Oleh: Septia Ramadhani
PENDAHULUAN
Pertumbuhan ekonomi dan penciptaan pekerjaan layak merupakan dua pilar utama dalam Sustainable Development Goals poin ke-8: Decent Work and Economic Growth. Menurut data BPS 2025, tingkat pengangguran terbuka di Indonesia masih didominasi oleh lulusan SMA dan perguruan tinggi sebesar 5,32%. Angka ini menunjukkan adanya ketidaksesuaian antara lulusan pendidikan dengan kebutuhan dunia kerja. Di tengah tantangan tersebut, mahasiswa memiliki posisi strategis. Sebagai agent of change, agent of control, dan iron stock bangsa, mahasiswa tidak hanya dituntut menjadi pencari kerja, tetapi juga pencipta lapangan kerja. Perguruan tinggi, khususnya Fakultas Ilmu Kesehatan, diharapkan melahirkan lulusan yang tidak hanya kompeten secara klinis, tetapi juga memiliki jiwa wirausaha dan kepedulian sosial. Essay ini akan membahas 3 hal:
- Konsep pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi,
- Tantangan ketenagakerjaan saat ini,
- Peran konkret mahasiswa khususnya mahasiswa keperawatan dalam mendorong keduanya.
PEMBAHASAN
Konsep Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Menurut ILO, Decent Work atau Pekerjaan Layak memiliki 4 pilar: Kesempatan kerja, Hak di tempat kerja, Jaminan sosial, dan Dialog sosial. Artinya pekerjaan layak bukan hanya soal gaji, tetapi juga soal keselamatan kerja, jam kerja manusiawi, tidak ada diskriminasi, dan adanya jaminan kesehatan. Sementara pertumbuhan ekonomi adalah peningkatan produksi barang dan jasa dalam suatu negara dalam periode tertentu. Pertumbuhan yang berkualitas adalah pertumbuhan yang inklusif, menciptakan lapangan kerja, dan mengurangi kemiskinan. Kedua hal ini saling terkait. Pertumbuhan ekonomi tanpa penciptaan kerja layak akan menimbulkan kesenjangan. Sebaliknya, pekerjaan layak akan meningkatkan daya beli masyarakat dan mendorong pertumbuhan ekonomi lebih lanjut.2. Tantangan Ketenagakerjaan di Indonesia Saat IniAda 3 tantangan besar yang dihadapi:
- Pertama, Mismatch. Banyak lulusan perguruan tinggi yang kompetensinya tidak sesuai kebutuhan industri. Di bidang kesehatan misalnya, RS butuh perawat yang menguasai digital health dan homecare, sementara kurikulum masih fokus pada RS.Kedua, Gig Economy dan Kerja Tidak Layak. Munculnya pekerjaan berbasis aplikasi memang membuka peluang, tetapi sering tanpa jaminan BPJS, jam kerja tidak pasti, dan risiko tinggi. Hal ini bertentangan dengan prinsip pekerjaan layak.Ketiga, Dampak Perubahan Iklim dan Teknologi. Otomatisasi akan menggantikan beberapa pekerjaan rutin. Di sisi lain, muncul pekerjaan baru di sektor energi hijau dan kesehatan lingkungan. Mahasiswa yang tidak adaptif akan tertinggal.3. Peran Mahasiswa dalam Mendorong Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan Ekonomi Sebagai generasi terdidik, mahasiswa memiliki 4 peran utama: A. Sebagai Inovator dan Wirausahawan Sosial
Mahasiswa harus keluar dari pola pikir “lulus = melamar kerja”. Di bidang keperawatan, peluang wirausaha sangat terbuka: klinik homecare, layanan perawatan luka, konsultan laktasi, bisnis alat kesehatan, hingga startup telemedicine.
