2025).
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia juga terus mendorong pencegahan dan pengendalian hipertensi melalui perubahan gaya hidup dan pemeriksaan kesehatan. Salah satu pendekatan yang dikenal masyarakat adalah perilaku CERDIK, yaitu Cek kesehatan secara berkala, Menyingkirkan asap rokok, Rajin aktivitas fisik, Diet sehat dengan kalori seimbang, Istirahat cukup, dan Kelola stres. Upaya sederhana tersebut dapat menjadi langkah awal untuk mencegah berbagai penyakit tidak menular, termasuk hipertensi.
Menurut saya, tantangan terbesar bukan hanya memberikan informasi tentang hipertensi, tetapi bagaimana membuat anak muda mau peduli terhadap kesehatannya. Informasi kesehatan sering kali dianggap membosankan jika disampaikan dengan cara yang terlalu formal. Karena itu, diperlukan pendekatan yang lebih dekat dengan kehidupan generasi muda.
Peran Mahasiswa Keperawatan, Sebagai Mahasiswa Keperawatan memiliki kesempatan untuk ikut berperan dalam meningkatkan kesadaran kesehatan masyarakat. Sebagai mahasiswa, tentu kami masih berada dalam proses belajar dan belum menggantikan peran tenaga kesehatan profesional. Namun, mahasiswa dapat ikut mengambil bagian melalui kegiatan promosi dan edukasi kesehatan sesuai dengan kemampuan dan pengetahuan yang dimiliki.
Peran tersebut dapat dimulai dari lingkungan yang paling dekat. Misalnya, mengajak keluarga atau teman untuk lebih peduli terhadap pemeriksaan kesehatan. Mahasiswa juga dapat membagikan informasi kesehatan yang benar melalui media sosial. Saat ini, banyak anak muda memperoleh informasi dari media sosial. Sayangnya, tidak semua informasi yang beredar dapat dipertanggungjawabkan.
Karena itu, mahasiswa Keperawatan dapat membantu menyebarkan informasi kesehatan yang lebih mudah dipahami dan berasal dari sumber yang terpercaya. Edukasi tidak harus selalu dilakukan dalam kegiatan besar. Poster sederhana, video pendek, atau diskusi kecil mengenai pentingnya mengetahui tekanan darah dapat menjadi langkah awal.
Menurut saya, peran mahasiswa bukan untuk memberikan diagnosis atau pengobatan secara mandiri. Mahasiswa lebih tepat berperan sebagai penggerak kesadaran kesehatan. Apabila seseorang memiliki hasil pemeriksaan yang memerlukan perhatian lebih lanjut, maka orang tersebut perlu diarahkan untuk melakukan pemeriksaan ke fasilitas pelayanan kesehatan atau tenaga kesehatan yang berwenang.
Sebagai bentuk kontribusi mahasiswa Keperawatan, saya menawarkan gagasan SADAR TEKANAN, yaitu gerakan untuk meningkatkan kepedulian generasi muda terhadap kesehatan tekanan darah melalui skrining sederhana, ajakan untuk peduli terhadap kesehatan, deteksi faktor risiko, mengarahkan individu yang memerlukan pemeriksaan lebih lanjut ke fasilitas pelayanan kesehatan, serta membiasakan gaya hidup sehat. Program ini dapat dilakukan melalui edukasi di kampus, sekolah, maupun masyarakat, serta didukung dengan kampanye melalui media sosial agar informasi tentang hipertensi lebih mudah dipahami oleh generasi muda. Kegiatan pemeriksaan tekanan darah juga dapat dilakukan melalui kerja sama dengan tenaga kesehatan atau fasilitas pelayanan kesehatan. Gagasan ini diharapkan dapat menjadi langkah sederhana dalam meningkatkan kesadaran generasi muda karena Indonesia Emas 2045 membutuhkan sumber daya manusia yang tidak hanya cerdas dan produktif, tetapi juga sehat. Mahasiswa Keperawatan dapat ikut berperan melalui edukasi dan promosi kesehatan, sebab perubahan tidak selalu harus dimulai dari kegiatan yang besar. Kesadaran untuk menjaga kesehatan sejak usia muda, termasuk membiasakan pemeriksaan tekanan darah, merupakan salah satu bentuk persiapan untuk menciptakan generasi yang lebih sehat di masa depan.
Sebagai Penutup, Menjadi muda bukan berarti selalu aman dari risiko hipertensi. Berbagai kebiasaan sehari-hari, seperti kurang aktivitas fisik, pola makan yang tidak sehat, konsumsi garam berlebihan, dan kelebihan berat badan dapat meningkatkan risiko tekanan darah tinggi.
Masalah hipertensi pada generasi muda perlu mendapatkan perhatian karena hipertensi sering tidak menunjukkan gejala. Oleh karena itu, deteksi dini dan perubahan gaya hidup menjadi langkah penting untuk dilakukan.
Melalui SDGs 3 tentang Kehidupan Sehat dan Sejahtera, mahasiswa Keperawatan dapat ikut berkontribusi melalui promosi kesehatan dan edukasi kepada masyarakat. Gagasan SADAR TEKANAN menjadi salah satu contoh bahwa mahasiswa dapat mengambil peran melalui langkah yang sederhana dan realistis.
Indonesia Emas 2045 membutuhkan generasi yang tidak hanya cerdas, tetapi juga sehat. Karena itu, menjaga kesehatan sebaiknya tidak dimulai ketika penyakit sudah datang. Kesadaran perlu dimulai dari sekarang, dari usia muda, dan dari langkah sederhana. Sebab, pada akhirnya, muda bukan berarti selalu aman, tetapi muda adalah waktu terbaik untuk mulai peduli terhadap kesehatan.
Referensi
World Health Organization. (2025). Hypertension. World Health Organization. WHO (Hypertension Fact Sheet)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Bahaya Hipertensi Mengintai Anak Muda Indonesia. Badan Kebijakan Pembangunan Kesehatan. Kemenkes ( Bahaya Hipertensi Mengintai Anak Muda Indonesia)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. (2024). Bahaya Hipertensi, Upaya Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi. Kemenkes ( Pencegahan dan Pengendalian Hipertensi)
Kementerian Kesehatan Republik Indonesia. Hipertensi Penyakit Paling Banyak Diidap Masyarakat. Kemenkes ( Hipertensi dan Perilaku CERDIK)
Sudikno, S., Mubasyiroh, R., Rachmalina, R., Arfines, P. P., & Puspita, T. (2023). Prevalence and associated factors for prehypertension and hypertension among Indonesian adolescents: A cross-sectional community survey. BMJ Open, 13(3), e065056. https://doi.org/10.1136/bmjopen-2022-065056.
Penulis adalahMahasiswa D3 Keperawatan, Fakultas Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan










