close
Jalan-jalan

Petungkriyono berpotensi jadi tempat wisata pengamatan burung

swaraowa
Foto: Swara Owa

Petungkriyono, Wartadesa. – Kawasan hutan Petungkriyono, di puncak Kabupaten Pekalongan berpotensi menjadi obyek wisata birdwaching.  Dalam sebuah diskusi yang digelar di Sokokembang, Petungkriyono, 6 Juli lalu terungkap bahwa kawasan tersebut memilik potensi untuk diterapkannya wisata minat khusus, pengamatan burung.

Birdwatching merupakan kegiatan pengamatan terhadap spesies burung liar yang dilakukan dalam hutan dengan mata telanjang ataupun dengan bantuan teropong binokular pun monokular. Jenis kegiatan ini termasuk dalam kegiatan wisata minat khusus yang dapat memberikan manfaat pro lingkungan dan Edukasi.

Namun ancaman wisata ini adalah telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Perhelatan yang merupakan seri diskusi konservasi ke-3 yang digelar oleh Swara Owa tersebut menghadirkan dua narasumber pelaku industri wisata minat khusus pengamatan burung di Indonesia. Diskusi ini menarik minat peserta dari beragam kalangan, mahasiswa, warga, perhutani, LMDH, perangkat desa Mesoyi, Kayupuring dan Tlogohendro.

Imam Taufiqurrahman, ornithologist (ahli ilmu burung), narasumber asal Jogja yang merupakan pelaku usaha wisata minat pengamatan burung mengatakan bahwa wisata minat mengamati burung mempunyai karakter tersendiri, seperti ketertarikan yang tinggi terhadap burung di habitat asli, dari kalangan terpelajar, melakukan perjalanan dalam kelompok kecil dan mampu secara finansial.

Menurut Imam, potensi keanekaragaman yang tinggi, jenis-jenis endemik dan keragaman lansekap (pemandangan, bentang alam, lanskap),  dan budaya memilik potensi untuk di terapkannya wisata minat khusus pengamatan burung. Namun ancaman wisata ini telah, dan sedang terjadi perburuan burung, kerusakan habitat, dan wisata yang tidak berwawasan lingkungan mengakibatkan burung-burung di alam sebagai atraksi wisata juga hilang.

Imam menambahkan, paket wisata tersebut, membutuhkan keseriusan dalam menangani wisatawan. Amerika dan Eropa merupakan pasar potensial bagi paket wisata pengamatan burung.

Kukuh Wibowo, pembicara kedua, mengatakan bahwa tantangan dari pengembangan wisata minat khusus pegamatan burung adalah  laju kehancuran dan kepunahan burung-burung di alam, ketrampilan bahasa inggris, karena target pasarnya adalah orang luar negeri, hospitality (keramahan) dan standar operasional prosedur (SOP) dari mitra tour operator lokal, persaingan dengan tour operator dari luar negeri, penetrasi pasar, dan peralatan yang kurang memadai.

Kukuh menambahkan bahwa  Birdwatching tours merupakan salah satu alternatif untuk menekan dampak eksploitasi burung di alam, dan menjadi solusi kompromi antara ekonomi dan ekologi yang sering kali berseteru satu sama lain. (Redaksi, diambil dari sumber Swara Owa)

Terkait
Selamatkan hulu Kali Kupang, Forum Kolaborasi Pengelolaan Hutan Petungkriyono gelar aksi konservasi

Petungkriyono, Wartadesa. - Perhutani KPH Pekalongan Timur, Cabang Dinas Kehutanan 4 Jawa Tengah dan SwaraOwa, menginisiasi aksi konservasi hutan dengan Read more

Santai sambil menikmati Lutung Jawa bersantai

Rapatnya pepohonan Sokokembang Petungkriyono menjadikan hutan ini menjadi habitat alami Lutung Jawa (Trachypithecus auratus). Hewan yang terancam punah dan dilindungi Read more

Hilang dua hari, pemancing asal Kayupuring ditemukan meninggal

Petungkriyono, WartaDesa. - Warga Dukuh Tinalum, Desa Kayupuring, Petungkriyono, Pekalongan berinisial (S) 50) yang hilang dua hari saat berpamitan memancing Read more

Obyek wisata di Pemalang, Pekalongan, Batang kembali dibuka

Pemalang, Wartadesa. - Kepala pemerintahan di wilayah Pemalang, Pekalongan dan Batan kembali membuka obyek wisata yang beberapa bulan ini tutup Read more

Tags : burungPetungkriyonowisata minat