Oleh: Denis Setiawan
Energi terbarukan terus berkembang, tetapi belum mencapai skala yang dibutuhkan untuk memenuhi target iklim dan pembangunan global. Kita membutuhkan tindakan yang dipercepat di semua sektor terutama di bidang pemanasan dan transportasi yang didukung oleh kebijakan dan investasi yang kuat. Mencapai akses universal pada tahun 2030 berarti meningkatkan investasi dalam sumber energi bersih seperti tenaga surya, angin, dan panas bumi. Memperluas infrastruktur dan meningkatkan teknologi untuk menghasilkan energi bersih di negara-negara berkembang akan merangsang pertumbuhan ekonomi dan melindungi lingkungan. Percepatan transisi energi global ini turut menjadi bagian penting dari perjalanan Indonesia menuju kemandirian dan ketahanan energinya sendiri.
Saat ini Indonesia tengah bersiap menyongsong satu abad kemerdekaannya tepatnya pada tahun 2045 dengan membawa visi besar menjadi negara maju yang berdaulat, adil, dan makmur. Namun, cita-cita Indonesia Emas 2045 tidak akan tercapai tanpa fondasi energi yang kuat. Oleh karena itu energi merupakan salah satu kebutuhan penting dalam kehidupan manusia. Hampir setiap aktivitas membutuhkan energi, mulai dari penerangan, transportasi, kegiatan rumah tangga, hingga proses produksi di industri. Namun, persoalan energi tidak hanya berkaitan dengan bagaimana menyediakan energi yang cukup, tetapi juga bagaimana energi tersebut digunakan secara efisien. Efisiensi energi berarti memperoleh manfaat atau hasil yang dibutuhkan dengan penggunaan energi yang lebih optimal. Persoalan ini menjadi semakin penting karena penggunaan energi nasional masih menghadapi tantangan. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) melaporkan bahwa intensitas energi primer Indonesia pada 2025 mencapai 144,58 SBM per miliar rupiah, lebih tinggi dibandingkan capaian 2024 sebesar 133 SBM per miliar rupiah. Dalam laporan tersebut, Kementerian ESDM menyatakan bahwa kondisi tersebut mengindikasikan pemanfaatan energi nasional masih kurang efisien. Kondisi tersebut menunjukkan bahwa efisiensi energi bukan hanya persoalan yang harus diselesaikan oleh pemerintah atau perusahaan besar. Namun sebagai mahasiswa juga dapat mengambil bagian dalam upaya penyelesaian tersebut. Khususnya bagi mahasiswa Teknik Mesin, persoalan efisiensi energi memiliki hubungan langsung dengan bidang keilmuan yang dipelajari karena Teknik Mesin berkaitan dengan mesin, energi, sistem mekanis, perpindahan panas, fluida, manufaktur, dan berbagai teknologi lainnya. Oleh karena itu, mahasiswa Teknik Mesin dapat berperan sebagai generasi yang tidak hanya mampu menggunakan teknologi, tetapi juga mampu membuat teknologi dan sistem bekerja secara lebih efisien.
Efisiensi energi sering kali dipahami secara sederhana sebagai mengurangi penggunaan energi tersebut. Padahal, dalam bidang Teknik Mesin, konsep efisiensi memiliki cakupan yang lebih luas. Tetapi efisiensi berkaitan dengan kemampuan sebuah mesin atau sistem menghasilkan keluaran yang optimal dengan penggunaan energi yang sesuai kebutuhannya. Setiap mesin dirancang untuk menghasilkan suatu kerja. Akan tetapi, dalam proses pengoperasiannya kemungkinan terdapat cacat sistem. Seperti gesekan yang berlebihan, panas yang tidak diperlukan, kebocoran, kondisi komponen yang menurun, hingga pengoperasian yang tidak tepat. Nah itu semua dapat membuat energi yang digunakan tidak menghasilkan keluaran secara maksimal sehingga mengurangi efesiensi energi yang di gunakan.
Mahasiswa Teknik Mesin dapat mengambil berbagai peran penting dalam hal ini. Pertama, mahasiswa dapat menjadi penganalisis masalah. Dengan ilmu yang dipelajari, mahasiswa dapat mengamati kondisi mesin atau sistem tertentu, dengan melakukan pengukuran sesuai fasilitas yang tersedia, kemudian menganalisis bagian yang berpotensi mengalami pemborosan energi.
Kedua, mahasiswa dapat menjadi inovator. Inovator di sini bukan berarti harus menciptakan teknologi yang sepenuhnya baru. Akan tetapi mahasiswa dapat mengembangkan atau modifikasi sederhana yang meningkatkan efisiensi, misalnya melalui optimalisasi sistem, perbaikan pengaturan operasi, pengurangan kehilangan energi, atau pemanfaatan energi yang sebelumnya terbuang agar tidak terbuang sia sia.
Ketiga, mahasiswa dapat menjadi edukator. Karena sebaiknya pengetahuan mengenai efisiensi energi tidak seharusnya berhenti di ruang kuliah atau laboratorium saja. Tetapi mahasiswa dapat menyebarkan pengetahuan tersebut melalui organisasi mahasiswa, kegiatan pengabdian masyarakat, seminar, maupun media digital.
Kontribusi mahasiswa tidak harus dimulai dengan proyek besar. Lingkungan kampus justru dapat menjadi tempat yang realistis untuk memulai langkah awal. Mahasiswa Teknik Mesin dapat membuat kegiatan sederhana berupa pemetaan penggunaan energi pada mesin atau fasilitas kampus dan yang ada di sekitar kita. Tahap pertama adalah menentukan objek yang akan diamati, kemudian mengidentifikasi sumber energi, durasi penggunaan, kondisi operasional, dan potensi pemborosan. Jika ditemukan berbagai peralatan yang menyerap banyak energi akibat beroperasi melebihi kebutuhannya, mahasiswa dapat merekomendasikan perubahan pola operasionalnya jika memungkinkan. Selain itu peluang efesiensi bisa di wujudkan dengan cara melakukan perawatan rutin, perbaikan sistemnya, dll dengan catatan tetap memenuhi setandar suatu sistem atau peralatan tersebut.
Upaya mewujudkan efesiensi energi memerlukan kolaborasi dari berbagai pihak mulai dari pemerintahan, industri, akademisi serta masyarakat. Dalam hal ini peran mahasiswa teknik mesin sangat strategis dalam hal ini karena fokus keilmuannya yaitu seputar mesin dan energi. Peran itu dapat di wujudkan dalam aksi nyata yang sederhana misal memantau konsumsi energi, memberikan solusi ketika terdapat pemborosan energi tersebut dan membagikan pengetahuannya kepada masyarakat sekitar. Menyongsong Indonesia emas tahun 2045.Keberhasilan tersebut tidak hanya berfokus pada kemampuan menciptakan teknologi baru, melainkan bagaimana cara penggunaan energi secara efesien dan bertanggung jawab.
Target 7.3 of United Nations Sustainable Development Goal 7
esdm.go.id LAPORAN KINERJA DITJEN EBTKE 2025
Penulis adalah mahasiswa S1 Teknik Mesin Fakultas FASTIKOM Universitas Muhammadiyah Pekajangan Pekalongan (UMPP)










