close
Opini

EKONOMI TUMBUH, KERJA LAYAK JANGAN TERTINGGAL

WhatsApp Image 2026-09-06 at 20.50.51

Oleh: Ibnu Hajar

Pendahuluan

Indonesia sedang menghadapi paradoks yang penting untuk diperhatikan menjelang Indonesia Emas 2045. Di satu sisi, ekonomi Indonesia pada triwulan II 2026 tumbuh 5,29 persen secara tahunan. Pada periode yang sama, jumlah penduduk bekerja pada Mei 2026 mencapai 148,19 juta orang dan tingkat pengangguran terbuka (TPT) berada pada 4,65 persen. Angka-angka tersebut menunjukkan bahwa perekonomian dan pasar kerja Indonesia tetap bergerak positif.

Namun pertanyaan yang lebih penting bukan hanya berapa banyak pekerjaan yang tercipta, melainkan pekerjaan seperti apa yang tersedia. Pada Februari 2026, pekerja informal mencapai 87,74 juta orang, sementara pekerja formal 59,93 juta orang. Artinya, sekitar enam dari sepuluh penduduk yang bekerja berada dalam kegiatan informal. BPS juga mencatat rata-rata upah buruh pada Mei 2026 sebesar Rp3,39 juta per bulan. Data tersebut tidak otomatis berarti seluruh pekerja telah menikmati pekerjaan yang aman, produktif, berpenghasilan layak, dan memiliki perlindungan yang memadai.

Kondisi ini membuat Tujuan Pembangunan Berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs) ke-8, yaitu Pekerjaan Layak dan Pertumbuhan

Ekonomi, menjadi sangat relevan. Pertumbuhan ekonomi seharusnya tidak berhenti pada kenaikan angka Produk Domestik Bruto, tetapi mampu diterjemahkan menjadi kesempatan kerja produktif dan pekerjaan yang layak bagi masyarakat. Di sini mahasiswa, khususnya mahasiswa Manajemen, memiliki ruang untuk berkontribusi.

Pembahasan

Pertumbuhan ekonomi dan pekerjaan layak sebenarnya saling berkaitan, tetapi keduanya tidak selalu bergerak pada kualitas yang sama. Ekonomi dapat tumbuh karena konsumsi, investasi, ekspor, produktivitas, atau ekspansi sektor tertentu. Akan tetapi, jika pertumbuhan tersebut lebih banyak menghasilkan pekerjaan berupah rendah, tidak stabil, atau minim perlindungan, maka manfaat pertumbuhan belum sepenuhnya dirasakan pekerja. Dengan kata lain, ukuran keberhasilan pembangunan tidak cukup hanya melihat banyaknya orang yang bekerja: namun kualitas pekerjaan juga harus diperhitungkan.

Persoalan ini semakin kompleks karena dunia kerja sedang berubah. Digitalisasi, otomatisasi, dan kecerdasan buatan (AI) membuat perusahaan dapat meningkatkan produktivitas sekaligus mengubah jenis keterampilan yang dibutuhkan. ILO menyoroti bahwa perkembangan AI dapat mengubah tempat kerja dan dapat menimbulkan risiko ketimpangan apabila teknologi digunakan dengan data atau sistem yang bias. Karena itu, mahasiswa tidak cukup hanya mempersiapkan diri agar diterima bekerja. Mereka juga perlu memahami bagaimana teknologi, produktivitas, dan keputusan manajemen dapat memengaruhi kualitas pekerjaan.

Bagi mahasiswa manajemen, persoalan pekerjaan layak dapat dilihat dari cara organisasi mengelola manusia dan sumber daya. Perusahaan membutuhkan produktivitas agar mampu bertahan dan berkembang, tetapi produktivitas tidak seharusnya dicapai dengan mengorbankan kesejahteraan pekerja. Manajemen yang baik justru mencari titik temu antara efisiensi perusahaan, pengembangan kompetensi, sistem penghargaan yang adil, lingkungan kerja yang sehat, dan keberlanjutan usaha. Pendekatan seperti ini sejalan dengan semangat SDG 8 yang mendorong pertumbuhan ekonomi yang inklusif dan berkelanjutan serta pekerjaan yang produktif dan layak untuk semua.

Masalah lain yang tidak kalah penting adalah kesenjangan antara dunia Pendidikan dan dunia kerja. Gelar akademik merupakan modal penting, tetapi belum tentu cukup apabila tidak diikuti kemampuan memecahkan masalah, berkomunikasi, bekerja sama, menggunakan teknologi, dan memahami kebutuhan bisnis. Karena itu, kampus harus menjadi tempat mahasiswa membangun kompetensi yang benar-benar relevan dengan perubahan pasar kerja. Mahasiswa juga tidak boleh hanya menunggu perusahaan menciptakan pekerjaan; mereka dapat ikut menciptakan nilai dan kesempatan kerja melalui kewirausahaan serta pengembangan UMKM.

Gagasan/ Aksi Mahasiswa

Menurut saya, kontribusi mahasiswa Manajemen dapat diwujudkan melalui gerakan sederhana tetapi terukur yang saya sebut “Kampus Naik Kelas, Kerja Naik Kualitas”. Gagasannya adalah menjadikan mahasiswa sebagai pendamping bagi usaha mikro dan kecil di sekitar kampus untuk memperbaiki praktik Manajemen dan kualitas pekerjaan. Pendampingan tidak diarahkan untuk menggantikan peran pemilik usaha, tetapi membantu mereka membangun sistem usaha yang lebih produktif dan berkelanjutan.