Contoh: Mahasiswa FIKES bisa membuat program “Perawat Kunjung” Warungasem.Ini menciptakan lapangan kerja baru, membantu UMKM, dan menekan biaya rawat inap. Dengan begitu mahasiswa ikut mendorong pertumbuhan ekonomi mikro.B. Sebagai Agent of Control
Mahasiswa bertugas mengawasi agar kebijakan ketenagakerjaan berpihak pada rakyat. Misalnya mengawal UMR, menolak magang tanpa upah, dan menyuarakan pentingnya K3 bagi pekerja informal. Mahasiswa keperawatan bisa bersuara tentang kesehatan kerja bagi buruh pabrik dan petani yang rawan pestisida C. Sebagai Agent of Change Melalui Pengabdian
Melalui KKN dan pengabdian masyarakat, mahasiswa bisa meningkatkan produktivitas ekonomi desa. Contoh: edukasi PHBS untuk menekan angka sakit sehingga pekerja tidak banyak kehilangan hari kerja. Pelatihan pertolongan pertama di tempat kerja untuk UMKM. Edukasi stunting agar generasi penerus punya SDM yang sehat dan produktif untuk 20 tahun ke depan D. Sebagai Peningkatan Diri dan Peningkatan Kompetensi
Pekerjaan layak lahir dari SDM yang layak. Mahasiswa harus membekali diri dengan hard skill dan soft skill. Hard skill: sertifikasi BLS, ACLS, perawatan luka modern. Soft skill: komunikasi, kepemimpinan, literasi digital, dan literasi keuangan. Mahasiswa Muhammadiyah juga harus menguatkan nilai “berkemajuan” yaitu adaptif, kolaboratif, dan solutif sesuai semangat Sang Surya.4. Sinergi Pentahelix: Mahasiswa, Kampus, Pemerintah, Industri, Masyarakat
Mahasiswa tidak bisa bekerja sendiri. Kampus harus buka inkubator bisnis dan kurikulum MBKM yang magang di industri. Pemerintah memberi insentif pajak untuk startup mahasiswa. Industri membuka pintu magang berbayar. Masyarakat menjadi pasar dan mitra.
Selain meningkatkan kompetensi pribadi, mahasiswa juga perlu membangun budaya kolaborasi dan inovasi sejak berada di lingkungan kampus. Permasalahan ketenagakerjaan dan kesehatan tidak dapat diselesaikan oleh satu bidang saja. Mahasiswa keperawatan dapat berkolaborasi dengan mahasiswa ekonomi, teknologi, komunikasi, maupun kesehatan masyarakat untuk menciptakan program yang lebih inovatif. Misalnya, mahasiswa keperawatan dapat bekerja sama dengan mahasiswa teknologi untuk mengembangkan sistem pemantauan kesehatan pasien berbasis digital. Kolaborasi seperti ini dapat membuka peluang usaha baru sekaligus menciptakan pelayanan kesehatan yang lebih mudah dijangkau masyarakat.
Di samping itu, mahasiswa perlu memiliki kepedulian terhadap keberlanjutan pekerjaan dan kesejahteraan masyarakat. Pertumbuhan ekonomi tidak seharusnya hanya diukur dari banyaknya usaha atau meningkatnya pendapatan, tetapi juga dari kemampuan masyarakat memperoleh pekerjaan yang aman, manusiawi, dan berkelanjutan. Mahasiswa keperawatan dapat mengambil peran melalui edukasi kesehatan kerja, pendampingan kelompok masyarakat, serta pengembangan layanan kesehatan yang terjangkau. Dengan demikian, ilmu yang diperoleh di perguruan tinggi tidak berhenti pada kegiatan akademik, tetapi dapat diterapkan untuk memberikan manfaat nyata sekaligus mendukung terciptanya pertumbuhan ekonomi yang inklusif.
PENUTUP
Mahasiswa adalah kunci dalam mewujudkan pekerjaan layak dan pertumbuhan ekonomi yang inklusif. Peran ini tidak bisa ditunda sampai lulus. Mulai dari bangku kuliah, mahasiswa harus menumbuhkan mentalitas pencipta kerja, bukan sekadar pencari kerja. Bagi mahasiswa keperawatan, tantangan kesehatan masyarakat adalah ladang ekonomi baru. Dengan menggabungkan ilmu klinis, jiwa kewirausahaan, dan nilai kemanusiaan, kita bisa menciptakan pekerjaan yang tidak hanya layak secara materi, tetapi juga bermakna secara sosial. Sebagaimana lirik Sang Surya, mahasiswa harus menjadi cahaya yang menerangi. Cahaya itu adalah ide, inovasi, dan aksi nyata untuk bangsa. Jika setiap mahasiswa mengambil peran, maka Indonesia Emas 2045 bukan lagi mimpi, melainkan hasil kerja kita bersama. Mulai dari diri sendiri, mulai dari hal kecil, mulai dari sekarang
Penulis adalah Mahasiswa S1 Keperawatan Fakultas Ilmu Kesehatan UMPP










