Tirto, Wuled, Warta Desa. – 25 Mei 2026. – Matahari baru saja melewati puncaknya ketika Wasduki melangkah keluar dari kantornya. Pakaian dinas keki yang dikenakannya masih tampak rapi dan kaku. Alih-alih pulang ke rumah untuk beristirahat setelah jam kerja yang padat, langkah kaki Kepala Desa Wuled, Kecamatan Tirto, Kabupaten Pekalongan ini justru membawanya ke arah yang tak biasa bagi seorang pejabat desa: hamparan lumpur persawahan.
Siang itu, seorang warga datang menemuinya dengan raut cemas. Lahan sawahnya harus segera digarap karena musim tanam sudah mepet, namun traktor pengolah lahan belum juga beroperasi karena kendala teknis—tidak ada operator yang siap.
Tanpa berpikir panjang, Wasduki langsung menuju lokasi. Tanpa sempat mengganti baju dinasnya, ia melompat ke atas traktor, menyalakan mesin, dan mulai membelah lumpur sawah.
Aksi tak biasa ini seketika memicu perhatian warga sekitar. Deru mesin traktor yang dikendalikan langsung oleh sang kepala desa menjadi pemandangan yang langka, sekaligus magnet bagi mata para petani yang tengah beraktivitas.
Bukan Sekadar Seremonial Belakang Meja
Bagi Wasduki, jabatan bukanlah sekat yang memisahkannya dari peluh dan lumpur warganya. Di tengah berbagai tantangan pelik yang dihadapi sektor pertanian saat ini, ia memilih membuktikan komitmennya lewat tindakan nyata, bukan sekadar arahan dari balik meja kerja yang nyaman.
“Saya langsung ke lapangan karena ingin membantu agar petani bisa lebih optimal dalam mengelola lahannya, terlebih belum ada yang bisa mengoperasikan traktor,” ujar Wasduki dengan peluh yang mulai membasahi pakaian kekinya.
Ia menegaskan bahwa sektor pertanian bukan sekadar mata pencaharian mayoritas warga Wuled, melainkan fondasi utama dalam menyukseskan program ketahanan pangan yang tengah digelorakan dari tingkat pusat hingga daerah. Di mata Wasduki, memastikan alat mesin pertanian (alsintan) bekerja cepat dan efisien adalah kunci agar produktivitas lahan warga tetap terjaga di tengah situasi ekonomi yang penuh ketidakpastian.
Suntikan Semangat untuk Petani Desa
Langkah spontan sang Kades menembus lumpur sawah ini melahirkan gelombang apresiasi dan kebanggaan dari warga Desa Wuled. Bagi mereka, kehadiran Wasduki di atas traktor memberikan suntikan moral yang luar biasa.
“Jarang ada kepala desa yang mau turun langsung seperti ini. Biasanya hanya melihat atau memberi instruksi saja, tapi Pak Kades ikut bekerja bersama petani,” ungkap salah seorang warga yang berada di lokasi persawahan dengan nada kagum.
Masyarakat menilai aksi ini sebagai bukti sahih bahwa pemerintah desa hadir secara utuh—bukan hanya saat rapat formal atau acara seremonial, melainkan di saat warga benar-benar membutuhkan uluran tangan di lapangan.
Merajut Kedekatan Lewat Lumpur
Apa yang dilakukan Pemerintah Desa Wuled di bawah kepemimpinan Wasduki diharapkan mampu membawa dampak ganda. Selain mempercepat proses olah tanah demi mendongkrak produktivitas pertanian desa, aksi “turun gunung” ini terbukti ampuh mengikis jarak antara birokrasi dan rakyat.
Di tengah kondisi ekonomi yang penuh tantangan, sosok pemimpin yang tidak sungkan mengotori tangannya dan berdiri sejajar di samping masyarakat adalah oase tersendiri. Dari Wuled, Wasduki mengirimkan pesan kuat: bahwa kepemimpinan sejati tidak dinilai dari rapinya pakaian keki, melainkan dari seberapa dalam ia bersedia menyelami kebutuhan warganya. (Andi Purwandi)