Tahap pertama adalah pemetaan masalah. Mahasiswa dapat melakukan observasi sederhana mengenai pembagian kerja, pencatatan keuangan, jam kerja, sistem upah, kebutuhan keterampilan, pemasaran, dan penggunaan teknologi pada UMKM mitra. Tahap kedua adalah pendampingan, misalnya membuat pembagian tugas yang lebih jelas, pencatatan keuangan digital sederhana, standar operasional kerja, penghitungan harga pokok dan produktivitas, serta pelatihan pemasaran digital. Tahap ketiga adalah pengembangan tenaga kerja melalui pelatihan keterampilan dan sesuai kebutuhan usaha. Tahap terakhir adalah evaluasi dengan indikator sederhana seperti peningkatan produktivitas, omzet, kualitas layanan, keteraturan administrasi, dan perbaikan praktik kerja.

Gagasan ini penting karena UMKM bukan hanya tempat menghasilkan barang dan jasa, tetapi juga bagian dari ekosistem penciptaan lapangan kerja. Mahasiswa dapat menghubungkan pengetahuan yang diperoleh di kelas dengan persoalan nyata. Organisasi mahasiswa, dosen, pelaku usaha, dan pemerintah daerah juga dapat dilibatkan agar program tidak berhenti sebagai kegiatan sesaat. Bahkan, kampus dapat menjadikan kegiatan tersebut sebagai bentuk pengabdian masyarakat dan laboratorium praktik manajemen.

Pada saat yang sama, mahasiswa perlu membangun kualitas dirinya sendiri. Menguasai teknologi dan AI harus diimbangi kemampuan berpikir kritis, etika, komunikasi, kepemimpinan, dan kemampuan memahami manusia. Teknologi seharusnya menjadi alat untuk meningkatkan produktivitas, bukan alasan untuk mengabaikan manusia. Dengan kompetensi tersebut, mahasiswa dapat menjadi tenaga kerja yang adaptif sekaligus calon manajer dan wirausahawan yang mampu menciptakan pekerjaan berkualitas.

Penutup

Indonesia Emas 2045 tidak cukup dibangun dengan pertumbuhan ekonomi yang tinggi. Indonesia membutuhkan pertumbuhan yang mampu menciptakan pekerjaan produktif, memberikan penghidupan yang layak, memperluas kesempatan, dan meningkatkan kualitas manusia. Data terbaru menunjukkan bahwa ekonomi Indonesia tetap tumbuh dan jumlah pekerjaan meningkat, tetapi dominasi pekerjaan informal menunjukkan bahwa tantangan kualitas pekerjaan masih besar. Karena itu, pencapaian SDG 8 harus dipandang sebagai upaya memastikan pertumbuhan ekonomi benar-benar diterjemahkan menjadi kesejahteraan manusia.

Mahasiswa tidak harus menunggu lulus untuk berkontribusi. Dari kampus, mahasiswa manajemen dapat mulai dengan memperbaiki kompetensi diri, membantu UMKM membangun sistem usaha yang lebih baik, mendorong penggunaan teknologi secara bertanggung jawab, serta menciptakan gagasan kewirausahaan yang membuka kesempatan kerja. Pada akhirnya, pertumbuhan ekonomi yang kita perjuangkan harus memiliki wajah manusia: produktif, adil, inklusif, dan layak.

Referensi

Badan Pusat Statistik. (2026, 5 Agustus). Tingkat Pengangguran Terbuka (TPT) sebesar 4,65 persen; rata-rata upah buruh sebesar 3,39 juta rupiah. BPS.

Badan Pusat Statistik. (2026, 5 Agustus). Ekonomi Indonesia Triwulan II-2026 Tumbuh 5,29 Persen (Y-on-Y). BPS.

Badan Pusat Statistik. (2026, 26 Juni). Keadaan Angkatan Kerja di Indonesia Februari 2026. BPS.

Badan Pusat Statistik. (2026, 30 April). Indikator Pekerjaan Layak di Indonesia 2025. BPS.

International Labour Organization. (2025, 20 November). AI for equality at work in Indonesia: Harnessing technology to create fair, inclusive and decent workplaces. ILO.

 

Penulis adalah Mahasiswa Program Studi S1 Manajemen, Fakultas Ekonomika dan Bisnis, Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan

Terkait
Seleksi kades memihak bakal calon dari kalangan birokrat

Kabupaten Pekalongan kembali akan memasuki musim Pemilihan Kepala Desa (Pilkades). Sebagai payung hukum, Pilkades serentak tahun ini tetap memakai Peraturan Read more

Mengusung pemimpin warga, perlukah?

Pertarungan dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah (Pemilukada) Kabupaten Pekalongan 2020, diperkirakan dipenuhi dengan 3L, alias Lu lagi, Lu lagi, Lu Read more

Ironi Batik Pekalongan: Produk asli yang dibenci masyarakat Pekalongan sendiri

Oleh: Muhammad Arsyad, mahasiswa  IAIN Pekalongan Menjamurnya industri batik pekalongan, membuat derasnya limbah yang terbuang ke sungai. Alhasil, sungai di Read more

Janji Bupati bukan janji Joni dalam cerita komedi

Penulis : Cholis Setiawan Pilkades telah usai, tetapi masih menyisakan persoalan yang cukup pelik dan berpotensi kisruh jelang pelantikan, hal Read more

Wartawan Warta Desa dilarang menerima suap atau sogokan dalam bentuk apapun, termasuk uang, barang, atau fasilitas, yang dapat mempengaruhi independensi pemberitaan. Jika menemukan hal tersebut, mohon difoto dan dilaporkan kepada redaksi dan pihak kepolisian

Tags : kerja layakumpp